Anda di halaman 1dari 17

Perencanaan Menurut Dimensi Pendekatan dan

Koordinasi
PROSES PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL
PERENCANAAN MENURUT DIMENSI PENDEKATAN DAN KOORDINASI
Berdasarkan dimensi pendekatan dan koordinasi, perencanaan pembangunan terdiri dari : (a)
perencanaan makro; (b) perencanaan sektoral; (c) perencanaan regional, dan (d) perencanaan
mikro.
Perencanaan pembangunan makro adalah perencanaan pembangunan nasional dalam skala
makro atau menyeluruh. Dalam perencanaan makro ini dikaji berapa pesat pertumbuhan
ekonomi dapat dan akan direncanakan, berapa besar tabungan masyarakat dan pemerintah
akan tumbuh, bagaimana proyeksinya, dan hal-hal lainnya secara makro dan menyeluruh.
Kajian ini dilakukan untuk menentukan tujuan dan sasaran yang mungkin dicapai dalam
jangka waktu rencana, dengan memperhitungkan berbagai variabel ekonomi mikro.
Perencanaan makro ini dilakukan dengan melihat dan memperhitungkan secara cermat
keterkaitannya dengan perencanaan sektoral dan regional.
Perencanaan sektoral adalah perencanaan yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan
sektor. Yang dimaksud dengan sektor adalah kumpulan dari kegiatan-kegiatan atau program
yang mempunyai persamaan ciri-ciri serta tujuannya. Pembagian menurut klasifikasi
fungsional seperti sektor, maksudnya untuk mempermudah perhitungan-perhitungan dalam
mencapai sasaran makro. Sektor-sektor ini kecuali mempunyai ciri-ciri yang berbeda satu
sama lain, juga mempunyai daya dorong yang berbeda dalam mengantisipasi investasi yang
dilakukan pada masing-masing sektor. Meskipun pendekatan ini menentukan kegiatan
tertentu, oleh instansi tertentu, di lokasi tertentu, faktor lokasi pada dasarnya dipandang
sebagai tempat atau lokasi kegiatan saja. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan
perencanaan lainnya yang terutama bertumpu pada lokasi kegiatan.
Perencanaan dengan dimensi pedekatan regional menitikberatkan pada aspek lokasi di mana
kegiatan dilakukan. Pemerintah daerah mempunyai kepentingan yang berbeda dengan
instansi-instansi di pusat dalam melihat aspek ruang di suatu daerah. Departemen/lembaga
pusat dengan visi atau kepentingan yang bertitik berat sektoral melihat "lokasi untuk
kegiatan", sedangkan pemerintah daerah dengan titik berat pendekatan pembangunan
regional (wilayah/daerah) melihat "kegiatan untuk lokasi". Kedua pola pikir itu bisa saja
menghasilkan hal yang sama, namun sangat mungkin menghasilkan usulan yang berbeda.
Pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunan daerah mengupayakan
pendayagunaan ruang di daerahnya, mengisinya dengan berbagai kegiatan (jadi sektoral)
sedemikian rupa sehingga menghasilkan alternatif pembangunan yang terbaik bagi daerah
tersebut. Pilihan daerah terhadap alternatif yang tersedia dapat menghasilkan pertumbuhan
yang tidak optimal dari sudut pandang sektor yang melihat kepentingan nasional secara
sektoral. Berbagai pendekatan tersebut perlu dipadukan dalam perencanaan pembangunan
nasional, yang terdiri dari pembangunan sektor-sektor di berbagai daerah, dan pembangunan
daerah/wilayah yang bertumpu pada sektor-sektor.
Perencanaan mikro adalah perencanaan skala rinci dalam perencanaan tahunan, yang
merupakan penjabaran rencana-rencana baik makro, sektoral, maupun regional ke dalam

susunan proyek-proyek dan kegiatan-kegiatan dengan berbagai dokumen perencanaan dan


penganggarannya. Secara operasional perencanaan mikro ini antara lain tergambar dalam
Daftar Isian Proyek (DIP), Petunjuk Operasional (PO), dan rancangan kegiatan. Perencanaan
ini merupakan unsur yang sangat penting, karena pada dasarnya pencapaian tujuan dan
sasaran pembangunan, baik untuk PJP II maupun yang tertulis dalam Repelita VI, seluruhnya
diandalkan pada implementasi dari rencana-rencana di tingkat mikro. Efektivitas dan efisiensi
yang menjadi masalah nasional sehari-hari dapat ditelusuri penanganannya dalam
perencanaan dan pelaksanaan rencana di tingkat mikro.

Tugas Pokok & Fungsi


Pasal 241
Direktorat Perencanaan Makro mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan
kebijakan, koordinasi, sinkronisasi pelaksanaan penyusunan dan evaluasi perencanaan
pembangunan nasional di bidang perencanaan makro, serta pemantauan dan penilaian atas
pelaksanaannya.
Pasal 242
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241, Direktorat Perencanaan
Makro menyelenggarakan fungsi:
1. penyiapan perumusan kebijakan perencanaan pembangunan nasional di bidang
perencanaan makro;
2. koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan perencanaan pembangunan
nasional di bidang perencanaan makro;
3. penyusunan rencana pembangunan nasional dan rencana pendanaannya di bidang
perencanaan makro dalam jangka panjang, menengah, dan tahunan;
4. pengkajian kebijakan perencanaan pembangunan nasional di bidang perencanaan
makro;
5. pemantauan, evaluasi, dan penilaian kinerja pelaksanaan rencana pembangunan
nasional di bidang perencanaan makro;
6. penyusunan rencana kerja pelaksanaan tugas dan fungsinya serta evaluasi dan
pelaporan pelaksanaannya;
7. melakukan koordinasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan pejabat fungsional perencana di
lingkungan direktoratnya.
Pasal 243

Direktorat Perencanaan Makro terdiri atas:


a. Sub Direktorat Perencanaan Ekonomi Makro;
b. Sub Direktorat Analisa Neraca Pembayaran;
c. Sub Direktorat Analisa Ekonomi dan Statistik.
Pasal 244
Sub Direktorat Perencanaan Ekonomi Makro mempunyai tugas menyiapkan konsep
kebijakan dan rencana pembangunan di bidang ekonomi makro jangka pendek, jangka
menengah, dan jangka panjang, serta melaksanakan pemantauan, evaluasi, penilaian, dan
pelaporan atas pelaksanaannya.
Pasal 245
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244, Sub Direktorat
Perencanaan Ekonomi Makro menyelenggarakan fungsi:
1. pengembangan model ekonomi makro jangka pendek, menengah, dan panjang;
2. penyusunan proyeksi ekonomi makro jangka pendek, menengah, dan panjang;
3. pengkajian masalah dan dampak kebijakan moneter, fiskal dan sektor riil terhadap
ekonomi makro;
4. pengkajian kebijakan ekonomi makro dalam rangka meningkatkan kualitas
pertumbuhan, mempercepat pertumbuhan dengan tetap menjaga stabilitas;
5. penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang ekonomi makro;
6. pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan nasional di
bidang ekonomi makro;
7. pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaan rencana, kebijakan,
dan program-program pembangunan di bidang ekonomi makro.
Pasal 246
Sub Direktorat Analisa Neraca Pembayaran mempunyai tugas melaksanakan analisis dan
pengkajian kebijakan dan penyiapan penyusunan rencana pembangunan nasional di bidang
analisis neraca pembayaran, serta pelaksanakan pemantauan, evaluasi, penilaian, dan
pelaporan atas pelaksanaannya.
Pasal 247
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 246, Sub Direktorat Analisa
Neraca Pembayaran menyelenggarakan fungsi:
1. pengembangan model ekonomi neraca pembayaran;
2. penyusunan proyeksi neraca pembayaran;

3. analisis lingkungan eksternal yang mempengaruhi analisis neraca pembayaran;


4. pengkajian masalah dan dampak kebijakan moneter, fiskal dan sektor riil terhadap
analisis neraca pembayaran;
5. pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan nasional di
bidang analisis neraca pembayaran;
6. pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas perkembangan analisis neraca
pembayaran secara periodik.
Pasal 248
Sub Direktorat Analisa Ekonomi dan Statistik mempunyai tugas melaksanakan analisis
terhadap berbagai masalah di bidang ekonomi makro dan sosial ekonomi, penyiapan
penyusunan rencana pembangunan nasional yang terkait dengan bidang ekonomi, sosial
ekonomi, dan statistik, serta melaksanakan pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan
atas pelaksanaannya.
Pasal 249
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 248, Sub Direktorat Analisa
Ekonomi dan Statistik menyelenggarakan fungsi:
1. pemantauan dan analisis perkembangan data statistik ekonomi dan sosial ekonomi;
2. analisis masalah-masalah ekonomi makro dan sosial ekonomi;
3. penyusunan pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan pembangunan
nasional yang terkait dengan bidang statistik ekonomi makro dan sosial ekonomi;
4. penyiapan dan penyusunan rencana pendanaan pembangunan di bidang statistik
ekonomi makro dan sosial ekonomi;
5. pemantauan, evaluasi, penilaian, dan pelaporan atas pelaksanaan rencana, kebijakan,
dan program-program pembangunan di bidang statistik dan indikator pembangunan.

1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di dalam melakukan


pembangunan, setiap Pemerintaah memerlukan perencanaan yang akurat
serta diharapkan dapat melakukan evaluasi terhadap pembangunan yang
dilakukannya. Seiring dengan semakin pesatnya pembangunan bidang
ekonomi, maka terjadi peningkatan permintaan data dan indikatorindikator yang menghendaki ketersediaan data sampai tingkat Kabupaten/
Kota. Data dan indikator-indikator pembangunan yang diperlukan adalah
yang sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Struktur
perencanaan pembangunan diIndonesia berdasarkan hirarki dimensi
waktunya berdasarkan Undang-Undang Nomor25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dibagi menjadiperencanaan
jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek (tahunan),sehingga
dengan Undang-Undang ini kita mengenal satu bagian penting
dariperencanaan wilayah yaitu apa yang disebut sebagai rencana
pembangunan daerah,yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah (RPJP-D), Rencana Pembangunan JangkaMenengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) sertaRencana Strategis
Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) dan RencanaKerja Satuan
Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) sebagai kelengkapannya. B.
Rumusan Masalah Rumusan masalah yang akan dibahas pada bab
pembahasan yaitu : 1. Apakah yang dimaksud denganPerencanaan? 2.
Apa sajakah sasaran pendekatan dalam pembangunan? 3. Apa sajakan
tujuan perencanaan? 4. Apa sajakah manfaat perencanaan ? 5.
Bagaimanakah langkah-langkah dan syarat perencanaan ? 6. Apakah yang
dimaksud ruang lingkup perencanaan ? 7. Apa sajakah klasifikasi
perencanaan ? 8. Bagaimanakah tahapan perencanaan ? 9. Apa sajakah
unsur unsur pokok perencanaan pembangunan ? 10. Bagaimanakah
proses dan siklus perencanaan pembangunan ?
2. 2. 2 C. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui defenisi perencanaan. 2.
Mengetahui sasaran pendekatan dalam pembangunan. 3. Mengetahui
tujuan perencanaan. 4. Mengetahui manfaat perencanaan 5. Mengetahui

langkah-langkah dan syarat perencanaan 6. Mengetahui ruang lingkup


perencanaan 7. Mengetahui klasifikasi perencanaan 8. Mengetahui
tahapan perencanaan 9. Mengetahui unsur unsur pokok perencanaan
pembangunan 10. Mengetahui proses dan siklus perencanaan
pembangunan D. Manfaat Penulisan 1. Mahasiswa dapat mengetahui
pengertian perencanaan. 2. Mahasiswa dapat mengetahui pendekatan
dalam pembangunan. 3. Mahasiswa mampu menyebutkan tujuan
perencanaan. 4. Mahasiswa dapat mengetahui manfaat perencanaan. 5.
Mahasiswa dapat mengetahui langkah-langkah dan syarat perencanaan. 6.
Mahasiswa dapat mengetahui ruang lingkup perencanaan. 7. Mahasiswa
mampu menyebutkan klasifikasi perencanaan ? 8. Mahasiswa mampu
menyebutkan tahapan perencanaan ? 9. Mahasiswa dapat mengetahui
unsur unsur pokok perencanaan pembangunan ? 10. Mahasiswa dapat
mengetahui proses dan siklus perencanaan pembangunan ? .
3. 3. 3 BAB II PEMBAHASAN Pengertian Perencanaan Perencanaan adalah
sejumlah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk dilaksanakan pada
suatau periode tertentu dalam rangka tujuan yang ditetapkan. Sedangkan
menurut para ahli adalah : Bintarao Tjokroaminoto ialah proses
mempersiapkan kegiatan kegiatan secara sistematis yang dilakukan
untuk mencapai tujuan tertentu. Secara rinci Tjokroamidjojo (1977)
menguraikan tahap-tahap dalam suatu proses perencanaan yang meliputi
penyusunan rencana, penyusunan program rencana, pelaksanaan,
pengawasan, dan evaluasi. Pertama, penyusunan rencana meliputi unsurunsur tinjauan keadaan (review) yang dapat berupa tinjauan sebelum
memulai suatu rencana maupun tinjauan terhadap pelaksanaan rencana
sebelumnya. Pada tahap ini pula dilakukan perkiraan keadaan masa yang
akan dilalui rencana (forecasting), karena itu dibutuhkan berbagai
informasi untuk mengetahui kemungkinan yang akan terjadi di masa yang
akan datang. Informasi yang diperlukan dapat berupa data statistik dan
hasil penelitian terdahulu yang relevan.Setelah semua perkiraan
dilakukan, maka selanjutnya penetapan tujuan rencana (plan objectives)
dan pemilihan cara- cara pencapaian tujuan rencana.Unsur kegiatan
berikutnya adalah mengidentifikasi kebijakan (policy) yang perlu
dilakukan.Operasionalisasi unsur ini perlu didasarkan pada pilihan
alternatif terbaik dan skala prioritas.Setelah seluruh unsur kegiatan dinilai
tuntas, maka unsur kegiatan yang terakhir dari tahapan penyusunan
rencana adalah pengambilan keputusan (decision making) sebagai
persetujuan atas suatu rencana. Kedua, penyusunan program rencana
yang dilakukan melalui perumusan yang lebih terperinci mengenai tujuan
atau sasaran dalam jangka waktu tertentu, suatu perincian jadwal
kegiatan, jumlah dan jadwal pembiayaan serta penentuan lembaga atau
kerja sama antarlembaga mana yang akan melakukan program-program
pembangunan. Tahap ini seringkali perlu dibantu dengan penyusunan
suatu tahap flow chart, operation plan atau network plan. Ketiga,
pelaksanaan rencana (implementasi). Implementasi menurut Salusu
(1996), adalah seperangkat kegiatan yang dilakukan menyusul suatu
keputusan, atau dengan kata lain dapat dikatakan sebagai
operasionalisasi dari berbagai aktivitas guna mencapai sasaran tertentu.
4. 4. 4 Keempat, pengawasan atas pelaksanaan rencana yang bertujuan
untuk mengusahakan supaya pelaksanaan rencana berjalan sesuai
dengan rencana, apabila terdapat penyimpangan maka perlu diketahui
seberapa jauh penyimpangan tersebut dan apa sebabnya serta

dilakukannya tindakan korektif terhadap adanya penyimpangan. Untuk


maksud tersebut, maka diperlukan suatu sistem monitoring dengan
mengusahakan pelaporan dan feedback yang baik daripada pelaksana
rencana. Berdasarkan pelakunya, pengawasan dapat dibedakan ke dalam
empat macam jenis pengawasan, yakni pengawasan melekat,
pengawasan fungsional, pengawasan masyarakat, dan pengawasan
legislatif. Pengawasan melekat adalah pengawasan terhadap program
yang dilakukan secara langsung oleh atasan terhadap bawahannya yang
bersifat preventif dan represif serta kontinue. Sementara pengawasan
fungsional dilaksanakan oleh aparat baik secara internal maupun
eksternal yang ditunjuk khusus (exclusively assigned) untuk melakukan
audit secara independen. Lain halnya dengan pengawasan masyarakat
yang merupakan bentuk kontrol sosial baik secara langsung maupun
dalam bentuk pemberitaan melalui media massa. Sedangkan pengawasan
legislatif yaitu pengawasan yang dilakukan oleh lembaga legislatif yang
memang memiliki fungsi pengawasan, selain fungsi legislasi dan
anggaran. Kelima, evaluasi untuk membantu kegiatan pengawasan, yang
dilakukan melalui suatu tinjauan yang berjalan secara terus menerus
(concurrent review). Di samping itu, evaluasi juga dapat dilakukan sebagai
pendukung tahap penyusunan rencana yakni evaluasi sebelum rencana
dimulai dan evaluasi tentang pelaksanaan rencana sebelumnya. Dari hasil
evaluasi ini dapat dilakukan perbaikan terhadap perencanaan selanjutnya
atau penyesuaian yang diperlukan dalam (pelaksanaan) perencanaan itu
sendiri. Dalam pengertian tersebut, terkandung makna bahwa pada
hakekatnya aspek perencanaan senantiasa terdapat dalam setiap jenis
usaha manusia. Perencanaan adalah suatu cara bagaimana mencapai
tujuan sebaik-baiknya (maximum out put) dengan memberdayakan
sumber daya yang ada agar tujuan dapat tercapai secara efisien dan
efektif. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa perencanaan tidak dapat
terlepas dari kegiatan pengambilan keputusan dan penentuan faktorfaktor lain yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan.
5. 5. 5 Prajudi Atmosudirdja mendefinisikan perencanaan ialah perhitungan
dan penentuan tentang sauatu yang akan dijalankan dalam rangka
mencapai tujuan tertentu , siapa yang melakukan , bilamana, di mana,
dan bagaimana cara melakukanya. Handoko( 2003) meliputi (1)pemilihan
atau penetapan tujuan tujuan organisasi., (2) penentuan strategi ,
kebijakan , proyek, program , prosedur, metode, system, anggaran, dan
standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Perencanaan pada
hakikatnya adalah sauatu proses pengambilan keputusan atas sejumlah
alternatife mengenai sasaran dan cara cara yang kan dilaksanakan di
masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang dikehendaki serta
pemantauan dan penilaian atas hasil pelaksanaannya yang dilakukan
secara sistematis dan berkesinambungan. Dari pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa yang disebut perencanaan adalah kegiatan yang
dilakukan di masa ynag akan datang untuk mencapai tujuan. Dari definisi
perencanaan mengandunmg unsure unsur (1) sejumlah kegiatan yang
ditetapkan sebelumnya, (2)adanya proses, (3) hasil yang ingin dicapai,
dan (4) menyangkut masa depan dalam waktu tertentu. Perencanaan
tidak terlepas dari unsur pelaksanaan termasuk pematauan , penilaian,
dan pelaporan. Pengawasan diperlukan dalam perencanaan agar tidak
terjadi penyimpanagan penyimpangan pengawasan dalam perencanaan
dapat dilakukan secara preventif dan respresif. Pengawasan preventif

merupakan pengawasa yang melekat dengan perencanaanya, sedangkan


pengawasan represif merupakan pengawasan fungsional atas
perencanaan rencana, baik yang dilakukan secara internal maupun
eksternal oleh aparat pengawas yang ditugasi. Selanjutnya keempat
fungsi dapat dideskripsikan sebagai berikut. Perencanaan merupakan
proses yang sitematis dalam mengambil keputusan tentang tindakan yang
akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Perencanaan juga
merupakan kumpulan kebijakan yang secara sistematis disusun dan
dirumuskan berdasarkan data yang dipertanggungjawabkan serta dapat
digunakan sebagai pedoman kerja. Perencanaan program pendidikan
sedikitnya memiliki dua fungsi, fungsi yang utama, pertama, perencanaan
merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusuanan
rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan
organiosasi atau lembagadenagn mempertimbangkan sumber sumber
yang tersediia atau sumber asumber yang dapat dilakukan. Kedua,
perencanaan meruoakan kegiatan untuk mengarahkan atau menggunakan
sumbner sumber terbatas secara efisien dan efektif untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan.
6. 6. 6 Menurut Arthur W. Lewis (1965), Perencanaan pembangunan sebagai
suatu kumpulan kebijaksanaan dan program pembangunan unutk
merangsang masyarakat dan seasta untuk menggunakan sumberdaya
yang tersedia secara lebih produktif. Menurut M. L. Jhingan (1984),
menyatakan bahwa Perencanaan pembangunan pada dasarnya
merupakan pengendalian dan pengaturan perekonomian dengan sengaja
oleh suatu penguasa (pemerintah) pusat untuk mencapai suatu sasaran
dan tujuan tertentu di dalam jangka waktu tertentu pula. Berdasarkan
Undang-Undang No. 25 Tahun 2004, Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (SPPN) adalah suatu kesatuan tata cara perencanaan
pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan
jangka panjang, jangka menegah dan tahunan, yang dilaksanakan oleh
unsure peyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah.
Pendekatan Dalam Pembangunan 1. Teori Modernisasi Modernisasi dapat
dipahami sebagai sebuah upaya tindakan menuju perbaikan dari kondisi
sebelumnya. Selain upaya, modernisasi juga berarti proses yang memiliki
tahapan dan waktu tertentu dan terukur. Modernisasi memiliki asumsi
dasar yang menjadi pangkal hipotesisnya dalam menawarkan rekayasa
pembangunan.Pertama, kemiskinan dipandang oleh Modernisasi sebagai
masalah internal dalam sebuah negara (Arief Budiman, 2000:18).
Kemiskinan dan problem pembangunan yang ada lebih merupakan akibat
dari keterbelakangan dan kebodohan internal yang berada dalam sebuah
negara, bukan merupakan problem yang dibawa oleh faktor dari luar
negara. Jika ada seorang warga yang miskin sehingga ia tidak mampu
mencukupi kebutuhan gizinya, maka penyebab utama dari fakta tersebut
adalah orang itu sendiri dan negara dimana orang tersebut berada, bukan
disebabkan orang atau negara lain. Artinya, yang paling pantas dan layak
melakukan penyelesaian masalah atas kasus tersebut adalah orang dan
negara dimana orang itu berada, bukan negara lain. Kedua, muara segala
problem adalah kemiskinan, pembangunan berarti perang terhadap
kemiskinan.Jika pembangunan ingin berhasil, maka yang kali pertama
harus dilakukan adalah menghilangkan kemiskinan dari sebuah
negara.Cara paling tepat

7. 7. 7 menurut Modernisasi untuk menghilangkan kemiskinan adalah


dengan ketersediaan modal untuk melakukan investasi.Semakin tinggi
tingkat investasi di sebuah negara, maka secara otomatis, pembangunan
telah berhasil, (Mansour Fakih, 2002:44-47). Teori Modernisasi adalah teori
pembangunan yang menyatakan bahwa pembangunan dapat dicapai
melalui mengikuti proses pengembangan yang digunakan oleh negaranegara berkembang saat ini. Teori tindakan Talcott Parsons
'mendefinisikan kualitas yang membedakan "modern" dan "tradisional"
masyarakat.Pendidikan dilihat sebagai kunci untuk menciptakan individu
modern. Teknologi memainkan peran kunci dalam teori pembangunan
karena diyakini bahwa teknologi ini dikembangkan dan diperkenalkan
kepada negara-negara maju yang lebih rendah akan memacu
pertumbuhan ekonomi. Salah satu faktor kunci dalam Teori Modernisasi
adalah keyakinan bahwa pembangunan memerlukan bantuan dari negaranegara maju untuk membantu negara-negara berkembang untuk belajar
dari perkembangan mereka. Dengan demikian, teori ini dibangun di atas
teori bahwa ada kemungkinan untuk pengembangan yang sama dicapai
antara negara maju dan dikembangkan lebih rendah. 2. Teori Dependensi
(Ketergantungan). Teori Dependensi lahir atas respon ilmiah terhadap
pendapat kaum Marxis Klasik tentang pembangunan yang dijalankan di
negara maju dan berkembang.Aliran neo- marxisme yang kemudian
menopang keberadaan teori Dependensi ini.Tokoh utama dari teori
Dependensi adalah Theotonio Dos Santos dan Andre Gunder
Frank.Theotonio Dos Santos sendiri mendefinisikan bahwa ketergantungan
adalah hubungan relasional yang tidak imbang antara negara maju dan
negara miskin dalam pembangunan di kedua kelompok negara
tersebut.Dia menjelaskan bahwa kemajuan negara Dunia Ketiga hanyalah
akibat dari ekspansi ekonomi negara maju dengan kapitalismenya. Jika
terjadi sesuatu negatif di negara maju, maka negara berkembang akan
mendapat dampak negatifnya pula. Sedangkan jika hal negatif terjadi di
negara berkembang, maka belum tentu negara maju akan menerima
dampak tersebut. Sebuah hubungan yang tidak imbang. Artinya, positifnegatif dampak berkembang pembangunan di negara maju akan dapat
membawa dampak pada negara, (theotonio dos santos, review, vol. 60,
231).
8. 8. 8 Enam bagian pokok dari teory independensi adalah : 1. Pendekatan
Keseluruhan Melalui Pendekatan Kasus. Gejala ketergantungan dianalisis
dengan pendekatan keseluruhan yang memberi tekanan pada sisitem
dunia. Ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global, dimana
negara pinggiran hanya sebagai pelengkap. Keseluruhan dinamika dan
mekanisme kapitalis dunia menjadi perhatian pendekatan ini. 2. Pakar
Eksternal Melawan Internal. Para pengikut teori ketergantungan tidak
sependapat dalam penekanan terhadap dua faktor ini, ada yang
beranggapan bahwa faktor eksternal lebih ditekankan, seperti Frank Des
Santos. Sebaliknya ada yang menekan factor internal yang
mempengaruhi/ menyebabkan ketergantungan, seperti Cordosa dan
Faletto. 3. Ekonomi Melawan Analisi Sosiopolitik. Raul Plebiech
memulainya dengan memakai analisis ekonomi dan penyelesaian yang
ditawarkanya juga bersifat ekonomi. AG Frank seorang ekonom, dalam
analisisnya memakai disiplin ilmu sosial lainya, terutama sosiologi dan
politik. Dengan demikian teori ketergantungan dimulai sebagai masalah
ekonomi kemudian berkembang menjadi analisis sosial politik dimana
analisis ekonomi hanya merupakan bagian dan pendekatan yang multi

dan interdisipliner analisis sosiopolitik menekankan analisa kelas,


kelompok sosial dan peran pemerintah di negara pinggiran. 4. Kontradiksi
Sektoral/Regional Melawan Kontradiksi Kelas. Salah satu kelompok
penganut ketergantungan sangat menekankan analisis tentang hubungan
negara- negara pusat dengan pinggiran ini merupakan analisis yang
memakai kontradiksi regional. Tokohnya adalah AG Frank. Sedangkan
kelompok lainya menekankan analisis klas, seperti Cardoso. 5.
Keterbelakangan Melawan Pembangunan. Teori ketergantungan sering
disamakan dengan teori tentang keterbelakangan dunia ketiga. Seperti
dinyatakan oleh Frank. Para pemikir teori ketergantungan yang lain seperti
Dos Santos, Cardoso, Evans menyatakan bahwa ketergantungan dan
pembangunan bisa berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab,
sifat dan keterbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks
ketergantungan. 6. Voluntarisme Melawan Determinisme. Penganut marxis
klasik melihat perkembangan sejarah sebagai suatu yang deterministic.
Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme ke
kapitalisme dan akan kepada sosialisme. Penganut Neo
9. 9. 9 Marxis seperti Frank kemudian mengubahnya melalui teori
ketergantungan. Menurutnya kapitalisme negara-negara pusat berbeda
dengan kapitalisme negara pinggiran. Kapitalisme negara pinggiran
adalah keterbelakangan karena itu perlu di ubah menjadi negara sosialis
melalui sebuah revolusi. Dalam hal ini Frank adalah penganut teori
voluntaristik. 3. Teori Artikulasi Teori ini menyikapi kegagalan kapitalisme
yang dilakukan di negara satelit, karena kapitalisme dapat berhasil
dilakukan di negara maju. Minimal adadua alasan utama yang
menyebabkan kapitalisme gagal membawa negara berkembang untuk
mencapai kemajuan dalam pembangunan yang dilakukannya. Dua hal itu
adalah kegagalan cara dan proses produksi di negara satelit. 1. Kegagalan
proses produksi di negara satelit Teori ini berpendapat bahwa negara
satelit telah gagal memahami proses industrialisasi yang dicontohkan oleh
negara maju. Pemahaman yang salah atas kapitalisme ini kemudian
menbawa kegagalan dalammewujudkan kapitalisme dengan melakukan
industrialisasi dalam negeri.Disinilah yang dimaksud dengan kegagalan
dalam pembangunan menurut teori Artikulasi. Negara Dunia Ketiga gagal
mengartikulasikan profil kemajuan dan kemandirian ekonomi yang telah
tercapai di negara maju dengan kapitalisasi ekonominya, sehingga
kegagalan inimembawa negara satelit tetap menjadi negara miskin. 2.
Kesalahan cara produksi Industrialiasi yang berjalan di negara satelit
mengalami kesalahan dalam hal produksi (made of production), sehingga
pemanfaatan sumberdaya alamtidak dilakukan secara maksimal untuk
menghasilkan produk barang industri.Kesalahan cara produksi ini
menyebabkan kapitalisme di negara satelit tidak berjalan dan berkembang
secara murni, sehingga pembangunan tidak berhasilmembawa kemajuan
bagi negara tersebut. Kegagalan cara produksi di negara Dunia Ketiga ini
terjadi karena keterbatasan teknologi industri yang dikuasai oleh para
tenaga ahli di negara Dunia Ketiga. Dengan terbatas dan sedikitnya
teknologi industri yagng dikuasai, maka produk industri
10.10. 10 yangdihasilkan oleh industri negara Dunia Ketiga tetap akan
mengalamikekalahan dalam persaingan di pasar konsumsi dengan produk
yang dihasilkan oleh industri negara maju. Dengan tidak lakunya barangbarang produk industri negara Dunia Ketiga,maka pertumbuhan
pendapatan industri-industri domestik akan cenderung rugi atau hanya

mendapatkan laba yang minim, sehingga dengan keuntungan terbatas


tersebut, karyawan dan para pekerja akan terbatas mendapatkan
pendapatan dari kerja yang telah mereka lakukan. Jika pendapatan
rendah, maka kemampuan konsumsi juga rendah. Maka negara Dunia
Ketiga tetap masih berada dalamketerbelakangan jika tidak mampu
merubah cara produksi industri yangada didalam negaranya. Cara
tercepat untuk merubahnya adalah dengan menguasai teknologi industri
yang sangat menentukan mutu produk industri itu sendiri. Tokoh teori ini
adalah Claude Meillassoux dan Pierre Philippe Rey, keduanya adalah
antropolog yang berasal dari Perancis,(Arief Budiman, 2000: 103-107).
Tujuan Perencanaan 1. Standar pengawasan yaitu mencocokan
pelaksanaan dengan perencanaannya. 2. Mengetahui kapan pelaksanaan
dan selesainya suatu kegiatan 3. Mengetahui siapa saja yang terlibat
(stuktur organisasinya) baik kualifikasinya maupunkauntitasnya. 4.
Mendapatkan kegiatan kegiatan yang tidak produktif dan menghemat
biaya tenaga dan waktu. 5. Meminimalkan kegiatan kegiatan yang tidak
produktif dan menghemat biaya, tenaga, dan waktu. 6. Memberikan
gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerja. 7. Menyerasikan
dan memadukan beberapa subkegiatan. 8. Mendeteksi hambatan
kesulitan yang bakal ditemui 9. Mengarahkan pada percapaian tujuan.
Manfaat perencanaan 1. Standar pelaksaanaan dan pengawasan 2.
Pemilihan berbagai alternative terbaik. 3. Penyusunan skala prioritas , baik
sasaran mauopun kegiatan, 4. Menghemat pemanfaatan sumber daya
organisasi 5. Alat memudahkan dalam berkordinasi dengn pihak terkait
11.11. 11 6. Alat untuk meminimalkan pekerjaan tidak pasti. Langkah-langkah
dan Syarat Perencanaan Langkah-langkah dalam perencanaan meliputi
hal-hal sebagai berikut: 1. Menentukan dan merumuskan tujuan yang
hendak dicapai. 2. Meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan
yang akan dilakukan. 3. Mengumpulkan data dan informasi-informasi yang
diperlukan. 4. Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan. 5.
Merumuskan bagaimana masalah-masalah itu akan dipecahkan dan
bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu akan diselesaikan. Syarat-syarat
perencanaan antara lain sebagai berikut: a. Perencanaan harus didasarkan
atas tujuan yang jelas. b. Bersifat sederhana, realistis, dan praktis. c.
Terinci, memuat segala uraian serta klasifikasi kegiatan dan rangkaian
tindakan sehingga mudah dipedomani dan dijalankan. d. Memiliki
fleksibilitas sehinggga disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi dan
situasi sewaktu-waktu. e. Terdapat pertimbangan antara bermacammacam bidang yang akan digarap dalam perencanaan itu, menurut
urgensinya masing-masing. f. Diusahakan agar sedapat mungkin tidak
terjadi adanya duplikasi pelaksanaan. Ciri-ciri dari suatu perencanaan
pembangunan : a. Usaha yang dicerminkan dalam rencana untuk
mencapai perkembangan sosial ekonomi yang mantap (steady
socialeconomic growth). Hal ini dicerminkan dalam usaha pertumbuhan
ekonomi yang positif. b. Usaha yang dicerminkan dalam rencana untuk
meningkatkan pendapatan per kapita. c. Usaha untuk mengadakan
perubahan struktur ekonomi. Hal ini seringkali disebut sebagai usaha
diversifikasi ekonomi. d. Usaha perluasan kesempatan kerja. e. Usaha
pemerataan pembangunan sering disebut sebagai distributive justice. f.
Usaha pembinaan lembaga-lembaga ekonomi masyarakat yang lebih
menunjang kegiatan-kegiatan pembangunan. g. Usaha secara terus
menerus menjaga stabilitas ekonomi.

12.12. 12 Ruang Lingkup Perencanaan Perencanaan dari Dimensi Waktu a.


Perencanaan Jangka Panjang (Long Term Planning) Perencanaan ini
meliputi jangka waktu 10 tahun ke atas.Dalam perencanaan ini belum di
tampilkan sasaran-sasaran yang bersifat kuantitatif, tetapi lebih kepada
proyeksi atau prespektif atas keadaan ideal yang diinginkan dan
pencapaian keadaan yang bersifat fundamental. Contoh, Propenas. b.
Perencanaan Jangka Menengah (Medium Term Planning) Perencanaan ini
meliputi jangka waktu antara tiga sampai delapan tahun. Di Indonesia
umumnya lima tahun. Perencanaan jangka menengah ini merupakan
penjabaran atau uraian perencanaan jangka panjang.Walaupun
perencanaan jangka menengah ini masih bersifat umum, tetapi sudah
ditampilkan saran-saran yang diproyeksikan secara kuantitatif. Contoh,
Propeda. c. Perencanaan Jangka Pendek (Short Term Planning) Jangka
waktunya kurang maksimal satu tahun.Perencanaan jangka pendek
tahunan (annual plann) disebut juga perencanaan (annual operational
planning).Contoh, Proyek-proyek. Klasifikasi Perencanaan Perencanaan
pembangunan dapat diklasifikasi berdasarkan beberapa dimensi,
diantaranya: dimensi pendekatan dan koordinasi, dimensi waktu, dan
dimensi arus penyunan. Ketiga klasifikasi ini akan diuraikan pada
pembahasan berikut ini. I. Dimensi pendekatan dan koordinasi Pertama,
perencanaan pembangunan makro adalah perencanaan pembangunan
nasional dalam skala menyeluruh. Dalam perencanaan makro ini dikaji
berapa pesat pertumbuhan ekonomi dapat dan akan direncanakan, berapa
besar tabungan masyarakat dan pemerintah akan tumbuh, bagaimana
proyeksinya, da-n hal-hal lainnya secara makro dan menyeluruh. Kajian ini
dilakukan untuk menentukan tujuan dan sasaran yang mungkin dicapai
dalam jangka waktu rencana, dengan memperhitungkan berbagai variabel
ekonomi mikro.Perencanaan makro ini dilakukan dengan melihat dan
memperhitungkan secara cermat keterkaitannya dengan perencanaan
sektoral dan regional. Kedua, perencanaan sektoral adalah perencanaan
yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan sektor.Yang dimaksud
dengan sektor adalah kumpulan dari kegiatan-kegiatan
13.13. 13 atau program yang mempunyai persamaan ciri-ciri serta
tujuannya.Pembagian menurut klasifikasi fungsional seperti sektor,
maksudnya untuk mempermudah perhitungan- perhitungan dalam
mencapai sasaran makro. Sektor-sektor ini kecuali mempunyai ciri-ciri
yang berbeda satu sama lain, juga mempunyai daya dorong yang berbeda
dalam mengantisipasi investasi yang dilakukan pada masing-masing
sektor. Meskipun pendekatan ini menentukan kegiatan tertentu, oleh
instansi tertentu, di lokasi tertentu, faktor lokasi pada dasarnya dipandang
sebagai tempat atau lokasi kegiatan saja.Pendekatan ini berbeda dengan
pendekatan perencanaan lainnya yang terutama bertumpu pada lokasi
kegiatan. Ketiga, perencanaan dengan dimensi pedekatan regional
menitikberatkan pada aspek lokasi di mana kegiatan dilakukan.Pemerintah
daerah mempunyai kepentingan yang berbeda dengan instansi-instansi di
pusat dalam melihat aspek ruang di suatu daerah.Departemen/lembaga
pusat dengan visi atau kepentingan yang bertitik berat sektoral melihat
lokasi untuk kegiatan, sedangkan pemerintah daerah dengan titik berat
pendekatan pembangunan regional (wilayah/daerah) melihat kegiatan
untuk lokasi. Kedua pola pikir itu dapat saja menghasilkan hal yang sama,
namun sangat mungkin menghasilkan usulan yang berbeda. Pemerintah
daerah dalam merencanakan pembangunan daerah mengupayakan
pendayagunaan ruang di daerahnya, mengisinya dengan berbagai

kegiatan sedemikian rupa sehingga menghasilkan alternatif pembangunan


yang terbaik bagi daerah tersebut.Pilihan daerah terhadap alternatif yang
tersedia dapat menghasilkan pertumbuhan yang tidak optimal dari sudut
pandang sektor yang melihat kepentingan nasional secara
sektoral.Berbagai pendekatan tersebut perlu dipadukan dalam
perencanaan pembangunan nasional, yang terdiri dari pembangunan
sektor-sektor di berbagai daerah, dan pembangunan daerah yang
bertumpu pada sektor-sektor. Keempat, perencanaan mikro adalah
perencanaan skala rinci dalam perencanaan tahunan, yang merupakan
penjabaran rencana-rencana baik makro, sektoral, maupun regional ke
dalam susunan proyek-proyek dan kegiatan-kegiatan dengan berbagai
dokumen perencanaan dan penganggarannya. Secara operasional
perencanaan mikro ini antara lain tergambar dalam Daftar Isian Proyek
(DIP), Petunjuk Operasional (PO), dan rancangan kegiatan. Perencanaan ini
merupakan unsur yang sangat penting, karena pada dasarnya pencapaian
tujuan dan sasaran pembangunan.Efektivitas dan efisiensi yang menjadi
masalah nasional sehari-hari dapat ditelusuri penanganannya dalam
perencanaan dan pelaksanaan rencana di tingkat mikro.
14.14. 14 II. Dimensi waktu Perencanaan pembangunan yang didasarkan oleh
periode waktu terdiri atas tiga klasifikasi umum.Pertama, perencanaan
jangka panjang.Perencanaan jangka panjang sekitar 10 sampai dengan 25
tahun.Perencanaan ini bukan merupakan pedoman kerja yang siap pakai,
melainkan keputusan kekuasaan tertinggi yang lebih bersifat dorongan
atau motivasi.Jenis perencanaan yang demikian ini bersifat
berkesinambungan, tidak dapat diputus-putus.Perencanaan pengentasan
kemiskinan, perencanaan keluarga berencana, dan proyek jalan raya
merupakan contoh sederhana dari perencanaan jangaka panjang. Kedua,
Sementara perencanaan jangka menengah lazim disebut Repelita, oleh
karena periodesasinya dalam kurun waktu 5 tahunan.Perencanaan jangka
menengah biasanya dikaitkan dengan kebutuhan secara politis karena
jangka waktu disesuaikan dengan jabatan pemerintah yang sedang
berjalan. Ketiga, perencanaan jangka pendek.Perencanaan jangka pendek
sering juga dikenal dengan istilah rencana operasional tahunan yang
hanya memiliki kurun waktu 1 tahun.Jenis perencanaan ini merupakan
operasionalisasi atau penjabaran dari perencanaan jangka menengah ke
dalam perencanaan tahunan yang biasanya disesuaikan dengan
kemampuan atau kondisi riil suatu daerah tertentu.Kemampuan yang
dimaksudkan di sini terkait dengan anggaran (budget) yang populer
disebut APBN dan APBD.Dalam pandangan Lewis (1994), rencana tahunan
merupakan rencana pengontrol dengan pengertian bahwa ini adalah tahun
dimana tahun demi tahun menyesuaikan sumber-sumber daya dengan
hasil-hasil yang dapat diperoleh.Singkatnya dalam pandangan Lewis
bahwa rencana tahunan merupakan sebuah dokumen operasi.Dengan
demikian, sasaran dalam perencanaan jangka pendek tidak menyimpang
dari frame work kebijakan yang telah ditentukan dalam perencanaan
jangka menengah dan jangka panjang. III. Dimensi arus penyusunan
Berdasarkan prosesnya, perencanaan ini dibagi menjadi perencanaan dari
bawah ke atas (bottom-up planning) dan perencanaan dari atas ke bawah
(top-downplanning).Perencanaan dari bawah ke atas dianggap sebagai
pendekatan perencanaan yang seharusnya diikuti karena dipandang lebih
didasarkan pada kebutuhan nyata.Pandangan ini timbul karena
perencanaan dari bawah ke atas ini dimulai prosesnya dengan mengenali
kebutuhan di tingkat masyarakat

15.15. 15 yang secara langsung yang terkait dengan pelaksanaan dan


mendapat dampak dari kegiatan pembangunan yang direncanakan.
Sedangkan perencanaan dari atas ke bawah adalah pendekatan
perencanaan yang menerapkan cara penjabaran rencana induk ke dalam
rencana rinci. Rencana rinci yang berada di bawah adalah penjabaran
rencana induk yang berada di atas.Pendekatan perencanaan sektoral
acapkali ditunjuk sebagai pendekatan perencanaan dari atas ke bawah,
karena target yang ditentukan secara nasional dijabarkan ke dalam
rencana kegiatan di berbagai daerah di seluruh Indonesia yang mengacu
kepada pencapaian target nasional tersebut.Pada tahap awal
pembangunan, pendekatan perencanaan ini lebih dominan, terutama
karena masih serba terbatasnya sumber daya pembangunan yang
tersedia. Di dalam implementasinya tidak terdapat lagi penerapan penuh
pendekatan dari atas ke bawah.Beberapa pertimbangan, misalnya
ketersediaan tabungan pemerintah sebagai sumber pembiayaan
pembangunan dan kepentingan sektoral nasional, masih menuntut
penerapan pendekatan dari atas ke bawah. Namun, kini pendekatan
tersebut tidak lagi sepenuhnya dijalankan karena proses perencanaan rinci
menuntut peran serta masyarakat. Untuk itu, diupayakan untuk
memadukan pendekatan perencanaan dari atas ke bawah dengan
perencanaan dari bawah ke atas. Secara operasional pendekatan
perencanaan tersebut ditempuh melalui mekanisme yang disebut
Pedoman Penyusunan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan di
Daerah (P5D) dengan memanfaatkan forum-forum Musyawarah
Pembangunan (Musbang) Desa, Musbang Kecamatan, Rapat Koordinasi
Pembangunan (Rakorbang) Dati II, Rakorbang Dati I, Konsultasi Regional
Pembangunan (Konregbang), yaitu Dati I sepulau/kawasan, dan puncaknya
terjadi pada Konsultasi Nasional Pembangunan (Konasbang). Di setiap
tingkat diupayakan untuk mengadakan koordinasi perencanaan sektoral
dan regional.Usulan atau masalah yang lintas wilayah atau lintas sektoral
yang tidak dapat diselesaikan di suatu tingkat dibawa ke tingkat di
atasnya. Proses berjenjang ini diharapkan dapat mempertajam analisis di
berbagai tingkat forum konsultasi perencanaan pembangunan tersebut.
Dengan demikian, perencanaan dari atas ke bawah yang memberikan
gambaran tentang perkiraan-perkiraan dan kemungkinan-kemungkinan
yang ada diinformasikan secara berjenjang, sehingga proses perencanaan
dari bawah ke atas diharapkan sejalan dengan yang ditunjukkan dari atas
ke bawah.
16.16. 16 Tahapan Perencanaan: Tiga Model Dasar 1. Model Pertumbuhan
Agregat: Memproyeksikan Variabel-variabel Makro Model perencanaan
pertama dan pemula yang digunakan hampir semua oleh negara
berkembang adalah model pertumbuhan agregat. (aggregate growth
model). Model ini mengulas perekonomian secara keseluruhan dengan
menggunakan variabel-veriabel makroekonomi yang dinilai paling
mempengaruh tingkatan dan laju pertumbuhan output nasional, yaitu
tabungan, investasi, cadangan modal, nilai ekspor, impor, bantuan luar
negeri, dan sebagainya. Model pertumbuhan egregat ini merupakan model
yang cocok untuk meramalkan pertumbuhan output (dan mungkin juga
ketenagakerjaan) dalam kurun waktu antara tiga sampai dengan lima
tahun. Hampir semua model yang tergolong model pertumbuhan agregat
ini memiliki kemiripan gagasan dengan model dasar Harrod-Domar. 2.
Model Input-Output dan Proyeksi Sektoral: Gagasan Dasar Pendekatan lain
yang jauh lebih canggih terhadap perencanaan pembangunan

menggunaka beberapa varian model-antar industri (inter-industry model)


atau model input- output (input-output model). Pendekatan ini
memperhitungkan kenyataan bahwa kegiatan ekonomi dalam sektorsektor industri yang utama senantiasa saling berhubungan satu sama lain
dalam suatu bentuk himpunan persamaan aljabar yang simultan yang
pada akhirnya akan menunjukan proses produksi atau teknologi yang
digunakan dalam masing-masing sektor industri. Semua industri selain
dianggap selain sebagai produsen output tertentu juga sebagai konsumen
atau pihak yang menggunakan output dari industri yang lain sebagai
input- inputnya. Sebagai contoh adalah sektor pertanian. Selain sebagai
produsen output tertentu (misalnya gandum) sektor ini juga menggunakan
input-input yang merupakan output-output , katakalah sektor industri
mesin dan sektor industri pupuk. 3. Penilaian Proyek dan Analisis Manfaat
Biaya Sosial Meskipun lembaga perencanaan di negara-negara
berkembang pada umunya menggunakan model perencanaan HarrodDomar dengan aneka variasinya, serta model output-input sektoral yang
telah disederhanakan, namun dalam kegiatan operasional sehari- harinya
mereka lebih memperhatikan alokasi dana investasi pemerintah yang
selalu terbatas berdasarkan teknik analisis makroekonomi yang dikenal
dengan nama penilaian proyek (project appraisal). Namun hendaknya
hubungan intelektual dan operasional antara tiga teknik perencanaa yang
penting tersebut tidak diabaikan. Model pertumbuhan makro menyusun
strategi yang luas, yang bila disertai dengan analisis output-input, akan
pelaksanaan upaya pemenuhan target sektoral domestik secara konsisten,
sedangkan penilaian proyek khusus dirancang untuk mennjamin
terciptanya perencanaan proyek yang
17.17. 17 efisien unutk masing-masing sektor. Hubungan timbal balik antara
ketiga tahap perencanaan tersebut akan sangat banyak menentukan
keberhasilan pelaksanaan perencanaan pembangunan tersebut. Jenis
perencanaan pembangunan dapat dilihat dari berbagai sisi yaitu: NO.
SIFAT JENIS 1. Menurut Jangka Waktunya Perencanaan Jangka Panjang
Perencanaan Jangka Menengah Perencanaan Jangka Pendek 2. Menurut
Sifat. Perencanaan dengan Komando Perencanaan dengan Rangsangan 3.
Menurut Sumber Daya. Perencanaan Keuangan Perencanaan Fisik 4.
Menurut Tingkat Keleluasaan Perencanaan Indikatif Perencanaan Imperatif
5. Menurut Sistem Ekonomi Perencanaan pembangunan dalam sistem
kapitalis Perencanaan pembangunan dalam sistem komunis Perencanaan
pembangunan dalam sistem campuran 6. Menurut Cara Pelaksanaan
Perencanaan Sentralistik Perencanaan Desentralistik Ciri-ciri perencanaan
yang dipersiapkan dengan baik yaitu sebagai berikut: Tersusun secara
lengkap termasuk sektor swasta Memasukkan evaluasi perekonomian
masa lalu Merinci tujuan dan prioritas pebangunan
18.18. 18 Menterjemahkan tujuan kedalam target pembangunan Strategi
dan kebijakan bersifat spesifik Berisikan perencanaan kebutuhan
investasi Memuat perkiraan atau proyeksi selama periode perencanaan
Mempunyai kaitan yang jelas dengan perencanaan pembangunan
lainnya. Unsur Pokok Perencanaan Pembangunan Dalam melakukan
pembangunan, harus memiliki perencanaan yang matang dan mantap,
agar pembangunan dapat berdaya guna dan berhasil guna. Dalam
perencanaan pembangunan, tentunya ada unsure-unsur pokok yang harus
dimiliki yaitu seperti sebagai berikut: 1. Mengetahui Locus: mengerti,

mengetahui, dan memahami kondisi umum daerah yang dijadikan sasaran


pembangunan. 2. Memiliki visi dan misi pembangunan: pelaksanaan
pembangunan harus tetap fokus, sehingga harus bersandar pada visi dan
misi yang telah ditetapkan sebelumnya, mengenai untuk apa, siapa, dan
mengapa pembangunan itu harus dilaksanakan. 3. Mempunyai sasaran
dan target pembangunan: mengetahui tindakan nyata yang akan
dilakukan serta jangka waktu yang dibutuhkan dari tujuan yang ingin
dicapai. 4. Memiliki strategi pembangunan: bertujuan agar pelaksanaan
berjalan secara kronologis serta, mengutamakan pencapaian tujuan
secara efektif dan efisien, dengan tepat dan terarah. Berikut merupakan
contoh strategi pembangunan seperti, strategi menyeluruh dan strategi
parsial, strategi fokus dan strategi campuran. 5. Adanya prioritas
pembangunan: hal ini bertujuan agar tercipta pengoptimalisasian
terhadap pencapaian sasaran pembangunan dengan dana dan
sumberdaya yang terbatas. 6. Memiliki program dan kegiatan
pembangunan yang jelas: sebagai bentuk intervensi dari pemerintah
dengan menggunakan sejumlah sumberdaya, termasuk dana dan tenaga
dalam rangka melaksanakan kebijakan pembangunan. Proses dan Siklus
Perencanaan Pembangunan Secara lebih rinci dapat dikemukakan tahaptahap dalam suatu proses perencanaan sebagai berikut :
19.19. 19 1. Penyusun Rencana a. Tinjauan Keadaan Tinjauan keadaan atau
review ini dapat berupa tinjauan sebelum memulai suatu rencana (review
before take of) atau suatu tinjauan tentang pelaksanaan rencana
sebelumnya (review of performance). Dengan kegiatan ini diusahakan
dapat dilakukan dan diidentifikasi masalah-masalah pokok yang masih
dihadapi, seberapa jauh kemajuan telah dicapai untuk menjamin
kontinuitas kegiatan-kegiatan usaha, hambatan-hamabatan yang masih
ada, dan potensi- potensi serta prospek yang masih bisa dikembangkan. b.
Perkiraan keadaan masa yang akan datang akan dilalui rencana Sering
juga disebut sebagai forecasting. Dalam hal ini diperlukan data-data
statistik, sebagai hasil penelitian dan teknik-teknik proyeksi. Mekanisme
informasi untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan perpestik
masa depan. c. Penetapan tujuan rencana (Plan Objectives) Dalam hal ini
seringkali nilai-nilai politik, sosial masyarakat,memainkan peranan yang
cukup penting. Secara teknis hal ini didasarkan kepada tinjauan keadaan
dan perkiraan tentang masa yang akan dilalui rencana. d. Identifikasi
kebijakan Suatu kebijakan atau policy, mungkin perlu didukung oleh
program-program pembangunan. Untuk bisa lebih operasionalnya rencana
kegiatan-kegiatan usaha ini perlu dilakukan berdasar pemilihan alternatif
yang terbaik. Hal ini dilakukan berdasar opportunity cost dan skala
prioritas. Bagi proyek-proyek pembangunan identifikasinya didukung oleh
feasibility studies dan survei- survei pendahuluan.
20.20. 20 e. Tahap persetujuan rencana Proses pengambilan keputusan disini
mungkin bertingkat-tingkat, dari putusan bidang teknis kemudian
memasuki wilayah proses politik. Disini diusahakan pula penyelarasan
dengan perencanaan pembiayaan secara umum dari pada programprogram perencanaan yang akan dilakukan. 2. Penyususnan Program
Rencana Dalam tahap ini dilakukan perumusan yang lebih terperinci
mengenai tujuan atau sasaran dalam jangka waktu tertentu, suatu
perincian jadwal kegiatan, jumlah dan jadwal pembiayaan serta
penentuan lembaga atau kerja sama antar lembaga mana yang akan
melakukan program-program pembangunan. Seringkali tahap ini perlu

dibantu dengan penyususnan suatu flow-chart, operation plan atau


network plan. 3. Pelaksanaan rencana Dalam hal ini seringkali perlu
dibedakan antara tahap eksplorasi, tahap konstruksi dan tahap operasi.
Hal ini perlu dipertimbangkan karena sifat kegiatan usahanya berbeda.
Dalam tahap pelaksanaan operasi perlu dipertimbangkan kegiatankegiatan pemeliharaan. 4. Pengawasan atas Pelaksanaan Rencana a.
Mengusahakan supaya pelaksanaan rencana berjalan sesuai dengan
rencananya. b. Apabila terdapat penyimpanan maka perlu diketahui
seberapa jauh penyimpangan tersebut dan apa penyebabnya. c. Dilakukan
tindakan korektif terhadap penyimpangan-penyimpangan. 5. Evaluasi
Evaluasi ini membantu kegiatan pengawasan. Dalam hal ini dilakukan
suatu evaluasi atau tinjaun yang berjalan secara terus menerus, seringkali
disebut sebagai concurrent review. Evaluasi juga dilakukan sebagai
pendukung tahap penyusunan rencana, yaitu tentang situasi sebelum
rencana dimulai dan evaluasi tentang pelaksanaan rencana sebelumnya.
Dari hasil hasil evaluasi ini dapat dilakukan perbaikan terhadap
21.21. 21 perencanaan selanjutnya atau penyesuaian yang diperlukan dalam
pelaksanaan perencanaan itu sendiri.
22.22. 22 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Manfaat dari Perencanaan adalah
Diharapkan terdapat suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi
pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan
pembangunan. Dapat dilakukan suatu perkiraan terhadap hal-hal dalam
masa pelaksanaan yang akan dilalui. Perkiraan dilakukan mengenai
potensi dan prospek pengembangan, juga mengenai hambatan dan resiko
yang mungkin dihadapi. Memberi kesempatan untuk memilih berbagai
alternatif tentang cara yang terbaik atau kesempatan untuk memilih
kombinasi cara yang baik. Dapat dilakukan penyusunan skala prioritas,
memilih urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun
kegiatan usahanya .Akan ada suatu alat pengukur untuk mengadakan
suatu pengawasan dan evaluasi.Perkembangan ekonomi yang mantap
atau pertumbuhan ekonomi yang terus menerus dapat ditingkatkan.Dapat
dicapai stabilitas ekonomi. Didalam melakukan pembangunan,
Pemerintaah memerlukan perencanaan yang akurat serta diharapkan
dapat melakukan evaluasi terhadap pembangunan yang
dilakukannya.Seiring dengan semakin pesatnya pembangunan bidang
ekonomi, maka terjadi peningkatan permintaan data dan indikatorindikator yang menghendaki ketersediaan data sampai tingkat Kabupaten/
Kota.Data dan indikator-indikator pembangunan yang diperlukan adalah
yang sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.