Anda di halaman 1dari 24

ETIKA PROFESI DAN KODE ETIK KESEHATAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UIN ALAUDDIN MAKASSAR
BIODATA
Nama : RAHMAN SYAMSUDDIN,S.H.,M.H
Email : r7_syariahuin@yahoo.com
fb : rahman syamsuddin
Blog : rahman7syamsuddin@blogpot.com
URUTAN MATERI KULIAH
1. ETIKA KESEHATAN
a. Etika dan Etiket
b. Etika, Moral dan Agama
c. Jenis - Jenis Etika
d. Nilai Etika
2 HAM DALAM KESEHATAN
a. Hak dan Kewajiban
b. Hak Asasi Manusia Di Indonesia
c. Hak dan Kewajiban dalam Profesi
3 ALIRAN DAN PRINSIP - PRINSIP ETIKA KESEHATAN
a. Aliran - Aliran dalam Etika
b. Prinsip - Prinsip Etika Kesehatan
c. Etika Profesi Kesehatan
d. Etika menurut Islam
e. Etika penelitian
4 KODE ETIK PROFESI

a. Kode Etik
b. Fungsi Kode Etik Profesi
c. Profesi
Lanjutan
5. KODE ETIK DALAM KESEHATAN MASYARAKAT
a. Kode Etik Tenaga Kesehatan
b. Kode Etik Kesehatan dan Keselamatan Kerja
c. Kode Etik Sanitarian (Ahli Kesehatan Lingkungan)
d. Kode Etik Ahli Gizi
e. Biostatistik
f. Epidemiologi
g. Informatika Kesehatan
h. Kesehatan Reproduksi
i. Manajemen Asuransi Kesehatan
j. Manajemen Informasi Kesehatan
k. Manajemen Pelayanan Kesehatan
l. Manajemen Rumah Sakit
m. Promosi Kesehatan
Terakhir..
6 PROBLEMATIKA KODE ETIK KESMAS
a. Penegakan kode etik
b. Faktor penghambat kode etik
c. Peradilan dalam profesi
1. ETIKA KESEHATAN
a. Etika dan Etiket

1. Pengertian ETIKA
Berasal dari bahasa Inggris ethics adalah istilah yang muncul dari aristoteles, asal kata ethos
yaitu adat, budi pekerti.
Etika pada umumnya adalah setiap manusia mempunyai hak kewajiban untuk menentukan
sendiri tindakan-tindakannya dan mempertanggung jawabkanya dihadapan tuhan.
2. Pengertian ETIKET
etiket yaitu cara melakukan perbuatan sesuai dengan Etika yang berlaku
PERBEDAAN ETIKA DAN ETIKET
1. Etika menetapkan norma perbuatan apakah perbuatan itu dapat dilakukan atau tidak,cth
masuk tanpa izin tdk boleh.
Etiket menetapkan cara melakukan perbuatan sesuai dengan yang diinginkan, masuk
kerumah org mengetuk pintu atau/dan salam.
2. Etika berlaku tidak bergantung pd ada tidaknya org,cth larangan mencuri walau tdk ada
org.
etiket berlaku jika ada org.cth org makan pakai baju tdk ada org tdk apa2.
PERBEDAAN ETIKA DAN ETIKET
3. Etika bersifat absolut tdk dpt ditawar cth mencuri&membunuh
Etiket bersifat relatif cth koteka wajar dipapua, diaceh wajib menutup aurat
4. Etika memandang manusia dari segi dalam (batiniah) cth: org-org bersifat baik tidak
munafik.
etiket memandang manusia dari segi luar(lahiriah).cth: bersifat sopan dan santun tp munafik.
B. ETIKA,MORAL DAN AGAMA
1.Etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat istiadat
2.Moral (latin) objek etika (yunani) yang berarti adat kebiasaan
Perbedaan Etika adalah ilmu pengetahuan dan moral adalah objek
3.Agama
1. hub antara manusia dan suatu kekuasaan luar yang lain dan lebih daripada yg dialami
manusia
2. apa yang diisyaratkan Allah dengan perantara Nabi berupa perintah dan larangan

HUBUNGAN ETIKA, MORAL DAN AGAMA


Moral diartikan sama dengan dengan etika yang berupa nilai-nilai dan norma-norma yang
menjadi pegangan hidup manusia untuk mengatur perilakunya.
Agama mengandung nilai moral yang menjadi ukuran moralitas/etika perilaku manusia.
Makin tebal keyakinan agama dan kesempurnaan taqwa seseorg makin baik moralnya yang
diwujudkan dalam bentuk perilaku baik dan benar.
FAKTOR PENENTU MORALITAS
2. Perbuatan manusia dilihat dari motivasi,tujuan akhir dan lingkungan perbuatan
3. Motivasi :hal yang diinginkan oleh pelaku perbuatan dgn maksud untuk mencapai
sasaran yang hendak dituju.cth: kasus Aborsi motivasix mencegah malu dan aib
keluarga
4. Tujuan akhir adalah diwujudkan perbuatan yang dikehendaki secara bebas. Cth
aborsi tujuanx mengugurkan kandungan.
5. Lingkungan perbuatan adalah segala sesuatu yang secara aksidential atau mewarnai
perbuatan. Cth aborsi oleh PSK
c. Jenis - Jenis etika
Etika umum & etika khusus
Etika umum membicarakan mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak
secara etis, teori-teori Etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi
manusia dalam bertindak, serta tolok ukur menilai baik atau buruk.
Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang
khusus.
Etika khusus
Etika khusus dapat dibagi menjadi dua, yaitu
Etika individual Etika individual menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap diri
sendiri.
Etika social mengenai kewajiban sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota
masyarakat.
Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara perseorangan dan
langsung atau bersama-sama dalam bentuk kelembagaan, sikap kritis terhadap dunia dan
ideologi, dan tanggung jawab manusia terhadap lainnya.
Nilai etika
PENGERTIAN

Nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan
individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.
Penilaian Etika itu di dasarkan pada beberapa factor yaitu :
1) Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan baik atau jahat,
susila atau tidak susila.
2) Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya atau telah
mendarah daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya
dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti
sekian.
Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di nilai pada 3 (tiga) tingkat :
1) Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih berupa rencana
dalam hati, niat.
2) Tingkat Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.
3) Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau buruk.
NILAI DALAM FILSAFAT
1) Nilai Logika : akal. Nilainya benar atau salah ex: perbuatan mencuri
2) Nilai Estetika : penglihatan. Nilainya indah atau Jelek ex:Lukisan Gadis Telanjang
3) Nilai Etika : tingkah laku. Nilainya baik atau buruk ex: goyang Dewi Persik Contoh :
KODE ETIK PNS
2. HAM DALAM KESEHATAN
a. Hak Asasi Manusia Di Indonesia
b. Hak dan Kewajiban
c. Hak dan Kewajiban dalam Profesi
a. Hak Asasi Manusia Di Indonesia
HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal
dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun.
Dasar Hukum H.A.M
UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
UU No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM

Ciri-ciri khusus
hakiki, artinya HAM sudah ada sejak lahir
Universal, HAM berlaku umum tanpa memandang status,suku bangsa, gender
tidak dapat dicabut, HAM tidak dapat diserahkan pada pihak lain
tidak dapat dibagi, semua orang mendapatkan semua hak, baik politik,ekonomi, sosbud.
Hak yang paling dasar meliputi
1. Hak Hidup
2. Hak Kemerdekaan /kebebasan
3. Hak memiliki sesuatu
Pengelompokan hak-hak dasar manusia meliputi:
1. hak sipil dan politik
a. hak hidup
b. hak persamaan dan kebebasan
c.kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat
d. kebebasan berkumpul
e. Hak beragama
2 . Hak ekonomi, sosial dan budaya
a. hak ekonomi
b. hak pelayanan kesehatan
c. hak memperoleh pendidikan
b. Hak (UU no 36 thn 2009 psl 4-8)
Setiap orang berhak atas:
1. kesehatan.
2. akses atas sumber daya di bidang kesehatan.
3. pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.

4. menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.


5. lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan.
6. informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab.
7. informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang
telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.
Kewajiban (UU no 36 thn 2009 psl 9-13)
mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
menghormati hak orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan yang sehat, baik fisik,
biologi, maupun sosial.
berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan, mempertahankan, dan memajukan kesehatan
yang setinggi-tingginya.
menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung
jawabnya.
Setiap orang berkewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial.
c. Hak dan Kewajiban dalam Profesi
Pasal 27
(1) Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
(2) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
3 ALIRAN & PRINSIP - PRINSIP ETIKA KESEHATAN
a. ALIRAN-ALIRAN DALAM ETIKA
Aliran Deontologis: penilaian benar tidaknya suatu perbuatan atau baik tidaknya sesorg,tdk
perlu dilihat hasil akhirnya tetapi yang dinilai adalah perbuatan itu sendiri.
Immanuel kant seseorang berbuat baik karena rasional dan tidak dogmatis
Cth: org tdk mencuri bukan karna takut neraka tapi mencuri ad perbuatan buruk
Lanjutan
Aliran Teleologis(konsenkualis):Baik burukx seseorg dinilai dari tujuan hendak dicapai

Pembagiannya:
Aliran Ethical Egoism: wajib berbuat baik demi kepentingan pribadi
Aliran utilitarinism : wajib berbuat baik demi kepentingan umum dan masyarakat
Cth : merokok
b. PRINSIP-PRINSIP ETIKA(Hipcrates)
1. Tidak merugikan (non maleficence)
Cth: Pendapat dokter dlm pelayanan tdk dpt diterima pasien&keluargax sehingga jk
dipaksakan dpt merugikan pasien
2. Membawa Kebaikan (Beficence)
Cth:dokter memberi obat kanker tetapi mempunyai efek yg lain, maka dokter harus
mempertimbangkan secara cermat.
3. Menjaga Kerahasiaan (Confidentiality)
cth: tenaga kesehatan menjaga identitas kesehatan pasien jgn menyamp semuax jgn sampai
menghambat penyembuhanx
lanjutan
4. otonomi Pasien (autonomy Pasien) Cth: pasien berhak menentukan tindakan-tindakan
baru dpt dilakukan atas persetujuan dirinya
5. Berkata Benar (truth telling) Cth: tenaga kesehatan harus menyampaikan sejujurx
penyakit pasien namun tdk dpt diutarakan semua kecuali kpd keluargax
6. Berlaku adil (Justice) Cth: tenaga kesehatan tdk boleh diskriminatif dlm pelayanan
kesehatan
7. Menghormati Privasi (Privacy) Cth : TS tdk boleh menyinggung hal pribadi pasien dan
sebalikx
c. Etika kesehatan
Pengertian Etika Kesehatan
Menurut Leenen: suatu penerapan dari nilai kebiasaan (etika) terhadap bidang
pemeliharaan/pelayanan kesehatan.
Menurut Soerjono Soekanto: penilaian terhadap gejala kesehatan yang disetujui, dan juga
mencakup terhadap rekomendasi bagaimana bersikap tidak secara pantas dalam bidang
kesehatan.

Hubungan Etika Kesehatan dan hukum kesehatan


1. Hukum kesehatan lebih diutamakan dibanding Etika kesehatan. Contoh:
(etiKes)Mantri dpt memberi suntikan tanpa ada dokter tp (Hkm kes) tdk
membenarkan ini.
2. ketentuan hukum kesehatan dapat mengesampingkan etika tenaga kesehatan. Contoh:
kerahasian dokter(etika kedokteraan) jk terkait dgn mslh hukum mk dikesampingkan
3. Etika kesehatan lebih diutamakan dari etika dokter. Dokter dilarang mengiklankan
diri, tp dlm menulis artikel kesehatan tdk mslh(etika kesehatan)
Perbedaan Etika Kesehatan dan hukum kesehatan
1. Etika kesehatan objeknya semata-mata dalam pelayanan kesehatan sedangkan hukum
kesehatan objeknya tdk hny hkm tp melihat nilai-nilai hidup masyarakat.
2. Hukum berlaku umum, etika kesehatan berlaku hanya dalam pelayanan kesehatan
3. Etika sifatnya tidak mengikat dan pelanggarannya tidak dapat dituntut ,hukum
mengikat pelanggarnya dapat dituntut.
d.Etika Menurut Islam
Ayat-ayat al-Quran menunjukkan bahwa etika Islam amat humanistik dan rasionalistik.
Etika Islam menurut Al-Quran:
1. keadilan,
2. kejujuran,
3. kebersihan,
4. menghormati orang tua,
5. bekerja keras,
6. cinta ilmu,
7. dan lain-lain
Kejujuran (surat an-Nisaa)
e. Etika Penelitian
Persetujuan etika penelitian (PP No 39 tahun 1995 ttg penelitian dan pengembangan
kesehatan):
Persetujuan tertulis orang tua/ahli waris dapat dilakukan pada manusia yg diteliti:

1. Tidak mampu melakukan tindakan hukum


2. Karena keadaan kesehatan atau jasmaninya sama sekali tidak memungkinkan dapat
menyatakan persetujuan secara tertulis.
3. Telah meninggal dunia, dalam hal jasadnya akan digunakan sebagaimana objek
penelitian dan pengembangan kesehatan.
Hak dan kewajiban responden
Hak-hak Responden
1. Penghargaan kebebasan pribadi-nya
2. Merahasiakan informasi yang diberikan
3. Memperoleh jaminan keamanan dan keselamatan akibat dari informasi yang diberikan
4. Memperoleh imbalan dan kompensasi
Kewajiban responden
Memberikan informasi yang diperlukan peneliti
Hak dan kewajiban peneliti
Hak responden
Memperoleh informasi yang dibutuhkan sejujur-jujurnya
Kewajiban peneliti
1. Menjaga kerahasian responden
2. Menjaga privacy responden
3. Memberikan kompensasi
4 KODE ETIK PROFESI
a. Kode Etik
b. Fungsi Kode Etik Profesi
c. Standar Profesi
Seperangkat kaidah perilaku yang diharapkan dan dipertanggung jawabkan dalam
melaksanakan tugas pengabdian kepada bangsa, negara, masyarakat dan tugas-tugas
organisasinya serta pergaulan hidup sehari-hari dan individu-individu dalam masyarakat.

SIFAT DAN SUSUNAN KODE ETIK


Kode etik harus memiliki sifat-sifat antara lain
(1) Harus rasional,
(2) harus konsisten, tetapi tidak kaku, dan
(3) harus bersifat universal.
Kode etik profesi terdiiri atas
1. aturan kesopanan dan
2. aturan kelakuan dan
3. sikap antara para anggota profesi.
b. Fungsi Kode Etik Profesi
Biggs dan Blocher ( 1986 : 10) mengemukakan tiga fungsi kode etik yaitu :
1. Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah.
2. Mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu profesi.
3. Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi.
c. ciri Profesi, yaitu :
1) Memberikan pelayanan (service) pada orang segera langsung (yang umumnya bersifat
konfidental).
2) Menempuh pendidikan tertentu dengan melalui ujian tertentu sebelum melakukan
pelayanan.
3) Anggotanya yang relatif homogen.
4) Menerapkan standar pelayanan tertentu.
5) Etik profesi yang ditegakkan oleh suatu organisasi profesi.
Kualifikasi suatu pekerjaan sebagai sutau profesi adalah :
1) Mensyaratkan pendidikan teknis yang formal mengenai adekuasi pendidikannya
mmmaupun mengenai kompetensi orang-orang hasil didikannya.
2) Penguasaan tradisi kultural dalam menggunakan keahlian tertentu serta keterampilan
dalam penggunaan tradisi.

3) Komplek okupasi/pekerjaan memiliki sejumlah sarana institusional


kaidah-kaidah pokok etika profesi sebagai berikut :
1) Profesi harus dipandang dan dihayati sebagai suatu pelayanan,.
2) Pelayanan professional dalam mendahulukan kepentingan pasien atau klien mengacu
pada kepentingan atau nilai-nilai luhur
3) Pengembanan profesi harus selalu mengacu pada masyarakat sebagai keseluruhan.
4) Agar persaingan dalam pelayanan berlangsung secara sehat
5. KODE ETIK KESEHATAN MASYARAKAT
a. Kode Etik Dokter
Hak dan kewajiban dokter , berkaitan erat dengan transaksi terapeutik
Transaksi terapeutik : terjadinya kontrak antara dokter dengan pasien
STANDAR PROFESI MEDIS
Prof.Dr.Mr.H.J.J Leenen pakar hukum kesehatan dari Belanda
1) Berbuat secara teliti dan seksama dkaitkan kelalaian/culpa tdk teliti/tdk berhati-hati
unsur kelalaian terpenuhi , sangat tdk teliti/hati2 : culpa lata
2) Sesuai standar ilmu medik
3) Kemampuan rata2 yg sama
4) Situasi dan kondisi yg sama
5) Sarana upaya yg sbanding/proposional
STANDAR PROFESI MEDIS
Prof Mr.W.B Van der Mijn
Seorang tenaga kesehatan harus berpedoman pada :
1. Kewenangan
2. Kemampuan rata-rata
3. Ketelitian umum.
Unsur tindakan medis

1. Dilakukan oleh dokter yang sudah lulus


2. Kepada pasien harus diberikan informasi yang sejelas jelasnya dan menyetujui
dilakukannya tindakan medis tersebut .
3. Harus ada indikasi medis yang merupakan titik awal dari segala tindakan medis
selanjutnya
4. Sang dokter harus dapat merumuskan tujuan pemberian pengobatannya, disamping juga
harus mempertimbangkan alternatif lain selain yang dipilihnya
5. Segala tindakannya harus selalu ditujukan kepada kesejahteraan pasiennya
HAK DOKTER
Menurut psl 50 UU No.29 Th 2004
1) memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar
profesi medis dan standar prosedur operasional;
2) memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur
operasional;
3) memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya ;
4) menerima imbalan jasa
KEWAJIBAN KEWAJIBAN DOKTER
AEGROTI SALUS LOX SUPREME keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi
( utama ) .
Menurut Leenen :
1) Kewajiban yang timbul dari sifat perawatan medis dimana dokter harus bertindak
sesuai dengan standar profesi medis atau menjalankan praktek kedokterannya
2) Kewajiban untuk menghormati hak hak pasien yang bersumber dari hak - hak asasi
dalam bidang kesehatan
3) Kewajiban yang berhubungan dengan fungsi sosial pemeliharaan kesehatan
UU KESEHATAN No.23 Th 2003
Pasal 50 dan 51
1) Tenaga kesehatan menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan
keahlian dan kewenangannya
2) Mematuhi standar profesi medis dan menghormati hak pasien .

HAK PASIEN
UU No. 23 Th 1992 ttg Kesehatan psl 53 (2)
1. Hak atas informasi
2. Hak memberikan persetujuan
3. Hak atas rahasia kedokteran
4. Hak atas pendapat ke 2 ( second opinion)
HAK PASIEN
UU Pradoks psl 52
1.Mendapat penjelasan secara lengkap ttg tindakan medis
2.Meminta pendapat dr/drg lain
3.Mendapat pelayanan sesuai dng kebutuhan medis
4.Mendapat isi rekam medis
Kewajiban pasien
UU No.29 Th 2004 (PRADOKS)
Pasal 53
1.Memberi informasi yg lengkap dan jujur ttg masalah kesehatannya
2.Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter/dokter gigi
3.Mematuhi ketentuan yg berlaku di sarana pelayanan kesehatan
4.Memberi imbalan jasa atas pelayanan yg diterima
a. Kode Etik perawat
a. Kode Etik bidan
b.Kode Etik Kesehatan &Keselamatan Kerja
c. Kode Etik Sanitarian(Ahli Kes. Lingkungan)
1) menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan profesi sanitasi dengan sebaikbaiknya.
2) melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.

3) tidak boleh dipengaruhi sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan


kemandirian profesi.
4) menghindarkan din dan perbuatan yang bersifat memuji din sendiri.
5) berhati-hati dalam menerapkan setiap penemuan teknik atau cara baru yang belum
teruji kehandalannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Lanjutan
6) memberi saran atau rekomendasi yang telah melalul suatu proses analisis secara
komprehensif.
7) memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dengan menjunjung tinggi kesehatan dan
keselamatan manusia, serta kelestarian lingkungan.
8) bersikap jujur dalam berhubungan dengan klien atau masyarakat dan teman
seprofesinya, dan berupaya untuk mengingatkan teman seprofesinya.
9) hak-hak klien atau masyarakat, hak-hak teman seprofesi, dan hak tenaga kesehatan
lainnya, dan harus menjaga kepercayaan klien atau masyarakat.
10) memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan seluruh aspek kesehatan
lingkungan secara menyeluruh, daN menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang
sebenar-benarnya.
11) bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta
masyarakat, harus saling menghormati.
d. Kode Etik Ahli Gizi
1. meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan serta berperan dalam meningkatkan. kecerdasan
dan kesejahteraan rakyat
2.menjunjung tinggi nama baik profesi gizi dengan menunjukkan sikap, perilaku, dan budi
luhur serta tidak mementingkan diri sendiri
3.menjalankan profesinya menurut standar profesi yang telah ditetapkan.
4.menjalankan profesinya bersikap jujur, tulus dan adil.
5.menjalankan profesinya berdasarkan prinsip keilmuan, informasi terkini,.
Lanjutan
6. mengenal dan memahami keterbatasannya sehingga dapat bekerjasama dengan fihak lain
atau membuat rujukan bila diperlukan
7. melakukan profesinya mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkewajiban
senantiasa berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya.

8. berkerjasama dengan para profesional lain di bidang kesehatan maupun lainnya


berkewajiban senantiasa memelihara pengertian yang sebaik-baiknya.
9. membantu pemerintah dalam melaksanakan upaya-upaya perbaikan gizi masyarakat.
e.Penyuluh kesehatan masyarakat
Profesi PKM (Health Education Specialis) adalah seseorang yang menyelenggarakan
advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat melalui penyebarluasan informasi,
membuat rancangan media, melakukan pengkajian/penelitian perilaku masyarakat yang
berhubungan dengan kesehatan, serta merencanakan intervensi dalam rangka
mengembangkan perilaku masyarakat yang mendukung kesehatan.
Kode Etik Profesi PKM.
1. Menunjukkan secara seksama kemampuan sesuai dengan pendidikan, pelatihan dan
pengalaman, serta bertindak dalam batas-batas kecakapan yang profesional.
2. mempertahankan kecakapan pada tingkatan tinggi melalui belajar, lelatihan, dan
penelitian berkesinambungan.
3. Melaporkan hasil penelitian dan kegiatan praktik secara jujur dan bertanggung jawab.
4. Tidak membeda-bedakan individu berdasrkan ras, warna kulit, bangsa, agama, usia,
jenis kelamin, status social ekonomi dalam menyumbangkan pelayanan-pekerjaan,
pelatihan atau dalam meningkatkan kemajuan orang lain.
5. Menjaga kemitraan klien ( individu, kelompok, institusi) yang dilayani.
Kode Etik Profesi PKM.
6. Menghargai hak pribadi (privacy), martabat (dignity), budaya dan harga diri setiap
individu, dan menggunakan keterampilan yang didasari dengan nilai-nilai secara
konsisten.
7. Membantu perubahan berdasarkan pilihan, bukan paksaan.
8. Mematuhi prinsip informed consent sebagi penghargaan terhadap klien.
9. Membantu perkembangan suatu tatanan pendidikan yang mengasuh/memelihara
pertumbuhan dan perkembangan individu.
10. Bertanggung jawab untuk menerima tindakan/hukuman selayaknya sesuai dengan
pertimbangan mal praktek yang dilakukan.
Terakhir..
6 PROBLEMATIKA KODE ETIK KESMAS
a. Penegakan kode etik

b. Faktor penghambat kode etik


c. Peradilan dalam profesi
a. Penegakan kode etik
Bentuk Penegakan kode etik
1. Pelaksanaan kode etik
2. Pengawasan kode etik
3. Penjatuhan saksi kode etik
Menurut Noto Hamidjo 4 norma dalam penegakan kode etik:
1) kemanusiaan
2) Keadilan
3) Kepatutan
4) kejujuran
Sanksi kode etik
1) Teguran baik lisan maupun tulisan
2) Mengucilkan pelanggar dari kelompok profesi
3) Memberlakukan tindakan hukum dengan sanksi keras
b.Faktor penghambat kode etik
1. Pengaruh Sifat Kekeluargaan
2. Pengaruh jabatan
3. Pengaruh konsumerisme
4. Karena lemah iman
c. Peradilan dalam profesi
1. Peradilan profesi dipimpin komisi etik
2. Komisi etik terdiri 3 orang dan dipimpin oleh pimpinan profesi
3. Pelanggar etik didampingi penasehat etik.

4. Pelanggaran kode etik disampaikan oleh penuntut kode etik


5. Putusan pelanggaran kode etik ditetapkan oleh komisi etik.
Mekanisme persidangan
1. Pemanggilan pelanggar kode etik
2. Pemeriksaan kode etik
3. Persidangan kode etik
4. Penyampaian bentuk pelanggaran dan sanksi yang dikenakan
5. Pembelaan oleh pelanggar kode etik
6. Pembuktian
7. Putusan
8. pengertian Etika profesi tentang gizi
9. Kode Etik Dapat diartikan pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam
melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata
cara sebagai pedoman berperilaku.
10. Dalam kaitannya dengan profesi, bahwa kode etik merupakan tata cara atau aturan
yang menjadi standart kegiatan anggota suatu profesi. Suatu kode etik
menggambarkan nilai-nilai professional suatu profesi yang diterjemahkan kedalam
standaart perilaku anggotanya. Nilai professional paling utama adalah keinginan
untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat.
11. Nilai professional dapat disebut juga dengan istilah asas etis.(Chung, 1981
mengemukakan empat asas etis, yaitu : (1). Menghargai harkat dan martabat (2).
Peduli dan bertanggung jawab (3). Integritas dalam hubungan (4). Tanggung jawab
terhadap masyarakat.
12.
13. Kode etik dijadikan standart aktvitas anggota profesi, kode etik tersebut sekaligus
sebagai pedoman (guidelines). Masyarakat pun menjadikan sebagai perdoman dengan
tujuan mengantisipasi terjadinya bias interaksi antara anggota profesi. Bias interaksi
merupakan monopoli profesi., yaitu memanfaatkan kekuasan dan hak-hak istimewa
yang melindungi kepentingan pribadi yang betentangan dengan masyarakat. Oteng/
Sutisna (1986: 364) mendefisikan bahwa kode etik sebagai pedoman yang memaksa
perilaku etis anggota profesi.

14. Konvensi nasional IPBI ke-1 mendefinisikan kode etik sebagai pola ketentuan, aturan,
tata cara yang menjadi pedoman dalam menjalankan aktifitas maupun tugas suatu
profesi. Bahsannya setiap orang harus menjalankan serta mejiwai akan Pola,
Ketentuan, aturan karena pada dasarnya suatu tindakan yang tidak menggunakan kode
etik akan berhadapan dengan sanksi.
15.
16. A. KEGUNAAN / MANFAAT KODE ETIK
17. Pada dasarnya kode etik memiliki fungsi ganda yaitu sebagai perlindungan dan
pengembangan bagi profesi. Fungsi seperti itu sama seperti apa yang dikemukakan
Gibson dan Michel (1945 : 449) yang lebih mementingkan pada kode etik sebagai
pedoman pelaksanaan tugas prosefional dan pedoman bagi masyarakat sebagai
seorang professional.
18. Biggs dan Blocher ( 1986 : 10) mengemukakan tiga fungsi kode etik yaitu : 1.
Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah. (2). Mencegah terjadinya
pertentangan internal dalam suatu profesi. (3). Melindungi para praktisi dari kesalahan
praktik suatu profesi.
19. B. KODE ETIK PROVESI GIZI
20. Ahli Gizi yang melaksanakan profesi gizi mengabdikan diri dalam upaya memelihara
dan memperbaiki keadaan gizi, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat
melalui upaya perbaikan gizi, pendidikan gizi, pengembangan ilmu dan teknologi
gizi, serta ilmu-ilmu terkait. Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya harus senantiasa
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menunjukkan sikap dan perbuatan terpuji
yang dilandasi oleh falsafah dan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945
serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Ahli Gizi Indonesia
serta etik profesinya.
21. Sebagai suatu profesi, ahli gizi selayaknya mempunyai etika, baik tertulis maupun
tidak tertulis. Seorang ahli gizi diharapkan senantiasa bersikap santun, berbudi luhur,
berkata halus, dan senantiasa lebih mendahulukan kepentingan orang banyak dalam
melaksanakan kegiatan profesi dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Seorang
ahli gizi professional harus mengerti benar akan pengertian customer service.
Berkaitan dengan ahli gizi seharusnya memahami benar akan pemikiran yang bersifat
etis. Pemikiran etis sebenarnya harus menjadi sesuatu yang melekat (built in) pada
diri professional. Misalnya perilaku mempermalukan pasien dimuka orang adalah

tidak etis, dan ini secara otomatis sejiwa dengan perasaan atau etika kita sebagai ahli
professional.
22. Ahli Gizi yang melaksanakan profesi gizi mengabdikan diri dalam upaya memelihara
dan memperbaiki keadaan gizi, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat
melalui upaya perbaikan gizi, pendidikan gizi, pengembangan ilmu dan teknologi
gizi, serta ilmu-ilmu terkait.
23. Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya harus senantiasa bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, menunjukkan sikap dan perbuatan terpuji yang dilandasi oleh
falsafah dan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 serta Anggaran Dasar
dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Ahli Gizi Indonesia serta etik profesinya.
24. Dalam menerapkan kode etik, ahli gizi wajib melakukannya sesuai kewajiaban Yang
Meliputi Kewajiban Umum ,Kewajiban Terhadap Klien ,Kewajiban Terhadap
Masyarakat ,Kewajiban Terhadap Teman Seprofesi dan Mitra Kerja ,Kewajiban
Terhadap Profesi da diri Sendir. Kode etik Ahli Gizi ini dibuat atas prinsip bahwa
organisasi profesi bertanggung jawab terhadap kiprah anggotanya dalam menjalankan
praktek profesinya. Kode etik ini berlaku setelah hari dari disahkannya kode etik ini
oleh sidang tertinggi profesi sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam anggaran
dasar dan anggaran rumah tangga profesi gizi.
25. 26. 1.

KEWAJIBAN UMUM.
Ahli Gizi berperan meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan serta berperan

dalam meningkatkan. kecerdasan dan kesejahteraan rakyat


27. 2.

Ahli Gizi berkewajiban menjunjung tinggi nama baik profesi gizi dengan

menunjukkan sikap, perilaku, dan budi luhur serta tidak mementingkan diri sendiri
28. 3.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa menjalankan profesinya menurut standar

profesi yang telah ditetapkan.


29. 4.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa menjalankan profesinya bersikap jujur, tulus

dan adil.
30. 5.

Ahli Gizi berkewajiban menjalankan profesinya berdasarkan prinsip keilmuan,

informasi terkini, dan dalam menginterpretasikan informasi hendaknya objektif tanpa


membedakan individu dan dapat menunjukkan sumber rujukan yang benar.
31. 6.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa mengenal dan memahami keterbatasannya

sehingga dapat bekerjasama dengan fihak lain atau membuat rujukan bila diperlukan.

32. 7.

Ahli Gizi dalam melakukan profesinya mengutamakan kepentingan masyarakat

dan berkewajiban senantiasa berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat


yang sebenarnya.
33. 8. Ahli Gizi dalam berkerjasama dengan para profesional lain di bidang kesehatan
maupun lainnya berkewajiban senantiasa memelihara pengertian yang sebaik-baiknya.
34. 9. Ahli gizi berkewajiban membantu pemerintah dalam melaksanakan upaya-upaya
perbaikan gizi masyarakat. Gizi merupakan salah satu unsur kesehatan artinya orang
yang kekurangan atau kelebihan gizi akan mengganggu kesehatan yang merupakan
salah satu ukuran dari kesejahteraan.
35.
36. 37. 1.

KEWAJIBAN TERHADAP KLIEN.


Ahli Gizi berkewajiban sepanjang waktu senantiasa berusaha memelihara dan

meningkatkan status gizi klien baik dalam lingkup institusi pelayanan gizi atau di
masyarakat umum.
38. 2.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa menjaga kerahasiaan klien atau masyarakat

yang dilayaninya baik pada saat klien masih atau sudah tidak dalam pelayanannya,
bahkan juga setelah klien meninggal dunia kecuali bila diperlukan untuk keperluan
kesaksian hukum.
39. 3. Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya senantiasa menghormati dan menghargai
kebutuhan unik setiap klien yang dilayani dan peka terhadap perbedaan budaya, dan
tidak melakukan diskriminasi dalam hal suku, agama, ras, status sosial, jenis kelamin,
usia dan tidak menunjukkan pelecehan seksual.
40. 4. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memberikan pelayanan gizi prima, cepat, dan
akurat.
41. 5.

Ahli Gizi berkewajiban memberikan informasi kepada klien dengan tepat dan

jelas, sehingga memungkinkan klien mengerti dan mau memutuskan sendiri


berdasarkan informasi tersebut.
42. 6.

Ahli Gizi dalam melakukan tugasnya, apabila mengalami keraguan dalam

memberikan pelayanan berkewajiban senantiasa berkonsultasi dan merujuk kepada


ahli gizi lain yang mempunyai keahlian.
43. 7.

Menjaga kerahasiaan. Seorang ahli gizi baru diambil sumpah untuk tidak

mengungkap rahasia klien, baik kepada teman maupun keluarga pasien. Hal-hal yang
sangat penting dapat diungkapkan langsung kepada klien.

44. 8. Mengakui adanya keterbatasan kita sendiri Meskipun kita adalah tenaga profesi,
namun harus diakui pula keterbatasan kita. Kalau memang tidak tahu, maka sebaiknya
kita mengakui keterbatasan itu.
45. 9.

Mencari konsultasi. Konsultasi adalah bersifat sangat pribadi, senantiasa

tingkatkan pengetahuan dan keterampilan melakukan konsultasi.


46. 10. Melayani klien sebagaimana anda ingin dilayani. Setiap orang berhak dilayani
dengan penuh respek, keramahan, dan kesejajaran.
47. 11. Memperhatikan perbedaan individual dan kebudayan. Misalnya suatu diet tidak
begitu saja dapat diberlakukan umum semata-mata karena diagnosanya sama. Untuk
itu seorang ahli gizi perlu mempelajari budaya klien dan kebiasaan yang selama ini
dianut oleh klien.
48.
49. 50. 1.

KEWAJIBAN TERHADAP MASYARAKAT.


Ahli Gizi berkewajiban melindungi masyarakat umum khususnya tentang

penyalahgunaan pelayanan, informasi yang salah dan praktek yang tidak etis
berkaitan dengan gizi, pangan termasuk makanan dan terapi gizi/diet. ahli gizi
hendaknya senantiasa memberikan pelayanannya sesuai dengan informasi faktual,
akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
51. 2. Ahli Gizi senantiasa melakukan kegiatan pengawasan pangan dan gizi sehingga
dapat mencegah masalah gizi di masyarakat.
52. 3.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa peka terhadap status gizi masyarakat untuk

mencegah terjadinya masalah gizi dan meningkatkan status gizi masyarakat.


53. 4.

Ahli Gizi berkewajiban memberi contoh hidup sehat dengan pola makan dan

aktifitas fisik yang seimbang sesuai dengan nilai paktek gizi individu yang baik.
Dalam bekerja sama dengan profesional lain di masyarakat.
54. 5.

Ahli Gizi berkewajiban hendaknya senantiasa berusaha memberikan dorongan,

dukungan, inisiatif, dan bantuan lain dengan sungguh-sungguh demi tercapainya


status gizi dan kesehatan optimal di masyarakat.
55. 6.

Ahli Gizi dalam mempromosikan atau mengesahkan produk makanan tertentu

berkewajiban senantiasa tidak dengan cara yang salah atau, menyebabkan salah
interpretasi atau menyesatkan masyarakat
56. 7.

Dalam masyarakat ahli gizi berkewajiban untuk memberikan bimbingan terhadap

masyarakat dalam upaya-upaya mengatasi masalah gizi dan kesehatan.


57.

58. -

KEWAJIBAN TERHADAP TEMAN SEPROFESI DAN MITRA KERJA

59. 1. Ahli Gizi dalam bekerja melakukan promosi gizi, memelihara dan meningkatkan
status gizi masyarakat secara optimal, berkewajiban senantiasa bekerjasama dan
menghargai berbagai disiplin ilmu sebagai mitra kerja di masyarakat.
60. 2.

Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memelihara hubungan persahabatan yang

harmonis dengan semua organisasi atau disiplin ilmu/profesional yang terkait dalam
upaya meningkatkan status gizi, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat.
61. 3.

Ahli Gizi berkewajiban selalu menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan

keterampilan terbaru kepada sesama profesi dan mitra kerja.


62.
63. 64. 1.

KEWAJIBAN TERHADAP PROFESI DAN DIRI SENDIRI.


Ahli Gizi berkewajiban mentaati, melindungi dan menjunjung tinggi ketentuan

yang dicanangkan oleh profesi.


65. 2. Ahli Gizi berkewajiban senantiasa memajukan dan memperkaya pengetahuan dan
keahlian yang diperlukan dalam menjalankan profesinya sesuai perkembangan ilmu
dan teknologi terkini serta peka terhadap perubahan lingkungan.
66. 3. Ahli Gizi harus menunjukan sikap percaya diri, berpengetahuan luas, dan berani
mengemukakan pendapat serta senantiasa menunjukan kerendahan hati dan mau
menerima pendapat orang lain yang benar.
67. 4.

Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya berkewajiban untuk tidak boleh

dipengaruhi oleh kepentingan pribadi termasuk menerima uang selain imbalan yang
layak sesuai dengan jasanya, meskipun dengan pengetahuan klien/masyarakat (tempat
dimana ahli gizi diperkerjakan).
68. 5.

Ahli Gizi berkewajiban tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum, dan

memaksa orang lain untuk melawan hukum.


69. 6.

Ahli Gizi berkewajiban memelihara kesehatan dan keadaan gizinya agar dapat

bekerja dengan baik.


70. 7.

Ahli Gizi berkewajiban melayani masyarakat umum tanpa memandang

keuntungan perseorangan atau kebesaran seseorang.


71. 8.

Ahli Gizi berkewajiban selalu menjaga nama baik profesi dan mengharumkan

organisasi profesi.
72. Bertens membagi dua tipe etika yaitu etika kewajiban dan etika keutamaan. Yang
pertama mempelajari prinsip-prinsip dan aturan-aturan moral perbuatan secara
spesifik seseorang. Etika ini menunjukkan norma dan prinsip mana yang perlu

dikembangkan dalam hidup. Tipe teori kedua yaitu etika keutamaan tidak terlalu
menekankan perilaku spesifik, tetapi lebih memusatkan kepada manusia secara utuh.
Etika ini mendalami keutamaan, atas sifat dan watak manusia. Dengan demikian etika
keutamaan tidak mendalami apakah perilaku itu baik atau buruk. Secara ringkas etika
keutamaan menjawab pertanyaan : jenis manusia apakah saya ini?; sedangkan etika
kewajiban

menjawab

pertanyaan

apa

yang

seharusnya

saya

kerjakan?

Seorang tenaga profesi hendaknya juga memiliki integritas yang tinggi. Integritas
mempunyai makna yang kuat. Meliputi komitmen dengan profesi, komitmen dengan
organisasi, tulus dan jujur dalam bertindak. Tidak memiliki integritas berarti terjadi
disintegritas. Integritas berarti pula tunduk kepada kode etik profesi, tunduk kepada
anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi profesi. Disamping itu seorang
professional harus memiliki empati yang tinggi, sopan kepada klien, sopan kepada
mitra organisasi, sopan kepada anggota organisasi lain dan meningkatkan pelayanan
kepada klien.
73. Pelanggaran terhadap ketentuan kode etik ini diatur tersendiri dalam Majelis Kode
Etik Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Kode etik Ahli Gizi ini dibuat atas prinsip bahwa
organisasi profesi bertanggung jawab terhadap kiprah anggotanya dalam menjalankan
praktek

profesinya.

Kode etik ini berlaku setelah hari dari disahkannya kode etik ini oleh sidang tertinggi
profesi sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam anggaran dasar dan anggaran
rumah tangga profesi gizi.