Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH BAHASA INDONESIA

RAGAM BAHASA
DOSEN PENGAMPU: WILDA SRIHASTUTY HANDAYANI PILIANG, S.Pd., M.Pd

NAMA KELOMPOK
INDRI RAHAYU (150202042)
NURFAZIRA (150202022)

PRODI BIOLOGI
FAKULTAS MIPA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU
PEKANBARU
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya
kepada seluruh umat-Nya. Shalawat dan salam tercurah untuk baginda Rasulullah SAW yang menjadi
teladan untuk umat seluruh alam.
Alhamdulillah, penulis telah menyelesaikan tugas makalah yang sangat sederhana ini, sebagai
pemenuhan karya ilmiah kelompok.
Segala daya dan upaya penulis lakukan untuk menyusun makalah ini, akan tetapi dengan
keterbatasan waktu, tenaga dan minimnya pengalaman, tentunya masih banyak kekurangan di
dalamnya, untuk itu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, serta kritik dan saran sangat
penulis harapkan untuk menyempurnakan langkah penulis kedepan.
Sekian, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Pekanbaru, 28 maret 2016

Penulis,

DAFTAR ISI

1. JUDUL ............ i
2. KATA PENGANTAR ......... ii
3. DAFTAR ISI ........iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah......... 1
1.2 Tujuan ........... 1
1.3 Kerangka teori.............................................................................................................2
1.4 Ruang Lingkup ..........2
BAB II PEMBAHASAN
1.5 Pembahasan ...... ...3
1.6 Hasil .........3
BAB III PENUTUP
1.7 Kesimpulan................................................................................................................9
1.8 Kritik dan saran...........................................................................................................9

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah


Sebagai kegiatan yang kompleks, menyimak mempunyai beberapa unsur dasar yang secara
fundamental mewujudkan adanya suatu peristiwa atau kegiatan menyimak, yaitu: pembicara sebagai
sumber pesan, penyimak sebagai penerima pesan, bahan simakan sebagai unsur konsep, dan bahasa
lisan sebagai media (Sutari, dkk, 1997: 42). Menurut Tarigan (2006: 98), faktor-faktor mempengaruhi
kegiatan menyimak adalah faktor fisik, psikologis, pengalaman, sikap, motivasi, jenis kelamin,
lingkungan, dan peranan dalam masyarakat.

1.2 Tujuan
Tujuan utama dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memenuhi tugas individu mata
kuliah menulis serta lebih mengetahui apa itu keterampilan berbahasa.

1.3 Ruang lingkup


1. KETRAMPILAN BERBAHASA
2. MENYIMAK (LISTENING SKILLS)
3. BERBICARA (SPEAKING SKILLS)
4. MEMBACA (READING SKILLS)
5. MENULIS (WRITING SKILLS)

1.4 Kerangka teori


Pintamtiyastirin (1983: 11) bahwa menyimak ialah mendengarkan dengan pemahaman atau
pengertian, bahkan sampai ke tingkat apresiasi.

Bistok, (via Sutari, dkk, 1997: 21) bahwa menyimak adalah suatu rentetan proses, mulai dari
proses mengidentifikasi bunyi, menyusun penafsiran, menyimpan, dan menghubungkan penafsiran itu
dengan seluruh pengetahuan dan pengalaman.

BAB II
PEMBAHASAN

1.5 Pembahasan
1.KETRAMPILAN BERBAHASA
Keterampilan berbahasa merupakan sesuatu yang penting untuk dikuasai setiap orang. Dalam
suatu masyarakat, setiap orang saling berhubungan dengan orang lain dengan cara berkomunikasi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keterampilan berbahasa adalah salah satu unsur penting yang
menentukan kesuksesan mereka dalam berkomunikasi.

2. MENYIMAK (LISTENING SKILLS)


a.Pengertian Menyimak
Pengertian menyimak sangat dekat maknanya dengan mendengar dan mendengarkan. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2003: 1066), didapati pengertian menyimak yaitu
mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Pada sumber yang
sama (2003: 251), terdapat pengertian mendengar yaitu dapat menangkap suara (bunyi) dengan
telinga.

Pintamtiyastirin (1983: 11) bahwa menyimak ialah mendengarkan dengan pemahaman atau
pengertian, bahkan sampai ke tingkat apresiasi. Seperti yang diungkapkan Bistok, (via Sutari, dkk,
1997: 21) bahwa menyimak adalah suatu rentetan proses, mulai dari proses mengidentifikasi bunyi,
menyusun penafsiran, menyimpan, dan menghubungkan penafsiran itu dengan seluruh pengetahuan
dan pengalaman.

Sebagai kegiatan yang kompleks, menyimak mempunyai beberapa unsur dasar yang secara
fundamental mewujudkan adanya suatu peristiwa atau kegiatan menyimak, yaitu: pembicara sebagai
sumber pesan, penyimak sebagai penerima pesan, bahan simakan sebagai unsur konsep, dan bahasa
lisan sebagai media (Sutari, dkk, 1997: 42). Menurut Tarigan (2006: 98), faktor-faktor mempengaruhi
kegiatan menyimak adalah faktor fisik, psikologis, pengalaman, sikap, motivasi, jenis kelamin,
lingkungan, dan peranan dalam masyarakat.

b. Ragam Menyimak
Secara garis besar, menyimak dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Menyimak ekstensif (extensive listening)

Adalah sejenis kegiatan menyimak yang mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas
terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru.
Menyimak ekstensif terdiri dari :
Menyimak sosial (social listening) atau menyimak konversasional
Menyimak sekunder (secondery listening)
Menyimak estetik (aesthetic listening)
Menyimak apresiatif
Menyimak pasif (passive listening)

2) Menyimak Intensif
Menyimak intensif adalah jenis menyimak yang pelaksanaannya diarahkan pada suatu
kegiatan yang lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu. Menyimak intensif terdiri atas
beberapa jenis berikut.
Menyimak kritis (critical listening)
Menyimak kreatif (creative listening)
Menyimak eksploratif
Menyimak interogatif (interrogative listening)
Menyimak selektif
Menyimak konsentratif (concentrative listening)

c. Teknik Menyimak
Menurut Brawn (via Iskandarwassid, 2008: 227-228), terdapat delapan proses dalam
kegiatan menyimak, yakni sebagai berikut:
-Pendengar memproses raw speech dan menyimpan image darinya dalam short term memory.
- Pendengar menentukan tipe dalam setiap peristiwa pembicaraan yang sedang diproses.
- Pendengar mencari maksud dan tujuan pembicara dengan memper-timbangkan bentuk dan jenis
pembicaraan, konteks, dan isi.
- Pendengar me-recall latar belakang informasi (melalui skema yang ia miliki) sesuai dengan konteks
subjek masalah yang ada.
-Pendengar mencari arti literal dari pesan yang ia dengar.
-Pendengar menentukan arti yang dimaksud.

- Pendengar mempertimbangkan apakah informasi yang ia terima harus disimpan di dalam


memorinya atau ditunda.
- Pendengar menghapus bentuk pesan-pesan yang telah ia terima.

3. BERBICARA (SPEAKING SKILLS)


a. Pengertian Berbicara
Berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat produktif.
Keterampilan berbicara mensyaratkan adanya pemahaman minimal dari pembicara dalam membentuk
sebuah kalimat. Keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus
sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, perasaan dan keinginan kepada orang lain.

b. Ragam Berbicara
- Pidato
Yaitu berbicara di depan umum. Pidato yang bersifat ilmiah disebut ceramah.
-Diskusi
Diskusi yaitu memiliki dua pengertian yaitu pengertian luas dan pengertian sempit. Dalam
pengertian luas, diskusi yaitu memberikan jawaban atas pertanyaan atau pembicaraan serius tentang
suatu masalah yang objektif. Dalam pengertian ini orang mengemukakan titik tolak pendapatnya,
menjelaskan alasan, dan hubungan antar masalah. Dalam arti sempit diskusi berarti tukar menukar
pikiran yang terjadi dalam kelompok kecil atau kelompok besar.

Bentuk-bentuk diskusi :
o Diskusi fak
Diskusi yang bertujuan untuk mengolah suatu bahan secara bersama-sama dibawah
bimbingan seorang ahli.
o Diskusi podium
Penjelasan masalah oleh wakil terpilih dari berbagai kelompo
o Forum diskusi
Yaitu suatu bentuk dialog yang sering digunakan dalam bidang politik.
o Diskusi kasualis
Penelitian bersama atas suatu masalah untuk mencari jalan keluar yang tepat.
o Diskusi panel

Yaitu diskusi sekelompok orang untuk membahas suatu topik yang menjadi perhatian umum
di depan penonton atau pendengar.
Menyampaikan Pengumuman
Yaitu menyampaikan sesuatu hal yang perlu diketahui oleh khalayak ramai.
Menyampaikan argumentasi
Salah satu proses komunikasi untuk menyampaikan argumentasi yaitu debat. Setiap pihak
yang berdebat akan mengajukan argumentasi dengan memberikan alasan tertentu agar pihak lawan
menjadi yakin dan berpihak serta setuju terhadap pendapat-pendapatnya.
Bercerita
Seorang pendongeng atau pencerita dapat berhasil apabila ia dapat menghidupkan cerita
artinya mendongeng harus dapat membangkitkan daya imajinasi anak. Manfaat bercerita diantaranya
memberikan hiburan, mengajarkan kebenaran, dan memberikan keteladanan.
Musyawarah
Yaitu membicarakan sesuatu supaya mencapai kata sepakat.
Wawancara
Wawanacara merupakan salah satu keterampilan berbicara yang digunakan sebagai metode
pengumpulan bahan berita. Wawancara bertujuan pokok menggali informasi, komentar, opini, fakta
atau data tentang suatu masalah atau peristiwa dengan mengajukan pertanyaan kepada narasumber.
4. MEMBACA (READING SKILLS)
a. Pengertian Membaca
Membaca pada hakekatnya yaitu proses memaknai bentuk-bentuk bahasa tertulis sehingga
pesan yang dikirimkan oleh pengirim pesan dapat diterima secara utuh. Seseorang dikatakan memiliki
keterampilan membaca apabila yang bersangkutan dapat menafsirkan makna dan bentuk-bentuk
bahasa tertulis berupa kata, kalimat, dan paragraf yang dibacanya.

Pengertian membaca dibagi menjadi tiga yaitu :


1. Pengertian yang sempit
Membaca adalah proses pengenalan simbol-simbol tertulis.
2. Pengertian agak luas
Pengertian ini memusatkan diri pada proses pemahaman dan penafsiran makna sebagai bagian
dari proses berfikir yang menyertai proses membaca.
3. Pengertian luas
Membaca meliputi proses atau kegiatan memberikan respon kreitis-kreatif.

b. Tujuan Membaca
1) Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta.
2) Membaca untuk memperoleh ide-ide utama.
3) Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan organisasi cerita.
4) Membaca untuk menyimpulkan.
5) Membaca untuk mengklasifikasi
6) Membaca untuk mengevaluasi
7) Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan.

c. Ragam Membaca
1. Membaca Intensif
Membaca yang dilakukan dengan hati-hati dan teliti. Tujuannya untuk memahami
keseluruhan bahan bacaan itu sampai kepada bagian yang sekecil-kecilnya.
2. Membaca Kritis
Merupakan jenis kegiatan membaca yang dilakukan secara bijaksana, bukan hanya mencari
kesalahan belaka.
3. Membaca Cepat
Didalamnya menyangkut skimming dan scaning.
Skimming yaitu membaca untuk menemukan sesuatu yang diperlukan. Scaning yaitu teknik
membaca untuk mendapatkan informasi tanpa membaca lainnya.
4. Membaca untuk Keperluan Praktis
Membaca digunakan sebagai sarana untuk memahami setiap bacaan yang perlu untuk dibaca
dengan praktis, sesuai dengan kebutuhan masing-masing atau tujuan yang hendak dicapai oleh
pembaca.
5. Membaca untuk Keperluan Studi
Yaitu membaca untuk memahami isi buku secara keseluruhan, baik pokok pikiran maupun
pikiran penjelas sehingga pemahaman yang mendalam dan utuh tentang isi buku tercapai.

Berdasarkan bentuk umum kegiatan membaca dibedakan menjadi :


-Membaca nyaring

-Membaca survei
-Membaca Membaca ekstensif Membaca sekilas
-Membaca dangkal
-Membaca dalam hati Membaca telaah isi Membaca teliti
-Membaca pemahaman
-Membaca intensif Membaca kritis
-Membaca ide
-Membaca telaah bahasa Membaca bahasa
-Membaca sastra

5.MENULIS (WRITING SKILLS)


a. Pengertian Menulis
Menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan
suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambanglambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu. Menulis
merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif.orang dikatakan trampil menulis apabila penulis
pandai memanfaatkan grafologi, dtruktur bahasa dan kosakata.

b. Fungsi dan Tujuan Menulis


Fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi tidak langsung. Menulis sangat
bermanfaat dalam dunia pendidikan diantaranya memudahkan para pelajar berfikir, membantu
berfikir kritis, dll.

Menurut Hugo Harting (Via Tarigan, 1982: 26) tujuan penulisan adalah sebagai berikut :
1) Assigment purpose (tujuan penugasan)
2) Altruistic purpose (tujuan altruistik) kunci keterbacaan suatu tulisan.
3) Perssuasive purpose (tujuan persuasif) bertujuan meyakinkan pembaca.
4) Informational purpose (tujuan informasional) tujuan penerangan/informasi.
5) Self expressive purpose (tujuan pernyataan diri)
6) Creative purpose (tujuan kreatif)
7) Problem-solving purpose (untuk memecahkan masalah)

c. Ragam Tulisan
- Narasi
Narasi yaitu karangan yang menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman berdasarkan urutan
waktu (kronologis). Isi karangan nonfiksi dan fiksi. Narasi dibagi menjadi 2 yaitu :

Narasi ekspositoris bahasa yang digunakan lugas dan konfliknya tidak terlalu kelihatan.
Narasi artistik (literer) narasi asli.

Deskipsi
Adalah jenis karangan yang melukiskan atau menggambarkan subyek apa adanya, sehingga
pembaca seolah-olah dapat merasakan, mengalami, mendengar, dan melihat objek yang dinaksudoleh
penukis. Objeknya biasanya adalah manusia, alam, binatang, dan sebagainya.
- Ekposisi
Ekposisi yaitu jenis karangan yang bertujuan menambah, memberikan pengetahuan kepada
pembaca dengan cara menyajikan informasi secara akurat.
- Argumentasi
Argumentasi adalah jenis karangan yang bertujuan mempengaruhi pembaca dengan buktibukti, alasan, atau pendapat yang kuat, sehingga dapat diyakini atau dipercaya oleh pembaca.

1.6 Hasil
Keterampilan berbahasa merupakan sesuatu yang penting untuk dikuasai setiap orang. Dalam
suatu masyarakat, setiap orang saling berhubungan dengan orang lain dengan cara berkomunikasi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keterampilan berbahasa adalah salah satu unsur penting yang
menentukan kesuksesan mereka dalam berkomunikasi.

BAB III
PENUTUP

1.7 Kesimpulan
Keterampilan berbahasa merupakan sesuatu yang penting untuk dikuasai setiap orang. Dalam
suatu masyarakat, setiap orang saling berhubungan dengan orang lain dengan cara berkomunikasi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keterampilan berbahasa adalah salah satu unsur penting yang
menentukan kesuksesan mereka dalam berkomunikasi.

1.8 Kritik dan saran


Antara menyimak, membaca, menulis, serta berbicara erat hubungan nya dan saling
keterkaitan, oleh sebab itu harus lah rajin melatih keterampilan berbahasa kita, agar kita bisa menjadi
sastrawan yang handal.

DAFTAR PUSTAKA

Alsjahbana, S. Takdir. 1960. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia jilid 1 dan 2. Djakarta: Pustaka
Rakyat.
Depdikbud. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Chaer, Abdul. 2003. Seputar Tata Bahasa Buku Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.