Anda di halaman 1dari 10

Media Fill, Langkah Krusial dalam Usaha Membangun

Kualitas Produk Steril

1.
2.
3.
4.
5.

1.
1.

1.

Jaminan kualitas suatu produk merupakan komposisi berbagai faktor,


termasuk pemilihan komponen dan material yang berkualitas, desain produk
dan proses yang baik, serta kontrol selama keseluruhan proses dan hasil uji
produk akhir. Validasi merupakan proses pembuktian dengan cara yang
sesuai bahwa setiap bahan, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan
atau mekanisme yang digunakan dalam proses produksi dan pengawasan
dapat mencapai target yang ditetapkan. Proses validasi memberikan jaminan
bahwa produk akhir secara konsisten memenuhi spesifikasi dan persyaratan
kualitas yang telah ditetapkan sebelumnya. Media fill merupakan validasi
yang perlu dilakukan untuk memberikan jaminan sterilitas produk steril.
A. Produksi Steril
Metode first line untuk produksi sediaan steril adalah metode sterilisasi akhir,
bila tidak memungkinkan dilakukan metode ini, baru dilakukan metode
aseptik. Hal ini disebabkan resiko kontaminasi metode aseptik lebih besar
daripada metode sterilisasi akhir, tahap filling dalam metode aseptik
merupakan proses perlindungan pasif dari kontaminasi, sedangkan sterilisasi
akhir merupakan proses aktif yang mengeradikasi mikroorganisme pada
produk akhir.
Jenis bentuk sediaan steril dapat bermacam-macam, antara lain:
Sediaan Parenteral
Sediaan Tetes Mata, Cuci Mata
Cairan Irigasi
Salep mata, salep luka bakar
Serbuk Steril
Sediaan steril juga dapat dikelompokkan berdasarkan cara penyuntikannya,
antara lain:
1. Sub Kutan
:- disuntikkan bawah kulit
Volume maks = 1 ml
2. Intra Muskuler
: disuntikkan ke otot
Volume 2 ml 5 ml
3. Intra Vena : disuntikkan ke vena
Volume 1 ml 3 ml / hari
4. Intra kutan
: disuntikkan kedalam kulit
Volume : 0,1 ml 0,5 ml
5. Intra tekal : disuntikkan ke sumsum tulang belakang
Volume 1 ml 2 ml

1.

6. Intra artikuler
: disuntikkan ke sendi
Volume 1 ml 2 ml
1.
7. Intra kardial
: disuntikkan ke rongga jantung
Volume besar ( mis. Infus glukosa)
Sediaan steril sangat beresiko membahayakan bila tidak diproduksi dengan
benar. Persyaratan utama untuk sediaan steril adalah bebas mikroorganisme,
bebas endotoksin dan pirogen serta bebas partikel.
Menurut USP, produk steril dibagi menjadi beberapa golongan menurut resiko
pembuatannya, dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Penggolongan Produk Steril berdasarkan Level Resiko
Pembuatannya
Level

Kategori
untuk penggunaan darurat, atau pada keadaan di
mana low risk compounding beresiko bila ditunda
tidak ada penyimpanan, atau peracikan
dalam batch (jumlah besar)
proses compounding kurang dari 1 jam
menggunakan teknik aseptic
digunakan oleh pasien maksimal 1 jam setelah
diracik

Immediate use

transfer dilakukan secara sederhana dari bahan steril


atau radiofarmasetik untuk diagnostik
peracikan pada sistem tertutup
disiapkan pada ruangan sesuai ISO kelas 5
terdapat ruang antara sesuai ISO kelas 7 dan ruang
sebelumnya sesuai ISO kelas 8

Low risk

contoh: single dose vial atau small volume parenteral lain


peracikan pada system tertutup

Low
risk dengan b
eyond use
date <12 jam

disiapkan pada ruangan sesuai ISO kelas 5


digunakan oleh pasien kurang dari 12 jam setelah
diracik

sediaan yang diracik dengan beberapa bahan


tambahan
preparasi batch
proses pembuatan kompleks (contoh:TPN)
digunakan setelah beberapa hari
disiapkan pada ruangan sesuai ISO kelas 5
terdapat ruang antara sesuai ISO kelas 7 dan ruang
sebelumnya sesuai ISO kelas 8
Medium risk

contoh: TPN
bahan dasar tidak steril
transfer pada system terbuka
disiapkan pada ruangan sesuai ISO kelas 5

High risk

terdapat ruang antara sesuai ISO kelas 7, dan ruang


sebelumnya sesuai ISO kelas 8

B. Produksi pada Sistem Aseptis


Produksi aseptis adalah salah satu operasi dalam industri farmasi yang diatur
dengan sangat ketat. Proses inti yang sangat kritis terhadap kontaminasi
mikroorganisme adalah aseptic filling di mana sediaan, kontainer dan
penutupnya disatukan setelah beberapa tahap pencucian dan sterilisasi.
C. Faktor-Faktor yang Membangun Kualitas Produk
Kesuksesan atau kegagalan pada produksi aseptis tidak dapat hanya
dievaluasi dari hasil uji produk akhir, namun merupakan fungsi kritis dari
keadaan fasilitas produksi, peralatan dan monitoring. Oleh karena itu, prinsip
utama dalam proses produksi aseptis adalah melakukan operasi sesempurna
mungkin, sehingga setiap tahapan meminimalisir resiko kontaminasi. Jaminan
kualitas pada produksi steril dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat
dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk Steril


1. Personel
Personel (operator) merupakan salah satu sumber kontaminan terbesar pada
produksi aseptis. Sel skuamosa di tubuh manusia bahkan mengekupas dari
tubuh dengan kecepatan 106/ jam. Personel pada produksi aseptis harus
sangat memperhatikan prosedur cleaning dan gowning. Pakaian yang dikenakan
tidak boleh melepaskan partikel, tidak boleh memakai kosmetik dan
perhiasan, memperhatikan higienitas tangan, mengenakan masker, hair
cover dan shoes coversdan memakai sarung tangan steril yang tidak melepaskan
partikel/ serbuk.

Gambar 2. Kontaminasi Serbuk dari Sarung Tangan

Gambar 3. Kontaminasi Partikel


2. Fasilitas
Bangunan yang digunakan untuk produksi sediaan steril harus memenuhi
persyaratan ISO (tabel 2), atau persyaratan CPOB (tabel 3, persyaratan
partikel dan tabel 4, persyaratan mikroorganisme)
Tabel 2. Persyaratan Kelas Partikel pada Produksi Steril menurut ISO
Clean Air
Classification

ISO Designation

0.5 m
particles/m3

100

3,520

1,000

35,200

10,000

352,000

100,000

3,520,000

Tabel 3. Persyaratan Kelas Partikel pada Produksi Steril menurut


PICS
partikulat

at rest

operational

0.5 m

5 m

0.5 m

5 m

3520

20

3520

20

3520

29

352000

2900

352000

2900

3520000

29000

29000

Tidak
didefinisika
n

Tidak
didefinisika
n

3520000

Tabel 4. Persyaratan Mikrooranisme pada Produksi Steril menurut


PICS
cawan
kontak
(diam. 55
mm),
cfu/plate

Glove print 5

Level

Air
sample
cfu/m3

settling
plates
(diam. 90
mm) cfu/4
jam

<1

<1

<1

<1

10

100

50

25

200

100

50

jari
cfu/glove

3. Proses aseptik
Proses aseptik harus dapat memberikan produk bebas kontaminan
4. Alur proses
Alur dari proses mencakup beberapa hal, misalnya flow personil, flow material
dan lay out dari bangunan.
5. HVAC (Heat Ventilating and Air Conditioner)

Sistem HVAC merupakan pensupply udara pada fasilitas produksi. Udara


merupakan fasilitas penunjang yang dapat menjadi salah satu sumber
terbesar kontaminan, baik mikroorganisme maupun partikel. System HVAC
harus telah terkualifikasi sebelum dilakukannya media fill.
6. Repon terhadap deviasi dan Monitoring ruangan
Monitoring ruangan dilakukan secara rutin. Parameter yang diuji dalam
monitoring ruangan antara lain tekanan, jumlah partikel, jumlah mikroba,
monitoring pembersihan ruangan.
7. Prosedur desinfeksi dan pembersihan
Prosedur desinfeksi dan pembersihan pun perlu divalidasi terlebih dahulu.
validasi pembersihan dilakukan dengan metode swab atau metode final rinsing.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam validasi pembersihan,
antara lain sifat material, tingkat kemudahan dibersihkan, dan jenis peralatan
produksi.
8. QA/QC sebagai bagian integral sebagai pelaku penjaminan kualitas produk.
9. Media Fill
Media Fill merupakan suatu validasi proses aseptis untuk menghasilkan
prosuk steril secara konsisten. Validasi dari proses aseptik telah menjadi
subyek atau topik utama pada industri parenteral selama 15 tahun ini.
Validasi merupakan suatu program terdokumentasi yang menjamin bahwa
suatu prosees yang spesifik akan secara konsisten menghasilkan produk
yang memenuhi spesifikasi dan kualitas yang ditetapkan. Sementara itu
teknik aseptik merupakan suatu rangkaian prosedur dan praktek yang
spesifik yang dilakukan di bawah kondisi terkontrol untuk mencapai
tujuannya yaitu meminimalisir kontaminasi dari patogen atau kontaminan
lainnya.
D. Media Fill, Validasi Sistem Aseptis
Quality harus dibangun pada setiap tahapan proses produksi, bila keseluruhan
proses tervalidasi, maka akan dihasilkan produk berkualitas. Sterilitas
merupakan salah satu parameter kualitas penting dalam sediaan steril Untuk
mencapai jaminan sterilitas setiap mekanisme kritis dan proses perlindungan
total harus tervalidasi untuk menjamin bahwa semua komponen dan proses
telah berjalan sesuai tujuan. Bagian dari sistem aseptis yang harus divalidasi
adalah instrumentasi, fasilitas, pakaian yang dipakai di ruangan aseptic filling,
proses desinfeksi dan pembersihan, cairan dan lubrikan, dan percobaan media
fill.
Media fill merupakan metode pengukuran kontaminasi yang potensial terjadi
dalam keseluruhan proses produksi sediaan steril secara aseptis. Guideline FDA
menyarankan tes media fill untuk mengevaluasi overall sterility dari lineproduksi

aseptis dan hasil tes ini merupakan syarat kritis untuk jaminan kualitas
terhadap produk. Tes media fill juga dapat memberikan jaminan dan validasi
terhadap teknik aseptik seluruh personil peracikan. Tes media fill berupa
simulasi proses untuk membuktikan bahwa produk memiliki kualitas serta
sterilitas yang konsisten, dalam tes ini, semua peralatan, bahan kemas,
prosedur dan personil yang terlibat dan digunakan dalam proses rutin
disimulasikan dengan akurat, benar-benar seperti proses produksi normal.
Simulasi ini dilakukan dengan mengganti obat dengan suatu placebo, yang
berupa media pertumbuhan bakteri (Gambar 4). Langkah uji media fill dapat
secara umum dapat dilihat pada gambar 5.

Gambar 4. Media Fill


Pelaksanaan media fill sendiri memiliki beberapa prasyarat, studi kualifikasi
dan validasi yang harus dipenuhi untuk kesinambungan proses yang baik
karena tanpa studi kualifikasi dan validasi tersebut, proses investigasi pada
penyebab kegagalan akan menjadi sulit dan membutuhkan evaluasi pada
aspek yang lebih luas.
Beberapa prasyarat tersebut meliputi:
a. Sterilisasi
Meliputi sterilisasi semua komponen, peralatan proses dan filling, ruangan,
dan lain-lain yang diperlukan pada aseptic processing area (APA). Metode sterile-inplace (SIP) merupakan metode yang banyak diaplikasikan untuk peralatan di
APA.
b. Sanitasi
Ada 2 konteks yang berbeda. Pertama, sanitasi dari dinding, lantai, peralatan,
dan barang lainnya yang terdapat pada APA baik untuk periode lama atau
saat itu saja, Sanitasi ini dapat dilakukan dengan fogging menggunakan
formaldehida atau vapor-phase hydrogen peroksida. Selain itu dapat
dilakukan dengan menyeka atau menggosok permukaan internal dari APA
dengan sanitizing agent yang cocok (misalnya fenol, aldehida, peroksida, dan
lain-lain). Kedua, sanitasi dari barang yang penting untuk operasi APA, baik
sebelum dimasukkan atau dipindahkan dari APA sesudah digunakan dengan
sanitasi bagian eksteriornya.
c. Partikel
Banyak sumber dari kontaminasi partikel (serbuk kering steril, motor elektrik,
dan lain-lain) akan tetapi yang paling utama adalah personil. Desain dari
HVAC dan evaluasi ruangan harus diperhatikan untuk meminimalisasikan
kontaminasi partikel tersebut.
d. Pelatihan
Tiap individu harus dilatih tidak hanya pada tugas spesifik mereka saja tetapi
juga masalah kontaminan, sterilitas, atau personel hygiene. Pakaian khusus untuk
personil (gowning) merupakan hal pertama yang perlu ditrainingkan.
e. Pemilihan media dan anaerob.
Pada umumnya media yang digunakan adalah Soybean Casein Digest
Medium (SCDM) atau yang dikenal sebagai Trypticase Soy Broth (TSB), cocok untuk
media pertumbuhan dari berbagai organism. Untuk kontaminasi anaerob
digunakan media Fluid Thioglycolate Medium (FTM).
1.
Medium sterilisasi dan preparasi.
Medium yang digunakan ada 2 jenis yaitu filtrasi atau sterilisasi terminal.
Sterlisasi filtrasi akan menyaring medium melalui filter berukuran 0,2 m.
Sterilisasi terminal akan dilakukan pada medium di tempat dimana ia akan
disalurkan atau dikeluarkan. Preparasi medium pada kasus ini memerlukan
validasi dari proses sterilisasi tersendiri.

g. Promosi media pertumbuhan.


Unit pertumbuhan diinokulasikan pada konsentrasi rendah (kurang dari 100
organisme tiap container) menggunakan Bacillus subtilis dan Candida albicans. Studi
dari promosi media pertumbuhan ini dapat dilakukan sebelumnya, konkaren,
atau setelah selesai periode dari tes unit inkubasi.

Gambar 5. Langkah Uji Media Fill


Media yang telah difilling selanjutnya diinkubasikan pada temperature kamar
selama 7 hari dan 7 hari berikutnya pada suhu 30-35 o C atau 14 hari pada
suhu 25-35 o C. bila dalam penyimpanan ternyata tumbuh mikroorganisme
dalam media berarti keseluruhan proses belum dapat memberikan jaminan
sterilitas secara konsisten pada produk.
Evaluasi yang perlu dilakukan pada percobaan media fill tidak hanya pada
hasil inspeksi hasil akhir filling saja, sebab kualitas produk dibangun dari
keseluruhan proses, dan segala faktor yang dapat mempengaruhi kualitas
produk. Beberapa evaluasi yang dilakukan pada media fill antara lain:
1. Integritas Filter
Proses produksi sediaan steril secara aseptis pada umumnya menggunakan
proses filtrasi untuk mensterilkan bahan yang akan difilling. Filter yang
digunakan berukuran 0.2 m, yang merupakan ukuran yang cukup efektif
untuk menghilangkan mikroorganisme. Proses filtrasi memiliki perana yang
sangat penting untuk menjaga kualitas produk agar tetap steril. Oleh karena
itu diperlukan uji untuk memastikan filter yang digunakan masih memiliki
efisiensi yang cukup baik dalam menyaring mikroorganisme maupun partikel.
Uji integritas filter dilakukan dengan metode bubble point test. Uji ini dapat
menentukan pada tekanan berapakah bahan (media) dapat melewati filter.
Persyaratannya adalah tekanan> 3.2 mBar, apabila tekanan lebih kecil
daripada nilai tersebut, dapat diasumsikan pada tekanan rendah bahan dapat
didiring melewati filter, sehingga kemungkinan filter bocor, sehingga
efektivitasnya dalam menghilangkan ikroorganisme pun menjadi berkurang.
2. Ruang dan Perlengkapan
1.

Settling plate

Uji Settling plate dilakukan dengan menempatkan cawan petri berisi media agar
pertumbuhan bakteri pada tempat-tempat kritikal, lalu diinkubasi dan
dilakukan pengamatan terhadap media tersebut, apakah terjadi kontaminasi
atau tidak.
1.

Swab

Uji swab dilakukan dengan menggunakan swab kit, yang dibuat dengan
memasukkan batang apus ke dalam tabung reaksi bertutup yang berisi WFI

10 mL, lalu disterilisasi dengan menggunakan autoklaf. Swab test dilakukan


dengan menswab area kritikal pada ruang produksi.
1.

Air sampler
Air sampler merupakan suatu alat untuk pengujian mikroba dalam udara yang

terdapat dalam ruangan, prinsipnya yaitu dengan menyedot sejumlah


tertentu udara dalam ruangan, ke dalam alat yang sebelumnya telah
dipasangi media agar, sehingga apabila terdapat kontaminasi akan teramati
pada media agar. Alat air sampler dapat dilihat pada gambar 6.

1.

1.

1.
2.

Gambar 6. Air Sampler


3. Personel
Uji fingerprint
Telapak tangan manusia merupakan salah satu kontaminan terbesar bagi
produk, oleh karena itu sanitasi tangan harus sangat diperhatikan dalam
produksi steril. Salah satu uji terbaru yang diberlakukan oleh USP adalah
uji fingerprint. Uji fingerprint dilakukan dengan menyentuhkan jari tangan operator
pada media pertumbuhan bakteri. Diinkubasi dan selanjutnya dilakukan
pengamatan terhadap media tersebut, apakan terjadi kontaminasi atau tidak.
Uji fingerprintdilakukan terhadap tangan telanjang dan tangan ketika masih
menggunakan sarung tangan, sebelum dan sesudah proses filling.
Uji Swab pada pakaian operator
Uji swab menggunakan swab kit dilakukan dengan menswab area sebesar 25cm
bagian kritikal pada baju, masker dan bagian tubuh, misalnya dahi operator
yang beresiko besar menjadi sumber kontaminan bagi produk.
Pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan media antara lain selectivity,
clarity dan filterability.
Selectivity, berarti media yang digunakan merupakan media umum yang
dapat menjadi media pertumbuhan berbagai jenis mikroorganisme.
Clarity, media yang digunakan harus jernih, kejernihan media ini akan
mempermudah inspeksi hasil filling, sebab pengamatan adanya kontaminasi
dilakukan dengan mengamati terjadinya kekeruhan media.
3. Filterability, sebelum proses filling, media mengalami proses filtrasi, oleh
karena itu kemudahan untuk difiltrasi merupakan alah satu pertimbangan
penting dalam pemilihan media.
Media yang umum digunakan adalah TSB (Tryptic Soy Broth) untuk proses aerobik
dan FTG (Fluid Thio Glycolate) untuk proses anaerobik. Masalah yang mugkin
terjadi adalah fenomena positif palsu yaitu tumbuhnya mikroorganisme pada
media, yang sebenarnya berasal dari media sendiri dan proses filtrasi yang
dilakukan pada media sulit, sebab banyak media yang tertahan pada filter.
Namun perkembangan ilmu pengetahuan telah mampu menjawab

permasalahan ini yaitu dengan memformulasi media yang diproses melalui


iradiasi sinar , sehingga media benar-benar bebas kontaminan, termasuk
kontaminan Mycoplasma. Terobosan lain dalam perkembangan media fill adalah
media yang mudah dilarutkan dengan air tanpa pemanasan dan mudah
difiltrasi. Media yang digunakan dalam tes media fill harus mempunyai CoA dan
USPs growth Promotion Standard. Hasil tes media fill harus didokumentasikan sebagai
bagian integral dari program aseptic quality assurance. Dokumentasi tersebut
mencakup Standard Operating Procedure (SOPs), batch record, kondisi
lingkungan produksi lot number dari media, data hasil uji dan interpretasinya.
Volume yang diisikan pada uji media fill sebaiknya disesuaikan dengan
volume produk yang biasa diproduksi pada linetersebut, namun bila volume
sampel terlalu banyak maka volume yang diisikan boleh lebih kecil, dengan
syarat, pada saat penyimpana botol dibalik, sehingga media mengalami
kontak dengan seluruh permukaan dalam botol/vial. Jumlah sampel yang
difilling sebanyak menurut Japan Pharmacopeia, sebanyak 5000 botol, lalu
diinspeksi sebanyak 4750 botol, sedangkan menurut PICS sampel yang
difilling sebaiknya 5000-10000 botol. Namun apabila produksi yang biasa
dilakukan pada lini tersebut < 5000, maka jumlah sampel yang difilling
sebanyak batch produksi. Setelah uji media fillselesai dilaksanakan (hingga
proses inspeksi), maka media yang telah difilling ke dalam wadah harus
disterilisasi kembali, baru boleh dibuang untuk menghindari terjadinya
kontaminasi produk lain.
Uji Media Fill mempersyaratkan bahwa kontaminasi hanya boleh terjadi pada
0.1 % dari total sampel, sehingga bila memakai persyaratan Japan
Pharmacopeia, dari 4750 vial, hanya boleh terkontaminasi 1 vial, sedangkan
menurut PICS, dari 5000-10000 vial, hanya boleh terkontaminasi sebanyak 1
vial. Apabila sampel yang diisikan < 5000, sesuai batchproduksi, maka tidak
boleh terkontaminasi satupun. Lini produksi steril aseptis yag baru dapat
lolos uji media fillsebanyak 3 batch berturut-turut, sedangkan lini lama perlu
melakukan tes media fill secara rutin yaitu, sekali setahun untuk produk yang
beresiko rendah dan menengah, sedangkan untuk produk beresiko tinggi,
minimal dilakukan uji media fill dua kali dalam setahun. Apabila uji media fill
yang dilakukan gagal, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap metode
aseptis yang dilaksanakan di lini tersebut, proses sanitasi, konstruksi
bangunan, desain gowning yang kurang baik, sistem HVAC, efisiensi
HEPA filter atau adanya kegagalan mekanis.
Media Fill sebagai bagian integral dari proses validasi produksi aseptis juga
harus terdokumentasi dengan baik. Dokumentasi yang perlu dilakukan antara
lain, SOP (Standard Operating Procedure), batch records, monitoring ruangan, lot number dari
media, produk yang terkontaminasi, hasil monitoring personil dan HVAC. Uji media
fill benar-benar harus dilakukan dengan ketat, untuk menciptakan culture of
quality pada produk steril yang diproduksi secara aseptis.
image source: http://www.rapidmicrobiology.com/news/220h26p.JPG

Anda mungkin juga menyukai