Anda di halaman 1dari 22

BAGIAN 2: JENIS-JENIS GELOMBANG

B. Jenis-Jenis Gelombang
Ditinjau dari zat penghantar atau medium yang dilalui oleh gelombang, kita
dapat membedakan dua macam gelombang, yaitu gelombang mekanik dan
gelombang elektromagnetik.
1. Gelombang Mekanik
Gelombang mekanik adalah gelombang yang dalam perambatannya
memerlukan medium atau penghantar untuk dapat merambat. Medium gelombang
mekanik dapat berupa zat padat, zat cair, atau gas. Suara atau bunyi merupakan
salah satu contoh gelombang mekanik yang dapat merambat melalui zat padat, cair
atau gas. Contoh lain dari gelombang mekanik yaitu gelombang pada tali,
gelombang pada pegas, gelombang pada permukaan air.
Berdasarkan arah perambatan dan arah getarnya, gelombang mekanik dapat
dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu :
Gelombang Transversal
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah getar dari tiap titik
partikel dalam medium, tegak lurus dengan arah perambatan gelombang.
Contohnya gelombang cahaya, gelombang permukaan air, dan gelombang pada
tali. Untuk melihat arah getar dari gelombang transversal dapat kita gunakan tali
dengan cara salah satu ujung tali diikat sedangkan ujung yang lain dibiarkan bebas.

Pada kasus gelombang tali, gerakan tangan naik turun mengakibatkan energi pada
tali. Energi tersebut menggetarkan daerah di sekitarnya sehingga daerah
disekitarnya ikut pula bergetar naik turun, demikian seterusnya sampai ujung tali.
Pada gelombang transversal, satu panjang gelombang adalah jarak yang sama
dengan satu bukit gelombang ditambah satu lembah gelombang. Ciri yang dimiliki
gelombang transversal, terdapat satu bukit gelombang dan lembah gelombang dan
satu panjang gelombang (lamda) adalah jarak yang sama dengan satu bukit
gelombang dengan satu lembah gelombang.
Gelombang Longitudinal
Gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getarnya searah
(paralel) dengan arah rambatannya. Contohnya gelombang pada pegas (slinki) dan
gelombang cahaya. Ketika slinki di gerakkan kedepan dan kebelakang, maka pada
slinki akan terbentuk rapatan-rapatan dan renggangan-renggangan seperti yang
ditunjukkan pada gambar. Pada gelombang longitudinal, satu panjang gelombang
adalah jarak yang sama dengan satu rapatan dan ditambah satu renggangan. Ciri
yang dimiliki gelombang longitudinal, terdapat rapatan dan renggangan dan satu
panjang gelombang adalah jarak yang sama dengan satu rapatan ditambah satu
renggangan.

BAGIAN 3: LANJUTAN JENIS-JENIS GELOMBANG

Berdasarkan dimensinya gelombang dapat dibagi lagi menjadi tiga yaitu:


1. Gelombang satu dimensi yaitu gelombang yang merambat dalam satu arah,
contohnya gelombang tali, gelombang pada dawai dan sejenisnya.
Pemantulan gelombang satu dimensi dapat kita buktikan dengan cara
melakukan suatu percobaan sederhana. Ikat salah satu ujung tali pada
sebuah tiang, pegang salah satu ujung tali, kemudian sentakkan ujung tali
tersebut. Setelah ujung tali di sentakkan, akan terbentuk pulsa-pulsa
gelombang yang merambat sepanjang ujung tali tersebut. Ketika pulsa
mencapai tiang, bagian tali yang dekat dengan tiang memberikan gaya tarik
pada siang, sesuai dengan Hukum III Newton yang menyatakan bahwa jika

terdapat gaya aksi maka juga terdapat gaya reaksi. Hal inilah yang
menyebabkan pulsa-pulsa gelombang yang merambat sepanjang tali
bergerak naik- turun ke atas dan ke bawah.
2. Gelombang dua dimensi yaitu gelombang yang merambat dalam bentuk
bidang, contohnya gelombang pada permukaan air. Dalam hal ini
merambatnya dalam bentuk persegi panjang.
3. Gelombang tiga dimensi yaitu gelombang yang merambat dalam ruang atau
kesegala arah, contohnya gelombang radio, gelombang micro, gelombang
cahaya.
Pemantulan gelombang dua dimensi dan tiga dimensi berhubungan dengan
muka gelombang. Muka gelombang dapat kita amati, ketika sebuah batu di
jatuhkan pada permukaan air. Batu yang jatuh menyebabkan munculnya riak atau
gelombang air yang berbentuk lingkaran dan menyebar keluar dari pusat lingkaran.
Selain gelombang bidang juga ada istilah gelombang bidang, gelombang bidang
merupakan muka gelombang yang bentuknya hampir lurus.

Gambar: Gelombang satu dimensi pada tali


Setelah kita mengenal jenis-jenis gelombang, untuk selanjutnya mari kita mengenal
lebih jauh lagi tentang istilah-istilah dalam gelombang :
Panjang Gelombang (lamda) adalah jarak antara dua puncak yang
berdekatan atau dari rapatan yang satu ke rapatan berikutnya.
Frekuensi Gelombang (f) adalah banyaknya gelombang yang terbentukdalam
waktu satu sekon.
Periode Gelombang (T) adalah waktu yang diperlukan untuk menempuh satu
gelombang.
Amplitudo Gelombang (A) adalah besar simpangan maksimum dari suatu
gelombang.
BAGIAN 4: PERSAMAAN GELOMBANG

A. Persamaan Kecepatan Perambatan Gelombang


Kecepatan perambatan gelombang adalah satu panjang gelombang dibagi
periode. Secara matematis kecepatan perambatan gelombang V dapat ditulis
sebagai berikut :

Karena f = 1/T maka kecepatan perambatan gelombang juga dapat ditulis sebagai
berikut :

dengan :
v = kecepatan perambatan gelombang (m)
T = Periode gelombang (s)
f = Frekuensi gelombang (Hz)
= panjang gelombang (m)
B. Persamaan Gelombang
Jika seutas tali yang cukup panjang digetarkan sehingga pada tali terbentuk
gelombang transversal berjalan. Gelombang merambat dari titik A sebagai pusat
koordinat menuju arah sumbu x positif. Perhatikan gambar dibawah ini.

Jika titik A telah bergetar secara periodik selama t sekon. Simpangan gelombang di
titik A akan memenuhi simpangan getaran harmonik, yang memenuhi persamaan
berikut:
dengan:
y = Simpangan gelombang (m)
A = Amplitudo atau simpangan maksimum (m)
= Kecepatan sudut (rad/s)
t = Lamanya getaran (s)
Oleh karena :

maka persamaan simpangan diatasdapat ditulis menjadi :

y = A sin 2

Contoh soal:
1. Pada permukaan sebuah kolam terdapat dua helai daun yang terpisah satu
dengan yang lainnya sejauh 60 cm. Keduanya turun naik bersama permukaan air
dengan frekuensi 2 Hz. Bila salah satu berada di puncak bukit gelombang, yang
lainnya berada di dasar gelombang. Sedangkan di antara kedua daun itu terdapat
satu bukit gelombang, tentukan cepat rambat gelombang pada permukaan kolam ?
Dik : f = 2 Hz
Dit : v...... ?
Penyelesaian :
Panjang gelombang yang terbentuk dari bukit pertama ke lembah gelombang
kedua pada jarak 60 cm
adalah : 3/2 = 60 cm, sehingga
= 2 x 60/3 cm
= 40 cm
Dengan demikian,
v = f
v = (40 cm) (2 Hz)
v = 80 cm/s
2. Sebuah gelombang berjalan mempunyai persamaan simpangan Y = 0,5 sin
(40t + 8x) m. Cepat rambat gelombang tersebut adalah ?
Penyelesaian :
Y = 0,5 sin (40t + 8x) m
Y = 0,5 sin (40 t + 8 x) m
= 40 , dimana = 2f
2f = 40
f = 40/2
f = 20 Hz

k = 2x /
8 x = 2x /
= 8 / 2
= 4
= 0,25 m
v=fx
v = 20 Hz x 0,25 m
v = 5 m/s

BAGIAN 5: GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK


A. Teori Gelombang Elektromagnetik Maxwell
Sebelum mempelajari lebih lanjut tentang gelombang elektromagnetik, kita perlu
terlebih dahulu mengetahui apakah cahaya itu ?. Ini menjadi suatu pertanyaan yang

besar bagi manusia beberapa abad yang lalu, sebelum teori persamaan Maxwel
dikemukakan.

Prediksi awal tentang gelombang elektromagnetik dilakukan oleh James Clerk


Maxwell (1831-1879). Maxwell membuat suatu teori yang menyatukan fenomena
kelistrikan dan kemagnetan. Dalam mengungkapkan hipotesisnya Maxwell
menggunakan kaidah tentang kemagnetan dan kelistrikan yang sebelumnya telah
ada, kaidah-kaidah tersebut antara lain:
a. Hukum Gauss yang menyatakan bahwa muatan listrik statis dapat
menghasilkan medan listrik.

Hukum Gauss

Sebelum melanjutkan pembahasan tentang hukum gauss ada baiknya kita simak apa itu fluks
listrik. Fluks listrik dapat didefinisikan sebagai perkalian antara garis gaya listrik dengan luasan
bidang yang dilewatinya. Jika ada garis-garis gaya dari sebuah medan listrik homogen yang
menembus sebuah bidan seluas A maka fluks listrik ( baca : phi) yang melalui bidang tersebut
tergantung pada kuat mendan listrik, luas bidang yang ditembus, dan sudut jatuhnya. Ada dua
kemungkinan, gaya jatuh tegak lurus dan gaya jatuh tidak secara tegak lurus.

a. Garis Gaya Jatuh Tegak Lurus

= E. A
b. Garis Gaya Jatuh Tidak Tegak Lurus

= E. A. cos
Keterangan
= Fluks listrik satuannya dalam SI adalah NC-1m2 atau waber (Wb)

E = Kuat medan listrik (N/C)

A = Luas bidang yang ditembus oleh medan listrik (m2)

= sudut antara gaya yang datang dengan garis bidang normal

Bunyi Hukum Gauss


Jumlah garis gaya dari sebuah medan listrik
yang menembus suatu permukaan tertutup
sebanding dengan jumlah muatan listrik yang
dilingkupi oleh permukaan tertutup tersebut.

Secara matematis, hukum Gauss dinyatakan dengan rumus berikut

= E. A. cos = Q/o
Dengan
Q = muatan yang dilingkupi oleh permukaan tertutup

0 = permitivitas udara
Contoh Soal

Jika terdapat persegi dengan panjang sisi 20 cm, lalu bila sebuah medan listrik homogen sebesar
200 N/C ditembakkan ke arahnya dengan arah yang tegak lurus bidang persegi tersebut, berapa
jumlah garis medan listrik yang menembus bidang persegi tersebut (fluks listrik)?
Jawab
Luas Persegi = 20 x 20 = 400 cm2 = 4 x 10-2 m2

Jumlah Garis yang menembus bidang

= E. A
= 200. 4 x 10-2 m
= 8 weber

Sobat punya sebuah bidan lingkaran dengan jari-jari 7 cm. Jika ada kuat medan listrik sebesar
200 N/C mengarah pada bidang tersebut dengan membentuk sudut 30 0 terhadap bidang.
Tentukan berapa fluks listrik tersebut?
Jawab
Luas Bidang = Luas lingkaran = r2 = 22/7 x 49 = 154 cm2 = 1,54 x 10-2 m2

Cos = Cos 60o


( = sudut yang dibentuk oleh E dan garis normal lihat gambar sebelumnya )
= E. A.cos
= 200. 1,54 x 10-2 . 0,5
= 1,54 weber
b. Hukum Bio-savart yang menyatakan bahwa aliran muatan listrik (arus listrik)
dapat menghasilkan medan magnet.
b. Hukum Faraday yang menyatakan bahwa perubahan medan magnet
dapat menghasilkan medan listrik.

HUKUM FARADAY
Michael Faraday adalah ahli kimia dan fisika yang mempelajari aspek kuantitatif dan kualitatif
dari elektrolisis. Ia menemukan hubungan antara massa zat yang dihasilkan di elektrode dengan
jumlah listrik yang digunakan. Hubungan tersebut dinyatakan dengan dua hukum Faraday. Untuk
memahami hukum tersebut, akan digunakan istilah mol elektron dan satu faraday. Lalu apa itu
mol elektron dan satu faraday?

Di dalam reaksi reduksi dan oksidasi pada elektrolisis terjadi transfer elektron. Sebagai contoh,
pada reaksi reduksi Cu2+, ion Cu2+ dalam lelehan menerima arus listrik (elektron) dari luar untuk
membentuk Cu(s).
Cu2+(aq) + 2e(arus dari luar)

Cu(s)

Dikatakan:

Untuk menghasilkan 1 mol logam Cu, diperlukan 2 mol elektron.

Untuk menghasilkan 2 mol logam Cu, diperlukan 4 mol elektron.

Untuk menghasilkan 3 mol logam Cu, diperlukan 6 mol elektron, dan


seterusnya.

Jika kita mengetahui jumlah mol elektron yang dibutuhkan, lalu bagaimana menghitung jumlah
listrik yang diperlukan?
Secara eksperimen telah diperoleh bahwa 1 mol elektron mengandung muatan listrik sebesar
96.500 coulomb. Untuk menghormati Michael Faraday, 1 mol elektron disebut juga sebagai satu
faraday (1F).
1 mol elektron = 1 faraday
1 mol elektron atau 1 faraday mengandung muatan listrik 96.500 coulomb.
Dengan demikian untuk reaksi di atas dapat disimpulkan:

Untuk menghasilkan 1 mol logam Cu, diperlukan muatan listrik 2 x 96.500


coulomb.

Untuk menghasilkan 2 mol logam Cu, diperlukan muatan listrik 4 x 96.500


coulomb.

Untuk menghasilkan 3 mol logam Cu, diperlukan muatan listrik 6 x 96.500


coulomb.

Jadi, muatan listrik (Q) yang dibutuhkan berbanding lurus dengan mol elektron, dan dirumuskan
sebagai berikut:
Q=nF
Dengan n = jumlah mol elektron (mol), F = muatan listrik per 1 mol elektron (coulomb /mol).

Dari penjelasan di atas, kita sekarang dapat mengaitkan hubungan antara massa zat yang
terbentuk pada elektrode dengan jumlah listrik yang digunakan. Inilah yang disebut dengan
Hukum Faraday 1.
Hukum Faraday 1

Massa zat yang dihasilkan pada suatu elektrode selama proses elektrolisis berbanding lurus
dengan muatan listrik yang digunakan.
Kita sudah mengetahui bahwa massa zat (w) yang dihasilkan pada elektrode berbanding lurus
dengan jumlah molelektron. Sementara, jumlah mol elektron berbanding lurus dengan muatan
listrik (Q) dalam elektron. Jadi, dapat disimpulkan:
Massa zat muatan listrik dalam elektron
wQ
Dengan Q menunjukan besarnya muatan listrik di suatu titik di kawat jika arus listrik I ampere
melewatinya selama t detik. Secara matematis:
Q=Ixt
dengan I = arus listrik (ampere) dan t = waktu (detik).
Sehingga, persamaan di atas dapat ditulis menjadi:
wIxt
Hukum Faraday 2

Massa zat yang dihasilkan pada elektrode berbanding lurus dengan massa ekivalen zat.
Di dalam hukum Faraday 2 dinyatakan bahwa massa yang dihasilkan pada elektrode berbanding
lurus dengan massa ekivalen zat.
massa zat massa ekivalen zat
w ME
Massa ekivalen zat adalah massa atom relatif (Ar) dibagi dengan perubahan bilangan oksidasinya
atau muatan ionnya.
ME = Ar/biloks atau muatan ion

Contoh Soal Hukum Faraday


Tembaga (Cu) mempunyai Ar =63,5. Berapakah massa ekivalen untuk reaksi berikut?
Cu2+(aq) + 2e Cu(s)
Jawab:
Pada reaksi di atas, perubahan bilangan oksidasinya adalah +2.
Jadi, massa ekivalen Cu adalah: ME = Ar/biloks = 63,5/2 = 31,75

Selanjutnya, jika jumlah listrik sama dialirkan ke dalam dua atau lebih sel elektrolisis dengan
elektrolit yang berbeda, maka perbandingan massa zat yang dibebaskan sama dengan
perbandingan massa ekivalen zat. Perhatikan gambar di atas, terlihat bahwa jika jumlah listrik
yang sama melewati ketiga coulometer, maka massa zat H 2, Cu, dan Ag yang dihasilkan akan
berbanding lurus dengan massa ekivalennya.

Secara umum, jika terdapat dua macam zat A dan B, maka

Contoh soal Hukum Faraday

Jika pada rangkaian di atas terbenttuk endapan Cu sebesar 5 gram, berapakah massa Ag yang
mengendap pada elekrode? (Cu = 63,5; Ag = 108)
Jawab:
Untuk menghitung massa Ag, wAg, gunakan rumus:

Diketahui massa Cu, wCu = 5 gram


Hitung MECu dan MEAg dengan menulis reaksi reduksi Cu dan Ag.

Mari kita lihat kembali Hukum Faraday 1 dan Hukum Faraday 2:


Hukum Faraday 1 : w I x t
Hukum Faraday 2 : w ME
Jika digabungkan, kita peroleh w I x t x ME
Perbandingan ini menjadi persamaan dengan penambahan faktor 1/96.500, sehingga diperoleh
rumus hukum faraday :
w = 1/96.500 x I x t x ME
dengan

w = massa zat yang dihasilkan (gram)


I = arus listrik (ampere)
t = waktu (detik)

ME = massa ekivalen zat


Contoh soal Hukum Faraday
Arus listrik 0,2 ampere dilewatkan selama 50 menit ke dalam sel elektrolisis yang mengandung
larutan CuCl2. Hitunglah endapan Cu yang terbentuk pada katode. (Ar Cu=63,5)
Jawab:
Hitung endapan Cu, wCu, menggunakan rumus:
wCu = (1/96.500) x I x t x MECu = dimana ME = Ar/biloks

Diketahui:
Arus, I = 0,2 A;
Waktu, t = 50 menit = 50 x 60 detik = 3.000 detik
Cari nilai MECu dengan menuliskan reaksi reduksi Cu:
Cu2+(aq) + 2e Cu(s) ; MECu = Ar/biloks = 63,5/2 = 31,75

Jadi, diperoleh:
WCu = (1/96.500) x 0,2 A x 3.000 detik x 31,75 = 0,197 g.
Berdasrkan Hukum Faraday, Maxwell mengemukakan hipotesa yaitu perubahan
medan listrik dapat menimbulkan medan magnet, selain itu Maxwell juga
mengemukakan kesimpulan lain yaitu jika perubahan-perubahan medan magnet
dapat menghasilkan medan listrik, maka medan listrik yang dihasilkan itu juga
berubah-ubah. Perubahan medan listrik ini juga juga menghasilkan medan magnet
yang berubah-ubah dan seterusnya. Dari pernyataan-pernyataan inilah Maxwell
membuktikan hipotesisnya dengan menggunakan persamaan-persamaan yang
disebut persamaan Maxwell. Dari hasil persamaannya, ia menemukan bahwa
perubahan medan-medan yang saling berinteraksi dapat menghasilkan gelombang
medan listrik dan medan magnet yang dapat merambat melalui ruang.

BAGIAN 6: PENGERTIAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK


1. Pengertian Gelombang Elektromagnetik
Gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang dapat merambat tanpa memerlukan
medium dan merupakan gelombang transversal. Namun gelombang elektromagnetik
merupakan gelombang medan, bukan gelombang mekanik (materi). Pada gelombang
elektromagnetik, medan listrik E selalu tegak lurus arah medan magnetik B dan keduanya tegak
lurus arah rambat gelombang. Gangguan gelombang elektromagnetik terjadi karena medan
listik dan medan magnet, oleh karena itu gelombang elektromagnetik dapat merambat dalam
ruang vakum.

Medan listrik dan medan magnet pada gelombang elektromagnetik


Gelombang elektromagnetik berasal dari matahari dan angkasa; peralatan elektronik,
pemancar radio/TV, satelit, monitor TV, komputer, kilat, bahan radioaktif, alat Rontgen, bara
api dan blok mesin yang panas. Secara umum dapat dikatakan gelombang elektromagnetik
muncul dari partikel bermuatan yang dipercepat (bergetar, perputar, diperlambat dan
dipercepat).
Energi elektromagnetik merambat dalam gelombang dengan beberapa karakter yang bisa
diukur, yaitu: panjang gelombang/wavelength, frekuensi, amplitude/amplitude dan kecepatan.
Amplitudo adalah tinggi gelombang, sedangkan panjang gelombang adalah jarak antara dua
puncak. Frekuensi adalah jumlah gelombang yang melalui suatu titik dalam satu satuan waktu.
Frekuensi tergantung dari kecepatan merambatnya gelombang. Karena kecepatan energi
elektromagnetik adalah konstan (kecepatan cahaya), panjang gelombang dan frekuensi
berbanding terbalik. Semakin panjang suatu gelombang, semakin rendah frekuensinya, dan
semakin pendek suatu gelombang semakin tinggi frekuensinya.
Energi elektromagnetik dipancarkan, atau dilepaskan, oleh semua masa di alam semesta
pada level yang berbeda-beda. Semakin tinggi level energi dalam suatu sumber energi, semakin
rendah panjang gelombang dari energi yang dihasilkan, dan semakin tinggi frekuensinya.
Perbedaan karakteristik energi gelombang digunakan untuk mengelompokkan energi
elektromagnetik.
BAGIAN 7. SPEKTRUM GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

Spektrum Gelombang Elektromagnetik

Susunan semua bentuk gelombang elektromagnetik berdasarkan panjang


gelombang dan frekuensinya disebut spektrum elektromagnetik.
Gambar spektrum elektromagnetik disusun berdasarkan panjang gelombang (diukur
dalam satuan m) yaitu mencakup kisaran :
1.Energiyangsangatrendah,denganpanjanggelombangtinggidanfrekuensirendah,sepertigelombang
radio
2.Energiyangsangattinggi,denganpanjanggelombangrendahdanfrekuensitinggisepertiradiasiXray
danGammaRay

Gambar: Sketsa Spektrum Gelombang


Elektromagnetik
Spektrum gelombang elektromagnetik terdiri atas tujuh macam gelombang yang dibedakan
berdasarkan frekuensi serta panjang gelombang tetapi cepat rambat di ruang hampa adalah sama, yaitu c
=3 x 108 m/s. Seperti yang sudah dibahas dalam teori Maxwell tentang gelombang
elektromagnetik. Frekuensi gelombang terkecil adalah gelombang cahaya serta panjang gelombang
terbesar sedangkan frekuensi terbesar adalah sinar gamma serta panjang gelombang terpendek.
Spektrum gelombang elektromagnetik terdiri dari urutan:
gelombang radio dan televisi
gelombang mikr
infra merah
cahaya tampak

ultraviolet
siar x
sinar gamma
Urutan dari atas ke bawah adalah frekuensi makin besar serta panjang gelombang makin pendek karena
frekuensi dan panjang gelombang berbanding terbalik.

BAGIAN 8: SIFAT-SIFAT GELOMBANG


Setiap gelombang elektromagnetik mempunyai sifat khas, misalnya gelombang
radio mudah dipantulkan, sinar X dapat menembus benda-benda lunak dan
ultraviolet dapat memicu terjadinya reaksi kimia. Namun secara umum semua jenis
gelombang tersebut memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Perambatannya tidak memerlukan medium sehingga dapat merambat
diruang hampa.
2. Dapat mengalami polarisasi karena gelombang elektromagnetik merupakan
gelombang transversal
3. Diudara atau ruang hampa, kecepatannya sama dengan kecepatan cahaya.
Cepat rambat gelombang diudara adalah sebagai berikut:

c = Cepat rambat cahaya (m/s)


4. Arah perambatannya tidak dipengaruhi medan listrik dan medan magnet dan
gelombang elektromagnetik tidak bermuatan listrik
5. Dapat mengalami pemantulan, pembiasan, interferensi dan difraksi

9. APLIKASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK


A. Gelombang Radio
Gelombang radio dikelompokkan menurut panjang gelombang atau frekuensinya. jika
panjang gelombang tinggi, maka pasti frekuensinya rendah atau sebaliknya. Frekuensi
gelombang radio mulai dari 30 kHz ke atas dan dikelompokkan berdasarkan lebar frekuensinya,
seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Pada tabel ini juga diberikan panjang
gelombang tertentu untuk tiap lebar frekuensi berikut pemakaiannya.

Gelombang radio dihasilkan oleh muatan-muatan listrik yang dipercepat melalui kawat-kawat
penghantar. Muatan-muatan ini dibangkitkan oleh rangkaian elektronika yang disebut osilator.
Gelombang radio ini dipancarkan dari antena dan diterima oleh antena pula. Luas daerah yang
hendak dicakup dan panjang gelombang yang akan dihasilkan dapat ditentukan dengan tinggi
rendahnya antena. Kita tidak dapat mendengar gelombang radio secara langsung, penerima radio
akan mengubah terlebih dahulu energi gelombang menjadi energi gelombang bunyi. Ukuran
pemancar radio dan penerima sangatlah berbeda. Sebuah pemancar radio dapat berukuran sangat
kecil sehingga radio itu dapat ditanam dalam tubuh binatang, sedangkan sebuah antena penerima
dapat berukuran sangat besar (kira-kira sepanjang 400 m) sehingga mampu mendeteksi
gelombang-gelombang radio dari jarak sangat jauh. Gelombang radio ini juga dapat memberi
informasi tentang bintang-bintang.
10.

LANJUTAN APLIKASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

Satelit buatan adalah seperangkat alat elektronik yang diorbitkan pada orbit tertentu di luar
angkasa. Satelit buatan ini mengorbit mengelilingi bumi seperti halnya bulan. Satelit digunakan
manusia khususnya dalam bidang telekomunikasi dam meteorologi. Dalam bidang
telekomunikasi yaitu digunakan untuk menerima dan menyebarkan gelombang televisi dari suatu
tempat di bumi kemudian menyebarkannya kebahagian bumi yang lain sehingga informasi dapat
disampaikan saat itu juga. Misalnya, kita dapat melihat tayangan sepak bola liga itali secara
langsung. Rekaman pertandingan tersebut diubah menjadi gelombang gelombang
elektromagnetik dan dipancarkan. Gelombang ini diterima oleh satelit dan disebarkan kembali ke
bumi sehingga belahan bumi lain dapat menerima gelombang ini. Di belahan bumi tersebut
gelombang elektromagnetik di ubah kembali menjadi bentuk gambar dan suara. Penjalaran
gelombang dari bumi ke satelit terlihat pada gambar dibawah ini.

Penjalaran gelombang dari bumi ke satelit dan sebaliknya


Dari gambar di atas terlihat bahwa sebuah satelit memancarkan gelombang dalam segala arah.
Gelombang langit menjalar ke atas dan dipantulkan oleh ionosfer kembali ke bumi karena
gelombang-gelombang ini dapat diterima dari seluruh horizon. Beberapa gelombang dapat
mengenai tanah dan di pantulkankan kembali. Gelombang mikro tidak dipantulkan ionosfer
melainkan diteruskan ke satelit. Gelombang yang diterima oleh satelit ini digunakan untuk
mentransmisikan informasi ke stasiun-stasiun penerima di bumi.
11.

SEL SURYA

Sel surya digunakan manusia untuk menampung gelombang sinar matahari sehingga manusia
memperoleh bentuk energi baru. Kita pasti telah mengetahui bahwa sinar matahari juga
merupakan gelombang. Sinar matahari ini dapat digunakan sebagai sumber energi baru,
misalnya, pada pembangkit listrik digunakan untuk mobil bertenaga surya, bahkan digunakan
sebagai sumber energi pesawat bertenaga surya. Para ahli telah benyak yang meneliti
pemanfaatan energi matahari ini. Bahkan telah dibuat mobil-mobil bertenaga surya yang
menggunakan energi matahari untuk menggerakkannya.

Sel Surya
Sel surya dapat dianalogikan sebagai divais dengan dua terminal atau sambungan, dimana saat
kondisi gelap atau tidak cukup cahaya berfungsi seperti dioda, dan saat disinari dengan cahaya

matahari dapat menghasilkan tegangan. Ketika disinari, umumnya satu sel surya komersial
menghasilkan tegangan dc sebesar 0,5 sampai 1 volt, dan arus short-circuit dalam skala
milliampere per cm2. Besar tegangan dan arus ini tidak cukup untuk berbagai aplikasi, sehingga
umumnya sejumlah sel surya disusun secara seri membentuk modul surya. Satu modul surya
biasanya terdiri dari 28-36 sel surya, dan total menghasilkan tegangan dc sebesar 12 V dalam
kondisi penyinaran standar (Air Mass 1.5). Modul surya tersebut bisa digabungkan secara paralel
atau seri untuk memperbesar total tegangan dan arus outputnya sesuai dengan daya yang
dibutuhkan untuk aplikasi tertentu.

Modul surya biasanya terdiri dari 28-36 sel surya yang dirangkai seri untuk memperbesar
total daya output.
Struktur Sel Surya
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan sains, jenis-jenis teknologi sel surya pun
berkembang dengan berbagai inovasi. Ada yang disebut sel surya generasi satu, dua, tiga dan
empat, dengan struktur atau bagian-bagian penyusun sel yang berbeda pula (Jenis-jenis teknologi
surya akan dibahas di tulisan Sel Surya : Jenis-jenis teknologi). Dalam tulisan ini akan dibahas
struktur dan cara kerja dari sel surya yang umum berada dipasaran saat ini yaitu sel surya
berbasis material silikon yang juga secara umum mencakup struktur dan cara kerja sel surya
generasi pertama (sel surya silikon) dan kedua (thin film/lapisan tipis).

Struktur dari sel surya komersial yang menggunakan material silikon sebagai
semikonduktor.
Prinsip
Kerja
Sel
Surya
Sel surya konvensional bekerja menggunakan prinsip p-n junction, yaitu junction antara
semikonduktor tipe-p dan tipe-n. Semikonduktor ini terdiri dari ikatan-ikatan atom yang dimana
terdapat elektron sebagai penyusun dasar. Semikonduktor tipe-n mempunyai kelebihan elektron
(muatan negatif) sedangkan semikonduktor tipe-p mempunyai kelebihan hole (muatan positif)
dalam struktur atomnya. Kondisi kelebihan elektron dan hole tersebut bisa terjadi dengan
mendoping material dengan atom dopant. Sebagai contoh untuk mendapatkan material silikon
tipe-p, silikon didoping oleh atom boron, sedangkan untuk mendapatkan material silikon tipe-n,

silikon didoping oleh atom fosfor. Ilustrasi dibawah menggambarkan junction semikonduktor
tipe-p dan tipe-n.

Peran dari p-n junction ini adalah untuk membentuk medan listrik sehingga elektron (dan hole)
bisa diekstrak oleh material kontak untuk menghasilkan listrik. Ketika semikonduktor tipe-p dan
tipe-n terkontak, maka kelebihan elektron akan bergerak dari semikonduktor tipe-n ke tipe-p
sehingga membentuk kutub positif pada semikonduktor tipe-n, dan sebaliknya kutub negatif pada
semikonduktor tipe-p. Akibat dari aliran elektron dan hole ini maka terbentuk medan listrik yang
mana ketika cahaya matahari mengenai susuna p-n junction ini maka akan mendorong elektron
bergerak dari semikonduktor menuju kontak negatif, yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai
listrik, dan sebaliknya hole bergerak menuju kontak positif menunggu elektron datang, seperti
diilustrasikan pada gambar dibawah.

Ilustrasi cara kerja sel surya dengan prinsip p-n junction.

BAHAN PENYERAP SINAR ULTRAVIOLET


Dengan ditemukannya bahan penyerap sinar ultraviolet, kita tidak perlu khawatir lagi dengan
bahaya sinar ultraviolet. Bahan tersebut diciptakan melalui teknologi elektromagnetik. Bahan
tersebut terdiri dari tujuh lapisan. Lapisan terluar berupa kaca atau plastik yang berfungsi sebagai
pelindung. lapisan di bawahnya (kedua) merupakan lapisan oksida yang transparan (bening)
bersifat sebagai konduktor. Lapisan ketiga berupa lapisan bahan yang bersifat elektrokromik.
Lapisan keempat yaitu lapisan elektrolit dan kelima berupa larutan tempat berkumpulnya ion-

ion. Lapisan terakhir kemudian ditutup dengan lapisan oksida dan lapisan kaca yang sama
dengan lapisan pertama dan kedua.
Cara kerja bahan ini yaitu, adanya beda tegangan yang rendah antara kedua lapisan oksida
yang membungkus tiga lapisan dalam menyebabkan terjadinya transfer ion positif (anion)
menuju lapisan elektrokromatik. Anion ini didorong melalui lapisan elektrolit sehingga sampai
dilapisan elektrokromatik. Kegiatan ini menyebabkan terjadinya perubahan karakteristik optis
dan sifat termal bahan sehingga bahan dapat menyerap gelombang cahaya tampak sekaligus
panas matahari yang menyertainya.
Penyerapan gelombang cahaya ini menyebabkan kaca jendela menjadi terlihat gelap. Saat
aliran listrik dihentikan, anion yang ada di lapisan elektrokromik terdorong keluar melalui
elektrolit dan kembali ke tempat menyimpan ion (tempat semula). Hal itu mengakibatkan kaca
kembali menjadi transparan.