Anda di halaman 1dari 2

Masih terdapat cukup banyak penduduk dunia yang belum memiliki fasilitas

sanitasi. Dimana, menurut data MDGs tahun 2012, 15% penduduk dunia atau sekitar 1,1
milyar orang tidak memiliki fasilitas sanitasi. Hal ini kemudian berpengaruh pada
kebiasaan buang air besar sembarangan yang masih dilakukan penduduk dunia.
Kebiasaan BABS tersebut dilakukan oleh sekitar 626 juta orang penduduk di India, 14
juta penduduk di China, dan 7 juta penduduk Brazil.
Kondisi seperti ini juga dialami oleh Indonesia. Menurut Laporan Pencapaian
Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia 2010, sampai tahun 2009, proporsi rumah
tangga di perkotaan yang memiliki akses sanitasi layak hanya sebesar 69,51% dengan
peningkatan sebanyak 15,87% dari tahun 1993. Sedangkan proporsi rumah tangga di
pedesaan yang memiliki akses sanitasi layak hanya sebesar 33,96% dengan peningkatan
sebanyak 22,86% dari tahun 1993. Dan target MDGs tahun 2015 untuk proporsi rumah
tangga dengan sanitasi layak di perkotaan dan pedesaan masing- masing sebesar 76,82%
dan 55,55%. Dengan peningkatan yang lamban ini masih banyak penduduk Indonesia
yang tidak dapat mengakses sanitasi dasar yang layak. Dimana menurut Indonesia
Sanitation Sector Development, di tahun 2006 saja masih ada sebanyak 47% masyarakat
Indonesia masih melakukan BAB sembarangan. Masalah sanitasi tersebut kemudian
memicu munculnya permasalahan kesehatan dan penyakit yang membunuh banyak jiwa
seperti diare.
Oleh karena fatalnya ancaman kesehatan yang muncul sebagai akibat dari
buruknya perilaku hidup masyarakat, maka diperlukan suatu bentuk penanganan
permasalahan yang tidak hanya ditujukan untuk memberantas kejadian penyakitnya saja,
akan tetapi mampu memperbaiki perilaku hidup masyarakat ke arah yang lebih baik.
Dimana kita ketahui, bahwa perilaku hidup tersebutlah yang menjadi akar dari
permasalahan yang muncul di permukaan.
Sebagai upaya akselerasi perubahan perilaku masyarakat untuk menjadi lebih sehat maka
perlu dikembangkan sebuah strategi yang dapat dikelola oleh masyarakat secara mandiri.
Strategi tersebut diimplementasikan melalui metode pendekatan spesifik agar proses
perubahan perilaku bisa berjalan secara cepat dan luas. Metode pendekatan spesifik yang
dimaksud adalah Community Led Total Sanitation (CLTS). CLTS diterapkan dengan
melibatkan kegiatan fasilitasi atas suatu proses menyemangati dan memberdayakan
masyarakat setempat. Dengan adanya fasilitasi ini diharapkan masyarakat berhenti
melakukan BABS, mau membangun dan menggunakan jamban. Metode CLTS ini
diterapkan untuk pertama kali di tahun 1999 oleh Kamal Kar yang bekerja sama dengan
Pusat Sumber Daya Pendidikan Desa dan didukung oleh Water Aid, di sebuah komunitas
kecil di district Rajshahi di Bangladesh (Kar, 2004). CLTS memiliki prinsip tidak
memberikan subsidi agar tidak menciptakan sikap pengharapan eksternal dan
ketergantungan, tidak menunjuk pada model jamban tertentu namun lebih mendorong
inisiatif dan kapasitas masyarakat, tidak menggurui, tidak memaksa, masyarakat sebagai
pemimpin, totalitas, dan hindari formalitas. Sejak dilaksanakan di tahun 1999 di
Bangladesh, metode pendekatan ini kemudian menyebar ke berbagai negara Afrika dan
Asia, termasuk Indonesia.

Indonesia melakukan uji coba pendekatan CLTS pertama kali pada tahun 2005 di
6 kabupaten (Sumbawa, Lumajang, Bogor, Muara Enim, Muara Bungo, dan Sambas).
Hasil evaluasi yang dilakukan di pertengahan tahun 2006 menunjukkan bahwa
masyarakat Bogor, Muara Enim, Muara Bungo, dan Sambas telah bebas dari kebiasaan
buang air besar di tempat terbuka (Anonim, 2011a). Karena keberhasilan tersebut maka,
WSP-EAP mengadopsi metode CLTS dalam proyek TSSM/SToPS yang dilaksanakan di
Jawa Timur. Metode CLTS yang mulai diterapkan di Jawa Timur pada tahun 2007 ini
terlaksana dengan sukses. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan akses jamban sehat
secara swadaya oleh 408.754 KK sejak tahun 2008 sampai Maret 2012 (Saputera et al,
2012).
Seiring dengan pelaksanaan TSSM di Jawa Timur, ditetapkanlah STBM sebagai strategi
nasional pada tahun 2008. Kebijakan nasional tersebut ditetapkan dalam Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008. Dengan ditetapkannya kebijakan
nasional tersebut maka, pembangunan sanitasi di Indonesia harus sinergi dengan
pendekatan dan prinsip yang ada dalam STBM. Program STBM di Indonesia dikelola
pemerintah pusat hingga tingkat pemerintah daerah, selain bekerja sama dengan LSM,
lembaga pendidikan, dan sektor swasta.
Selain Jawa Timur, pelaksanaan program STBM dengan menggunakan metode
pendekatan CLTS juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik di NTB (Waji,
2013). Dimana pelaksanaannya sangat didukung oleh pemerintah provinsi, dengan
ditetapkannya program unggulan provinsi yang diberi nama BASNO. Peningkatan akses
sanitasi yang dialami oleh NTB, dibuktikan dengan bertambahnya akses JSP sebanyak
342.776 KK dan JSSP 101.575 KK setelah dilakukannya pemicuan di tahun 2012
(Anonim, 2011c).
Pelaksana program STBM juga perlu memiliki ketrampilan dalam melaksanakan
program STBM ini, khususnya memicu masyarakat dengan metode CLTS dan memantau
perubahan perilaku yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu diadakanlah pelatihanpelatihan untuk meningkatkan ketrampilan sanitarian puskesmas. Sampai saat ini
sanitarian puskesmas di Bali yang sudah dilatih terdiri atas 80 orang sanitarian dari total
115 sanitarian yang ada di 9 Kabupaten/Kota di Bali. Dengan dilatihnya para sanitarian
tersebut, maka diharapkan target capaian pelaksanaan kegiatan STBM yang dapat
dilakukan oleh para sanitarian akan tercapai. Namun pada kenyataannya capaian
pelaksanaan pemicuan hingga bulan Mei 2013 hanya sebesar 94 desa (Anonim, 2011d)
dari 225 desa yang ditargetkan (Anonim, 2009). Keadaan ini tentu dapat dipengaruhi oleh
banyak faktor. Oleh karena itu, penulis bermaksud untuk mengetahui faktor-faktor apa
saja yang mempengaruhi kinerja sanitarian dalam melaksanakan STBM. Dengan
mengetahui faktor-faktor tersebut, maka dapat dilihat pendukung dan penghambat
sanitarian dalam melaksanakan tugasnya. Sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi
instansi terkait, agar dapat menunjang kebutuhan sanitarian dalam melaksanakan tugas.