Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MAKALAH 1

KEBIJAKAN PERTAMBANGAN DAN REKLAMASI


Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Pada Mata Kuliah
Penutupan Tambang
Semester V Pada Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2016/2017

Disusun oleh :

Fajar Rizki Herian


10070112017

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1438 H / 2016 M

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmaanirrahim,
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur Penulis panjatkan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Atas
rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
Kebijakan Pertambangan Dan Reklamasi
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Semoga
makalahini dapat membantu menambah pengetahuan kita mengenai Kegiatan
Reklamasi
Makalah ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa bantuan dari orang-orang di
sekitar penulis. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam
penyusunan makalah ini.
Besar harapan penulis untuk kritik dan saran untuk makalah ini. Semoga
makalah ini dapat berguna dan bermanfaat untuk pembaca. Terima Kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Bandung, 16 Oktober 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I

PENDAHULUAN.......................................................................... 1
1.1
1.2
1.3

Latar Belakang....................................................................... 1
Rumusan Masalah.................................................................. 2
Tujuan..................................................................................... 2

BAB II Tahapan dan Dampak Reklamasi............................................ 3


2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7

Kegiatan Pertambangan dan Aspek Lingkungan....................


Penetapan Kebijakan dan Reklamasi Pascatambang............
Perizinan Reklamasi dan Pascatambang...............................
Pembinaan dan Pengawasan Terkait Reklamasi dan
Pascatambang........................................................................
Sanksi Terhadap Pelanggaran Kegiatan Reklamasi Dan
Pasctambang.........................................................................
Kendala-kendala Pada Reklamasi.......................................
Tahap Melakukan Reklamasi................................................

3
4
6
8
9
11
11

BAB III KESIMPULAN.............................................................................. 13


DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kemajuan teknologi yang sangat pesat menyebabkan kemajuan di segalah

bidang, dan sekaligus menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Dampak


kemajuan teknologi yang sangat menonjol ini menjadi dampak global, sehingga
dewasa ini menjadi perhatian negara di dunia. Dampak lingkungan hidup yang
sudah mengglobal ini tidak semata-mata akibat kemajuan teknologi yang pesat,
tetapi akibat ulah manusianya. Teknologi diciptakan untuk membantu meningkatkan
taraf hidup manusia. Pembangunan dilaksanakan untuk kesejahtraan hidup umat
hidup dengan menggunakan teknologi. Oleh karena itu semua usaha pembangunan
yang dilakukan manusia hendaknya memperhatikan kelestarian lingkunggan hidup.
Dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi atau Iptek itu sangat
penting, dan karena itu tergantung dari manusia yang menggunakan Iptek itu. Bila
manusia menggunakan Iptek untuk kepentingan dan kesejahtraan umat manusia,
maka perlu didukung, tetapi sebaiknya, bila penggunaan Iptek untuk kepantinggan
diri sendiri dan merugikan kepentingan umat manusia, maka tidak perlu didukung
bahkan hendaknya disingkirkan dari pola pikir demikian.
Kegiatan pembangunan seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan,
sehingga menyebabkan penurunan mutu lingkungan, berupa kerusakan ekosistem
yang selanjutnya mengancam dan membahayakan kelangsungan hidup manusia itu
sendiri. Kegiatan seperti pembukaan hutan, penambangan, pembukaan lahan
pertanian dan pemukiman, bertanggung jawab terhadap kerusakan ekosistem yang
terjadi. Akibat yang ditimbulkan antara lain kondisi fisik, kimia dan biologis tanah
menjadi buruk, seperti contohnya lapisan tanah tidak berprofil, terjadi bulk
density (pemadatan), kekurangan unsur hara yang penting, pH rendah, pencemaran
oleh logam-logam berat pada lahan bekas tambang, serta penurunan populasi
mikroba tanah.

Begitu juga dengan penambangan batu bara, pada lahan bekas tambang
batu bara masalah utama yang timbul adalah perubahan lingkungan. Perubahan
kimiawi terutama berdampak terhadap air tanah dan air permukaan, berlanjut secara
fisik perubahan morfologi dan topografi lahan. Lebih jauh lagi adalah perubahan
iklim mikro yang disebabkan perubahan kecepatan angin, gangguan habitat biologi
berupa flora dan fauna, serta penurunan produktivitas tanah dengan akibat menjadi
tandus atau gundul.
Untuk itu diperlukan adanya suatu kegiatan sebagai upaya pelestarian
lingkungan agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut. Upaya tersebut dapat ditempuh
dengan cara merehabilitasi ekosistem yang rusak. Dengan rehabilitasi tersebut
diharapkan akan mampu memperbaiki ekosistem yang rusak sehingga dapat pulih,
mendekati atau bahkan lebih baik dibandingkan kondisi semula. Dan salah satu cara
yang dapat dilakuakan adalah dengan melakukan reklamasi lahan.
1.2

Rumusan Masalah
1. Mengetahui beberapa isu yang terjadi mengenai lingkungan serta

reklamasi tambang ?
1.3

Tujuan
1. Untuk mengetahui kegiatan pertambagan dan aspek lingkungan.
2. Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan dalam tahapan reklamasi

tambang.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kegiatan Pertambangan Dan Aspek Lingkungan

Kegiatan pertambangan merupakan kegiatan usaha yang kompleks dan


sangat rumit, sarat risisko, merupakan kegiatan usaha jangka panjang, melibatkan
teknologi tinggi, padat modal, dan aturan regulasi yang dikeluarkan dari beberapa
sektor. Selain itu, kegiatan pertambangan mempunyai daya ubah lingkungan yang
besar, sehingga memerlukan perencanaan total yang matang sejak tahap awal
sampai pasca tambang. Pada saat membuka tambang, sudah harus difahami
bagaimana menutup tambang. Rehabilitasi/reklamasi tambang bersifat progresif,
sesuai rencana tata guna lahan pasca tambang.
Berbicara mengenai pertambangan, isu utama yang selalu diangkat adalah
lingkungan. Kegiatan pertambangan memang akan mengubah kondisi alam yang
pada mulanya bisa berupa bukit atau gunung dengan vegetasi rapat setelah proses
penambangan- kemudian menjadi tanah berlubang cukup besar dan gersang.
Kerusakan lingkungan ini akan berakibat buruk jika tak segera diatasi. Di lain pihak,
hasil-hasil tambang begitu diperlukan dalam kehidupan kita. Mulai dari alat-alat
dapur, alat kantor, alat elektronik, telepon seluler dan barang-barang yang kita pakai
sehari-hari memiliki unsur logam yang tentunya diperoleh melalui proses
penambangan. Dan akhirnya reklamasi tambang mutlak dilakukan.
Pada dasarnya, selain pertambangan memberikan manfaat ekonomi
langsung, tidak dipungkiri pertambangan juga berpotensi menyebabkan gangguan
lingkungan, termasuk fungsi lahan dan hutan. Tekanan yang besar terhadap isu
lingkungan diakibatkan oleh perilaku beberapa pelaku usaha pertambangan,
memang harus dikoreksi. Juga kadang, ketidaktahuan masyarakat terhadap industri
pertambangan secara makro. Ketidaktahuan, kadang memunculkan presepsi keliru
terhadap industri pertambangan secara keseluruhan. Padahal, salah satu tujuan

kegiatan pertambangan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi bagi


pelaku usaha pertambangan, segala yang menyebabkan ketidaktahuan masyarakat,
termasuk isu keruskan lingkungan, harus di luruskan.
Di masa sekarang, kalangan industri pertambangan telah menyadari bahwa
untuk mendapatkan akses ke sumber daya di masa depan, mereka harus
menunjukkan mampu menutup tambang (mine closure) secara efektif dan
mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan (stakeholder), khususnya
masyarakat tempat tambang beroperasi. Ekspektasi dari regulasi dan pemangku
kepentingan semakin tinggi, sehingga untuk dapat mencapai hasil maksimal,
diperlukan metode yang benar serta diparalel dengan konsultasi dengan pemangku
kepentingan secara rutin.
2.2 Penetapan Kebijakan Reklamasi dan Pascatambang
Kegiatan reklamasi dan pasca tambang merupakan salah satu bentuk
kewajiban dari kegiatan usaha pertambangan. Sebelum melaksanakan kegaitan
reklamasi dan pasca tambang tersebut, maka diperlukan suatu izin usaha
pertambangan yang diberikan pemerintah pusat, provinsi atau kabupaten/kota
sesuai dengan kewenangannya. Kewenangan pemerintah pusat tercantum pada
Pasal 6 UU No.4 Tahun 2009 :
1.
2.
3.
4.

Penetapan kebijakan nasional;


Pembuatan peraturan perundang-undangan;
Penetapan standar nasional, pedoman, dan kriteria;
Penetapan sistem perizinan pertambangan mineral dan batubara

nasional
5. Penetapan

wilayah

pertambangan

setelah

berkoordinasi

dengan

Pemerintah Daerah dan DPR RI;


6. Pemberian IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi;
7. Pengevaluasian IUP Operasi Produksi, yang dikeluarkan

oleh

pemerintah daerah, yang telah menimbulkan kerusakan lingkungan


serta yang tidak menerapkan kaidah pertambangan yang baik;
8. Pembinaan
dan
pengawasan
penyelenggaraan
pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara yang dilaksanakan oleh pemerintah
daerah;
9. Pembinaan dan pengawasan penyusunan peraturan daerah di bidang

pertambangan.
Sedangkan kewenangan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota berupa
penetapan kebijakan dalam pembuatan peraturan perundang-undangan daerah,
pembinaan dan pengawasan. (Pasal 7 dan Pasal 8 UU No. 4 Tahun 2009).
Penetapan kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan reklamasi pasca
tambang dimuat dalam suatu peraturan pemerintah. Berdasarkan Pasal 101 UU No.
4 Tahun 2009 tersebut, maka dibentuklah Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun
2010 tentang reklamasi dan pasca tambang.
Pada Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010, prinsip reklamasi dan pasca
tambang terdapat pada Pasal 2 (1) dan ayat (2) menyebutkan bahwa:
1. Pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi wajib melaksanakan
reklamasi,
2. Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi wajib
melaksanakan reklamasi dan pascatambang.
Pelaksanaan reklamasi oleh pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi
wajib

memenuhi

prinsip

perlindungan

dan

pengelolaan

lingkungan

hidup

pertambangan dan keselamatan dan kesehatan kerja.


Prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pertambangan miliki kriteria
yang wajib dilaksanakan berupa :
a. perlindungan terhadap kualitas air permukaan, air tanah, air laut, dan
tanah serta udara berdasarkan standar baku mutu atau kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
b. perlindungan dan pemulihan keanekaragaman hayati;
c. penjaminan terhadap stabilitas dan keamanan timbunan batuan
penutup, kolam tailing, lahan bekas tambang, dan struktur buatan
lainnya;
d. pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan peruntukannya;
e. memperhatikan nilai-nilai sosial dan budaya setempat; dan
f. perlindungan terhadap kuantitas air tanah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Prinsip keselamatan dan kesehatan kerja meliputi :

a. perlindungan keselamatan terhadap setiap pekerja atau buruh.


b. perlindungan setiap pekerja buruh dari penyakit akibat kerja.
2.3 Perizinan Reklamasi dan Pascatambang.
Izin kegiatan

pertambangan

dibagi

menjadi

tiga

jenis

yaitu

Izin

Usaha Pertambangan (IUP), Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dan


Izin

Usaha Pertambangan Rakyat

(IPR).

Agar kegiatan reklamasi dan

pascatambang dapat terlaksana dan memenuhi kriteria keberhasilan, maka ada


beberapa tahapan yang harus dilalui mulai dari permohonan izin tata laksana
rencana reklamasi dan rencana pascatambang, persetujuan rencana reklamasi
dan rencana pascatambang, hingga perubahan rencana reklamasi dan rencana
pascatambang. Proses tahapan tersebut diatur di Peraturan Pemerintah Nomor
78 Tahun

2010 terlebih dahulu harus melalui izin

dari menteri, gubernur,

bupati/walikota.
Selain itu, menyediakan dana jaminan reklamasi dan dana jaminan
pascatambang merupakan salah satu kewajban yang harus dilakukan bagi para
pemegang

IUP dan

IUPK. Pemerintah menetapkan

kebijakan bagi setiap

pemegang IUP dan IUPK untuk menempatkan jaminan reklamasi dan jaminan
pascatambang.
Jaminan tersebut diperlukan sebagai wujud kesungguhan setiap pemegang IUP
dan IUPK untuk memulihkan lahan bekas tambang dan lahan diluar bekas
tambang sesuai peruntukkan

yang

disepakati

para

pemangku

kepentingan

dalam rangka pembangunan berkelanjutan.


Jaminan pascatambang ditetapkan sesuai dengan rencana pascatambang.
Jaminan tersebut ditempatkan setiap tahun dalam bentuk deposito berjangka pada
bank pemerintah. Besarnya jaminan pascatambang dihitung berdasarkan biaya:

a. Biaya langsung meliputi:


Pembongkaran bangunan dan sarana penunjang yang sudah tidak

digunakan;
Reklamasi tapak bekas tambang, fasilitas pengolahan dan pemurnian, serta

fasilitas penunjang;
Penanganan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan limbah B3;
Pemeliharaan dan perawatan;
Pemantauan; dan

Aspek sosial, ekonomi, dan budaya.


b. Biaya tidak langsung meliputi:
Mobilisasi dan demobilisasi;
Perencanaan kegiatan;
Administrasi dan keuntungan pihak ketiga sebagai kontraktor

pelaksana penutupan tambang; dan


Supervisi.

Deposito berjangka tersebut berlaku sampai seluruh kegiatan pascatambang


dinyatakan selesai oleh gubernur. Untuk pencairan deposito berjangka beserta
bunganya dilakukan setelah kegiatan pascatambang sesuai dengan tahapan
penyelesaian pekerjaan yang telah dilakukan berdasarkan rencana pascatambang
yang disetujui diterima oleh gubernur.
Penempatan jaminan pascatambang oleh perusahaan tidak menghilangkan
kewajiban perusahaan untuk melaksanakan kegiatan pascatambang. Apabila
perusahan kekurangan biaya untuk menyelesaikan kegiatan pascatambang dari
jaminan yang telah ditetapkan maka tetap menjadi tanggungjawab perusahaan.
Pelaksanaan reklamasi wajib dilakukan pada lahan yang terganggu akibat
pertambangan. Lahan tersebut baik berada pada bekas tambang maupun lahan di
luar bekas tambang yang tidak digunakan lagi. Lahan di luar bekas tambang
meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Timbunan tanah penutup;


Timbunan bahan baku/produksi;
Jalan transportasi;
Pabrik/instalasi pengolahan/pemurnian;
Kantor dan perumahan; dan/atau
Pelabuhan/dermaga.

Ruang lingkup pelaksanaan kegiatan reklamasi dimulai dari eksplorasi,


pembersihan lapangan (land clearing), penggalian tanah pucuk dan over borden,
penggalian batubara, penataan lahan, revegetasi termasuk penyiapan pembibitan,
dan pemeliharaan serta evaluasi hasil kegiatan.
Pelaksanaan reklamasi dilakukan paling lambat satu bulan setelah tidak ada lagi
kegiatan usaha pertambangan pada lahan yang terganggu. Setelah dilaksanakan
penyampaikan laporan pelaksanaan reklamasi setiap satu tahun kepada gubernur.

Laporan disusun berpedoman pada penyusunan laporan pelaksanaan kegiatan


reklamasi pada Lampiran III Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Nomor 18 Tahun 2008.
2.4 Pembinaan

dan

Pengawasan

Terkait

Reklamasi

dan

Pascatambang.
Kewenangan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota terhadap
pembinaan dan pengawasan dalam hal usaha pertambangan yang berkaitan
dengan kegiatan reklamasi dan pascatambang diatur di Undang-undang Nomor 4
Tahun 2009. Pasal
dijelaskan

bahwa

140

ayat

kewenangan

(3) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009


untuk

melakukan

pengawasan

terhadap

pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh pemegang IUP,


IPR, dan IUPK merupakan wewenang dari menteri, gubernur dan bupati/walikota.
Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan tugas dari inspektur
tambang agar dapat mengawasi kinerja dari kegiatan usaha pertambangan
agar dapat menambang sesuai dengan prosedur atau aturan yang telah ditetapkan.
Inspektur tambang adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggungjawab,
wewenang, dan hak untuk melakukan pengawasan inspeksi tambang. Adapun
pengawasan pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang meliputi:
1. Pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dengan
dokumen pengelolaan lingkungan atau izin lingkungan yang telah
dimiliki dan disetujui;
2. Penataan, pemulihan, dan perbaikan lahan sesuai dengan
3.
4.
5.
6.

peruntukannya;
Penetapan dan pencairan jaminan reklamasi;
Pengelolaan pascatambang;
Penetapan dan pencairan jaminan pascatambang; dan
Pemenuhan baku mutu lingkungan sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.

Inspektur tambang bekerja terhadap pengawasan pertambangan melalui


kegiatan inspeksi, pengujian, dan penyelidikan terhadap laporan berkala dan/atau
sewaktu-waktu, pemeriksaan berkala dan/atau sewaktu-waktu, serta memberikan
penilaian atas keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan pertambangan.

Pengawasan dan pemantauan inspektur tambang minimal dilakukan satu tahun


sekali atau pengawasan dan pemantauan dilakukan pertriwulan.
Jabatan inspektur tambang merupakan jabatan yang fungsional. Kurangnya
jumlah inspektur tambang di daerah masih menjadi kendala dalam melakukan
pengawasan dan pembinaan. Pada Dinas Pertambangan dan Energi di Sumatera
Selatan hanya ada satu inspektur tambang. Jumlah tersebut tidak sebanding jumlah
IUP di Sumatera Selatan yang jumlahnya tiga ratus lima puluh sembilan IUP.
Khusus di daerah, pemerintah daerah terlalu mudah memberikan suatu
izin usaha pertambangan. Pemberian izin tidak sejalan dengan

pengawasan

kegiatan usaha pertambangan tersebut. Ini dapat dibuktikan dari masih banyaknya
perusahaan-perusahaan tambang yang belum melaksanakan kewajiban untuk
melakukan kegiatan reklamasi dan pascatambang. Jika pun telah melaksanakan
kegiatan reklamasi, beban reklamasi yang harusnya dilaksakanan pada tahuntahun sebelumnya masih banyak sekali, yang ditakutkan apabila tidak ada
langkah percepatan reklamasi, hingga perusahaan tambang telah selesai
beroperasi, maka rusak nya lingkungan pada area tambang tidak bisa diperbaiki.
Pemerintah harusnya menerapkan prinsip clean and clear. Izin tambang per-lima
tahun itu, tidak diberikan tanpa telah dilaksanakan terlebih dahulu reklamasi untuk
lima tahun sebelumnya. Sehingga perusahaan tambang tersebut sungguh-sungguh
dalam melaksanakan kegiatan reklamasi.
2.5 Sanksi Terhadap Pelanggaran Kegiatan Reklamasi Dan
Pasctambang.
Dalam Undang-undang

Nomor 4 Tahun 2009, ada dua jenis sanksi yang

tercantum di dalamnya yaitu sanksi administratif dan sanksi pidana. Akan tetapi,
untuk pelanggaran kegiatan reklamasi dan pascatambang hanya memuat sanksi
administratif. Sanksi administratif tercantum di Pasal 151 Undang-undang Nomor
4 Tahun 2009. Selain Di dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009,
Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 juga memuat ketentuan sanksi
administratif.
Pemberian

sanksi

administratif

untuk

kegiatan

reklamasi

dan

pascatambang kurang mampu untuk memberikan efek jera pada perusahaan

tambang yang melanggar kewajiban untuk melakukan kegiatan reklamasi dan


pascatambang, selain itu kemungkinan untuk dilanggar sangatlah besar.
Ketentuan jenis sanksi adminsitratif hanya diberikan pada perusahaannya
saja, sedangkan yang menjalankan perusahaan harusnya juga dikenakan sangsi
pidana, karena selain sifatnya yang memaksa dan harus ditaati, adanya proses
lanjutan yang wajib ditindak lanjuti oleh aparat penegak hukum apabila terindikasi
memenuhi

unsur

kelalaian

dan pelanggaran pelaksanaan reklamasi

dan

pascatambang. Efek dari diberinya sanksi pidana bagi pengusaha tambang selain
memberikan efek penjeraan, juga menjauhkan dari kemungkinan untuk mengulangi
pelanggaran

dalam

hal

tidak

melakukan

kegiatan reklamasi

dan

pascatambang. Diberikannya sanksi pidana merupakan suatu bentuk kesungguhan


dari pemerintah untuk melakukan upaya penyelamatan lingkungan akibat dari
aktivitas kegiatan pertambangan batubara.
Peran pemerintah yang begitu luas juga diimbangi dengan peran dan fungsi
dari seluruh stakeholder yang ada. Selain pemerintah dan perusahaan tambang,
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi/lembaga penelitian dan
masyarakat juga memiliki peran yang saling melengkapi satu

sama lain.

Penjabaran peran dan fungsi masing-masing stakeholeders ini dapat dilihat pada
Tabel 1. Peran dan Fungsi Stakeholders :
Tabel 2.1
Peran dan Fungsi Stakeholders

10

Dari para stakeholders diatas, dibentuklah tim monitoring yang merupakan


lembaga baru sebagai bentuk penyeimbang dari beragam kepentingan yang ada
sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing. Penguatan tim monitoring ini juga
difokuskan pada penguatan, pengembangan, dan pemberdayaan masyarakat
sekitar usaha pertambangan.
2.6 Kendala-kendala Pada Reklamasi Tambang
Penutupan

tambang

yang

buruk

atau

bahkan

ditelantarkan

akan

menyebabkan masalah warisan yang sulit bagi pemerintah, masyarakat, perusahaan


dan pada akhirnya akan merusak citra industri pertambangan secara keseluruhan.
Untuk melakukan reklamasi tambang terdapat berbagai kendala, antara lain

Kendala utama yang sering menghambat keberhasilan usaha reklamasi


lahan bekas tambang adalah kondisi iklim mikro yang belum sesuai,
kekurangan air untuk menyiram dan kesulitan mendapatkan bahan-bahan

amelioran, khususnya bahan organik.


Pada beberapa lahan tambang, kesulitan lain yang dihadapi bertambah
dengan sulitnya memperoleh tanah pucuk karena kondisi asli tambang
tersebut yang berada pada jenis tanah Litosol yang memiliki solum sangat
tipis.

11

Kondisi tanah yang marginal bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi ini secara

langsung akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.


Berpengaruh pada kenaikan komponen biaya kegiatan lingkungan hidup dan

sosial perusahaan
Bahan tambang merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui atau

tidak berkelanjutan
Banyaknya komponen biaya tidak terduga yang harus dikeluarkan oleh
perusahaan tambang di negara berkembang, sehingga seringkali regulasi
penutupan tambang hanya sebatas wacana dan persyaratan administrasi
dari pemerintah. Kadangkala syarat tersebut dapat dinegosiasi dengan

kompensasi lain.
Masih adanya perbedaan tentang konsep dan tujuan penutupan tambang

yang berkelanjutan.
2.7 Tahap Melakukan Reklamasi
Salah satu cara untuk mengatasi kendala seperti yang diuraikan tersebut di
atas adalah merumuskan model reklamasi lahan pasca tambang yang efektif dan
efisien. Efektif artinya dapat dilaksanakan di lapangan dengan menggunakan
teknologi yang mudah dilakukan oleh masyarakat setempat, dan dapat memberikan
manfaat ekonomi, baik kepada masyarakat maupun pemerintah daerah secara
berkesinambungan. Efisien, artinya memilih strategi untuk melakukan rehabilitasi
lahan dalam sebuah model reklamasi dengan biaya relatif rendah, namun
mendapatkan

hasil

yang

optimal

dan

dalam

kaidah-kaidah

pembangunan

berkelanjutan.
Untuk tahapan reklamasi sendiri adalah sebagai berikut :
1. Tahap awal untuk mereklamasi lahan tambang adalah recontouring yaitu
membentuk contour tanah dengan kemiringan yang telah ditentukan. Setelah
terbentuk, contour tersebut ditimbun dengan tanah dan dipadatkan. Tanah
yang dipakai untuk menimbun berasal dari tanah yang pada saat awal
penambangan dikeruk dan disimpan pada stockpile, dan di kemudian hari
akan dipakai setelah proses penambangan berakhir. Dalam kunjungan ke
Tongoloka tersebut, beberapa alat berat terlihat sedang melakukan
recontouring sekaligus pemadatan tanah.

12

2.

Setelah pemadatan tanah selesai, selanjutnya dilakukan pemasangan


energy breaks yang berfungsi mencegah terjadinya erosi. Pada akhirnya
lahan siap untuk ditanami dengan tumbuhan penutup (hydroseeding) dan
dilanjutkan dengan tumbuhan pokok. Sebuah kendaraan saat itu saya lihat
sedang menyemprot lahan dengan cairan yang berisi campuran air, pupuk

dan mulsa.
3. Selanjutnya penanaman tanaman pioner atau tanaman yang cepat tumbuh
dilakukan bersamaan dengan penanaman cover crops.
4. Untuk pilihan tanaman sisipan yang umurnya lebih lama, dilakukan setelah
daerah reklamasi berumur sekitar 2-3 tahun. Proses waktu lebih untuk
mendapatkan agar kondisi tajuknya mencukup, sehingga iklim mikro
mendukung tanaman jenis sisipan. Jarak lebih disesuaikan dengan jenis
tanamannya.

13

BAB III
KESIMPULAN

Kegiatan pertambangan merupakan kegiatan usaha yang kompleks dan


sangat rumit, sarat risisko, merupakan kegiatan usaha jangka panjang, melibatkan
teknologi tinggi, padat modal, dan aturan regulasi yang dikeluarkan dari beberapa
sektor. Selain itu, kegiatan pertambangan mempunyai daya ubah lingkungan yang
besar, sehingga memerlukan perencanaan total yang matang sejak tahap awal
sampai pasca tambang. Pada saat membuka tambang, sudah harus difahami
bagaimana menutup tambang. Rehabilitasi/reklamasi tambang bersifat progresif,
sesuai rencana tata guna lahan pasca tambang.
Reklamasi dan pascatambang merupakan tanggungjawab yang timbul
karena undang- undang, karena Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Mineral dan Batubara mewajibkan melaksanakan reklamasi dan pascatambang
bagi pemegang IUP dan IUPK. Kewenangan yang diberikan undang-undang
tersebut diberikan kepada Pemerintah berupa pembuatan peraturan daerah,
pemberian

izin

pelaksaaan

reklamasi,

pengembangan

dan

pemberdayaan

masyarakat setempat dalam usaha pertambangan dengan memperhatikan


kelestarian lingkungan, pembinaan dan pengawasan. Wewenang pemerintah yang
demikian luasnya perlu ada sinergisitas antara perusahaan tambang, masyarakat,
LSM dan perguruan tinggi/lembaga penelitian.
Untuk tahapan dalam melakukan reklamasi adalah :

Recontouring.
Pemasangan energy breaks yang berfungsi mencegah terjadinya erosi.
Selanjutnya penanaman tanaman pioner atau tanaman yang cepat tumbuh.

DAFTAR PUSTAKA

14

Dody P (2008), Corporate Social Responsibility, Social Justice dan Distributive


welfare dalam Industri tambang dan migas di Indonesia, Jurnal Galang
Volume 3 No. 3, 16 Oktober 2016
Heriansyah (2015), Implementasi Peraturan Pemeriantah Nomor 78 Tahun
2010 Tentang Reklamasi Dan Pascatambang, Studi Kasus Pada PT.
Raja Kutai Baru Makmur di Desa Kutai Lama KecamatanAnggana
Kabupaten Kutai Kartanegara, Jurnal Ilmu Pemerintahan Volume 3 No. 1,
16 Oktober 2016
Irsan, Helmanida dan Mutiari Y.L (2010), Kebijakan RekIamasi Pascatambang
Sebagai Bentuk Pengendalian Lahan Bekas Tambang Batubara Ditinjau
Dari Kewenangan Otonomi Daerah Di Sumatra Selatan, Unsri, 16
Oktober 2016