Anda di halaman 1dari 9

PEMETAAN GEOLOGI

DALAM RANGKA IDENTIFIKASI CADANGAN MATERIAL TUFF


SEBAGAI BAHAN BAKU BATAKO
Studi Kasus : DAERAH PESAWAHAN DAN SEKITARNYA, KEC. WANAYASA, KAB.
PURWAKARTA. JAWA BARAT.

Oleh :

Jully Ariestian dan Bambang Sunarwan

Abstrak

Secara administratif daerah pemetaan mencakup pesawahan dan sekitarnya Kecamatan Wanayasa,
Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, dengan luas 8 km x 7 km.
Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 3 (tiga) satuan geomorfologi, yakni: perbukitan lipat
patahan, perbukitan vulkanik dan dataran alluvial sungai. Pola aliran sungai yang berkembang adalah
pola aliran dendritik, pola aliran rektangular dengan tipe genetik subsekuen, obsekuen dan konsekuen,
stadia sungainya berada pada tahapan dewasa.
Satuan batuan dari tua ke muda di daerah penelitian terdiri atas : Satuan Batulempung sisipan
Batupasir (Formasi Subang) umur Miosen Akhir (14-N16) diendapkan pada lingkungan laut neritik
tepi - luar, kedalaman (10-200) m, memiliki sebaran di bagian tengah lokasi penelitian. Secara selaras
dengan dengan batuan di bawahnya diendapkan Satuan Batulempung selang-seling Batupasir
(Formasi Kaliwangu) umur Pliosen Awal (N17-N19) diendapkan pada lingkungan laut neritik tengan
sampai neritik luar, kedalaman (20-200) m, memiliki sebaran di bagian utara dan selatan daerah
penelitian. Secara tidak selaras pada kala Pliosen (N20) terjadi aktivitas tektonik (Orogenesa Pliosen)
terjadi perlipatan dan pensesaran terhadap batuan yang telah terbentuk sebelumnya, diikuti aktivitas
vulkanik, hingga Plistosen (N22) dan di hasilkan satuan endapan vulkanik tuff dan lava andesit pada
lingkungan (Fasies Distal Vulkaniclastic), atau pada lingkungan darat secara tidak selaras dan
menutupi batuan lebih tua. Selanjutnya pada umur Resen diendapkan Satuan Endapan Aluvial Sungai,
menutupi satuan dibawahnya dengan batas bidang erosi. Singkapannya dapat dilihat di kanan kiri
aliran sungai.
Struktur geologi yang berkembang adalah lipatan, kekar dan sesar. Lipatan berupa antiklin Cijurai dan
sesar yang berkembang adalah sesar mendatar menganan Cikalisampa.
Potensi Bahan galian yang dijumpai berupa tuff, sangat umum dipakai menjadi bahan campuran
bangunan yang dikenal dengan batako.

Kata-kata Kunci : Fasies, Distal, Volcaniklastic, Orogenesa, Sinklin , Antiklin.:

Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unpak

1.

UMUM

Daerah Pesawahan - Kecamatan Wanayasa,


Kabupaten Purwakarta dan sekitarnya sebagai
daerah kajian berada + 110 km menuju arah
Timur Kota Bogor, dapat ditempuh sekitar (6
8) jam perjalanan dari Bogor, melalui lintas
(Bogor Cianjur - Padalarang Purwakarta
nlokasi daerah penelitian) merupakan kawasan
sedang
berkembang,
yang
memerlukan
informasi maupun peluang lapangan kerja
termasuk yang diperoleh dari hasil identifikasi
sumberdaya alam untuk mendukung ekonomi
dan pembangunan, serta
mempercepat
kemajuan daerah sebagai contoh tuff untuk
bahan bangunan batako.

2)

3)

Pemanfaatan
informasi
terapan geologi
diharapkan dapat dihasilkan dari identifikasi
awal keadaan geologi dan potensi bahan galian
di suatu kawasan sebagai contoh Daerah
Pesawahan dan sekitarnya Kec. Wanayasa Kab.
Purwakarta.
Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui
kondisi geologi Daerah Pesawahan dan
sekitarnya serta melakukan identifikasi bahan
galian yang mampu diberdayakan secara mudah
dan
mampu
mendukung
kebutuhan
pembangunan bagi masayarakat di sekitar.
2.

KONDISI GEOLOGI

2.1. Geomorfologi
Secara umum daerah penelitian berupa
perbukitan, memanjang barat - timur dan
dengan kisaran ketinggian antara 100 m (hilir
sungai Cikalisampa) s/d 500 m di atas muka air
laut yaitu di daerah hulu sungai Cicalung.
Berdasarkan struktur, litologi dan pengamatan
bentang alam di lapangan, geomorfologi daerah
penelitian
dibagi menjadi tiga satuan
geomorfologi yakni:
1)

Satuan Geomorfologi Perbukitan Lipat


Patahan, dicirikan oleh bentuk bukit dan
lembah memanjang dari barat-timur dan
batas bukit dan lembah tidak jelas,

Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unpak

terdapat hogback dan cuesta. Menempati


70 % luas daerah penelitian dan pada
peta geomorfologi
Satuan
ini
memiliki kisaran kelerengan 50 400, di
kisaran elevasi 100 m.d.p.l s/d 500
m.d.p.l.
Satuan
Geomorfologi
Perbukitan
Vulkanik, menempati 20 % luas daerah
penelitian,
Satuan
geomorfologi
perbukitan vulkanik memiliki kelerengan
>450 dan berada pada kisaran ketinggian
100 m.d.p.l s/d 200 m.d.p.l, stadia
geomorfik pada satuan termasuk dalam
stadia muda.
Satuan Geomorfologi Dataran Aluvial
Sungai, menempati 10% luas daerah
penelitian, daerah kanan-kiri aliran sungai
Ciherang, sungai Cikaisampa, sungai
Cisaat, pada kisaran kelerengan 00 - 30,
dan kisaran ketinggian (50 100) m.d.p.l,
disusun oleh material - material
berukuran lempung sampai bongkah.

2.2. Stratigrafi
Stratigrafi Daerah Penelitian terdiri atas 4
(empat) satuan batuan, dan diketahui urutan
dari tua ke muda sebagai berikut :
1)

Satuan Batulempung sisipa Batupasir,


Formasi Subang, menempati + 30 %
daerah penelitian, memiliki sebaran
umum utara dan selatan daerah penelitian
meliputi Desa Pesawahan, Desa Gurudug,
sampai Pasir Cisaat. Singkapannya
dijumpai di sungai-sungai Cisaat, Cijurai,
Citaraje, dan Ciguruguy. Kedudukan
lapisan batuan berkisar N2740 E dan N47
0
E dengan kemiringan lapisan berkisar
470- 690.
Arah kemiringan lapisannya
berlawanan arah membentuk struktur
antiklin. Kondisi singkapan kurang segar
di beberapa tempat dan secara
megaskopis batulempung berwarna abu abu muda, bersifat karbonatan, kompak
sampai retas, batupasir berwarna coklat
terang, bentuk butir membulat sampai
membulat tanggung, ukuran butir 0,5
1mm, pemilahan baik, kemas tertutup,
2

sementasi karbonatan, porositas baik


dengan komposisi mineral kuarsa,
plagioklas, orthoklas.
2)

Satuan Batulempung selang - seling


Batupasir,
Formasi
Kaliwangu
menempati + 40 % daerah penelitian,
memiliki sebaran umum utara dan selatan
daerah penelitian meliputi Desa Selawi,
Desa Cibukamanah, Desa Wanawali, ,
Desa Salamulya, Bantar Salem, Desa
Taringgul Tongoh, dan Desa Taringgul
Landeuh. Singkapannya dapat ditemukan
di sungai Ciherang, sungai Cisaat, sungai
Cikadu, sungai
Cibeber, sungai
Cikalisampa, sungai Citaringgul, sungai
Cijengkol dengan kisaran kedudukan pada
baian utara, N2850 E sampai N 2720 E
dengan kemiringan lapisan berkisar 47 0
sampai 420, pada bagian selatan N830 E
sampai N 960 E dengan kemiringan
laipsan berkisar 500 sampai 840. Arah
kemiringan batulempung selangseling
batupasir pada bagian utara dan selatan
membentuk struktur antiklin. Dari
rekonstruksi penampang peta geologi
diperoleh ketebalan + 2250 m, dan dari
peneliti sebelumnya memiliki ketebalan
pada satuan ini + 690 m, (Soejono, 1984).
Kondisi ini diduga disebabkan perbedaan

lokasi pengukuran penampang geologi


terukur.
3)

Satuan Batuan Vulkanik Tuff, Formasi


Tambakan, tersingkap di bagian utara
daerah penelitian atau menempati kurang
lebih 20 % luas daerah penelitian,
membentuk perbukitan dari barat ke
timur,
meliputi
daerah
Desa
Cibukamanah, Pasir Tegalkidul, dan
Balai Kambangl. Tidak memperlihatkan
bidang perlapisan, menunjukkan sebaran
mengikuti
topografi
sebelumnya
berbentuk perbukitan memanjang dari
barat ke timur. Ketebalan satuan ini di
tentukan dari kontur (terendah =100m)
dan (tertinggi = 200m) atau berkisar
200m.

4)

Satuan Endapan Aluvial., Memiliki


sebaran di sekitar sungai besar di daerah
penelitian. Satuan ini menempati sekitar
10 % dari luas daerah penelitian dan di
wakili oleh warna abu abu pada peta
geologi. Penyebarannya di sekitar sungai
Ciherang, sungai Cikalisampa, sungai
Cisaat, dan sungai Cijurai. Ketebalan
satuan ini berdasarkan pengamatan di
lapangan, memiliki ketebalan + 50 cm
1,5 m.

Tabel 1. Kesebandingan stratigrafi daerah penelitian dengan peneliti sebelumnya.

Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unpak

Berdasar hasil rekontruksi dan pengukuran,


antiklin Cijurai diketahui sebagai berikut :

2.3. Struktur Geologi

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan di


daerah penelitian di jumpai struktur geologi
yang berupa kekar, lipatan dan sesar.

1) Struktur Kekar, berkembang di daerah


penelitian dan dapat di bedakan menjadi :
(1). Shear joint atau compression joint,
yaitu kekar yang terbentuk akibat gaya
tekanan dan
(2). Tension joint, yaitu kekar yang
terbentuk akibat gaya tarikan.

3)

Perlapisan batuan sayap utara memiliki


kedudukan: N 3530 E / 210
Perlpisan batuan pada sayap selatan
memiliki kedudukan : N 1890 E/240
Bidang lipatan N 920 E/820
Sumbu Lipatan berarah N 890 E
Pitch : 130

Struktur Patahan (Sesar)

Berdasarkan hasil pengamatan unsur di


ketahui terdapat 2 jenis sesar mendatar,
yaitu
sesar
mendatar
menganan
Cikalisampa 1 dan sesar mendatar
menganan Cikalisampa 2, berdasarkan
indikasi sesar sebagai berikut :
1). Sesar mendatar menganan Cikalisampa 1
diketahui indikasi sesar dengan arah N 3400
E/300 , gores garis 600 tren N 840 E pitch 180 di
jumpai di sungai Cikalisampa (CKLS1).
2). Sesar mendatar menganan Cikalisampa 2
diketahui indikasi sesar dengan arah N 3250
E/500 trend N 1100 E pitch 260 Plung 270 di
sungai Cikalisampa (CKLS2).
Berdasar hasil analisis pola kekar, arah breksiasi
(diagram Stereografi Wulfnet) diperoleh jenis
sesar Cikalisampa 1 dan 2 adalah Right lateral
Slip Fault (Rickard, 1971).

Foto 1. Foto kekar tarik (release fracture) dan kekar gerus


(shear fracture) pada batulempung, (foto diambil di
S.Cikalisampa)

3.
2)

Struktur Lipatan, yang dijumpai adalah


berupa antiklin, ditandai oleh kemiringan
lapiosan sebagai bidang sayap dengan arah
berlawanan. Dikenal dengan antiklin
Cijurai merupakan antiklin simetri.
Arah umum sumbu antiklin adalah barat
timur, melewati bagian tengah daerah
penelitian melalui sungai Cijurai, berada
pada satuan batuan batulempung sisipan
batupasir. Kemiringan rata-rata lapisan
batuan sebagai sayap bagian utara dalah
270 dan kemiringan rata-rata lapisan pada
sayap bagian selatan adalah 210. Antiklin
Cijurai di klasifikasikan sebagai Horizontal
Upright Fold (Rijkard, 1971) .

Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unpak

POTENSI BAHAN GALIAN TUFF

Tuff di daerah penelitian terdapat dalam satuan


tuff masuk ke dalam Formasi Tambakan,
penyebaran di daerah penelitian yaitu utara
daerah penelitian meliputi Ds.Cibukamanah,
Tegalkidul, Balaikambang, Sungai Cijangkar,
Sungai Cikawung dan Sungai Cilamaya.
Tuff cukup potensial jika dimanfaatkan menjadi
bahan baku usaha bidang industri dan
konstruksi. Dalam bidang industri tuff
digunakan sebagai bahan baku pembuatan
batako dan bahan bangunan lain. Dari hasil
identifikasi tuff di daerah penelitian, Formasi
Tambakan. Dapat
dimanfaatkan secara
profesional baik oleh warga setempat untuk
bahan baku pembuatan batako.

Pembahasan Membahas, pada tinjauan dan


identifikasi tuff sebagai bahan baku pada
pembuatan batako dibatasi pada 2 (dua) hal
pokok berikut :

Vbersih = (( V ) ( Vob )) x bj
1)

2)
3)

Kuantitas (Volume cadangan terkira)


Dengan menggunakan metode Craft &
Hawkins.
Kualitas, Spesifikasi Bahan Bangunan
Bagian A (Sk SNI-04-1989-F)
Kegunaan tuff untuk bangunan

3.1. Kuantitas
Untuk mengetahui kuantitas maka dipergu
nakan rumus perhitungan cadangan menu rut
Craft dan Hawkins, 1956 yang hasilnya sbb. :
1)

2)

3)
4)

5)

Jika A1 : A2 adalah < 0,5 maka perhi


tungan volume menggunakan rumus
V = 1/3 . h . ( A0 + A1 + ( A1 x A2 ) )
Jika A1 : A2 adalah > 0,5 maka perhi
tungan volume menggunakan rumus
V = . h . ( A0 + A1 )
Volume puncak (Vp) menggunakan rumus
Vp = 4/3 . Ap
Volume tanah penutup (Vob) mengguna
kan rumus
Vob = (VA2 VA1) . 1/3
Volume tanah penutup puncak (Vobp)
menggunakan rumus
Vobp = . Vp

Keterangan :
Vp
=
Vbersih =
h
=
Ap
=
A1
=
V
=
Vob =
bj
=

Volume puncak (m3 )


Volume bersih (m3 ton)
Interval kontur (12,5 m)
Luas kontur tertinggi (m3)
Luas kontur di bawahnya (m2 )
Volume lempung (m3)
Volume tanah penutup (m3)
Berat jenis lempung (2,68 ton/m3)

Ap

A1

A2

A3

Tabel 2. Perhitungan cadangan terkira tuff

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

KONTUR
M
200
187.5
175
162.5
150
137.5
125
112.5
100
87.5

LUAS
M
112751.413
492453.736
870178.605
1416642.35
2064957.49
3314465.41
3997944.23
4815282.68
5137341.78
5178614.26

Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unpak

TEBAL
M
0
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5

PERBANDINGAN
0
0.228958386
0.565922597
0.614254265
0.686039473
0.62301374
0.829042434
0.830261583
0.937310168
0.992030206
TOTAL

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Puncak
Pyramid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid

KONTUR
M
175
162.5
150
137.5
125
112.5
100
87.5
75
62.5

PERBANDINGAN
0
0.212281796
0.362587244
0.299646674
0.78863036
0.67305253
0.667555005
0.748057667
0.993183467
0.991301272

Puncak
Pyramid
Pyramid
Pyramid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid
Trapezoid

VOLUME
KOTOR

VOB

0.00
3,503,509.47
8,516,452.13
14,292,630.96
21,759,999.00
33,621,393.15
45,702,560.24
55,082,668.18
62,203,902.87
64,474,725.25
309,157,841.25

0.00
126,567.44
125,908.29
182,154.58
216,105.05
416,502.64
227,826.27
272,446.15
107,353.03
13,757.50
1,688,620.95

LUAS
M
51532.46
242754.965
281426.565
939194.688
1190918.76
1769429.14
2650611.75
3543325.42
3567644.38
3598950.67

TEBAL
M
0
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5
12.5

VOLUME
KOTOR

VOB

0.00
1,692,226.94
3,273,158.62
7,228,068.13
13,313,209.03
18,502,174.33
27,625,255.51
38,712,107.27
44,443,561.24
44,791,219.10
199,580,980.18

0.00
63,740.83
12,890.53
219,256.04
83,908.02
192,836.79
293,727.54
297,571.22
8,106.32
10,435.43
1,182,472.74

Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unpak

Volume Kotor
Jumlah Volume sebelah Barat
Jumlah Volume sebelah Timur
Total Volume

Jumlah volume kotor


Luas tanah penutup

VOB (tanah penutup)

309,157,841.25
199,580,980.18
508,738,821.43

1,688,620.95
1,182,472.74
2,871,093.69

: 508.738.821,43 Ton/m
: 2.871.093,69 Ton/m 505.867.727,75 Ton/m

Total cadangan 505.867.727,75 x 2,58 = 1.305.138.737,59 Ton/m

3.2. Kualitas
Untuk uji kualitas, dilakukan uji agregat yaitu:

Berat sampel
Kadar lumpur agregat
Kadar air agregat
Berat volume
SSD
Waktu pengikatan
Kuat tekan
Agregat yang tertinggal pada ayakan 0,21

: 1000 gram
:5%
: 8,7 %
: 1310 gram
: 2,09 gr/cm3
: 1 hari
: 64 kg/cm3
: 38 %

Pozolan dari tras harus memenuhi persyaratan seperti pada Tabel 1.


Tabel 1. Persyaratan Tras
Uraian

Tingkat
I
<6

Tingkat
II
68

Tingkat
III
8 10

Kehalusan :
Seluruhnya harus lewat ayakan 2,5 mm, sisa di
atas ayakan 0,21 mm dalam % berat

<10

10 30

30 50

Waktu pengikatan :
Dinyatakan dalam kelipatan dari 24 jam, maks

Keteguhan aduk, pada 14 hari dalam, kg/cm2


Kuat tekan
Kuat tarik

100
16

100 - 75

75 50
12

Kadar air bebas dalam %


Beratpada 110,5 C

Sumber :Standar : SpesifikasiBahanBangunanBagian A (Sk SNI-04-1989-F)


Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unpak

Secara keseluruhan uji agregat masuk pada tingkat III


perbukitan
gunungapi
dan
satuan
geomorfologi dataran aluvial sungai. Pola
aliran sungai yang terdapat pada daerah
penelitian adalah pola aliran sungai
dendritik, pola aliran sungai rektangular
dengan genetika sungai subsekuen,
obsekuen dan konsekuen dengan tahapan
erosi sungai dewasa sedangkan jentera
geomorfik daerah penelitian secara umum
berada pada tahapan dewasa.

3.3. Kegunaan tuff untuk bangunan


Kualitas cadangan tuff pada daerah penelitian
memenuhi syarat mutu untuk konstruksi
bangunan ringan sampai sedang (menurut uji
kualitas pozolan dari SNI-04-1989-F) . Di lihat
dari kuantitas dan kualitasnya sangat potensial
secara ekonomis, kususnya untuk memenuhi
kebutuhan pembuatan batako keperluan
pembangunan di sekitarnya, sebaran cukup luas.
Di daerah penelitian masyarakat memanfaatkan
bahan galian tersebut untuk pembuatan batako,
masyarakat mengolah bahan galian tuff dengan
cara tradisional dengan fasilitas peralatan
sederhana.

2)

Berdasarkan litostratigrafi yang terdapat di


daerah penelitian dibagi menjadi 4 (empat)
satuan stratigrafi dari tua ke muda yaitu ;
Satuan Batulempung sisipan Batupasir
(Formasi Subang) yang berumur
Miosen
Akhir
(N14-N16)
dan
lingkungan laut dangkal yaitu neritik
tepi neritik luar.
Secara selaras di atas Satuan
Batulempung sisipan Batupasir di
endapkan Satuan Batulempung selangseling Batupasir (Formasi Kaliwangu)
yang berumur Pliosen Awal (N17-N19)
yang di endapkan pada lingkungan laut
dangkal yaitu neritik tengah-luar.
Secara tidak selaras di atas Satuan
Batulempung selang seling Batupasir
di endapkan Satuan Vulkanik Tuff yang
berumur Plistosen Awal (N22) pada
lingkunganFasies Distal Volcaniclastic.
Selanjutnya Satuan Aluvial Sungai
menutupi satuan di bawahnya yang di
batasi oleh bidang erosi.

3)

Struktur geologi yang berkembang di


daerah penelitian adalah kekar dan lipatan
berupa antiklin yaitu antiklin Cijurai yang
memiliki arah sumbu antiklin barat-timur
dan
sesar
mendatar
menganan
Cikalisampa. Struktur geologi ini mulai
terbentuk pada
kala
Plio-Plistosen
disebabkan aktivitas tektonik dengan gaya
utama yang berarah utara-selatan yaitu N
2550 E.

4)

Pemberdayaan tuff sebagai bahan baku


pembuatan batako, di daerah Peasawahan
memiliki ketersediaan cukup banyak, tidak
harus menggunakan teknologi yang

Harga untuk satu batako yaitu Rp 1000 dan


untuk perhari para pembuat batako dapat
membuat sekitar 200 buah batako sehingga
untuk pemenuhan penghasilan/pendapatan per
hari para pembuat batako dapat menjual sekitar
150-180 buah.
Berdasar pengamatan lapangan dan catatan
laboratorium untuk memperoleh kualitas lebih
baik di gunakan bahan tambahan berupa semen,
untuk tujuan meningkatkan daya yahan atau
meningkatkan kuat tekan material bangunan
berupa batako, sehingga mampu mendukung
kebutuhan masyarakat dalam membangun
daerah khususnya di sekitar daerah penelitian.
4.

KESIMPULAN DAN DISKUSI

4.1. Daerah Pesawahan


Dari semua yang telah di lakukan penelitian
berupa pemetaan geologi permukaan daerah
Pesawahan
dan
sekitarnya
Kecamatan
Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat,
yang berkaitan dengan
geomorfologi,
stratigrafi, struktur geologi maupun sejarah
geologi daerah penelitian, maka di dapatkan
kesimpulan yaitu :
1)

Satuan geomorfologi daerah penelitian di


bagi menjadi 3 (tiga) satuan geomorfologi,
yaitu : Satuan geomorfologi perbukitan
lipat patahan, satuan geomorfologi

Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unpak

memerlukan modal besar. Karena itu


peluang ini mampu dimanfaatkan oleh
sebagian masyarakat di daerah tersebut
untuk dijadikan pendukung
mata
pencaharian mereka.

7)

Billings, Marlan.P. 1960, Structural


Geology, Second Edition, Prentice Hall
Inc. Englewood Cliffs, New Jersey, 514 p.

8)

Blow, W. H. and Postuma J. A. 1969.


Range Chart, Late Miosen to Recent
Planktonic
Foraminifera
Biostrati
graphy, Proceeding of The First.
Dunham, 1962, Op Cit Mudjur M., 1985,
Petrografi Batuan Metamorf dan Batuan
Sedimen, Jurusan Teknik Geologi,
Fakultas Teknik, Universitas Pakuan
Bogor.
Martodjojo, Soejono, 1984, Evolusi
Cegungan Bogor Jawa Barat, Fakultas
Pasca Sarjana, Institut Teknologi
Bandung.
Gani, M.U, 1997, Eksperimentasi
pemanfaatan lempung unuk pembuatan
keramik dengan campuran limbah padat
abu terbang, Prosiding IAGI ke XXVI,
Bandung.
Hartono, Y. M. V, 1983, Bahan mentah
untuk pembuatan keramik, balai besar
penelitian dan pengembangan keramik,
Departemen
perindustrian
dan
perdagangan, bandung.

PUSTAKA
9)
1)

2)

3)

4)

5)

6)

Asikin, Sukendar., 1986, Geologi Struktur


Indonesia, Departemen Teknik Geologi,
Institut Teknologi Bandung.
Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan
Nasional, 1999, Peta Rupabumi Digital
Indonesia Lembar Purwakarta No. 1209224, Badan Koordinasi Survey dan
Pemetaan Nasional, Cibinong, Bogor.
Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan
Nasional, 1999, Peta Rupabumi Digital
Indonesia Lembar Cikalong Wetan No.
1209-242 Badan Koordinasi Survey dan
Pemetaan Nasional, Cibinong, Bogor.
Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan
Nasional, 2001, Peta Rupabumi Digital
Indonesia Lembar Wanayasa No. 1209331 Badan Koordinasi Survey dan
Pemetaan Nasional, Cibinong, Bogor.
Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan
Nasional, 2001, Peta Rupabumi Digital
Indonesia Lembar Cipendeuy No. 1209333 Badan Koordinasi Survey dan
Pemetaan Nasional, Cibinong, Bogor.
Bemmelen, R. W. Van, 1949, The Geology
of Indonesia, Vol. IA : General Geology of
Indonesia and Adjacent Archipelagoes,
Government Printing Office, The Hague,
732 p.

Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik Unpak

10)

11)

12)

Penulis
[1]

[2]

Jully Ariestian, ST., Alumni (2013)


Program Studi Teknik Geologi, FTUnpak
Bambang Sunarwan, Staf Pengajar
Program Studi Teknik Geologi FT-Unpak