Anda di halaman 1dari 5

Kasus Keracunan Gas CO (Karbon Monoksida) yang Terjadi di Dalam

Mobil
Banyak kasus kematian ketika orang beristirahat di dalam mobil, dengan kondisi
mesin dihidupkan, AC menyala, dan kaca tertutup rapat sehingga dapat menyebabkan
orang yang berada di dalam mobil tersebut keracunan gas CO (karbon monoksida).
Berikut adalah beberapa contoh kasus yang pernah terjadi hingga berujung pada
kematian.

Sepasang kekasih, Hery Arief Sutisna (22) dan Mega Purnama (21), ditemukan
tewas di dalam mobil Kijang Innova B 8636 YQ, yang terparkir menyala dan seluruh
jendela mobil tertutup di Pantai Karnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara
(Jakut), Senin (16/6/2008) pukul 06.30. Keduanya diduga tewas karena mengirup

karbon.
Judul surat kabar, 12 Orang Meninggal Dunia Akibat Macet Horor di Brebes.
Kejadian tanggal 3 Juli 2016. Azizah, balita baru berumur 1,4 tahun meninggal
akibat terjebak macet dan saat itu AC mobil hidup lebih dari 6 jam. Azizah

meninggal dalam perjalanan ke puskesmas Tanjung


Kejadian tanggal 5 Juli 2016 sekitar pukul 06.30 WIB. Rizaldi Wibowo (17) asal

Kendal meninggal dalam bus yang terjebak macet.


Kejadian tanggal 5 juli 2016, sekitar pukul 06.30 WIB. Suhartiningsih (49)

meninggal dalam mobil pribadi.


Tragis benar nasib satu keluarga yang menumpang mobil Daihatsu Grandmax BD
1821 AH ini. Saat bermalam di mobil yang ditepikan di Jalan Bekasi Barat, Rawa
Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, mereka ditemukan sudah tak bernyawa lagi.
3 orang dalam 1 keluarga itu, ditemukan tewas di dalam mobil dengan mesin yang
menyala, AC mobil dihidupkan, pintu mobil dalam keadaan tertutup, dan jendela
mobil dalam keadaan tertutup.
Penyebab keracunan di dalam mobil ini adalah selang AC yang bocor sehingga

baunya (gas karbon) masuk ke dalam mobil dan gas tersebut terhirup. Selain itu, yang
juga menjadi penyebab keracunan dalam mobil kebanyakan dari keluarnya gas karbon
monoksida (CO) pada sistem pembuangan yang tidak berfungsi baik karena pipa

pembuangan yang tidak dirawat alias bocor. Hanya sedikit sekali keracunan di mobil
yang diakibatkan oleh zat-zat yang terdapat dalam perabotan mobil.
Ketika seseorang menghidupkan AC dalam waktu lama saat mobil diam dan
kondisinya tertutup rapat akan membuat sirkulasi udara tidak berjalan. Akibatnya gas
karbon monoksida akan terakumulasi di dalam mobil.
Keracunan gas CO atau karbon monoksida sukar didiagnosa. Gejalanya mirip
dengan flu yaitu didahului dengan sakit kepala, mual, muntah, lelah, lesi pada kulit,
berkeringat banyak, pyrexia, pernapasan meningkat, mental dullness dan konfusion,
gangguan penglihatan, konvulsi, hipotensi, myocardinal, dan ischamea.
Kemungkinan terjadi kematian akibat sukar bernafas sangat tinggi. Kematian
terhadap kasus keracunan karbon monoksida disebabkan oleh kurangnya oksigen pada
tingkat selular (cellular hypoxia).
Sel darah merah tidak hanya mengikat oksigen melainkan juga gas lain.
Kemampuan atau daya ikat ini berbeda untuk satu gas dengan gas lain. Sel darah
merah mempunyai ikatan yang lebih kuat terhadap karbon monoksida dari pada
oksigen. Sehingga jika terdapat CO dan O 2, sel darah merah akan cenderung berikatan
dengan CO.
Bila terhirup, karbon monoksida akan terbentuk dengan hemoglobin (Hb) dalam
darah dan akan terbentuk karboksi haemoglobin sehingga oksigen tidak dapat
terbawa. Ini disebabkan karbon monoksida dapat mengikat 250 kali lebih cepat dari
oksigen.
Gas ini juga dapat mengganggu aktivitas selular lainnya yaitu dengan mengganggu
fungsi organ yang menggunakan sejumlah besar oksigen seperti otak dan jantung.
Gejala klinis saturasi darah oleh karbon monoksida adalah sebagai berikut:

Konsentrasi CO dalam darah kurang dari 20%, tidak ada gejala.


Konsentrasi CO dalam darah 20%, gejala nafas menjadi sesak.
Konsentrasi CO dalam darah 30%, gejala sakit kepala, lesu, mual, nadi dan

pernapasan meningkat sedikit.


Konsentrasi CO dalam darah 30% hingga 40%, gejala sakit kepala berat,
kebingungan, hilang daya ingat, lemah, hilang daya koordinasi gerakan.

Konsentrasi CO dalam darah 40% sampai 50%, gejala kebingungan makin meningkat

dan setengah sadar.


Konsentrasi CO dalam darah 60% hingga 70%, gejala tidak sadar, kehilangan daya

mengkontrol feses dan urin.


Konsentrasi CO dalam darah 70% hingga 80%, gejala koma, nadi menjadi tidak
teratur, kematian karena kegagalan pernapasan.
CO yang terserap ke dalam tubuh menyebabkan kadar oksigen di dalam tubuh

berkurang sehingga haemoglobin (Hb) kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen


yang cukup untuk bisa diedarkan ke seluruh tubuh. Secara medis, gas CO adalah
kompetitor dari Hemoglobin Oksida (HbO) yang mengikat oksigen dan mengantarkan
ke paru-paru dan ke seluruh sel tubuh, mulai dari otak hingga sel-sel tubuh lainnya.
Ketika gas CO terhirup berlebihan, maka gas ini mengikat lebih kuat sehingga
menghalangi Hemoglobin darah mengikat oksigen. Akibatnya, tubuh pun menjadi
kekurangan oksigen termasuk organ paru-paru dan otak. Biasanya orang yang terpapar
gas CO akan lemas, luar biasa mengantuk, dan seperti berhalusinasi. Sedikit sekali
yang begitu sadar mampu mencari pertolongan karena begitu lemasnya hingga tidak
bisa menggerakkan tangan untuk sekedar membuka pintu mobil. Hal inilah yang
kemudian dapat menyebabkan kematian. Biasanya, orang tidak menyadari bahwa ia
telah terpapar dan menghirup gas CO karena gas ini tidak berbau, tidak terlihat, dan
tidak berwarna. Sehingga saat dia tertidur, tiba-tiba bangun, sudah keracunan, lemas,
tidak mendapat pertolongan dan akhirnya meninggal.
Jika si korban masih bisa diselamatkan, efek keracunan karbon monoksida bisa
merusak otak dan sistem saraf, mempengaruhi kelakuan dan tingkat kecerdasan,
pertumbuhan lambat, sakit kepala, mual dan muntah. Tapi kebanyakan korban yang
terpapar karbon monoksida tidak bisa diselamatkan.
Gejala umum yang ditimbulkan jika keracunan karbon monoksida adalah sakit
kepala, pusing, lemas, mual, muntah, sakit pada dada, dan merasa linglung. Jika
kadarnya sudah tinggi maka bisa menyebabkan kehilangan kesadaran dan kematian
yang cepat.

Berikut beberapa tips agar terhindar dari keracunan gas karbon monoksida
dalam mobil.

Rutin memeriksakan sistem pembuangan kendaraan setiap tahunnya, kebocoran kecil


saja pada sistem pembungannya bisa memicu gas beracun karbon monoksida masuk

ke dalam mobil.
Jangan pernah menyalakan mobil di dalam garasi tertutup, karbon monoksida bisa
cepat memenuhi ruangan tersebut. Sebaiknya membuka jendela dan pintu ketika
mobil berhenti sehingga sirkulasi udara berjalan dengan baik dan udara luar bisa

menetralisisr karbon monoksida.


Jika ingin beristirahat dalam mobil, jangan menutup semua kaca dan pintu
dengan penyejuk udara yang masih menyala. Banyak kasus kematian dalam mobil

akibat tertidur dan keracunan gas karbon monoksida.


Periksakan selalu seluruh kondisi kendaraan, terutama jika ingin melakukan
perjalanan jauh. Bukan hanya menghindarkan dari kecelakaan lalu lintas tapi bisa
menghindari keracunan akibat gas buang yang masuk ke dalam mobil.

Rangkuman mekanisme karbon monoksida meracuni tubuh

Saat kita bernafas dengan menghirup karbon monoksida, maka karbon monoksida
akan masuk ke paru-paru dan mengikat hemoglobin pada sel darah merah.
Hemoglobin adalah

protein di dalam sel darah merah yang berfungsi untuk

mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Hemoglobin di dalam sel darah merah lebih mudah terikat (Lihat di gambar=
menancap) pada karbon monoksida dibanding oksigen. Sehingga jika jumlah karbon

monoksida meningkat, maka akan mengakibatkan jumlah oksigen yang terikat

berkurang, dan akan terjadi kekurangan oksigen atau hipoksia


Jika otak tidak lagi memperoleh oksigen yang cukup, karbon monoksida akan
menyebabkan tidak sadarkan diri, koma, kerusakan otak permanen dan kematian.

Referensi
https://artina.wordpress.com/2008/06/19/mati-di-dalam-mobil-karenakeracunan-gas-co/
http://health.detik.com/read/2009/09/11/170201/1201764/763/bahayakeracunan-di-dalam-mobil
https://petunjuksehat.com/karbon-monoksida-membunuh-kita-di-dalam-mobil/
https://www.serayamotor.com/diskusi/viewtopic.php?t=5414

Nama

: Misti Diah Savitri

NIM

: 15051

Tingkat

: 2 B

Semester

: III