Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH OSEANOGRAFI

KOMPONEN MAYOR-MINOR KIMIA AIR LAUT

oleh
Riza Qurrota Ayunin
155 080 301 111 034
T02

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
2015

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena
atas berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Komponen Mayor-Minor Kimia Air Laut. Salam
serta salawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang
merupakan tauladan bagi kaum muslimin dimuka bumi ini. Walaupun
berbagai macam tantangan yang dihadapi, tapi semua itu telah
memberikan pengalaman yang berharga untuk dijadikan pelajaran
dimasa yang akan datang.
Malang, 26 Maret 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Judul.. i
Kata Pengantar.
ii
Daftar Isi.
iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..
1
B. Rumusan Masalah.
2
C. Tujuan Penulisan......
2

BAB II PEMBAHASAN
A. Teori Asal-Usul Garam-Garam di Laut.
.3
B. Devenisi Salinitas..
4
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Salinitas
4
D. Pengaruh faktor salinitas di laut pada tingkah laku dan kelimpahan ikan
5
E. Devenisi Desalinisasi
11
F. Apa saja kelompok elemen (organic dan inorganic di alam..............
14
G. Peranan bahan Organik dalam Ekologi Laut.
18

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
19

DAFTAR PUSTAKA
20
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sumber air terbanyak di bumi ini adalah air laut, namun untuk sampai
pada tahap penggunaan sehari-hari tidak bisa langsung digunakan harus melalui
pengolahan terlebih dahulu, mengingat salinitas air laut sangat tinggi. HYDRO
sea water membran dapat mengubah air laut dengan salinitas tinggi menjadi air
tawar untuk penggunaan sehari-hari.
Laut sendiri menurut sejarahnya terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu,
dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu
sekitar 100C) karena panasnya bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi
karena saat itu atmosfer bumi dipenuhi oleh karbon dioksida. Keasaman air
inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan yang terjadi yang menghasilkan
garam-garaman yang menyebabkan air laut menjadi asin seperti sekarang ini.
Pada saat itu, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid
menghantam bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu bertipe mamut
alias 'luar biasa' tingginya karena jarak bulan yang begitu dekat dengan bumi.
Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahanbahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Keberadaan garam-garaman
mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas, kompresibilitas, titik beku, dan
temperatur dimana densitas menjadi maksimum) beberapa tingkat, tetapi tidak
menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya serap cahaya) tidak
terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat yang sangat ditentukan
oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar listrik (konduktivitas) dan
tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%),
natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan
sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium
dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan
di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal
vents) di laut dalam.

1
2.
3.
4.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana asal-usul garam-garam di laut ?
Apa pengertian Salinitas ?
Apa saja faktor yang mempengaruhi salinitas ?
Apa pengertian Desalinisasi?

5.
Apa pengaruh faktor salinitas di laut pada tingkah laku dan kelimpahan
ikan ?
6.
Apa saja kelompok elemen (organic dan inorganic di alam ?
7.
Apa saja peranan bahan organic didalam air
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui asal-usul garam-garam di laut.
2.
Untuk mengetahui pengertian Salinitas.
3.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi salinitas.
4.
Untuk mengetahui pengertian dari desalinisasi
5.
Untuk mengetahui pengaruh salinitas di laut pada tingkah laku dan
kelimpahan ikan.
6.
Untuk mengetahui kelompok elemen (organic dan inorganic di alam
terutama di perairan..
7.
Untuk mengetahui peranan bahan organic didalam air

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Teori Asal-Usul Garam-Garam Di Laut

Mula-mula diperkirakan bahwa zat-zat kimia yang menyebabkan air laut


asin berasal dari darat yang dibawa oleh sungai-sungai yang mengalir ke laut,
entah itu dari pengikisan batu-batuan darat, dari tanah longsor, dari air hujan
atau dari gejala alam lainnya, yang terbawa oleh air sungai ke laut. Jika hal ini

benar tentunya susunan kimiawi air sungai tidak akan berbeda dengan susunan
kimiawi air laut.
Menurut teori, zat-zat garam tersebut berasal dari dalam dasar laut
melalui proses outgassing, yakni rembesan dari kulit bumi di dasar laut yang
berbentuk gas ke permukaan dasar laut. Bersama gas-gas ini, terlarut pula hasil
kikisan kerak bumi dan bersama-sama garam-garam ini merembes pula air,
semua dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di laut. Kadar
garam ini tetap tidak berubah sepanjang masa. Artinya kita tidak menjumpai
bahwa air laut makin lama makin asin.
Zat-zat yang terlarut yang membentuk garam, yang kadarnya diukur
dengan istilah salinitas dapat dibagi menjadi empat kelompok, yakni:

Konstituen utama

: Cl, Na, SO4, dan Mg.

Gas terlarut

: CO2, N2, dan O2.

Unsur Hara

: Si, N, dan P.

Unsur Runut
: I, Fe, Mn, Pb, dan Hg.
Konstituen utama merupakan 99,7% dari seluruh zat terlarut dalam air laut,
sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari ketiga kelompok zat lainnya. Akan tetapi
meskipun kelompok zat terakhir ini sangat kecil persentasenya, mereka banyak
menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya kepekatan zat-zat ini banyak
ditentukan oleh aktivitas kehidupan di laut.
Selain zat-zat terlarut ini, air juga mengandung butiran-butiran halus
dalam suspense. Sebagian dari zat ini akhirnya terlarut, sebagian lagi
mengendap ke dasar laut dan sisanya diurai oleh bakteri menjadi zat-zat hara
yang dimanfaatkan tumbuhan untuk fotosintesis.
B. Definisi Salinitas
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.
Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah. Kandungan
garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil
sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam
sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air
dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3
sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Salinitas

Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah,


maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah tingkat
penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya.

Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka
salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah
hujan yang turun salinitas akan tinggi.

Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak


sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan
rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang bermuara ke laut
tersebut maka salinitasnya akan tinggi.
Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar
3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar
garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki
kadar garam sekitar 30%. Walaupun kebanyakan air laut di dunia memiliki kadar
garam sekitar 3,5 %, air laut juga berbeda-beda kandungan garamnya. Yang
paling tawar adalah di timur Teluk Finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya
bagian dari Laut Baltik. Yang paling asin adalah di Laut Merah, di mana suhu
tinggi dan sirkulasi terbatas membuat penguapan tinggi dan sedikit masukan air
dari sungai-sungai. Kadar garam di beberapa danau dapat lebih tinggi lagi.

D. Pengaruh Faktor Salinitas Di Laut Pada Tingkah Laku Dan Kelimpahan


Ikan.
1. Suhu air laut
Ikan adalah hewan berdarah dingin, yang suhu tubuhnya selalu
menyesuaikan dengan suhu sekitarnya. Selanjutnya dikatakan pula bahwa ikan
mempunyai kemampuan untuk mengenali dan memilih range suhu tertentu yang
memberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas secara maksimum dan pada
akhirnya mempengaruhi kelimpahan dan distribusinya. Pengaruh suhu terhadap
ikan adalah dalam proses vertikall, seperti pertumbuhan dan pengambilan
makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan renang, serta dalam rangsangan
syaraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas terlihat selama
pemijahan. Suhu air laut dapat mempercepat atau memperlambat mulainya
pemijahan pada beberapa jenis ikan. Suhu air dan arus selama dan setelah

pemijahan adalah faktor-faktor yang paling penting yang menentukan kekuatan


keturunan dan daya tahan larva pada spesies-spesies ikan yang paling penting
secara komersil. Suhu ekstrim pada daerah pemijahan (spawning ground)
selama musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk memijah di daerah lain
daripada di daerah tersebut. Perubahan suhu jangka panjang dapat
mempengaruhi perpindahan tempat pemijahan (spawning ground) dan fishing
ground secara vertikal.
Secara alami suhu air permukaan merupakan lapisan hangat karena
mendapat radiasi matahari pada siang hari. Karena pengaruh angin, maka di
lapisan teratas sampai kedalaman kira-kira 50-70 m terjadi pengadukan, hingga
di lapisan tersebut terdapat suhu hangat (sekitar 28C) yang ertical. Oleh sebab
itu lapisan teratas ini sering pula disebut lapisan vertikal. Karena adanya
pengaruh arus dan pasang surut, lapisan ini bisa menjadi lebih tebal lagi. Di
perairan dangkal lapisan vertikal ini sampai ke dasar. Lapisan permukaan laut
yang hangat terpisah dari lapisan dalam yang dingin oleh lapisan tipis dengan
perubahan suhu yang cepat yang disebut termoklin atau lapisan diskontinuitas
suhu. Suhu pada lapisan permukaan adalah seragam karena percampuran oleh
angin dan gelombang sehingga lapisan ini dikenal sebagai lapisan percampuran
(mixed layer). Mixed layer mendukung kehidupan ikan-ikan pelagis, secara pasif
mengapungkan plankton, telur ikan, dan larva, sementara lapisan air dingin di
bawah termoklin mendukung kehidupan hewan-hewan bentik dan hewan laut
dalam.
Pada saat terjadi penaikan massa air (upwelling), lapisan termoklin ini
bergerak ke atas dan gradiennya menjadi tidak terlalu tajam sehingga massa air
yang kaya zat hara dari lapisan dalam naik ke lapisan atas.jangka pendek dari
kedalaman termoklin dipengaruhi oleh pergerakan permukaan, pasang surut,
dan arus. Di bawah lapisan termoklin suhu menurun secara perlahan-lahan
dengan bertambahnya kedalaman.
Kedalaman termoklin di dalam lautan Hindia mencapai 120 meter. Menuju
ke selatan di daerah arus equatorial selatan, kedalaman termoklin mencapai 140
meter.
2. Pengaruh Arus
Ikan bereaksi secara langsung terhadap perubahan lingkungan yang
dipengaruhi oleh arus dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada arus.
Arus tampak jelas dalam organ mechanoreceptor yang terletak garis mendatar

pada tubuh ikan. Mechanoreceptoradalah reseptor yang ada pada vertikal yang
mampu memberikan informasi perubahan mekanis dalam lingkungan seperti
gerakan, tegangan atau tekanan. Biasanya gerakan ikan selalu mengarah
menuju arus. Fishing ground yang paling baik biasanya terletak pada daerah
batas antara dua arus atau di daerah upwelling dan divergensi. Batas arus
(konvergensi dan divergensi) dan kondisi oseanografi dinamis yang lain (seperti
eddies), berfungsi tidak hanya sebagai perbatasan distribusi lingkungan bagi
ikan, tetapi juga menyebabkan pengumpulan ikan pada kondisi ini. Pengumpulan
ikan-ikan yang penting secara komersil biasanya berada pada tengah-tengah
arus eddies. Akumulasi plankton, telur ikan juga berada di tengah-tengah
antisiklon eddies. Pengumpulan ini bisa berkaitan dengan pengumpulan ikan
dewasa dalam arus eddi (melalui rantai makanan).

3. Pengaruh Cahaya
Ikan bersifat fototaktik baik secara positif maupun vertikal. Banyak ikan
yang tertarik pada cahaya buatan pada malam hari, satu fakta yang digunakan
dalam penangkapan ikan. Pengaruh cahaya buatan pada ikan juga dipengaruhi
oleh faktor lingkungan lain dan pada beberapa spesies bervariasi terhadap waktu
dalam sehari. Secara umum, sebagian besar ikan pelagis naik ke permukaan
sebelum matahari terbenam. Setelah matahari terbenam, ikan-ikan ini menyebar
pada kolom air, dan tenggelam ke lapisan lebih dalam setelah matahari terbit.
Ikan demersal biasanya menghabiskan waktu siang hari di dasar selanjutnya
naik dan menyebar pada kolom air pada malam hari.
Cahaya mempengaruhi ikan pada waktu memijah dan pada larva. Jumlah
cahaya yang tersedia dapat mempengaruhi waktu kematangan ikan. Jumlah
cahaya juga mempengaruhi daya hidup larva ikan secara tidak langsung, hal ini
diduga berkaitan dengan jumlah produksi organik yang sangat dipengaruhi oleh
ketersediaan cahaya. Cahaya juga mempengaruhi tingkah laku larva.
Penangkapan beberapa larva ikan pelagis ditemukan lebih banyak pada malam
hari dibandingkan pada siang hari.
4. Upwelling

Upwelling adalah penaikan massa air laut dari suatu lapisan dalam ke
lapisan permukaan. Gerakan naik ini membawa serta air yang suhunya lebih
dingin, salinitas tinggi, dan zat-zat hara yang vertikal permukaan. Proses
upwelling ini dapat terjadi dalam tiga bentuk.
Pertama, pada waktu arus dalam (deep current) bertemu dengan
rintangan seperti mid-ocean ridge (suatu sistem ridge bagian tengah lautan) di
mana arus tersebut dibelokkan ke atas dan selanjutnya air mengalir deras ke
permukaan.
Kedua, ketika dua massa air bergerak berdampingan, misalnya saat
massa air yang di utara di bawah pengaruh gaya coriolis dan massa air di
selatan ekuator bergerak ke selatan di bawah pengaruh gaya coriolis juga,
keadaan tersebut akan menimbulkan ruang kosong pada lapisan di bawahnya.
Kedalaman di mana massa air itu naik tergantung pada jumlah massa air
permukaan yang bergerak ke sisi ruang kosong tersebut dengan kecepatan
arusnya. Hal ini terjadi karena adanya divergensi pada perairan laut tersebut.
Ketiga, upwelling dapat pula disebabkan oleh arus yang menjauhi pantai
akibat tiupan angin darat yang terus-menerus selama beberapa waktu. Arus ini
membawa massa air permukaan pantai ke laut lepas yang mengakibatkan ruang
kosong di daerah pantai yang kemudian diisi dengan massa air di bawahnya.
E. Definisi Desalinisasi
Desalinasi adalah proses pemisahan yang digunakan untuk
mengurangi kandungan garam terlarut dari air garam hingga level
tertentu sehingga air dapat digunakan. Proses desalinasi melibatkan
tiga aliran cairan, yaitu umpan berupa air garam (misalnya air laut),
produk bersalinitas rendah, dan konsentrat bersalinitas tinggi. Produk
proses desalinasi umumnya merupakan air dengan kandungan garam
terlarut kurang dari 500 mg/l, yang dapat digunakan untuk keperluan
domestik, industri, dan pertanian. Hasil sampingan dari proses
desalinasi adalah brine. Brine adalah larutan garam berkonsentrasi
tinggi (lebih dari 35000 mg/l garam terlarut).
Distilasi merupakan metode desalinasi yang paling lama dan
paling umum digunakan. Distilasi adalah metode pemisahan dengan
cara memanaskan air laut untuk menghasilkan uap air, yang
selanjutnya dikondensasi untuk menghasilkan air bersih. Berbagai
macam proses distilasi yang umum digunakan, seperti multistage

flash, multiple effect distillation, dan vapor compression umumnya


menggunakan prinsip mengurangi tekanan uap dari air agar
pendidihan dapat terjadi pada temperatur yang lebih rendah, tanpa
menggunakan panas tambahan.
Metode lain desalinasi adalah dengan menggunakan membran.
Terdapat dua tipe membran yang dapat digunakan untuk proses
desalinasi, yaitu reverse osmosis (RO) dan electrodialysis (ED). Pada
proses desalinasi menggunakan membran RO, ialah sebuah istilah
teknologi yang berasal dari osmosis. Osmosis adalah sebuah fenomena
alam dalam sel hidup di mana molekul solvent (biasanya air) akan
mengalir dari daerah solute rendah ke daerah solute tinggi melalui
sebuah membran semipermeable. Membran semipermeable ini
menunjuk ke membran sel atau membran apa pun yang memiliki
struktur yang mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari
solvent berlanjut sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai
di kedua sisi membrane. Reverse osmosis dapat diartikan proses
pemaksaan sebuah solvent dari daerah konsentrasi solute tinggi
melalui sebuah membran ke sebuah daerah solute rendah dengan
menggunakan sebuah tekanan melebihi tekanan osmotik.
Dalam istilah lebih mudah, reverse osmosis adalah mendorong
sebuah solusi melalui filter yang menangkap solute dari satu sisi dan
membiarkan pendapatan solvent murni dari sisi satunya. air pada
larutan
garam
dipisahkan
dari
garam
terlarutnya
dengan
mengalirkannya melalui membran water-permeable. Permeate dapat
mengalir melalui membran akibat adanya perbedaan tekanan yang
diciptakan antara umpan bertekanan dan produk, yang memiliki
tekanan dekat dengan tekanan atmosfer. Sisa umpan selanjutnya akan
terus mengalir melalui sisi reaktor bertekanan sebagai brine. Proses ini
tidak melalui tahap pemanasan ataupun perubahan fasa. Kebutuhan
energi utama adalah untuk memberi tekanan pada air umpan.
Desalinasi air payau membutuhkan tekanan operasi berkisar antara
250 hingga 400 psi, sedangkan desalinasi air laut memiliki kisaran
tekanan operasi antara 800 hingga 1000 psi.
Dalam praktiknya, umpan dipompa ke dalam container tertutup,
pada membran, untuk meningkatkan tekanan. Saat produk berupa air
bersih dapat mengalir melalui membran, sisa umpan dan larutan brine

menjadi semakin terkonsentrasi. Untuk mengurangi konsentrasi garam


terlarut pada larutan sisa, sebagian larutan terkonsentrasi ini diambil
dari container untuk mencegah konsentrasi garam terus meningkat.
Sistem RO terdiri dari 4 proses utama, yaitu:
1.
Pretreatment: Air umpan pada tahap pretreatment
disesuaikan dengan membran dengan cara memisahkan padatan
tersuspensi, menyesuaikan pH, dan menambahkan inhibitor untuk
mengontrol scaling yang dapat disebabkan oleh senyawa tetentu,
seperti kalsium sulfat.
2.
Pressurization: Pompa akan meningkatkan tekanan dari
umpan yang sudah melalui proses pretreatment hingga tekanan
operasi yang sesuai dengan membran dan salinitas air umpan.
3.
Separation: Membran permeable akan menghalangi aliran
garam terlarut, sementara membran akan memperbolehkan air produk
terdesalinasi melewatinya. Efek permeabilitas membran ini akan
menyebabkan terdapatnya dua aliran, yaitu aliran produk air bersih,
dan aliran brine terkonsentrasi. Karena tidak ada membran yang
sempurna pada proses pemisahan ini, sedikit garam dapat mengalir
melewati membran dan tersisa pada air produk. Membran RO memiliki
berbagai jenis konfigurasi, antara lain spiral wound dan hollow fine
fiber membranes.
4.
Stabilization: Air produk hasil pemisahan dengan membran
biasanya membutuhkan penyesuaian pH sebelum dialirkan ke sistem
distribusi untuk dapat digunakan sebagai air minum. Produk mengalir
melalui kolom aerasi dimana pH akan ditingkatkan dari sekitar 5
hingga mendekati 7.
Dua metode yang paling banyak digunakan adalah Reverse
Osmosis (47,2%) ialah sebuah istilah teknologi yang berasal dari
osmosis. Osmosis adalah sebuah fenomena alam dalm sel hidup di
mana molekul solvent (biasanya air) akan mengalir dari daerah
solute rendah ke daerah solute tinggi melalui sebuah membran
semipermeable. Membran semipermeable ini menunjuk ke
membran sel atau membran apa pun yang memiliki struktur yang
mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari solvent berlanjut
sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua sisi

membrane. Reverse osmosis dapat diartikan proses pemaksaan


sebuah solvent dari daerah konsentrasi solute tinggi melalui sebuah
membran ke sebuah daerah solute rendah dengan menggunakan
sebuah tekanan melebihi tekanan osmotik. Dalam istilah lebih mudah,
reverse osmosis adalah mendorong sebuah solusi melalui filter yang
menangkap solute dari satu sisi dan membiarkan pendapatan
solvent murni dari sisi satunya. Proses ini telah digunakan untuk
mengolah air laut untuk mendapatkan air tawar, sejak awal 1970-an
F. Macam-macam Elemen Organik dan Inorganik
Millero (2006) membagi elemen (organik dan inorganik)
menjadi 3 kelompok berdasarkan rata-rata konsentrasinya di alam,
yaitu:

1.

Elemen makro (Mayor) (0,05 750 mM) (Na, Cl, Mg)

Elemen mikro (Minor) (0,05 50 M) (P dan N)

Elemen trace atau kelumit (0,05 -50 nM) (Pb, Hg, Cd)
Elemen Makro (Mayor)

Elemen mayor disuatu perairan jumlahnya sangat banyak


(unlimited elements) dimana untuk rata rata RT > 10 6 year. Elemen
mayor bersifat sangat konservatif atau keberadaanya dilaut sangat
tetap, dan konsentrasi tidak berkurang ataupun tidak bertambah
dengan semakin dalam suatu perairain. Tiga sumber utama dari
garam-garaman di laut adalah pelapukan batuan di darat, gasgas
vulkanik dan sirkulasi lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents)
di laut dalam. salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman
dalam gram pada setiap kilogram air laut.untuk elemen mayor sendiri
tergolong dalam beberapa logam logam, yang termasuk dalam
elemen mayor adalah : B, Br, Cl, Cs, F, K, Lr, Mg, Mo, Na, Rb, S, Ti, dan
U.
Mengingat tingginya kandungan kation, air laut dapat digunakan
sebagai salah satu sumber hara bagi tanaman termasuk tanaman yang
sensitive terhadap kadar garam yang tinggi.Untuk elemen mayor atau

mayor elemen yang mempunyai ukuran > 1 ppm yaitu diantaranya


adalah : Na, Mg, Ca, K, Cl, SO 4 dan HCO3. Sedangkan untuk keberadaan
perbandingan elemen mayor yang terdapat pada suatu perairan
sangat stabil, kestabilan dari ratio mayor elemen disuatu perairan
tergantung pada kondisi disuatu perairan.berikut ini merupakan contoh
dari karakteristik komposisi ratrio dengan antar elemen : SO 4 : Cl ;
HCO3 : Cl ; K : Na
Berkaitan dengan tingginya salinitas air laut, tantangan yang
dihadapi adalah upaya untuk memanfaatkan unsur-unsur hara tersebut
dengan menurunkan kandungan Na dan ClMg : Na
dan Ca : Mg
dimana kondisi suatu perairan disungai lebih tinggi dibandingkan
dilaut. Selain proses di atas, proses-proses biogeokimia seperti reaksi
redoks, kompleksasi solidifikasi, mineralisasi-remineralisasi dan faktor
lingkungan seperti pH, suhu, salinitas, arus dan aktifitas hidrothermal
juga berperan penting terhadap distribusi mikro elemen di laut.
Kelompok Elemen Kimia Utama (major elements)
Karena elemen kimia ini terdapat dilaut dalam kadar yang besar, yaitu
terdapat dalam jumlah lebih dari 31,67 miligram elemen dalam 1 liter
air laut. Atau 21,5 g/l. Nama-nama elemen Kimia Utama Yaitu:
v Khlor (Cl) 89.500.000 ton/mil air laut
v Natrium (Na) 49.500.000 ton/mil air laut
v Magnesium (Mg) 6.400.000 ton/mil air laut
v Belerang (S) 4.200.000 ton/mil air laut
v Kalsium (Ca) 1.900.000 ton/mil air laut
v Kalium (Br) 1.800.000 ton/mil air laut
v Brom (Br) 306.000 ton/mil air laut
v Karbon (C1) 32.000 ton/mil air laut
2. Elemen Mikro (Minor)
Minor elemen atau elemen mayor memiliki suatu ukuran 1 ppb 4
ppm (< 1ppm) yang termasuk dalam elemen minor disuatu lautan
yaitu diantaranya : O, H, Cl, Na, Mg, C, Ca, K, Dr, C, Sr, B, dan F. dari
elemen elemen tersebut terdapat ada 14 unsur yang termasuk dalam

elemen minor.elemen minor memiliki pola distribusi yang luas atau


dengan kata lain pola penyebaran yang luas dari suatu perairan tropis
sampai sub tropis.dari 14 jenis ion pada air laut.Dari jumlah itu,
konsentrasi klorida dan natrium terdapat dalam jumlah yang
sangattinggi. Hal inilah yang menyebabkan tingginya salinitas air
laut. . Di samping itu unsure Na juga dapat dimanfaatkan sebagai
unsur hara untuk jenis-jenis tanaman tertentu yang membutuhkannya
baik sebagai unsure tambahan/menguntungkan maupun sebagai
pengganti sebagian dari kebutuhan akan unsur K.
Kelompok ini terdapat dalam kadar yang lebih kecil dibandingkan
dengankelompok elemen kimia utama, sehingga elemen-elemen ini
dimasukan kedalamkelompok elemen kimia tambahan atau minor
elemen. Kadarnya di laut mempunyainilai kisaran antara 5,52 mg
sampai 0,079 mg yang terdapat dalam satu liter air laut.Karena
kadarnya relatip lebih kecil, maka kelompok jenis elemen ini mudah
lenyapdari perairan laut oleh sebab itu prose absorbsi atau penyerapan
oleh partikel-partikelmaupun organisme organisme yang ada dan
hidup dilaut. Berbeda dengan kelompok elemen kimia utama , maka
untuk menentukan kadar dari kelompok elemen kimiatambahan yang
ada dilaut diperlukan contoh yang banyak. Yang tergolong ke dalam
minor elemen antara lain : Boron (B), Silikon (Si), Flour (F), Argon (Ar),
Nitrogen(N), Liitium (Li), Rubidium (Rb), dan Fosfor (P).
Kelompok Elemen Kimia Tambahan (minor elements)
Kelompok ini terdapat dalam kadar yang lebih kecil dibandingkan
dengan kelompok elemen kimia utama, sehingga elemen-elemen ini
dimasukan kedalam kelompok elemen kimia tambahan atau minor
elemen. Nama-nama elemen Tambahan Utama Yaitu:
Boron (B) 23.000 ton/mil air laut
Silikon (Si) 14.000 ton/mil air laut
Flour (F) 6.100 ton/mil air laut
Argon (Ar) 2.800 ton/mil air laut
Nitrogen (N) 2.400 ton/mil air laut
Liitium (Li) 800 ton/mil air laut
Rubidium (Rb) 570 ton/mil air laut

Fosfor (P) 330 ton/mil air laut

3.

Trace Element

Trace Elemen merupakan unsure unsure atau senyawa senyawa


kimia dilaut yang kelarutanya kurang dari 1 ppb atau dapat diartikan
sang kecil.tetapi untuk keberadaanya sang diperlukan dalam
pengaturan keseimbangan kelarutan elemen elemen dilaut dan
proses biologi organism bahari. rasio konsentrasi elemen yang konstan
terhadap elemen yang berkaitan dengan khlorinitas atau salinitas
ditemukan pada beberapa elemen karena tingkat reaktifitasnya yang
rendah. Logam-logam Cu, Mn, Fe dan Zn jika terjadi defisiensi
menyebabkan penyakit baik pada hewan maupun tumbuhan. Cu, Cr,
Se dan I untuk hewan dan B dan Mo untuk tanaman. Hampir semua
mikronutrien memiliki peran sebagai penyusun enzym dan proteinprotein penting lain yang terlibat dalam pathway/siklus metabolik.
Ketiadaan mikronutrien akan menyebabkan disfungsi metabolik yang
mengakibatkan penyakit. Elemen-elemen yang tidak mempunyai
kepentingan secara biokimiawi disebut "non essensial element".
Contohnya non-essential element adalah As, Cd, Hg, Pb, Po, Sb, Ti
dan U yang menyebabkan toksisitas pada konsentrasi yang melebihi
ambang batas tetapi tidak menyebabkan "deficiency disorder" pada
konsentrasi rendah seperti mikronutrien.
Kelompok Elemen Kimia Jarang (Trace Element)
Di laut terdapat pula kelompok elemen yang disebut kelompok
elemen jarang atau Trace Element. Elemen ini terdapat di laut dalam
kadar yang sanagt kecil sekali dibandingkan dengan kadar-kadar dari
elemen- elemen dari kelompok yang lain. Kadar elemen jarang yang
terdapat di laut mempunyai nilai kisaran antara 67.18g sampai 0,024
g dalam 1 liter air laut. Nama-nama elemen Jarang Utama Yaitu:
Yod (I) 280 ton/mil air laut
Barium (Ba) 140 ton/mil air laut
Besi (Fe) 47 ton/mil air laut
Molibden(Mo) 47 ton/mil air laut

Seng (Zn) 47 ton/mil air laut


Selen (Se) 29 ton/mil air laut
Argon (Ar) 14 ton/mil air laut
Tembaga (Cu) 14 ton/mil air laut
Timah (Sn) 14 ton/mil air laut
Uranium (U) 14 ton/mil air laut
Mangan (Mn) 9 ton/mil air laut
Nikel (Ni) 9 ton/mil air laut
Vanadium (V) 9 ton/mil air laut

G. Peranan Bahan Organik dalam Ekologi Laut


Adapun peranan bahan organik di dalam ekologi laut adalah
sebagai berikut :
Sumber energi (makanan)
Sumber bahan keperluan bakteri, tumbuhan maupun hewan
Sumber vitamin
memiliki peranan penting dalam mengatur kehidupan fitoplankton di
laut.
Mengontrol Proses-Proses Geokimia, Memberi Pengaruh Transpor &
Degradasi Polutan, serta berperan dalam Reaksi-Reaksi Disolusi,
Prespitasi Mineral
Jumlah bahan organik terlarut dalam air laut biasanya melebihi ratarata bahan organik tidak terlarut. Semua bahan organik ini dihasilkan
oleh organisme hidup melalui proses metabolisme dan hasil
pembusukan.
Ekresi dari mikroorganisme seperti protozoa merupakan sumber
yang penting dari bahan organik karbon. Proses pelepasan nitrogen
dan fospor dari organisme mati dalam air laut terjadi dengan cepat.
Hampir seluruh organik karbon terlarut dalam air laut berasal dari
karbondioksida yang dihasilkan oleh fitoplankton. Konsentrasinya
tergantung pada keseimbangan antara rata-rata organik karbon
terlarut yang dibentuk oleh hasil pembusukan, eksresi dan rata-rata
hasil penguraian atau pemanfaatannya.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah Unsur-Unsur Dalam Air Laut
dan Salinitas yaitu :
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.
Faktor-faktor yang mempengaruhi salinitas :
a. Penguapan
b. Curah hujan
c. Banyak sedikitnya sungai yang bermuara dilaut
Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, aliran sungai.
Pengaruh Faktor Salinitas Di Laut Pada Tingkah Laku Dan
Kelimpahan Ikan:
a. Suhu air laut
b. Pengaruh arus
c. Pengaruh cahaya
d. upwelling
Desalinasi adalah proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi
kandungan garam terlarut dari air garam hingga level tertentu sehingga air dapat
digunakan. Proses desalinasi melibatkan tiga aliran cairan, yaitu umpan berupa
air garam (misalnya air laut), produk bersalinitas rendah, dan konsentrat
bersalinitas tinggi.
Berdasarkan rata-rata konsentrasinya di alam, elemen terbagi
atas elemen makro yaitu elemen kimia yang terdapat dilaut dalam
kadar yang besar, elemen mikro atau minor elemen yaitu kadarnya
yang lebih kecil dibandingkan dengan kelompok elemen kimia utama,
dan trace elemen dalam kadar yang sangat kecil sekali dibandingkan
dengan kadar-kadar dari elemen-elemen dari kelompok yang lain.
Adapun peranan bahan organik di dalam ekologi laut adalah

sebagai berikut :
Sumber energi (makanan), sumber bahan keperluan bakteri, tumbuhan
maupun hewan, sumber vitamin, memiliki peranan penting dalam
mengatur kehidupan fitoplankton di laut.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.gewater.com/what_we_do/water_scarcity/desalination.jsp
http://www.oas.org/dsd/publications/Unit/oea59e/ch20.htm#TopOfPage
Nontji, A. , 2007. LAUT NUSANTARA. Jakarta : Djambatan.
Romimohtarto, K. dan Juwana, S. 2007. BIOLOGI LAUT : Ilmu
Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta : Djambatan.
Sanusi, H. S. 2006. Kimia Laut. Proses Fisik Kimia dan Interaksinya
dengan Lingkungan. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 188 + xi
halaman.