Anda di halaman 1dari 11

Laporan Lengkap

GENETIKA
PERCOBAAN III
Interaksi Gen Pada Jagung

Oleh:
Nama

: Defrianti

Stambuk

: A 221 14 123

Kelas

:A

Kelompok

: VI (Enam)

Asisten

: Siddiq Robbani

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2016

I.

Judul

: Interaksi Gen Pada Jagung

II.

Hari/tanggal
Adapun hari/tanggal dilaksanakannya praktikum ini, yaitu:
Hari/tanggal : Sabtu, 22 Oktober 2016
Waktu
: Pukul 13.00 WITA-Selesai
Tempat: Labolatorium Biologi FKIP UNTAD
III.

Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu untuk melihat adanya penyimpangan

ratio fenotip yang disebabkan oleh adanya interaksi antara gen-gen.

IV.

Dasar Teori
Probabilitas atau istilah lainnya kemungkinan, kebolehjadian, peluang dan

sebagaimya umumnya digunakan untuk menyatakan peristiwa yang belum dapat


dipastikan. Dapat juga digunakan untuk menyatakan suatu pernyataan yang tidak
diketahui akan kebenarannya, diduga berdasarkan prinsip teori peluang yang ada.
Sehubungan dengan itu teori kemungkinan sangat penting dalam mempelajari
genetika. Kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah sama dengan
perbandingan antara sesuatu yang diinginkan itu terhadap keseluruhannya.

Kemungkinan peristiwa yang diharapkan ialah perbandingan dari peristiwa yang


diharapkan itu dengan segala peristiwa yang mungkin terjadi (Yatim, 1996).
Metode chisquare adalah cara yang dipakai untuk membandingkan data
percobaan yang diperoleh dari persilangan. Persilangan dengan hasil yang diharapkan
berdasarkan hipotesis secara teoritis. Teori kemungkinan merupakan dasar untuk
menetukan nisbah yang diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda.
Suatu persilangan antara sesama individu dihibrid (AaBb) menghasilkan keturunan
yang terdiri atas empat macam fenotipe, yaitu A-B-, A-bb, aaB-, dan aabb masingmasing sebanyak 315, 108, 101, dan 32. Untuk menentukan bahwa hasil persilangan
ini masih memenuhi nisbah teoretis (9 : 3 : 3 : 1) atau menyimpang dari nisbah
tersebut perlu dilakukan suatu pengujian secara statistika. Uji yang lazim digunakan
adalah uji X2 (Chi-square test) atau ada yang menamakannya uji kecocokan
(goodness of fit) (Yatim,1996).
Uji X2 melibatkan penentuan dan nisbah yang diramalkan dan memastikan
berapa dekat data itu cocok dengan nisbah. Uji X 2 dibuat dengan memastikan
probabilitas bahwa penyimpangan nisbah yang diamati dari nisbah yang diramalkan
disebabkan oleh kebetulan dan tidak ada faktor lain seperti kondisi percobaan,
pencuplikan yang terbias atau bahkan hipotesis yang salah ( Soenartono,1988).
Teori kemungkinan merupakan dasar untuk menentukan nisbah yang
diharapkan dari tipe-tipe persilangan genotip yang berbeda-beda. Penggunaan teori
kemungkinan ini ini memungkinkan kita untuk menduga kemungkinan diperolehnya
suatu hasil tertentu dari persilangan tertentu (Crowder,1988).
Untuk dapat mengetahui apakah hasil dari suatu persilangan sesuai dengan
nisbah yang telah ditentukan atau yang diharapkan dapat dilakukan dengan menguji
hasil yang kita peroleh. Pengujian yang lazim digunakan adalah uji Chi-square (X 2).
Uji Chi-square (X2) adalah uji nyata (goodness of fit) apakah data yang diperoleh
benar menyimpang dari nisbah yang diharapkan, tidak secara kebetulan.
Perbandingan yang diharapkan (hipotesis) berdasarkan pemisahan alele secara bebas,
pembuahan ganet secara rambang dan terjadi segregasi sempurna (Crowder,1988).

Menurut Kimball (1994), bahwa hukum segregasi secara bebas (Hukum


Pertama Mendel) secara garis besar mencakup tiga pokok yaitu :
Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter. Ini
adalah konsep mengenai alel.
Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan dan satu dari tetua
betina
Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda, alel dominan akan
terekspresikan. Alel resesif yang tidak terekspresikan tetap akan diwariskan pada
gamet yang dibentuk.
Hukum Mendel kedua menyatakan bahwa, setiap ahli dari sepasang alel boleh
bergabung secara acak dengan satu alel mana saja dari pasangan gen yang lain ketika
berlangsung pembelahan reduksi (meoisis) pada waktu pembentukan gamet-gamet.
Jadi, segregasi pasangan gen tersebut tidak saling ketergantungan dengan pemisahan
gen lainnya (Kimball, 1994).
Dalam hukum mendel II atau dikenal dengan The Law of Independent
assortmen of genes atau

Hukum

Pengelompokan

Gen

Secara

Bebas

dinyatakan bahwa selama pembentukan gamet, gen-gen sealel akan memisah secara
bebas dan mengelompok dengan gen lain yang bukan alelnya. Pembuktian hukum ini
dipakai pada dihibrid atau polihibrid, yaitu persilangan dari 2 individu yang memiliki
satu ataulebih karakter yang berbeda. Monohibrid adalah hibrid dengan 1 sifat beda,
dan dihibrid adalah hibrid dengan 2 sifat beda, akan menghasilakn perbandingan
9:3:3:1. Fenotif adalah penampakan/ perbedaan sifat dari suatu individu tergantung
dari susunan genetiknya yang dinyatakan dengan kata- kata (misalnya mengenai
ukuran, warna, bentuk, rasa, dan sebagainya). Genotif adalah susunan genetik dari
suatu inidividu yang ada hubungannya dengan fenotif; biasanya dinyatakan dengan
simbol/tanda huruf (Suryo, 1992).

V.

Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan ini, yaitu:
1. Alat
Alat tulis menulis
Kamera/Hp
2. Bahan
Jagung Dua Warna
VI.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dari praktikum ini, yaitu:
Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
Menghitung masing-masing warna pada jagung hasil persilangan dihibrid
Memasukkan data ke dalam tabel pengamatan
Menghitung nilai yang diramalkan
Menghitung nilai deviasi
Menghitung nilai chisquare
Mengartikan penyimpangan pada jagung berdasarkan nilai chisquare

VII.

Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan dari paraktikum ini, yaitu:
7.1 Tabel Hasil Pengamatan
No
1

Warna Biji
Kuning

Banyaknya
166

Putih

97

Diperoleh (o)
Diramal (e)
Devisiasi

Kuning
166
198
-32

7.2 Analisa Data


1. Nilai yang diramal
Kuning
3
x 263 = 198
4
Putih

Rasio yang diharapkan


3
4
1
4
Putih
97
65
32

Jumlah
263
263

1
x 263 = 65
4
2. Devisiasi
Kuning
Devisiasi = o - e
= 166-198
= -32
Putih
Devisiasi = o e
= 97 65
= 32
Kuning
d2
X2 =
e
2
(32)
e=
198
1024
=
= 5,17
198
Putih
d2
X2 =
e
2
1024
(32)
e =
=
= 15,75
65
65
3. Chisquare
d2
Chisquare =
e
= 5,17 + 15,75 = 20,92
VIII. Pembahasan
Hukum Mendel I disebut juga hukum segregasi adalah mengenai kaidah
pemisahan alel pada waktu pembentukan gamet. Pembentukan gamet terjadi secara
meiosis, dimana pasangan pasangan homolog saling berpisah dan tidak berpasangan
lagi/ terjadi pemisahan alel alel suatu gen secara bebas dari diploid menjadi haploid.
Dengan demikian setiap sel gamet hanya mengandung satu gen dari alelnya.
Fenomena ini dapat diamati pada persilangan monohibrid, yaitu persilangan satu
karakter dengan dua sifat beda.
Hukum Mendel II menyatakan pengelompokan gen secara bebas terjadi pada
saat meiosis berlangsung. Setiap gen dapat dipasangkan secara bebas dengan gen

yang lain. Hukum Mendel II hanya berlaku untuk gen yang letaknya berjauhan.
Hukum Mendel II dapat diamati pada persilangan dihibrid atau polihibrid. Pada
percobaan Mendel II dibuktikan melalui adanya dominasi tidak penuh sehingga
persilangan ini memiliki fenotip 1:2:1.
Interaksi gen adalah penyimpangan semu terhadap hukum Mendel yang tidak
melibatkan modifikasi nisbah fenotipe, tetapi menimbulkan fenotipe-fenotipe yang
merupakan hasil kerja sama atau interaksi dua pasang gen nonalelik.
Peristiwa interaksi gen pertama kali dilaporkan oleh W. Bateson dan R.C.
Selain terjadi interaksi antar alel, interaksi juga dapat terjadi secara genetik. Selain
mengalami berbagai modifikasi rasio fenotipe karena adanya peristiwa aksi gen
tertentu, terdapat pula penyimpangan semu terhadap hukum Mendel yang tidak
melibatkan modifikasi rasio fenotipe, tetapi menimbulkan fenotipe-fenotipe yang
merupakan hasil kerja sama atau interaksi dua pasang gen nonalelik. Peristiwa
semacam ini dinamakan interaksi gen.
Fenotipe adalah hasil produk gen yang dibawa untuk diekspresikan ke dalam
lingkungan tertentu. Lingkungan ini tidak hanya meliputi berbagai faktor eksternal
seperti: temperatur dan banyaknya suatu kualitas cahaya. Sedangkan faktor
internalnya meliputi: Hormon dan enzim. Gen merinci struktur protein. Semua enzim
yang diketahui adalah protein. Enzim melakukan fungsi katalis, yang menyebabkan
pemecahan atau penggabungan berbagai molekul. Semua reaksi kimiawi yang terjadi
di dalam sel merupakan persoalan metabolisma. Reaksireaksi ini merupakan reaksi
pengubahan bertahap satu substansi menjadi substansi lain, setiap langkah (tahap)
diperantarai oleh suatu enzim spesifik. Semua langkah yang mengubah substansi
pendahulu (precursor) menjadi produk akhir menyusun suatu jalur biosintesis.
Interaksi gen terjadi bila dua atau lebih gen mengekspresikan protein enzim yang
mengkatalis langkah langkah dalam suatu jalur bersama.
Interaksi gen dapat menyebabkan tersembunyi sifat keturunan untuk beberapa
generasi. biasanya kita beranggapan bahwa suatu sifat keturunan yang nampak pada
suatu individu itu ditentukan oleh sebuah gen tunggal, misalnya bunga merah oleh
gen R, bunga putih oleh gen r, buah bulat oleh gen B, buah oval (lonjong) oleh gen b,

batang tinggi oleh gen T, batang pendek oleh gen t, dan lain-lain. Akan tetapi dalam
kehidupan sehari-hari seringkali kita mengetahui bahwa cara diwariskannya sifat
keturunan tidak mungkin diterangkan dengan pedoman tersebut diatas, karena sulit
sekali disesuaikan dengan hukum-hukum mendel.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan jagung
yang mempunyai dua warna berbeda dalam satu tongkol yaitu warna putih dan
kuning. Dimana jumlah jagung berwarna kuning lebih banyak dari pada putih. Warna
kuning berjumlah 166 dengan rasio yang diharapkan 3/4 dan jumlah biji jagung
berwarna putih yaitu 97 dengan rasio yang diharapkan 1/4. Setelah itu, nilai chisquare
yang di dapatkan dari interaksi gen pada jagung tersebut adalah 20,92. Berdasarkan
hasil ratio tersebut maka interaksi gen berada pada angka 18.493-26.509 yang
menunjukkan bahwa penyimpangan gen pada jagung yang diamati adalah sangat
nyata. Dimana apabila x2h lebih kecil daripada x2t dengan peluang tertentu (0,05),
maka dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji masih memenuhi nisbah Mendel.
Sebaliknya, apabila X2h lebih besar daripada X2t, maka dikatakan bahwa hasil
persilangan yang diuji tidak memenuhi nisbah Mendel pada nilai peluang tertentu
(biasanya 0,05). Pada hasil analisa data tersebut dikatakan penyimpangannya sangat
nyata karena X2 hitung lebih besar dari X2 tabel maka dapat dikatakan ada
hubungannya dengan interaksi gen pada jagung dengan melihat adanya
penyimpangan ratio fenotip.

IX.

Kesimpulan
Adapun

kesimpulan

dari

pelaksanaan

praktikum

ini,

yaitu

terjadi

penyimpangan interaksi gen dimana penyimpangannya sangat nyata yang dapat


dilihat dengan tabel chisquare yaitu berada antara 18.493-26.509. Penyimpangan ini
dikatakan sangat nyata karena karena X2 hitung lebih besar dari X2 tabel maka dapat
dikatakan ada hubungannya dengan interaksi/penyimpangan semu hukum mendel
pada jagung yang digunakan dengan melihat adanya penyimpangan ratio fenotip.

DAFTAR PUSTAKA
Crowder, L. V. 1988. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press
Kimball, J. W. 1994. Biologi Jilid II. Jakarta : Erlangga

Soenartono, Adisoenarto. 1988. Genetika Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga


Suryo. 1992. Genetika Strata. Yogyakarta : UGM Press
Tim Pembina Mata Kuliah. 2016. Penuntun Praktikum Genetika. Palu: UNTAD
Yatim, Wildan. 2003. Genetika. Bandung: Tarsito

LAMPIRAN