Anda di halaman 1dari 109

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

PERCOBAAN VII
STRUKTUR MOLEKUL DAN REAKSI-REAKSI KIMIA ORGANIK
DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MOLEKUL

OLEH :
NAMA
NIM
KELAS
KELOMPOK
ASISTEN

:
:
:
:
:

ASMAN SADINO
F1F1 12 092
C
V
AGUNG WIBAWA MAHATVA YODHA, S.Si

LABORATORIUM FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013
STRUKTUR MOLEKUL DAN REAKSI-REAKSI KIMIA ORGANIK DENGAN
MENGGUNAKAN MODEL-MOLEKUL

A. Tujuan Percobaan

1. Memberikan pengalaman bekerja dengan menggunakan model molekul.


2.

Memberikan pengalaman mengenai visualisasi senyawa-senyawa organik


dalam tiga dimensi.

3. Mengilustrasikan reaksi-reaksi kimia.


B. Landasan Teori

Kimia organik didefenisikan sebagai kimia dari senyawa yang datang


dari benda hidup sehingga timbul istilah organik. Suatu pengetahuan
mengenai kimia organik tak dapat diabaikan bagi kebanyakan ilmuwan.

Misalnya, karena sistem kehidupan terutama terdiri dari air dan senyawa
organik, hampir semua bidang yang berurusan dengan tanaman, hewan,
atau mikroorganisme bergantung pada prinsip kimia organik (Fessenden,
1997).
Ada tiga jenis gaya antarmolekul, yaitu gaya dipol-dipol, gaya London,
dan ikatan hidrogen. Gaya dipol-dipol dan gaya London dapat dianggap
sebagai satu jenis gaya, yaitu gaya van der Waals. Gaya antarmolekul adalah
gaya aksi di antara molekul-molekul yang menimbulkan tarikan antarmolekul
dengan berbagai tingkat kekuatan. Kekuatan gaya antarmolekul lebih lemah
dibandingkan ikatan kovalen maupun ikatan ion Pada suhu tertentu,
kekuatan tarikan antarmolekul menentukan wujud zat, yaitu gas, cair, atau
padat. Ikatan kimia merupakan gaya tarik menarik di antara atom-atom yang
berikatan, sedangkan gaya antarmolekul merupakan gaya tarik menarik di
antara molekul (Fariza, 2009).
Pemodelan molekul merupakan suatu cara untuk menggambarkan
atau

menampilkan

pendekatan
dilakukan

perilaku

dengan

dengan

keadaan

molekul
yang

menggunakan

atau

system

sebenarnya.

metode-metode

molekul

sebagai

Pemodelan

molekul

mekanika

kuantum,

mekanika molekuler, minimasi, simulasi, analisis konformasi serta beberapa


metode kimia komputasi lain yang memprediksi perilaku molekul. Pemodelan
molekul dengan metode mekanika molekuler medan gaya digunakan untuk
molekul besar yang tidak mungkin dihitung dengan metode mekanika
kuantum. (Kasmui dkk, 2010).
Pemodelan molekul dapat digunakan untuk merancang suatu molekul
sebelum dibuat di laboratorium sehingga dapat diperoleh molekul yang
diinginkan secara efisien. Pemodelan molekul merupakan salah satu bagian
komputasi kimia tentang studi struktur molekul, yang mempelajari tentang
struktur, sifat, karakteristik dan kelakuan suatu molekul (Presetya dkk,
2011).
Posisi atom karbon memberikan kondisi spesifik yang mengakibatkan
setiap atom karbon pada molekul organik mempunyai harga puncak atau
pergeseran kimia NMR yang spesifik pula. Setiap atom karbon pada molekul

mempunyai harga puncak atau pergeseran kimia NMR yang tergantung pada
posisi atom karbon di dalam struktur molekul tersebut. Sifat tersebut yang
akan membedakan molekul satu dengan molekul lain. Banyaknya puncak
serta harga NMR inilah yang dipakai sebagai dasar penentuan suatu molekul.
Untuk itu penentuan struktur molekul senyawa bioaktip berdasar data NMR
yang ada supaya bisa lebih cepat dan tepat dilakukan dengan bantuan
program

komputer

yang

kita

kembangkan

dan

kita

sajikan

dalam

kesempatan ini. Program semacam ini, belum pernah dikembangkan di


Indonesia, meskipun program serupa telah dikembangkan di negara maju,
untuk struktur molekul senyawa organik pada umumnya (Kardono, 2008).
Salah satu kelas besar dalam golongan aromatik adalah senyawa
senyawa yang memiliki induk hidrokarbon C 6H6, yang sekarang disebut
sebagai benzena. Rumus molekul inti benzene yang berupa cincin enam
karbon dengan lingkaran ditengahnya digunakan untuk menunjukkan bahwa
posisi keenam karbon tersebut setara dan elekron phi terdelokalisasi pada
cincin tersebut. Struktur benzena yang lebih tepat memang telah ditentukan
akan tetapi rumus kimia C6H6 memberikan kemungkinan lain untuk senyawa
kimia. Senyawa senyawa lain yang memiliki rumus C 6H6 ini kita kenal
sebagai isomer benzena. Benzena yang juga merupakan induk dari senyawa
senyawa aromatic relative stabil sekalipun senyawa turunannya melalui
bermacam macam tahap reaksi. Hal ini kontras dengan rasio karbon :
hidrogen yang rendah, yang menunjukkan bahwa strukturnya tak jenuh
(Purtadi, 2002).
Pemilihan huruf "s", "p", "d", "f" berasal dari sistem lama dalam
mengkategorikan garis spektra, yakni "sharp", "principal", "diffuse", dan
"fundamental". Dalam metana (CH4) atom karbon mempunyai empat ikatan
kovalen terhadap hidrogen. Setiap katan C-H mempunyai panjang ikatan
1,09A. Sudut ikatan antara setiap ikatan C-H adalah 109,5 o. Dari bukti
eksperimen ini, jelaslah karbon tidak membentuk ikatan orbital atom s dan 3
orbital p. Bila demikian halnya, keempat ikatan C-H tak akan ekuivalen.
Menurut teori mutakhir, keempat ikatan kovalen ini timbul dari hibridisasi

lengkap keempat orbital atomnya (orbital 2s dan orbital 2p). Untuk


memberikan keempat orbital sp3 yang ekuivalen. Agar ini terus dapat terjadi,
satu elektron dari 2s harus ditingkatkan keorbital 2p yang masih kosong. Bila
karbon terikat ke atom yang lain oleh ikatan rangkap 2, atom berada dalam
hibridisasi sp2. Untuk membentuk orbital ikatan sp2 karbon menghibridisasi
orbital 2s nyahanya dengan orbital 2p nya. Masing-masing orbital sp 2
mempunyai bentuk yang sama seperti sp 3 dan mengandung satu elektron
yang dipakai untuk berikatan (Fessenden, 1997).

C. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah molimod darling


models.
D. Prosedur Kerja

1.
Molimod
Hasil???
3. Penyusunan bentuk molekul

Disusun dalam bentuk molekul sp3, sp2, sp, dsp3, dan d2sp3.

Digambar bentuk molekulnya

2.
Hasil???
Molimod
4. Menyusun dan menggambar beberapa senyawa

Disusun dalam bentuk molekul 2-metil heksana, 2-butanol, 2-butena, 1propanol, dan metiletileter.

Digambar bentuk molekulnya

3.
Molimod
Hasil???
5. Menyusun dan menggambar senyawa aromatik

Disusun dalam bentuk senyawa aromatik benzena dan naftalena

Digambar bentuk molekulnya

4. Menyusun dan menggambar senyawa siklik


Molimod
Hasil???
-

Disusun dalam bentuk molekul 3 atom C sp 3, 4 atom C sp3, 5 atom C sp3, 6


atom C sp3, 7 atom C sp3, 8 atom C sp3.

Digambar bentuk molekulnya

5.
Molimod
Hasil???
7. Menyusun dan menggambar struktur etanol dengan proyeksi

Disusun dalam bentuk proyeksi titik padat, proyeksi fisher, proyeksi


newman, dan proyeksi sawhorse.

Digambar bentuk molekulnya

6. Menyusun dan menggambar proyeksi newman pada konformasi


sikloheksana
Molimod
Hasil???
-

Disusun dalam bentuk proyeksi newman, untuk konformasi sikloheksana


bentuk kursi, setengah perahu, dan bentuk perahu.

Digambar bentuk molekulnya

7.
Molimod
Hasil???
9. Menyusun dan menggambar stereoisomer

Disusun dalam bentuk isomer dari 2-butena dan 1,2-diklorosikloheksana.

Digambar bentuk molekulnya


8.
Molimod
Hasil???
10. Menyusun dan menggambar reaksi

Disusun struktur brominasi E-3-metil-2-pentana dan propanol + Cl2.

Digambar bentuk molekulnya

E. HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan dalam percoban kali ini, yaitu :
N
o

Nama Senyawa
sp3
sp2

1.

sp
dsp3
d2sp3
2-metilheksana
2-butanol

2.

2-butena
1-propanol
Metileileter
Benzena

3.
Naftalena
4.

3 atom C sp3
4 atom C sp3
5 atom C sp3
6 atom C sp3

Gambar

7 atom C sp3
8 atom C sp3
Proyeksi titik padat

5.

Proyeksi fisher
Proyeksi newman
Proyeksi sawhorse
Bentuk kursi

6. Bentuk setengah perahu


Bentuk perahu
Isomer 2-butena
Cis 2-butena
Trans 2-butena
Isomer
1,27. diklorosikloheksana
Equatorial-equatorial
Equatorial-aksial
Aksial-aksial
Aksial-equatorial
8.
Brominasi
pentena

E-3-metil-2-

Propanol + Cl2.

F. Pembahasan

Bentuk molekul merupakan konsep dasar dalam kimia organik. Molekul


ini berbentuk tiga dimensi dan interaksi ruang dari suatu bagian molekul
dengan bagian molekul lainnya sangat penting dalam menentukan sifat fisik
dan

kimia

dari

molekul-molekul

tersebut.

Molekul

kovalen

terdapat

pasangan-pasangan elektron baik PEI maupun PEB. Karena pasangan


elektron

mempunyai

muatan

sejenis,

maka

terjadi

tolak-menolak

antarpasangan elektron. Adanya gaya tolak-menolak menyebabkan atomatom yang berikatan membentuk struktur ruang yang tertentu dari suatu
molekul. Dengan demikian bentuk molekul dipengaruhi oleh banyaknya PEI
maupun PEB yang dimiliki pada atom pusat. Oleh karena itu, bentuk molekul
tergantung pada susunan ruang pasangan elektron ikatan (PEI) dan
pasangan elektron bebas (PEB) atom pusat dalam molekul. Dapat dijelaskan
dengan teori tolakan pasangan elektron kulit valensi atau teori VSEPR
(Valence Shell Electron Pair Repultion).
Percobaan ini bertujuan untuk mengenal dan mengetahui model-model
molekul dari beberapa senyawa yaitu alkana, alkena, alkuna, keton,
benzene, asam asetat serta isomer struktur geometri cis / trans dengan
menggunakan seperangkat alat model molekul (molymod). Pada percobaan
bentuk molekul ini, kami menggunakan molymod. Molymod merupakan
suatu alat peraga untuk menggambarkan bentuk suatu molekul. Molymod
biasanya terbuat dari plastic berupa bulatan-bulatan yang dihubungkan oleh
suatu batangan. Bulatan tersebut bertindak sebagai suatu atom sedangkan
batangnya sebagai ikatan. Penyusunan molimod menjadi bentuk molekul

beberapa senyawa tertentu sehingga lebih mudah memahami bentuk dan


posisi stabil suatu senyawa.
Terdapat empat orbital atom pada tingkat energi kedua, satu orbital 2s
dan 3 orbital p. Tetapi karbon tidak menggunakan keempat orbital dalam
keadaan murni untuk berikatan. Sebagai gantinya karbon bercampur, atau
berhibridisasi, yaitu peristiwa penggabungan beberapa orbital atom yang
menghasilkan orbital hibrida yang jumlah, bentuk dan arahnya ditentukan
oleh jumlah dan jenis orbital atom pembentuknya. Ada 5 jenis hibridisasi,
yaitu hibridisasi sp3, sp2, sp, dsp3, d2sp3.
Metana (CH4) adalah salah satu senyawa yang mengalami hibridasi sp 3.
Molekul metana (CH4) berbentuk tetrahedral dengan 4 ikatan C-H yang
ekuivalen serta besar sudut antara C-H adalah 109,50. Ketika atom karbon
membentuk ikatan kovalen dengan H membentuk CH4, orbital 2s dan ketiga
orbital 2p mengalami hibridisasi membentuk 4 orbital yang setingkat. Orbital
hibridanya ditandai dengan sp3untuk menyatakan asalnya, yaitu satu orbital
s dan tiga orbital p. Hibridisasi tidak hanya mempengaruhi tingkat energy,
namun juga berpengaruh terhadap bentuk orbital gambar. C dengan 4 orbital
hibrida sp3, dapat membentuk 4 ikatan kovalen yang equivalen yang
mengelilingi inti atom karbon. Namun, karena tolakan yang terjadi antara
elektron dalam berbagai orbital, menyebabkan orbital sp3 berjauhan dan
bergerak keluar dari inti karbon yang sama. Sehingga, keempat orbital
menghadap pada ujung suatu tetradon biasa dan membentuk sudut 109,50.
Hibridisasi merupakan kombinasi orbital sehinggatingkat energi orbital s
dan p masing-masing mengalami perubahan, kemudian seluruh orbital hasil
hibrida berada pada tingkat energi yang sama.
Hibridisasi sp2 salah satunya pada senyawa etilena (C2H4) yang
memiliki ikatan rangkap dua diantara karbon-karbonnya. Atom karbon akan
melakukan

hibridisasi

sp2

karena

orbital-orbital

hibrid

hanya

akan

membentuk ikatan sigma dan satu ikatan phi sesuai yang disyaratkan untuk
ikatan rangkap dua di antara karbon. Dalam hibridisasi sp2, orbital 2s hanya
bergabung dengan dua orbital 2p membentuk 3 orbital sp2 dengan 1 orbital

p tersisa. Dalam etilena, dua atom karbon membentuk sebuah ikatan sigma
dengan bertumpang tindih dengan dua orbital sp2 karbon lainnya dan setiap
karbon membentuk dua ikatan kovalen dengan hidrogen dengan tumpang
tindih s-sp2 yang bersudut 1200 dan geometrinya berbentuk Trigonalpenal
(segitiga datar).
Hibridisasi sp salah satunya terjadi pada senyawa MgCl 2. Orbital 2s
hanya bergabung dengan satu orbital p yang menghasilkan 2 orbital sp dan
menyisakan 2 orbital p. Ikatan kimia dalam MgCl 2 terdiri dari tumpang tindih
sp-sp antara dua atom karbon membentuk ikatan sigma dan dua ikatan phi
tambahan yang terbentuk dari tumpang tindih p-p. Setiap karbon juga
berikatan dengan dengan hidrogen membentuk geometri linier dengan sudut
sebesar 1800.
Orbital dsp3 dan d2sp3 dapat terbentuk akibat hibridisasi yang terjadi
antara subkulit s, p, dan d. Contoh senyawa yang terbentuk dari orbital dsp 3
yaitu PCl5 dan orbital hibrida d2sp3 adalah SF6. Pada orbital dsp3 semua
elektron tunggal berada pada masing-masing orbital yang akan dipakai
untuk berikatan dengan atom lain dan tidak terdapat pasangan elektron
bebas. Sehingga, tolakkan hanya akan terjadi diantara pasangan elektron
ikatan yang terbentuk. Pada orbital dsp3, terdapat 5 pasangan elektron
ikatan yang saling tolak-menolak sampai posisi terjauh yang mungkin gaya
resultannya adalah nol. Mekanisme hibridisasi d2sp3 adalah sama seperti
dsp3. Bentuk geometri yang dicapai adalah bentuk segitiga bipiramida
(segitiga 2npiramida) dengan besar sudut ikatan 90o dan 120o. Begitu juga
pada orbital d2sp3 enam pasangan elektron ikatan saling tolak-menolak
sejauh-jauhnya, sehingga mencapai bentuk geometri yang stabil yaitu
oktahedral dengan sudut ikatan 90o.
3-metilheksana merupakan senyawa alkana yang memiliki ikatan stabil
yaitu ikatan tunggal yang terdiri dari orbital sp3 yang dapat berputar karena
sigma-nya yang menyebabkan molekul senyawa ini dapat berubah-ubah
karena perputarannya. Berbeda dengan 3-metilheksana, senyawa alkena (2butena) bersifat statis (tidak dapat diputar) karena terbentuknya ikatan pi

oleh orbital 2p yang tidak ikut terhibridisasi ikatan pi tersebut sehingga


struktur molekulnya kaku. Hibridisasi sp2 ditandai dengan adanya ikatan
rangkap dua yang tidak stabil (terdiri dari ikatan pi dan ikatan sigma).
Perbedaan juga terlihat pada senyawa alkohol dan eter. Selain ikatan
antarkarbon, terdapat pula ikatan antara karbon dan oksigen secara
langsung, dimana oksigen akan memiliki dua pasangan elektron bebas
akibat terhibridisasi sp3.
Benzena merupakan sikloheksena yaitu senyawa siklik yang memiliki
ikatan

rangkap

dua

aromatikdengan

rumus

struktur

C6H12.

Benzena

dilambangkan dengan dua bentuk, yang pertama adalah struktur kekuledan


yang

lainnya

adalah

heksagon

dengan

lingkaran

didalamnya

untuk

menggambarkan adanya resonansi ikatan atau distribusi elektron yang


tersebar merata di dalam cincin benzena.
Benzena disusun oleh struktur yang bersifat statis (tidak dapat diputar).
Hal itu disebabkan ikatan pi yang dibentuk oleh orbital 2p tidak ikut
terhibridisasi, sehingga selain adanya ikatan tuggal dari orbital sp 2 juga
terdapat ikatan pi yang membentuk ikatan rangkap dua. Benzena memiliki
sudut ikatan sebesar 1200 yang terbentuk karena benzena memiliki 3 ikatan
phi yang membuatnya lebih stabil.
Naftalena merupakan hidrokarbon kristalin aromatik berbentuk padatan
berwarna putih dengan rumus molekul C10H8 dan berbentuk dua cincin
benzena yang bersatu.
Benzena terbentuk dari atom hidrogen dan atom karbon. Setiap atom
karbon harus berikatan dengan tiga atom yang lain (1 hidrogen dengan dua
karbon) dan karena tidak memiliki elektron bebas yang cukup, salah satu
pasangan elektron di 2s2 harus berpindah ke orbital 2p z yang kosong. Karena
setiap karbon hanya bergabung dengan tiga atom yang lain, saat atom
karbon menghibridisasikan orbital terluarnya sebelum membentuk ikatan,
hanya diperlukan hibridasi dari tiga. Elektron pada 2s dan 2p saja yang
dipakai sehingga tersisa satu buah elektron pada 2p. Orbital yang baru
dikenal sebagai hibrid sp2 karena terbentuk dari orbital s dan dua buah

orbital p yang tersusun kembali. Ketiga orbital pada hybrid sp2 tersusun
hingga menjauh sejauh mungkin kemudian terbentuk bentuk datar/planar
dengan sudut antar atom 1200. Dalam proses ini dihasilkan lebih dari satu
ikatan

sehingga

terdelokalisasi.

dapat

Energi

dikatakan

delokalisasi

bahwa
adalah

elektron
istilah

yang

tersebut

telah

setara

untuk

memeberi fenomena yang sama, yakni suatu struktur memiliki energi yang
lebih rendah bila mempunyai elektron dalam orbital-orbital molekul yang
terikat paad dua inti ataom atau lebih.
Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa karbon paling sederhana.
Berdasarkan susunan atom karbon dalam molekulnya, senyawa karbon
terbagi dalam 2 golongan besar yaitu senyawa alifatik dan senyawa siklik.
Senyawa alifatik adalah senyawa karbon yang rantai C nya terbuka dan
rantai C itu memungkinkan bercabang. Sedangkan senyawa siklik adalah
senyawa karbon yang rantai C nya melingkar dan lingkaran itu mungkin juga
mengikat rantai samping. Golongan ini terbagi lagi menjadi senyawa asiklik
(rantai tertutup) dan aromatik (membentuk rantai benzena).
Sebanyak 3 sampai 8 atom C dirangkai agar membentuk siklik. Ketika 35 atom C dirangkai dan dihubungkan agar membentuk siklik, sangat terlihat
bahwa atom-atom tersebut sulit untuk dihubungkan satu sama lain. Senyawa
siklik dengan 6 atom C relatif lebih stabil karena besarnya gaya tolakan
sama untuk setiap atom karbon, meskipun bentuknya agak membengkok
sebagai akibat dari jenis ikatan yang terdapat didalam yaitu ikatan sigma,
sehingga bentuknya tidak seperti benzena yang statis pada umumnya.
Besarnya sudut ikatan yang terbentuk pada sikloheksana ini adalah 120 o.
Untuk

mendapatkan

struktur

yang

stabil,

sikloheksana

dapat

mengkondisikan strukturnya dalam bentuk konformasi kursi, sehingga gaya


tolak menolak antar elektron-elektron ikatan yang besar dapat berkurang
karena letak yang berjauhan antara aton satu dan lainnya.
Proyeksi digunakan untuk lebih memahami ikatan-ikatan yang terjadi
antara gugus dan atom tertentu. Dalam hal ini ada 4 macam proyeksi yaitu

proyeksi taji padat, fisher, newman, dan sawhorse. Molekul senyawa yang
diamati adalah etanol.
Pada dasarnya keempat proyeksi ini mempunyai prinsip yang sama.
Namun perbedaan terletak pada cara memandang dan menggambar
proyeksi ini di atas bidang datar. Pada pengamatan menggunakan proyeksi
taji padat, gugus OH berada di bawah atau diatas bidang. Proyeksi ini sangat
cocok untuk digunakan untuk menggambar dua dimensi. Pada pengamatan
menggunakan proyeksi fisher, molimod dipandang dari atas. Dimana atom
karbon dengan dengan bilangan oksidasi lebih tinggi diletakkan diatas.
Dalam hal ini yang diletakkan di atas adalah gugus OH karena gugus ini
mempunyai bilangan oksidasi tinggi dan mudah teroksidasi. Pengamatan
berdasarkan proyeksi newman dilakukan dengan meletakkan molimod pada
bidang datar kemudian dipandang dari arah depan atau belakang sehingga
keseluruhan atom akan terlihat seperti berada pada satu titik. Bagian depan
molekul ditandai dengan lingkaran. Proyeksi ini dapat dilihat dalam 3 bentuk
yaitu eklips (0o), gauche/stragger (60o), dan anti (180o). Ketiga bentuk ini
mempengaruhi kestabilan molekul. Bentuk anti merupakan bentuk dengan
tingkat kestabilan tertinggi apabila dibandingkan dengan bentuk eclips dan
stagger. Posisi gugus OH terhadap salah satu atom H dari CH3 sangat
berjauhan sehingga mengurangi gaya tolak-menolak antara keduanya.
Proyeksi sawhorse kurang lebih sama dengan proyeksi taji padat. Hanya saja
proyeksi sawhorse lebih stabil dalam hal susunan atomnya, karena proyeksi
ini menunjukan pengaruh tolakan antara gugus terhadap bentuk molekul.
Pengamatan terhadap konformasi sikloheksana dalam bentuk kursi,
setengah perahu, dan perahu, menunjukan bahwa konformasi bentuk kursi
paling stabil dibandingkan keduanya. Hal tersebut disebabkan karena letak
gugus yang saling berseberangan sehingga memperkecil tolakan yang
terjadi. Apabila gugus (substituen) yang terdapat pada sikloheksana
merupakan substituen dengan massa besar, maka substituen akan mencari
posisi yang memungkinkan rantai sikloheksana tetap stabil yaitu dengan
posisi yang saling berlawanan. Ikatan C-H terdiri atas posisi aksial, dimana

C-H terletak diatas dan dibawah bidang rata-rata cincin karbon, dan posisi
equatorial dimana letak C-H tegak lurus pada satu bidang cincin karbon.
Isomer ialah molekul-molekul dengan rumus kimia yang sama (dan
sering dengan jenis ikatan yang sama), namun memiliki susunan atom yang
berbeda. Kebanyakan isomer memiliki sifat kimia yang mirip satu sama lain.
Salah satu contoh isomer adalah isomer geometri atau isomer cis-trans
dapat

dipertukarkan

melalui

rotasi

ikatan

karbon-karbonnya.

Contoh

senyawanya adalah 2-butena. Dimana senyawa 2-butena terdiri dari dua


isomer geometri, yaitu cis 2-butena dan trans 2-butena. Disebut cis karena
letak gugus berada pada satu bidan. Apabila letak gugus berseberangan,
maka disebut trans. Trans lebih stabil dibandingkan dengan cis karena
kecilnya tolakan antar gugus.
Isomer senyawa siklik misalnya pada 1,2-diklorosikloheksana yang
memiliki 2 isomer cis dan 2 isomer trans. 2 isomer cis yang dimaksud adalah
ketika gugus Cl terletak pada posisi equatorial-aksial dan aksial-equatorial.
Sedangkan pada 2 isomer trans, gugus Cl terletak pada posisi aksial-aksial
dan equatorial-equatorial. Trans merupakan posisi paling stabil dimana
tolakan antar gugus sangat kecil yang disebabkan letak gugus Cl yang saling
berjauhan.
Brominasi

E-3-metil-2-pentena

menghasilkan

2,3-dibromo-3-metil

pentana. Pada reaksi ini, ikatan rangkap pada E-3-metil-2-pentena putus dan
mengikat 2 gugus Br pada karbon nomor dua dan tiga. Sedangkan pada
reaksi propana dengan HCl, dihasilkan 1,2-dikloropropana, dimana ikatan
rangkap pada propena putus dan atom Cl masuk ke atom karbon nomor satu
dan dua. Kedua reaksi ini termasuk dalam reaksi adisi dimana suatu
atom/gugus masuk kedalam ikatan tak jenuh (rangkap) yang disertai dengan
putusnya ikatan rangkap tersebut.
G. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Melalui

model

molekul

(molimod)

dapat

mempermudah

dalam

memahami struktur tiga dimensi suatu molekul, baik isomer maupun


struktur dari molekul itu sendiri.
2. Visualisasi atau penggambaran senyawa-senyawa organik dengan
menggunakan

molimod

jauh

lebih

memudahkan

kita

untuk

mengetahui posisi stabil yang dapat dibentuk oleh suatu senyawa.


3. Reaksi-reaksi kimia dapat dipelajari dari molimod adalah pemutusan
ikatan rangkap dan pementukan kembali ikatan yang baru, dengan
sifat senyawa yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA

Fariza, 2009. Aplikasi Flash Lite Untuk Pembelajaran Kimia (Materi : Ikatan Kimia &
Struktur Atom). Jurnal Institut Teknologi Sepuluh Nopember .
Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Bina Aksara. Jakarta.
Kardono, 2008. Program Komputer Untuk Membantu Penentuan Struktur Kimia
Bioaktip Berdasar Data Nmr. Jurnal Pusat Pengembangan Perangkat Nuklir.
Kasmui dkk, 2010. Perubahan Ukuran Rongga Pada Modifikasi Molekul Zeolit Zsm-5
Dengan Variasi Rasio Si/Al Dan Variasi Kation Menggunakan Metode
Mekanika Molekuler.
Presetya dkk, 2011. Kajian Pengaruh Pemanasan Terhadap Jumlah Molekul Air Pada
Zeolit Y Yang Disisipi Kation Mg2+ Dan Ca2+ Dengan Metode Mekanika
Molekuler.
Purtadi, 2002. Isomer Benzena : Bentuk Pembelajaran Berorientasi Proses untuk
Konsep Struktur Benzena pada Mata Pelajaran Kimia di Kelas XII.

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I
I . Nomor Percobaan : I
II . Nama Percobaan

: Model Molekul

III. Tujuan Percobaan

1. Mengambarkan bentuk ruang molekul senyawa-senyawa hidrokarbon alifatik dan aromatik

2. Menggambarkan bentuk isomer optik molekul-molekul senyawa organik.


3. Menggambarkan bentuk-bentuk gugus fungsi.
4. Menggambarkan bentuk molekul heterosiklik.
IV. Dasar Teori
Bentuk molekul merupakan konsep dasar dalam kimia organik. Molekul ini berbentuk tiga
dimensi dan interaksi ruang dari suatu bagian molekul dengan bagian molekul lainnya sangat
penting dalam menentukan sifat fisik dan kimia dari molekul-molekul tersebut.
Bentuk geometri tertentu yang dimiliki molekul suatu senyawa kovalen atau ion poliatom
merupakan akibat dari pembenntukan ikatan kovalen melalui timpang tindih dua orbotal atom
yang mempunyai arah tertentu di dalam ruang.
Ikatan kovalen merupakan ikatan yang terjadi jika ada pemasangan elektron secara
bersama-sama oleh atom-atom yang berikatan. Adapun sifat-sifat atom yang membentuk ikatan
kovalen adalah sebagai berikut : terbentuk diantara dua atom yang sama-sama menangkap
elektron, setelah berikatan tiap atom harus dikelilingi oleh dua atau delapan elektron.
Ikatan kovalen terbagi atas ikatan kovalen koordinasi yakni ikatan kovalen dengan pasangan
elektron yang digunakan secara bersama-sama yang hanya berasal dari salah satu atom, ikatan
kovalen berdasarkan kepolarannya yakni ikatan polar yakni ikatan yang terjadi jika pasangan
elektron yang dipakai bersama dan tertarik lebih kuat pada salah satu atom yang berikatan,
kemudian ikatan non polaryang terjadi jika pasangan elektron yang dipakai bersama yang sama
kuat kesemua atom yang berikatan. Ikatan kovalen pun terbagi menjadi ikatan tunggal dan ikatan
rangkap.Dimana ikatan rangkap terbagi lagi menjadi ikatan rangkap dua dan rangkap tiga.
Ikatan pada molekul selalu berbeda-beda untuk setiap senyawa.Baik itu pada senyawa
alkana, alkena, alkuna, aromatik, siklik, dan alifatik. Selain ikatan, perbedaan pun akan terlihat
pada rumus molekul, rumus bangun, sifat fisik dan sifat kimia pada masing-masing senyawa.
Bentuk molekul atau ion poliatom menyatakan bagaimana atom-atom pembentuk molekul
tersusun dalam ruang yang nantinya dapat mempengaruhi sifat fisika senyawa atau ion poliatom
tersebut.Sedangkan untuk sifat kimia senyawanya ditentukan oleh ikatan antar atom dalam
molekul senyawa bersangkutan.
Polaritas molekul yang mempengaruhi sifat fisika senyawanya, antara lain seperti titik didih
dan titik leleh karena ternyata titik didih dan titik leleh ini sangat mempengaruhi bentuk molekul
yang bersangkutan.

Pada setiap molekul bentuk geometri dasar, tolakan antar pasangan elektron adalah
minimum. Misalnya, bila pada atom pusat suatu molekul terdapat dua pasang elektron yang
mengadakan ikatan, maka tolakan minimum akan tercapai, sehingga semua atom yang berikatan
terletak pada garis lurus. Jadi sudut ikatannya adalah dan molekulnya berbentuk linier.
Demikian pula bila pada atom pusat terdapat tiga pasang elektron ikatan, maka tolakan antar
ketiga pasangan elektron tersebut menjadi minimum, sehingga bila ketiganya saling bertemu
maka akan membentuk sudut . Begitu halnya juga dapat berlaku bagi atom pusat yang memiliki
empat, lima, dan enam pasangan elektron ikatan.
Adalah merupakan suatu hal yang tidak mudah apabila kita harus menentukan bentuk
molekul setiap senyawa kovalen.Sebagaimana yang pernah dilakukan untuk menentukan bentuk
molekul .
Dengan mengetahui struktur lewis suatu molekul atau ion poliatom, dimana ion poliatom
atau bentuk molekul yang bersangkutan dapat diramalkan melalui teori Tolakan Pasangan
Elektron Kulit Valensi atau lebih dikenal dengan teori VSEPR ( Valence Shell Electron Pair
Repulsion).
Menurut teori ini, untuk memperoleh molekul atau ion poliatom yang stabil pasanganpasangan elektron pada kulit valensi atom pusat harus tersusun sedemikian rupa sehingga
terpisah sejauh mungkin antara atom yang satu dengan atom yang lain agar tolakkan yang
didapat yakni tolakan yang minimum. (Nuraini Syariffudin. Ikatan Molekul. Hal : 5.4)
Unntuk molekul datar dapat digambar menggunakan sudut sedangkan untuk molekul datar
segitiga menggunakan sudut . Saat memandang bentuk molekul dapat diperoleh pandangan lain
yang menunjukkan bagaimana semua atom berada pada satu bidang datar. Struktur dasat molekul
dapat berupa tetrahedron dengan sudut . Sedangkan untuk biramida trigonal atau molekul
dwilimas segitiga mempunyai sudut siku-siku atau , begitu juga dengan molekul oktahedral. Jika
kita terapkan teori diatas pada molekul , maka yang berperan sebagai atom pusat yakni Be karena
Be dapat mengikat dua pasang elektron yang ada. Tolak-menolak yang terjadi antara kedua
pasang elektron tersebut mencapai minimum apabila keduanya berada dalam arah yang
berlawanan. Pada molekul terdapat dua atom Cl yang masing-masing berikatan dengan atom Be
melalui kedua pasangan elektron terssebut. Ini berarti, bahwa molekul hana merupakan linier,
yang memang sesuai dengan temuan melalui eksperimen (sama dengan cara menemukan bentuk
molekul ).

Untuk contoh linier yang lain, dapat diambil contoh molekul yang rumus molekulnya mirip
dengan .
Kedua pasang elektron pada ikatan rangkap harus terdapat dalam daerah kulit valensi atom
pusat.Sehingga ikatan rangkap pun berprilaku sangat mirip dengan ikatan tunggal. Kedua ikatan
rangkap pada akan menempatkan diri pada sisi yang berlawanan, semua ini terjadi agar tolakmenolaknya menjadi minimum. Hal ini dikarenakan kedua atom O terikat pada atom C melalui
kedua ikatan rangkap tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa molekul merupakan salah satu
molekul linier.
Bila teori VSEPR ini diterapkan pada molekul yang atom pusatnya memiliki dua, tiga,
empat, lima, bahkan enam pasang elektron pada kulit valensinya, maka diperoleh bentuk-bentuk
molekul linier, segitiga datar, tetrahidral, serta molekul dwilimas segitiga.
Bagaimana dengan bentuk molekul ?
Pada atom pusat S terdapat tiga kelompok elektron yaitu dua kelompok yang masing-masing
terdiri dari satu pasang elektron dan satu kelompok lagi terdiri dari dua pasang elektron atau
mempunnyai ikatan rangkap. Dimana ikatan rangggkap mempunyai prilaku yang sama dengan
ikatan tunggal. Tolak-menolak antar pasangan elektron akan mencapai minimum apabila
kelompok elektron berada pada titik-titik sudut segitiga datar dengan S sebagai pusatnya.
Seperti pada bentuk molekul , kedua atom O terikat pada atom S melalui sebuah ikatan
rangkap dan sebuah ikatan tunggal. Karena bentuk molekul menyatakan bagaimana atom-atom
tersusun dalam ruang, maka bentuk molekul bukan merupakan bentuk molekul segitiga datar ,
tetepi juga bukan bentuk linier atau biasanya disebut dengan bentuk V dengan bentuk sudut lebih
kecil 180.
Bila ketiga pasang elektron pada atom pusat tersebut digunakan untuk berikatan dengan
atom yang lain, maka akan diperoleh molekul dengan rumus yang bentuk molekulnya adalah
segitiga sama sisi.
Rumus Lewis sangat berguna untuk mengikuti elektron ikatan.Sedangkan rumus empirik
dapat digunakan untuk menggambar jenis atom dan perbandingan numerik dalam suatu
molekul.Lain halnya untuk rumus molekul, rumus molekul digunakan untuk menggambar
jumlah atom yang nyata dalam molekul dan bukan hanya sebagai perbandingan saja.Rumus
struktur dapat menunjukkan struktur dari molekul yaitu muatan dari kaitan atom-atomnya.
(Fessenden & Fessenden. Kimia Organik. Hal : 13)

Hibridisasi merupakan pembastaran atau peleburan orbital-orbital atom dari tingkat energi
yang berbeda menjadi orbital-orbital yang setingkat. Hibridisasi sangat mengacu pada
penggabungan orbital-orbital atom yang sangat sederhana untuk menghasilkan orbital-orbiatal
atau hibrida yang baru. Orbital hibrida sp adalah satu dari dua orbital identik yang dihasilkan
dari hibridisasi satu orbital s dan satu orbital p. Dan kedua orbital ini akan membentuk sudut 180.
Orbital hibridisasi adalah satu dari tiga orbital identik yang dihasilkan dari hibridisasi satu
orbital identik yang di hasilkan Orbital hibridisasi adalah satu dari tiga orbital identik yang
dihasilkan dari hibridisasi satu orbital s dan dua orbital p. Sudut yang dibentuk oleh dua orbital
jenis ini adalah 120.
Orbital hibridisasi adalah satu dari empat sisi orbital identik yang dihasilkan dari hibridisasi
satu orbital s dan tiga orbital p. Sedangkan sudut yang dibentuk yakni sudut tetrahidral yaitu
109,5.
Orbital hibridisasi adalah satu dari lima orbital identik yang dihasilkan dari hibridisasi satu
orbital s, tiga orbital p, dan satu orbital d. Kelima orbital tersebut mengarah kesudut biramida
trigonal.
Serta orbital hibridisasi adalah satu dari enam orbital yang dihasilkan dari hibridisasi satu
orbital s, tiga orbital p, serta dua orbital d. Keenam orbital ini mengarah ke sudut-sudut
oktahedron beraturan. (Ralph Petrucci. Kimia Dasar.)
Orbital molekul ikatan mempunyai energi yang lebih rendah dibandingkan dengan energi
dari orbital atom yang terpisah, sedangkan orbital molekul anti ikatan mempunyai energi yang
lebih tinggi.
Gagasan dasar yang menyangkut orbital molekul dapat dilakukan dengan menggunakan
teori orbital molekul dalam ikatan kimia yang terdiri atas beberapa aturan. Aturan-aturan ini
menyangkut orbital molekul tertentu yang terjadi jika orbital atom bergabung dengan cara
pelambangan elektron dalam orbital tersebut. Caranya antara lain : jumlah orbital molekul yang
dihasilkan sama dengan orbital atom yang bergabung, dari dua orbital atom molekul yang terjadi
apabila dua orbital atom menjadi satu yakni molekul yang energinya rendah dan molekul
energinya tinggi (orbital anti ikatan), umumnya mencari orbital molekul yang energinya rendah,
jumlah elektron maksimum yang dapat mengisi orbital molekul tertentu adalah dua (prinsip
eksklusi Pauli), serta elektron memasuki orbital molekul yang energinya setara atau satu demi
satu sebelum berpasangan (aturan Hund).

Metode ikatan valensi memandang ikatan kovalen sebagi hasil tumpang tindih orbital dari
atom-atom yang terikat.Ikatan kovalen memberikan peluang elektron tertinggi (rapatan muatan
elektron) di daerah pertumpangtindihan.Beberapa molekul sederhana seperti dapat dijelaskan
melalui pertumpang tindihan orbital-orbital s atau orbital p. Tetapi dalam kebanyakkan kasus
orbital-orbital atom harus di hibridisasi yaitu orbital-orbital atom harus diganti dengan
seperangkat orbital hibrida yang sifatnya bergantung pada jumlah dan jenis orbital atom yang
sederhana pembentuknya.Bentuk geometris molekul ditentukan oleh sebaran ruang dari orbitalorbital yang terlibat dalm pembentukan ikatan atau secara garis besar berkenaan dengan sebaran
pasangan elektron dalam teori VSEPR.
Dua jenis pertumpang tindihan orbital dikemukakan dalam metode ikatan valensi.Salah satu
jenis ( ) melibatkan pertumpang tindihan orbital ujung-ujung disepanjang garis penghubung intiinti atom yang berikatan. Jenis lain ( ) terjadi karena pertumpangtindihan menyamping dari dua
orbital p.
Ikatan kovalen tunggal terdiri dari satu ikatan . Ikatan rangkap dua terdiri atas satu ikatan
dan satu ikatan . Sedangkan ikatan rangkap tiga mempunyai satu ikatan dan dua ikatan .
Gugus fungsi adalah kedudukan kereaktifan kimia dalam molekul.Ikatan phi atau suatu atom
elektronegatif atau bisa juga atom elektropositif dalam molekul organik dapat menuju kesuatu
reaksi kimia yang salah satu dari ini dianggap sebagai gugus fungsi atau bagian dari gugus
fungsi.

Senyawa dengan gugus fumgsi yang sama cenderung mengalami reaksi kimia yang

sama. Sebagai contoh masing-masing senyawa dalam deret berikut ini mengandung gugus
hidroksil (-OH). Semua senyawa ini termasuk dalam golongan senyawa yang disebut alkohol
dan semuanya mengalami reaksi yang sama.
mempunyai bentuk molekul tetrahidral, dimana keempat pasang elektron masing-masing
membentuk ikatan dengan atom lain, contohnya mempunyai bentuk piramidal segitiga jika
terdapat elektron sunyi, contohnya yang atom N terdapat pada puncak piramidal dan ketiga atom
H pada titik-titik alas segitiga. mempunyai sepasang elektron sunyi dengan struktur membentuk
V. mempunyai tiga pasang elektron sunyi dan dua pasang berikatan dengan atom lain
membentuk molekul linier. membentuk bipiramidal trigonal jika kelima pasang elektron
berikatan dengan atom lain, dan membentuk oktahidral jika keenam elektron berikatan dengan
atom lain. (Nuraini Syariffudin. Ikatan Molekul. Hal : 5.10)

V . Prosedur Percobaan
Untuk memperlihatkan interaksi molekul lebih jelas, gunakan pengikat yang
pendek.
Setelah selesai merangkai, cobalah untuk memutar ikatan yang ada dengan
memegang satu atom dan memutar atom yang lain.
Putarlah pada ikatan C-H atau C-C kemudian dapatkan konformasi yang paling
stabil dan yang tidak stabil.
Buatlah konformasi Newmann untuk kedua informasi yang telah didapat.
Buatlah model molekul untuk molekul-molekul yang lain.
Gambarkan model molekul serta rumus molekul, rumus bangun, sifat fisik dan
sifat kimia dari masing-masing senyawa.
VI. Alat dan Bahan
Satu set model molekul Allya dan Bacon yang terdiri dari:
Bola berwarna
Hitam
Putih
Merah
Biru
Kuning
Abu-abu

Lambang Atom
Karbon (C)
Hidrogen (H)
Oksigen (O)
Nitrogen (N)
Belerang (S)
Brom (Br)

Pengikat Berwarna
Putih

Lambang Ikatan
Ikatan tunggal (ikatan model pengisi

Abu-abu pendek

ruang)
Ikatan tunggal (ikatan antar atom

Abu-abu panjang

karbon)
Ikatan ganda

VII. Pertnyaan Prapraktek.


1. Apa yang dimaksud dengan senyawa hidrokarbon aromatic dan hidrokarbon alifatik?
Jawab :
Hidrokarbon aromatik,merupakan hidrokarbon yang rantainya mengandung cincin atom karbon
yang sangat stabil. Sedangkan

Hidrokarbon alifatik merupakan hidrokarbon yang memiliki rantai lurus, rantai bercabang atau
rantai melingkar.
2.Apa yang dimaksud dengan isomer optic,isomer molekul dan isomer geometri?
Jawab :
Isomer optic ialah SOMER OPTIK Ciri suatu senyawa yang mempunyai isomer optik yaitu
mempunyai atom C asimetris/ atom C kiral yaitu atom C yang mengikat empat gugus yang
berbeda. C kiral
Isomer struktur ialah isomer yang disebabkan perbedaan ikatan antar unsur-unsur penyusunnya
sehingga mempunyai bentuk yang berbeda.
Isomer geometri ialah sebuah bentuk stereoisomerisme yang menjelaskan orientasi gugus-gugus
fungsi dalam sebuah molekul. Secara umum, isomer seperti ini mempunyai ikatan rangkap yang
tidak dapat berputar.Selain itu, isomer ini juga muncul dikarenakan struktur cincin molekul yang
menyebabkan perputaran ikatan sangat terbatas.
3.Jelaskan mengenai teori hibridisasi!
Jawab:
Hibridisasi adalah sebuah konsep bersatunya orbital-orbital atom membentuk orbital hibrid yang
baru yang sesuai dengan penjelasan kualitatif sifat ikatan atom. Konsep orbital-orbital yang
terhibridisasi sangatlah berguna dalam menjelaskan bentuk orbital molekul dari sebuah molekul.
Konsep ini adalah bagian tak terpisahkan dari teori ikatan valensi.
VIII. SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Akana
Sifat Fisika : merupaka senyawa non polar, semakin banyak jumlah atom C, maka
titik didih semakin tinggi.
Siaft Kimia : dapat mengalami reaksi substitusi, dapat menglami reaksi eliminasi.
Alkena
Sifat Fisika : merupakan senyawa non polar, semakin banyak jumlah atom C, maka
titik didih semakin tinggi, ikatan rangkap menurunkan titik lelehnya.
Sifat Kimia : dapat mengalami reaksi adisi dan polimerisasi.
Alkuna
Sifat Fisika : merupakan senyawa non polar, semakin banyak jumlah atom C, maka
titik didih semakin tinggi, ikatan rangkap menurunkan titik lelehnya.
Sifat Kimia : kurang reaktif dibandingkan alkana pada suhu yang sama, dapat

mengalami reaksi adisi.

IX. PEMBAHASAN
Model molekul menggambarkan bentuk-bentuk molekul dalam ruang atau secara tiga
dimensi. Molekul merupakan zat yang tersusun atas dua atau lebih atom dari unsur-unsur yang
sama ataupun dari unsur-unsur yang berbeda. Molekul-molekul membentuk senyawa. Dalam
percobaan ini molekul-molekul senyawa yang ditampilkan dengan model molekul terdiri dari
senyawa hidrokarbon alifatik rantai tunggal, rangkap dua, rangkap tiga, senyawa hidrokarbon
siklik, aromatik, dan senyawa-senyawa gugus fungsi.
Senyawa hidrokarbon terdiri atas hidrogen dan karbon. Ikatan karbon dan hidrogen dapat
tersusun sebagai rantai terbuka ataupun rantai tertutup. Senyawa hidrokarbon yang rantainya
tersusun terbuka disebut sebagai hidrokarbon alifatik. Apabila ikatan karbon-karbon dalam
senyawa tersusun atas ikatan sigma atau ikatan tunggal, maka disebut alkana. Atom-atom
penyusun senyawa alkana dapat memutari ikatan sigma tersebut sedemikian sehingga
menghasilkan penataan yang beragam. Namun, kesemuanya itu merupakan senyawa-senyawa
yang sama walaupun atom-atomnya tertata dalam ruang secara berbeda.
Ikatan karbon-karbon dalam senyawa hidrokarbon juga ada yang tersusun tidak hanya
atas ikatan sigma, namun juga tersusun atas ikatan phi. Senyawa ini disebut alkena. Ikatan sigma
pada senyawa alkena tidak dapat dijadikan sumbu rotasi seperti ikatan sigma pada senyawa
alkana, tanpa harus mematahkan ikatan phi-nya. Energi yang dibutuhkan ikatan phi untuk putus
biasanya tidak tersedia. Karena keteggran ikatan inilah terbentuk isomer-isomer geometri. Dalam
percobaan ini, beberapa senyawa alkena dibuat model molekulnya. Namun, isomer-isomer
geometrinya tidak ikut dibuat.
Ikatan karbon-karbon juga dapat terdiri dari ikatan rangkap tiga. Molekul senyawa alkuna
berbentuk imear. Hal ini membuat senyawa ini tidak memiliki isomer geometris. Atom karbon
pada senyawa alkuna berhibridisasi sp. Dari hal ini, dapat diketahui karakterisasi s pada senyawa
ini. Alkuna memiliki karakter s sebesar . Karena orbital sp lebih memiliki karakter s, maka
elektron-elektron dalam orbital ini lebih dekat ke inti karbon daripada elektron-elektron sp dan
sp. Jadi, dalam suatu alkuna, karbon sp lebih elektronegatif daripada kebanyakan atom karbon
lain. Jadi, suatu ikatan C-H alkunil lebih polar daripad aikatan C-H alkena dan alkena.

Polaritas ikatan karbon alkunil-hidrogen mengakibatkan suatu senyawa alkuna dapat


melepaskan sebuah ion hidrogen pada basa kuat. Anion yang dihasilkan dinamakan ion asetilida.
Alkuna bukanlah suatu asam kuat. Keasaman alkuna lebih rendah daripada keasaman air namun
lebih asam dari ammonia.
Dalam percobaan ini juga dibuat model molekul untuk beberapa senyawa aromatik.
Senyawa aromatiknya terdiri dari benzena, naftalena, toluena, orto-dimetilbenzena, metadimetilbenzena, dan para-dimetilbenzena serta asam salisilat.
Senyawa aromatik merupakan senyawa yang distabilkan oleh delokalisasi ikatan phi.
Semua senyawa aromatik berantai siklik atau berantai tertutup. Namun, tidak semua senyawa
siklik merupakan senyawa aromatik. Terdapat beberapa kriteria yang menjadi syarat untuk
aromatisitas. Syarat tersebut meliputi: senyawa harus siklik, senyawa harus datar, tiap atom
cincin (cincin-cincin) harus memiliki orbital p tegak lurus pada bidang cincin, serta senyawa
tersebut harus memenuhi aturan Hickel. Jika tidak memenuhi kriteria tersebut, suatu senyawa
tidaklah merupakan senyawa aromatik karena tidak memungkinkan terjadi delokalisasi.

X. KESIMPULAN
1. Senyawa alkena dapat memiliki konformasi yang beragam.
2. Ketegaran ikatan rangkap dua membentuk isomer geometri pada senyawa alkena.
3. Sudut ikatan 180 membuat senyawa alkuna tidak memiliki isomer geometri.
4. Ikatan rangkap pada benzena mengalami resonansi.
5. Molekul berada dalam keadaan stabil bila gugus-gugus berada pada posisi terjauh.
XI. Pertanyaan Pascapraktek.
1. Bagaimana perbedaan panjang ikatan tunggal dengan ikatan ganda dua?
Jawab:
ikatan tunggal dengan hanya satu pasang elektron yang terbagi di antara dua atom. Ia biasanya
terdiri dari satuikatan sigma sedangkan
Ikatan yang berbagi dua pasangan elektron dinamakan ikatan rangkap dua
2. Jelaskan perbedaan model molekul benzene dengan ikatan sikloheksana!
Jawab:

molekul sikloheksana dengan menggunakan pengikat-abu-abu pendek. Selanjutnya membuat


berbagai konformasi pada model tersebut. Konformasi yang ekstrem stabil, yaitu konformasi
kurai, dengan menyusun agar C-1 berada pada bidang diatas cincin sedangkan C-4 berada
dibawah bidang cincin. Untuk menyempurnakan konformasi ini, kedudukan ke-12 atom
hidrogennya. Keempat atom H yang terletak pada dua atom C yang ber sebelahan tidak boleh
menghasilkan konformasi tindih.
3. Jelaskan betnuk molekul tetrahedral dan octahedral!
Tetrahedral: Tetra-menandakan empat, dan-hedral berhubungan

dengan

permukaan,

sehingga tetrahedral hampir secara harfiah berarti "empat permukaan." Ini terjadi ketika ada
empat ikatan semua pada satu atom pusat, tanpa tambahan unshared elektron pasangan. Sesuai
dengan VSEPR (tolakan pasangan elektron valensi teori-shell), sudut ikatan antara obligasi
elektron yangarccos (-1 / 3) = 109,47 . Contoh dari tetrahedral molekul adalah metana (CH 4).
Oktahedral: Octa-menandakan delapan, dan-hedral berhubungan dengan permukaan, sehingga
oktahedral hampir secara harfiah berarti "delapan permukaan." Sudut obligasi adalah 90
derajat.Contoh dari oktahedral molekul adalah heksafluorida sulfur (SF6)
4.

Jelaskan sudut sudut ikatan?Jenis ikatan dapat dijelaskan dalam hal hibridisasi orbital . Dalam
kasus asetilena setiap atom karbon memiliki dua sp orbital s dan dua p-orbital s. Dua orbital sp
yang linear dengan sudut 180 dan menempati x-axis ( sistem koordinat kartesian ). Porbital tegak lurus pada sumbu y dan sumbu-z. Ketika atom karbon pendekatan saling tumpang
tindih orbital sp untuk membentuk sp-sp ikatan sigma . Pada saat yang sama p z-orbital pendekatan
dan bersama-sama mereka membentuk pi-ikatan . Demikian juga, pasangan lainnya bentuk
orbital p ikatan Hasilnya adalah pembentukan satu ikatan sigma dan dua ikatan pi.Dalam teori
ikatan membungkuk ikatan tiga juga dapat dibentuk oleh tumpang tindih tiga sp 3 lobus tanpa
perlu memohon sebuah pi-ikatan.
Daftar Pustaka
Fessenden & Fessenden. 1982. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.
Petrucci, Ralph. 1982. Kimia Dasar dan terapan.Jakarta : Erlangga.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK PEMBUATAN SENYAWA ALKANA
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Alkana dan sikloalkana merupakan dua golongan senyawa yang tergolong
senyawa hidrokarbon jenuh dimana semua ikatannya tunggal tunggal.alkana
disebut juga senyawa alifatik atau alisiklik yang artinya adalah senyawa rantai
terbuka. Hidrokarbon jenuh yang paling sederhana merupakan suatu deret senyawa
yang memenuhi rumus umum CnH2n+2 yang dinamakan alkana atau paraffin.
karena sukar bereaksi dengan senyawa-senyawa lainnya. kadang-kadang alkana
juga disebut sebagai hidrokarbon batas, karena batas kejenuhan atom-atom H telah
tercapai. Setiap senyawa yang merupakan anggota alkana dinamakan suku. Suku
alkana ditentukan oleh jumlah atom C dalam senyawa tersebut. Suku pertama
alkana adalah metana, CH4. Dalam molekul metana satu atom C terikat pada 4
atom H. Metana dapat menurunkan senyawa alifatik lainnya.
Menurut Beyer pakar kimia organik yang hidup pada zaman kekule dan
sikloalkana . usaha untuk membuat sikloalkana yang lebih kecil dari siklopentana
dan lebih besar dari sikloheksana menemui jalan buntu. Pada saat itu sudah dapat
di buktikan bahwa senyawa organik adalah dalam bentuk tiga dimensi atau ruang.
Sudut ikatan pada alkana dengan tetrahedral normal adalah 109 0, maka beyer
mengemukakan konsep steric hidrance atau angel strain.maka untuk siklopropana
angel strain adalah 109 60 = 490, untuk siklobutana 190 untuk siklopentana 10 dan
sikloheksana

110 .selanjutnya

Bayer berpendapat bahwa struktur sikloalkana

dengan angel stain > 110 adalah tidak stabil . (Marham Sitorus . 2010)
1.2 Maksud tujuan
Maksud dan tujuan dari percobaan ini yaitu membuat mahasiswa mengetahui
serta mampu membuat senyawa alkana

serta dapat mengaplikasikan dalam

kehidupan sehari - hari.


1.3 Tujuan percobaan
Mahasiswa diharapkan mampu dan mengerti tentang :
1.

Cara membuat senyawa hidrokarbon alifatis jenuh ( alkana )

2.

Mengetahui sifat sifat dari bahan yang digunakan.

3.

Menuliskan reaksi dan mekanismenya


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Alkana

Hidrokarbon jenuh yang paling sederhana merupakan suatu deret senyawa


yang memenuhi rumus umum CnH2n+2 yang dinamakan alkana atau parafin. Suku
pertama

sampai

dengan

14

senyawa

alkana

dapat

kita

peroleh

dengan

mensubstitusikan harga n kedalam rumus tersebut, dengan n adalah jumlah atom C


yang ada. Hasil lengkapnya tertulis dalam Tabel 12.2 berikut.
Alkana merupakan senyawa hidrokarbon jenuh yang seluruh ikatannya
tunggal. Sebagai hidrokarbon jenuh, alkana memiliki jumlah atom H yang
maksimum. Alkana juga dinamakan parafin (dari parum affinis), karena sukar
bereaksi dengan senyawa-senyawa lainnya. Kadang-kadang alkana juga disebut
sebagai hidrokarbon batas, karena batas kejenuhan atom-atom H telah tercapai.
(Marwati, 2007)
Setiap senyawa yang merupakan anggota alkana dinamakan suku. Suku
alkana ditentukan oleh jumlah atom C dalam senyawa tersebut. Suku pertama
alkana adalah metana, CH4. Dalam molekul metana satu atom C terikat pada 4
atom H. Metana dapat menurunkan senyawa alifatik lainnya. Jika satu atom H pada
metana diganti dengan atom C, maka akan terbentuk suku kedua alkana, yaitu
etana. Berdasarkan tetravalensi atom C, maka atom C kedua akan mengikat 3 atom
H, sehingga rumus molekul etana adalah C2H6.
Alkana mempunyai titik didih yang rendah dibandingkan dengan senyawa
organik lain dengan berat molekul yang sama.Hal ini disebabkan karena daya tarik
menarik diantara molekul non polar lemah , sehingga proses pemisahan molekul
satu dengan yang lainnya ( sama dengan proses pembuatan dari fase cair ke fase
gas) relative memerlukan sedikit energi.
Bagaimana sifat-sifat senyawa karbon yang termasuk dalam satu deret
homolog ?. Perhatikan Tabel 12.2 di atas di mana terdapat salah satu sifat, yaitu
titik didih. Titik didih semakin tinggi jika massa molekul relatifnya makin besar. Hal
ini berarti bahwa pada suhu kamar, wujudnya akan berubah dari gas ke cair
kemudian padat. Kecenderungan sifat apa lagi yang dapat kita ramalkan ?. Dalam
kimia karbon adalah panting bagi kita untuk dapat menuliskan rumus molekul dan
rumus struktur. Rumus molekul menyatakan banyaknya atom setiap unsur yang ada
dalam suatu molekul. Sedangkan rumus struktur menggambarkan bagaimana atomatom itu terikat satu sama lain. Karena atom karbon merupakan tulang punggung
dari semua senyawa karbon, maka kita harus mampu menggambarkan rangka
karbon dalam suatu molekul senyawa karbon. Setiap atom karbon dikelilingi secara

tetrahedral oleh atom-atom yang terikat dalam gambaran tiga dimensi, tetapi
biasanya molekul-molekul senyawa karbon cukup digambarkan dengan tampilan
dua dimensi saja.
Penggambaran rantai struktur senyawa ini sebenarnya mudah. Bila rantai
karbonnya panjang atau bercabang, maka setelah kita buat rangka atom karbonnya
tinggal membubuhkan atom-atom hidrogen pada ikatan atom karbon yang masih
kosong. Contoh molekul butana. Pertama sekali, dibuat rangkanya yang terdiri dari
4

atom

karbon

yang

diletakkan

berdampingan.

Selanjutnya,

hidrogennya diletakkan pada masing-masing atom karbonnya.

atom-atom

Bentuk butana

dalam ruang sesunggunhya adalah seperti yang ditampilkan oleh Gambar 12.8

Kalau kita membuat molekul butana dengan molymod, terlihat bahwa rantai
karbonnya tidak benar-benar lurus seperti rumus trukturnya, karena atom karbon
tetrahedral mencegah gambaran rantai karbon lurus. Kebanyakan yang kita tuliskan
adalah rumus struktur yang lebih sederhana lagi yaitu:
CH3 - CH2 CH2 - CH3 atau CH3CH2CH2CH3
Jadi asal terbaca rantai karbonnya, itulah yang akan kita gunakan selanjutnya
asal selalu ingat bahwa sesungguhnya adalah gambaran ruang.
2.2 Reaksi Pembakaran pada alkana
Reaksi Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon akan menghasilkan gas
karbon dioksida dan air,sedangkan pembakaran tidak sempurna akan menghasilkan
gas karbon monoksida dan air.Terjadinya pembakaran sempurna atau tidak
sempurna tergantung pada perbandingan antara konsentrasi (kadar) senyawa
hidrokarbon dengan konsentrasi (kadar) oksigen.
2.3 Sifat dan struktur turunan Alkana
Alkana merupakan senyawa nonpolar, sehingga tidak larut dalam air makin
banyak atom C (rantainya makin panjang), maka titik didih makin tinggi pada

tekanan dan suhu biasa, CH 4 - C4H10 berwujud gas, C5H12 - C17H36 berwujud cair,
diatas C18H38 berwujud padat mudah mengalami reaksi subtitusi dengan atom-atom
halogen (F2, Cl2, Br2 atau I2 ) dapat mengalami oksidasi (reaksi pembakaran) .
Rumus umum dari homolog alkana adalah CnH2n + 2dimana n menyatakan
jumlah atom karbon .Alkana yang paling sederhana adalah metana dengan formula
CH4, sedangkan struktur tiga dimensi dari metana akan di bahas kemidian .Metana
dapat di hasilkan dan ditemukan pada berbagai tempat seperti :
1. Sebagi hasil dekomposisi ( perubahan struktur )dari bahan organik seperti daun
daun busuk di dasar rawa, sehingga gas metana dikenal pula sebagai gas rawa.
2. Di dalam arang batu bara , gas metana ini sering menimbulkan ledakan ledakan
pada daerah tambang, oleh karena itu gas metana juga dikenal sebagai gas
tambang.
3. Sebagai hasil tambang ,yang bercampur dengan sedikit etana, propana dan butana
juga termasuk sebagai gas alam .atau bercampur dengan minyak bumi pada
pertambangan minyak bumi.
4.

Pada proses pencernaan dalam tubuh manusia memungkinkan terbentuk gas


metana .

5. Pada atmosfer ,yupiter juga mengandung banyak metana .


2.3.1

Sifat fisik metana


Metana merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, sangat sukar larut
dalam air, mudah larut dalam alkohol .
2.3.2

Sifat kimia dan struktur molekul metana


Metana merupakan senyawa yang amat stabil,tidak dapat bereaksi dengan

asam,basa

dan

pereaksi

pereaksi

yang

umum

yang

terdapat

dalam

laboratorium,pereaksi mana dengan mudah dapat bereaksi dengan senyawa


hidrokarbon tak jenuh.reaksi oksidasi terhadap metana dapat berlangsung dengan
jalan pembakaran yang akan menampakan nyala warna kuning.bila di campur
dengan udarah pada konsentrasi tertentu (5,3-13,9%) dapat menimbulkan ledakan
ledakan dapat terjadi jika gas metana di campur dengan gas klorida dalam
perbandingan l:2 dan diberi sinar matahari,akan tetapi jika penambahan klorida
sedikit demi sedikit akan mejadi reaksi klorinasi berantai.apabila dipanaskan pada
uap temperatur 1000c dengan kata lisator nitrogen,akan membentuk karbon
monoksida dan hidrogen .
2.3

Tatanama alkana

Nyawa alkana termasuk dalam senyawa karbon. Ada beberapa senyawa


karbon yang sudah banyak dikenal diantaranya adalah alkana ,alkena, dan alkuna.
Namun pada pembahasan ini kita akan membahas tantang alkana khususnya tata
nama senyawa alkana menurut IUPAC. menurut IUPAC tata mana senyawa alkana
adalah sebagai berukut :
1.
2.
3.
4.

5.

Memilih dan menentukan rantai induk (yaitu rantai karbon yang memiliki rantai C
terpanjang).
Pemberian nomor pada rantai karbon tersebut dari ujung kanan hingga ujung kiri
atau sebaliknya.
Jika terdapat cabang maka usahakan agar cabang tersebut memperoleh nomor
yang kecil.
Menuliskan nama mulai dengan nama cabang terlebih dulu (jika terdapat cabang)
pemberian nama cabang tersebut diurutkan secara alfabet (jika terdapat lebih dari
satu cabang alkil), kemudian diakhiri dengan nama rantai karbon tersebut. Posisi
cabang dinyatakan dengan awalan angka, antara angka dengan anka dipisahkan
dengan tanda koma.Antara angka dengan abjad dipisahkan dengan tanda
penghubung.
Jika gugus cabang yang sama terletak pada atom karbon yang sama pula maka
penulisa n harus digabungkan dengan menggunakan awalan di untuk 2 gugus
cabang tri untuk 3 gugus cabang dan tetra untuk 4 gugus cabang.(Michael Purba .
2003 )
Alkana terbakar dalam oksigen membentuk karbon dioksida (jika reaksi
pembakarannya sempurna) dan air. Ini dikenal dengan reaksi oksidasi atau reaksi
pembakaran.
CH4(g) + O2(g)

CO2(g) +H2O (g)

Alkana bereaksi dengan khlorin dan fluorin dengan reaksi yang dinamakan
reaksi substitusi. Pada jenis reaksi ini, satu atau lebih atom khlorin atau fluorin
mengambil tempat satu atau lebih atom hidrogen.
CH4(g)+ Cl2 (g)

CH3Cl (g)

Reaksi ini mungkin berlanjut dengan substitusi hidrogen berikutnya jika


terdapat cukup khlorin. Karena masing-masing atom hidrogen yang tersisa diubah
dari CH3Cl dan diganti oleh atom khlorin, maka akan terbentuk campuran CH2Cl,
CHCl3, dan CCl4.
Rantai karbon berurutan yang terpanjang dalam suatu molekul ditentukan
sebagai rantai induk. Carilah namanya pada tabel suku pertama sampai dengan 14
senyawa alkana dan letakkan di bagian belakang. Kadang-kadang rumus struktur
itu tidak digambarkan dengan rantai karbon terpanjang dalam garis lurus.

Isomer bercabang diberi nama sebagai turunan rantai lurus di mana satu
atau beberapa atom hidrogen diganti dengan pecahan alkana. Pecahan alkana ini
disebut gugus alkil, biasa diberi tanda -R (dari kata radikal), dan mempunyai rumus
umum -CnH2n+1. Tentu kita dapat meneruskan untuk alkil-alkil lain, tetapi untuk
gugus bercabang tentu jarang yang berantai panjang. Letakkan nama gugus
cabang ini di depan nama rantai induk. Untuk menentukan cabang pada rantai
induk, rantai induk itu diberi diberi nomor dari kiri atau dari kanan sehingga cabang
pertama mempunyai nomor terkecil. Kadang-kadang terdapat lebih dari satu
cabang. Jika cabang-cabang itu sama, namanya tidak perlu disebut dua kali. Cukup
diberi awalan di- , kalau 3 cabang sama awalannya tri-, tetra untuk 4 cabang yang
sama dan seterusnya. Ingat setiap cabang diberi satu nomor, tidak peduli
cabangnya sama atau beda. Dibawah ini adalah contoh penamaan yang lain. Jika
cabang-cabang itu berbeda, maka urutan menyebutnya adalah menurut urutan
abjad huruf pertamanya, cabang etil disebut dulu dari cabang metil.
Dibawah ini adalah contoh cara menamakan senyawa berikut :

Menurut aturan nomor satu, rantai C terpanjang 5, jadi namanya pentana


dan kita letakkan di bagian belakang.Cabangnya adalah metal, Letakkan cabang itu
pada atom C nomor dua dari kanan (karena kalau dari kiri menjadi nomor 4).

2.4
1.

Ciri-ciri Alkana
Merupakan hidrokarbon jenuh (alkana rantai lurus dan siklo/cincin alkana)

2.

Disebut golongan parafin : affinitas kecil (sedikit gaya gabung)

3.

Sukar bereaksi

4.

C1 C4 : pada T dan P normal adalah gas

5.

C4 C17 : pada T dan P normal adalah cair

6.

C18 : pada T dan P normal adalah padat

7.

Titik didih makin tinggi : terhadap penambahan unsur C

8.

Jumlah atom C sama : yang bercabang mempunyai TD rendah

9.

Kelarutan : mudah larut dalam pelarut non polar

10. BJ naik dengan penambahan jumlah unsur C


11. Sumber utama gas alam dan petroleum.

BAB III
METODELOGI PERCOBAAN
3.1 Alat
1.

Pipet kapiler

2.

Tabung reaksi

3.

Motar stemper

4.

Api Bunsen

5.

Kapas
3.2 Bahan

1. NaOH
2. Natrium benzoat
3.3 Prosedur kerja
1.

Gerus 1 sendok makan NaOH dan 1 sendok Natrium Benzoat dalam mortar

2.

Setelah itu diambil masing - masing 1 sendok kemudian campuran dan masukkan
dalam tabung reaksi serta tutup dengan kapas.

3.

Panasilah tabung reaksi yang berisi bahan campuran sampai kaluar gelembung.

4.

Amati apakah ada cairan lain dan bagaimana baunya?

5.

Ulangi percobaan sekali lagi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan
Data Pengamatan :
Bahan

NaOH

dan

Cairan

Na

Benzoat

Bau

Cairan kental dan putih


tidak mengandung air Menyengat
(anhidrat)

Mula mula kita ambil satu sendok natrium benzoate ( C 6H5COOH ) dan dan
satu sendok NaOH kemudian di haluskan ,setelah di haluskan kemudian kita ambil
satu sendok campuran tersebut lalu dimasukkan dalam tabung reaksi kemudian di
panaskan . sebelum di panaskan campuran tersebut berwarna putih dan setelah di
panaskan ternyata campuran tersebut tidak mengalami perubahan warna namun
mengeluarkan bau yang sangat menyengat.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Menjelaskan seluruh
Alkana merupakan senyawa hidrokarbon jenuh yang seluruh ikatannya
tunggal. Sebagai hidrokarbon jenuh, alkana memiliki jumlah atom H yang
maksimum. Alkana juga dinamakan parafin (dari parum affinis), karena sukar
bereaksi dengan senyawa-senyawa lainnya. Kadang-kadang alkana juga disebut
sebagai hidrokarbon batas, karena batas kejenuhan atom-atom H telah tercapai.
Setiap senyawa yang merupakan anggota alkana dinamakan suku. Suku
alkana ditentukan oleh jumlah atom C dalam senyawa tersebut. Suku pertama
alkana adalah metana, CH4. Dalam molekul metana satu atom C terikat pada 4
atom H. Metana dapat menurunkan senyawa alifatik lainnya. Jika satu atom H pada
metana diganti dengan atom C, maka akan terbentuk suku kedua alkana, yaitu
etana.
Pada percobaan kali ini yang akan dilakukan adalah percobaan tentang cara
pembuatan senyawa alkana atau suatu senyawa jika direaksikan dengan senyawa

lain akan membentuk senyawa alkana. Pada reaksi ini yang melibatkan campuran
antara NaOH dan Natrium Benzoat, NaOH dan Natrium Asetat. Berikut adalah
penjelasan

lebih

lanjut

tentang

percobaan

ini

yaitu

Percobaan

pertama

mencampurkan NaOH dan Natrium Benzoat masing-masing satu sendok makan dan
diambil satu sendok spatel dari kedua campuran itu, kemudian dimasukkan ke
dalam tabung reaksi yang ditutupi oleh kapas. Setelah lama dipanaskan, senyawa
didalamnya

akan

mengalami

reaksi

oksidasi

atau

pembakaran

yang

akan

menghasilkan CO2 dan H2O. Berikut reaksi antara NaOH dan Natrium Benzoat :
C6H5COOH + NaOH H2O + C6H5COONa

4.2.2 Tingkat Keberhasilan


Tingkat keberhasilan yang didapatkan pada percobaan ini dapat dilihat pada
hasil pengamatan yaitu sebelum di panaskan campuran tersebut berwarna putih
dan setelah di panaskan ternyata campuran tersebut tidak mengalami perubahan
warna namun mengeluarkan bau yang sangat menyengat.ini membuktikan bahwa
tingkat keberhasilan dari percobaan ini sudah maksimal sesuai dengan teori yang
diperoleh.
4.2.3 Reaksi
Reaksi yang terjadi yaitu :
C6H5COOH + NaOH C6H5COONa
Dari

haril

reaksi

yang

kita

+ H2O
dapatkan,

dapat

kita

amati

tenyata :
1.

Cairan tidak mengalami perubahan warna namun mempunyai bauh yang sangat
menyengat.

2.

Bersifat Anhidrat
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa proses pembuatan


senyawa alkana sangat membutuhkan bahan bahan seperti C6H5COOH dan NaOH
atau suatu senyawa jika direaksikan dengan senyawa lain akan membentuk
senyawa alkana.Terlihat bahwa setelah direaksikannya natrium benzoat dan NaOH
dalam keadaan anhidrat ternyata reaksi yang terjadi sejalan dengan apa yang
diharapkan . Mengapa, karena pada saat

campuran di panaskan, campuran

tersebut mengeluarkan bau yang menyengat serta mengental dan berwarna putih
hal ini sesuai dengan sifat maupun ciri ciri dari alkana tersebut yaitu Alkana
merupakan senyawa nonpolar, sehingga tidak larut dalam air. Makin banyak atom C
(rantainya makin panjang), maka titik didih makin tinggi pada tekanan dan suhu
biasa, CH4 - C4H10 berwujud gas, C5H12 - C17H36 berwujud cair, diatas C18H38 berwujud
padat mudah mengalami reaksi subtitusi dengan atom-atom halogen (F 2, Cl2, Br2
atau I2 ) dapat mengalami oksidasi (reaksi pembakaran) .

5.2 Saran
Dari kesimpulan diatas dapat disarankan marilah kita belajar untuk mengenal
senyawa senyawa yang ada terutama senyawa alkana ,dan kalau boleh alatalat
dan bahan yang digunakan dalam praktikum perlu di perhatikan dan di sediakan
dengan baik dan maksimal agar tidak mengganggu proses berlangsungnya
praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
http://kimiaman.blogspot.com/2010/09/reaksi-pada-alkana.html .,29/1O/2011.
01.00.WIT
http://www.susilochem04.com.cc/2010/07/alkana.html ,31/10/2011. 03:00 WIT.
Marwati, Eli. 2007 . kimia dasar . Ditjen pendidikan nonformal dan informal
direktorat pendidikan kesehatan . jakarta
Purba, Michael . 2003 . kimia untuk SMA .
Sitorus, Marham. 2010. kimia organik umum. Graha Ilmu . Yogyakarta

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK
PERCOBAAN V

PEMBUATAN SENYAWA ALKANA

Disusun :
Nama: Yoga Kevan Rahmat
NIM

: 31109071

Kelas

: Farmasi 2B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2011
A. Judul
Pembuatan Senyawa Alkana
B. Tujuan
1. Cara pembuatan senyawa hidrokarbon alifatis jenuh (alkana)
2. Mengetahui sifat-sifat dari bahan yang digunakan
3. Menuliskan reaksi dan mekanismenya
C. Dasar Teori
Alkana merupakan senyawa hidrokarbon jenuh yang seluruh ikatannya
tunggal. Sebagai hidrokarbon jenuh, alkana memiliki jumlah atom H yang

maksimum. Alkana juga dinamakan parafin (dari parum affinis), karena sukar
bereaksi dengan senyawa-senyawa lainnya. Kadang-kadang alkana juga disebut
sebagai hidrokarbon batas, karena batas kejenuhan atom-atom H telah tercapai.
Setiap senyawa yang merupakan anggota alkana dinamakan suku. Suku
alkana ditentukan oleh jumlah atom C dalam senyawa tersebut. Suku pertama
alkana adalah metana, CH4. Dalam molekul metana satu atom C terikat pada 4
atom H. Metana dapat menurunkan senyawa alifatik lainnya. Jika satu atom H pada
metana diganti dengan atom C, maka akan terbentuk suku kedua alkana, yaitu
etana. Berdasarkan tetravalensi atom C, maka atom C kedua akan mengikat 3 atom
H, sehingga rumus molekul etana adalah C2H6.
http://www.susilochem04.co.cc/2010/07/alkana.html
Reaksi pada alkana
Reaksi Pembakaran
Reaksi Pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon akan menghasilkan gas karbon
dioksida dan air, sedangkan pembakaran tidak sempurna akan menghasilkan gas
karbon monoksida dan air. Terjadinya pembakaran sempurna atau tidak sempurna
tergantung pada perbandingan antara konsentrasi (kadar) senyawa hidrokarbon
dengan konsentrasi (kadar) oksigen.
http://kimiaman.blogspot.com/2010/09/reaksi-dalam-alkana-alkena-dan-alkuna.html
Sifat-sifat alkana
Sifat-sifat Alkana
1. merupakan senyawa nonpolar, sehingga tidak larut dalam air
2. makin banyak atom C (rantainya makin panjang), maka titik didih makin
tinggi
3. pada tekanan dan suhu biasa, CH

- C 4 H 10 berwujud gas, C 5 H 12 - C 17 H 36

berwujud cair, diatas C 18 H 38 berwujud padat


4. mudah mengalami reaksi subtitusi dengan atom-atom halogen (F 2, Cl 2, Br
atau I 2 )

5. dapat mengalami oksidasi (reaksi pembakaran)


http://sahri.ohlog.com/alkana.oh84961.html
Tatanama alkana
nyawa alkana termasuk dalam senyawa karbon. Ada beberapa senyawa
karbon yang sudah banyak dikenal diantarranya adalah alkana alkena dan alkuna.
Namun pada bacaan kali ini saya akan membahas tantang alkana khususnya tata
nama senyawa alkana menurut IUPAC. enurut IUPAC tata mana senyawa alkana
adalah

sebagai

berukut:

1. memilih dan menentukan rantai induk (yaitu rantai karbon yang memiliki rantai c
terpanjang).
2. Pemberian nomor pada rantai karbon tersebut dari ujung kanan hingga ujung kiri
atau

sebaliknya.

3. Jika terdapat cabang maka usahakan agar cabang tersebut memperoleh nomor
yang

kecil.

4. Menuliskan nama mulai dengan nama cabang terlebih dulu (jika terdapat cabang)
pemberian nama cabang tersebut diurutkan secara alfabet (jika terdapat lebih dari
satu cabang alkil), kemudian diakhiri dengan nama rantai karbon tersebut. Posisi
cabang dinyatakan dengan awalan angka, antara angka dengan anka dipisahkan
dengan tanda koma (,). Antara angka dengan abjad dipisahkan dengan tanda
penghubung.
5. Jika gugus cabang yang sama terletak pada atom karbon yang sama pula maka
penulisan harus digabungkan dengan menggunakan awalan di untuk 2 gugus
cabang tri untuk 3 gugus cabang dan tetra untuk 4 gugus cabang.
http://sahri.ohlog.com/alkana.oh84961.html

Reaksi-reaksi alkana
Alkana terbakar dalam oksigen membentuk karbon dioksida (jika reaksi
pembakarannya sempurna) dan air. Ini dikenal dengan reaksi oksidasi atau reaksi
pembakaran.
CH4(g) +O2(g) CO2(g) +H2O (g)
Alkana bereaksi dengan khlorin dan fluorin dengan reaksi yang dinamakan reaksi
substitusi. Pada jenis reaksi ini, satu atau lebih atom khlorin atau fluorin mengambil
tempat satu atau lebih atom hidrogen.

CH4(g)+ Cl2 (g) > CH3Cl (g)


Reaksi ini mungkin berlanjut dengan substitusi hidrogen berikutnya jika terdapat
cukup khlorin. Karena masing-masing atom hidrogen yang tersisa diubah dari CH3Cl
dan diganti oleh atom khlorin, maka akan terbentuk campuran CH 2Cl, CHCl3, dan
CCl4.
http://yoad.wordpress.com/2009/02/21/alkana/
D. Alat dan Bahan
a. Alat

: 1. Pipet kapiler
2. Tabung reaksi
3. Motar
4. Api Bunsen
5. Kapas

b. Bahan

: 1. Natrium Benzoat
2. Natrium Asetat
3. NaOH

E. Prosedur
1 sendok NaOH dan 1 sendok Natrium Benzoat gerus

Tutup dengan kapas

1 sendok campuran

Panaskan, amati

1 sendok NaOH dan 1 sendok Natrium Asetat gerus

Tutup dengan kapas

1 sendok campuran

Panaskan, amati

F. Data Pengamatan
Zat
NaOH dan Na Benzoat
NaOH dan Na Asetat

Cairan
Cairan kental dan putih
Terdapat larutan bening

Bau
Menyengat
Menyengat

G. Pembahasan
Pada percobaan kali ini yang akan dilakukan adalah percobaan tentang cara
pembuatan senyawa alkana atau suatu senyawa jika direaksikan dengan senyawa
lain akan membentuk senyawa alkana. Pada reaksi ini yang melibatkan campuran
antara NaOH dan Natrium Benzoat, NaOH dan Natrium Asetat. Berikut adalah
penjelasan lebih lanjut tentang percobaan ini :
1. Percobaan pertama mencampurkan NaOH dan Natrium Benzoat masing-masing
satu sendok makan dan diambil satu sendok spatel dari kedua campuran itu,
kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang ditutupi oleh kapas. Setelah
lama dipanaskan, senyawa didalamnya akan mengalami reaksi oksidasi atau
pembakaran yang akan menghasilkan CO 2 dan H2O. Berikut reaksi antara NaOH dan
Natrium Benzoat :
C6H5COOH + NaOH H2O + C6H5COONa

2. Pada percobaan kedua, hanya mengganti Natrium Benzoat dengan Natrium


Asetat, dari percobaan ini akan didapat suatu cairan putih yang jika dipanaskan dan
akan terdapat cairan bening diatasnya. Hal itu dikarenakan adanya reaksi oksidasi
atau reaksi pembakaran, yang akan menghasilkan CO 2 dan H2O, air benig yang
terdapat didalamnya adalah hasil dari H 2O yang terkumpul dari reaksi tersebut, dan

akan menghasilkan senyawa alkana yaitu CH 4 atau metana. Metana ini adalah suatu
senyawa alkana paling sederhana. Berikut reaksinya :
CH3COONa + NaOH Na2CO3 + CH4 senyawa CH4 adalah gugus alkana, yaitu
metana.
H. Simpulan
a. Alkana merupakan senyawa hidrokarbon jenuh yang seluruh ikatannya
tunggal.
b. Alkana juga dinamakan parafin (dari parum affinis), karena sukar bereaksi
dengan senyawa-senyawa lainnya.
c. Alkana terbakar dalam oksigen membentuk karbon dioksida (jika reaksi
pembakarannya sempurna) dan air. Ini dikenal dengan reaksi oksidasi atau
reaksi pembakaran.
I. Daftar Pustaka
http://www.susilochem04.co.cc/2010/07/alkana.html
diakses tanggal 09/05/11 17:11 wib
http://kimiaman.blogspot.com/2010/09/reaksi-dalam-alkana-alkena-dan-alkuna.html
diakses tanggal 09/05/11 17:15 wib
http://sahri.ohlog.com/alkana.oh84961.html
diakses tanggal 09/05/11 17:21 wib
http://sahri.ohlog.com/alkana.oh84961.html
diakses tanggal 09/05/11 17:26 wib
http://yoad.wordpress.com/2009/02/21/alkana/
diakses tanggal 09/05/11 17:34 wib
Dicatat oleh Yoga Kevan Rahmat di Senin, Mei 23, 2011
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
LAPORAN PRAKTIKUM EKSTRAKSI PELARUT
LAPORAN PRAKTIKUM
PRAKTIKUM DASAR-DASAR PEMISAHAN ANALITIK
PERCOBAAN II
EKSTRAKSI PELARUT
OLEH:

NAMA : YELLI RAHMAYANTI


STAMBUK : A1C4 09 005
KELOMPOK : V (LIMA)
ASISTEN PEMBIMBING : MUH. EFENDI
LABORATORIUM PENGEMBANGAN UNIT KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
EKSTRAKSI PELARUT
A. Latar Belakang
Pada dewasa ini, pemisahan dengan menggunakan ekstraksi semakin sering
digunakan dan semakin populer. Alasan utamanya adalah pemisahan ini dapat
dilakukan baik dalam tingkat makro ataupun mikro. Prinsip metode ini didasarkan
pada distribusi zat pelarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang
tidak saling bercampur , seperti benzena, karbon tetraklorida atau kloroform.
Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbada dalam
kedua fase pelarut.
Dalam ekstraksi, pelarut umum dipakai adalah air dan pelarut organik lain seperti
CHCl3, eter atau pentana. Garam anorganik, asam-asam dan basa-basa yang dapat
larut dalam air bisa dipisahkan dengan baik melalui ekstraksi ke dalam air dari
pelarut yang kurang polar. Ekstraksi lebih efisien bila dilakukan berulang kali
dengan jumlah pelarut yang lebih kecil daripada jumlah pelarutnya banyak tetapi
ekstraksinya hanya sekali.
Salah satu contoh pemisahan dengan menggunakan metode ekstraksi yaitu
pemisahan minyak atsiri dari biji pala. Pertama-tama yang dilakukan adalah
mengambil kandungan minyak lemak dari bijinya, baru kemudian dilakukan
pemurnian untuk mendapatkan minyak esensial atsirinya saja.
Tujuan
Tujuan dilakukan percobaan ini adalah sebagai berikut :
Dapat melakukan pemisahan dengan cara ekstraksi pelarut.
Dapat menentukan tetapan distribusi (KD) asam asetat dalam sistem organik-cair.
C. Prinsip Percobaan
Percobaan ini didasarkan pada proses pemisahan dengan teknik esktraksi pelarut
dan efisien ekstraksi dari dua senyawa atau lebih yang dipisahkan berdasarkan
perbedaan koefisien distribusinya (KD).
Teori
Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran
berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling
bercampur. Ekstraksi pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan sejmlah
gugus yang diinginkan dan mungkin merupakan gugus pengganggu dalam analisis
secara keseluruhan. Kadang-kadang gugus-gugs pengganggu ini diekstraksi secara
selektif (Eby,2009).
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah
zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat

terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan
padat dan cair (misalnyabahan alami)tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan
dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya
saja,karena komponennya saling bercampur secara sangat erat, peka terhadap
panas,beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang
terlalu rendah (Rahayu, 2009).
Ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan dengan cara dingin dan cara panas. Jenisjenis ekstraksi tersebut sebagai berikut:
Cara Dingin
Maserasi, adalah ekstraksi menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengadukan
pada suhu kamar. Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metoda
pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetic berarti dilakuakn
pengadukan kontinyu. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan
pelarutsetelah dilakukan ekstraksi maserat pertama dan seterusnya.
Perkolasi, adalah ekstraksi pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang
umumnya pada suhu ruang. Prosesnya didahului dengan pengembangan bahan,
tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak) secara
terus menerus samapai diperoleh ekstrak perkolat yang jumlahnya 1-5 kali bahan.
Cara Panas
Reflux, adalah ekstraksi pelarut pada temperature didihnya selamawaktu tertentu
dan jumlah pelarut terbatas yang relative konstan dengan adanya pendingin balik
Soxhlet, adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru menggunakan alat
khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relative konstan
dengan adanya pendingin balik.
Digesi, adalahmaserasi kinetic pada temperature lebih tinggi dari temperature
kamar sekitar 40-50 C
Destilasi uap, adalah ekstraksi zat kandungan menguap dari bahan dengan uap air
berdasarkan peristiwa tekanan parsial zat kandungan menguap dengan fase uap air
dari ketel secara kontinyu sampai sempurna dan diakhiri dengan kondensasi fse uap
campuran menjadi destilat air bersama kandungan yang memisah sempurna atau
sebagian.
Infuse, adalah ekstraksi pelarut air pada temperature penangas air 96-98 C selama
15-20 menit (Kurnia, 2010).
Ekstraksi cair-cair merupakan suatu cara, pemisahan komponen yang larut dalam
zat cair dengan solven yang tak bercampur dengan zat cair tersebut tetapi dapat
melarutkan komponen yang dimaksud dan bersifat selektif (Sajima, 2007).
Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari
padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik
karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa
mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika
bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi
berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun
sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya (Utami,
2011).
Faktor-faktor yang berpengaruh pada proses leaching adalah: jumlah konstituen
(solute) dan distribusinya dalam padatan, sifat padatan, dan ukuran partikel.
Mekanisme proses leaching dimulai dari perpindahan solven dari larutan ke
permukaan solid (adsorpsi), diikuti dengan difusi solven ke dalam solid dan
pelarutan solut oleh solven, kemudian difusi ikatan solut-solven ke permukaan solid,

dan desorpsi campuran solut-solven dari permukaan solid kedalam badan pelarut.
Pada umumnya perpindahan solven ke permukaan terjadi sangat cepat di mana
berlangsung pada saat terjadi kontak antara solid dan solvent, sehingga kecepatan
difusi campuran solut-solven ke permukaan solid merupakan tahapan yang
mengontrol keseluruhan proses leaching. Kecepatan difusi ini tergantung pada
beberapa faktor yaitu : temperatur, luas permukaan partikel, pelarut, perbandingan
solut dan solven, kecepatan dan lama pengadukan (Pramudono, 2008)
Metode Praktikum
Alat dan Bahan yang Digunakan
Alat
Corong pisah 100 ml : 1 buah
Gelas piala 50 ml : 1 buah
Gelas ukur 50 ml : 1 buah
Pipet skala 25 ml : 1 buah
Karet pengisap : 1 buah
Buret asam : 1 buah
Statif + klem : 1 set
Erlenmeyer 250 ml : 2 buah
Botol semprot : 1 buah
Bahan
Aquadest
Asam asetat
Pelarut organik (CHCl3)
Larutan NaOH 1 Dan
Indikator phenolptalein
Prosedur Kerja
Penentuan Konsentrasi asam Asetat total
Esktraksi Asam Asetat dengan Pelarut Organik dan Penentuan Konsentrasi Asam
Asetat sisa
Untuk 1x ekstraksi
Untuk 2x ekstraksi
Hasil Pengamatan
Data Hasil Pengamatan
Penentuan konsentrasi asam asetat total
No Perlakuan Pengamatan
1. 20 ml + asam asetat encer + 3 tetes indikator PP Larutan bening
2. Dititrasi dengan NaOH 1 Dan Larutan berwarna ungu
Ekstraksi asam asetat dengan pelarut organik dan penentuan konsentrasi asam
asetat sisa
Untuk 1x ekstraksi
No Perlakuan Pengamatan
1. 20 ml asam asetat + 20 ml CHCl3 Terbentuk dua lapisan
2. Dikocok dan didiamkan Terbentuk dua lapisan
3. Dipisahkan lapisan air Lapisan air berwarna keruh
4. 100 ml lapisan air + indikator PP Larutan berwarna bening
5. Dititrasi dengan NaOH 1 Dan Larutan berwarna ungu

Untuk 2x ekstraksi
No Perlakuan Pengamatan
1. 20 ml asam asetat + 20 ml CHCl3 Terbentuk dua lapisan
2. Dikocok dan didiamkan Terbentuk dua lapisan
3. Dipisahkan lapisan air Lapisan air berwarna keruh
4. Lapisan air + 10 ml CHCl3 Larutan berwarna keruh
5. Dipisahkan lapisan air Lapisan air berwarna keruh
6. 100 ml lapisan air yang telah diencerkan + indikator PP Larutan berwarna bening
7. Dititrasi dengan NaOH 1 Dan Larutan berwarna ungu
Reaksi
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
Perhitungan
Penentuan konsentrasi asam asetat total
Volume asam asetat = 20 ml
Volume NaOH = 33,5 ml
N NaOH = 1 N
V1 . N1 = V2 . N2
20 ml . N1 = 33,5 ml . 1 N
20 ml . N1 = 33,5 mek
N1 = (33,5 mek)/(20 ml)
= 1, 675 N
gram asam asetat = mol x Mr
= N x V x Mr
= 33,5 x 60
= 2010 mg
= 2,01 g
Ekstraksi asam asetat dengan pelarut organik dan penentuan konsentrasi asam
asetat sisa
Penentuan konsentrasi dan massa asam asetat sisa
Untuk 1x ekstraksi
Volume asam asetat = 20 ml
Volume NaOH = 27,5 ml
N NaOH = 1 N

V1 . N1 = V2 . N2
20 ml . N1 = 27,5 ml . 1 N
20 ml . N1 = 27,5 mek
N1 = (27,5 mek)/(20 ml)
= 1, 375 N
Mol asam asetat = N x V
= 1,375 x 20
= 27,5 mmol
gram asam asetat = mol x Mr

= 27,5 x 60
= 1650 mg
= 1,65 g
Untuk 2x ekstraksi
Volume asam asetat = 20 ml
Volume NaOH = 23 ml
N NaOH = 1 N
V1 . N1 = V2 . N2
20 ml . N1 = 23 ml . 1 N
20 ml . N1 = 23 mek
N1 = (23 mek)/(20 ml)
= 1, 35 N
Mol asam asetat = N x V
= 1,35 x 20
= 23 mmol
gram asam asetat = mol x Mr
= 23 x 60
= 1380 mg
= 1,38 g
Penentuan KD dan %E
Untuk 1x ekstraksi
KD = ((W0-W1)/V2)/( W1/V1)
= ((2,01-1,65)/20)/(1,65/20)
= 0,36/1,65 = 0,218
% E = (massa zat yang terekstraksi)/(massazat yang diekastraksi) x100%
= (2,01-1,65)/2,01 x100%
= 0,36/2,01 x100%
= 17,91 %
Untuk 2x ekstraksi
KD = ((W0-W1)/V2)/(W1/V1)
= ((2,01-1,38)/10)/(1,38/20)
= 0,63/0,69 = 0,913
% E = (massa zat yang terekstraksi)/(massa zat yang diekstraksi) x100%
= (2,01-1,38)/2,01 x100%
= 0,63/2,01 x100%
= 31,34 %

Pembahasan
Ekstraksi atau penyarian merupakan proses pemisahan dimana suatu zat terbagi
dalam dua pelarut yang tidak bercampur. Selain itu ekstraksi juga merupakan suatu
proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut
yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa
melarutkan material lainnya.
Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang mempunyai daya melarutkan

yang tinggi terhadap zat yang diekstraksi. Daya melarutkan yang tinggi ini
berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran senyawa yang diekstraksi.
Terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa polar larut dalam pelarut polar dan
sebaliknya senyawa non polar larut dalam pelarut non polar atau yang lebih dikenal
dengan like dissolves like.
Berdasarkan hukum Nerst, jika suatu larutan (dalam air) mengandung zat organik A
dibiarkan bersentuhan dengan pelarut organik yang tidak bercampur dengan air,
maka zat A akan terdistribusi baik ke dalam lapisan air (fasa air) dan lapisan organik
(fasa organik). Dimana pada saat kesetimbangan terjadi, perbandingan konsentrasi
zat terlarut A di dalam kedua fasa itu dinyatakan sebagai nilai Kd atau koefisien
distribusi (partisi) dengan perbadingan konsentrasi zat terlarut A di dalam kedua
fasa organik-air tersebut adalah pada temperatur tetap.
Ekstraksi-cair-cair tak kontinyu atau dapat disebut juga ekstraksi bertahap.
Ekstraksi bertahap baik digunakan jika perbandingan distribusi besar. Alat pemisah
yang digunakan pada ekstraksi bertahap adalah corong pemisah. Corong pemisah
berfungsi memisahkan dua zat yang tidak saling melarutkan.
Pada percobaan ini, terlebih dahulu menentukan konsentrasi asam asetat total.
Pada penentuan konsentrasi asam asetat total diawali dengan menitrasi larutan
asam asetat encer yang telah ditambahkan 3 tetes indikator phenolptalein dengan
larutan baku NaOH 1 N. Titrasi ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar massa
asam asetat total yang akan terdistribusi pada pelarut organik dan air. Pada saat
dititrasi terlihat perubahan warna pada asam asetat menjadi warna ungu. Hal ini
menandakan bahwa telah mencapai titik akhir titrasi. Titrasi ini dilakukan untuk
mengetahui konsentrasi dan massa asam asetat yang akan diekstraksikan dengan
pelarut organic. Dari hasil percobaan diperoleh konsentrasi asam asetat total
sebesar 1,675 N dan massa asam asetat total sebesar 2,01 gram.
Selanjutnya, mengekstraksi asam asetat dengan pelarut organik dan penentuan
konsentrasi asam asetat sisa. Pada ekstraksi asam asetat dengan pelarut organik,
dalam hal ini pelarut organik yang digunakan adalah kloroform (CHCl3) diawali
dengan memasukkan asam asetat yang telah diencerkan ke dalam corong pemisah
dan menambahkan pelarut kloroform ke dalamnya.Kemudian dilakukan pengocokan
sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua
lapisan. Fungsi pengocokan disini untuk membesar luas permukaan sehingga dapat
membantu proses distribusi asam asetat pada kedua fasa.
Dalam perlakuan ini, terbentuk dua lapisan dalam campuran tersebut, Dimana
pelarut air berada di lapisan bawah sedangkan kloroform berada di lapisan atas. Hal
ini disebabkan oleh perbedaan sifat polaritas dari kedua larutan, dimana air sebagai
pelarut polar sedangkan kloroform (CHCL3) bersifat sebagai pelarut non polar.
Selain itu, disebabkan oleh massa jenis air lebih besar dibanding dengan kloroform
sehingga menyebabkan lapisan air berada pada lapisan bawah. Setelah terbentuk
dua lapisan, campuran dipisahkan untuk dianalisis kandungan konsentrasi zat
terlarut tersebut.
Pada proses ekstraksi dilakukan dua kali ekstraksi. Proses ini dilakukan untuk
mengetahui seberapa banyak zat yang terekstraksi pada fasa (pelarut) organik.
Kesempurnaan ekstraksi bergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan.
Semakin sering dilakukan ekstraksi, maka semakin banyak zat terlarut terdistribusi
pada salah satu pelarut dan semakin sempurna proses pemisahannya. Jumlah
pelarut yang digunakan untuk tiap kali mengekstraksi juga sedikit, sehingga ketika
ditotal jumlah pelarut untuk ekstraksi tersebut tidak terlalu besar agar dicapai
kesempurnaan ekstraksi. Hasil yang baik diperoleh dengan jumlah ekstraksi yang

relatif besar dengan jumlah pelarut yang kecil.


Pada satu kali ekstraksi, diperoleh besar konsentrasi asam asetat sisa sebesar 1,375
N, koefisien distribusi(KD) sebesar 0,218, dan persen terekstraksi (%E) sebesar
17,91 % Pada dua kali ekstraksi, diperoleh besar konsentrasi asam asetat sisa,
koefisien distribusi (KD), dan persen terekstraksi (%E) berturut adalah 1,35 N,
0,913, dan 31,34 %. Dari data tersebut terlihat bahwa konsentrasi asam asetat sisa,
koefisien distribusi (KD), perbandingan distribusi (D), dan persen terekstraksi (%E)
lebih besar pada saat dua kali ekstraksi. Hal ini menunjukkan bahwa kemurnian
larutan yang dipisahkan dengan dua kali ekstraksi lebih tinggi. Berdasarkan teori,
jika harga Kd besar maka solut cenderung terdistribusi ke dalam pelarut organik
dibanding dalam air. Olehnya itu, dari percobaan dapat dikatakan bahwa asam
asetat lebih banyak terdistribusi dalam kloroform dibanding dalam air. Hal ini
disebabkan oleh sifat kloroform yang hampir sama dengan sifat asam asetat
dibanding dengan sifat air dengan asam asetat . asam asetat bersifat semipolar, air
bersifat polar dan kloroform yang bersifat semipolar yang telah hampir nonpolar
(sifat transisi antara semipolar dengan polar). Olehnya itu, asam asetat lebih
cenderung terdistribusi ke dalam kloroform dibanding ke dalam air.
Simpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :
Ekstraksi atau penyarian merupakan proses pemisahan dimana suatu zat terbagi
dalam dua pelarut yang tidak bercampur.
Nilai koefisien distribusi asam asetat dalam sistem organik-air untuk 1x ekstraksi
sebesar 0,218sedangkan untuk 2x ekstraksi sebesar 0,913.

DAFTAR PUSTAKA
Eby, 2009,Ekstraksi Pelarut, http://eby.blogspot.com, [ 9 Mei 2011]
Kurnia, 2010, Ekstraksi Pelarut, www.besmile.com//http://ekstraksi-pelarut.htm. [ 9
Mei 2011]
Pramudono, 2008, Ekstraksi Kontinyu dengan Simulasi Batch Tiga Tahap Aliran
Lawan Arah : Pengambilan Minyak Biji Alpukat Menggunakan Pelarut n-Hexane dan
Isopropil Alkohol, Jurnal Reaktor, VoL 12, No 1, Hal 37-38.
Rahayu, 2009, Ekstraksi, www.chem-is-try.com.//situskimiaindonesia.htm. [ 9 Mei
2011]
Sajima, 2007, Pembuatan Larutan Umpan Proses Pengendapan Zr(OH)4
Menggunakan Metode Re-ekstraksi, Jurnal Seminar Nasional III, Vol 1, No 2, Hal 2.
Utami, 2011,Ekstraksi, www.majarimagazine.com. [ 9 Mei 2011]

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Teh adalah minuman yang dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Teh memiliki
kandungan kafein didalamnya. Kafein memiliki efek positif dan negatif. Efek positifnya adalah
dapat bertindak sebagai antioksidan dalam tubuh. Akan tetapi, jika kandungan kafein dalam teh
terlalu banyak, kafein dapat bertindak sebagai racun dalam tubuh. Sebab itu, kadar kafein perlu
diketahui dengan pasti di dalam teh. Penentuan kadar kafein ini dapat menggunakan cara
ekstraksi.
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan membagi sebuah
zat terlarut diantara dua pelarut. Hal ini dilakukan untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu
pelarut ke pelarut lain. Ekstraksi sangat berperan penting dalam bidang industri untuk
penentuan kadar kafein dalam produksi teh kering atau pun bahan lain yang mengandung
kafein.
1.2 Tujuan
Setelah melakukan percobaan mahasiswa dapat:

Menjelaskan konsep dan jenis ekstraksi


Menjelaskan tujuan penggaraman dan pengeringan ekstrak

BAB II
DASAR TEORI
Kelarutan Senyawa dalam suau pelarut dinyatakan sebagai jumlah gram zat terlarut
dalam 100 mL pelarut pada 25 0C. Senyawa akan larut dalam suatu pelarut jika kekuatan atraktif
antara kedua molekul (zat terlarut dan pelarut) adalah sesuai atau disukai. Yang polar larut dalam
pelarut polar, dan sebaliknya. Jadi sifat kepolaran senyawa non polar terjadi karena perbedaan
keelektronegatifannya kecil atau sama, misalnya C-C, C-H ; sedangkan senyawa polar terdapat
perbedaan keelektronegatifan besar seperti pada C-O, C-N, C-X. Demikian pula diantara

molekul yang mengandung O-H, atau N-H akan terjadi ikatan hidrogen (antar molekul) sangat
menentukan kelarutan
Ekstraksi adalah metoda pemisahan yang melibatkan proses pemindahan satu atau lebih
senyawa dari satu fasa ke fasa lain dan didasarkan kepada prinsip kelarutan. Jika kedua fasa
tersebut adalah zat cair yang tidak saling bercampur, disebut ekstraksi cair-cair. Dalam sistem ini
satu atau lebih senyawa berpartisipasi di antara kedua pelarut, yaitu sebagian kecil senyawa akan
berada dalam salah satu pelarut dan sebagian besar lainnya akan berada dalam pelarut yang
kedua. Partisi adalah keadaan kesetimbangan keberhasilan pemisahan sangat tergantung pada
perbedaan kelarutan senyawa tersebut dalam kedua pelarut. Secara umum prinsip pemisahannya
adalah senyawa tersebut kurang larut dalam pelarut yang satu dan sangat larut di pelarut lainnya.
Air banyak dipakai dalam sistem ekstraksi cair-cair senyawa organik karena banyak senyawa
organik yang bersifat ion atau sangat polar yang cukup larut dalam air Pelarut lainnya adalah
pelarut organik yang tidak bercampur dengan air (yaitu bukan dari golongan alkohol dan aseton).
Dalam sistem ekstraksi ini akan dihasilkan dua fasa yaitu fasa air (aqueos) dan fasa organik.
Selain syarat kelarutan yang harus berbeda jauh perbedaannya di kedua pelarut tersebut, juga
syarat lain adalah pelarut organik harus mempunyai titik didih jauh lebih rendah dari senyawa
terekstraksi (biasanya dibawah 100 0C), tidak mahal dan tidak bersifat racun
Dasar metoda ekstraksi cair-cair adalah distribusi senyawa diantara dua fasa cair yang
berada dalam keadaan kesetimbangan. Perbandingan konsentrasi di kedua fasa cair disebut
koefisien distribusi (K) yaitu K=Ca/Cb. Perpindahan senyawa terlarut dari satu fasa ke fasa lain
akhirnya mencapai keadaan setimbang (pada suhu tertentu). Maka K bisa ditentukan. Efisiensi
proses ekstraksi ini tergantung pada jumlah ekstraksi dilakukan, bukan volume pelarut. Hal ini
dinyatakan dengan perhitungan konsentrasi zat terlarut :
Cn = Co [KV1/(KV1+V2)]n
Dimana Co adalah konsentrasi semula, V1 volume semula, K koefisien distribusi dan V2
volume pengekstrak. Dengan persamaan ini kelihatan akan lebih efektif n kali ekstraksi dari pada
satu kali ekstraksi. Lebih baik dilakukan beberapa kali ekstraksi dari pada satu kali dengan
jumlah yang sama
Tabel 1. Beberapa pelarut yang biasa digunakan ekstraksi
Jenis Pelarut

Titik Didih
0

Kerapatan

Sifat dan

g/mL

penggunaanya

Air
Dietil Eter
Heksan
Benzen

100
35
61
80

Toluen
Pentan

111
36

Metanol

65

Kloroform
Metilen Klorida
Karbontetraklorid

61
41
77

1,000

Sangat luas, polar,

0,714

ionik
Sangat luas, mudah

0,659

terbakar
Hidrokarbon/nonpolar

0,879

, terbakar
Aromatik, mudah

0,876
0,626

terbakar racun
Seperti benzen
Non polar, mudah
terbakar
Mudah terbakar racun

1,492
1,335
1,594

Sangat polar
Polar, beracun
Hidrokarbon, non
polar, racun

Ekstraksi asam basa. Adalah termasuk jenis ekstraksi yang didasarkan pada sifat asam
dan basa senyawa organik, disamping kelarutannya. Senyawa asam atau basa organik
direaksikan dengan basa atau asam sehingga membentuk garamnya. Garam ini tidak larut dalam
pelarut organik (non polar) tetapi larut baik dalam air. Ekstraksi basa dikembangkan untuk isolasi
kovalen asam organik dari campurannya, juga kovalen basa organik (alkaloid) yang diekstraksi
dengan asam mineral dengan cara titrasi
Ekstraksi padat-cair. Adalah juga termasuk cara ekstraksi yang lazim disebut ekstraksi
pelarut, dimana zat yang akan diekstraksi )biasanya zat padat) terdapat dalam fasa padat. Cara ini
banyak digunakan dalam isolasi senyawa organik (padat) dari bahan alam. Efesiensi ekstraksi
padat cair ini ditentukan oleh besarnya ukuran partikel zat padat yang mengandung zat organik
dan banyaknya kontak dengan pelarut. Maka dari itu dalam praktek isolasi bahan alam harus
menggunakan peralatan ekstraksi kontinu yang biasa disebut soxhlet
Penyaringan dan corong pisah. Corong pisah adalah alat untuk melakukan ekstraksi caircair yaitu proses pengocokan sistem dua pelarut, agar proses partisi bisa berjalan lebih cepat.
Setelah dibiarkan beberapa lama sampai kedua pelarut terpisah dengan baik, baru dilakukan
pemisahan salah satu pelarut. Identifikasi pelarut bagian atas dan bawah, ditentukan atas dasar

perbedaan kerapatannya. Kerapatan yang besar ada di bagian bawah. Proses penyaringan
merupakan bagian penting dalam pemisahan zat padat dari larutan atau zat cair. Dilakukan
dengan menggunakan kertas saring yang dipasang dalam corong. Ada dua macam cara
penyaringan yaitu penyaringan gaya berat (biasa) dan penyaringan dengan pengisapan (suction).
Penyaringan biasa digunakan untuk mengumpulkan cairan dari zat padat yang tak larut. Kertas
saring yang digunakan adalah jenis lipat (fluted). Penyaringan cara ini sering dilakukan pada
kondisi panas (penyaringan panas), misalnya untuk memisahkan karbon aktif setelah proses
penghilangan warna larutan (decolorizing). Cara penyaringan lain adalah penyaringan dengan
pengisapan (suction), yaitu cara penyaringan yang memerlukan kecepatan dan kuat dan
digunakan untuk memisahkan padatan kristal dari cairannya dalam rektalisasi. Pengisapan
dilakukan dengan menggunakan aspirator-air atau pompa vakum dengan desain khusus. Dan
corongnya yang digunakan adalah corong buchner atau corong hirsch
Pengeringan ekstrak. Ekstraksi yang melibatkan air sebagai pelarut umumnya air akan
sedikit terlarut dalam sejumlah pelarut organik seperti kloroform, benzen dan eter. A ir ini harus
dikeluarkan sebelum dilakuakn destilasi pelarut. Ada dua tahap pengeringan, pertama ekstrak
ditambahkan larutan jenuh natrium klorida (garam dapur) sejumlah volume yang sama. Garam
akan menaikkan polaritas air berarti menurunkan kelarutannya dalam pelarut organik. Kemudian
tambahkan zat pengering garam anorganik anhidrat yang betul betul kering atau baru. Zat
pengering ini adalah anhidrat dari garam berair kristal yang kapasitasnya sebanding dengan
jumlah air kristalnya. Yang umum digunakan adalah Magnesium Sulfat, Natrium Sulfat.
Magnesium sulfat adalah pengering paling efektif akan tetapi sangat mahal. Kalsium klorida
lebih murah akan tetapi sering membentuk komplek dengan beberapa senyawa organik yang
mengandung oksigen (misalnya etanol).

BAB III
METOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat yang Digunakan

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17
18

Alat
Labu Erlenmeyer
Pembakar spirtus
Statif
Klem
Termometer
Timbangan
Kaca arloji
Spatula
Botol semprot
Korek api
Corong pisah
Kertas saring
Stopwach
Gelas ukur
Kaki tiga
Kasa
Gelas kimia
Corong

Jumlah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

3.2 Bahan yang Digunakan


N

o.

ahan
1

2
3
4

umlah

quades

J
S
ecukupnya

Th

5 gram

Di
klorometana
Natrium karbonat

0 ml
20 gram

3.4 Gambar Alat

Spirtus

Klem

Timbangan

Statip

Corong pisah

Spatula

Botol semprot

Labu Erlenmeyer

Gelas ukur

Gelas kimia

Stpwach

Kaca arloji

Kertas saring

Kaki tiga

Kasa

Thermometer

3.3 Prosedur Percobaan


Masukan 25 gram daun the kering(atau 10 kantong the celup) dan 20 gram natrium karbonat
ke dalam labu erlenmeyer 250 mL,tambahkan 225 mL air mendidih.Biarkan campuran selama 7
menit,kemudian dekantasi campuran reaksi ke dalam labu Erlenmeyer lain.ke dalam daun
teh/kantong the tambahkan 50 mL air panas lalu segera dekantasi ekstrak the dan gabungkan
denga ekstrak the sebelumnya.untuk mengekstrak sisa kafein yang mungkin ada,didihkan air
berisi daun the/kantong the selama 20 menit,lalu dekantasi ekstraknya.dinginkan ekstrak the
hingga suhu kamar,lalu lakukan ekstraksi di dalam corong pisah dengan penambahan 30 mL
diklorometana.kocok corong pisah secara perlahan selama 5 menit (supaya tidak terbentuk
emulsi),sambil membuka keran corong pisah untuk mengeluarkan tekanan udara/gas dari dalam
corong pisah.Ulangi ekstraksi dengan menambahkan 30 mL diklorometana ke dalam corong
pisah.
Gabungkan ekstrak diklorometana dan semua fraksi yang berwujud emulsi di dalam labu
Erlenmeyer 125 mL,lalu tambahkan kalsium klorida anhidrat ke dalam gabungan ekstrak dan
emulsi,smbil di aduk/di goyang selama 10 menit.secara hati-hati,dekantasi ekstrak diklorometana
jangan sampai gumpalan kalsium klorida anhidrat ikut terbawa.atau anda dapat menyaring
ekstrak diklorometana menggunakan penyaringan biasa.bilaslah Erlenmeyer dan kertas saring
dengan 5 mL diklorometana.gabungkan filtrate dan lakukan distilasi menggunakan penangas air
untuk menguapkan diklorometana(hati-hati dalam pemakaian api! jangan lupa menggunakan
batu didih)putih kehijauan yang diduga adalah kafein).

BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Percobaan
No
Zat Uji
Perlakuan
1 25 gram daun Ditambah
teh kering

Natrium

Hasil Pengamatan
Larutan teh dengan tiga spesi. Dasar
Erlenmeyer terkumpul bubuk teh

Karbonat dan air berukuran


panas

besar,

tengah-tengah

larutan, dan di bagian paling atas


terdapat bubuk teh berukuran lebih

Disaring

kecil.
Terdapat larutan hitam pekat.

Larutan

Dimasukan

Terbentuk gas yang dibuang saat

Hitam

kedalam

Campuran
Awal

corong pengocokan dilakukan.

pisah , ditambah
dikloro

metana

dan dikocok
4

Larutan dalam Didiamkan


corong pisah

20 menit

min. Terbentuk tiga spesi cairan terpisah.


Didasar terdapat filtrat berwarna
hijau

bening,

di

tengah-tengah

berwarna coklat keruh, dan di atas


berwarna hitam. Filtrat di pisahkan
5

Filtrat

Dipanaskan
dikerik

keluar.
dan Berat endapan

kuning

serbuk

ditimbang . hasil ednapan 0,02


gram.

4.2 Analisis dan Pembahasan


Dari percobaan diatas, terdapat beberapa data yang dapat dianalisi dengan kajian teoritis,
diantaranya :

1. Mengapa saat larutan the ditambah dengan dikloro metana (CH 2Cl2) dan dikocok terasa berat di
ujung corong pemisah ?
Sebenarnya gas terbentuk ialah gas CO 2 yang berasal salah satunya dari Na 2CO3. Gas ini
terbentuk dan bila tidak di keluarkan dapat merusak corong pisah. Pada saat pengocokan harus
secara berkala dikeluarkan.
2. Pada saat didiamkan hasil kocokan selama kurang lebih 20 menit terbentuk tiga spesi ?
Tiga spesi yang dimaksud ialah spesi antara kafein, emulsi, dan pelarut air yang berisi
zat-zat lain yang tidak diharapkan saar ekstraksi. Kafein terdapat di dasar corong pemisah,
emulsi berada di tengah, dan pelarut air di bagian atas.
3. Pada bagian tengah pada corong pisah terdapat emulsi, perkiraan itu adalah apa ?
Kemungkinan itu ialah lemak atau garam tannin. Pembentukan garam tannin untuk tujuan
ini menimbulkan efek samping. Tannin berfungsi sebagai surfaktan anion yang menyebabkan
pembentukan emulsi dengan air. Pembentukan emulsi ini dapat dicegah dengan cara pengocokan
corong pisah yang tidak terlalu kuat (perlahan saja). Perlu dicatat, karena reaksinya
menghasilkan gas, agar corong tidak meledak, maka selama pengocokan, keran corong pisah
harus dibuka sewaktu-waktu. Dengan ini, CO 2 yang berasal dari Na2CO3 dapat keluar dan
terbentuk kesetimbangan tekanan didalam dan diluar corong.
4. Apa fungsi dari diklorometana pada saat praktikum ?
Diklorometana digunakan untuk melarutkan kafein karena sebagai pelarut senyawa
organik, diklorometana melarutkan kafein lebih baik (140 mg/mL) dari pada dalam air (22
mg/mL). Selain itu, tannin dalam bentuk garam juga tidak dapat larut dalam diklorometana
sehingga kafein yang dihasilkan jauh lebih murni. Setelah corong pisah diguncang dan
didiamkan, akan terbentuk dua fasa utama, yaitu fasa diklorometana dan fasa air. Karena kafein
larut lebih baik dalam diklorometana dan tannin tidak larut di dalmnya, maka fasa yang diambil
adalah fasa diklorometana. Keberadaan emulsi, seperti yang telah disebutkan, merupakan efek
samping penggaraman tannin dan pengocokan yang terlalu kuat.

BAB V
KESIMPULAN

Dari data percobaan dan pembahasan diatas, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :
1.

Ekstarksi kafein dapat dilakukan dengan mengekstraksi kandungan kafein dalam the dengan
prosedur ekstraksi sederhana seperti dalam percobaan.
2. Kafein merupakan senyawa organic yang tentu larut dalam pelarut organic, dengan penambahan
diklorometana sebagai pelarut organic datam menarik kafein dalam larutan agar terpisah dengan
pelarut air dan zat-zat yang tidak diharapkan.
3. Tannin harus dihilangkan atau digaramkan dalam larutan agar tidak mengganggu kafein dalam
proses ekstraksi.
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden. 2009. Kimia Organik I. Bandung : Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung
http://id.wikipedia.org/wiki/Kafeina
Laporan Kimia

Kamis, 31 Oktober 2013


Ekstraksi Pelarut
EKSTRAKSI PELARUT
I. Tanggal Percobaan
: 1 April 2013
II. Tujuan Percobaan
: - Memisahkan logam Ni dari campurannya
denganekstraksi pelarut
- Menghitung kadar Ni dalam sampel
III. Prinsip Kerja
Sejumlah kecil Ni dipisahkan dari campurannya dengan teknik ekstraksi pelarut,
yaitu mengekstrak Ni dalam bentuk Ni(DMG)2 (Nikel Dimetilglikosin) dari fasa air ke
dalam fasa organic (kloroform). Kemudian penentuan kadar Ni dengan metode
spektrofotometri dimana kompleks berwarna Ni(DMG)2 dalam kloroform mengikuti
hokum Lambert-Beer dalam range konsentrasi yang lebar.
IV. Teori Dasar
Ektraksi pelarut adalah suatu metode pemisahan berdasarkan transfer suatu zat
terlarut dari suatu pelarut kedalam pelarut lain yang tidak saling bercampur.
Menurut Nerst, zat terlarut akan terdistribusi pada kedua solvent sehingga
perbandingan konsentrasi pada kedua solvent tersebut tetap untuk tekanan dan
suhu yang tetap (Khopkar, 1990).

Ekstraksi pelarut terutama digunakan bila pemisahan campuran dengan cara


destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau
karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padatcair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran
secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu
sesempurna mungkin (Khopkar, 1990).
Ekstraksi cair-cair dengan pengkelat logam adalah salah satu aplikasi utama
ekstraksi cair-cair yaitu ekstraksi selektif ionlogam menggunakan agen pengkelat.
Sayangnya beberapa agen pengkelat memiliki keterbatasan kelarutan dalam air
atau subyek untuk hidrolisis atau oksidasi udara dalam larutan aqueous. Karena
alasan ini agen pengkelat ditambahkan ke pelarut organic sebagai ganti fasa
aqueous. Agen pengkelat diekstrak ke fasa aqueous yang reaksinya membentuk
kompleks logam-ligan yang stabil dengan ion logam. Kompleks logam-ligan
kemudian terekstrak ke fasa organik. Efisiensi ekstraksi ion logam bergantung pada
pH (Khopkar, 1990).
Pada umumnya ion-ion logam tidak larut dalam pelarut organik non polar. Ion
logam harus diubah menjadi bentuk molekul yang tidak bermuatan dengan
pembentukan kompleks agar ion logam tersebut dapat terekstrak ke dalam pelarut
organik non polar. Senyawa kompleks adalah suatu senyawa dimana ion logam
bersenyawa dengan ion atau molekul netral yang mempunyai sepasang atau lebih
elektron bebas yang berikatan secara kovalen koordinasi (Effendy, 2007).
Ion logam dalam senyawa kompleks disebut ion pusat, sedangkan ion atau
molekul netral yang mempunyai pasangan elektron bebas disebut ligan. Kompleks
kelat atau sepit adalah kompleks yang terbentuk apabila ion pusat bersenyawa
dengan ligan yang mempunyai dua atau lebih gugus. Banyaknya ikatan kovalen
koordinasi yang terjadi antara ligan dengan ion pusat disebut bilangan koordinasi.
Pembentukan kompleks oleh ligan bergantung pada kecenderungan untuk mengisi
orbital kosong dalam usaha mencapai konfigurasi elektron yang lebih stabil. Untuk
memudahkan ekstraksi maka ion logam yang bermuatan harus dinetralkan oleh ion
atau molekul netral menjadi kompleks tidak bermuatan (Khopkar, 1990).
Kompleks kelat merupakan asam lemah (HL) yang terionisasi dalam air dan
terdistribusi dalam fase organik dan fase air, serta dengan ion logam dapat
membentuk ion kompleks yang netral dan mudah larut dalam fase organik (Day dan
Underwood, 1989). Salah satu keuntungan menggunakan agen pengkelat adalah

derajat selektifitas tinggi. Efisiensi ekstraksi untuk kation divalent meningkat dari 0100% disekitar 2 unit pH. lagipula konstanta pembentukan kompleks logam-ligan
bervariasi diantara ion logam. Akibatnya, perbedaan signifikan muncul dalam range
pH dimana ion logam yang berbeda menaikkan efisiensi ekstraksi dari 0-100% (Day
dan Underwood, 1989).
Penentuan kadar nikel dilakukan dengan metode spektrofotometri, dimana
diketahui kompleks berwarna Ni(DMG) 2 dalam khloroform mengikuti hukum
Lambert-Beer dalam range konsentrasi yang lebar. Sebagaimana diketahui warna
adalah salah satu kriteria untuk mengidentifikasi suatu objek. Pada analisis
spektrokimia spektrum radiasi elektromagnetik digunakan untuk menganalisis
spesies kimia dan menelaah interaksinya dengan radiasi elektromagnetik (Khopkar,
1990).
Spektrofotometri

didefinisikan

suatu

metoda

analisis

kimia

berdasarkan

pengukuran seberapa banyak energi radiasi diabsorpsi oleh suatu zat sebagai
fungsi panjang gelombang. Agar lebih mudah memahami proses absorpsi tersebut
dapat ditunjukkan dari suatu larutan berwarna. Misalnya larutan tembaga sulfat
yang nampak berwarna biru. Sebenarnya larutan ini mengabsorpsi radiasi warna
kuning dari cahaya putih dan meneruskan radiasi biru yang tampak oleh mata kita
(Arsyad, 1997).
Proses absorpsi ini kemudian dapat dijelaskan bahwa suatu molekul/atom yang
mengabsorpsi

radiasi

akan

memanfaatkan

energi

radiasi

tersebut

untuk

mengadakan eksitasi elektron. Eksitasi ini hanya akan terjadi bila energi radiasi
yang diperlukan sesuai dengan perbedaan tingkat energi dari keadaan dasar ke
keadaan tereksitasi dan sifatnya karakteristik (Khopkar, 1990).
I. Pembahasan
Ekstraksi pelarut merupakan metode pemisahan berdasarkan transfer suatu zat
terlarut dari suatu pelarut ke dalam pelarut lain yang tidak saling bercampur,
dimana

pada

percobaan

ini

bertujuan

untuk

memisahkan

logam

Ni

dari

campurannya dengan ekstraksi pelarut dan menentukan kadar Ni dalam sampel


dengan metode spektrofotometri.
Ni merupakan ion logam yang tidak dapat larut dalam senyawa non polar. Oleh
karena itu, Ni diubah menjadi senyawa non polar dengan cara membentuknya
menjadi senyawa kelat. Agen pengkelat yang digunakan pada percobaan ini adalah

Dimetilglikosin (DMG). Ion logam Ni 2+ dijadikan kompleks terlebih dahulu dengan


DMG menjadi senyawa kompleks Ni(DMG) 2 agar dapat terekstraksi ke fasa organic
yang kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 420 nm.
Pada awalnya, membuat larutan standard dan preparasi sampel terlebih dahulu
sebelum dilakukan ekstraksi.Larutan standar utama di buat dengan melarutkan
Kristal NiSO4.6H2O ke dalam larutan HNO3 6M.kemudian ditambah dengan NaOH 4M
dan CH3COOH, barulah di encerkan ke dalam labu ukur 100 mL.
Kemudian pada proses ekstraksi, larutan standar dengan volume yang bervariasi
yaitu 0,5 mL, 0,1 mL, 1 mL, dan 1,5 mL di masukkan ke dalam tabung reaksi. Begitu
pula dengan larutan sampel dan blanko. Kemudian setiap larutan ditambah 0,5
gram Na-tatrat, pada saat penambahan ini semua larutan larut dan berwarna putih
keruh. Penambahan Na-tatrat ini berfungsi untuk membentuk kompleks dengan Fe
(III) yang ada di dalam campurannya.Kemudian ditambah 5 mL larutan buffer
asetat, Natrium Tiosulfat, dan Hidroksilamin HCl 1%.Fungsi penambahan buffer
asetat yaitu untuk membuat suasana larutan menjadi sedikit asam karena Ni 2+
membentuk kompleks dengan DMG pada suasana sedikit asam atau tepat basa.
Penambahan Natrium Tiosulfat sebelum ekstraksi berfungsi untuk membentuk
kompleks anionic Cu(S2O3)2-yang tidak terekstrak ke dalam kloroform. Lalu,
hidroksilamin HCl ditambhakna untuk mencegah oksidasi Ni(DMG) 2 menjadi
kompleks Ni dengan DMG yang berbeda spectrum absorbansinya.Semua sampel
pada penambahan bahan tidak mengalami perubahan.Namun ketika ditambah
dengan DMG 1% masing-masing volume larutan berbeda pengamatannya. 0,1 mL
larutan standar larutannya berwarna kuning, 0,5 mL larutan standar larutannya
berwarna jingga, 1 mL larutan standar larutannya berwarna merah muda, dan 1,5
mL larutan standar larutannya berwarna merah. Terakhir yaitu di ekstraksi dengan
kloroform, semua larutan terbentuk 2 fasa. Pada 0,1 mL fasa atasnya berwarna
putih, fasa bawah larutan agak kuning. Pada 0,5 mL fasa atasnya berwarna putih,
fasa bawahnya larutan kuning. Pada 1 mL fasa atasnya larutan putih, fasa
bawahnya larutan agak jingga. Pada 1,5 mL fasa atasnya larutan putih, dan fasa
bawahnya larutan merah. Pada larutan sampel, setelah di tambah DMG larutan
berwarna merah muda, dan setelah diekstraksi dengan kloroform terbantuk 2 fasa
dengan fasa atasnya putih dan fasa bawahnya kuning bening.Pada blanko dengan
aquadest, setelah ditambah DMG larutan menjadi putih keruh, dan setelah
diekstraksi dengan kloroform terbentuk 2 fasa dengan fasa atas putih keruh dan

fasa bawah tidak berwarna.Percobaan ini tidak dilakukan penyaringan karena antara
fasa atas dan bawah tidak tercampur dan fasa bawahnya masih mudah di ambil
dengan menggunakan pipet tetes.
Kemudian,

setiap

larutan

di

ukur

absorbansinya

dengan

menggunakan

spektrofotometer.Dimana larutan fasa bawahnya di ambil dan dimasukkan ke dalam


kuvet.Senyawa kompleks yang terbentuk ke dalam fasa organic ini selain Ni(DMG) 2
yaitu senyawa kompleks Cu dan Fe. Panjang gelombang yang digunakan adalah 420
nm karena pada panjang gelombang ini spesifik untuk menyerap cahaya yang
ditimbulkan oleh senyawa kompleks Ni(DMG) 2 dan cahaya dari senyawa kompleks
lain itu tidak dapat diserap.
Setelah di ukur dengan spektrofotometer, didapat absorbansinya yaitu pada
sampel = 0,443, blanko = 0, larutan standar 0,1 mL = 0,023, larutan standar 0,5
mL = 0,021, larutan standar 1 mL = 0,262, dan larutan standar 1,5 mL = 0,495.
Setalah perhitungan, di dapat kadar Ni dalam sampel sebesar 8,66%.
II. Kesimpulan
- Logam Ni dapat dipisahkan dengan menggunakan pelarut kloroform dengan
membentuk kompleks Ni(DMG)2 berwarna merah muda.
- Kadar Ni dalam 0,1 gram sampel adalah 8,66% atau 0,00866 gram.
Daftar Pustaka
Arsyad, M. N. 1997. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Jakarta. Gramedia
Effendy. 2007. Kimia Koordinasi. Malang. Bayumedia
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta. UI Press
Tim Penyusun. 2013. Modul Praktikum Kimia Analitik II. Bandung
Underwood, A. L dan Day, R. A. 1989.Analisis Kimia Kuantitatif edisi Kelima. Jakarta.
Erlangga

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


KIMIA ORGANIK
PERCOBAAN 1
PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT CAIR
Distilasi dan titik didih
Nama
NPM
Kelompok/Shift
Hari/Tanggal Praktikum
Hari/Tanggal Pengumpulan
Asisten

Disusun oleh :
: Angga Guntara
: 10060312147
: II/F
: Kamis / 21 Februarai 2013
: Kamis / 28 Februari 2013
: Dieni Mardliyani

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT A

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2013
I.

Tujuan Percobaan
Dapat menjelaskan prinsip dan tujuan distilasi dan agar terampil dalam : 1).mengalibrasi
termometer.2). merangkai peralatan destilasi .3).melakukan distilasi untuk pemurnian dan
pemisahan .

II.

Prinsip Percobaan
Dengan menggunakan teknik pemisahan zat cair berdasrkan perbedaan titik didih .
III. Teori Dasar
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik
pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat
dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk
cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini
merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini
didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada
titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.
(Stephani,2009:3)
Pembagian Destilasi
Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu :
Distilasi kontinyu
Distilasi batch
Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu :
1) Distilasi atmosferis
2) Distilasi vakum
3) Distilasi tekanan
Berdasarkan komponen penyusunnya terbagi menjadi dua, yaitu :

1) Destilasi system biner


2) Destilasi system multi komponen
Berdasarkan system operasinya terbagi menjadi dua, yaitu :
1) Single-stage Distillation
2) Multi stage Distillation
Selain pembagian macam destilasi, dalam referensi lain menyebutkan macam macam destilasi,

yaitu :
Destilasi sederhana
Destilasi bertingkat ( fraksional )
Destilasi azeotrop
Destilasi vakum
Refluks / destruksi
Destilasi kering
Perbedaan antara distilasi sederhana dengan distilasi bertingkat hanya pada titik didih antara zat
yang akan dipisahkan.
Perbedaan titik didih zat yang dipisahkan sangat mempengaruhi hasil yang akan
didapatkan. Karena apabila titik didih zat campuran itu mempunyai jarak yang sangat dekat
maka dalam pemanasan di khawatirkan zat yang tidak diingginkan juga ikut menguap karena
titik didihnya hamper sama sehingga distilasi harus dilakukan secara berulang atau bertingkat.

(Stephani:2009)
A. Destilasi sederhana
Destilasi ini dilakukan jika campuran zat tersebut atau sampel tersebut mempunyai
perbedaan titik didih yang cukup tinggi. Sehingga pada suhu tertentu cairan akan mengandung
lebih banyak komponen yang lebih mudah menguap tersebut akan diembunkan didalam suatu
pendingin dan akan ditampung dalam suatu wadah, sehingga akan terpisah kedua campuran
tersebut. (robbaniryo.2011)
B. Destilasi bertingkat
Sebelum menggunakan destilasi bertingkat kita harus mengetahui dulu tentang hubungan
antara titik didih atau tekanan uap dari campuran senyawa berserta komposisinya. Dalam
distilasi bertingkat pada suhu tertentu akan terjadi cairan setimbang dengan uapnya akan
mempunyai komposisi yang berbeda. Uap selalau mengandung komponen yang lebih mudah

menguap demikian sebaliknya. Pada suhu berbeda komposisi uap cairnya akan berbeda, dengan
demikian komposisi uap yang setimbang dengan cairanya akan berubah sejalan dengan
perubahan suhu. Perubahan komposisi sebagai fungsi suhu dapat digambarkan sebagai diagram
kesetimbangan komposisi uap dan cairanya. (robbaniryo.2011)
C. Hukum Raoult
Tekanan uap parsial dari sebuah komponen di dalam campuran adalah sama dengan
tekanan uap komponen tersebut dalam keadaan murni pada suhu tertentu dikalikan dengan fraksi
molnya dalam campuran tersebut. (http://www.chem-is-try.org/ materi_kimia/ kimia_fisika1/
kesetimbangan_fase/ hukum_raoult_dan_campuran_larutan_ideal)
Hukum Raoult hanya dapat diaplikasikan pada campuran ideal. Persamaan untuk campuran dari
larutan A dan B, akan menjadi demikian.
Pada persamaan ini PA dan PB adalah tekanan uap parsial dari komponen A dan B.
Dalam suatu campuran gas, tiap gas mempunyai tekanan uapnya sendiri, dan ini disebut tekanan
parsial yang independent. Bahkan apabila anda memisahkan semua jenis gas-gas lain yang ada,
satu-satunya jenis gas yang tersisa akan masih mempunyai tekanan parsialnya. Tekanan uap total
dari sebuah campuran adalah sama dengan jumlah dari tekanan parsial individu tiap gas.
Po adalah tekanan uap dari A dan B apabila keduanya berada dalam keadaan terpisah
(dalam larutan murni).
xA dan xB adalah fraksi mol A dan B. Keduanya adalah fraksi (bagian/proporsi) dari jumlah total
mol (A maupun B) yang ada.
Data sifat fisika dan kimia ( Methanol )
1.
Sifat Fisika
Cairan sangat polar, mudah bergerak, jernih, tidak berwarna, bau agak mirip bau alkohol. Berat
jenis 20/20 :0,7924, suhu lebur -97,8 C, suhu didih 64,5C, Indeks bias 20/0 1,3292;
2.
Sifat kimia
Larut dalam air, etanol, eter, keton dan kebanyakan pelarut organik lain. Terbakar dengan
nyala kebiruan tidak terang.
IV. Alat dan Bahan Percobaan

Alat Percobaan
Gelas Kimia
Thermometer
Labu Ukur
- Statip
- Klem

V.
A.

Bahan Percobaan
- Bongkahan Es
- Aquadest
- Batu Didih

Prosedur Percobaan
Kalibrasi Termometer
Gelas kimia 400 mL diisi dengan bongkahan es kecil hingga kedalaman 10 cm , kemudian
ditambahkan sedikit air dingin sampai sebagian bongkahan mengambang di atas permukaan air ,
kemudian termometer dicelupkan ke dalam air es hingga kedalaman 7 atau 8 cm ,air es di aduk
pelan-pelan dengan thermometer ,kemudian diamati penurunan suhu pada skala
termometer.Ketika suhu tidak turun lagi dan stabil ,dicatat skala thermometer tanpa mengangkat
thermometer dari dalam air es.

B.

Distilasi Biasa
Peralatan distilasi dipasang sederhana , kemudian dimasukkan 40 mL campuran metanol air
( 1: 1 ) ke dalam labu , kemudian di masukkan beberapa potong batu didih ke dalam labu .
dilakukan pemanasan dengan api yang diatur perlahan naik sampai mendidih .Pemanasan diatur
agar distilat menetes secara teratur dengan kecepatan satu tetes per detik , kemudian diamati
suhu tetesan pertama mulai jatuh dan di catat .
Penampung diganti dengan yang bersih ,kering dan berlabel untuk menampung distilat
murni , yaitu distilat yang suhunya sudah mendekati suhu didih sebenarnya sampai terjadi suhu
konstan.

VI. Hasil Pengamatan


A. Kalibrasi thermometer
Suhu awal
= 20C
Suhu setelah dimasukkan ke dalam air Es = 14C

B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Destilasi biasa
Suhu tetesan awal
Suhu pada saat volume
Piknometer Kosong
Piknometer + air
Piknometer + benzen
Air
Sampel

:
:
: 11,6976
: 17,0916
: 16,4024

W1 = berat pikno kosong


W2 = Berat pikno + aquadest
W3 = Berat Pikno + Benzen
BJ = W3-W1
W2-W1
= 16,4024 11,6976
17,0916 11,6976
= 4,7078
5,394
= 0,8722
VII. Pembahasan
A. Kalibrasi Thermometer
Pada percobaan kalibrasi berguna untuk memperoleh skala dalam thermometer itu layak atau
tidak .jika pembacaan skala berada dalam trayek 1C di bawah atau di atas 0C ,maka
termometer layak pakai , jika pembacaanya melebihi trayek tersebut ,berarti termometer dalam
keadaan tidak layak pakai ..
B. Destilasi Biasa
Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk memisahkan
dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat
dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murninya. Senyawa senyawa
yang terdapat dalam campuran akan menguap pada saat mencapai titik didih masing

Pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa
dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan molekul dalam
permukaan cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik
sampai tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan
mendidih. Suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik
didih. Cairan yang mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan mempnyai
titik didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar. Kalibrasi
thermometer berfungsi untuk memverifikasi , artinya mengetahui apakah thermometer sesuai
atau tidak dengan standar. Deviasi yang diijinkan pada termometer minimum/maksimum dari
termometer kalibrasi, tidak boleh lebih dari 2,00C, deviasi dari termometer biasa (normal) tidak
boleh lebih dari 10C, jika tidak ada nilai-nilai lainnya yang disimpan pada buku peralatan.
VIII. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah destilasi merupakan proses pemisahan campuran
berdasarkan perbedaan titik didih campuran. Pada percobaan ini titik didih menentukan
kecepatan terbentuknya destilat. Zat yang memiliki titik didih rendah akan cepat terdestilasi
daripada zat yang bertitik didih tinggi.

IX.

Daftar Pustaka
- Kartika Stephanie dkk.2009.Makalah Pemisahan Kimia Analitik.
Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
- Darmadji, Purnama. 2002. Optimasi pemurniaan asap cair dengan
metoda redistilasi volum
- Al Anshori Jamaludin, S.Si. 2007. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Bandung : Univesitas
Padjajaran
Anonymous. 2011.Destilasi Sederhana dan Bertingkat. (http://robbaniryo.com/ilmukimia/distilasi-sederhana-dan-bertingkat)
Anonymous.2007.
Hukum
Raoult
Dan
Campuran
Larutan
Ideal.http://www.cheistry.org/materi_kimia/kimia_fisika1/kesetimbangan_fase/hukum_raoult_da
n_campuran_larutan_ideal

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT CAIR


DESTILASI DAN TITIK DIDIH
A. Tujuan
Adapun tujuan dalam percobaan ini adalah
1. Memahami prinsip destilasi
2. Melakukan destilasi untuk pemisahan dan pemurnian
3. Membedakan senyawa-senyawa tersebut berdasarkan sifat reaksi kimianya
B. Landasan Teori
Destilasi adalah proses yang digunakan untuk memisahkan campuran
fluida berdasarkan titik didih yang diikuti oleh kondensasi. Data yang
diperlukan

dalam

penyelesaian

persoalan

distilasi

adalah

data

kesetimbangan antara fase liquid dan fase gas. Bentuk dan sumber data
kesetimbangan

antara

fase

liquid

dan

fase

gas

diantaranya

dapat

digambarkan dalam bentuk kurva kesetimbangan atau diperoleh dengan


cara eksperimen. Dua fasa dikatakan berada dalam kesetimbangan jika
temperatur, tekanan, dan potensial kimia dari masing-masing komponen
yang terlibat di kedua fasa bernilai sama (Ni Ketut, 2010).

Dasar proses destilasi adalah kesetimbangan senyawa volatil antara


fasa cair dan fasa uap. Bila zat non volatile dilarutkan kedalam suatu zat cair,
maka tekanan uap zat cair tersebut akan turun. Pada larutan yang
mengandung dua komponen volatil yang dapat bercampur sempurna, maka
tekanan

uap

masingmasing

komponen

akan

turun.

Hukum

Raoult

menyatakan bahwa tekanan uap masing-masing komponen berbanding


langsung
sederhana

dengan

fraksi

seringkali

molnya.Pemisahan

tidak

memuaskan

menggunakan

karena

metode

destilasi
tersebut

dikembangkan dengan menambahkan suatu kolom fraksinasi diantara labu


didih dan klaisen (still head) dalam perangkat alat distilasi. Pengaruh dari
penambahan kolom fraksinasi akan mempersingkat beberapa pekerjaan
pemisahan dari destilasi biasa menjadi hanya satu pekerjaan (Anwar, 2010).
Prinsip destilasi adalah memisahkan zat-zat melalui perbedaan titik
didih. Proses destilasi ini menggunakan labu destilasi sebagai destilator,
kompor listrik sebagai pemanas dan erlenmeyer sebagai tempat hasil
destilasi atau destilat. Cairan yang diembunkan kembali disebut destilat.
Penempatan posisi yang salah dapat menyebabkan uap cairan misalnya
etanol akan menempel pada termometer dan tidak melewati kondensor
untuk melalui proses pengembunan, tetapi akan kembali pada labu destilasi
yang berisi campuran cairan. Akibatnya, jumlah destilat yang diperoleh tidak
maksimal. Tujuan destilasi adalah pemurnian zat cair pada titik didihnya, dan
memisahkan cairan tersebut dari zat padat yang terlarut atau dari zat cair
lainnya yang mempunyai perbedaan titik didih cairan murni (Ari, 2008).
Distilasi

bertingkat

atau

distilasi

fraksionasi

berguna

untuk

memisahkan komponen utama ber-dasarkan perbedaan titik didih. Minyak


atsiri umum-nya tidak disuling pada tekanan atmosfir tetapi dalam keadaan
vakum, karena pada tekanan atmosfir dan suhu tinggi dapat menyebabkan
dekomposisi. Fungsi destilasi fraksionasi adalah memisahkan komponenkomponen cair, dua atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan
titik didihnya. Destilasi ini juga dapat digunakan untuk campuran dengan

perbedaan titik didih kurang dari 20 C dan bekerja pada tekanan atmosfer
atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari destilasi jenis ini digunakan pada
industri minyak mentah, untuk memisahkan komponen-komponen dalam
minyak

mentah.

Jika

uap-uap

ini

didinginkan

(dikondensasi),

maka

konsentrasi etanol dalam cairan yang dikondensasikan itu akan lebih tinggi
dari pada dalam larutan aslinya. Perbedaan destilasi fraksionasi dan destilasi
sederhana adalah adanya kolom fraksionasi. Di kolom ini terjadi pemanasan
secara bertahap dengan suhu yang berbeda-beda pada setiap platnya.
Pemanasan yang berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian destilat yang
lebih dari plat-plat di bawahnya. Semakin ke atas, semakin tidak volatil
cairannya (Egi, 2010).
Pemisahan

dan

pemurnian

yang

bertujuan

untuk

mendapatkan

senyawa murni dari fraksi yang ada.proses pemisahan dan pemurnian


dilakukan dengan metodde kromatografi kolom. Sebelum pemisahan dan
pemurnian

dilakukan

terlebih

dahulu

analisis

dengan

menggunakan

Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Analisis ini bertujuan untuk menentukan


pelarut yang akan digunakan pada saat pemisahan dengan kromatografi
kolom. Pola kromatografi pada KLT menunjukan pola pemisahan yang terjadi
pada kromatografi kolom (Vina, 2010).
Salah satu cara pemisahan atau pemurnian komponen minyak adalah
dengan

distilasi

fraksional.

Distilasi

fraksinasi

minyak

atsiri

adalah

pemisahan komponen berdasarkan titik didih dan berat molekulnya. Selama


distilasi berlangsung baik suhu head, suhu flask, suhu mantle cukup konstan,
kecuali suhu heater sedikit berfluktuasi. Hal ini menunjukkan sistem
thermostat

sangat

baik,

sedangkan

suhu

heater

sedikit

berfluktuasi

dikarenakan heater adalah sebagai sumber panas untuk menjaga kestabilan


suhu sementara tekanan udara dalam labu dan kolom sangat berfluktuasi.
Fluktuasi tekanan inilah yang dimbangi oleh heater untuk menstabilkan suhu
flask dan head (Siti, 2010).
C. Alat dan Bahan
1. Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :


Satu set alat destilasi (Kran air, termometer, pipa penghubung, adaptor,
labu alas bulat, elektromentel, tempat air keluar dari kondensor, tempat air
masuk dari kondensor, kondensor, pemanas, statif dan klem)
2. Bahan
Bahan yang digunkan dalam percobaan ini adalah :

- Campuran etanol dengan akuades


- Batu didih
D. Prosedur kerja

- Di rangkai/ dipasang
- Di gambar
E. Hasil Pengamatan
F. Pembahasan
Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan
kimia

berdasarkan

perbedaan

kecepatan

atau

kemudahan

menguap

(volatilitas) bahan. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga


menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk
cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Jadi ada perbedaan komposisi antara fase cair dan fase uap, dan hal ini
merupakan

syarat

utama

supaya

pemisahan

dengan

distilasi

dapat

dilakukan. Kalau komposisi fase uap sama dengan komposisi fase cair, maka
pemisahan dengan jalan distilasi tidak dapat dilakukan. Destilasi dapat
digunakan untuk memurnikan senyawa-senyawa yang mempunyai titik didih

berbeda sehingga dapat dihasilkan senyawa yang memiliki kemurnian yang


tinggi.
Terdapat beberapa teknik pemisahan dengan menggunakan destilasi,
salah satunya adalah destilasi sederhana. Set alat destilasi sederhana adalah
terdiri atas labu alas bulat, kondensor (pendingin), termometer, erlenmeyer,
pemanas. Peralatan lainnya sebagai penunjang adalah statif dan klem,
adaptor (penghubung), selang yang dihubungkan pada kondensor tempat air
masuk dan air keluar, batu didih.
Prinsip destilasi adalah penguapan cairan dan pengembunan kembali
uap tersebut pada suhu titik didih. Titik didih suatu cairan adalah suhu
dimana tekanan uapnya sama dengan tekanan atmosfer. Cairan yang
diembunkan kembali disebut destilat. Hukum Raoult digunakan untuk
menjelaskan

fenomena

yang

terjadi

pada

proses

pemisahan

yang

menggunakan metode destilasi, menjelaskan bahwa tekanan uap suatu


komponen yang menguap dalam larutan sama dengan tekanan uap
komponen murni dikalikan fraksimol komponen yang menguap dalam larutan
pada suhu yang sama.
Destilasi memiliki tujuan dengan pemurnian zat cair pada titik
didihnya, dan memisahkan cairan tersebut dari zat padat yang terlarut atau
dari zat cair lainnya yang mempunyai perbedaan titik didih cairan murni.
Pada destilasi biasa, tekanan uap di atas cairan adalah tekanan atmosfer
(titik didih normal). Untuk senyawa murni, suhu yang tercatat pada
termometer yang ditempatkan pada tempat terjadinya proses destilasi
adalah sama dengan titik didih destilat.
Pemisahan dan pemurnian senyawa organik dari suatu campuran
senyawa dilakukan dengan beberapa cara sesuai dengan karakter sampel.
Ada 6 jenis destilasi yaitu destilasi sederhana, destilasi fraksionasi, destilasi
uap, destilasi vakum, destilasi kering dan destilasi azeotropik. Destilasi
sederhana, pemisahan ini dilakukan bedasarkan perbedan titik didih yang
besar atau untuk memisahkan zat cair dari campurannya yang yang
berwujud padat. Destilasi bertingkat, pemisahan ini dilakukan berdasarkan

perbedaan titik didih yang berdekatan.. Destilasi uap, dilakukan untuk


memisahkan suatu zat yang sukar bercampur dengan air dan memiliki
tekanan uapnyang relative tunggi atau memiliki Mr yang tinggi.
Praktikum

ini

menggunakan

proses

pemisahan

dan

pemurnian

senyawa organik dari suatu campuran dengan destilasi sederhana, zat-zat


yang ingin dipisahkan memiliki perbedaan titik didih yang besar. Untuk
memisahkan zat-zat dengan titik didih yang berdekatan, digunakan destilasi
fraksinasi atau destilasi bertingkat.
Percobaan ini akan dipisahkan campuran yang terdiri dari air dan
etanol. Titik didih air adalah 100 oC, sedangkan etanol memilki titik didih 78
o

C. karena kedua zat tersebut memiliki perbedaan titik didih yang cukup

besar, maka destilasi yang digunakan adalah destilasi sederhana. Pada saat
campuran

dipanaskan,

suhu

campuran

akan

meningkat

dan

akan

ditunjukkan oleh termometer. Ketika temperatur berada di sekitar 78 oC,


yakni titik didih etanol, temperatur tersebut dijaga agar tetap berada pada
titik didih etanol. Hal ini menunjukkan bahwa pada temperatur 78 oC ini,
tekanan uap etanol sama dengan tekanan atmosfer, sehingga etanol akan
menguap sedangkan air akan tetap berada pada labu destilasi karena pada
temperatur tersebut belum mencapai titik didih air. Akibatnya air akan tetap
berada pada fasa cair dan tidak ikut menguap bersama etanol. Hal ini karena
tekanan uap air belum mencapai tekanan atmosfer. Uap etanol akan
bergerak ke atas dan melalui kondensor. Pada kondensor dialirkan air secara
terus-menerus yang berfungsi sebagai pendingin, sehingga pada kondensor
ini terjadi peristiwa kondensasi atau pengembunan dimana uap etanol
didinginkan sehingga mengembun dan menjadi cairan kembali. Etanol cair
kemudian akan mengalir dari kondensor melalui adaptor, lalu ditampung
pada erlenmeyer, dan disebut destilat.
Perbedaan sifat campuran suatu fase dengan campuran dua fase
dapat dibedakan secara jelas jika suatu cairan menguap, terutama dalam
keadaan mendidih. Sebagai contoh adalah cairan murni didalam suatu
tempat yang tertutup. Pada suhu tertentu molekul-molekul cairan tersebut

memiliki energi tertentu dan bergerak bebas secara tetap dan dengan
kecepatan tertentu. Tetapi setiap molekul dalam cairan hanya bergerak pada
jarak pendek sebelum dipengaruhi oleh molekul-molekul lain, sehingga arah
geraknya diubah. Namun setiap molekul pada lapisan permukaan yang
bergerak ke arah atas akan meninggalkan permukaan cairan dan akan
menjadi molekul uap. Molekul-molekul uap tersebut akan tetap berada dalam
gerakan yang konstan, dan kecepatan molekul-molekul dipengaruhi oleh
suhu pada saat itu.
Perbedaan titik didih zat yang dipisahkan sangat mempengaruhi hasil
yang akan didapatkan. Karena apabila titik didih zat campuran itu
mempunyai

jarak

yang

sangat

dekat

maka

dalam

pemanasan

di

khawatirkan zat yang tidak diingginkan juga ikut menguap karena titik
didihnya hampir sama sehingga destilasi harus dilakukan secara berulang
atau bertingkat.

G. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum ini antara lain:
1. Prinsip destilasi adalah penguapan cairan dan pengembunan kembali uap
tersebut pada suhu titik didih. Titik didih suatu cairan adalah suhu dimana
tekanan uapnya sama dengan tekanan atmosfer. Cairan yang diembunkan
kembali disebut destilat.
2. Pemisahan dan pemurnian senyawa organik dari suatu campuran senyawa
dilakukan dengan beberapa cara sesuai dengan karakter sampel. Ada 6 jenis
destilasi yaitu destilasi sederhana, destilasi fraksionasi, destilasi uap,
destilasi vakum, destilasi kering dan destilasi azeotropik.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, F., Cokorda, P., dan Mahandari. 2010. Kajian Awal Biji Buah Kepayang Masak
Sebagai Bahan Baku Minyak Nabati Kasar. Jurnal Teknologi Industri. Vol. 4.
No. 2, Hal. 5.
Ari, K., dan Hadi, W. 2008. Pembuatan Etanol Dari Sampah Pasar Melalui Proses
Hidrolisis Asam Dan Fermentasi Bakteri Zymomonas Mobilis. Jurnal Teknik
Lingkungan. Vol. 2. No. 1, Hal. 6.
Egi, A., dkk. 2010. Pemisahan Sitronelal Dari Minyak Sereh Wangi Menggunakan
Unit Fraksionasi Skala Bench. Jurnal Teknologi Industri Pertanian. Vol. 17.
No. 2, Hal. 49.
Ni Ketut, S. 2010. Vapor-Liquid Equilibrium (VLE) Water-Ethanol From Bulrush
Fermentantion. Jurnal Teknik Kimia, Vol. 5. No. 1, Hal. 363.
Siti, N., Mardawati, E., dan Herudiyanto, M. 2010. Pemisahan Eugenol Dari Minyak
Cengkeh Dengan Cara Distilasi Fraksinasi. Teknologi Industri Pangan. Vol. 4.
No. 2, Hal. 2.
Vina, J., Siti, A., dan Mustapha, I. 2010. Isolasi Dan Karakteriasi Senyawa Turunan
Terpenoid Dari Fraksi N-Heksan Momordica Charantia L. Jurnal Sain Dan
Teknologi Kimia. Vol.1 No. 1, Hal. 90.
Laporan Praktikum Kimia Organik II

KONDENSASI BENZOIN

A. Tujuan Percobaan
Tujuan yang ingin dicapai dalam percobaan kondenssi benzoin adalah
menjelaskan dan memahami tentang kondensasi benzoin.
B. Landasan Teori
Reaksi yang menghasilkan ikatan karbon-karbon baru merupakan sesuatu
yang sangat berguna

bagi pakar kimia organik, biokimia dan ahli-ahli yang

membutuhkan sintesis molekul kimia organik yang besar dari molekul kimia yang
kecil. Reaksi Grignard merupakan salah satu bentuk penggunaan reaksi tersebut
untuk menghasilkan kerangka karbon. Reaksi kondensasi adalah reaksi dimana dua
molekul senyawa organik tergabung, dengan atau tanpa mengeluarkan suatu
senyawa molekul (Petrucci, 1987).

Reaksi

kondensasi

adalah

reaksi

diaman

dua

molekul

atau

berlebih

bersambung menjadi suatu molekul. Definisi tersebut diatas berdasarkan pada


disiplin polimerisasi yang mengalami kebenaran reaksi kondensasi.

Karena pada reaski polimerisasi terjadi H 2O maka proses tersebut istilah polimer
kondensasi (Matsjeah,1995).
Thiamin dan vitamin B1 bekerja dalam bentuk thiamin difosfat pada
dekarboksilasi asam -keton dan disebut kokarboksilase. Tiamin tersedia dalam
bentuk klorida atau nitratnya dan rumus strukturnya:

Molekulnya mengandung dua atom nitrogen bersifat basa, satu pada gugus
amino primer, yang lainnya dalam gugus amonium kuarterner. Senyawa ini
membentuk garam dengan asam organik dan asam anorganik. Vitamin ini
mengandung gugus alkool primer, yang biasanya terdapat dalam vitamin alam
dalam bentuk terester dengan asam orto-, di- atau infoafat (Deman, 1997).
Di dalam MET juga terdapat beberapa vitamin (tiamin, riboflavin, piridoksin,
niasin, triptofan, asam pantotenat, folasin, vitamin C, dan K). Vitamin berperan
sebagai growth factor dalam pertumbuhan alga. Droop (1962) menyatakan bahwa
vitamin yang dibutuhkan bagi pertumbuhan alga, antara lain tiamin, kobalamin, dan
biotin .

Tiamin

berfungsi

dalam reaksi -dekarboksilasi dan

transketolase.

Kobalamin berfungsi untuk sintesis deoksiribosa. Biotin berfungsi dalam sintesis


asam lemak, -dekarboksilasi, dan fiksasi karbondioksida (Prihantini, et al., 2007).
Vitamin B1 atau tiamin, yang bentuk aktifnya berupa koenzim tiamin
pirofosfat (TPP). TPP diketahui sebagai koenzim reaksi enzimatis transketolase yang
terlibat dalam biosintesis polisakarida melalui jalur pentosa fosfat. Pada tanaman,
sebagian jalur pentosa fosfat berperan dalam reaksi pembentukan fruktosa-6-fosfat
sebagai prEkursor biosintesis polisakarida, yang kemudian berperan dalam sintesis
-1,3-1,6-glukopiranosida (Sasmito, et al., 2005).
Dari beberapa jenis kemenyan, Styrax benzoin merupakan salah satu jenis
yang banyak dibudidayakan. Jenis ini pada umur 4-5 tahun sudah mampu
menghasilkan getah dengan kualitas baik, sedangkan jenis lainnya mulai disadap
pada umur lebih dari 8 tahun (Jayusman, 1997). Pohon kemenyan menghasilkan
getah yang mengandung senyawa benzoin dan banyak digunakan untuk berbagai
keperluan seperti bahan baku industri, penambah aroma rokok, obat-obatan, bahan
kosmetika, penolak serangga dan nyamuk (insektisida alami), farmasi, dan
pengawet makanan dan minuman (Sudrajat, 2011)

C. Alat dan Bahan


1. Alat
Erlenmeyer 100 mL
Corong
Gelas kimia
Filler
Pipet ukur 10 mL
Penangas air
Pipet tetes
Termometer
Gelas ukur
Statif dan klem
Timbangan analitik
2. Bahan
Benzaldehid
Etanol 95%
NaOH 3 M
Akuades
Vitamin B1
Kertas pH
Kertas saring
Es batu

D. Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan dalam percobaan kondensasi benzoil adalah:

1.75 g Vitamin B1

Campuran dengan endapan kuning

E. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan yang dilakukan dalam percobaan kondensasi benzoin adalah:
1.

Data pengamatan
Perlakuan

Hasil Pengamatan

Tahap I :
17,5 gram vitamin B1 + 3,75 Larutan bening
mL akuades
Tahap II :
ditambahkan 17,5 mL etanol, Larutan keruh
kemudian didinginkan dengan
air es + 3,75 mL NaOH + 10 Larutan berwarna kuning
mL benzaldehid
Tahap III :
Dipanaskan

selama

jam Larutan membentuk endapan

dengan suhu 60-63oC


Tahap IV :
Larutan

didinginkan

suhu 10

C,

pada Terbentuk kristal = 1,33 gr

Disaring dan

(Rendamen = 12,54 %)

direkristalisasi dengan etanol.


2.

Perhitungan

a.

Berat teoritis
Mol benzoin

= mol benzaldehid
= x 0,1 mol
= 0,05 mol

Berat benzoin

= mol x Mr Benzoin
= 0,05 mol x 212 gr/mol
= 10,06 gr

Jadi, berat teoritis benzoin adalah 10,06 gr

b.

% Rendamen
Dik:

- Berat kertas saring

= 1,08 g

- Berat kertas saring + kristal benzoin

= 2,41 g

- Berat endapan Benzoin


Dit :

= 1,33 g

% Rendamen = .... ?

Peny :

c. Reaksi

F. Pembahasan
Reaksi kondensasi adalah reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung
menjadi satu molekul yang lebih besar dengan atau tanpa hilanganya suatu molekul
kecil, misalnya air. Ada beberapa jenis reaksi yang tergolong dalam reaksi
kondensasi, salah satunya adalah kondensasi benzoin.
Kondensasi benzoin merupakan kondensasi dua molekul aldehid aromatik
membentuk
kondensasi

- hidroksi keton dan air. Kondensasi benzoin adalah suatu reaksi


dimana

dua

molekul

aldehid

aromatik

yang

digunakan

adalah

benzaldehid. Reaksi kondensasi bezoin ini dapat berlangsung dengan cepat dengan

bantuan suatu katalis tertentu, adapun katalis yang digunakan dalam percobaan ini
adalah vitamin B1 atau thiamin hidroklorida.
Dua molekul suatu aldehid aromatik, apabila dipanaskan dengan sejumlah
katalitik natrium atau kalium sianida dalam larutan etanol, akan bereaksi
membentuk

ikatan

karbon-karbon

baru

antara

karbo

karbonil.

Produknya

merupakan suatu -hidroksi keton. Katalis lain yang biasa digunakan adalah basa
konjugasi dari dari garam thiazolium, yang ditemukan oleh Breaswol pada tahun
1958. katalis ini efektif untuk menstabilkan anion- dengan resonansi. Salah satu
senyawa yang mengandung gugus thiazole ini adalah thiamin (vitamin B 1)
Vitamin B1 atau aneurin, sangat penting dalam metabolisme karbohidrat.
Peran utama tiamin adalah sebagai bagian dari koenzim dalam dekarboksilasi
oksidatif asam alfa-keto. Gejala defisiensi akan muncul secara spontan berupa beriberi pada manusia. Struktur kimia tiamin, merupakan gabungan dari molekul basa
pirimidin dan tiazol yang dirangkai jembatan metilen.
Thiamin atau vitamin B1 bekerja dalam bentuk thiamin difospat pada
karboksilat asam-keton dan disebut kokarboksilase tersedia dalam bentuk klorida
atau nitratnya. Molekulnya mengadung dua atom nitrogen bersifat basa, satu pada
gugus amina primer dan yang lainnya pada gugus amonium kuartener. Senyawa ini
membentuk garam dalam asam organik dan asam anorganik. Vitamin ini
mengandung gugus alkohol primer, yang biasanya terdapat dalam vitamin alam
dalam bentuk terester dengan asam orto-, di-, atau trifospat. Vitamin B 1 atau
thiamin hidroklorida yang mempunyai rumus molekul C 12H8N4OSCl2.
Percobaan kali ini, Langkah awal yang dilakukan adalah dengan melarutkan
vitamin B1 sebanyak 1,75 gram atau sekitar 3 butir lebih dalam air, dimana thiamin
merupakan vitamin yang dapat larut dalam air,

kemudian thiamin hidroksida

ditambahkan dengan etanol terlihat gumpalan-gumpalan putih yang mengendap di


dasar erlenmeyer. Gumpulan putih

ini menunjukan telah terjadi reaksi antara

senyawa-senyawa tersebut. Setelah ditambahkan NaOH, larutan berubah warna


menjadi kuning. Tiamin bertindak sebagai katalis untuk mempercepat proses
reaksi. Dimana katalis ini sangat efektif untuk menstabilkan -anion

dengan

resonansi senyawa ini mengandung gugus tiasol. Dimana dari hasil reaksi ini suatu
-hidroksi

keton yang merupakan suatu senyawa yang disebut dengan nama

benzoin.
Dalam kondensasi benzoin perlu dilakukannya pemeriksaan pH , sebab
vitamin B1 merupakan viitamin yang kurang stabil. Tidak stabil yang dimasukkan
disini adalah vitamin B1 ini mudah rusak pada pH asam maupun netral, olehnya itu
pada percobaan ini pH larutan harus dalam keadaan basa (basa lemah) apabila
reagen seperti thiamin ini tidak ada, benzaldehid akan bereaksi dengan ion
hidroksida untuk membentuk suatu tetrahedral intermediat yang menghasilkan
suatu sumber hidrida yang dapat mereduksi molekul benzaldehid lainnya menjadi
turunan alkoholnya. Efeknya benzoin yang kita upayakan supaya terbentuk tidak
terjadi. Pembuat basa percobaan ini adalah NaOH 3 M dan pH basa yang terjadi
adalah dengan kisaran pH=12.
Dalam percobaan ini dilakukan pemanasan guna membantu mempercepat
jalannya reaksi yang terjadi pada campuran thiamin hidroklorida, aquadest, etanol
95%, NaOH 3M dan benzaldehid hasil dari pencampuran itu adalah suatu larutan
yang berwarna kuning dengan adanya endapan putih yang berupa benzoin dalam
keadaan belum sepenuhnya murni karena masih mengandung beberapa pengotor.
Pengotor tersebut dihilangkan dengan cara rekristalisasi menggunakan etanol 95%.
Penggunaan etanol 95% sebagai bahan untuk mengkristalisasi filtrat (benzoin

belum murni) karena etanol ini merupakan senyawa yang mudah untuk menguap
sehingga pengotor yang ada mudah terpisah sehingga mengasilkan suatu kristal
murni. Hasil dari rekristalisasi ini ditimbang untuk memperoleh berat endapan
filtrat yang terbentuk dalam praktek.
Larutan yang diperoleh dipanaskan dalam gelas kimia yang berisi air dengan
maksud agar larutan yang dihasilkan menjadi homogen. Setelah diperoleh endapan
putih, maka larutan yang dihasilkan kemudian disaring. Kemudian krsital yang
didapatkan direkristalisasi dengan etanol 95% yang bertujuan untuk mendapatkan
kristal murni yang bersih dari zat-zat pengotor yang dihasilkan saat proses reaksi
berlangsung. Selanjutnya larutan didinginkan dengan es batu agar terbentuk kristal
benzoin. Pendinginan dilakukan dengan tujuan mempercepat reaksi dengan reaksi
yang terjadi merupakan reaksi endoterm.

Hasil dari rekristalisasi tersebut

kemudian ditimbang dan dihitung nilai rendamennya. Nilai rendamen dari hasil
rekristalisasi adalah 48,5 %.
G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik Kesimpulan
bahwa kondensasi benzoin adalah suatu reaksi kondensasi dimana dua molekul
aldehid membentuk suatu -hidroksi keton dan molekul air. Proses pembentukan
benzoin ini dilakukan dalam suasana basa dengan bantuan katalis thiamin
hidroklorida (Vitamin B1). Pada percobaan ini diperoleh persen rendamen sebesar
48,5 %.

DAFTAR PUSTAKA
Busairi, A.M., dan Wikanastri, H., 2009, Pengkayaan Protein Kulit Umbi Ubi Kayu Melalui
Proses Fermentasi : Optimasi Nutrien Substrat Menggunakan Response Surface
Methodology, Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia.
Matsjeh, Sabirin., 1994, Kimia Organik Dasar, UGM-Press, Yogyakarta.
Petrucci, R.H., 1987, Kimia Dasar, Erlangga, Jakarta.
Prihantini, N.B., Dini D., dan R. Yuniati, 2007, Pengaruh Konsentrasi Medium Ekstrak Tauge
(Met)Terhadap Pertumbuhan Scenedesmus Isolat Subang, Makara, Sains, Vol. 11,
No. 1.
Sudrajat, Dede., 2011, Perbaikan Mutu Fisiologis Benih Kemenyan (Styrax Benzoin
Dryander)
Sasmito, E., A.E., Nugroho dan Chyntia, R.W., 2005, Pengaruh pemberian vitamin B1 dan
seng sulfat terhadap produksi polisakarida tudung jamur sitake (Lentinus edodes)
serta uji imunomodulatornya pada sel limfosit mencit Balb/c, Majalah Farmasi
Indonesia, 16 (2).

TUGAS SETELAH PRAKTIKUM

Soal:
1. Sebutkan dan jelaskan jenis kondensasi lain selain dalam penentuan
praktikum ini (minimal 3), apa bedanya.
2. Tuliskan mekanisme reaksi pembuatan benzoin.
Jawaban:
1. jenis kondensasi
a. Kondensasi aldol adalah reaksi ketika senyawa aldehid diubah oleh basa
menjadi anion enolatnya yang kemudian enolatnya ini mengalami adisi
nukleofilik pada gugus karbonil.
b. Kondensasi aldol campuran adalah reaksi antara enolat dari senyawa
asetaldehid pada gugus karbonil benzaldehid.
c. Kondensasi eluesin adalah kondensasi yang menghasilkan ester C - keton
diaman ester yang mengandung hidrogen dapat mengalami kondensasi
sehingga gugus OR dari ester dapat bertindak sebagai gugus lepas
perbedaan ketiganya adalah terletak dari senyawa yang menjadi reaktan dan
produk yang terbentuk.

2. Mekanisme reaksi kondensasi

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK
PERCOBAAN IV

IDENTIFIKASI SENYAWA HIDROKARBON DAN


SENYAWA ORGANIK JENUH DAN TIDAK JENUH
Disusun :
Nama : Yoga Kevan Rahmat
NIM : 31109071
Kelas : Farmasi 2B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2011
A. Judul
Identifikasi senyawa hidrokarbon senyawa organic jenuh dan tidak jenuh
B. Tujuan
1. Mengetahui kelarutan dari hidrokarbon alifatis dan aromatis
2. Mengamati dengan seksama perubahan reaksi yang terjadi
C. Dasar Teori
Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa karbon yang paling sederhana. Dari namanya,
senyawa hidrokarbon adalah senyawa karbon yang hanya tersusun dari atom hidrogen dan atom

karbon. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui senyawa hidrokarbon, misalnya minyak
tanah, bensin, gas alam, plastik dan lain-lain.
Sampai saat ini telah dikenal lebih dari 2 juta senyawa hidrokarbon. Untuk
mempermudah mempelajari senyawa hidrokarbon yang begitu banyak, para ahli mengolongkan
hidrokarbon berdasarkan susunan atom-atom karbon dalam molekulnya.
Berdasarkan susunan atom karbon dalam molekulnya, senyawa karbon terbagi dalam 2
golongan besar, yaitu senyawa alifatik dan senyawa siklik. Senyawa hidrokarbon alifatik adalah
senyawa karbon yang rantai C nya terbuka dan rantai C itu memungkinkan bercabang.
Berdasarkan jumlah ikatannya, senyawa hidrokarbon alifatik terbagi menjadi senyawa alifatik
jenuh dan tidak jenuh.
- Senyawa alifatik jenuh adalah senyawa alifatik yang rantai C nya hanya berisi ikatan-ikatan
tunggal saja. Golongan ini dinamakan alkana.
Contoh senyawa hidrokarbon alifatik jenuh:

- Senyawa alifatik tak jenuh adalah senyawa alifatik yang rantai C nya terdapat ikatan rangkap
dua atau rangkap tiga. Jika memiliki rangkap dua dinamakan alkena dan memiliki rangkap tiga
dinamakan alkuna. Contoh senyawa hidrokarbon alifatik tak jenuh:

- Senyawa hidrokarbon siklik adalah senyawa karbon yang rantai C nya melingkar dan lingkaran
itu mungkin juga mengikat rantai samping. Golongan ini terbagi lagi menjadi senyawa alisiklik
dan aromatik.
senyawa alisiklik yaitu senyawa karbon alifatik yang membentuk rantai tertutup.

Senyawa aromatik yaitu senyawa karbon yang terdiri dari 6 atom C yang membentuk rantai
benzena.

http://sahri.ohlog.com/senyawa-hidrokarbon.oh84970.html
Dalam bidang kimia, hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari unsur karbon
(C) dan hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom hidrogen yang
berikatan dengan rantai tersebut. Istilah tersebut digunakan juga sebagai pengertian dari
hidrokarbon alifatik.
Sebagai contoh, metana (gas rawa) adalah hidrokarbon dengan satu atom karbon dan
empat atom hidrogen: CH4. Etana adalah hidrokarbon (lebih terperinci, sebuah alkana) yang
terdiri dari dua atom karbon bersatu dengan sebuah ikatan tunggal, masing-masing mengikat tiga
atom karbon: C2H6. Propana memiliki tiga atom C (C3H8) dan seterusnya (CnH2n+2).
http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon
Klasifikasi / Penggolongan Hidrokarbon (terdiri dari atom C dan H)
a. Berdasarkan jenis ikatan antar atom karbonnya :

drokarbon jenuh

senyawa hidrokarbon yang ikatan antar atom


karbonnya merupakan ikatan tunggal.

drokarbon tak jenuh =

senyawa hidrokarbon yang memiliki 1 ikatan

rangkap dua

(alkena) atau lebih dari 1 ikatan


rangkap dua (alkadiena), atau ikatan rangkap tiga
(alkuna).
b. Berdasarkan bentuk rantai karbonnya :

idrokarbon alifatik

senyawa hidrokarbon dengan rantai terbuka jenuh


(ikatan tunggal) maupun tidak jenuh (ikatan
rangkap).

Hidrokarbon alisiklik =senyawa hidrokarbon dengan rantai melingkar /

idrokarbon aromatik

tertutup (cincin).
=

senyawa hidrokarbon dengan rantai melingkar


(cincin) yang mempunyai ikatan antar atom C
tunggal dan rangkap secara selang-seling /

bergantian (konjugasi).

Skema Klasifikasi Hidrokarbon


Uraian hidrokarbon alifatik jenuh dan tak jenuh :
ALKANA
o Adalah hidrokarbon alifatik jenuh yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan semua ikatan
antar atom karbonnya merupakan ikatan tunggal.
o Rumus umum alkana yaitu : CnH2n+2 ; n = jumlah atom C
ALKENA
o Adalah hidrokarbon alifatik tak jenuh yaitu hidrokarbon dengan satu ikatan rangkap dua (
C=C). Senyawa yang mempunyai 2 ikatan rangkap 2 disebut alkadiena, yang mempunyai 3
ikatan rangkap 2 disebut alkatriena dst.
o Rumus umum alkena yaitu : CnH2n ; n = jumlah atom C
ALKUNA
o Adalah hidrokarbon alifatik tak jenuh yaitu hidrokarbon dengan satu ikatan rangkap tiga (
CC). Senyawa yang mempunyai 2 ikatan rangkap 3 disebut alkadiuna, yang mempunyai 1
ikatan rangkap 2 dan 1 ikatan rangkap 3 disebut alkenuna.
o Rumus umum alkuna yaitu : CnH2n-2 ; n = jumlah atom C
Benzena merupakan sikloheksena yaitu senyawa siklik yang memiliki ikatan rangkap dua
aromatik dengan rumus struktur C6H12. Benzena dilambangkan dalam dua bentuk, yang pertama
adalah struktur Kekul dan yang lainnya adalah heksagon dengan lingkaran di dalamnya untuk

menggambarkan adanya resonansi ikatan atau distribusi elektron yang tersebar merata didalam
cincin benzena. Kedua struktur ini disederhanakan pada Gambar 12.70.

Gambar 12.70. Struktur Kekul dan heksagonal benzena


Adanya ikatan rangkap dua pada senyawa sikloheksena ini menunjukkan bahwa benzena
termasuk hidrokarbon tidak jenuh, namun pada umumnya benzena tidak berperilaku seperti
senyawa tak jenuh.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-kesehatan/senyawahidrokarbon/benzena/

D. Alat dan Bahan


a. Alat

: 1. Tabung reaksi
2. Erlen meyer
3. Pipet tetes
4. Kapas
5. Gelas ukur
6. Pipet gondok

b. Bahan

: 1. Asam nitrat pekat HNO3


2. Benzena C6H6
3. Etanol
4. Aquadest
5. Kristal iodium
6. Asam sulfat H2SO4

7. Parafin
8. Minyak kelapa
E. Prosedur
Reaksi
Hidrokarbon alifatis

Hasil

Larutan bening berpisah

1 ml asam sulfat + 1 ml paraffin cair


Hidrokarbon alimatis

Larutan kuning berawan diatas


dan bening dibawah
1 ml aquadest + 1 ml etanol + 1 ml benzena

Sifat benzene sebagai pelarut

Tidak tercampur

1 ml aquadest + 1 ml paraffin cair

2 lapisan kuning + bening

Larutan coklat
1 ml aquadest + 1 ml minyak kelapa
Bening bercampur

Kuning bercampur
1 ml aquadest + 1 ml kristal iodium

1 ml benzena + 1 ml paraffin cair

1 ml benzena + 1 ml minyak kelapa

Larutan ungu
1 ml benzena + 1 ml kristal iodium
Nitrasi Benzen
Larutan bening tidak tercampur seperti
gumpalan minyak

1 ml asam sulfat + 3 ml asam nitrat


pekat
+ 1 ml benzoat, amati + kan air 25 ml

F. Hasil Pengamatan
Identifikasi
Hidrokarbon
alifatis

Prosedur

Hasil

H2SO4 dan Parafin

2 lapisan, bening dan kuning

H20 + Etanol + C6H6

2 lapisan, kuning dan bening

(alkana)
Hidrokarbon
alimatis
(benzene)

Sifat benzene
sebagai
pelarut

Nitrasi
benzena

- Aquadest + paraffin

- 2 lapisan bening dan kuning

- Aquadest + minyak kelapa

- 2 lapisan kuning dan bening

- Aquadest + kristal iodium

- Larutan kuning tak larut

- Benzena + paraffin

- Bening tercampur

- Benzena + minyak kelapa

- Larutan kuning keruh

- Benzena + kristal iodium

- Larutan ungu

H2SO4 + HNO3 + C6H6+ H2O

Larutan tidak tercampur

G. Pembahasan
Pada percobaan praktikum ini mengidentifikasi senyawa hidrokarbon dan senyawa
oragnik jenuh dan tak jenuh yang meliputi beberapa percobaan, diantaranya adalah :
1. Identifikasi hidrokarbon alifatis (alkana)
Percobaan ini mereaksikan antara 1 ml asam sulfat pekat dengan 1 ml paraffin cair,
kemudian didapat larutan bening tidak tercampur dengan memisah 2 lapisan, dikarenakan
kekentalan paraffin yang cukup tinggi dan bereaksi dengan asam.
2. Identifikasi hidrokarbon alimatis (benzene)
Percobaan ini mereaksikan 1 ml aquadest dengan 1 ml etanol kemudian direakiskan
dengan 1 ml benzene, kemudian akan didapat hasil campuran reaksi yang terpisah dengan larutan
kekuningan diatas dan terlapisi seperti bentuk awan dibawahnya dengan warna larutan bening.
3. Identifikasi senyawa benzene sebagai pelarut
a.

1 ml aquadest direaksikan dengan 1 ml paraffin cair dan menghasilkan warna larutan yang
bening terpisah.

b. 1 ml aquadest direaksikan dengan 1 ml minyak kelapa dan menghasilkan larutan yang terpisah
antara minyak dan air. Posisi minyak berada diatas dikarenakan kekentalan minyak yang sangat
tinggi.
c.

1 ml aquadest direakiskan dengan kristal iodium dan akan menghasilkan warna lrutan coklat, itu
dikarenakan warna iodium yang berwarna coklat.

d.

1 ml benzene direaksikan dengan 1 ml paraffin dan menghasilkan warna lrutan bening yang
tercampur.

e.

1 ml benzene direaksikan dengan 1 ml minyak wijen dan akan menghasilkan larutan kuning
keruh.

f.

1 ml benzene direakiskan dengan 1 ml kristal iodium dan akan menghasilkan warna larutan
yang ungu.

4. Nitrasi benzene
Pada percobaan nitrasi ini, mereaksikan 1 ml asam sulfat dengan 3 ml asam nitrat pekat,
kemudian diteteskan 1 ml benzene melalui dinding tabung reaksi, dan diamati perubahan
warnanya, tetapi tidak terjadi perubahan warna, hanya ada sedikit gumpalan seperti minyak.
Kemudian ditambahkan 25 ml aquadest dan menghasilkan larutan yang tetap berwarna bening

dengan sedikit ada butiran minyak. Reaksi yang terjadi pada percobaan ini adalah sebagai berikut
:

Percobaan diatas sama halnya seperti pada proses esterifikasi dengan menggunakan
katalis asam, yaitu asam sulfat.
H. Simpulan
a. Hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari unsur karbon (C) dan
hidrogen (H).
b. Hidrokarbon berdasarkan jenis ikatan antar atom karbonnya :
Hidrokarbon jenuh
Hidrokarbon tak jenuh
c. Hidrokarbon berdasarkan bentuk rantai karbonnya :
Hidrokarbon alifatik
Hidrokarbon alisiklik
Hidrokarbon aromatik
d. Alkana termasuk hidrokarbon jenuh
Alkena termasuk hidrokarbon tak jenuh
Alkuna termasuk hidrokarbon tak jenuh
e. Benzena merupakan sikloheksena yaitu senyawa siklik yang memiliki ikatan
rangkap dua aromatik dengan rumus struktur C6H6.

I. Daftar Pustaka
http://sahri.ohlog.com/senyawa-hidrokarbon.oh84970.html
Akses 12/04/11 21:15 WIB
http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon
Akses 12/04/11 21:22 WIB
http://www.chemistry.org/materi_kimia/kimiakesehatan/senyawahidrokarbon/benzena/
Akses 12/04/11 21:24 WIB

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK
PERCOBAAN 5
IDENTIFIKASI SENYAWA HIDROKARBON DAN
SENYAWA ORGANIK JENUH DAN TIDAK JENUH

Disusun :
Nama

: Ai Rudiyat

NIM

: 31111004

Kelas

: Farmasi 2A

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


BAKTI TUNAS HUSADA
I. Tujuan
1. Mengetahui kelarutan dari senyawa hidrokarbon alifatis dan aromatis.
2. Mengamati dengan seksama perubahan reaksi yang terjadi.

II. Dasar Teori


Hidrokarbon merupakan persenyawaan organic yang paling sederhana yang hanya terdiri
dari atom karbon dan atom hidrogen. Meski secara biologis persenyawaan-persenyawaan
hidrokarbon tidak penting, tetapi persenyawaan-persenyawaan biologis dapat dipandang sebagai
turunan dari hidrokarbon (hidrokarbon dipandang sebagai persewaan induk). Keluarga
Hidrokarbon dapat digambar dalam diagram yang dilukiskan pada gambar berikut :
Hidrokarbon

Hidrokarbon Alifatik

HidrokarbonAromatik.

Alkana
Alkena
Alkuna
Semua persenyawaan hidrokarbon bersifat non pokar, sehingga ikatan antar molekulnya
sangat lemah. Karena itu hidrokarbon yang berat molekulnya rendah berbentuk gas. Karena sifat
non polar ini, hidrokarbon akan mudah larut dalam pelarut-pelarut berpolaritas rendah seperti

karbon tetraclorida (CCl3), chloroform (CHCl3), benzena (C6H6) dan eter (R-O-R). Selain itu
hidrokarbon mempunyai kerapatan yang lebih kecil dari air.
Dalam bidang kimia, hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari unsur karbon (C) dan
hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom hidrogen yang
berikatan dengan rantai tersebut. Istilah tersebut digunakan juga sebagai pengertian dari
hidrokarbon alifatik.
Sebagai contoh, metana (gas rawa) adalah hidrokarbon dengan satu atom karbon dan empat atom
hidrogen: CH4. Etana adalah hidrokarbon (lebih terperinci, sebuah alkana) yang terdiri dari dua
atom karbon bersatu dengan sebuah ikatan tunggal, masing-masing mengikat tiga atom karbon:
C2H6. Propana memiliki tiga atom C (C3H8) dan seterusnya (CnH2n+2).
Senyawa ini merupakan senyawakarbon paling sederhana yang terdiri dari atom karbon(C)dan
hidrogen(H).sampai saat ini terdapat lebih kurang 2 juta senyawa hidrokarbon.sifat senyawasenyawa hidrokarbon ditentukan oleh struktur dan jenis ikatan koevalen antar atom karbon.oleh
karena itu,untuk memudahkan mempelajari senyawa hidrokarbon yang begitu banyak,para ahli
melakukan
1. berdasarkan bentuk rantai karbon,hidrokarbon digolongkan menjadi tiga,yakni:
A.hidrokarbon alifatik
- alkana
- alkena
- alkuna
B.hidrokarbon alisiklik
C.hidrokarbon aromatik
2. berdasarkan jenis ikatan antar atom
A.hidrokarbon jenuh
B.hidrokarbon tak jenuh
Berdasarkan ikatan yang terdapat pada rantai karbonnya, hidrokarbon dibedakan menjadi
1) Hidrokarbon jenuh, yaitu hidrokarbon yang pada rantai karbonnya semua berikatan tunggal.
Hidrokarbon ini disebut juga sebagai alkana.
2) Hidrokarbon tak jenuh, hidrokarbon yang pada rantai karbonnya terdapat ikatan rangkap dua
atau rangkap tiga.

Hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap dua disebut alkena dan hidrokarbon yang
mengandung ikatan rangkap tiga disebut alkuna:
1) Alkana
Alkana merupakan hidrokarbon alifatik jenuh yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan
semua ikatan karbon-karbonnya merupakan ikatan tunggal. Alkana juga disebut parafin yang
berarti mempunyai daya ainitas kecil (sukar bereaksi).

2) Alkena
Alkena adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai satu ikatan rangkap dua ( C=C ) pada
rantai karbonnya. Sehingga alkena yang paling sederhana mempunyai 2 atom C. Alkena disebuut
juga olefin dari kata olefiant gas (gas yang membentuk minyak).
3) Alkuna
Alkuna adalah hidrokarbon alifatis tak jenuh yang mempunyai satu ikatan rangkap tiga ( C C )
pada rantai karbonnya. Dibandingkan dengan alkana dan alkena yang ssuai, alkuna mempunyai
lebih jumlah atom (H) yang lebih sedikit.

III. Alat dan Bahan


Alat
Tabung reaksi
Erlenmeyer
Pipet tetes
Gelas ukur 25 ml
Gelas ukur 10 ml
Bahan
a. Asam Nitrat (HNO3) pekat
b. Benzene (C6H6)
c. Etanol
d. Aquadest
e. Kristal Iodium
f. Asam Sulfat (H2SO4) pekat
g. Parafin

h. Minyak Kelapa

IV. Prosedur
a. Hidrokarbon Alifatis (Alkana)
1. Masukkan 1 ml asam sulfat pekat kedalam tabung reaksi
2. Tambahkan 1 ml alkana (paraffin cair)
3. Kocok hingga berubah warna dan amati
4. Ulangi percobaan sekali lagi
b. Hidrokarbon Alimatis (Benzena)
1. Sediakan 2 tabung reaksi dan masing-masing tabung diisi dengan 1 ml aquads
2. Tambahkan 1 ml etanol pada tia-tiap tabung kemudian tetesi dengan Benzena pada masingmasing tabunng sebanyak 1 ml secara perlahan lahan
3. Amati perubahan yang terjadi
4. Ulangi percobaan sekali lagi
c. Sifat Benzena sebagai Pelarut
1. Sediakan 6 tabung reaksi; Tiga tabung masing-masing diisi dengan 1 ml aquades dan tiga
tabung yang lain yakni tabung 4,5,6 masing-masing diisi dengan 1ml benzene
2. Pada tabung 1,2 dan 3 yang brisi aquades tambahkan parafin pada tabunng 1, 1 ml minyak
kelapa pada tabung 2 dan 1gr kristal iodium pada tabung 3 .
3. Ulangi perlakuan diatas terhadap tabung 4,5 dan 6 yang brisi benzena
4. Amati prubahan yang terjadi
5. Ulangi sekali lagi
d. Nutrisi Benzena
1. Sediakan 1 tabung reaksi kmudian isi denga 1 ml asam sulfat pekat
2. Kemudian tambahkan dengan 3 ml asam pekat Nitrat pekat secara perlahan-lahan. Lakukan
prosedur ini pada ruang asam.
3. Tetesi dengan 1 ml benzena (amati prubahan yang terjadi )

4. Lalu tuangkan 25 ml aquades secara perlahan-lahan (lakukan di ruang asam ).

Selanjutnya

amati perubahan yang terjadi.


5. Ulangi sekali lagi.

V. Data Hasil Pengamatan.


Setelah melaksanakan percobaan diperoleh data sebangai berikut :

1. Hidrrokarbon

Sampel

Penambahan

Pengamatan

Paraffin Cair

Pereaksi
1 ml H2SO4 + 1

Paraffin tidak larut

ml Parafin cair

dalam H2SO4 ,

Alifatis

membentuk 2 lapisan
pada larutan tersebut
dengan lapisan
Paraffin di atas dan
H2SO4 dibawah serta
1 ml Aquadest + 1

berwarna kekuningan.
Terdapat 2 lapisan,

Alimatis

ml Etanol + 1 ml

Benzena yang tidak

(Benzene)

Benzene ke dalam

larut, dan air larut

tabung dengan

dalam etanol

2. Hidrokarbon

Benzene

perlahan.

3. Sifat Benzena
sebagai pelarut

Aquadest
Benzene

Tabung 1 : 1 ml

Paraffin tidak larut

Aquadest + 1 ml

dalam air, membentuk

Paraffin

2 lapisan dengan air

Tabung 2 : 1 ml

dibawah

Aquadest + 1 ml Minyak tidak larut


minyak kelapa

dalam air, membentuk

Tabung 3 : 1 ml
Aquadest + 1
gram Kristal
Iodium.
Tabung 4 : 1 ml

2 lapisan dengan
minyak di lapisan atas.
Larutan kelewat jenuh
sehingga Kristal
Iodium tidak terlarut

Benzana + 1 ml

semua. Membentuk

Paraffin

seperti endapan dalam

Tabung 5 : 1 ml
Benzena + 1 ml
minyak kelapa
Tabung 6 : 1 ml

larutan berwarna
coklat.
Paraffin tidak larut
dalam Benzena,

benzene + 1 gram

sehingga membentuk 2

Kristal Iodium.

lapisan dengan
paraffin dibawah dan
terdapat cincin
berwarna seperti
pelangi.
Pada saat-saat awal
minyak tidak larut
dalam Benzena,
membentuk 2 lapisan
dengan cincin pelangi
dan minyak terdapat
pada lapisan bawah.
Tapi setelah didiamkan
minyak menjadi larut
dalam Benzena
Larutan kelewat jenuh,
sehingga Kristal
Iodium tidak terlarut
sempurna, membentuk

seperti endapan dalam


larutan berwarna ungu
gelap.
4. Nitrasi Benzena

HNO3 pekat

1 ml H2SO4 pekat

Pada saat penambahan

+ 3 ml HNO3

H2SO4 + HNO3 + C6H6

pekat (secara

terbentuk 3 lapisan tak

perlahan) + 1 ml

tercampur dengan

Benzena + 25 ml

Benzene pada lapisan

aquadest secara

atas, As.Nitrat lapisan

perlahan-lahan.

ke 2 dan As.Sulfat
pada lapisan ke 3. Tapi
ketika ditambahkan
aquadest ke 3 lapisan
tidak tercampur itu
menjadi larutan yang
terlarut sempurna.

VI. Pembahasan
Pada data hasil pengamatan diketahui bahwa Paraffin tidak larut dalam H2SO4 ,
membentuk 2 lapisan pada larutan tersebut dengan lapisan Paraffin di atas dan H2SO4 dibawah
serta berwarna kekuningan dari pembiasan H2SO4. Hal ini menunjukkan bahwa alkana dengan
ikatan tunggal bereaksi dengan asam sulfat dalam jumlah sedikit atau terjadi reaksi
pengsulfonatan. uji ini menghasilkan larutan bening yang terpisah berdasarkan tingkat
kekeruhannya. Sedangkan bau yang ditimbulkannya kurang menyengat. Hilangnya bau ini
diakibatkan terjadinya reaksi sulfonasi pada senyawa itu. Alkana tergolong zat yang sukar
bereaksi sehingga disebut parafin yang artinya afinitas kecil.
C2H5 + H2SO4

C5 H 11 SO3H + H2O

Untuk mengetahui sifat Benzena sebagai pelarut pada data pengamatan diketahui jika, terdapat 2
lapisan, Benzena yang tidak larut dan air larut dalam etanol.

+ CH3CH2OH

CH3CH3 + H2O

Untuk data hsil pengamatan sifat benjena sebagai pelarut dikatahui jika, Paraffin tidak
larut dalam air, membentuk 2 lapisan dengan air dibawah; Minyak tidak larut dalam air,
membentuk 2 lapisan dengan minyak di lapisan atas; Larutan kelewat jenuh sehingga Kristal
Iodium tidak terlarut semua. Membentuk seperti endapan dalam larutan berwarna coklat; hal ini
terjadi karena untuk paraffin dan minyak kelapa tidak sesuainya tegangan permukaan antara air
dan lemak, dan perbedaan gugus karbonolnya. Paraffin tidak larut dalam Benzena, sehingga
membentuk 2 lapisan dengan paraffin dibawah dan terdapat cincin berwarna seperti pelangi;
Pada saat-saat awal minyak tidak larut dalam Benzena, membentuk 2 lapisan dengan cincin
pelangi dan minyak terdapat pada lapisan bawah. Tapi setelah didiamkan minyak menjadi
bercampur lambat dengan Benzena; Larutan kelewat jenuh, sehingga Kristal Iodium tidak
terlarut sempurna, membentuk seperti endapan dalam larutan berwarna ungu gelap. Perhatikan
bahwa paraffin tidak larut maupun dalam benzene hal ini disebabkan karena paraffin yang tidak
terhidrogenasi. Sedangkan untuk minyak kelapa yang akhirnya tercampur lambat membuktikan
jika minyak kelapa terhidrogenasi sebagian.
Untuk Nitrasi Benzena seperti pada data hasil pengamatan diperoleh bahwa pada saat
penambahan H2SO4 + HNO3 + C6H6 terbentuk 2 lapisan tak tercampur dengan Benzene pada
lapisan atas, As.Nitrat lapisan ke 2 dan As.Sulfat pada lapisan. Tapi ketika ditambahkan aquadest
ke lapisan tidak tercampur itu menjadi larutan yang terlarut sempurna. Hal ini terjadi karena
Benzena menjalani nitrasi dengan HNO3 pekat dengan H2SO4 sebagai katalis dengan nitrasi
aromatic yang berupa reaksi 2 tahap

VII. Kesimpulan

. Sifat Benzena yang tidak larut membentuk lapisan ke dua dengan cincin berbentuk awan

berwarna putih.
. Benjena sebagai pelarut hanya dapat melarutan senyawa-senyawa polar

. Nitrasi Benzene diketahui jika Benzene, as.Sulfat dan as.Nitrat yang masing-masing tidak
saling melarutkan, dapat larut pada pelarut polar (air).

Daftar Pustaka
Fessenden Ralp J & Fessenden Joan S. 1982. Kimia Organik : Edisi Ketiga.
Jakarta. Erlangga
http://blog.unnes.ac.id/iw4n/2009/10/09/materi-hidrokarbon/ (diakses tanggal 7 Juli 2013 /
22:05)
http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon(diakses tanggal 7 Juli 2013 / 22:05)
http://migasnet02wulan8011.blogspot.com/2010/01/sifat-sifat-hidrokarbon(diakses tanggal 7 Juli
2013 / 22:05)