Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH EVIDENCE BASED

RESIKO TROMBOEMBOLI PADA PEMAKAIAN KB


HORMONAL

Kelompok III
1. Henik Melani
2. Ika Maharani KN
3. Irsyad Mahmudah Nor
4. Jofi Nofa Lucyana
5. Kharina Putri A
6. Luh Sukeningsih
7. Mar'atus Sholehah
8. Maulida Qosi Alfitri
9. Mira Cintya Dewi
10. Nastiti Aryudaningrum
11. Nila Pradani Kusuma

R0314028
R0314029
R0314030
R0314031
R0314032
R0314034
R0314035
R0314036
R0314037
R0314038
R0314039

DIII KEBIDANAN FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur

kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang MahaEsa. Berkat

limpahan rahmat, taufik, dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah


Resiko Tromboemboli pada Pemakaian KB Hormonal. Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas praktikum mata kuliah Praktik Kebidanan Berbasis Bukti tahun
pelajaran 2015/2016.
Tak lupa ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Ibu Hardiningsih,
SST,M.Kes selaku Dosen pembimbingpraktikum Praktik Kebidanan Berbasis
Bukti, atas bimbingan, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada kami,
sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya dan sesuai yang kami harapkan. Dan kami ucapkan terimakasih pula
kepada rekan-rekan dan semua pihak yang terkait dalam penyusunan makalah ini.
Kami berharap makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa dan pembaca dalam
memperluas pengetahuannya mengenai budaya yang dilakukan masyarakat dan
bagaimana pengaruhnya pada masa nifas. Selain itu, kami juga menyadari bahwa
penyusunan makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, kami menghargai
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Surakarta, 5 Mei 2016


Penulis

DAFTAR ISI
Halamanjudul
Kata Pengantar........................................................................................................
Daftar Isi................................................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN.....................................................................................
A. Latar Belakang Masalah...........................................................................
B. Tujuan........................................................................................................
C. Manfaat......................................................................................................
BAB II. PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Pengertian..............................................................................................
Patogenesis Trombosis Vena Dalam......................................................
Faktor Resiko Trombosis Vena Dalam..................................................
Diagnosis Trombosis Vena Dalam........................................................
Pencegahan Trombosis Vena Dalam.....................................................
Resiko Tromboemboli Pada Pemakaian KB Hormonal........................

BAB III. PENUTUP............................................................................................


A. Kesimpulan..........................................................................................
B. Saran....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pertambahan penduduk yang terus meningkat di dunia terutama negaranegara berkembang seperti Indonesia menimbulkan pemikiran tersendiri bagi
pemerintah Indonesia. Laju pertambahan penduduk Indonesia sebesar 1,49% per
tahun, artinya di Indonesia setiap tahun jumlah penduduk bertambah 3-3,5 juta jiwa
dengan 50,39% nya adalah wanita (BKKBN, 2010).
Pemerintah Indonesia mencanangkan program Keluarga Berencana (KB)
untuk mencegah terjadinya ledakan penduduk. Salah satunya adalah kontrasepsi.
Angka penggunaan alat kontrasepsi di Amerika Serikat mencapai 30% dan
selanjutnya diikuti oleh negara berkembang seperti Indonesia pada tahun 1957,
hingga tahun 2012 data yang didapatkan adalah 56,71% penduduk yang
menjalankan program KB (BKKBN, 2012).
Kontrasepsi

oral

yang

mengandung

20-50g

etinilestradiol

dan

levonorgestrel dapat menimbulkan efek tromboemboli. Tromboemboli terjadi


akibat perubahan faktor pembekuan, meningkatkan koagulasi dan memodifikasi
fungsi trombosit (Edmory, 2013). Hasil penelitian Risk of Arterial Thrombosis in
relation to Oral Contraceptive (RATIO) di Amerika dan Inggris yang menunjukkan
bahwa penggunaan kontrasepsi oral meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,
diantaranya adalah infark miokard, tromboemboli vena dan stroke (Kemmeren et
al., 2007.
Penelitian Sirithoet al.(2009), yang membuktikan hasil berlawanan, bahwa
tidak ada hubungan yang signifikan antara penggunaan kontrasepsi oral dengan
stroke iskemik maupun stroke hemoragik. Di Indonesia data nasional stroke
menunjukkan angka kematian tertinggi sebesar 15,4% dan di Jawa Tengah, kasus
stroke tertinggi berada di kota Semarang yaitu sebanyak 3.986 kasus (17,91%)
(Dinkespemprovjateng, 2008) dan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan
Januari Maret 2013 sudah 72 pasien terdiagnosa stroke iskemik, sedangkan angka
kematian akibat tromboemboli pada penggunaan kontrasepsi oral adalah 3/100.000
(Bottiger LE., 2010).
1

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui adakah pengaruh KB hormonal terhadap resiko
teromboemboli
2. Mencegah resiko tromboemboli terhadaap pengguna KB hormonal
C. Manfaat
1. Mengetahui pengaruh KB hormonal terhadap resiko teromboemboli
2. Menurunkan resiko tromboemboli terhadap pengguna KB hormonal

BAB II
PEMBAHASAN
2

A. Pengertian
Kontrasepsi hormonal adalah alat atau obat kontrasepsi yang bertujuan untuk
mencegah terjadinya kehamilan dimana bahan bakunya mengandung preparat estrogen
dan progesteron, hormon-hormon ini bekerja sebagai penghambat pengeluaran folicel
stimulating hormon dan luteinizing hormon sehingga proses konsepsi terhambat.
Jenis-jenis kontrasepsi hormonal yaitu :
1. Kontrasepsi oral atau pil
Pil kontrasepsi berisi kombinasi hormon sintetis progesteron dan estrogen
biasa disebut pil kombinasi, atau hanya berisi hormon sintetis progesteron
saja yang sering disebut dengan minipil. Pil yang diminum setiap hari ini
berguna untuk mempengaruhi keseimbangan hormon sehingga dapat
menekan ovulasi,mencegah implantasi, dan mengentalkan lendir serviks
(Uliyah,2010; Handayani,2010).
2. Kontrasepsi suntik atau injeksi
Kontrasepsi suntik adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya
kehamilan dengan melalui suntikan hormonal. Terdapat dua macam yaitu
suntikan kombinasi yang mengandung hormonsintetis estrogen dan
progesteron, kemudian suntikan progestin yang berisi hormon progesteron.
Mekanisme kerjanya menekan ovulasi, mengentalkan mukus serviks dan
mengganggu pertumbuhan endometrium sehingga menyulitkan implantasi
(Uliyah,2010; Handayani,2010).
3. Implant
Implant adalah alat kontrasepsi yang berupa susuk yang terbuatdari sejenis
karet silastik yang berisi hormon, dipasang pada lenganatas. Implant berupa
tabung-tabung yang lunak dan berisihormon progestin dan setelah
diinsersikan implan akan melepaskan .

Trombosis adalah pembekuan massa bekuan darah system kardiovaskuler yang


tidak terkendali (Mitayani, 2011). Trombus adalah kumpulan factor darah terutama
trombosit dan fibrin dengan terperangkapanya unsure seluler yang sering menyebabkan
obstruksi vaskuler pada akhir pembetukannya. Emboli adalah oklusi beberapa bagian
system kardiovaskuer oleh suatu masa (embolus) yang tersangkut dalam perjalanannya
3

kesuatu tempat melalui arus darah. Trombo embolisme adalah gabungan thrombosis dan
embolisme.Trombosis Vena Dalam (DVT) merupakan penggumpalan darah yang terjadi
di pembuluh balik (vena) sebelah dalam.Terhambatnya aliran pembuluh balik
merupakan penyebab yang sering mengawali TVD. Penyebabnya dapat berupa penyakit
pada jantung, infeksi, atau imobilisasi lama dari anggota gerak.
B. Patogenesis TVD
Dalam keadaan normal, darah yang bersirkulasi berada dalam keadaan cair, tetapi
akan membentuk bekuan jika teraktivasi atau terpapar dengan suatu permukaan.
Trombosis terjadi jika keseimbangan antara factor trombogenik dan mekanisme
protektif terganggu. Faktor trombogenik meliputi:
1. Gangguan selendotel
2. Terpaparnya subendotel akibat hilangnya selendotel
3. Aktivasi trombosit atau interaksinya dengan kolagen subendotel atau factor von
Willebrand
4. Aktivasi koagulasi
5. Terganggunya fibrinolisis
6. Statis
C. Faktor Resiko TVD
1. Duduk dalam waktu yang terlalu lama
2. Memiliki riwayat gangguan penggumpalan darah
3. Cedera atau pembedahan
Cedera terhadap pembuluh darah vena atau pembedahan dapat memperlambat
aliran

darah

dan

meningkatkan

resiko

terbentuknya

gumpalan

darah.

Penggunaanan estesia selama pembedahan mengakibatkan pembuluh vena


mengalami dilatasi sehingga meningkatkan resiko terkumpulnya darah dan
terbentuk trombus.
4. Kehamilan
Kehamilan menyebabkan peningkatan tekanan di dalam pembuluh vena daerah
kaki dan pelvis. Wanita-wanita yang memiliki riwayat keturunan gangguan
penjendalan darah memiliki resiko terbentuknya thrombus.
5. Pil KB dan terapi pengganti hormone
6. Pacemaker dan kateter di dalam vena
7. Memiliki riwayat TVD atau emboli pulmonal
D. Diagnosis
Anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan hal yang sangat penting dalam
pendekatan pasien dengan dugaan trombosis. Keluhan utama pasien dengan TVD
4

adalah kaki yang bengkak dan nyeri. Riwayat penyakit sebelumnya merupakan hal
penting karena dapat diketahui factor resiko dan riwayat thrombosis sebelumnya.
Adanya riwayat thrombosis dalam keluarga juga merupakan hal penting.
Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda klinis yang klasik tidak selalu ditemukan.
Gambaran klasik TVD adalah edema tungkai unilateral, eritema, hangat, nyeri, dapat
diraba pembuluh darah superfisial dan tanda Homan yang positif (sakit di calf atau di
belakang lutut saat dalam posisi dorsoflexi). Pada pemeriksaan laboratorium hemostasis
didapatkan peningkatan D-Dimer dan penurunan antitrombin. Peningkatan D-Dimer
merupakan indikator adanya trombosis yang aktif. Pemeriksaan ini sensitif tetapi tidak
spesifik dan sebenarnya lebih berperan untuk meningkirkan adanya thrombosis jika
hasilnya negatif. Pemeriskaan ini memiliki sensitivitas 93%, spesivitas 77% dan nilai
prediksi negative 98% pada TVD proksimal, sedangkan pada TVD daerah betis
sensitifitasnya 70%.
Pemeriksaan radiologis

merupakan

pemeriksaan

yang

penting

untuk

mendiagnosis trombosis. Pada TVD, pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah


venografi/flebografi, ultrasonografi (USG) Doppler (duplex scanning), USG kompresi,
Venous Impedance Plethysmography (IPG) dan MRI. Ketepatan pemeriksaan
ultrasonografi Doppler pada pasien dengan TVD proksimal yang simptomatik adalah
94% dibandingkan dengan venografi, sedangkan pada pasien dengan TVD pada betis
dan asimptomatik, ketepatannya rendah. Ultrasonografi kompresi mempunyai
sensitivitas 89% dan spesivitas 97% pada TVD di daerah betis,hasil negative palsu
dapat mencapai 50%. Pemeriksaan duplex scanning mempunyai sensitivitas dan
spesifitas yang tinggi untuk mendiagnosis TVD proksimal. Venografi atau flebografi
merupakan pemeriksaan standar untuk mendiagnosis TVD, baik pada betis, paha,
maupun system ileofemoral. Kerugiannya adalah pemasangan kateter vena dan resiko
alergi terhadap bahan radio kontras atau yodium.
MRI umumnya digunakan untuk mendiagnosis TVD pada perempuan hamil atau
TVD di daerah pelvis, iliaka dan vena kava di mana duplex scanning pada ekstremitas
bawah menunjukkan hasil negatif. Akan tetapi tujuan utama dari pemeriksaan
penunjang adalah untuk menegakkan diagnosis TVD secara cepat dan aman, oleh
karena itu kombinasi dari hasil pemeriksaan fisik dan pengukuran kadar D-Dimer
merupakan pilihan pertama dalam diagnosis. Pengukuran dengan menggunakan
trombosit juga dapat dilakukan. Cara ini merupakan cara yang paling cepat dan praktis,
5

hanya saja kurang akurat disebabkan bias yang ditimbulkan oleh mesin penganalisa
trombosit. Bias yang didapat berkisar antara 10.000 80.000/cc.
E. Pencegahan
Mengingat sebagian besar tromboemboli vena bersifat asimptomatik atau tidak
disertai gejala klinis yang khas, biaya yang tinggi jika terjadi komplikasi dan resiko
kematian akibat emboli paru yang fatal, pencegahan trombosis atau tromboprofilaksis
harus dipertimbangkan pada kasus-kasus yang mempunyai resiko terjadinya
tromboemboli vena. Resiko tromboemboli pada pasien yang menjalani operasi tanpa
tromboprofilaksis
F. Resiko Tromboemboli Pada Pemakaian KB Hormonal
Penelitian telah menunjukan peningkatan resiko trombosis vena terhadap
penggunaan kontrasepsi oral kombinasi. Studi ini umumnya ditemukan tingginya resiko
pada tahu pertama penggunaan kontrasepsi oral dan dengan mengandung desogestrel
atau Gestodene daripada lovonorgestrel.
Dengan penggabungan pil yang mengandung50 mg etinilestradiol (estrogen)
untuk pil dosis rendah yan mengandung 0-40 mg, diharapkan akan ada penurunan risiko
trombosis vena. Peneliti menilai risiko tromboemboli vena pada penggunaan dari
berbagai jenis kontrasepsi hormonal dengan fokus pada durasi penggunaan, rejimen
(kontrasepsi oral kombinasi dibandingkan hanya pil progesteron) dan efek dari estrogen
dosis, jenis progesteron dan rute pemberian.
Penelitian ini dirancang sebagai studi kohort, yang berhubungan antara empat
pendaftar nasional Denmark untuk resep, pendidikan, dan kesehatan. The National
Registryof Medical Products Statistics telah mencatat semua resep yang ditebus warga
Denmark sejak tahun 1994 sesuai dengan kode spesifik Anatomical Therapeutic
Chemistry (ATC) dan jumlah obat yang diresepkan dan dengan dosis harian yang telah
ditetapkan. Sejak tahun1977, The Registry National of Patients telah mengumpulkan
diagnosa dan kode dari semua rumah sakit Denmark. Registri ini juga mencakup
kelahiran dan aborsi. Diagnosa diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi internasional
penyakit (sebelum 1994)menggunakan revisi kedelapan dan revisi kesepuluh. Nomor
identifikasi pribadi adalah sebuah identifikasi pribadi yang unik tercatat di semua
pendaftar umum, sehinggamemungkinkan hubungan antara pendaftar tersebut.
6

1. Studi populasi
Wanita di Denmark berusia 15-49 sejak 1 Januari 1995 sampai 31 Desember
2005 diidentifikasi oleh Central Person registry. Dalam National Registry of
Patients peneliti mengidentifikasi perempuan (n = 14 749) dengan penyakit
keganasan dan yang (n = 20 128) dengan peristiwa kardiovaskular sebelum masa
penelitian (1977-1994). Sebanyak 34.877 perempuan dikeluarkan karena
peningkatan risiko mereka untuk trombosis vena, penurunan probabilitas menjadi
pengguna kontrasepsi oral kombinasi dan karena peneliti bertujuan untuk menilai
risiko ada tidaknya trombotik untuk pertama kalinya. Kasus baru kanker atau
penyakit kardiovaskular selama masa studi disensor pada tanggal diagnosis.
Wanita yang beremigrasi disensor pada saat mereka meninggalkan negara.
Dari data aborsi dan kelahiran, peneliti mengidentifikasi wanita yang hamil
selama masa studi, dengan mengidentifikasi mereka yang mengalami keguguran,
aborsi atau ektopik kehamilan. Algoritma untuk panjang kehamilan dalam setiap
kasus yang dihasilkan dari catatan usia kehamilan dan wanita-wanita ini
dikeluarkan dari penelitian selama kehamilan dan 12 minggu setelah melahirkan
atau empat minggu setelah aborsi atau kehamilan ektopik. Jadi 805.464
perempuan dikeluarkan dari populasi penelitian. Oleh karena itu, populasi
penelitian terdiri dari semua wanita yang tidak hamil dan sebelumnya tidak
mempunyai riwayat penyakit kanker atau penyakit kardiovaskular.

2. Titik akhir
Titik akhir peneliti yang pertama kali trombosis vena, Portal trombosis,
trombosis vena kava, trombosis vena ginjal, thrombosis vena tidak spesifik, dan
emboli paru selama masa studi. Sebelumnya telah divalidasi diagnosa
tromboemboli vena di National Registry ofPatients (1994-8) dan menemukan
sekitar 10% tidak meyakinkan. Sekitar 97% telah diperiksa oleh Venography atau
ultrasonografi dan 94% telah menerima antikoagulan terapi. Dari semua, 3% yang
tidak diteliti oleh Venography atau ultrasonografi dan 2% menerima terapi
antikoagulan. Diagnosa tersebut tidak meyakinkan pada kurang dari 1% peserta
penelitian.
3. Hasil
7

Analisis ini melibatkan 3,4 juta wanita dalam penggunaan tahun ini, 2,3 juta
wanita mantan penggunaa, 4,8 juta wanita tidak pernah menggunakan, atau total
10,4 juta wanita. Sebanyak 4.213 pertama kali kejadian trombotik vena dicatat
selama masa studi dan dari 2.045 perempuan termasuk di antara pengguna
kontrasepsi hormonal saat ini. Kejadian trombotik vena termasuk deep vein
thrombosis kaki (61,8%), emboli paru (26,2%), trombosis vena femoralis (4,7%),
Portal trombosis (1,2%), trombosis vena kava atau ginjal (0,8%), dan deep vein
thrombosis yang tidak spesifik (5,4%). Obat terhadap diabetes, penyakit jantung,
hipertensi, dan hiperlipidemia mempengaruhi perkiraan risiko kontrasepsi oral
dengan kurang dari 5%.
4. Kombinasi kontrasepsi oral
Risiko diantara wanita yang menggunakan kontrasepsi oral kombinasi
menurun dengan durasi penggunaan, dari tingkat rasio disesuaikan dari 4,17 (95%
confidence interval 3,73-4,66) selama tahun pertama penggunaan menjadi 2,76
(2,53-3,02) setelah lebih dari empat tahun penggunaan. Risiko pengguna
kontrasepsi kombinasi oral saat ini juga dipengaruhi oleh dosis estrogen dan
progestogen.
Untuk jenis progestogen yang diberikan dan setelah penyesuaian untuk
lamanya penggunaan, risiko tromboemboli vena menurun dengan penurunan dosis
estrogen. Penurunan estrogen dosis dari 50 mg 30-40 mg dalam kontrasepsi oral
yang mengandung levonorgestrel mengurangi risiko sebesar 17% (NS), dan
kontrasepsi oral yang mengandung norethisterone sebesar 32% (NS). Selanjutnya,
penurunan dosis estrogen 30-40 mg sampai 20 mg untuk kontrasepsi oral yang
mengandung desogestrel atau Gestodene mengurangi risiko tromboemboli vena
sebesar 18% (7% menjadi 27%). Dibandingkan dengan pengguna kontrasepsi oral
yang mengandung levonorgestrel, dengan menggunakan dosis yang sama dari
estrogen dan setelah penyesuaian untuk durasi penggunaan, rasio tingkat
tromboemboli vena pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral yang
mengandung norethisterone adalah 0,98 (0,71-1,37), norgestimate 1,19 (0,96
untuk 1,47), desogestrel 1,82 (1,49-2,22), Gestodene 1,86 (1,59-2,18),
drospirenone 1,64 (1,27-2,10), dan siproteron 1,88 (1,47-2,42).
Pil progestogen yang mengandung levonorgestrel 30 mg atau 350 mg
norethisterone, serta desogestrel 75 mg tidak meningkatan risiko tromboemboli
vena bila dibandingkan dengan yang tidak menggunakan kontrasepsi oral dan
8

wanita yang menggunakan alat intrauterin memiliki tingkat rasio yang disesuaikan
untuk tromboemboli vena 0,89 (0,64-1,26).
5. Pembahasan
Risiko tromboemboli vena pada pengguna kontrasepsi oral kombinasi
menurun dengan durasi penggunaan dan penurunan dosis estrogen. Untuk dosis
yang sama dengan estrogen dan panjang yang sama digunakan, kontrasepsi oral
yang mengandung desogestrel, Gestodene, atau drospirenone dikaitkan dengan
risiko lebih tinggi tromboemboli vena dibandingkan kontrasepsi oral yang
mengandung levonorgestrel.
Pil progestogen dan alat intrauterin tidak selalu meningkatan risiko
tromboemboli vena. Perkiraan keseluruhan risiko tromboemboli vena pada
pengguna kontrasepsi oral tergantung pada beberapa faktor. Pengecualian pada
wanita yang sebelumnya dengan trombosis dan kanker akan meningkatkan
estimasi risiko secara keseluruhan.
6. Implikasi klinis
Pada wanita yang belum diketahui predisposisi genetiknya, sebaiknya
menggunakan pil kombinasi dosis rendah sebagai pilihan utama untuk
kontrasepsi. Bagi wanita yang mempunyai faktor predisposisi genetik trombosis
vena tapi masih ingin menggunakan kontrasepsi hormonal, pil tunggal
progesteron atau alat intrauterin sebagai pilihan pertama yang memungkinkan.
Bagi wanita dengan BMI yang tinggi, pil kombinasi dosis rendah dengan
levonogestrel bisa menjadi pilihan utama.
Dalam jurnal Venous Thromboembolism (VTE) and Hormonal Contraception
November 2014 Royal College Of Obstetricians & Gynecologists Faculty Of Sexual &
Reproductive Healthcare. Rasio odds untuk pil progestogen (POP) pengguna adalah 1,74
(95% CI 0,76-3,99) dan untuk progestogen pengguna suntik 2.19 (95% CI 0,66-7,26) 0,47.
Baru-baru ini sebuah studi kasus-kontrol melaporkan 3,6 (95% CI, 1.8- 7,1 kali lipat)
peningkatan risiko trombosis vena terkait dengan penggunaan injeksi dibandingkan dengan
bukan pengguna kontrasepsi hormonal. Sebuah meta-analisis dari delapan studi
observasional, yang dirancang untuk menyelidiki risiko VTE terkait dengan metode
progestogen, mencatat bahwa dari sejumlah kecil data yang tersedia risiko relatif acara
VTE bagi pengguna dari suntik progestogen meningkat dibandingkan dengan nonpengguna (2,67 (95% CI, 1,29-5,53). Selain itu tidak ada peningkatan risiko yang
9

signifikan secara statistik telah diamati untuk sistem intrauterin levonorgestrel atau implan
progestogen.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Trombo embolisme adalah gabungan thrombosis dan embolisme.Trombosis Vena
Dalam (DVT) merupakan penggumpalan darah yang terjadi di pembuluh balik (vena)
sebelah dalam.Terhambatnya aliran pembuluh balik merupakan penyebab yang
seringmengawali TVD.
Penelitian telah menunjukan peningkatan resiko trombosis vena terhadap
penggunaan kontrasepsi oral kombinasi. Studi ini umumnya ditemukan tingginya resiko
pada tahu pertama penggunaan kontrasepsi oral dan dengan mengandung desogestrel atau
Gestodene daripada lovonorgestrel. Sebanyak 4.213 pertama kali kejadian trombotik vena
dicatat selama masa studi dan dari 2.045 perempuan termasuk di antara pengguna
kontrasepsi hormonal saat ini. Kejadian trombotik vena termasuk deep vein thrombosis
kaki (61,8%), emboli paru (26,2%), trombosis vena femoralis (4,7%), Portal trombosis
(1,2%), trombosis vena kava atau ginjal (0,8%), dan deep vein thrombosis yang tidak
spesifik (5,4%).
10

Untuk jenis progestogen yang diberikan dan setelah penyesuaian untuk lamanya
penggunaan, risiko tromboemboli vena menurun dengan penurunan dosis estrogen. Risiko
tromboemboli vena pada pengguna kontrasepsi oral kombinasi menurun dengan durasi
penggunaan dan penurunan dosis estrogen. Untuk dosis yang sama dengan estrogen dan
panjang yang sama digunakan, kontrasepsi oral yang mengandung desogestrel, Gestodene,
atau drospirenone dikaitkan dengan risiko lebih tinggi tromboemboli vena dibandingkan
kontrasepsi oral yang mengandung levonorgestrel.
Pil progestogen dan alat intrauterin tidak selalu meningkatan risiko tromboemboli
vena. Perkiraan keseluruhan risiko tromboemboli vena pada pengguna kontrasepsi oral
tergantung pada beberapa faktor. Pengecualian pada wanita yang sebelumnya dengan
trombosis dan kanker akan meningkatkan estimasi risiko secara keseluruhan.
Dalam jurnal Venous Thromboembolism (VTE) and Hormonal Contraception
November 2014 Royal College Of Obstetricians & Gynecologists Faculty Of Sexual &
Reproductive Healthcare. Rasio odds untuk pil progestogen (POP) pengguna lebih rendah
dibandingkan

progestogen pengguna suntik serta tidak ada peningkatan risiko yang

signifikan secara statistik telah diamati untuk sistem intrauterin levonorgestrel atau implan
progestogen.
B. Saran
Makalah yang kami susun semoga bisa membantu kita lebih memahami tentang
resiko tromboemboli pada pemakaian KB hormonal yang lebih mendalam. Mohon
permakluman dari semuanya jika dalam makalah kami ini masih terdapat banyak
kekeliruan baik bahasa maupun pemahaman. Karena tiadalah sesuatu yang sempurna yang
bisa manusia ciptakan.

11

DAFTAR PUSTAKA
http://www.indonesianjournalofcancer.or.id/e-journal/index.php/ijoc/article/view/289/156
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21641/4/Chapter%20I.pdf
http://eprints.undip.ac.id/44828/3/MEGA_REKTA_EKA_PUTRI_22010110110114_BAB
_2_KTI.pdf
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/7825/SKRIPSI%20RESTY
%20AMALIA%20(J%20111%2010%20266).pdf?sequence=1
http://library.upnvj.ac.id/pdf/5FKS1KEDOKTERAN/0810211041/Bab.2.pdf.pdf
http://dokumen.tips/documens/kontrasepsi-hormonal-dan-resiko-tromboemboli-venajurnal.html
http://www.landasanteori.com/2015/10/pengertian-kontrasepsi-hormonal-suntik.html
Royal College Of Obstetricians & Gynecologists Faculty Of Sexual & Reproductive
Healthcare. Venous Thromboembolism (VTE) and Hormonal Contraception. 2014.
http://www.fsrh.org/pdfs/FSRHStatementVTEandHormonalContraception.pdf (diakses 7
mei 2016 pukul 16.26)

12

13