Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Gangguan penyakit pada ternak merupakan salah satu hambatan yang di hadapi dalam
pengembangan peternakan. Peningkatan produksi dan reproduksi akan optimal, bila penyediaan
pakan yang memadai dan pengendalian penyakit yang efektif. Diantara sekian banyak penyakit
hewan di Indonesia, penyakit parasit masih kurang mendapat perhatian dari para peternak.
Penyakit parasit biasanya tidak mengakibatkan kematian ternak, namun menyebabkan kerugian
yang sangat besar berupa penurunan berat badan dan daya produktivitas hewan. Diantar penyakit
parasit yang sangat merugikan adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing hati Fasciola
hepatica,yang dikenal dengan nama Distomatosis, atau Fasciolosis.
Penyakit ini menimbulkan banyak kekhawatiran, karena distribusi dari kedua inang
definitif cacing sangat luas dan mencakup mamalia herbivora, termasuk manusia dan dalam
siklus hidupnya termasuk siput air tawar sebagai hospes perantara parasit. Baru-baru ini, tercatat
banyak kerugian di seluruh dunia pada produktivitas ternak karena fasciolosis. Selain itu,
fasciolosis sekarang dikenal sebagai penyakit yang dapat menular pada manusia. Organisasi
Kesehatan Dunia World Healt Organization (WHO) memperkirakan bahwa 2,4 juta orang
terinfeksi oleh Fasciola spp, dan 180 orang berada pada resiko tinggi terkena infeksi.
Cacing dewasa hidup dalam saluran atau kandungan empedu. Pada sapi, penyakit ini
ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Jawa Barat mencapai 90% dan di Daerah
Istimewa Jogjakarta kasus kejadiannya antara 40- 90%, sedangkan penyakit fasciolosis pada
domba belum diketahui. Fasciola hepatica yang dapat memepengaruhi jutaan orang di seluruh
dunia hingga 17 juta orang yang terinfeksi dan sekitar 19,1 juta beresiko terinfeksi. Penyakit ini
sangat merugikan karena dapat menyebabkan penurunan bobot hidup, penurunan produksi,

pengafkiran organ tubuh terutama hati, bahkan dapat menyebabkan kematian di Indonesia, secara
ekonomi kerugiannya dapat mencapai Rp. 513,6 milyar.
Rumusan Masalah

PEMBAHASAN
Etiologi
Penyakit cacing ini umumnya menyerang ternak sapi, kambing, domba dan ruminansia
lain. F. hepatica lebih banyak dijumpai di wilayah beriklim dingin sampai sedang, sedangkan F.
gigantica lebih dominan di wilayah beriklim tropis. Di Indonesia hospes intermidier (siput yang
cocok) dari F. hepatica tidak ditemukan, sedangkan siput jenis Lymnaea rubiginosa sebagai HI F.
gigantica ditemukan, sehingga Fascioliasis yang ada di Indonesia hanya disebabkan oleh F.
gigantica.
Siklus Hidup
Cacing Fasciola sp. bertelur didalam kantong empedu dan telur keluar mengikuti aliran
empedu didalam ductus choleductus dan mencapai lumen duodenum, kemudian telur bersama
feses keluar saat defekasi. Pada kondisi lingkungan yang mendukung (air tergenang, suhu
(26oC ), Ph) telur akan menetas (17 hari ) dan terbebaslah larva mirasidium. Mirasidium mutlak
harus berada dalam air dan berenang mencari hospes intermidier ( HI ) serasi ialah golongan
siput Lymnaea tumentosa (di Australia ), L. truncatula (Eropa). Didalam tubuh siput tersebut
mirasidium berubah menjadi sporokista yang memperbanyak diri dengan pembelahan sel secara
transversal. Di dalam tubuh sporokista terbentuk banyak redia, pada masing-masing redia induk,
terbentuk banyak redia anak ( cercaria ) yang berekor.

Kemudian cercaria keluar dari tubuh

siput dan berenang didalam air, dalam waktu 20-21 hari hari setelah memasuki tubuh siput. Pada
kondisi menunjang cercaria berenang di air dan mencari tumbuhan air /rerumputan untuk segera
melekat dan ekor dilepaskan dan tubuhnya membentuk zat zat viskus dan berubah bentuk
menjadi metacercaria .

Infeksi pada host terjadi

bila memakan rumput yang ditempeli

metacercaria . di dalam duodenum kista pecah dan keluarlah cacing muda. Dalam waktu 24 jam
cacing muda sampai dalam ruang peritonium sesudah menembus dinding usus. Sekitar 4-8 hari
sesudah infeksi, sebagaian besar cacing telah

menembus kapsul hati dan migrasi dalam

parenkim hati. Migrasi dalam hati memerlukan waktu 5-6 minggu dan minggu ke-7 telah sampai
dalam saluran empedu dan delapan minggu setelah infeksi cacing telah bertelur.
Cara Penularan : hospes definitif (sapi,db,kb) dapat terinfeksi apabila memakan rumput yang
tercemar oleh metaserkaria.
Patogenesis : setelah hospes definitif memakan rumput yang tercemar metaserkaria, maka
metaserkaria pecah didalam duodenum setelah bercampur dengan asam pepsin dalam abomasum
dan dilanjutkan dengan gertakan trypsin dan empedu dalam duodenum. Kalau serkaria langsung
termakan diduga akan hancur/mati karena pengaruh asam pepsin dalam abomasum. Setelah kista
pecah maka keluarlah fasciola muda dalam usus halus.
Setelah 24 jam infeksi , fasciola muda telah ditemukan dalam rongga peritonium , dan 46 hari setelah infeksi sebagian besar Fasciola muda telah menembus kapsul hati dan bermigrasi
dalam parenkhim hati. Umumnya cacing muda mencapai hati dengan cara menembus dinding
usus, masuk ke ruang peritonium dan seterusnya menyerbu hati. Migrasi dalam hati memerlukan
waktu 5-6 minggu, pada minggu ke-7 cacing telah masuk ke saluran empedu dan selanjutnya
menjadi dewasa. Derajat kerusakan tergantung pada banyak sedikitnya metaserkaria yang
menginfeksi/tertelan. Kerusakan terjadi pada parenkhim hati dan saluran empedu.
Manifesasi penyakit bisa dibagi menjadi bentuk akut dan kronis.
Fascioliasis akut, bisa terjadi pada domba apabila domba menelan dalam jumlah banyak
metaserkaria dalam waktu singkat. Jumlah fasciola muda menyerbu hati dan menyebabkan
kapsul hati pecah, maka terjadilah perdarahan ke dalam peritonium. Domba bisa mati dalam

beberapa hari. Dalam otopsi akan ditemukan hati yang membesar, pucat, rapuh dan terlihat jalurjalur perdarahan pada permukaan hati.
Fascioliasis khronis adalah bentuk umum yang terjadi pada hospes. Hal ini mungkin karena
ternak terinfeksi secara bertahap, sehingga kerusakan hatipun terjadi secara bertahap. Fascioliasis
khronis terjadi dua bentuk, yaitu fibrosis hati dan kholangitis. Waktu Fasciola muda migrasi
dalam hati, maka terjadi kerusakan parenkhim, perdarahan dan nekrosa. Perjalan cacing juga
menimbulkan trombus vena hepatica dan sinusoid hati, dan gangguan aliran darah oleh tombus
ini menimbulkan nekrosis dan iskhaemia dalam parenkhima hati. Dalam proses penyembuhan
jaringan parenkhim diganti dengan serabut kolagen, maka terjadilan fibrosis. Apabila terjadi
banyak lobus hati maka hati menjadi bentuk tidak teratur dan mengeras (sirosis hati/sirosis
hepatis).
Kehadiran cacing hati pada saluran empedu menyebabkan kholangitis. Epitel saluran empedu
mengalami hiperplasia. Sisik cacing dan batil isapnya merusak epitel saluran empedu, maka
reaksi radang menyebabkan terjadi fibrosis pada lamina propria dan jaringan sekitarnya. Gerakan
atau migrasi cacing dalam saluran empedu makin memperluas kerusakan . telur cacing dalam
saluran empedu juga mengundang reaksi radang. Cacing juga menghisap darah yaitu sekitar 0,2
ml tiap hari tiap cacing, sehingga terjadi hypoalbuminaemia dan hypoproteinaemia selama
infeksi berlangsung.
Gejala klinis : pada kasus akut terjadi kematian mendadak pada domba, dengan darah keluar
dari hidung dan anus. Pada kasus khronis

pada sapi terjadi gangguan pencernaan berupa

konstipasi dengan tinja yang kering. Dalam keadaan berat sering terjadi mencret. Gejala lain
kepucatan, lemah dan kurus. Gejala anemia dan hypoproteinemia disertai kondisi hewan
menurun serta terjadi oedema subkutaneus khususnya pada intermandibula.
Diagnosis : berdasarkan gejala klinis dan diperkuat dengan penemuan telur cacing dalam tinja.
Telur cacing Fasciola sp. mirip dengan telur cacing Paramphistomum sp. dimana telur
Paramphistomum sp. lebih besar, lebih transparan dan operculumnya lebih jelas. Dengan tetesan
methyl biru telur Paramphistomum sp. berwarna biru sedangkan Fasciola sp. tetap kekuningkuningan.
Pengobatan : macam-macam obat yang efektif terhadap Fascioliasis seperti Hexachlorethane
220 mg/kg bb, Hexachlorophene 15-20 mg/kg bb. Pemberian Chlorsulon 8,5 % suspension

dengan dosis 7,5 mg/kg bb efektif untuk cacing muda dan dewasa. Albendazole dengan dosis 10
mg /kg efektif untuk cacing dewasa. Obat lain seperti nitoxynil, rafoxanide, oxyclozanide,
carbon tetrachloride juga efektif tetapi tidak dianjurkan karena bersifat toksik.
Pencegahan

: Pencegahan dapat dilakukan menghindarkan ternak untuk tidak digembalakan pada daerah
pengembalan yang tergenang air. Penggunanan bebek yang digembalakan pada sawah-sawah
sehabis panen untuk memberantas siput.

PENUTUP
Kesimpulan
Daftra Pustaka