Anda di halaman 1dari 19

Modul Auditing II

Audit Siklus Pendapat : Pengujian Pengendalian dan


Pengauditan siklus penjualan dan pengumpulan piutang

Dosen Pengajar: Drs. Muh Ashari, M.SA


Disusun Oleh :
Hamka Ridwan (4)
A31115747

UNHAS STAR BPKP BATCH II


TAHUN 2015 / 2016

I.

Tinjauan Mata Kuliah


1. Deskripsi Mata Kuliah
Mata Kuliah pengauditan II merupakan lanjutan dari pengauditan I
yang membahas cara melakukan audit terhadap laporan keuangan,
membuat laporan hasil audit dan macam-macam jasa yang bisa diberikan
oleh Akuntan Publik
Sebelum mempelajari mata kuliah ini, mahasiswa harus sudah
memahami konsep-konsep terkait dengan audit yang dibahas dalam
pengauditan I meliputi : Pengertian auditing, Profesi akuntan publik, Etika
profesional, Standar auditing, Audit laporan keuangan, Perencanaan audit,
Materialitas, resiko audit, strategi audit, tujuan audit, macam-macam bukti
audit, kertas kerja audit, pemahaman terhadap struktur pengendalian
intern, pengujian pengendalian, pengujian sustantif dan sampling audit.

2. Kegunaan Mata Kuliah


a. Mampu melaksanakan dan menerapkan proses pengauditan
berdasarkan siklus akuntansi perusahaan
b. Mampu melaksanakan dan memahami pengauditan berbasis resiko
(ISA)
c. Mampu menilai, mendeteksi dan merespon resiko kecurangan yang
terjadi
d. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi
dalam melaksanakan audit.

3. Sasaran Belajar
a. Melaksanakan Pengauditan siklus atas penjualan dan pengumpulan
piutang
b. Melaksanakan sampling audit untuk pengendalian substantif transaksi
c. Merancang penyelesaiaan pengujian dalam siklus penjualan dan
piutang
d. Melaksanakan sampling audit untuk pengujian rinci terhadap saldo
e. Melaksanakan pengauditan siklus pembelian dan pembayaran
f. Melaksanakan penyelesaian pengujian dalam siklus pembelian dan
g.
h.
i.
j.
k.

pembayaran
Melaksanakan pengauditan siklus persedian dan pergudangan
Melaksanakan pengauditan siklus penggajian dan personalia
Melaksanakan pengauditan siklus investasi dan pendanaan
Melaksanakan pengauditan kas dan instrument keuangan lainnya
Menyelesaikan audit atas laporan keuangan.

4. Urutan Penyajian
Modu
l

Sasaran Pembelajaran

Materi

Strategi

Pembelajaran

Pembelajaran

Kriteria Penialaian

Mampu Memahami Sifat

Audit Siklus

Collaborative

Pendapatan
Mampu Memahami

Pendapatan :

Learning (CL)
pendapatan
Diskusi
Dapat Menjelaskan

Aktivitas Pengendalian

Pengujian
Pengendalian

Transaksi Penjualan
Kredit
Mampu Memahami
Aktivitas Pengendalian
Transaksi Penerimaan
Kas
Mampu Memahami

Kelompok
Kuliah

Dapat menjelaskan sifat

aktivitas pengendalian
transaksi penjualan
kredit
Dapat menjelaskan

Pengauditan
siklus

aktivitas pengendalian

penjualan dan

transaksi

pengumpulan

peneriamaan kas
Dapat menjelaskan

piutang

Aktivitas Pengendalian
Mampu memahami

aktivitas pengendalian
Dapat menjelaskan

transaksi penyesuaian

transaksi penyesuaian

penjualan

penjualan

Mampu memahami
pengujian substantive
atau piutang usaha
Mampu memahami

Audit siklus

Collaborative

pendapatan :

Learning (CL)
Diskusi

Pengujian
Substantif

penentuan resiko
deteksi
Mampu memahami
perancangan pengujian
substantive
Mampu memahami
prosedur awal dan
analitis
Mampu memahami
pengujian rincian
transaksi
Mampu memahami

Pengujian
pengendalian
siklus
pendapatan
dan pengujian
substantive
transaksi

Kelompok
Kuliah

Dapat menjelaskan
pengujian substantive
atau piutang usaha
Dapat menjelaskan
penentuan resiko
deteksi
Dapat menjelaskan
perancangan
pengujian substantive
Dapat menjelaskan
prosedur awal dan
analitis
Pengujian transaksi
Dapat menjelaskan
pengujian rincian
saldo

pengujian rincian saldo


2

Mampu memahami sifat

Audit siklus

Collaborative

siklus pengeluaran
Mampu memahami

pengeluaran :

Learning (CL)
siklus pengeluaran
Diskusi
Dapat menjelaskan

komponen
pengendalian intern
Mampu memahami
aktifitas pengendalian
transaksi pembelian
Mampu memahami

Pengujian
pengendalian

Kelompok
Kuliah

Audit siklus

Dapat menjelaskan sifat

komponen
pengendalian intern
Dapat menjelaskan
aktifitas pengendalian

pembelian dan

transaksi pembelian
Dapat menjelaskan

pembayaran

aktifitas pengendalian

aktifitas pengendalian

transaksi pengeluaran

transaksi pengeluaran

kas
Mampu memahami
pengujian substansi
atas saldo utang usaha
Mampu memahami
penentuan risiko
deteksi
Mampu memahami
perancangan pengujian
subtansi
Mampu memahami
prosedur awal
Mampu memahami
prosedur analisis
Mampu memahami

Audit Siklus

Collaborative

Pengeluaran

Learning (CL)
Diskusi

substantive
Penyelesaian

Kelompok
Kuliah

kas
Dapat menjelaskan
pengujian subtansi
atas saldo utang
usaha
Dapat menjelaskan
penentuan risiko

pengujian

deteksi
Dapat menjelaskan

dalam siklus
pembelian dan

perancangan

pembayaran,

pengujian subtansi
Dapat menjelaskan

pengujian
substantive

prosedur awal
Dapat menjelaskan

transaksi

prosedur analisis
Dapat menjelaskan

pengujian rincian
transaksi
Mampu memahami

pengujian rincian
transaksi
Dapat menjelaskan

pengujian rincian saldo

pengujian rincian
5

saldo
Dapat menjelaskan sifat

Mampu memahami sifat

Audit siklus

Collaborative

siklus produksi
Mampu memahami

produksi

Learning (CL)
siklus produksi
Diskusi
Dapat menjelaskan

Audit siklus

Kelompok
Kuliah

aktivitas pengendalian

aktivitas pengendalian
3

transaksi pabrikasi
Mampu memahami

persedian dan

transaksi pabrikasi
Dapat menjelaskan

pergudangan

pengujian substansi
6

atas saldo persediaan


Mampu memahami sifat

pengujian substansi
atas saldo persediaan
Dapat menjelaskan sifat

Audit siklus

Collaborative

siklus jasa personalia


Mampu memahami tujuan

jasa personalia

Learning (CL)
siklus jasa personalia
Diskusi
Dapat menjelaskan

audit jasa personalia


Mampu memahami

Audit siklus

Kelompok
Kuliah

aktivitas pengendalian
transaksi penggajian
Mampu memahami

penggajian
dan personalia

pengujian substansi

tujuan audit jasa


personalia
Dapat menjelaskan
aktivitas pengendalian
transaksi penggajian
Dapat menjelaskan

atas saldo gaji dan

pengujian substansi

upah

atas saldo gaji dan


upah.

II.

Pendahuluan
1. Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai
a.
b.
c.
d.
e.

Mampu Memahami Sifat Pendapatan


Mampu Memahami Aktivitas Pengendalian Transaksi Penjualan Kredit
Mampu Memahami Aktivitas Pengendalian Transaksi Penerimaan Kas
Mampu Memahami Aktivitas Pengendalian
Mampu memahami transaksi penyesuaian penjualan

2. Ruang lingkup bahan modul


a. Secara khusus untuk mengetahui seberapa pentingnya audit siklus
pendapatan, permasalahan yang timbul dari audit siklus pendapatan,
dan system pengendalian intern yang dilakukan oleh perusahaan
tersebut,
b. Untuk menambah pengetahuan, pandangan mengenai audit siklus
pendapatan,
c. Sebagai tugas dalam mata kuliah Auditing 2

3. Manfaat mempelajari modul


Setelah mengikuti kuliah diharapkan mahasiswa mampu:
a. Dapat menjelaskan sifat pendapatan
4

b.
c.
d.
e.

Dapat Menjelaskan aktivitas pengendalian transaksi penjualan kredit


Dapat menjelaskan aktivitas pengendalian transaksi peneriamaan kas
Dapat menjelaskan aktivitas pengendalian
Dapat menjelaskan transaksi penyesuaian penjualan

4. Urutan pembahasan
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

III.

Sifat siklus pendapatan


Tujuan audit
Pemahaman Bisnis dan Industri Klien
Mempertimbangkan Komponen Pengendalian Internal
Aktivitas Pengendalian Transaksi Penjualan Kredit
Aktvitas Pengendalian Transaksi Penerimaan Kas
Aktivitas Pengendalian Transaksi Penyesuaian Penjualan

Materi Pembelajaran
A. Sifat Siklus Pendapatan
Siklus pendapatan (revenue cycle) perusahaan terdiri dari aktivitasaktivitas yang berkaitan dengan pertukaran barang dan jasa dengan
pelanggan dan penagihan pendapatan dalam bentuk kas. Perusahaan
yang berbeda juga memiliki sumber pendapatan yang berbeda. Sebagai
contoh, perusahaan barang dagang dan pabrikasi yang melakukan
penjualan; dokter, pengacara, akuntan publik yang menerima uang jasa
(fee); serta bioskop, bank serta lembaga keuangan yang menerima bunga
dan deviden. Kebanyakan pembahasan dan ilustrasi dalam makalah ini
didasarkan pada perusahaan barang dagang.
Usaha perusahaan barang dagang, kelompok transaksi yang
termasuk dalam siklus pendapatan adalah :
1. penjualan kredit (penjualan yang dilakukan derngan hutang)
2. penerimaan kas (penagihan piutang dan penjualan tunai)
3. penyesuaian penjualan (potongan, retur penjualan dan pengurangan
harga serta piutang tak tertagih (penyisipan dan pengapusan).
Transaksi-transaksi diatas mempengaruhi akun-akun yang diuraikan
pada tabel di bawah ini :

Transaksi Pendapatan
Penjualan Kredit

Debit
Piutang Usaha

Kredit
Penjualan

Penerimaan Kas

Harga Pokok Penjualan


Kas

Persediaan
Piutang Usaha

Diskon Penjualan

Retur Penjualan dan

Retur Penjualan dan

Piutang Usaha

Pengurangan Harga

Pengurangan Harga

Penyisihan Piutang Tak

Beban Piutang Tak Tertagih

Penyisihan untuk Piutang

Tertagih
Penghapusan Piutang Tak

Penyisihan untuk Piutang

Tak Tertagih
Piutang Usaha

Tertagih

Tak Tertagih

B. Tujuan Audit
Tujuan audit siklus pendapatan berkaitan dengan perolehan bukti
kompeten yang mencukupi tentang setiap asersi laporan keuangan yang
signifikan menyangkut saldo dan transaksi siklus pendapatan. Asersi
tersebut menunjukkan derajat asersi manajemen terhadap informasi
keuangan yang secara eksplisit dinyatakan dalam laporan keuangan.
Untuk mencapai setiap tujuan audit spesifik seperti yang diuraikan di Tabel
1.2 auditor dapat menggunakan bebagai bagian dari perencanaan audit
dan metodologi pengujian audit.
Tujuan Audit Siklus Pendapatan
a.

Memverifikasi bahwa saldo akun piutang usaha mewakili jumlah yang


benar-benar dipinjam perusahaan pada tanggal laporan posisi keuangan

Occurrence
(Keterjadian)

terkait.
b.

Memastikan bahwa pendapatan dari berbagai transaksi penjualan


mewakili barang yang dikirim dan jasa yang diberikan selama periode

a.
Completeness
(Kelengkapan)

tanggal laporan posisi keuangan telah tercermin dalam piutang usaha.


b.

(Akurasi)

Memverifikasi bahwa semua penjualan barang yang dikirim, semua jasa


yang diberikan, dan semua retur dan kompensasi untuk periode terkait,

a.
Accuracy

yang termasuk dalam laporan keuangan.


Menentukan bahwa semua jumlah yang dipinjam perusahaan pada

telah tercermin dalam laporan keuangan.


Memverifikasi bahwa transaksi pendapatan dihitung secara akurat dan
didasarkan pada harga terkini dengan jumlah yang benar.

b.

Memastikan

bahwa

buku

pembantu

piutang

usaha, file Faktur

Penjualan, dan filePemberitahuan Pengiriman Uang secara matematis


benar dan sesuai dengan akun terkait pada buku besar.
Menentukan bahwa perusahaan memiliki hak legal untuk mencatat

Rights and Obligations

piutang usaha yang dicatatnya. Akun pelanggan yang telah dijual atau

(Hak dan Kewajiban)

telah dipindahtangankan memang telah dikeluarkan dari saldo piutang


usaha.

a.
Valuation and Allocation

Menentukan bahwa saldo piutang usaha menyatakan nilai bersih yang


dapat direalisasikan.

(Penilaian dan alokasi)


b.
Presentation and Disclosure
(Penyajian dan Pengungkapan)

Memastikan bahwa alokasi atas akun piutang tak tertagih telah tepat.
Memverifikasi piutang usaha dan pendapatan yang dilaporkan untuk
periode terkait, telah dijelaskan dengan benar dan dimasukkan dalam
laporan keuangan.

C. Pemahaman Bisnis dan Industri Klien


Langkah pertama yang dilakukan adalah memperoleh pemahaman
bisnis dan industri klien dalam kaitannya dengan strategi audit, sehingga
akan membantu auditor dalam mengembangkan ekspektasi tentang:
Total pendapatan: memahami kapasitas klien, pasar dan pelanggan

klien.
Marjin kotor dengan memahami pangsa pasar (market share) dan

keunggulan kompetitif klien di pasar.


Piutang bersih berdasarkan periode penagihan rata2 untuk klien dan
industri.
Disamping

itu,

proses

menghasilkan

pendapatan

ini

juga

memerlukan beberapa beban (seperti, harga pokok penjualan atau beban


penjualan), sehingga pemahaman mengenai mengenai siklus pendapatan
dapat membantu mengembangkan ekspektasi pengeluaran perusahaan
yang berkaitan denagan siklus tran saksi lainya dan menilai resiko bahwa
laba yang mengandung salah saji yang material belum diaudit.
1. Materialitas Total pendapatan dijadikan ukuran yang materialitas
karena dapat menimbulkan piutang usaha dan kas akhir serta arus kas
dari operasi. Piutang usaha yang disebabkan oleh transaksi penjualan
kredit hampir selalu bersifat material terhadap neraca.
2. Risiko Inheren
Dalam menilai risiko inheren pada asaesi siklus pendapatan,
auditor harus mempertimbangkan faktor pervasive yang mempengaruhi
asersi dalam beberapa siklus, termasuk siklus pendapatan.
Faktor-faktor yang mendorong manajemen untuk mensalah
sajikan asaersi siklus pendapatan yaitu menyatakan pendapatan yang
tertalu tinggi dan menyatakan tertalu tinggi kas atau piutang kotor atau
tertalu rendah penyisihan piutang tak tertagih. Faktor-faktor lain yang
dapat menimbulkan salah saji dalam asersi siklus pendapatan:
7

Volume penjualan, penerimaan kas dan penyesuaian penjualan

yang tinggi.
Penentuan waktu dan jumlah pendapatan seringkali bertentangan,

seperti dengan standar akuntansi.


Mengklasifikasikan piutang sebagai hutang lancar atau tidak lancar

karena sifat penagihannya.


Transakjsi penerimaan kas menghasilkan aktiva likuid yang rentan

terhadap misapropriasi.
Transaksi
penerimaan

penjualan

digunakan

untuk

menyembunyikan penerimaan kas.


3. Risiko Prosedur Analitis
Risiko ini merupakan unsur risiko deteksi bahwa prosedur
analitis akan gagal mendeteksi salah saji yang material yang
merupakan cara yang efektif untuk pemahaman bisnis dan usaha klien.
Langkah-langkah yang ditempuh yaitu:
Memperoleh pemahaman tentang kapasitas klien.
Memahami pangsa pasar klien
Mengevaluasi hari perputaran piutang usaha.

D. Mempertimbangkan Komponen Pengendalian Internal


1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian terdiri dari beberapa faktor yang dapat
mengurangi beberapa resiko inheren yang berkaitan dengan siklus
pendapatan. Disamping itu, factor-faktor ini juga dapat meningkatkan
atau mengurangi keefektifan komponen pengendalian internal lainnya
dalam mengendalikan resiko salah saji pada asersi siklus pendapatan.
Faktor lingkungan pengendalian yang penting untuk mengurangi resiko
pencurangan pelaporan keuangan dengan menyajikan terlalu tinggi
pendapatan dan piutang, misalnya, adopsi manajemen serta ketaatan
terhadapan standar integritas dan nilai-nilai etika yang tinggi.
2. Penilaian Resiko
Penilaian resiko manajemen untuk tujuan pelaporan keuangan
adalah sama dengan penilaian inheren oleh auditor eksternal. Upaya
yang cermat oleh sebagian manajemen untuk mengidentifikasi jenisjenis resiko yang bekaitan dengan saldo dan transaksi siklus
pendapatan.
3. Informasi dan Komunikasi (Sistem Akuntansi)

Pemahaman atas sistem akuntansi pendapatan memerlukan


pengetahuan tentang bagaimana.

Penjualan diawali
Barang dan jasa diberikan
Piutang dicatata
Kas diterima
Penyesuaian penjualan dilakukan, termasuk metode pemrosesan

data serta dokumen penting dan catatan yang digunakan.


4. Pemantauan (Monitoring)
Komponen ini harus memberikan menajemen umpan balik
tentang apakah pengendalian internal yang berkaitan dengan saldo
dan transaksi siklus pendapatan telah beroperasi seperti yang
diharapkan. Auditor harus memproses pemahaman tentang umpan
balik ini dan apakah manajemen telah mengawali setiap tindakan
korektif berdasarkan informasi yang diterima dari aktivitas pemantauan.
5. Penilaian Awal atas Resiko Pengendalian dan Strategi Audit
Pendahuluan
Pada saat auditor memproleh bukti tentang keefektifan operasi
pengendalian
memperoleh

internal

yang

pemahaman,

berkaitan

Auditor

dengan

dalam

kasus

prosedur

untuk

semacam

itu,

kepastian yang terbatas mungkin diperoleh tentang keefektifan


pengendalian

yang

terutama

didasarkan

atas

prosedur

yang

mencangkup pengajuan pertanyaan, observasi, dan beberapa inspeksi


atas bukti yang didokumentasikan. Banyak auditor akan menilai resiko
pengendalian untuk asersi tertentu secara sepintas dibawah atau
diatas maksimum.

E. Aktivitas Pengendalian Transaksi Penjualan Kredit


Dokumen dan catatan umum, yang digunakan yaitu pesanan
pelanggan, pesanan penjualan, dokumen pengiriman, faktur penjualan,
daftar harga yang diotorisasi, file transaksi penjualan, jurnal penjualan, file
induk pelenggan dan piutang usaha. Fungsi-fungsi pendapatan:
Memprakarsai penjualan (penerimaan pesanan & persetujuan kredit)
Pengiriman barang dan jasa (pemenuhan & pengiriman pesanan

penjualan)
Pencatatan penjualan (penagihan pelanggan & pencatatan penjualan)

Untuk merencanakan audit maka auditor harus memperoleh


pemahaman terhadap siklus pendapatan agar dapat 1) mengidentifikasi
jenis salah saji yang potensial

2) mempetimbangkan faktor-faktor yang

mempengaruhi salah saji yang material dan 3) merancang pengujian


subtansif.
Pisah Batas Penjualan
Sebagian besar klien perusahaan dagang dan perusahaan
manufaktur mencatat penjualan berdasarkan criteria pengiriman
barang. Akan tetapi, ada beberapa perusahaan mencatat faktur pada
saat hak atas barang beralih, yang dapat terjadi sebelum pengiriman,
pada saat pengiriman, atau setelah pengiriman.
Bagian yang paling penting ketika mengevaluasi metode klien
untuk memperoleh pisaj batas yang dapat diandalkan adalah
menentukan prosedur yang akan digunakan. Jika klien mengeluarkan
dokumen pengiriman yang telah dipranomori secara berurutan,
biasanya mudah untuk mengevaluasi dan menguji pisah batas.
Jika pengendalian internal klien sudah memadai, biasanya
auditor dapat memverifikasi pisah batas dengan memperoleh nomor
dokumen pengiriman untuk pengiriman terakhir yang dilakukan pada
akhir periode dan membandingkan nomor tersebut dengan penjualan
yang dicatat pada periode berjalan atau periode selanjutnya.
Pengujian Rincian Saldo Piutang Usaha
Dalam merancang pengujian atas rincian saldo untuk piutang
usaha, auditor harus memenuhi masing-masing dari delapan tujuan
audit yang berkaitan dengan saldo. Kedelapan tujuan umum tersebut
sama bagi semua akun. Jika diterapkan secara khusus pada piutang
usaha, hal tersebut sebagai tujuan audit yang berkaitan dengan saldo
piutang usaha (accounts receivable-related audit objectives) adalah
sebagai berikut :
1. Piutang usaha dalam neraca saldo sama dengan jumlah file induk
terkait, dan totalnya telah ditambahkan dengan benar serta sama
2.
3.
4.
5.

dengan buku besar umum


Piutang usaha yang dicatat ada (Keberadaan)
Piutang usaha yang ada telah dicantumkan (Kelengkapan)
Piutang usaha sudah akurat (Keakuratan)
Piutang usaha sudah diklasifikasikan dengan benar (Klasifikasi)
10

6. Pisah batas piutang usaha sudah benar (Pisah batas)


7. Piutang usaha dinyatakan pada nilai realisasi (Nilai realisasi)
8. Klien memiliki hak atas piutang usaha (Hak)
Pengujian Substansif Atas Piutang Usaha
1. Prosedur awal, yaitu memperoleh pemahaman tentang bisnis dan
usaha klien dan melaksanakan prosedur awal atas saldo dan
catatan piutang usaha yang menjadi sasaran lebih lanjut.
2. Prosedur analisis, yaitu melaksanakan prosedur analisis dengan
mengembangkan harapan tentang piutang usaha, menghitung
rasio piutang dan penjualan serta menganalisinya.
3. Pengujian rincian transaksi, yaitu memvoaching sampel catatan
transaksi penjualan dan piutang, dan melaksanakan pengujian
pisah batas.
4. Pengujian rincian saldo, yaitu mengkonfirmasikan piutang usaha.
5. Pengujian rincian saldo, estimasi akuntansi (penyisihan piutang)
6. Prosedur yang dibutuhkan penyajian dan pengungkapan yaitu
mengkonfirmasikan

piutang

dan

membandingkan

penyajian

laporan dgn SAK.


Tujuan Pengujian Substantive terhadap Piutang Usaha:
1. Memperoleh tentang keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi
2. Membuktikan keberadaan piutang usaha dan keterjadian transaksi yang
terkait
3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat
4. Membuktikan kewajaran penilaian piutang usaha dan kewajaran penyajian
serta pengungkapan piutang usaha di neraca.
Konfirmasi Piutang Usaha
Tujuan utama konfirmasi piutang usaha adalah untuk memenuhi
tujuan eksistensi, keakuratan serta pisah batas. Standar auditing
mengharuskan konfirmasi piutang usaha dalam situasi normal. SAS 67
(AU 330) menyediakan tiga pengecualian terhadap keharusan
menggunakan konfirmasi:

Piutang usaha tidak material

Auditor mempertimbangkan konfirmasi bukti yang tidak efektif


karena tingkat responnya kemungkinan tidak akan memadai atau
tidak dapat diandalkan.

11

Gabungan tingkat risiko inheren dan risiko pengendalian rendah


dan

bukti

substantif

lainnya

dapat

diakumulasikan

untuk

menyediakan bukti yang mencukupi.


Dalam melakukan prosedur konfirmasi, pertama auditor harus
memutuskan jenis konfirmasi yang akan digunakan :
1. Konfirmasi Positif
Adalah komunikasi dengan debitor yang meminta
pihak penerima untuk mengkonfirmasi secara langsung
apakah saldo yang dinyatakan pada permintaan konfirmasi itu
benar atau salah.

Formulir konfirmasi kosong


Adalah jenis konfirmasi

positif

yang

tidak

menyatakan jumlah pada konfirmasi tetapi meminta


penerimanya untuk mengisi saldo atau melengkapi

informasi lainnya.
Konfirmasi faktur
Adalah jenis konfirmasi positif lainnya dimana
setiap faktur akan dikonfirmasi, dan bukan saldo piutang

usaha pelanggan secara keseluruhan.


2. Konfirmasi Negatif
Konfirmasi negatif juga diajukan kepada debitor tetapi
hanya akan meminta respon jika debitor tidak setuju dengan
jumlah yang dinyatakan. Penentuan jenis konfirmasi mana
yang akan digunakan berada di tangan auditor dan harus
berdasarkan fakta dalam audit. SAS 67 menyatakan bahwa
penggunaan konfirmasi negatif hanya dapat diterima jika
seluruh situasi berikut tersedia :

Piutang usaha tercipta dari sejumlah besar akun-akun

yang kecil.
Penilaian risiko

gabungan adalah rendah.


Tidak ada alasan untuk percaya bahwa penerima

pengendalian

dan

risiko

inheren

konfirmasi tidak mungkin memberikan pertimbangannya.

12

F. Aktvitas Pengendalian Transaksi Penerimaan Kas


Penerimaan kas merupakan hasil dari beberapa aktivitas. Sebagai
contoh, kas diterima dari transaksi pendapatan, pinjaman janka pendek
dan pinjaman jangka panjang, serta aktiva lainnya. Lingkup bagian ini
dibatasi pada penerimaan kas dari penjualan tunai dan penagihan dari
pelanggan atas penjualan kredit. Dokumen dan catatan penting yang
digunakan dalam pemerosesan penerimaan kas adalah sebagai berikut:
1. Bukti penerimaan uang (remittance advice). Dokumen yang dikirim
kepelanggan bersama dengan faktur penjualan yang kemudian akan
dikembalikan

bersama

pembayaran

yang

menunjukan

nama

pelanggan serta nomor akun, nomor faktur, dan jumlah yang dibayar
(misalnya, bagian tagihan telepon yang dikembalikan bersama dengan
pembayaran)
2. Pendaftaran. Daftar penerimaan kas yang diterima melalui pos
3. Lembar perhitungan kas. Daftar kas dan cek dalam register kas. Daftar
ini digunakan dalam merekonsiliasi total penerimaan dengan total yang
dicetak oleh register kas
4. Ikhtisar kas harian. Laporan yang menunjukan total penerimaan melalui
kasir (over-the-counter) atau pos yang diterima oleh kasir sebagai
setoran
5. Slip deposit yang disahkan. Daftar yang dibuat oleh penyetor dan
distempel oleh bank yang menunjukan tanggal serta total setoran yang
diterima bank dan rincian penerimaan dalan setoran tersebut
6. File transaksi penerimaan kas. File komputer atas transaksi
penerimaan

kas

yang

telah

disahkan

yang

diterima

untuk

pemerosesan, file ini digunakan untuk meperbaharui file induk piutamh


usaha.
7. Jurnal penerimaan kas. Jurnal yang berisi daftar penerimaan kas dari
penjualan tunai dan penagihan piutang usaha.
8. Fungsi penerimaan kas, yang meliputi pemrosesan penerimaan dari
penjualan tunai dan kredit, termasuk subfungsi berikut:
Menerima penerimaan kas
Menyetorkan kas ke bank
Mencatat penerimaan kas.
Pisah Batas Penerimaan Kas

13

Lebih mudah menguji salah saji pisah batas penerimaan kas


dengan menelusuri penerimaan kas yang dicatat ke setoran bank
periode selanjutnya pada laporan bank. Jika terjadi penundaan selama
beberapa hari, hal tersebut dapat menunjukkansalah saji pisah batas
Hingga tingkat tertentu, auditor juga mungkin bergantung pada
konfirmasi piutang usaha untuk mengungkapkan salah saji pisah batas
penjualan, retur dan pengurangan penjualan, serta penerimaan kas.
Akan tetapi, sering kali sulit membedakan salah saji pisah batas
dengan perbedaan waktu (timing difference) yang normal akibat
pengiriman dan pembayaran yang masih dalam perjalanan pada akhir
tahun

G. Aktivitas Pengendalian Transaksi Penyesuaian Penjualan


Transaksi penyesuaian penjualan meliputi pemberian potongan
tunai, pemberian retur penjualan & pengurangan harga serta penentuan
piutang tak tertagih. Untuk pengendalian aktivitas pengendaliannya maka
diperlukan

otorisasi

terhadap

transaksi

penyesuaian

penjualan,

penghitungan independen atas barang-barang, penggunaan dokumen dan


catatan yang tepat serta pemisahan tugas otorisasi.
Dalam banyak perusahaan, jumlah dan nilai unag dari nilai transaksi
ini tidaklah material. Namun, bagi beberapa perusahaan, potensi salah saji
yang diakibatkan oleh kesalahan dan penyelewengan dalam pemrosesan
transaksi ini perlu dipertimbangkan. Perhatian utamanya tertuju pada
kemungkinan pencatatan transaksi penyesuaian penjualan fiktif untuk
menyembunyikan

penyelewengan

dalam

proses

penerimaan

kas.

Misalnya, seorang karyawan dapat menggelapkan kas yang diterima dari


pelanggan dan menutupi penyelewengan yang dilakukannya dengan
menghapus akun pelanggan terhadap penyisihan piutang tak tertagih.
Auditor melakukan pengujian pengendalian untuk memperoleh bukti
tentang keefektifan perencanaan dan operasi sistem pengendalian internal
perusahaan. Resiko inheren yang berkaitan dengan transaksi penerimaan
kas adalah tinggi akibat kemungkinan penipuan oleh kayawan melalui
pengalihan penerimaan kas. Jika prosedur analitis menunjukan kenaikan
jumlah hari piutang beredar, maka hal ini mungkin dapat menjelaskan
pengalihan penerimaanh kas itu. Akibat resiko inheren atas penggelapan
kas, dan dampak transaksi penerimaan kas terhadap piutang, auditor
14

seringkali akan menguji prosedur pengendalian yang berkaitan dengan


penerimaan kas. Jika tujuan pengendalian telah dicapai melalui prosedur
pengendalian terprogram, maka auditor akan merencanakan lingkup
pengujian yang meliputi pengujian atas.
1. Pengendalian umum dengan computer
2. Pengendalian aplikasi komputer
3. Keefektifan prosedur tindak lanjut manual.

IV.

Latihan
1. Penerimaan setoran tunai dengan pertanyaan berikut:
a. Apakah register kas digunakan di counter penerimaan uang?
b. Apakah prosedur pengawasan periodic selalu dilakukan?
c. Apakah checks diuangkan oleh pegawai yang ditugaskan?
d. Apakah selalu disiapkan prelist terhadap penerimaan checks?
2. Pencatatan penerimaan, dengan pertanyaan sebagai berikut:
a. Adakah pemisahan tugas antara pencatat penerimaan kas dengan
bagian yang memegang kas?
b. Apakah setiap hari di cek oleh pihak yang independent mengenai
jumlah yang di catat, dibukukan, dan setoran dengan ringkasan kas
harian?
c. Apakah

selalu

disiapkan

rekonsiliasi

bank

oleh

pihak

yang

independent?
d. Adakah statement bulan untuk pelanggan selalu dikirim?

V.

Rangkuman
Dalam melaksanakan audit, auditor harus menaruh perhatian pada
semua bidang pertanggung jawaban manajemen seperti diuraikan diatas,
tetapi dengan tingkat tekanan yang berbeda-beda dengan masing-masing
penugasan. Bidang mana yang akan memeperoleh perhatian yang lebih
besartergantung pada pertimbangan terhadap bergabai factor yang terlibat
pada waktu menentuka arah kegiatan audit dan resiko yang dihadapai
organisasi.
Hasil dari tahap pengujian substantive adalah temuan. Temuan audit
berpangkal dari perbandingan kondisi (apa yang sebenrnya terjadi) dengan
criteria (apa yang seharusnya terjadi), mengungkap akibat yang ditimbulkan
dari perbedaan kondisi dan criteria tersebut serta mencari penyebabnya.
Pengembangan temuan setelah pengujian substantive dangat menetukan

15

keberhasilan tugas audit. Untuk itu, auditor perlu memahami unsure-unsur


temuan, sehingga pengembangan temuan menjaid lebih efektif.

VI.

Tes Formatif
1. Sebutkan nama-nama dokumen penting dalam pelaksanaan transaksi
penjualan kredit dan jelaskan pula fungsinya masing-masing?
Jawaban:
a. Surat order pengiriman: memberikan otorisasi kepada fungsi pengiriman
untuk mengirimkan jenis barang dengan jumlah dan spesifikasi seperti
yang tertera diatas dokumen.
b. Tembusan: digunakan untuk memperoleh status kredit customer dan
untuk mendapatkan otorisasi penjualan kredit dan fungsi pemberi
otorisasi kredit.
c. Surat pengakuan: dikirim ole fungsi penjualan kepada customer untuk
memberi tahu bahwa order telah diterima dan dalam proses pengiriman.
d. Surat muat:digunakan sebagai bukti penyerahan barang dari perusahaan
kepada perusahaan angkutan umum.
e. Slip pembungkus: ditempelkan pada

pembungkus

barang

untuk

memudahkan fungsi penerimaan customer mengidentifikasi barang yang


diterimanya.
f. Tembusan gudang: dikirim ke fungsi gudang untuk untuk menyiapkan
jenis barang dengan jumlah seperti tertera dalam di dalamnya.
g. Arsip pengawasan pengiriman: surat order pengiriman yang diarsipkan
oleh fungsi penjualn menurut tanggal pengiriman yang dijanjikan.
h. Arsip indeks silang: surat order pengiriman yang diarsipkan secara
alfabetik menurut customer untuk memudahkan menjawab pertanyaan
dari customer mengenai status pesanannya.
2. Untuk merancang program audit untuk pengujian pengendalian, tahap-tahap
apa saja yang harus dilalui oleh auditor?
Jawaban:
a. Fungsi terkait
b. Dokumen
c. Catatan akuntansi
d. Bagan alir sistem informasi akuntansi
e. Slah saji potensial, aktivitas pengendalian yang diperlukan dan prosedur
audit untuk pengujian pengendalian yang dapat digunakan oleh auditor
f. Penjelasan aktivitas pengendalian yang diperlukan
16

g. Penyususnan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap


transaksi yang bersangkutan
h. Penjelasan program audit untuk pengujian pengendalian terhadap
transaksi yang bersangkutan
3. Sebut dan jelaskan prosedur audit yang dapat ditempuh oleh auditor untuk
membuktikan asersi keberadaan dan keterjadian transaksi penjualan kredit?
Jawaban:
a. Lakukan pengamatan: persetujuan surat order pengiriman, pengiriman
barang, penagihan customer, dan pengiriman pernyataan piutang bulanan
dan penindaklanjutan keluhan dari customer.
b. Ambil sampel transaksi penjualan dari jurnal penjualan dan lakukan
verivikasi terhadap tanggal, nama pelanggan, dan jumlah moneter dan
nonmoneter. Lakukan pula pemeriksaan terhadap dokumen pendukung
berikut ini: faktur penjualan, laporan pengiriman barang, surat pengiriman
barang yang telah diotorisasi.

VII. Daftar Pustaka

17

Boyton, William C. dan Raymond N. Johnson. 2006. Modern Auditing :


Assurance Services, and the Integrity of Financial Reporting Eighth
Edition. United States of America : John Wiley & Sons, Inc.
Ratna

Novita.

2011.

Audit

Atas

Siklus

Pendapatan

http://ratnanovita114.blogspot.com/2011/09/audit-atas-sikluspendapatan.html (diakses 28 Oktober 2013)


Ni

Made

Suartini.

2013.

Audit

Siklus

Pendapatan,

http://dexsuar.blogspot.com/2013/07/audit-siklus-pendapatan.html
(diakses 28 Oktober 2013)
Mai

Elva

Sundari.

2014.

Audit

Siklus

Pendapatan,

(Online).

http://maielvasundari.blogspot.co.id/2014/11/audit-sikluspendapatan.html. diakses pada 6 Februari 2016.


Grace Widya Chandra. 2012. Audit Siklus Pendapatan Melalui Uji Substantif
Piutang

Dagang

dan

Penerimaan

Kas,

(Online).

http://gracewidyachandra.blogspot.co.id/2012/11/audit-sikluspendapatan-melalui-uji.html. diakses pada 6 Februari 2016.


Yosephine Endah Nur Diani. 2013. Soal dan Jawaban siklus pendapatan,
(Online).

http://yosephineendahnurdiani.blogspot.co.id/2013/08/soal-

dan-jawaban-siklus-pendapatan.html. diakses pada 6 Februari 2016.

18