Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

KUNJUNGAN LAPANG EKOLOGI TANAMAN LANJUT I


SISTEM PERTANIAN LAHAN PASIR PANTAI SAMAS DI DESA
SRIGADING, KECAMATAN SANDEN, KABUPATEN BANTUL,
YOGYAKARTA

Oleh:
Heny Alpandari
NIM : 15/392187/PPN/04038

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Ir. Budiastuti Kurniasih, M.Sc.
Dr. Ir. Sriyanto Waluyo, M.Sc.
Prof. Dr. Ir. Edhi Martono, M.Sc.

PROGRAM STUDI PASCA SARJANA AGRONOMI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
I.

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Peningkatan jumlah penduduk meningkat setiap tahunnya, dibuktikan
dengan adanya peningkatan permintaan pangan yang kian meningkat, bahkan
Indonesia harus impor demi mencukupi kebutuhan pangan negara. Peningkatan
jumlah penduduk berbanding terbalik dengan luas lahan pertanian yang setiap
tahunnya kian menyempit. Alih fungsi lahan terus terjadi karena dampak dari
peningkatan jumlah penduduk, lahan sawah berganti menjadi lahan pemukiman,
sarana dan prasarana umum. Akibatnya makin sedikit lahan produksi pangan.
Menyikapi masalah keterbatasan lahan, saat ini banyak pihak ataupun
pelaku dibidang pertanian melirik lahan - lahan marginal yang dapat diupayakan
untuk dijadikan lahan pertanian. Menurut Strijker (2005) menyebutkan bahwa
lahan marginal dicirikan oleh penggunaan lahan yang mempunyai kelayakan
ekonomi yang kurang menguntungkan. Namun demikian dengan penerapan
teknologi dan sistem pengelolaan yang tepat guna, potensi lahan tersebut dapat
ditingkatkan menjadi lebih produktif. Potensi yang sangat rendah pada lahan
marginal ini disebabkan oleh sifat tanah, lingkungan fisik, atau kombinasi dari
keduanya yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman (Tufaila et al ,
2014).
Di Indonesia lahan marginal dijumpai baik pada lahan basah maupun lahan
kering. Lahan basah berupa lahan gambut, lahan sulfat masam dan rawa pasang
surut seluas 24 juta ha, sementara lahan kering berupa tanah ultisol 47,5 juta ha
dan oxisol 18 juta ha (Suprapto, 2002). Selain lahan marginal yang tersebut diatas,
lahan pasir pantai juga merupakan salah satu lahan marginal yang cukup luas.
Prospek lahan marginal ini cukup besar untuk pengembangan pertanian, sehingga
diperlukan inovasi teknologi untuk memperbaiki produktivitasnya.
Lahan pasir pantai (pantai Samas, Bantul) saat ini sudah mulai dikelola
oleh masyarakat sekitar, hal inilah yang menjadi latar belakang dilakukannya
observasi sistem pertanian di lahan pasir pantai agar kami lebih mengerti
bagaimana dan seperti apa sistem yang digunakan oleh petani sekitar. Lebih dari
itu, potensi yang ada pada lahan pasir pantai mendorong para peneliti untuk
memberikan inovasi baru perbaikan kualitas tanah yang mengarah pada perbaikan
agroekosistem. Hal ini menjadi salah satu alasan pula dilakukannya observasi

dilahan pasir pantai samas untuk mengetahui sejauh mana perubahan perubahan
agroekosistem yang terjadi sejak lahan dibuka hingga sekarang. Agroekosistem
menjadi hal penting untuk diketahui karena agroekosistem merupakan bentuk
ekosistem binaan manusia yang ditujukan untuk memperoleh produksi pertanian
dengan kualitas dan kuantitas tertentu serta saling mempengaruhi dalam
membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup
(Untung, 2006; Tandjung, 2006).
I.2. Tujuan
Kunjungan lapangan mata kuliah Ekologi Tanaman Lanjut I yang
dilaksanakan di lahan lahan pasir pantai Samas, Bantul bertujuan untuk :
1. Menambah wawasan mengenai tata kelola sistem pertanian lahan pasir pantai
beserta kelebihan dan kekurangannya
2. Mengembangkan kemampuan analitik mengenai konsep agroekosistem dalam
system pertanian lahan pasir pantai

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Lahan Pasir Pantai.


Lahan pasir pantai merupakan lahan marjinal yang memiliki produktivitas
rendah karena mengandung lempung, debu, dan zat hara yang sangat minim.
Akibatnya, tanah pasir mudah mengalirkan air, sekitar 150 cm per jam.
Sebaliknya, kemampuan tanah pasir menyimpan air sangat rendah, 1,6-3% dari
total air yang tersedia. Angin di kawasan pantai selatan itu sangat tinggi, sekitar
50 km per jam. Angin dengan kecepatan itu mudah mencerabut akar dan
merobohkan tanaman. Angin yang kencang di pantai bisa membawa partikelpartikel garam yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Suhu di kawasan
pantai siang hari sangat panas, hal ini menyebabkan proses kehilangan air tanah
akibat proses penguapan sangat tinggi (Siradz dan Kabirun, 2007).
Wilayah selatan DI Yogyakarta merupakan bentangan pantai sepanjang lebih
dari 70 km, meliputi wilayah Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul. Lahan pasir
pantai merupakan lahan marginal dan belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Imanudin, 2013).
Lahan pantai dicirikan oleh bahan penyusun tanah yang dominan (> 80 %)
terdiri atas pasir, sehingga ketersediaan unsur hara tanaman sangat rendah
terutama hara P. Tanah pasir sangat porous, sehingga penggunaan pupuk kimia
akan sangat mudah tercuci dan hilang dari zona perakaran. Karakteristik lainnya
adalah kapasitas pertukaran kation dan taraf kehidupan biota tanah sangat rendah,
temperatur permukaan dan hembusan angin tinggi yang berakibat evapotranspirasi
sangat tinggi. Ada sekitar 50 tanaman indigenous yang tumbuh di lahan marginal
pantai selatan, salah satu diantaranya adalah pandan (Pandanus sp.). Terdapat juga
beberapa tanaman sayuran (cabe, mentimun) dan buah-buahan seperti melon
(Siradz dan Kabirun, 2007).
Mile (2007) menyebutkan berbagai spesies tanaman yang ada di pantai
adalah pandan laut (Populneatectorius), keben (Barringtonia asiatica), ketapang
(Terminalia catapa), waru laut (Hibiscust iliacerus), borogondolo (Heramdia
peltata), nyamplung (Calophyllum inophylum) dan cemara laut (Casuarina
equisetifolia).

Lahan pasir pantai yang terdapat di daerah Samas merupakan gumuk-gumuk


pasir. Karakteristik lahan di gumuk pasir wilayah ini adalah tanah bertekstur pasir,
struktur berbutir tunggal, daya simpan lengasnya rendah, status kesuburannya
rendah, evaporasi tinggi dan tiupan angin laut kencang (Partoyo,2005). Menurut
Sudihardjo (2000), berdasarkan kriteria CSR/FAO 1983 kesesuaian aktual lahan
pasir Pantai Selatan DIY termasuk kelas Tidak Sesuai atau Sesuai Marginal untuk
komoditas tanaman pangan dan sayuran.
Menurut Partoyo (2005), lahan pasir pantai yang terdapat di daerah Samas
merupakan gumuk-gumuk pasir. Karakteristik lahan di wilayah tersebut adalah
tanah bertekstur pasir, struktur berbutir tunggal, daya simpan lengasnya rendah,
status kesuburannya rendah, evaporasi tinggi dan tiupan angin laut kencang dan
sudah dimanfaatkan untuk pertanian telah dimulai sejak tahun 1986 dan terus
mengalami perluasan.

III.

Metode Praktikum

Praktikum ekologi tanaman lanjut 1 dilaksanakan di lahan pasir pantai desa


Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Waktu pelaksanaan
praktikum pada hari sabtu, 12 November 2016.
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ekologi tanaman lanjut 1
ini adalah lembar kuisioner (terlampir), buku, bolpoin, kamera digital, dan alat
perekam suara.
Data pengamatan yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Data
primer meliputi data hasil wawancara langsung dengan petani. Data sekunder
meliputi data studi literatur.

IV.

PEMBAHASAN

IV.1. Sejarah dan Kondisi Lahan Pantai Samas


Sejarah awal sebelum lahan pasir pantai Samas dikembangkan menjadi
sebuah kawasan agroekosistem komplek, kawasan tersebut layaknya gurun pasir.
Jika hujan datang, lahan pasir berubah menjadi savana yang akrab dengan aneka
binatang liar, seperti tikus, musang, dan ular. Saat ini, tampak petak-petak ladang
bawang merah, lombok, sayur-mayur, dan aneka hortikultura lainnya, tumbuh
subur dan memberi harapan baru bagi dunia pertanian, sekaligus memberikan
kepastian ekonomi bagi para petani penggarap.

Gambar 1. Gumuk pasir pantai samas. Sumber : Iman,2013

Penduduk Pantai Samas Bantul Yogyakarta kini mempraktikkan bertani di


atas lahan pasir seluas 117 Ha khususnya di Dusun Tegal rejo, Desa Srigading,
Kecamatan Sanden, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Para petani bersamasama dalam kelompok tani merubah lahan pertanian dari lahan yang tandus dan
tidak dapat digunakan untuk pertanian menjadi lahan dengan hamparan tanaman
yang menjanjikan.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan di lahan pasir pantai samas
dalam hal perbaikan kualitas lahan, yaitu dengan menggunakan bahan organik
yang berasal dari kotoran ternak maupun sisa tanaman yang dicampur dengan
tanah lempung. Teknik tersebut kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh petani
setempat, termasuk oleh petani bawang merah.
Petani bawang merah melakukan pengolahan tanah dengan menambahkan
tanah lempung dan pupuk kandang masing-masing sekitar 0,75-1,0 m 3 dan

tambahan dolomit untuk ditebarkan di lahan seluas 100 m 2 pada setiap penyiapan
lahan menjelang tanam bawang merah. Mengingat lahan pasir pantai memiliki
sifat yang porus (kemampuan menyimpan air yang rendah) maka pemberian
bahan organik dan lempung diharapkan dapat memperbaiki struktur lahan pasir
sehingga dapat menyimpan air sebagai kebutuhan tanaman. Sedangkan pemberian
dolomit untuk menetralkan pH akibat dari pemberian bahan organik yang
terkadang belum matang sempurna. Menurut bapak Subandi (nara sumber), ratarata anggota kelompok tani menerapkan penambahan tanah lempung sebanyak 40
ton/ha dan pupuk kandang 30 ton/ha setiap 3 tahun, karena dirasa dalam 3 tahun,
bahan organik dam lempung tersebut sudah mulai terdekomposisi. Pemberian
pupuk organik tersebut diharapkan dapat menambah kesuburan tanaman.
Lahan pasir pantai didominasi oleh pasir dengan kandungan lebih dari
70%, porositas rendah atau kurang dari 40%, sebagian besar ruang pori berukuran
besar sehingga aerasinya baik, daya hantar cepat, tetapi kemampuan menyimpan
air dan zat hara rendah. Dari segi kimia, tanah pasir cukup mengandung unsur
fospor dan kalium yang belum siap diserap tanaman, tetapi lahan pasir
kekurangan unsur nitrogen (Sunardi dan Sarjono, 2007). Saparso (2008) juga
menambahkan bahwa tanah pasiran ini memiliki KPK rendah yaitu 5,640
me/100g, N tersedia sangat rendah (26,786 ppm), C organik rendah (0,389 %), K,
Na, dan Ca sangat rendah. Tanah ini memilki lengas kapasitas lapangan dan titik
layu permanen berturut-turut 10,17 % dan 1,92 %.
Partoyo (2005) menguji potensi kesuburan lahan pasir pantai, menunjukan
bahwa potensi kesuburan fisik lahan pasir pantai Samas cukup rendah, kadar air
(0,32%), fraksi pasir (93%), fraksi debu (6,10%), fraksi liat (0,54%), Berat isi
(2,97 g/cm3 ), Berat volume (1,93 g/cm3 ), porositas tanah total (35,07%). Potensi
kimianya juga rendah, hal tersebut ditunjukan dari hasil pengukuran kadar Corganik (0,29%) dan N-total (0,043%), P-tersedia (4,84 ppm), K-tersedia (2,23
ppm), N-tersedia (0,020%) dan pH H2O (7,01).
Meski lahan pasir pantai dirasa memiliki potensi kesuburan yang cukup
rendah, namun saat ini sudah banyak vegetasi yang terbentuk, diantaranya cabai
bawang merah, terong dan caisin. Selain itu ada juga tanaman pangan seperti padi
dan jagung yang juga dibudidayakan di daerah pantai samas. Tanaman cabai

ditanam saat memasuki Musim Tanam 2 (MT 2), sementara Musim Tanam 1 yaitu
awal Januari, komoditas yang di tanam adalah Bawang Merah. Daerah Samas
sendiri juga dikenal dengan central Bawang Merah.
Selain tanaman budidaya, ada pula tanaman lain yang ditanam sebagai
tanaman pemecah angin (wind breaker) diantaranya adalah Cemara Laut, Akasia,
Sorgum, Ubi kayu, Gamal dan tanaman Jagung yang dapat meminimalisir
kerusakan tiupan angin pada tanaman utama. Selain sebagai pemecah angin atau
border, tanaman tersebut berfungsi juga dalam menjaga kondisi iklim mikro pada
pertanaman.
A

Gambar 2. A) Pohon Cemara sebagai wind breaker; B) tanaman yang dibudidayakan.


Sumber : Dokumentasi Pribadi.

IV.2. Kondisi Geografis Lahan Pasir Pantai Samas


Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Bandi (nara sumber),
menjelaskan bahwasannya Lahan Pasir Pantai Samas merupakan bagian dari kaki
merapi paling selatan dan kawasan merapi paling bawah. Karena letak geografis
yang masih dalam kawasan merapi yang berdampak pada terbentuknya suatu
cekungan di dalam tanah pada kawasan lahan pantai ini. Hal tersebut yang
membuat air laut terjerap dan mengakibatkan terbentuknya air tawar pada
kedalaman 4 5 meter sudah dapat di temukan.
Menurut Syukur (2005) lahan pasir pantai memiliki kemampuan
menyediakan udara yang berlebihan, sehingga mempercepat pengeringan dan
oksidasi bahan organik. Dengan dibuka nya lahan pasir pantai, menyebabkan suhu
permukaan tanah mencapai 55-600C selama kurang lebih 4-6 bulan dalam
setahun. Struktur lepas pada tanah ini menyebabkan rentan terhadap erosi angin
maupun air. Permukaan lahan pasir pantai sering berubah mengikuti arah angin
kencang (13-15 m/detik). Kondisi tersebut di atas menunjukkan masih banyaknya

faktor pembatas pertumbuhan sehingga sangat kurang menguntungkan bagi


pertumbuhan tanaman. Oleh karena perlu dilakukan upaya modifikasi lahan dan
lingkungan mikroklimat pertanaman guna mengubah kondisi lahan mendekati
optimal bagi pertumbuhan tanaman, khususnya komoditas hortikultura.
Beberapa penelitian telah dilakukan pada lahan pasir pantai ini dengan
menambahkan fasilitas pemberian air dengan beberapa sumber air (embung dan
sumur renteng), juga dengan penambahan pupuk kandang terhadap beberapa
komoditas tanaman. Demikian pula dicoba memanfaatkan plastik sebagai
lapisan kedap air. Hasil penelitian menunjukkan adanya pendapatan yang
menguntungkan dari beberapa komoditas lokal misalnya padi, kacang tanah,
jagung, ubikayu, juga sawi hijau (Mulyanto et al., 2001). Saat ini, Seiring
berjalannya waktu dan semakin luasnya lahan pertanian yang di kembangkan,
pengairan irigasi renteng dinilai tidak efisien. Sehingga dengan bantuan
pemerintah dan dana swadaya masyarakat sekitar, mulai di buat sumur-sumur bor
yang memiliki kedalaman 4 5 meter dengan sistem irigasi shower.
Dalam pengelolaan lahan pantai selain harus menggunakan berbagai
teknologi untuk memanipulasi lahan, kita juga harus memperhatikan pula
kelestarian lingkungan di lahan pantai, hal ini dilakukan terutama terhadap sumber
daya air tawar yang sangat penting bagi pertanian lahan pantai. Jangan sampai
menggunakan air tanah secara berlebihan karena dapat menyebabkan intrusi air
laut ke daratan, untuk itu manajemen untuk mempertahankan kelengasan sangat
penting terutama dalah hal untuk mengawetkan keberadaan sumber air tawar di
pantai. Selain itu dalam pelaksanaan pertanian lahan pantai harus pula
memperhatikan kehidupan sosial para warganya, jangan sampai cara-cara
budidaya yang ada bertentangan dengan adat istiadat warga sekitarnya (Putri,
2011).
IV.3. Sistem Dan Teknik Budidaya Di Lahan Pasir Pantai Samas
Pada lahan pasir pantai, sistem tanam yang digunakan hanya disepakati oleh
para petani melalui musyawarah pada kelompok tani pada daerah tersebut. Hasil
kesepakatan memutuskan bahwa sistem tanam yang digunakan adalah tumpang
sari. Pertanian lahan pasir pantai di daerah Samas ini menanam 2 komoditas
utama setiap tahunnya yaitu Bawang merah dan cabai. Tanaman cabai ditanam di

10

akhir tahun yaitu mulai bulan September Desember. Setelah itu selama satu
bulan dilakukan pembersihan lahan untuk selanjut ditanami tanaman Bawang
merah pada awal bulan Januari-Agustus. Selebihnya petani menanam sayur
sayuran secara tumpang sari.

Gambar 3. Tumpang sari Jagung Cabai. Sumber : Dokumentasi Pribadi

Pengolahan tanah pada pertanian lahan pasir pantai menggunakan traktor


(untuk lahan yang luas) sedangkan pada lahan yang sempit dilakukan pengolahan
tanah secara konvensional (menggunakan cangkul). Pada saat pengolahan tanah
para petani biasanya menambahkan bahan-bahan pembenah tanah, seperti tanah
liat (lempung) dan pupuk kandang. Untuk selanjutnya untuk setiap 2 musim
tanam biasanya petani menambahkan dolomite untuk mencegah tanah menjadi
masam dan ditambah juga dengan bahan organik. Bahan organik yang dapat
diberikan di

lahan

pasir pantai dapat

berupa pupuk kandang

(sapi,

kambing/domba dan unggas), kompos dan arang sekam dan sebagainya.


Pemberian bahan organik dapat dilakukan dengan cara mencampur bahan
organik ke dalam tanah atau pemberian bahan organik di permukaan tanah di
sekitar tanaman. Bahan organik dapat diberikan ke lahan dalam kondisi sudah
matang atau mentah. Pemberian bahan organik dalam kondisi mentah bertujuan
untuk mengurangi pelindian, sehingga dekomposisi bahan organik mentah akan
terjadi sinkronisasi pelepasan hara dengan kebutuhan hara bagi tanaman.
Kebutuhan bahan organik pada lahan pasir lebih banyak dari lahan
konvensional yaitu kebutuhan pupuk kandang untuk lahan pasir pantai yaitu
sekitar 20 - 40 ton/Ha untuk tanaman padi, jagung dan bawang merah. Sedangkan
untuk tanaman cabai dan holtikultura lainnya cukup dengan dosis 10 ton/Ha
(Komunikasi pribadi, 2016). Penggunaan pupuk kandang dapat untuk

11

meningkatkan porositas, aerasi, komposisi mikroorganisme tanah, meningkatkan


daya ikat tanah terhadap air, mencegah lapisan kering pada tanah, dan menghemat
pemakaian pupuk kimia (Murbandono, 2002 cit. Siahaan, 2012). Setelah
pengolahan tanah biasanya petani memasang mulsa pada lahan pasir pantai, baik
pada saat menanam bawang maupun menanam cabai merah. Penggunaan mulsa
pada permukaan tanah bertujuan untuk mengurangi kehilangan air dari tanah.
Mulsa permukaan tanah dapat menggunakan lembaran plastik, jerami padi
atau sisa-sisa tanaman lainnya. Pemasangan mulsa plastik di lahan pasir pantai
berbeda dari pemasangan mulsa di lahan sawah. Pemasangan mulsa di lahan pasir
dengan bentuk cekung ditengah. Bentuk cekung bertujuan agar air hujan atau
penyiraman masuk ke dalam tanah. Penggunaan mulsa ini sangat penting dilahan
pantai karena dapat menghemat lengas tanah sehngga kebutuhan lengas untuk
tanaman terutama pada musim kemarau diharapkan dapat tercukupi. Dari hasil
penelitian pemberian mulsa jerami padi sebanyak 20-30 ton dapat meningkatkan
hasil pada tanaman jagung di lahan pantai, selain itu pemberian mulsa berupa
pangkasan tanaman ternyata juga lebih efektif sebagai mulsa dibadingkan dengan
pemberian pupuk hijau (Putri, 2011).

Gambar 4. Penggunaan Mulsa. Sumber : dokumentasi pribadi.

Saat ini, petani telah mnegembangkan sistem irigasi shower. Sistem irigasi
ini adalah menggunakan mesin pompa air sebagai sumber tenaga untuk memompa
air dari sumur yang selanjutnya dialiri ke setiap baris tanaman menggunakan
selang plastik yang dilubangi. Air yang keluar dari setiap selang plastik dalam
barisan tanaman akan langsung diserap oleh tanaman. Hal ini membuat
penyiraman menjadi lebih efektif dan efisien. Sumur yang dibuat hanya
berkedalaman 4-5 meter saja, jika terlalu dalam akan beresiko rusak karena
terbawa arus sungai bawah tanah.

12

Gambar 5. Upaya pengairan lahan. Sumber : Iman, 2013

Faktor iklim di daerah pantai juga berpengaruh besar terhadap


keberhasilan pengelolaan tanaman. Keberhasilan produksi tanaman mensyaratkan
sumber daya iklim seperti penyinaran, matahari, CO2, dan air secara efisien.
Pentingnya pengelolaan air bagi terhadap ketersediaan N dalam tanah, pada
kondisi kelebihan atau kekurangan air. Kelebihan air dapat membatasi hasil
tanaman, demikian juga responnya terhadap N akan terbatasi. Tingginya intensitas
sinar matahari yang sampai ke permukaan tanah menyebabkan tingginya suhu
udara dan tanah, sehingga memacu laju evapotranspirasi semakin besar.
Adanya angin dengan kecepatan tinggi dan membawa kadar garam tinggi
secara terus menerus akan merusak maupun mematikan tanaman baik langsung
maupun tidak langsung. Kendala iklim yang dihadapi pada pertanian lahan pasir
pantai dapat di minimalisir dengan menggunakan teknik budidaya yang sudah
dijelaskan diatas seperti penambahan pembenah tanah, pemberian bahan organik,
sistem pengairan yang efektif serta pemasangan wind breaker.
IV.4. Evaluasi ekositem lahan pasir pantai dibandingkan dengan lahan
lainnya.
4.4.1. Produktivitas
Komponen produktivitas suatu ekosistem dapat dilihat dari banyaknya
produksi per unit dari lahan (luas lahan). Pada ekosistem lahan pasir pantai
Samas, terjadi kesulitan dalam menentukan banyaknya produksi tanaman dilahan
tersebut secara detail karena sistem panen pada lahan pasir pantai ini
menggunakan sistem tebas atau borongan, dimana pembelian hasil panen tidak
dihitung secara rinci per satuan hasil panen dalam luasan lahan namun dengan
cara menaksir harga jual panenan dengan hanya melihat kondisi lahan saja.

13

Menurut Subandi (Komunikasi pribadi, 2016) lahannya yang ditanami Bawang


merah dan cabai dengan luasan sekitar 10.000 m 2 sudah dihargai oleh pembeli
seharga 50 juta, nilai tersebut baru dihitung dari satu musim tanam pada saat itu.
Petani lahan pasir pantai Samas, mengadopsi sistem budidaya tumpangsari
pada lahan pertaniannya. Hal ini bertujuan agar penghasilan mereka mempunyai
nilai tambah disamping komoditas utama mereka. Komoditas utama petani di
lahan pasir pantai adalah bawang merah dan cabai. Bawang merah ditanam 2 kali
dalam setahun yaitu pada MT 1 (januari-februari) dan MT 2 (Juli-Agustus). Cabai
ditumpangsarikan dengan bawang merah saat tanaman bawang merah sudah
berumur 1 bulan. Selain cabai sebagai tanaman tumpangsari disela-sela tanaman
bawang, petani juga menanam berbagai macam jenis tanaman sayur dan jagung.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa lahan pasir pantai
dengan segala kendala dan hambatannya memiliki nilai produktivitas yang cukup
tinggi dan mampu bersaing dengan lahan lainnya.
4.4.2. Stabilitas
Stabilitas dapat diartikan sebagai pola produktifitas yang tetap atau sedikit
dalam mengalami perubahan, sehingga mudah dalam prediksi perkembangan dan
hasil ekosistem. Produktivitas lahan pasir pantai selama ini terus meningkat,
bahkan banyak konsumen/distributor yang terus meningkatkan permintaan hasil
dari lahan pasir pantai karena hasilnya yang berkualitas. Hasil produksi komoditas
dilahan pasir pantai relatif stabil, tetapi apabila kondisi cuaca tidak mendukung
hasil tanaman mengalami penurunan meskipun tidak terlalu banyak.
Kestabilan lahan pantai samas ini terbukti karena mampu bertahan dari
tahun 1981 hingga sekarang (Subandi,2016). Akan tetapi jika perlakuan dari
petani dihilangkan maka stabilitasnnya akan terganggu karena ekosistem ini
bukanlan ekosistem alami melainkan ekosistem buatan.
4.4.3. Sustainabilitas
Sustainabilitas (keberanjutan) adalah kemampuan suatu ekosistem untuk
berproduksi terus-menerus walaupun mengalami banyak perubahan. Semakin
banyak komponen yang menyusun suatu ekosistem maka ekositem itu akan
mudah juga dalam menghadapi sebuah perubahan sehingga sustainabilitasnya
juga semakin tinggi. Keberlanjutan lahan pasir pantai di daerah Samas ini

14

diperkirakan akan terus berlanjut karena saat ini mulai banyak penelitian yang
mencoba mengembangkan berbagai macam komoditas yang tidak hanya
komoditas sayuran dan buah-buahan dataran rendah. Pengembangan beberapa
komoditas pangan lainnya seperti padi dan kedelai di lahan pasir pantai tentunya
akan memperpanjang keberlanjutan dari budidaya di lahan ini.
Namun apabila tidak memperhatikan kelestarian lingkungan pada sekitar
lahan ini seperti menjaga ketersediaan air tanah, menjaga keberagaman
biodiversitas dan kelestarian lingkungan lainnyaa maka ekosistem lahan pasir
pantai secara lambat laun akan rusak. Dengan menjaga kelestarian lingkungan di
sekitar lahan pasir pantai, tidak menutup kemungkinan selama beberapa puluh
tahun ke depan lahan pasir pantai akan menjadi satu ekosistem yang mampu
menjadi penopang produksi tanaman nasional dan juga dapat dikembangkan
menjadi agrowisata.
Selain itu, kekompakan dari kelompok tani di desa Srigading dalam
menentukan waktu tanam, komoditas yang ditanam, penentuan harga hasil
pertanian menjadi bekal utama untuk manjadikan keberlanjutan pertanian di lahan
pasir pantai Samas. Selain itu dalam budidaya bawang merah, para petani
mengadopsi sistem 80% hasil dijual dan 20% hasil sebagai benih untuk musim
tanam berikutnya.

15

V.

KESIMPULAN

1. Petani telah berusaha mengoptimalkan teknik dan sistem budidaya di lahan


pasir pantai sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan. Serta interaksi
antar komponen ekosistem saling menguntungkan antara biotik dengan
abiotik meskipun memiliki berbagai kendala namun manusia sebagai penentu
atau aktor dalam ekosistem ini dapat mengubah kendala tersebut menjadi hal
yang mendatangkan keuntungan.
2. Konsep agroekosistem pada sistem pertanian lahan pasir pantai Samas
memiliki hasil evaluasi ekosistem yang baik ditinjau dari produktivitas,
stabilitas, dan sustainabilitas. Namun ada hal lain yang juga penting untuk
diperhatikan yaitu menjaga kelestarian lingkungan sehingga produktivitas,
stabilitas, dan sustainabilitas tetap terjaga.
3. Petani telah mempu mengolah lahan pasir pantai dengan menambahkan
lempung, bahan organik dan dolomit sebagai pembenah struktur tanah
pasiran.
4. Sistem pengairan menggunakan irigasi shower merupakan salah satu inovasi
yang baik, hal itu menandakan bahwa petani sangat welcome dengan inovasi
baru yang ditawarkan. Jika sebelumnya menggunakan sumur renteng dirasa
kurang effesien, saat ini irigasi shower telah membantu petani lebih effisien
waktu dan tenaga.

16

DAFTAR PUSTAKA

Imanudin. 2013. Pemanfaatan lahan pasir sebagai lahan pertanian.


http://imanumy.blogspot.co.id/2013/04/pemanfaatan-lahan-pasir-sebagailahan.html. Diakses pada tanggal 17 November 2016.
Mile, M.Y., 2007. Pengembangan species tanaman pantai untuk rehabilitasi dan
perlindungan kawasan pantai, Info teknis Balai Besar Penelitian
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.
Mulyanto, D., S. Purwanti, Sukirno, B. Djadmo, Suhatmini, dan Mulyadi, 2001.
Design Pengembangan Sayuran Lahan Pasir Pantai. Laporan Kerjasama
Fakultas Pertanian UGM dengan Dinas Pertanian Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta.
Partoyo. 2005. Analisis Indeks Kualitas Tanah Pertanian Di Lahan Pasir Pantai
Samas Yogyakarta. Jurnal Ilmu Pertanian 12 (2) : 140-151.
Putri, F. 2011. Bertani di Lahan Pasir Pantai. BBPP Lembang.
Saparso. 2008. Ekofisiologi Tanaman Kubis Bawah Naungan dan Pemberian
Bahan Pembenah Tanah di Lahan Pasir Pantai. Disertasi-S3 Sekolah Pasca
Sarjana UGM, Yogyakarta. 277 hal.
Siahaan, R.M.H. 2012. Pengaruh Takaran Kompos Sampah Pasar terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Hitam (Glycine max(L) Merill). Skripsi.
Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada.
Siradz, S. A., & Kabirun, S. 2007. Pengembangan lahan marginal pesisir pantai
dengan bioteknologi masukan rendah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan,
7(2), 83-92.
Strijke, D., 2005. Marginal lands in Europe - causes of decline. Basic and Applied
Ecology 6: 99-106.
Sudihardjo, AM. 2000. Teknologi Perbaikan Sifat Tanah Subordo Psaments dalam
Upaya Rekayasa Budidaya Tanaman Sayuran di Lahan Beting Pasir.
Prosiding Seminar Teknologi Pertanian untuk Mendukung Agribisnis dalam
Pengembangan Ekonomi Wilayah dan Ketahanan Pangan. Yogyakarta.
Suprapto, A., 2002. Land and water resources development in Indonesia. In FAO :
Investment in Land and Water. Proceedings of the Regional Consultation
.

17

Syukur, A. 2005. Pengaruh Pemberian Bahan Organik Terhadap Sifat-Sifat Tanah


dan Pertumbuhan Caisin di Tanah Pasir Pantai. J. Ilmu Tanah dan
Lingkungan 5 (1) : 30-38.
Tanjdung, S.D. 2003. Ilmu Lingkungan. Yogyakarta: Laboratorium Ekologi
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada.
Tufaila, M., Yusrina dan S. Alam, 2014a. Pengaruh pupuk bokasi kotoran sapi
terhadap pertumbuhan dan produksi padi sawah pada ultisol Puosu Jaya
kecamatan Konda, Konawe Selatan. Agroteknos 4(1):18-25.
Untung, K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Edisi ke dua. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.

18

Lampiran 1. KUESIONER

KUISIONER
PRAKTIKUM EKOLOGI LANJUTAN
KUNJUNGAN LAPANGAN
TEMPAT
TANGGAL

: .........................................
: .........................................

A. Identitas Responden
Nama
Alamat
Dusun
Desa
Kecamatan
Kabupaten
Umur/tanggal lahir
Jenis Kelamin
Pekerjaan
Pendidikan
Pengalaman usahatani
Kepemilikan Lahan

: ..
: ..
: RT/RW:/...
: ..
: ..
: ..
: .Tahun:..
: a. Laki-laki
b. Perempuan
: a. Utama:.......... b. Sambilan:
: a. SD b. SLTP c. SLTA d. D1D3 e. S1/Sederajat
: .tahun
: a. Pribadi b. Sewa c. Garap/bagi hasil d.
Lembaga/pemerintah

B. Variabel input
1. Komoditas yang ditanam

19

a. Pangan

: ...

b. Holtikultura

: ...

c. Obat-obatan dan rempah

: ...

2. Lahan
a. Lahan basah

: ...

b. Lahan kering

: ...

c. Jenis tanah

: ...

3. Luas lahan yang dimiliki/sewa

: ...

ha

4. Geografis
a. Letak geografis

: ...

b. Topografi

: ...

c. Ketinggian tempat

: ...

5. Input dan sistem budidaya


a. Benih
Kultivar

: ...

Sistem perbanyakan

: vegetatif/biji

b. Pengelolaan kesuburan tanah


Sistem olah tanah TOT

: ya/tidak sebutkan :

Pupuk Kimia

: ya/tidak sebutkan :

Pupuk Organik

: ya/tidak sebutkan :

Seresah

: ya/tidak sebutkan :

c. Pengelolaan Hama dan penyakit


Pestisida Kimia

: ya/tidak sebutkan :

Pestisida Nabati

: .ya/tidak sebutkan :

Pestisida Hayati

: ya/tidak sebutkan :

Tanaman perangkap

: ya/tidak sebutkan :

20

Agensia hayati

: ya/tidak sebutkan :

Pengendalian mekanik

: ya/tidak sebutkan :

d. Pengairan (lingkari)
Tadah hujan
Irigasi teknis
Irigasi tetes
Pompa
Dll
6. Penggunaan alsintan

: ya/tidak

sebutkan :

7. Tenaga Kerja yang digunakan


Pekerjaan : Pengelolaan Tanah
Jumlah : ...
Pekerjaan : Penanaman
Jumlah : ...
Pekerjaan : Pemeliharaan (pupuk dan penyiangan) Jumlah : ... org
Pekerjaan : Panen
Jumlah : ...
Pekerjaan : Pascapanen
Jumlah :

org
org
org
org

C. Variabel Budidaya
1. Monokultur

: ya/tidak

2. Rotasi

: ya/tidak

3. tumpangsari

: ya/tidak

4. tanaman sisipan

: ya/tidak

5. tanaman pelindung

: ya/tidak

6. dll

D. Variabel panen dan pasca panen


1. Panen tepat waktu

: ya/tidak

Jika tidak, apa kendalanya


2. Tenaga panen tersedia

: ya/tidak

Jika tidak, apa kendalanya

21

3. Kuantitas tinggi

: ya/tidak

Jika tidak, apa kendalanya


4. Kualitas/mutu tinggi

: ya/tidak

Jika tidak, apa kendalanya


5. Harga sesuai

: ya/tidak

Jika tidak, apa kendalanya


6. Mudah pemasarannya

: ya/tidak

Jika tidak, apa kendalanya


7. Mudah pengangkutannya

: ya/tidak

Jika tidak, apa kendalanya


8. Mudah distribusinya

: ya/tidak

Jika tidak, apa kendalanya


9. Usaha tani untung

: ya/tidak

Jika tidak, apa kendalanya


E. Variabel Sosial Kesejahteraan Petani
1. Harga jual selalu mengalami perubahan tiap bulannya
ya/tidak
2. Pendapatan tiap bulan cukup memenuhi kesejahteraan hidup
ya/tidak
Jika memungkinkan range pendapatan per bulan :
-

< Rp 1.000.000

Rp 1.000.000 2.000.000

Rp 3.000.000 4.000.000

Rp 4.000.000 5.000.000

Rp > 5.000.000

3. Kenaikan harga jual berpengaruh besar terhadap tingkat kesejahteraan


ya/tidak
4. Penurunan harga jual berpengaruh besar terhadap tingkat kesejahteraan
ya/tidak
22

5. Modal yang digunakan usahatani sudah terpenuhi oleh pendapatan per bulan
ya/tidak
Jika memungkinkan tanyakan dari mana petani memperoleh modal usahatani
a. Modal Sendiri
c. Pinjaman Bank
b. Pinjaman antar petani
d. Lainnya
F. Dari semua aspek usahatani yang dilakukan, Apa yang menjadi kendala utama
dalam usahatani Bapak/Ibu?
...............................................................................................................................
G. Sejauh pengembangan usahatani tersebut, apakah permasalahan yang ada sudah
teratasi? Jika sudah/blm jelaskan
H. Apa saran/usulan Bapak/Ibu untuk meningkatkan produktivitas?
..............................................................................................................................
I. Apa rencana ke depan ?
............................................................................................................................... ..........
.....................................................................................................................
J. Variabel Kelembagaan/Pemerintah
Bagaimana peran pemerintah dalam usahatani di daerah/kawasan pertanian,
jika ada bantuan/campur tangan pemerintah. Apa saja bentuk bantuan yang
diberikan?
...............................................................................................................................

23