Anda di halaman 1dari 21

FOTOSINTESIS

Nur Silmi Nafisah, 230110150125


Kelas B, Kelompok 8
ABSTRAK
Fotosintesis adalah peristiwa penggabungan karbon dioksida dan air secara kimiawi dalam
klorofil untuk membentuk karbohidrat dengan bantuan cahaya matahari sebagai sumber
energi atau peristiwa penyusunan (sintesis) zat organik (gula) dari zat anorganik (air dan
karbon dioksida) dengan bantuan energi cahaya (foton) matahari. Fotosintesis dipengaruhi
faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dalam yang mempengaruhi fotosintesis adalah
klorofil dan faktor luar yang mempengaruhi fotosintesis adalah intensitas cahaya, konsentrasi
karbon dioksida, suhu, kadar air, kadar fotosintat, tahap pertumbuhan, kadar oksigen, dan
kandungan hara dalam tumbuhan. Pada praktikum ini digunakan tumbuhan Cabomba,
Hydrilla dan Amazon serta terdapat perlakuan kontrol (tidak dimasukkan tumbuhan).
Tumbuhan tersebut dimasukkan ke dalam botol terang, gelap dan tertutup plastik hitam.
Berisi air dengan DO (dissolved oxygen) awal 4,94 kemudian didiamkan di bawah sinar
matahari langsung (kelompok kami 30 menit) dan diukur DO (dissolved oxygen) akhir. DO
(dissolved oxygen) akhir yang didapat yaitu 7,55 mg/L pada botol terang, 5,46 mg/L pada
botol tertutup plastik, dan 5,72 mg/L pada botol gelap. Hasil dari praktikum ini menunjukkan
faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan fotosintesis dengan mengukur jumlah oksigen
yang dihasilkan selama proses fotosintesis.
Kata Kunci : Fotosintesis, DO (Dissolved Oxygen), Faktor, Cahaya
ABSTRACT
Photosynthesis is the event of the merger of carbon dioxide and water chemically in
chlorophyll to form carbohydrates with the help of sunlight as an energy source or event
preparation (synthesis) of organic substances (sugars) from inorganic substances (water and
carbon dioxide) with the aid of light energy (photons) sun , Photosynthesis is influenced from
within and outside factors. Factors affecting the photosynthesis is chlorophyll and external
factors that affect photosynthesis is the light intensity, the concentration of carbon dioxide,
temperature, moisture content, levels fotosintat, stage of growth, the oxygen levels and
nutrient content in plants. In this lab used Cabomba plant, Hydrilla and Amazon, and there
are control treatments (not included plants). Plants are inserted into the bottle light, dark and
covered in black plastic. Containing water with a DO (dissolved oxygen) 4.94 early then
allowed to stand in direct sunlight (our group 30 minutes) and the measured DO (dissolved
oxygen) end. DO (dissolved oxygen) line is obtained which is 7.55 mg / L in the light bottles,
5.46 mg / L in a closed plastic bottle, and 5.72 mg / L in dark bottles. The results of this lab
shows the factors that affect the rate of photosynthesis by measuring the amount of oxygen
produced during photosynthesis.
Keywords : Photosynthesis, DO (dissolved oxygen), Factor, Light
PENDAHULUAN
Suatu sifat fisiologi yang hanya dimiliki khusus oleh tumbuhan adalah kemampuannya
untuk menggunakan zat karbon dari udara untuk diubah menjadi bahan organik serta

diasimilasikan di dalam tubuh tanaman. Peristiwa ini hanya berlangsung jika ada cukup
cahaya dan oleh karena itu maka asimilasi zat karbon disebut juga fotosinetesis. Fotosintesis
atau asimilasi zat karbon merupakan suatu proses di mana zat-zat organik H 2O dan CO2 oleh
klorofil diubah menjadi zat organik karbohidrat dengan bantuan sinar. Fotosintesis
merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2
diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi.
Secara umum, fotosintesis dinyatakan dengan persamaan reaksi kimia sebagai berikut :

Gambar 1. Reaksi Kimia Fotosintesis


(Sumber: Ida Rianawaty 2009)
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju Fotosintesis
1. Intensitas Cahaya
Cahaya mempunyai dua sifat yaitu sifat gelombang dan sifat partikel. Sifat partikel
cahaya biasanya dinyatakan terdapat pada foton dan kuanta, yaitu suatu paket energi yang
mempunyai ciri tersendiri; masing-masing foton mempunyai panjang gelombang tertentu.
Energi dalam tiap foton berbanding terbalik dengan panjang gelombang, jadi panjang
gelombang cahaya ungu dan biru mempunyai energi foton yang lebih tinggi dari panjang
gelombang cahaya jingga (orange) dan merah (Sasmitamihardja, 1990).
Menurut Dwidjoseputro (1994), spektrum dari sinar yang tampak oleh mata kita dapat
digambarkan dengan gelombangnya dinyatakan dengan m.

390 m

Ungu
430

Nila
470

Biru
500

Hijau
560

Kuning
600

Jingga
650

Merah
760 m

Suatu prinsip mendasar dari absorpsi cahaya disebut hukum Stark Einstein yang
menyatakan bahwa setiap molekul setiap kali hanya dapat menyerap satu foton, dan foton ini
menyebabkan tereksitasinya hanya satu elektron. Elektron yang dalam keadaan dasar (ground
state) stabil pada suatu orbit biasanya tereksitasi, dipindahkan menjahui keadaan dasarnya

(orbit tersebut) dengan jarak (ke orbit lain) sesuai dengan energi foton yang diabsorpsinya.
Jika yang menyerap energi foton itu adalah mplekul klorofil atau pigmen yang lain, maka
molekul itu kemudian akan berada dalam keadaan tereksitasi, dan energi eksitasi inilah yang
digunakan dalam fotosintesis. Klorofil atau pigmen yang lain itu akan tetap dalam keadaan
tereksitasi untuk waktu yang singkat, biasanya 10-9 detik atau malahan kurang dari itu, energi
eksitasi akan hilang pada waktu elektron kembali ke orbitnya semula. Energi eksitasi yang
diinduksi dalam suatu molekul atau atom oleh satu foton dapat hilang menurut tiga cara, yaitu
(Sasmitamihardja, 1990):

Energi dapat hilang sebagai panas atau kalor.

Energi dapat sebagian hilang sebagai panas dan sisanya sebagai cahaya tampak dengan
panjang gelombang lebih panjang dari panjang gelombang yang diabsorpsi, dinamakan
fluoresensi.

Energi dapat dilakukan untuk melakukan suatu reaksi kimia. Fotosintetsis adalah hasil
dari proses yang ketiga.
Semakin rendah intensitas cahaya, semakin rendah laju fotosintesis karena energi yang

diserap tidak mencukupi untuk fotosintesis.


Panjang gelombang yang ditangkap daun menentukan lebar mulut stomata. Dalam
beberapa penelitian ditemukan bahwa cahaya biru dan merah akan memberikan pelebaran
mulut stomata yang tinggi sedangkan cahaya hijau dan kuning memberikan pelebar.
2. Konsentrasi Karbon Dioksida
Laju fotosintesis dapat ditingkatkan dengan meningkatkan kadar CO 2 udara. Akan tetapi,
bila kadarnya terlalu tinggi dapat meracuni atau menyebabkan stomata tertutup, sehingga laju
fotosintesis terganggu.
3. Suhu
Semakin tinggi suhu, semakin tinggi pula laju fotosintesis.
4. Kadar Air
Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat
penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis.
5. Kandungan klorofil
Klorofil terdapat sebagai butir-butir hijau di dalam kloroplas. Pada umumnya kloroplas
itu berbentuk oval, bahan dasarnya disebut stroma, sedang butir-butir yang terkandung di
dalamnya disebut grana.
Menurut Dwidjoseputro (1994), faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan klorofil:

a. Faktor pembawaan. Pembentukan klorofil seperti halnya pembembentukan pigmenpigmen lain seperti hewan dan manusia yang di bawakan oleh suatu gen tertentu di
dalam kromosom. Jika gen ini tidak ada maka tanaman akan tampak putih belaka
(albino), seperti tanaman jagung yang albino tidak dapat hidup lama.
b. Cahaya. Pada beberapa kecambah tanaman Angiosperma, klorofil dapat terbentuk
tanpa memerlukan cahaya. Tanaman lain yang ditumbuhkan di dalam gelap tidak
berhasil membentuk klorofil, mereka pucat (klorosis) kekuning-kuningan, disebabkan
karena adanya protoklorofil yang mirip dengan klorofil-a, yang mengandung kurang 2
atom H. terlalu banyak sinar berpengaruh buruk kepada kepada klorofil. Larutan
klorofil yang dihadapkan kepada sinar kuat tampak berkurang hijaunya. Hal ini juga
dapat kita lihat pada daun-daun yang terus-menerus kena sinar langsung, warna
mereka menjadi hijau kekuning-kuningan.
c. Oksigen. Kecambah yang ditumbuhkan di dalam gelap, kemudian ditempatkan di
cahaya tak mampu membentuk klorofil, jika tidak diberi oksigen.
d. Karbohidrat. Terutama dalam bentuk gula ternyata membantu pembentukan korofil
dalam daun-daun yang mengalami tumbuh etiolasi. Dengan tanpa pemberian gula,
daun-daun tersebut tidak mampu menghasilkan klorofil.
e. Nitrogen, Magnesium. Besi yang menjadi pembentuk bahan klorofil sudah tentu
merupakan suatu condition sine qua non (keharusan). Kekurangan akan salah satu dari
zat-zat tersebut mengakibatkan klorosis pada tumbuhan.
f. Unsur Mn, Cu, Zn. Meskipun jumlahnya hanya sedikit dalam pembentukan klorofil,
jika tiada unsur-unsur tersebut maka tanaman mengalami klorosis juga.
g. Air. Kekurangan air mengakibatkan desintegrasi dari klorofil seperti terjadi pada
rumput dan pohon-pohonan di musim kering.
h. Temperatur. 30 480 C merupakan suatu kondisi yang baik untuk pembentukan
klorofil pada kebanyakan tanaman, akan tetapi yang paling baik ialah antara 260
300 C.

Daun yang menguning menunjukkan kadar korofil berkurang. Hal ini akan menurunkan
laju fotosintesis. Untuk membuat pigmen klorofil tumbuhan memerlukan unsur Besi (Fe),
Magnesium (Mg) dan Nitrogen (N).
6. Kadar Fotosintat (hasil fotosintesis)
Jika kadar fotosintat seperti gula berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar
fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan berkurang.
7. Tahap pertumbuhan
Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang
sedang berkecambah ketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan
berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.

Proses fotosintesis
Pada tumbuhan, organ utama tempat berlangsungnya fotosintesis adalah daun. Namun
secara umum, semua sel yang memiliki kloroplas berpotensi untuk melangsungkan reaksi ini.
Di organel inilah tempat berlangsungnya fotosintesis, tepatnya pada bagian stroma. Hasil
fotosintesis (disebut fotosintat) biasanya dikirim ke jaringan-jaringan terdekat terlebih
dahulu. Pada dasarnya, rangkaian reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi dua bagian utama:
reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi
memerlukan karbon dioksida).
Reaksi Terang
Reaksi terang adalah proses untuk menghasilkan ATP dan reduksi NADPH2. Reaksi
ini

memerlukan

molekul air.

penangkapan foton oleh pigmen sebagai antena.

Proses
Pigmen

diawali
klorofil

menyerap

dengan
lebih

banyak cahaya terlihat pada warna biru (400-450 nanometer) dan merah (650-700 nanometer)
dibandingkan hijau (500-600 nanometer). Cahaya hijau ini akan dipantulkan dan ditangkap
oleh mata kita sehingga menimbulkan sensasi bahwa daun berwarna hijau. Fotosintesis akan
menghasilkan lebih banyak energi pada gelombang cahaya dengan panjang tertentu. Hal ini
karena panjang gelombang yang pendek menyimpan lebih banyak energi. Di dalam daun,
cahaya akan diserap oleh molekul klorofil untuk dikumpulkan pada pusat-pusat reaksi.
Tumbuhan memiliki dua jenis pigmen yang berfungsi aktif sebagai pusat reaksi atau
fotosistem yaitu fotosistem II dan fotosistem I. Fotosistem II terdiri dari molekul klorofil
yang menyerap cahaya dengan panjang gelombang 680 nanometer, sedangkan fotosistem I

700 nanometer. Kedua fotosistem ini akan bekerja secara simultan dalam fotosintesis, seperti
dua baterai dalam senter yang bekerja saling memperkuat. Fotosintesis dimulai ketika cahaya
mengionisasi molekul klorofil pada fotosistem II, membuatnya melepaskan elektron yang
akan ditransfer sepanjang rantai transpor elektron. Energi dari elektron ini digunakan untuk
fotofosforilasi yang menghasilkan ATP, satuan pertukaran energi dalam sel. Reaksi ini
menyebabkan fotosistem II mengalami defisit atau kekurangan elektron yang harus segera
diganti. Pada tumbuhan dan alga, kekurangan elektron ini dipenuhi oleh elektron dari hasil
ionisasi air yang terjadi bersamaan dengan ionisasi klorofil. Hasil ionisasi air ini adalah
elektron dan oksigen. Oksigen dari proses fotosintesis hanya dihasilkan dari air, bukan dari
karbon dioksida. Pendapat ini pertama kali diungkapkan oleh C.B. van Neil yang
mempelajari bakteri fotosintetik pada tahun 1930-an. Bakteri fotosintetik, selain sianobakteri,
menggunakan tidak menghasilkan oksigen karena menggunakan ionisasi sulfida atau
hidrogen. Pada saat yang sama dengan ionisasi fotosistem II, cahaya juga mengionisasi
fotosistem I, melepaskan elektron yang ditransfer sepanjang rantai transpor elektron yang
akhirnya mereduksi NADP menjadi NADPH.

Gambar 2. Reaksi Terang


(Sumber: Campbell 1999)
Reaksi Gelap
Reaksi gelap adalah proses yang tidak langsung bergantung pada cahaya. Reaksi
gelap terjadi pada bagian stroma kloroplas. Pada bagian
perangkat

untuk

tersebut

terdapat

seluruh

reaksi penyusun zat gula. Reaksi tersebut memanfaatkan zat berenergi

tinggi yang di hasilkan pada reaksi terang. Reaksi penyusunan tersebut tidak lagi langsung
bergantung pada keberadaan cahaya, walaupun prosesnya berlangsung bersamaan dengan
proses reaksi cahaya.
Reaksi gelap dapat terjadi karena adanya enzim fotosintesis. Sesuai dengan nama

penemunya, yaitu Benson dan Calvin, daur reaksi penyusunan zat gula itu di sebut daur
Benson-Calvin. Reaksi gelap berlangsung di dalam stroma kloroplas, serta mengkonversi
CO2 untuk gula. Reaksi ini tidak membutuhkan cahaya secara langsung, tetapi itu sangat
membutuhkan produk- produk dari reaksi terang (ATP dan bahan kimia lain yang disebut
NADPH). Reaksi gelap melibatkan suatu siklus yang disebut siklus Calvin dimana CO2 dan
energi dari ATP digunakan untuk membentuk gula.

Sebenarnya,

produk

pertama

fotosintesis adalah tiga- karbon senyawa yang disebut gliseraldehida 3-fosfat. Setelah itu,
dua di antaranya bergabung untuk membentuk sebuah molekul glukosa.
Hasil awal fotosintesis adalah berupa zat gula sederhana yang di sebut glukosa
(C6H12O6). Selanjutnya, sebagian akan di ubah menjadi zat tepung (pati/amilum) yang di
timbun di daun atau penimbunan yang lain.

Gambar 3. Reaksi Gelap


(Sumber: Ida Rianawaty 2009)
Hasil Akhir Fotosintesis
Hasil akhir fotosintesis adalah gula sederhana. Senyawa ini perlu diubah menjadi gula
lain yang lebih kompleks (misalnya sukrosa) sebelum diangkut karena mudah bereaksi.
Melalui floem, sukrosa diangkut ke sel-sel daun yang tidak berfotosintesis, ke sel-sel batang
dan sel-sel akar untuk keperluan tumbuhan itu sendiri. Sisa sukrosa diubah menjadi gula,

protein dan lipid sebagai cadangan makanan. Cadangan makanan terutama disimpan dalam
akar dan batang, tetapi ada juga yang disimpan dalam daun. Hasil lain dari fotosintesis adalah
oksigen yang dilepas ke lingkungan melalui stomata yang digunakan oleh makhluk hidup lain
untuk bernafas.
Cabomba
Cabomba caroliniana adalah salah satu jenis tanaman air tenggelam yang termasuk ke
dalam famili Cabombaceae, biasa hidup di perairan mengalir, dan mampu hidup hingga
kedalaman 10 meter. Tanaman ini perlu diperhatikan karena memiliki pengaruh potensial
terhadap biodiversitas, fungsi dari lahan basah dan ekosistem, serta mempengaruhi kualitas
air (CANWSEC 2000). Tanaman ini berasal dari Brazil, Paraguay, Uruguay, dan Argentina
(Orgaard 1991 in Ding et al. 2005). Klasifikasi C. caroliniana menurut The PLANTS
Database (version 4.0.4) (1996), The PLANTS Database (version 5.1.1) (2000) in ITIS
(2011) adalah sebagai berikut.
Kingdom
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Plantae
: Magnoliopsida
: Nymphaeales
: Cabombaceae
: Cabomba
: Cabomba caroliniana

Hydrilla
Hydrilla adalah tumbuhan spermatophyta yang hidup di air, sehingga ia memiliki
bentuk adaptasi yang berbeda dengan spermatophyta darat. Dinding selnya tebal untuk
mencegah osmosis air yang dapat menyebabkan lisisnya sel. Sel hydrilla berbentuk segiempat
beraturan yang tersusun seperti batu bata. Memiliki kloroplas dan klorofil yangterdapat di
dalamnya. Pada daun hydrilla, dapat pula diamati proses aliran sitoplasma,yaitu pada bagian
sel-sel penyusun ibu tulang daun yang memanjang di tengah-tengahdaun. Pada hydrilla juga
terdapat trikoma yang berfungsi untuk mencegah penguapanyang berlebih. Klasifikasi
Hydrilla sebagai berikut :
Kingdom
Divisi
Subdivisi
Class
Sub class
Ordo
Family

: Plantae
: Magnoliophyta
: Angiospermae
: Liliopsida
: Alismatidae
: Hydrocharitales
: Hydrocharitaceae

Genus
Spesies

: Hydrilla
: Hydrilla verticillata

Amazon
Amazon sword merupakan tanaman kompak, dengan daun-daun lebar dan tajam.
Jenis tanaman Echinodorus adalah tanaman air yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi.
Amazon sword sering disebut tanaman anti-algae. Julukan ini dikarenakan tanaman ini
mampu memakan unsur-unsur hara dalam jumlah besar, sehingga akan dapat bersaing
dengan algae.

METODOLOGI
Praktikum dilaksanakan pada Hari Senin, 21 Oktober pukul 10.00 12.00 WIB di
Laboratorium Fisiologi Hewan Air, Gedung 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran.
Alat-alat yang digunakan pada praktikum fotosintesis antara lain: botol kaca
transparan dan gelap berfungsi sebagai tempat penyimpanan tanaman air; kantong plastik
sebagai penutup botol; DO meter berfungsi mengukur DO awal dan akhir.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum fotosintesis antara lain: Tumbuhan air
(Amazon, Hydrilla, dan Cabomba) sebagai sampel untuk proses fotosintesis dan air bersih
sebagai media untuk proses fotosintesis.
Prosedur kerja yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
Disiapkan tiga botol yang akan digunakan (botol gelap, botol bening, dan botol
bening dengan penutup plastik)

Botol diisi dengan air yang telah diukur DO awalnya sebesar 4,94 mg/L

Dipotong tanaman air sepanjang 10 cm dan dimasukkan ke dalam botol

Ditutup botol hingga rapat dan diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari
langsung, dicatat waktu peletakkannya

Didiamkan selama 20, 30, 40, dan 50 menit. Dicatat hasil dan waktu akhir
pengamatan

Diukur DO akhir dengan DO meter dan dicatat dalam tabel pengamatan

Dihitung perubahan nilai kadar oksigen dan dikoreksi menggunakan nilai data KO
control untuk nilai yang didapat

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil pengamatan dari data pengamatan semua kelompok tahun angkatan 2015
disajikan pada tabel berikut :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Angkatan 2015
KLS

KEL

SAMPEL

PERLAKUAN

LAMA

WAKTU

HASIL

PENYINARAN

PENGUKURAN DO
AWAL

KONTROL

CABOMBA

AWAL

AKHIR

DO

4,94

5,58

0,64

BT

4,94

5,50

0,56

BTP

4,94

5,30

0,36

4,94

5,94

1,00

BT

4,94

6,03

1,09

BTP

4,94

5,51

1,57

4,94

5,88

0,94

BT

4,94

6,01

1,07

BTP

4,94

5,53

0,69

4,94

5,82

0,88

BT

4,94

5,67

0.73

BTP

4,94

5,51

0.57

4,94

BT

4,94

5,23

0,29

BTP

4,94

5,54

0,60

4,94

6,02

1,08

BT

4,94

6,06

1,12

BTP

4,94

5,87

0,92

4,94

5,71

0,77

BG

BG

HYDRILLA

11

BG

BG

B
4

DO

BG

10

DO

BG

AMAZON

BG

20

40

20

40

20

40

20

10.37

10.55

10.44

10.46

10.41

10.43

10.46

AKHIR
10.57

11.35

11.04

11.26

11.01

11.23

11.06

12

13

CABOMBA

BTP

4,94

5,63

0,69

4,94

5,64

0,70

BT

4,94

5,48

0,54

BTP

4,94

5,47

0,53

4,94

5,79

0,85

BT

4,94

5,78

0,84

BTP

4,94

5,79

0,85

4,94

6,01

1,10

BT

4,94

5,97

1,03

BTP

4,94

5,91

0,97

4,94

6,22

1,28

BT

4,94

6,18

1,24

BTP

4,94

6,21

1,27

4,94

6,25

1,31

BT

4,94

6,21

1,27

BTP

4,94

5,54

0,60

4,94

6,41

1,47

BT

4,94

6,27

1,33

BTP

4,94

6,21

1,27

4,94

6,57

1,63

BT

4,94

7,55

2,61

BTP

4,94

5,46

0,52

4,94

5,72

0,78

BT

4,94

5,53

0,59

BTP

4,94

5,48

0,54

4,94

5,68

0,74

BT

4,94

5,61

0.67

BTP

4,94

4,64

0,70

4,94

5,60

0,66

4,94

5,78

0,84

4,94

5,74

0,80

4,94

5,68

0,77

BT

4,94

5,61

0,74

BTP

4,94

5,48

0,54

4,94

5,57

0,63

BT

4,94

5,34

0,40

BTP

4,94

5,52

0,58

4,94

5,51

0,57

BT

4,94

5,51

0,57

BTP

4,94

5,48

0,54

4,94

5,75

0,81

4,94

5,65

0,71

BG

BG

HYDRILLA

15

BG

BG

AMAZON

16

0,71

BG

14

5,65

BG
KONTROL

4,94

BG

BT

BG

BG

KONTROL

BG

40

30

50

30

50

30

50

30

50

20

10.45

10.42

10.5

10.43

10.45

10.45

10.43

10.55

10.5

15.18

11.25

11.12

11.4

11.13

11.35

11.15

11.33

11.25

11.4

15.38

BT
BTP
9

BG

CABOMBA

10

BG

BG

HYDRILLA

BG
BT

40

20

40

20

15.1

15.1

15.18

15.15

15.15

15.3

15.58

15.35

BTP
11

AMAZON

12

KONTROL

CABOMBA

HYDRILLA

AMAZON

BT

4,94

5,51

0,57

BTP

4,94

5,40

0,56

4,94

5,45

0,51

BT

4,94

5,68

0,74

BTP

4,94

5,32

0,38

4,94

5,39

0,45

BT

4,94

5,44

0,50

BTP

4,94

5,48

0,50

4,94

5,45

0,51

BT

4,94

5,68

0,74

BTP

4,94

5,31

0,38

4,94

5,39

0,45

BT

4,94

5,35

0,41

BTP

4,94

5,23

0,29

4,94

5,70

0,76

BT

4,94

5,75

0,81

BTP

4,94

5,71

0,77

4,94

5,60

0,66

BT

4,94

5,58

0,64

BTP

4,94

5,54

0,60

4,94

5,64

0,70

BT

4,94

5,78

0,84

BTP

4,94

5,54

0,60

BG

BG

BG

BG

KONTROL

20

40

30

50

30

50

30

15.2

15.15

15.22

15.18

15.2

15.15

15.15

15.4

15.55

15.52

16.08

15.5

16.05

15.45

5,51

0,57

5,60

0,66

BTP

4,94

5,40

0,46

4,94

5,68

0,74

BT

4,94

5,63

0,69

BTP

4,94

5,57

0,63

4,94

5,54

0,60

BT

4,94

5,45

0,51

BTP

4,94

5,47

0,53

BG

30

50

15.15

15.2

15.45

16.1

4,94

5,52

0,58

4,94

5,70

0,76

BTP

4,94

5,60

0,66

4,94

5,64

0,70

BT

4,94

5,35

0,61

BTP

4,94

5,33

0,39

4,94

5,72

0,78

BT

4,94

5,26

0,32

BTP

4,94

5,53

0,59

40

20

13.25

16.05

BT

BG

20

15.15

15.55

4,94

BG

50

15.15

4,94

BG

CABOMBA

40

BT

BG

0,46

BG

16

5,40

BG

15

4,94

BG

14

0,81

BG

13

5,75

BG

A
4

4,94

13.22

13.26

13.45

14.02

13.46

10

BG

C
3

HYDRILLA

11

AMAZON

KONTROL

CABOMBA

HYDRILLA

5,46

0,52

BTP

4,94

5,50

0,56

4,94

5,73

0,79

BT

4,94

5,61

0,67

BTP

4,94

5,66

0,66

4,94

5,42

0,08

BT

4,94

5,60

0,66

BTP

4,94

5,64

0,70

4,94

4,99

0,05

BT

4,94

5,75

0,81

BTP

4,94

5,68

0,74

4,94

5,51

0,57

BT

4,94

5,53

0,59

BTP

4,94

5,46

0,52

4,94

5,80

0,86

BT

4,94

5,76

0,82

BTP

4,94

5,76

0,82

4,94

5,45

0,50

BT

4,94

5,46

0,52

BTP

4,94

5,30

0,36

4,94

5,53

0,59

BT

4,94

5,60

0,66

BTP

4,94

5,66

0,72

4,94

5,55

0,61

BT

4,94

5,63

0,69

BTP

4,94

5,28

0,34

4,94

5,55

-0,61

BT

4,94

5,84

-0,19

BTP

4,94

5,36

-0,62

4,94

5,63

0,69

BT

4,94

5,47

0,53

BTP

4,94

5,25

0,31

4,94

5,02

0,08

BT

4,94

5,42

0,48

BTP

4,94

5,03

0,09

4,94

5,24

0,28

BG

BG

BG

BG

BG

AMAZON

16

4,94

BG

15

BT

BG

14

0,54

BG

13

5,48

BG

12

4,94

BG

20

40

20

40

30

50

30

50

30

50

13.22

13.23

13.25

13.24

13.25

13.23

13.23

13.25

13.25

13.24

13.32

14.02

13.43

14.05

13.44

14.05

13.53

14.13

13.55

14.15

13.54

14.22

4,94

BT

4,94

BTP

4,94

BG

BG

KONTROL

40

BG

30

50

20

13.26

13.32

8.58

13.56

14.22

9.1

BT

4,94

4,67

-0,27

BTP

4,94

5,21

0,25

4,94

5,14

0,2

BG

40

8.58

9.38

BT

4,94

5,40

0,46

BTP

4,94

5,09

0,31

4,94

5,42

0,53

BT

4,94

5,43

0,79

BTP

4,94

5,02

0,08

4,94

5,82

0,88

BT

4,94

5,00

1,50

BTP

4,94

5,27

0,73

4,94

5,96

BT

4,94

6,06

1,12

BTP

4,94

5,14

0,12

4,94

5,16

0,12

BT

4,94

5,14

0,10

BTP

4,94

4,96

0,02

4,94

5,55

0,61

BT

4,94

5,36

0,42

BTP

4,94

5,25

0,31

4,94

5,32

0,38

BT

4,94

5,16

0,22

BTP

4,94

5,25

0,31

4,94

5,82

0,88

4,94

5,73

0,79

4,94

5,45

0,51

4,94

5,87

0,93

BT

4,94

5,92

0,98

BTP

4,94

5,67

0,73

4,94

5,43

0,49

BT

4,94

5,35

0,41

BTP

4,94

5,72

0,77

4,94

5,03

0,09

BT

4,94

5,26

0,52

BTP

4,94

5,23

0,29

4,94

5,98

1,04

4,94

5,94

CABOMBA

N
10

BG

HYDRILLA

11

AMAZON

13

8.54

9.24

9.34

4,94

BG

BG

20

40

20

40

8.59

9.04

9.02

9.19

9.44

9.22

9.4

4,94

BTP

4,94

BG

BG

30

50

30

9.05

8.55

8.54

9.35

9.45

9.24

BTP
BG

HYDRILLA

BG

BG
15
AMAZON
8

50

30

50

9.05

9.55

9.3

9.5

4,94

BT

4,94

BTP

4,94

BG

BG
16

4,94

BT

BT

14

4,94

BTP

BG

CABOMBA

40

9.04

4,94

BG

KONTROL

20

BT

BG

12

BG

BT

30

50

8.58

9.3

9.48

BTP

4,94

5,81

Praktikum fotosintesis menggunakan tiga jenis tanaman air yaitu hydrilla, cabomba,
dan amazon. Pertama-tama disiapkan botol bening, botol gelap, dan botol bening yang
ditutup plastik. Botol-botol tersebut diisi air yang telah diukur DOnya menggunakan DO
meter yaitu sebesar 4,94 mg/L dengan perlahan-lahan agar DO air di dalam botol tidak
bertambah akibat adanya gelembung-gelembung oksigen saat air dimasukkan ke botol. Botol
yang telah diisi air kemudian dimasukkan tanaman air yang telah disediakan pada masingmasing botol sesuai kelompok. Ketiga tanaman ini diberi perlakuan berbeda-beda dalam
pemberian cahaya matahari yaitu 20 menit, 30 menit, 40 menit, dan 50 menit. Selain
dimasukkan tanaman, ada botol yang diberi perlakuan control yaitu tidak dimasukkan
tanaman namun diberi perlakuan yang sama. Botol-botol tersebut kemudian diletakkan di
tempat terbuka yang terkena cahaya matahari langsung dan ditunggu hingga waktu perlakuan
berakhir. Botol tersebut kemudian diukur DO akhirnya menggunakan DO meter dan ihitung
selisih antara DO akhir dan DO awal. Hasil tersebut kemudian dicatat di tabel hasil
pengamatan. Setiap kelas memiliki waktu pengamatan yang berbeda-beda, Kelas B
melakukan perlakuan pada pukul 10.00 12.00, kelas A melakukan perlakuan pada pukul
15.00 16.00, kelas C melakukan perlakuan pada pukul 13.00 14.00, sedangkan kelas
Kelautan melakukan perlakuan pada pukul 08.00 10.00 WIB. Hal ini menyebabkan hasil
DO akhir yang berbeda pula.
Perlakuan kontrol adalah perlakuan botol terang, botol gelap, dan botol tertutup
plastik tidak dimasukkan tanaman dan diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari
kemudian diukur DO akhir setelah ditunggu dengan waktu yang ditentukan oleh setiap
kelompoknya. Perlakuan kontrol dilakukan oleh semua kelas dari kelompok 1 (20 menit),
kelompok 9 (40 menit), kelompok 5 (30 menit), dan kelompok 13 (50 menit). Kelas B
memperoleh DO akhir terbesar pada botol terang yaitu 6,03 mg/L sedangakn DO akhir
terkecil pada botol tertutup plastik yaitu 5,30 mg/L. Kelas A memperoleh DO akhir terbesar
5,78 mg/L pada botol terang dan DO akhir terkecil pada botol tertutup plastik sebesar 5,31
mg/L. Kelas C memperoleh DO akhir terbesar pada botol gelap sebesar 5,80 mg/L dan DO
akhir terkecil pada botol tertutup plastik sebesar 5,30mg/L. Kelas Kelautan memperoleh DO
akhir terbesar pada botol gelap yaitu 5,55 mg/L dan DO akhir terkecil pada botol tertutup
plastik 5,09 mg/L.

0,87

Hal ini menunjukkan bahwa botol gelap dan botol tertutup plastik memiliki DO akhir
yang lebih besar dibanding botol terang karena botol terang terkena sinar matahari secara
langsung sehingga terkena radiasi panas matahari yang lebih besar sehingga oksigen terlarut
di dalamnya lebih sedikit. Ketika suhu air meningkat, maka molekul-molekul air tsbt akan
meregang (hubungkan dengan konsep pemuaian). Dengan kondisi molekul yg makin
meregang, maka makin mudah oksigen (gas) yg terlarut untuk lepas kembali ke udara bebas.
Namun pada kelas B dan kelas A terdapat hasil yang berkebalikan, hal ini dapat disebabkan
karena pada saat memasukkan air ke dalam botol terdapat gelembung-gelembung gas
sehingga terjadi penambahan kelarutan oksigen dan pada kelas A penyinaran berlangsung
dengan menggunakan cahaya lampu sehingga penyinaran tidak maksimal dan transfer panas
tidak sebesar energi matahari maka pada botol terang oksigen yang terlarut lebih besar.
Perlakuan dimana tanaman cabomba dimasukkan ke dalam botol terang, botol gelap,
dan botol tertutup plastik kemudian diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari
langsung. Kelompok yang melakukan perlakuan ini adalah kelompok 2 (20 menit), kelompok
10 (40 menit), kelompok 6 (30 menit), dan kelompok 14 (50 menit). Kelas B mendapat hasil
DO akhir terbesar pada botol gelap yaitu 6,22 mg/L dan DO akhir terkecil pada botol tertutup
plastik yaitu 5,51 mg/L. Kelas A memperoleh DO akhir terbesar pada botol terang yaitu 5,75
mg/L dan DO akhir terkecil pada botol tertutup plastik yaitu 5,23 mg/L. Kelas C memperoleh
DO akhir terbesar pada botol gelap sebesar 5,72 mg/L dan terkecil pada botol tertutup plastik
sebesar 5,26 mg/L. Kelas Kelautan memperoleh DO akhir terbesar pada botol terang yaitu
5,92 mg/L dan DO akhir terkecil pada botol tertutup plastik sebesar 5,02 mg/L.
Hal ini menunjukkan bahwa DO akhir terbesar terdapat pada botol terang dan DO
akhir terkecil pada botol tertutup plastik. Namun, Hasil kelas B dan C didapatkan DO akhir
terbesar pada botol gelap. Hal ini dapat disebabkan karena adanya penambahan oksigen
terlarut saat dimasukkannya air atau ketidakrapatan penutup botol sehingga masih dapat
tercampur dengan oksigen dari luar.
Perlakuan dimana tanaman hydrilla dimasukkan ke dalam botol terang, botol gelap,
dan botol tertutup plastik kemudian diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari
langsung. Kelompok yang melakukan perlakuan ini adalah kelompok 3 (20 menit), kelompok
11 (40 menit), kelompok 7 (30 menit), dan kelompok 15 (50 menit). Kelas B mendapat hasil
DO akhir terbesar pada botol gelap yaitu 6,57 mg/L dan DO akhir terkecil pada botol terang
yaitu 5,23 mg/L. Kelas A memperoleh DO akhir terbesar pada botol terang yaitu 5,80 mg/L
dan DO akhir terkecil pada botol tertutup plastik yaitu 5,40 mg/L. Kelas C memperoleh DO
akhir terbesar pada botol terang sebesar 5,84 mg/L dan terkecil pada botol tertutup plastik

sebesar 5,36 mg/L. Kelas Kelautan memperoleh DO akhir terbesar pada botol terang yaitu
6,06 mg/L dan DO akhir terkecil pada botol tertutup plastik sebesar 5,00 mg/L. Hal ini
membuktikan bahwa oksigen terlarut yang dihasilkan fotosintesis tanaman dalam botol terang
lebih besar dibanding oksigen terlarut hasil fotosintesis dalam botol tertutup plastik karena
cahaya matahari yang diterima lebih besar.
Perlakuan dimana tanaman amazon dimasukkan ke dalam botol terang, botol gelap,
dan botol tertutup plastik kemudian diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari
langsung. Kelompok yang melakukan perlakuan ini adalah kelompok kami yaitu kelompok 8
(30 menit), selain itu kelompok 4 (20 menit), kelompok 12 (40 menit), dan kelompok 16 (50
menit). Kelas B mendapat hasil DO akhir terbesar pada botol terang yaitu 7,55 mg/L dan DO
akhir terkecil pada botol tertutup plastik yaitu 5,46 mg/L. Kelas A memperoleh DO akhir
terbesar pada botol terang yaitu 5,68 mg/L dan DO akhir terkecil pada botol tertutup plastik
yaitu 5,32 mg/L. Kelas C memperoleh DO akhir terbesar pada botol terang sebesar 5,75 mg/L
dan terkecil pada gelap sebesar 4,99 mg/L. Kelas Kelautan memperoleh DO akhir terbesar
pada botol terang yaitu 5,98 mg/L dan DO akhir terkecil pada botol tertutup plastik sebesar
4,96 mg/L. Hal ini membuktikan oksigen yang dihasilkan fotosintesis tanaman amazon dalam
botol terang lebih besar dibanding dalam botol tertutup plastik atau botol gelap karena
mendapat cahaya matahari yang lebih banyak.
Perolehan oksigen paling besar pada fotosintesis tanaman Cabomba didapat pada
botol gelap yang diberi penyinaran selama 30 menit saat pukul 10.43 11.13 yaitu sebesar
6,22 mg/L dan DO akhir terkecil pada penyinaran selama 20 menit pukul 09.04 09.24
sebesar 5,02 mg/L. Perolehan oksigen paling besar pada fotosintesis tanaman Hydrilla
didapat pada botol gelap yang diberi penyinaran selama 30 menit saat pukul 10.43 11.33
yaitu sebesar 6,57 mg/L dan DO akhir terkecil pada penyinaran selama 20 menit pukul 8.59
9.19 sebesar 5,00 mg/L. Hal ini dapat disebabkan karena tanaman tersebut mengalami
fotosintesis reaksi gelap dimana tidak mendapat cahaya matahari namun masih bisa
melakukan fotosintesis dengan hasil yang diperoleh dari reaksi terang ketika masih mendapat
cahaya matahari.
Perolehan oksigen paling besar pada fotosintesis tanaman Amazon didapat pada botol
terang yang diberi penyinaran selama 30 menit saat pukul 10.55 11.25 yaitu sebesar 5,72
mg/L dan DO akhir terkecil pada penyinaran selama 20 menit pukul 09.02 09.22 sebesar
4,96 mg/L. Sinar matahari yang maksimal dapat menghasilkan tanaman berfotosintesis lebih
cepat sehingga oksigen yang terlarut dalam media menjadi lebih besar, sedangkan pada pagi
menjelang siang sinar matahari belum optimal sehingga proses fotosintesis masih lambat dan
tidak menghasilkan oksigen yang banyak.

Data di atas menunjukkan bahwa hasil DO akhir dipengaruhi oleh jumlah sinar
matahari yang didapat dari setiap perlakuan. Semakin besar DO akhirnya atau delta DO nya
maka oksigen yang diperoleh saat fotosintesis semakin besar. Hal ini ditunjukkan oleh hasil
kelas B dan C yang dilakukan saat sinar matahari diterima secara optimal oleh botol
perlakuan, sedangkan pada kelas A yang menggunakan cahaya lampu dan kelas kelautan
yang disinari pada pagi hari tidak cukup maksimal dalam hasil oksigen terlarut yang
dihasilkan.
Oksigen terlarut pada botol terang lebih besar daripada botol gelap atau botol tertutup
plastik karena terkena langsung dengan sinar matahari sehingga akan mempercepat laju
oksigen yang dihasilkan pada proses fotosintesis. Oksigen terlarut pada botol tertutup plastik
memiliki jumlah yang paling sedikit karena sama sekali tidak mendapat pasokan sinar
matahari untuk melakukan fotosintesis, sedangkan pada botol gelap sinar matahari masih bisa
menembus ke dalam sehingga hanya menghambat proses fotosintesis.
KESIMPULAN
Praktikum fotosintesis ini bertujuan menghitung kadar oksigen terlarut untuk
mengetahui faktor yang mempengaruhi kecepatan fotosintesis. Kadar oksigen terlarut
dipengaruhi oleh kualitas cahaya yang didapat baik berupa cahaya ataupun energi panasnya.
Kualitas cahaya yang optimum adalah sinar matahari langsung tepatnya pada pukul 10.00
14.00 WIB. Semakin baik kualitas cahaya maka kecepatan fotosintesis akan semakin cepat
dan kelarutan oksigen yang dihasilkan akan semakin besar. Hasil dari DO akhir berbanding
lurus dengan Delta DO. Semakin tinggi nilai DO akhir maka semakin tinggi nilai Delta DO.
DAFTAR PUSTAKA
Campbell dan Reece. 2002 Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Campbell, Neil A, dkk. 2003. Biologi Jilid I. Jakarta:Erlangga
Darmawan dan Baharsjah. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT Gramedia.
Day, R.A. Jr and, A. L. Underwood. 1998. Analisis Kimia Kualitatif. Edisi Revisi
Terjemahan. R.Soendoro dkk. Erlangga: Jakarta.
Dwidjoseputro, D. 1978.Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Penerbit Gramedia
Dwijoseputro, D. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Jakarta : Gramedia.

Ngili,Yohanis.2010. Biokimia Dasar. Bandung:Rekayasa Sains


Poedjiadi, Ana dkk. 2005. Dasar-Dasar Biokimia.Depok:Universitas Indonesia Press.
Rianawaty, Ida. 2009. Fotosintesis. Tidak diterbitkan
Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah 2009. Biologi. Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Tim Dosen Fisiologi Tumbuhan. 2010. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Bandung :
UPI.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Alat yang digunakan praktikum

Botol Gelap

Botol Plastik Hitam

Botol Terang

DO meter

Lampiran 2. Bahan Praktikum

Amazon Sp

Cabomba Sp

Hydrilla Sp

Lampiran 3. Kegiatan Praktikum

Ketiga botol sudah diisi air

Ketiga botol dijemur 30 menit

Mengukur DO Akhir