Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

BUDIDAYA TANAMAN HIAS DAN OBAT

Tanaman Hias Teratai

Oleh:
Ratnasari
Lestari Galuh Santosa
Anis Maesarokh
Rahmat Fitri Ramadhan
Mochamad Sofyan A.

(A1L014125)
(A1L014136)
(A1L014137)
(A1L014138)
(A1L014139)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dahulu tanaman air masih dianggap sebagai tanaman liar yang tumbuh di
danau, rawa dan sungai. Namun tanaman air sudah mulai dibudidayakan di
Indonesia pada awal tahun 1990an. Bunga-bunga tanaman air yang eksotis dan
indah menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta tanaman hias. Selain itu,
kehadiran tanaman hias dalam pot beair di halaman rumah bisa menjadikan
suasana rumah semakin sejuk. Sekian banyak tanaman hias air, teratai merupakan
jenis yang paling difavoritkan. Tanaman teratai sudah ada sejak zaman Mesir
Kuno. Teratai dalam bahasa Sansekerta disebut sebagai bunga padma. Sementara
itu, dalam bahasa inggris teratai disebut dengan nama water lilly.
Tanaman teratai tumbuh di permukaan air yang tenang. Bunga dan daun
terdapat di permukaan air, keluar dari tangkai yang berasal dari rhizome yang
berada di dalam lumpur pada dasar kolam, pot, sungai atau rawa. Tangkai terdapat
di tengah-tengah daun. Daun berbentuk bundar atau oval yang lebar yang
terpotong pada jari-jari menuju ke tangkai. Permukaan daun tidak mengandung
lapisan lilin sehingga air yang jatuh ke permukaan daun tidak membentuk butiran
air. Bunga terdapat pada tangkai yang merupakan perpanjangan dari rimpang.
Teratai terdiri dari 50 spesies yang tersebar dari wilayah Tropis hingga Subtropis
di seluruh dunia.
Teratai merupakan tanaman air yang unik. Teratai yang tumbuh di air yang
sangat berlumpur (kotor,coklat), warna bunganya lebih cemerlang. Warna bunga
apabila putih akan lebih putih, apabila merah akan lebih merah, apabila merah

muda akan semakin terang warnanya. Peluang bisnis teratai masih tetap bertahan
dan diminati serta penjualan masih stabil karena teratai adalah tanaman hias air
yang menarik, jika dilihat dari daunnya yang lebar dan bunganya yang indah.

1.
2.
3.
4.
5.

B. Tujuan
Mengetahui klasifikasi tanaman hias teratai.
Mengetahui morfologi tanaman hias teratai.
Mengetahui pemeliharaan dari tanaman hias teratai.
Mengetahui perbanyakan tanaman hias teratai.
Mengetahui tipe perawatan dari tanaman hias teratai.

II. PEMBAHASAN
A. Klasifikasi dan Morfologi

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermathophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Nymphales

Famili

: Nymphaceae

Genus

: Nymphae

Spesies

: Nymphae alb, N. Odorata, N. Tuberose, N. Gigantae, dan 45


spesies lainnya yang terbagi lagi menjadi sekitar 200 varietas.

1. Morfologi teratai

Daun teratai umumnya bulat mendekati lonjong dan memiliki belahan


yang mengarah ke tangkai daun. Pangkal belahan daun ada yang runcing
membentuk huruf V dan ada yang agak membulat. Tepi daun ada yang
bergerigi, ada pula yang polos. Teratai Victoria memiliki tepi daun yang
melipat ke atas mirip nyiru.
Selain itu, ada juga teratai yang bagian bawahnya beduri. Diameter
daun sangat bervariasi, mulai 15 cm hingga 2 meter (teratai raksasa). Warna
daun juga beragam, diantaranya hijau bercak merah serta bagian atas hijau
dengan bagian bawah merah marun.
Tanaman teratai pada bagian daun maupun bunganya tumbuh dari dasar
air. Tangkai daun cenderung tumbuh menjalar sehingga helai daun terlihat
mengapung. Panjang tangkai daun 100-125 cm dari pangkal. Warnanya
beragam dari hijau, hijau cerah hingga merah kecoklatan. Tangkai bunga
cenderung tumbuh tegak dan sedikit menyembul dari permukaan air. Batang
daun dan bunga teratai dipenuhi oleh rongga-rongga.
Akar teratai bisa membentuk umbi yang berbentuk seperti umbi talas.
Umbi ini berada tepat di bawah pangkal tanaman. Seiring waktu, umbi yang
diselimuti bulu-bulu halus ini akan membesar ke bawah. Jika ditanam di
dalam kolam rumah, panjang rimpang hanya sekitar 10 cm. Namun, jika
tumbuh di alam terbuka panjangnya dapat mencapai lebih dari 2 meter.
2. Syarat tumbuh
Sebagian besar tanaman air menghendaki cahaya matahari secara
langsung selama kurang lebih 6 jam per hari. Namun, untuk tanaman yang
baru ditanam atau di repotting, sebaiknya dihindarkan dari sinar matahari

langsung agar beradaptasi. Tanaman air umumnya tumbuh di dataran rendah


sampai sedang. Kisaran suhu untuk pertumbuhan tanaman air yang optimal
adalah 18-25C.

B. Pemeliharaan
1. Media tanam
Media tanam yang baik untuk teratai adalah lumpur. Habitat asli
tanaman ini adalah rawa-rawa yang berlumpur. Lumpur dapat diambil dari
lumpur sawah yang agak kering sehingga bebas dari anak siput dan gulma.
Ketika mengambil lumpur sebaiknya pilih daerah yang bebas limbah industri
dan rumah tangga. Apabila sulit untuk mendaptkan lumpur sawah, media
dapat diganti dengan campuran tanah kebun, pasir dan pupuk kandang yang
sudah matang dan belum terlalu kering dengan perbadingan 1:1:1. Setelah
dicampur secara merata media tersebut dijemur selama 2-3 hari hingga
kering. Setelah itu, media dimasukkan ke kolam atau pot.
Apabila penanaman dilakukan dikolam, masukkan media 20 cm, lalu
tambahkan air hingga kedalamannya cukup. Sementara itu, jika teratai
ditanam di dalam pot, isi setengah pot dengan media kemudian sisa ruangan
diisi dengan air hingga mencapai bibir wadah. Diamkan selama seminggu
sampai terdapat endapan lumpur di dasarnya, baru bibit bisa ditanam. Pot
yang akan digunakan untuk tanaman teratai sebaiknya pilih wadah dengan
mulut yang lebar dengan kedalaman secukupnya, sebab tanaman teratai

cenderung melebar dan tangkai daun teratai cenderung melebat sehingga


membutuhkan ruang yang cukup luas.
2. Pemupukan
Teratai dapat dipupuk dengan NPK yang berbentuk butiran atau tablet.
Pupuk NPK butiran tidak bisa ditaburkan langsung di atas media, pupuk ini
harus dibenamkan ke dalam lumpur agar lebih efisien. Caranya, bungkus satu
sendok teh NPK dengan kertas tisu atau koran, lalu benamkan ke dalam
lumpur di sekitar rimpangnya. Wadah berdiameter 40-60 cm cukup berikan
empat bungkus pupuk tersebut. Pemupukan NPK juga dapat dilakukan
dengan bantuan pipa paralon yang ditancapkan ke dalam media sehingga
pupuk bisa sampai ke bagian dalam media.
Sementara itu, untuk pupuk yang berbentuk tablet dapat diberikan
dengan perantara pipa paralon yang dibenamkan ke dalam lumpur. Satu pot
berdiameter 40-60 cm cukup diberi 2 tablet NPK. Pemupukan teratai dapat
diulangi setiap dua sampai tiga bulan sekali. Selain pupuk NPK, tanaman ini
bisa dipupuk dengan pupuk kandang. Cara pemberiannya tetap sama yaitu
dibungkus dalam kertas dan dibenamkan ke dalam lumpur.
3. Penyiraman
Tanaman teratai yang termasuk kedalam tanaman air maka jumlah air
yang disediakan bagi tanaman harus memadai. Perhatikan tanaman air yang
ditanam di dalam wadah. Bila jumlah air susut karena penguapan atau sebab
yang lainnya, segera tambahkan air yang baru. Salah satu caranya adalah
dengan mengalirkan air melalui selang secara perlahan hingga air meluap.
Penambahan air ini biasnya dilakukan setaip dua hari sekali.
4. Repotting
Tanaman teratai harus diganti dengan yang baru jika pertumbuhannya
sudah tidak baik. Ciri-cirinya adalah daun menjadi kecil-kecil dan jarang

berbunga. Penggantian ini idealnya dilakukan setiap 4-6 bulan sekali atau
setalah beberapa kali dipupuk dengan NPK. Caranya angkat tanaman pelanpelan

dan

bersihkan

akarnya

dari

lumpur

yang

melekat

dengan

meletakkannya di bawah aliran air. Bila ada bagian tanaman yang busuk
dilakukan pemotongan dan dibuang. Bila perlu, pangkas bagian akar yang
berlebihan. Selanjutnya, tanam kembali dalam wadah semula dengan media
tanam baru yang sudah diperisapkan. Usahakan agar tidak terbenam terlalu
dalam dan diberi penyangga. Letakkan terlebih dahulu di tempat yang teduh
tetapi masih dapat sinar matahari.
5. Pengendalian hama penyakit
a. Siput air
Binatang ini melahap tepi-tepi daun teratai sehingga berlubanglubang dan gripis. Bila belum terlalu banyak dapat diambil dengan tangan
dan musnahkan. Namun, bila sudah tidak terkendali gunakan pestisida
jenis moluskisida.
b. Kutu hitam
Kutu hitam atau Rhopalosiphum biasanya muncul di tempat yang
lembab dan basah. Karenanya, tanaman harus terkena cahaya matahari
langsung. Artinya tidak ada bagian yang tertutup atau ternaungi. Hama ini
sering ditemukan di bagian bawah kelopak bunga maupun daun.
Insektisida seperti Dimecron dapat digunakan untuk mencegah semakin
banyakanya hama ini. Namun, perlu diperhatikan agar dosisnya tidak
berlebihan yaitu cukup setengah dari dosis yang dianjurkan pada
kemasan. Sewaktu menyemprot hendaknya tanaman diangkat terlebih
dahulu dari kolam, agar air kolam tidak tercampur oleh insektisida

tersebut. Bila jumlah kutu masih sedikit, dilakukan seka pada bagian yang
terkena dengan kain basah sambil disemprot air.
c. Ngengat
Hama ini merusak daun dengan cara melubangi, memotong dan
kadang-kadang mengebor sampai ke bagian putik bunga. Pencegahannya
yaitu, sering-sering menjemur tanaman air di bawah terik matahari.
Sementara itu, penanggulangnnya cukup dengan menangkap satu per satu
ngengat dan membunuhnya. Bila gejala serangan sudah parah, sebaiknya
semprotkan pestisida.
d. Jamur
Jamur Cercospora mengakibatkan daun menjadi cokelat dan
mengering. Bila dijumpai gejala seperti itu, segera potong bagian daun
yang terserang. Bila serangan hama belum terlalu banyak, pangkas bagian
tanaman yang terkena serangan. Namun bila serangan sudah parah, selain
dipangkas juga diikuti dengan penyemprotan fungisida dengan dosis yang
ditentukan pada kemasan.

C. Perbanyakan
Tanaman teratai dapat diperbanyak dengan biji, umbi, tunas akar dan tunas
daun.
1. Perbanyakan dengan biji
Biji teratai yang baik untuk disemai adalah biji yang tua, berdiameter 12 cm dan kulit luarnya keras. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah
mencuci biji hingga lendirnya hilang, lalu rendam biji tersebut dengan larutan

ZPT perangsang perkecambahan selama semalam. Media semai yang bisa


digunakan adalah campuran tanah, pasir dan kompos dengan perbandingan
1:1:1 yang dicampur air. Masukkan media semai tersebut ke dalam ember
atau wadah lain. Sebarkan biji di atas media, lalu letakkan di tempat yang
teduh. Biji teratai akan berkecambah setelah 2-3 minggu. Setelah
menghasilkan 2 helai daun, bibit dapat dipindahkan ke media penanaman di
kolam atau dipot.
2. Perbanyakan dengan umbi
Cara perbanyakan dengan umbi dilakukan dengan memisahkan anakan
umbi yang menempel di sekitar umbi induk teratai. Cara ini umumnya lebih
banyak dipilih karena tanaman yang dihasilkan akan lebih cepat
mengeluarkan bunga dari pada bibit asal biji. Teratai yang dijadikan induk
adalah teratai yang sudah berumur 1-2 tahun atau siklus pembungannya sudah
berkurang.
Apabila memisahkan anakan umbi, angkat tanaman dari medianya, lalu
bersihkan dari sisa lumpur yang menempel. Pilih anakan umbi yang
ukurannya hampir sama dengan umbi induk, memiliki perakaran yang baik
dan setidaknya sudah menumbuhkan 2-4 helai daun yang muncul ke
permukaan air. Pisahkan anakan tersebut menggunakan pisau tajam dan
bersih. Setelah terpisah, celupkan anakan umbi ke dalam fungisida lalu jemur
hingga kering. Setelah kering, rendam umbi ke dalam air hangat yang sudah
dicampur dengan zat perangsang tumbuh. Selanjutnya, tanam umbi di media
baru dan letakkan di tempat teduh agar beradaptasi. Setelah tanaman
menghasilkan kuncup daun baru segera pindahkan ke tempat yang mendapat

sinar matahari langsung. Dalam waktu sekitar empat bulan tanaman teratai
tersebut akan mulai berbunga.
3. Perbanyakan dengan tunas akar
Cara ini dapat dilakukan pada tanaman taratai yang tidak memiliki
umbi. Pada tahap awal, keluarkan tanaman teratai dari wadah yang lama lalu
cuci dengan air mengalir. Setelah itu, belah pangkal batang yang memiliki
tunas. Belahan tunas tersebut dapat langsung dipindahkan ke wadah baru
yang telah disiapkan. Sementara itu, induk yang telah dibelah dapat ditanam
kembali. Letakkan tanaman baru di tempat teduh selama seminggu agar
beradaptasi. Setelah pertumbuhan tampak stabil pindahkan ke tempat yang
terkena sinar matahari secara langsung.
4. Perbanyakan dengan tunas daun
Cara ini dikhususkan untuk jenis teratai yang memiliki tonjolan kecil di
bagian tengah atau pangkal. Tonjolan tersebut adalah tunas daun yang bisa
ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Caranya, petik daun bersama tangkainya
sepanjang 5 cm. Gunting sebagian besar helai daun dan sisakan 1,5-2 cm dari
pangkal daun. Tancapkan tangkai daun ke wadah penanaman hingga hanya
bagian daunnya yang terlihat tepat di atas permukaan media.
D. Tipe Perawatan
1. Agar tidak menjadi sarang nyamuk
Genangan di dalam pot tanaman air seringkali mengundang nyamuk
untuk bersarang di dalamnya. Agar tidak menjadi sarang nyamuk dapat
dilakukan dengan menjemur pot di bawah terik matahari selama 3-4 jam
perhari. Daun yang sudah tua sebaiknya dipangkas untuk mengurangi
kelembaban lingkungan.
2. Agar teratai rajin berbunga

Penampilan teratai agar semakin menarik jika bunganya yang elok


selalu bermekaran setiap saat. Agar teratai rajin mengeluarkan bunganya tentu
saja perlu perlakuan pemupukan karena hanya mengandalkan pasokan unsur
hara dari media tanam tidak cukup. Unsur hara ynag dibutuhkan adalah
phospat (P) dalam jumlah tinggi. Karena itu, pupuklah teratai dengan pupuk
majemuk NPK, tapi pilih yang kandungan P-nya tinggi. Agar pupuk dapat
sampai ke dasar lumpur, tancapkan pipa paralon ke dalam lumpur kemudian
masukkan pupuk lewat lubang pada pipa paralon.

III.
KESIMPULAN
1. Teratai merupakan tanaman air yang unik dan paling difavoritkan dari sekian
tanaman hias air yang ada.
2. Tanaman teratai tumbuh di permukaan air yang tenang. Bunga dan daun
terdapat di permukaan air.
3. Hama penyakit yang sering mengganggu tanaman teratai yaitu ngengat,
jamur, kutu hitam, dan siput air.
4. Tanaman teratai dapat diperbanyak dengan menggunakan biji, umbi, tunas
akar dan tunas daun.
5. Peluang usaha tanaman teratai cukup menjanjikan karena penjualan
cenderung stabil.

DAFTAR PUSTAKA

Astuti dan agung Sugiarto. 2008. Ensiklopedia Tanaman Hias. Agro Media
Pustaka, Jakarta.