Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN


KECEMASAN

OLEH :
NI WAYAN EKA JULI PATRINI

P07120014080

NI KADEK ITA RATNA DEWI

P07120014081

NI LUH SRI NARSIH

P07120014083

LUH PUTU MERTA TEJAYANTI P07120014085

KEMENTRIAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
atas berkat rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah berjudul Asuhan Keperawatan Klien dengan Kecemasan.
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak sekali mendapat
bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Dan pada kesempatan kali ini, penulis
menghaturkan terima kasih yang tulus kepada Dosen Pengampu, teman-teman dan
semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
oleh karenanya penulis memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan. Tak lupa, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat penulis harapkan demi perbaikan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini bisa memberikan manfaat serta
menambah pengetahuan dan wawasan, baik penulis pada khususnya, serta bagi
para pembaca sekalian pada umumnya.

Denpasar, 5 September 2016


Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan2
1.4 Manfaat Penulisan..2

BAB II

PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.

Definisi.............................................................................................3
Gejala Umum Ansietas.....................................................................3
Faktor Predisposisi............................................................................4
Penggolongan Ansietas.....................................................................5
Rentang Respon.........8
Bentuk Gangguan Ansietas8
Gambaran Klinis...............................................................................9
Faktor Presipitasi9
Mekanisme Koping..10

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN


A.
B.
C.
D.
E.

Pengkajian.......................................................................................11
Diagnosa Keperawatan.12
Intervensi Keperawatan12
Implementasi18
Evaluasi19

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan..21
4.2 Saran21
DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kecemasan atau ansietas merupakan salah satu bentuk emosi individu
yang berkaitan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya dengan
objek ancaman yang begitu tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas
nilai ancaman yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai
motivasi, tetapi apabila intensitasnya begitu kuat dan bersifat negatif justru
akan menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu terhadap keadaan fisik
dan psikis individu yang bersangkutan.
Kecemasan dapat dialami oleh siapapun dan dimanapun serta kapan
pun tergantung dari faktor pencetus dari kecemasan tersebut. Fakta
membuktikan bahwa di seluruh lapisan dunia kecemasan paling banyak terjadi
setiap harinya.hal ini disebabkan semakin kongkretnya masalah yang terjadi
saat ini.
Di negara maju, gangguan jiwa berupa ansietas atau kecemasan
menempati posisi pertama dibandingkan dengan kasus lain. Oleh karena itu
sebagai seorang perawat, kita harus benar-benar kritis dalam menghadapi
kasus kecemasan yang terjadi.
Masalah gangguan jiwa yang menyebabkan menurunnya kesehatan
mental ini ternyata terjadi hampir di seluruh negara di dunia. WHO (World
Health Organization) badan dunia PBB yang menangani masalah kesehatan
dunia, memandang serius masalah kesehatan mental dengan menjadikan isu
global WHO. WHO mengangkat beberapa jenis gangguan jiwa seperti
Schizoprenia,

Alzheimer,

epilepsy,

keterbelakangan

mental

ketergantungan alkohol sebagai isu yang perlu mendapatkan perhatian.

dan

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari ansietas ?
2. Apa saja gejala umum yang ditimbulkan dari ansietas ?
3. Apa sajakah faktor predisposisi dari ansietas ?
4. Sebutkan penggolongan ansietas ?
5. Apa sajakah mekanisme koping yang diberikan pada klien dengan
6.

ansietas ?
Apa saja yang perlu dikaji dari klien dengan kecemasan ?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan disusunnya makalah ini adalah agar dapat :
1.
2.
3.
4.

Mengetahui definisi dari ansietas.


Mengetahui gejala umum yang ditimbulkan dari ansietas.
Mengetahui faktor predisposisi dari ansietas.
Mengetahui mekanisme koping yang diberikan pada klien dengan

5.

ansietas.
Mengetahui asuhan keperawatan apa saja yang harus diberikan pada lien
dengan kecemasan.

1.4 Manfaat Penulisan


Melalui penulisan makalah ini adapun manfaat yang diperoleh yaitu :
1. Mahasiswa dapat memahami dengan baik bagaimana
keperawatan klien dengan kecemasan/ansietas.
2. Melatih kerjasama mahasiswa dalam mengerjakan tugas.

asuhan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Ansietas

adalah

perasaan

yang

difius,

yang

sangat

tidak

menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan
terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang
khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini
dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat
berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besar. Perasaan
ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. (Harold I. LIEF)
Anenvous condition of unrest (Leland E. HINSIE dan Robert S Campbell).
Ansietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh
dugaan

akan

bahaya

atau

frustrasi

yang

mengancam

yang

akan

membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu


atau kelompok biososialnya. (J.J GROEN).
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini
tidak memiliki objek yang spesifik. (Stuart, 1995).
Ansietas adalah suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan
tidak dapat dibenarkan yang disertai gejala fifiologis, sedangkan pada
gangguan ansietas terkandung unsur penderitaan yang bermakna dan
gangguan fungsi yang disebabkan oleh kecemasan tersebut (David A. Tomb,
1993).
B. Gejala Umum Ansietas
1. Gejala psikologik
Ketegangan, kekawatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati, takut
gila, takut kehilangan kontrol dan sebagainya.
2. Gejala fisik
Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing,
ketegangan otot, mual, sulit bernafas, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan
di lambung dan lain-lain. Keluhan yang dikemukakan pasien dengan

ansietas kronik seperti: rasa sesak nafas, rasa sakit dada, kadang-kadang
merasa harus menarik nafas dalam, ada sesuatu yang menekan dada,
jantung berdebar, mual, vertigo, tremor, kaki dan tangan merasa
kesemutan, kaki dan tangan tidak dapat diam ada perasaan harus bergerak
terus menerus, kaki merasa lemah, kadang- kadang ada gagap dan banyak
lagi keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan yang
dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan gangguan
ansietas kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya
beberapa gejala atau satu keluhan saja. Tetapi pengalaman penderitaan dan
gejala ini oleh pasien yang bersangkutan biasanya dirasakan cukup gawat.
C. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart dan Laraia (1998: 177-181) terdapat beberapa teori yang dapat
menjelaskan ansietas, diantaranya :
1. Teori Psikoanalitik
Menurut freud, struktur kepribadian terdiri dari 3 elemen yaitu ID,
EGO Dan SUPER EGO. Ego melambangkan dorongan insting dan
impuls primitif. Super ego mencerminkan hati nurani seseorang dan
dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang, sedangkan Ego
digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari ID Ego dan Super Ego.
2. Teori Interpersonal
Ansietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal
ini juga dihubungkan akan trauma pada masa pertumbuhan, seperti
kehilangan, perpisahan individu yang mempunyai harga diri rendah
biasanya sangat mudah mengalami ansietas yang berat.
3. Teori Perilaku
Ansietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang
mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.teori

ini

meyakini

bahwa

manusia

yang

pada

awal

kehidupannya dihadapkan pada rasa takut yang berlebihan akan


menunjukkan kemungkinan ansietas yang berat pada kehidupan masa
dewasanya.
D. Penggolongan Ansietas

1. Ansietas ringan
Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda
dan membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan
membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar, bertindak,
menyelesaikan masalah, merasakan, dan melindungi dirinya sendiri.
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa
kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dan
individu akan berhati-hati dan waspada.
a. Respon Fisiologis
1) Sesekali nafas pendek
2) Nadi dan tekanan darah naik
3) Gejala ringan pada lambung
4) Muka berkerut dan bibir bergetar
5) Ketegangan otot ringan
6) Rileks atau sedikit gelisah
b. Respon Kognitif
1) Mampu menerima rangsang yang kompleks
2) Konsentrasi pada masalah
3) Menyelesaikan masalah secara efektif
4) Perasaan gagal sedikit
5) Waspada dan memperhatikan banyak hal
6) Terlihat tenang dan percaya diri
7) Tingkat pembelajaran optimal
c. Respon Perilaku dan Emosi
1) Tidak dapat duduk tenang
2) Tremor halus pada tangan
3) Suara kadang-kadang meninggi
4) Sedikit tidak sabar
5) Aktivitas menyendiri
2. Ansietas Sedang
Ansietas sedang merupakan perasaan yang mengganggu bahwa ada
sesuatu yang benar-benar berbeda, individu menjadi gugup atau agitasi.
Misalnya, seorang wanita mengunjungi ibunya untuk pertama kali dalam
beberapa bulan dan merasa bahwa ada sesuatu yang sangat berbeda.
Ibunya mengatakan bahwa berat badannya turun banyak tanpa ia berupaya
menurunkannya. Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan
menurun, individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan
mengesampingkan hal yang lain.
a. Respon fisiologis
1) Ketegangan otot sedang

2) Tanda-tanda vital meningkat


3) Pupil dilatasi, mulai berkeringat
4) Sering mondar-mandir, memukulkan tangan
5) Suara berubah: suara bergetar, nada suara tinggi
6) Kewaspadaan dan ketegangan meningkat
7) Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyari punggung
b. Respon kognitif
1) Lapang persepsi menurun
2) Tidak perhatian secara selektif
3) Fokus terhadap stimulus meningkat
4) Rentang perhatian menurun
5) Penyelesaian masalah menurun
6) Pembelajaran berlangsung dengan memfokuskan
c. Respon prilaku dan emosi
1) Tidak nyaman
2) Mudah tersinggung
3) Kepercayaan diri goyah
4) Tidak sadar
5) Gembira
3. Ansietas berat
Ansietas berat dialami ketika individu yakin bahwa ada sesuatu
yang berbeda dan ada ancaman; ia memperlihatkan respon takut dan
distres. Ketika individu mencapai tingkat tertinggi ansietas, panik berat,
semua pemikiran rasional berhenti dan individu tersebut mengalami
respon fight, flight atau freeze-yakni, kebutuhan untuk pergi secepatnya,
tetap ditempat dan berjuang, atau menjadi beku atau tidak dapat
melakukan sesuatu.
a. Respon fisiologis
1) Ketegangan otot berat
2) Hiperventilasi
3) Kontak mata buruk
4) Pengeluaran keringat meningkat
5) Bicara cepat, nada suara tinggi
6) Tindakan tanpa tujuan dan serampangan
7) Rahang menegang, menggetakkan gigi
8) Kebutuhan ruang gerak meningkat
9) Mondar-mandir, berteriak
10) Meremas tangan, genetar
b. Respon kognitif
1) Lapang persepsi terbatas
2) Proses berfikir terpecah-pecah
3) Sulit berfikir
4) Penyelesaian masalah buruk

5) Tidak mampu mempertimbangkan informasi


6) Hanya memerhatikan ancaman
7) Preokupasi dengan pikiran sendiri
8) Egosentris
c. Respon prilaku dan emosi
1) Sangat cemas
2) Agitasi
3) Takut
4) Bingung
5) Merasa tidak adekuat
6) Menarik diri
7) Penyangkalan
8) Ingin bebas
E. Rentang Respon

Respon Adaptif

Antisipasi

Respon Maladatif

Ringan

Sedang

Berat

Panik

F. Bentuk Gangguan Ansietas


1. Gangguan Panik
Serangan panik adalah suatu episode ansietas yang cepat, intens,
dan meningkat, berlangsung 15-30 menit, ketika individu mengalami
ketakutan emosional yang besar juga ketidaknyamanan fisiologis.
Diagnosis gangguan panik ditegakkan ketika individu mengalami serangan
panik berulang dan tidak diharapkan yang diikuti oleh rasa khawatir yang
menetap sekurang-kurangnya satu bulan bahwa ia akan mengalami
serangan panik berikutnya atau khawatir tentang makna serangan panik,
atau perubahan prilaku yang signifikan terkait dengan serangan panik, saat
gejala-gejala tersebut bukan akibat penyalahgunaan zat atau gangguan
jiwa lain. Sedikitnya lebih dari 75% individu dengangangguan panik
mengalami serangan awal spontan tanpa ada pemicu dari lingkungan.
Sisanya mengalami serangan panik yang distimulasi oleh stimulus fobia
atau karena berada di bawah pengaruh zat yang mengubah sistem saraf

pusat dan menstimulasi respon hormonal, organ, tanda vital yang sama,
yamg terjadi pada serangan panik. Setengah dari individu yang mengalami
serangan panik juga mengalami agorafobia.
Ada dua kriteria Gangguan panik : gangguan panik tanpa
agorafobia dan gangguan panik dengan agorofobia kedua gangguan panik
ini harus ada serangan panic.
G. Gambaran Klinis
Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan
panik, walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan
kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma emosional. Klinisi
harus berusaha untuk mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering
mendahului serangan panik. Serangan sering dimulai dengan periode gejala
yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. Gejala mental utama adalah
ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien
biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin
merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian.
Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien
seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan biasanya berlangsung
20 sampai 30 menit.
Agorafobma : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi
dimana ia akan sulit mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa
mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.
H. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dibedakan menjadi:
Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan
fisiologis yang akan dating atau menurunnya kapasitas untuk melakukan

aktivitas hidup sehari-hari.


Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas,
harga diri, dan fungsi social yang terintegrasi seseorang.

I.

Mekanisme Koping
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme
koping sebagai berikut:
Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan
berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistic tuntutan
situasi stress, misalnya perilaku menyerang untuk mengubah atau
mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan, menarik diri untuk
memindahkan dari sumber stress. Kompromi untuk mengganti tujuan

atau mengorbankan kebutuhan personal.


Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan
sedang, tetapi berlangsung tidak sadar dan melibatkan penipuan diri dan
distorsi realitas dan bersifat maladaptif.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Data yang perlu dikaji :
Perilaku
Produktivitas menurun, mengamati dan waspada, kontak mata jelek,
gelisah, melihat sekilas sesuatu, pergerakan berlebihan (seperti: foat
shuffling, pergerakan lengan/tangan), ungkapan perhatian berkaitan

dengan merubah peristiwa dalam hidup, insomnia, perasaan gelisah.


Afektif
Menyesal, iritabel, kesedihan, mendalam, takut, gugup, sukacita
berlebihan, nyeri dan ketidakberdayaan meningkat secara menetap,
gemeretak, ketidakpastian, kekhawatiran meningkat, focus pada diri
sendiri, perasaan tidak adekuat, ketakutan, distressed, khawatir, prihatin,

dan mencemaskan.
Fisiologis
Suara bergetar, gemetar/tremor tangan, bergoyang-goyang. respirasi
meningkat (simpatis), kesegeraan berkemih (parasimpatis), nadi
meningkat (simpatis), dilasi pupil (simpatis), refleks-refleks meningkat
(simpatis), nyeri abdomen (parasimpatis), gangguan tidur (parasimpatis),
perasaan geli pada ekstremitas (parasimpatis), eksitasi kardiovaskuler
(simpatis), peluh meningkat, wajah tegang, anoreksia (simpatis), jantung
berdebar-debar

(simpatis),

diarrhea

(parasimpatis),

keragu-raguan

berkemih (parasimpatis), kelelahan (parasimpatis), mulut kering


(simpatis), kelemahan (simpatis), nadi berkurang (parasimpatis), wajah
bergejolak (simpatis), vasokonstriksi superficial (simpatisis), berkedutan
(simpatis), tekanan darah menurun (parasimpatis), mual (parasimpatis),
keseringan berkemih (parasimpatis), pingsan (parasimpatis), sukar
bernafas (simpatis), tekanan darah meningkat (parasimpatis).

Kognitif
Hambatan berfikir, bingung, preokupasi, pelupa, perenungan, perhatian
lemah, lapang persepsi menurun, takut akibat yang tidak khas,
cenderung menyalahkan orang lain, sukar berkonsentrasi, kemampuan

10

berkurang terhadap: (memecahkan masalah dan belajar), kewaspadaan

terhadap gejala fisiologis.


Faktor yang berhubungan
Terpapar toksin, konflik tidak disadari tentang pentinganya nilainilai/tujuan hidup. Hubungan kekeluargaan/keturunan, kebutuhan yang
tidak terpenuhi, interpersonal-transmisi/penularan, krisis situasional/
maturasi, ancaman kematian, ancaman terhadap konsep diri, stress,
penyalahgunaan zat, ancaman terhadap atau perubahan dalam: status
peran, status kesehatan, pola interaksi, fungsi peran, lingkungan, status
ekonomi. (NANDA 2005-2006:9-11).

B. Diagnosa Keperawatan
Ansietas
Harga diri rendah
Gangguan citra tubuh
Koping individu inefektif
Kurangnya pengetahuan
C. Perencanaan Keperawatan
Pasien harus meningkatkan keterampilannya dalam mengendalikan ansietas
dan menggunakan keterampilan tersebut secara sadar dan konstruktif. Dengan
cara ini klien menjadi kuat dan lebih terintegrasi.
Rencana keperawatan pada ansietas tingkat berat dan sedang
Diagnosa keperawatan
: Ansietas barat/panik
Kriteria hasil
: Pasien akan mengurangi ansietasnya
sampai tingkat sedang atau ringan.
a. Rencana keperawatan

: Respon Ansietas pada tingkat berat

Tujuan Jangka Pendek


Intervensi
Pasien dapat
Dukung dan terima
terlindung dari
bahaya.

mekanisme
pertahanan dari klien.
Kenalkan klien pada

Rasional
Ansietas berat dan
panik dapat
dikurangi dengan
mengizinkan klien

criteria kesedihan

untuk menentukan

yang berhubungan

besarnya stress yang

dengan mekanisme
kopingnya saat ini.

11

dapat ditangani.
Jika klien tidak

Berikan umpan balik

mampu

kepada klien tentang

menghilangkan

perilaku, stressor dan

ansietas, ketegangan

sumber koping.
Hindari perhatian
pada fobia, ritual atau
keluhan fisik.
Kuatkan ide bahwa

dapat mencapai
tingkat panik dan
klien dapat
kehilangan kendali.

kesehatan fisik
berhubungan dengan
kesehatan emosional.
Batasi perilku
maladaptive klien
dengan cara yang
mendukung
Klien akan mengalami Bersikap tenang

Perilaku klien dapat

situasi yang lebih

terhadap klien.
Kurangi stimulus

dimodifikasi dengan

lingkungan.
Batasi interaksi klien

dan interaksi klien

sedikit menimbulkan
ansietas.

dengan klien lain,

mengubah lingkungan
dengan lingkungan.

untuk meminimalkan
aspek menularnya
ansietas.
Identifikasi dan
modifikasi situasi
yang dapat
menimbulkan ansietas
bagi klien.
Berikan tindakan fisik
yang mendukung,
seperti mandi air
Klien akan terlibat

hangat dan masase.


Ikutlah terlibat

12

Dengan mendorong

dalam aktivitas yang

dengan aktivitas klien

aktivitas ke luar rumah,

dajadwalkan sehari-

untuk memberikan

perawat membatasi

hari

dukungan pada

waktu klien yang

penguatan perilaku

tersedia untuk

produktif secara

meknisme koping

social.
Berikan beberapa

destruktif sambil

jenis latihan fisik


Rencanakan jadwal

partisipasi dan

atau daftar aktivitas


yang dapat dilakukan

meningkatkan
menikmati aspek
kehidupan lainnya.

setiap hari.
Libatkan anggota
keluarga dan sistem
pendukung lainnya.
Klien akan mengalami Berikan medikasi

Efek hubungan

penyembuhan dan

yang dapat membantu

terapeutik dapat

gejala-gejala ansietas

mengurangi rasa tidak ditingkatkan jika

berat.

nyaman klien.
Amati efek samping

kendali kimiawi
terhadap gejala

medikasi dan lakukan

memungkinkan klien

penyuluhan kesehatan

untuk mengarahkan

yang relevan.

perhatian pada konflik


yang mendasari.

b. Rencana keperawatan
Tingkat Jangka Pendek
Pasien akan

: Respon Ansietas pada tingkat sedang

Intervensi
Bantu pasien

Rasional
Untuk mengadopsi

mengidentifikasi dan

mengidentifikasi dan

respon koping yang

menggambarkan

menggambarkan

baru, klien pertama

perasaan tentang

perasaan yang

kali harus menyadari

ansietasnya

mendasari

perasaan dan

kecemasan.
Kaitkan perilaku

13

mengatasi
penyangkalan dan

klien dengan
perasaan tersebut.
Validasikan semua

resistens yang disadari


atau tidak disadari.

perubahan dan
asumsi kepada
pasien.
Gunakan pertanyaan
terbuka untuk beralih
dari topic yang tidak
mengancam ke isuisu konflik.
Variasikan besarnya
ansietas untuk
meningkatkan
motivasi klien.
Gunakan konfrontasi
suportif dengan
Klien akan

bijaksana
Bantu klien

Setelah perasaan

mengidentifikasi

menggambarkan

ansietas dikenali, klien

penyebab ansietas

situasi dan interaksi

harus mengerti

yang mendahului

perkembangannya

ansietas.
Tinjau penilaian

termasuk stressor
pencetus, penilaian

klien terhadap

stressor dan sumber

stressor, nilai-nilai

yang tersedia.

yang terancam dan


cara konflik
berkembang.
Hubungkan
pengalaman klien
dengan pengalaman
yang relevan pada
masa lalu.

14

Klien akan

Kaji bagaimana klien Respons koping

menguraikan respons

menurunkan

adaptif dapat dipelajari

koping adaptif dan

ansietasnya dimasa

melalui analisa

maladaptive.

lalu dan tindakan

mekanisme koping

yang dilakukan

yang digunakan

untuk

dimasa lalu, penilaian

menurunkannya.
Tunjukkan efek

ulang stressor,
menggunakan sumber

maladaptif dan

koping yang tersedia

destruktif dari

dan menerima

respons koping saat

tanggung jawab untuk

ini.
Dorong klien

berubah.

menggunakan
koping adaptif yang
epektif dimasa lalu.
Fokuskan klien pada
tanggung jawab
untuk berubah.
Bantu klien untuk
mengevaluasi nilai,
sifat, dan arti stressor
pada saat yang tepat.
Bantu klien secara
aktif mengaitkan
hubungan sebab
Klien akan

akibat.
Bantu klien

Individu dapat

mengimplementasikan

mengidentifikasi

mengatasi stress

dua respons adaptif

cara untuk

dengan mengatur

untuk mengatasi

membangun kembali

distress emosional

ansietas

pikiran,

yang menyertainya

memodifikasi

melalui teknik

perilaku,

penatalaksanaan

15

menggunakan

stress.

sumber dan menguji


respons koping yang
baru.
Dorong klien
melakukan aktivitas
fisik untuk
menyalurkan energy.
Libatkan orang
terdekat sebagai
sumber koping dan
dukungan social.
Ajarkan teknik
relaksasi untuk
meningkatkan
percaya diri.

D. Implementasi
Implementasi merupakan pengelolaan dan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendy, 1995 dalam
Riyadi dan Purwanto, 2009). Pada situasi nyata seringkali implementasi jauh
berbeda dengan rencana. Hal ini karena perawat belum terbiasa dengan
rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan. Rencana yang
dilakukan adalah rencana yang tidak tertulis, apa yang dipikirkan, dan
dirasakan.
Hal ini sangat membahayakan klien dan perawat jika berakibat fatal dan
tidak memenuhi aspek legal. Focus intervensi pada klien dengan respons
ansietas menurut tingkatannya, yaitu :
1. Intervensi dalam ansietas tingkat berat dan panik
Prioritas tertinggi dari tujuan keperawatan harus ditujukan untuk
menurunkan ansietas tingkat berat atau panik. Pasien dan intervensi
keperawatan yang berhubungan harus supportif dan protektif.
2. Intervensi dalam ansietas tingkat sedang

16

Saat ansietas pasien menurun sampai tingkat ringan atau sedang


perawat dapat mengimplementasikan intervensi keperawatan re
edukatif atau berorientasi pada pikiran. Intervensi ini melibatkan
pasien dalam proses pemecahan masalah.
E. EVALUASI
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari
tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi ini harus dilakukan terus menerus
pada respons ansietas klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan. Hal-hal yang perlu dievaluasi meliputi :
1. Apakah ancaman terhadap integritas fisik atau sistem diri pasien
berkurang dalam sifat, jumlah, asal, atau waktunya?
2. Apakah perilaku pasien mencerminkan ansietas tingkat ringan atau
tingkat yang lebih berat?
3. Apakah sumber koping pasien telah dikaji dan dikerahkan dengan
adekuat?
4. Apakah pasien mengenali ansietasnya sendiri dan mempunyai
pandangan terhadap perasaan tersebut ?
5. Apakah pasien mengunakan respon koping adaptif?
6. Sudahkah pasien belajar strategi adaptif baru untuk mengurangi
kecemasan?
7. Apakah pasien menggunakan ansietas ringan untuk mengingkatkan
pertumbuhan dan perubahan personal?

17

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Ansietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh
dugaan

akan

bahaya

atau

frustrasi

yang

mengancam

yang

akan

membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu


atau kelompok biososialnya. (J.J GROEN). Gejala umum ansietas/kecemasan
antara lain : gejala psikologik dan gejala fisik
Menurut Stuart dan Laraia (1998: 177-181) terdapat beberapa teori yang
dapat menjelaskan ansietas, diantaranya :
1. Teori Psikoanalitik
2. Teori Interpersonal
3. Teori Perilaku
Ansietas digolongkan menjadi tiga bagian yaitu : ansietas ringan, ansietas
sedang, dan ansietas berat/panik.
Rentang Respon

Respon Adaptif

Antisipasi

Respon Maladatif

Ringan

Sedang

18

Berat

Panik

Asuhan Keperawatan klien dengan kecemasan terdiri dari :


1. Pengkajian : Perilaku, afektif, fisiologis, kognitif dan faktor yang
berhubungan
2. Diagnosa Keperawatan : Ansietas, harga diri rendah, gangguan citra tubuh,
koping individu inefektif, dan kurangnya pengetahuan
3. Perencanaan Keperawatan, Pasien harus meningkatkan keterampilannya
dalam mengendalikan ansietas dan menggunakan keterampilan tersebut
secara sadar dan konstruktif. Dengan cara ini klien menjadi kuat dan lebih
terintegrasi.
4. Implementasi, Implementasi merupakan pengelolaan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendy,
1995 dalam Riyadi dan Purwanto, 2009).
5. Evaluasi, Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek
dari tindakan keperawatan pada klien.
4.2 Saran
Pembelajaran tentang asuhan keperawatan klien dengan gangguan
kecemasan harus dipelajari, dimengerti, dan dipahami oleh seluruh mahasiswa
khususnya mahasiswa di bidang kesehatan supaya nantinya mereka bisa lebih
memahami mengenai asuhan keperawatan klien dengan gangguan kecemasan
dan dapat menerapkan, melaksanakan, serta memberikan asuhan keperawatan
kepada klien dengan benar dan sesuai dengan apa yang dikeluhkan klien.

19

DAFTAR PUSTAKA

S.Kep., Ners., Ade Herman Surya Direja, 2011, Asuhan Keperawatan Jiwa,
Yogyakarta: Nuha Medika
Hawari, D., 2008, Manajemen Stres Cemas dan Depresi, Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.
Mansjoer, A., 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Jakarta : Penerbit
Aesculapius.
Nurjannah, I., 2004, Pedoman Penanganan Pada Gangguan Jiwa Manajemen,
Proses Keperawatan dan Hubungan Terapeutik Perawat-Klien,
Yogyakarta: Penerbit MocoMedia
Stuart, G.W., dan Sundden, S.J., 1995, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3,
Jakarta : EGC.
Suliswati, dkk., 2005, Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta :
EGC.
Suliswati,dkk., Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta: EGC
Videbeck, S.J., 2008, Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC
Videbeck, Sheila L., 2008, Buku Ajar Keprawatan Jiwa. Jakarta: EGC

20