Anda di halaman 1dari 26

Udara dan Atmosfer

Dok: Tempo/Taufik Subarkah

70% pencemaran udara di kota-kota besar berasal dari


kendaraan bermotor. Emisi atau bahan pencemaran
yang dikeluarkan menyebabkan gangguan kesehatan
bahkan merusak organ tubuh.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

31

Pencemaran udara adalah menurunnya kualitas udara


sehingga akibatnya akan mempengaruhi kesehatan
manusia yang menghirupnya. Salah satu faktor penyebab
meningkatnya pencemaran udara adalah semakin meningkatnya populasi penduduk di suatu tempat, terutama di
kota-kota besar. Kegiatan transportasi, industri dan aktivitas
penduduk menjadi sumber pencemaran udara.

dari 3,1 juta unit mobil penumpang (15%), 684 ribu unit bis
(3%), 1,75 juta unit truck (9%), 15,2 juta unit sepeda motor
(73%). Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang
cukup berarti dari tahun ke tahun mengakibatkan terjadi
penurunan kualitas udara ambien yang diakibatkan gas
buang yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor tersebut.
Walaupun jumlah kendaraan bermotor setiap tahun selalu
bertambah (Tabel 3.1), namun panjang jalan baik jalan
negara, propinsi maupun kabupaten relatif tidak berubah
(Tabel 3.2). Hal inilah menjadi penyebab terjadinya
kemacetan di jalan raya yang pada akhirnya menambah
parahnya pencemaran udara setempat.

Sumber pencemaran udara yang berasal dari sumber


tidak bergerak, antara lain industri, pemukiman/rumah
tangga dan pembakaran sampah. Sedangkan sumber
pencemaran udara dari sumber bergerak, adalah dari
kegiatan transportasi. Disamping itu, kebakaran hutan dan
lahan juga menjadi salah satu penyebab pencemaran
Udara di Indonesia. Bahkan kebakaran hutan dan lahan
mengganggu kestabilan komposisi gas di atmosfer.
Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara mengatur bahan
pencemar yang perlu dipantau yaitu sulfurdioksida (SO2),
karbonmonoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2 ),
partikulat berukuran kurang dari 10 mikron (PM10) dan
timah hitam (Pb).

Faktor yang mempengaruhi tingginya pencemaran udara


dari kendaraan bermotor adalah pesatnya pertambahan
jumlah kendaraan bermotor, rendahnya kualitas bahan
bakar minyak (BBM) dan masih digunakannya jenis bahan
bakar minyak mengandung Pb, penggunaan teknologi
lama (sistem pembakaran) pada sebagian besar
kendaraan bermotor di Indonesia dan minimnya budaya
perawatan kendaraan secara teratur. Kondisi tersebut
ditambah oleh buruknya manajemen lalu lintas yang
berakibat inefisien dalam pemakaian BBM.
Bensin Biru (80)
0,51%

A. PENCEMARAN UDARA DARI SUMBER BERGERAK

Solar
47,50%

Kegiatan transportasi memberikan kontribusi sekitar 70%


terhadap pencemaran udara di kota-kota besar. Di Jakarta
dan sekitarnya (Jabotabek) jumlah kendaraan bermotor
tahun 2000 menurut Polda Metro Jaya-POLRI telah
mencapai 4.159.442 unit yang didominasi oleh jenis
kendaraan mobil penumpang. Di Bandung jumlah
kendaraan bermotor untuk tahun 2000 mencapai 588.640
unit. Jumlah kendaraan tersebut belum termasuk kendaraan
yang datang ke Bandung pada setiap akhir pekan
sebanyak 10-25%.

Solar

Premium (88)*
50,12%

Super TT

Super TT
0,20%

Bensin Biru (80)

Sumber: Departemen Pertambangan dan energi, 1999


*) Bahan Bakar Bertimbal

Gambar 3.1. Persentase Pemakaian Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

Tahun 1999/2000.

TABEL 3.1
BANYAKNYA KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 1999-2001
TAHUN
DATA

MOBIL
PENUMPANG

BIS

TRUK

SEPEDA
MOTOR

JUMLAH

1999
2000
2001

2.897.803
3.038.913
3.122.715

644.667
666.280
684.329

1.628.531
1.707.134
1.750.015

13.053.148
13.563.017
15.225.306

18.224.149
18.975.344
20.782.365

Sumber: BPS-Statistik Lingkungan Hidup Indonesia, 2001

TABEL 3.2
PANJANG JALAN MENURUT JENIS JALAN (KM)
PROPINSI

KABUPATEN

1999

2000

1999

2000

1999

2000

26.206

26.272

46.538

46.781

283.207

282.898

Sumber: BPS-Statistik Perhubungan, 1999 & 2000

32

Premium (88)*

Premix (94)*
1,67%

Kendaraan bermotor yang beroperasi di Indonesia sampai


akhir tahun 2001 berjumlah 20,78 juta unit yang terdiri

NEGARA

Premix (94)*

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

Tidak ada Nilai


Baik

Sedang

Tidak Sehat Sangat Tidak SehatBerbahaya

300
250
200
150
100
50
0

Palangkaraya

Asap akibat kebakaran hutan telah mengganggu kesehatan masyarakat, terutama masyarakat rentan seperti
orang lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak bawah lima
tahun (balita). Gangguan kesehatan, antara lain, infeksi
saluran pernapasan atas (ISPA), asma bronkial, bronkhitis,
pnemonia (radang paru), iritasi mata dan kulit.

Kondisi kualitas udara kembali memburuk pada periode


Juli-Oktober 2002 akibat pencemaran asap yang terjadi
secara terus-menerus yang disebabkan oleh kebakaran
hutan dan lahan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Pontianak

Pada dasarnya, hutan hujan tropis Indonesia bersifat selalu


basah dan hijau sehingga tidak mudah terbakar secara
alami. Musim kemarau berkepanjangan, ulah dan kelalaian
manusia, penebangan liar, membuka lahan dengan cara
membakar, dan masyarakat pendatang yang tidak tahu
cara penanganan lahan menjadi akar permasalahan
kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kebakaran hutan
yang terjadi setiap tahun merupakan penyumbang
terjadinya pencemaran udara di beberapa propinsi seperti
Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat,
Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan
Lampung, serta negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Asap pekat dari
kebakaran hutan menjadi bahan pencemar udara.
Sebagai hasil dari proses pembakaran, di dalam asap
terkandung campuran gas-gas dan partikel-partikel yang
mengancam kesehatan manusia dan menambah jumlah
gas rumah kaca di atmosfer.

Medan

3. Kebakaran Hutan

Hasil pemantauan kualitas udara di 10 kota di Indonesia, dari 33 stasiun permanen dan sembilan stasiun bergerak/mobil, pada tahun 2002, menunjukkan kategori
baik dan sedang. Pada saat kebakaran hutan dan lahan
di Pontianak, Palangka Raya dan Pekanbaru terdeteksi
kategori tidak sehat, sangat tidak sehat dan berbahaya
dengan parameter kritis PM10 (Gambar 3.2).

Pekan Baru

Penggunaan bahan bakar fosil dan kayu di rumah tangga


ikut menyumbang pencemaran udara dari sumber tidak
bergerak meskipun tidak sebesar kontribusi pencemaran
industri.

Jambi

Rumah Tangga

Denpasar

2.

Nilai ISPU diperoleh dari perhitungan angka konsentrasi


lima senyawa pencemar udara yang diukur oleh Stasiun
Pemantau Kualitas Udara Ambien. Lima senyawa
pencemar udara itu adalah PM10, CO, SO2, NO2, dan
ozon (O3). Rentang nilai ISPU ditentukan berdasarkan efek
kesehatan potensial yang bisa timbul.

Surabaya

Sektor industri merupakan penyumbang pencemaran


udara setelah kendaraan bermotor, melalui penggunaan
bahan bakar fosil untuk pembangkit tenaga. Salah satu
penyebab meningkatnya pencemaran udara di Indonesia adalah urbanisasi dan industrialisasi yang tumbuh
dengan cepat tetapi tidak dibarengi dengan pengendalian pencemaran yang memadai dan efisien dalam penggunaan bahan bakar fosil.

Secara umum definisi ISPU adalah angka yang tidak


mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas
udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan dampaknya pada kesehatan manusia, mahluk hidup
lainnya, dan nilai estetika.

Semarang

Industri

Bandung

1.

Untuk dapat memberikan kemudahan dan keseragaman


informasi tentang kualitas udara ambien kepada
masyarakat di suatu lokasi dan waktu tertentu, serta
sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan upaya
pengendalian pencemaran udara, telah ditetapkan Indeks
Standar Pencemar Udara (ISPU) melalui Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 1997.

Jakarta

B. PENCEMARAN UDARA DARI SUMBER TIDAK


BERGERAK

C. SISTEM PEMANTAUAN KUALITAS UDARA

Frekuensi Kejadian (Hari)

Bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia didominasi


oleh premium dan solar. Bahan bakar premium sebagian
besar belum ramah lingkungan karena masih menggunakan
Pb sebagai peningkat angka oktan yang menjadi
penyumbang terbesar pencemaran udara.

Kota
Sumber: KLH, 2002

Gambar 3.2. Grafik Status Kualitas Udara di 10 Kota di Indonesia

Tahun 2002 Berdasarkan ISPU.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

33

Di Medan dan Pekanbaru nilai ISPU meningkat pada


bulan Juli-Agustus dan dikategorikan sedang hingga tidak
sehat. Sedangkan wilayah Kalimantan nilai ISPU meningkat tajam pada bulan Juli-Oktober terutama di Palangkaraya dan Pontianak.

tertinggi di Palangkaraya mencapai 1353 (September)


dan 1251 (Oktober). Nilai ISPU tertinggi di Pontianak
mencapai 842 (Juli) dan 743 (Agustus), sedangkan data
ISPU pada bulan September hingga Oktober tidak tersedia
karena alat pemantau rusak.

Rata-rata kualitas udara di Pontianak dan Palangkaraya


(Gambar 3.4) dikategorikan berbahaya. Nilai ISPU
Medan
1600

Pekanbaru
180

1400

160

1200

140

Nilai ISPU (PM-10)

120

1000

100
800

80
600

60
400

40

20

200

0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun
Rata-rata 46

75

83

Min

18

46

Max

68

101 133 126 136 104

56

54
25

54
22

57
22

Jul Aug Sep


53

77

Okt

63
33

0
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Aug

Sep

Okt

Rata-rata 17

25

18

20

28

25

62

352

692

531

Min

10

30

51

308

153

Max

40

52

40

40

43

51

117

879 1353 1251

75

31

33

49

93

165 117 105

Sumber: KLH, 2002-Hasil Pemantauan Kualitas Udara Harian.

Gambar 3.3. Grafik Nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Tahun 2002 di Pekanbaru dan

Medan.
Pontianak
1600

Palangkaraya
1600
1400

1400
1200

1200

Nilai ISPU (PM-10)

1000

1000
800

800
600

600
400

400
200

200

Jan Feb Mar Apr Mei

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Aug

Sep

Rata-rata 17

25

18

20

28

25

62

352

692

531

10

30

51

308

153

Min
Max

40

52

40

40

43

51

117

Jun Jul Aug

Sep Okt

Okt
31
Nilai Rata-rata

43

37

37

Nilai Min

14

18

16

20

Nilai Max

56

75

98

79

55

65 174 173

28

25

40

42

103 143 842 743

879 1353 1251

Sumber: KLH, 2002-Hasil Pemantauan Kualitas Udara Harian.

Gambar 3.4. Grafik Nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Tahun 2002 di Palangkaraya

dan Pontianak.

34

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

Angka ISPU dibagi dalam beberapa rentang seperti


dijelaskan dalam Tabel 3.3.
TABEL 3.3.
RENTANG KATEGORI NILAI ISPU
KATEGORI

RENTANG

PENJELASAN

Baik

0 - 50

Tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi


kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh
pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika

Sedang

51 - 100

Tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada
tumbuhan yang sensitive dan nilai estetika

Tidak Sehat

101 - 199

Tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitive atau bias menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika

Sangat Tidak Sehat 200 - 299

Tingkat kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan


pada sejumlah segmen populasi yang terpapar

Berbahaya

Tingkat kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat


merugikan kesehatan yang serius pada populasi

300 - lebih

Dok: ...?

Sumber: KEPMEN LH No. 45/1997 tentang Indeks Standar Pencemar Udara.

Kegiatan Transportasi Menyumbang Sekitar 70% Terhadap Pencemaran Udara di KotaKota Besar.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

35

KOTAK 3.1
PENCEMARAN UDARA DI DKI JAKARTA
Kota Metropolitan Jakarta merupakan salah satu kota dengan pencemaran udara paling tinggi. Sumber pencemaran
umumnya dari kegiatan industri pengolahan, transportasi dan rumah tangga. Di wilayah DKI Jakarta terdapat berbagai
jenis industri yang berpotensi mencemari udara antara lain industri makanan, minuman, kayu dan olahan kayu, kimia
dasar, mineral logam, logam dasar dan tekstil. Tetapi dari beberapa penelitian yang telah dilakukan ternyata 70%
dari total emisi yang dibuang ke udara berasal dari gas buang kendaraan bermotor. Tidak heran jika melihat jumlah
kendaraan bermotor di DKI Jakarta sampai akhir tahun 2001 mencapai 4.519.819 unit yang terdiri dari 1.345.056
unit mobil penumpang, 312.322 unit bus, 415.970 unit truk dan 2.446.471 unit sepeda motor. Pencemaran udara
yang paling tinggi terjadi di ruas-ruas jalan yang paling padat lalu lintasnya dan rawan kemacetan. Jika mengacu
pada proyeksi peningkatan jumlah kendaraan hingga 2015 kualitas udara Jakarta akan semakin buruk jika tidak
dikelola dengan baik (Lihat Gambar 3.5).

Populasi Kendaraan Bermotor (Juta)

Kontribusi masing-masing parameter pencemar udara dari beberapa sumber pencemar terlihat pada Gambar 3.6.
Sumber pencemaran lain adalah berasal dari pembakaran limbah padat domestik oleh masyarakat baik pembakaran
secara terbuka maupun dengan menggunakan tungku.

Sumber: Study on air Quality in jakarta: Future Trends, Health Impacts, Economic Value and Policy Options, ADB, 2002.

Gambar 3.5. Populasi Kendaraan di DKI Jakarta (1990-2015).

Kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya diukur secara kontinu melalui enam stasiun yaitu di Pusarpedal (Serpong),
Pulogadung, Pluit, Jl. Thamrin, KPPL-DKI Jakarta dan Cibinong. Parameter pencemar udara yang diukur adalah
SO2, NO2, NOx, O3, CO, PM-10 dan CH4 serta parameter meteorologi seperti kecepatan angin, arah angin,
kelembaban udara, temperatur udara dan radiasi sinar matahari.
Hasil pemantauan kualitas udara dari tahun 1995 sampai tahun 2001, di wilayah pemukiman, industri dan
perkantoran di DKI Jakarta memperlihatkan konsentrasi zat-zat yang menimbulkan polusi (SO2, NO2, TSP dan Pb)
berfluktuasi setiap tahun dan bervariasi di tiap-tiap lokasi pemantauan. Konsentrasi SO2 cenderung meningkat,
sedangkan konsentrasi NO2 cenderung menurun. Konsentrasi debu (TSP) cenderung meningkat hingga melebihi
baku mutu dan rata-rata tahunan nasional. Demikian juga konsentrasi Pb cenderung meningkat walau masih di
bawah baku mutu. Di daerah industri konsentrasi Pb cenderung menurun. Demikian juga TSP menurun dan masih
di bawah baku mutu. Sedangkan pemantauan kualitas udara di ruas Jalan Thamrin menunjukkan adanya
kecenderungan konsentrasi parameter SO2 dan NO2 meningkat, sedangkan di Gambir terlihat adanya
kecenderungan menurun.

36

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

Rata-rata Per Tahun


(dinormalisasi)

4
3
2
1
0
NOx (60 g/m3)

Pulogadung II

SO2 (60 g/m3)

Pluit

BPLHD DKI

PM10 (50 g/m3)

Kelapa Gading

O3 (30 g/m3)

Thamrin

Gambir

Sumber: Study on Air Quality in Jakarta: Future Trends, Health Impacts, Economic Value and Policy Options, ADB, 2002.

Gambar 3.6. Konsentrasi Pencemar Udara di DKI Jakarta Tahun 1998 (Dinormalisasi).

Untuk mengatasi pencemaran udara di DKI Jakarta, khususnya yang bersumber dari kegiatan transportasi, telah
dicanangkan Program Udara Bersih (Prodasih). Prodasih melakukan kegiatan-kegiatan yang meningkatkan kesadaran
masyarakat tentang pentingnya udara bersih seperti melakukan uji emisi kendaraan bermotor dan pemasangan
stiker uji emisi serta menyebarkan masker bagi pengendara kendaraan bermotor. Selain itu melalui Program Langit
Biru, Pemerintah Propinsi DKI Jakarta juga menganjurkan pemilik kendaraan bermotor untuk menggunakan bahan
bahar yang kurang menimbulkan polusi udara, antara lain bahan bakar gas. Upaya ini dikombinasikan dengan
menyediakan pompa bahan bakar gas. Selain itu Pemda DKI mewajibkan pengusaha armada taksi agar 20%
dari jumlah armada yang beroperasi harus memakai bahan bakar gas.
Dengan mempertimbangkan dampak negatif penggunaan bensin bertimbal, Pemerintah Indonesia mencanangkan
program penghapusan bensin bertimbal untuk wilayah DKI Jakarta yang dijadwalkan sejak tanggal 1 Juli 2001.
Pada bulan Agustus 2002 yang lalu disampaikan rencana penundaan penghapusan timbal dalam bahan bakar
bensin hingga tahun 2005 karena belum selesainya modifikasi kilang Pertamina yang dapat menghasilkan bensin
tanpa timbal tersebut. Tetapi akhirnya dilaksanakan juga penggunaan bensin tanpa timbal di Jabotabek.
Sumber: BPLHD Propinsi DKI Jakarta, 2002, Laporan Pelaksanaan Program Udara Bersih di DKI Jakarta.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

37

KOTAK 3.2
KUALITAS UDARA DI KOTA BANDUNG
TABEL 3.4
HASIL PENGUKURAN LIMA STASIUN PEMANTAU KUALITAS UDARA SECARA OTOMATIS
DI KOTA BANDUNG
PARAMETER
PENCEMAR UTAMA

LOKASI

SUMBER PENCEMAR

Dago Pakar

O3

Aktivitas penduduk (pembakaran sampah) dan pollutan lain yang terbawa/


tertiup angin dari dataran rendah.

Perumahan Aria
Graha;

PM-10, SO2, CO, NO2


dan O3

Aktivitas penduduk (pembakaran sampah), pollutan lain yang terbawa/tertiup


angin dari dataran rendah dan asap kendaraan bermotor.

Tirtalega;

PM-10, SO2 dan O3

Aktivitas penduduk (pembakaran sampah), pollutan lain yang terbawa/tertiup


angin dari dataran rendah, asap kendaraan bermotor dan aktivitas lain disekitar
lapangan Tirtalega.

Perumahan Batunuggal;

PM-10 dan O3

Aktivitas penduduk (pembakaran sampah), pollutan lain yang terbawa/tertiup


angin dari dataran rendah, dan asap kendaraan bermotor.

Cisaranten Wetan;

PM-10, SO2 dan O3

Aktivitas penduduk (pembakaran sampah), pollutan lain yang terbawa/tertiup


angin dari wilayah industri.

Sumber: KLH, 2002.

Data kualitas udara di Bandung pada bulan Januari sampai Desember 2002 dalam kategori Baik 17%, Sedang
65% dan Tidak Sehat 1%, dengan parameter pencemar utama adalah PM-10 (Lihat Gambar 3.7). Sumber
utama dari pencemar ini diperkirakan dari kendaraan bermotor.

1200.00
1100.00
1000.00
900.00
800.00
700.00
600.00
500.00
400.00
300.00
200.00
100.00
0.00

00:30
01:30
02:30
03:30
04:30
05:30
06:30
07:30
08:30
09:30
10:30
11:30
12:30
13:30
14:30
15:30
16:30
17:30
18:30
19:30
20:30
21:30
22:30
23:30

Konsentrasi

Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara di Kota Bandung (Gambar 3.7), terlihat peningkatan konsentrasi O3
selalu diiringi dengan peningkatan global radiasi, hal ini disebabkan karena O3 merupakan secondary pollutan
yang terbentuk akibat dari meningkatnya zat pencemar NO2 sebagai hasil dari pembakaran baik dari kendaraan
bermotor maupun proses pembakaran lainnya (industri, rumah tangga). Dengan bantuan sinar ultraviolet terjadi
proses pembentukan O3, melalui reaksi dibawah ini:
RO2 + NO
> RO + NO2 (RO adalah organik radikal)
O2 + hv
> NO + O
O + O2 + M
> O3 + M
Berdasarkan reaksi terlihat pembentukan ozon pada siang hari tergantung dari tingginya zat pencemar NO dan
NO2, serta intensitas ultraviolet. Hal ini dapat terlihat jelas pada grafik dibawah ini (Gambar 3.7), di mana
penurunan konsentrasi NO2 disiang hari diikuti dengan meningkatnya O3.

Jam

O3

NO2

PM10

SO2

CO

Sumber: KLH, 2002

Gambar 3.7. Data Hasil Pemantauan Kualitas Udara di Bandung.

38

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

Untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang kualitas udara, kota Bandung memiliki lima Data Display,
yang berlokasi di Jl. Setiabudi, Bundaran Cibiru, Alun-alun, Taman Tirtalega, dan Terusan Pasteur (Gambar 3.8).

Gambar 3.8. Lokasi Pemantauan Kualitas Udara di Kota Bandung.

TABEL 3.5
BAKU MUTU UDARA AMBIEN, PP 41/1999
TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA
NO

PARAMETER

WAKTU
PENGUKURAN

BAKU MUTU
(UG/M3)

1.

SO2 (Sulfur Dioksida)

1 Jam
24 Jam
1 Tahun

900
365
60

2.

CO (Carbon Monoksida)

1 Jam
24 Jam

30.000
10.000

3.

NO2 (Nitrogen Dioksida)

1 Jam
1 Jam
1 Tahun

400
150
100

4.

O3 (Oksidan)

1 Jam
1 Tahun

235
50

5.

PM-10

24 Jam

150

Sumber: KLH, 2002.

Sumber: BPLHD Propinsi Jawa Barat, 2000.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

39

1. Hidrokarbon

4. Sulfur Dioksida

Hidrokarbon (HC) adalah bahan pencemar berasal dari


emisi kendaraan bermotor. Menurut Statistik Lingkungan
Hidup Indonesia tahun 2001 besarnya emisi HC meningkat
dari tahun 1999, 2000 sampai 2001, yaitu masing-masing
1.090.897,6 ton/tahun; 1.135.864,1 ton/tahun; dan
1.251.130,6 ton/tahun. Dari keempat jenis kendaraan
bermotor yaitu mobil penumpang, bis, truk dan sepeda motor,
emisi HC dari sepeda motor menempati urutan tertinggi yaitu
masing-masing untuk tahun 1999, 2000 dan 2001 adalah
781.361,4 ton/tahun; 811.882,2 ton/tahun; dan
898.195,8 ton/tahun. Bahan pencemar HC dalam jumlah
kecil dapat menimbulkan gangguan berpikir, gerakan otot
dan gangguan jantung.

Sulfur dioksida (SO2) adalah gas yang tidak berwarna,


memedihkan mata (irritating), mudah larut dalam air dan
reaktif. Gas ini dibentuk pada saat bahan bakar yang
mengandung sulfur (minyak, batu bara) dibakar terutama
dari kegiatan industri. SO2 dapat mematikan dan menghambat pertumbuhan pepohonan, hasil produksi pertanian
dapat merosot, hutan-hutan menjadi kurang produktif
sehingga akan mengurangi peranan hutan sebagai tempat
rekreasi dan keindahan. Pada manusia dapat menimbulkan
efek iritasi pada saluran nafas sehingga menimbulkan
gejala batuk dan sesak nafas. SO2 dihasilkan oleh kendaraan bermotor dan industri dan dapat menyebabkan
hujan asam. Penyumbang pencemar SO2 terbesar adalah
industri (76%) diikuti dengan transportasi (15%).

2. Nitrogen Oksida
Pencemar nitrogen oksida (NOx) bisa berasal dari kendaraan bermotor atau industri. Sektor transportasi di
perkotaan merupakan penyumbang terbesar pencemar
NOx yaitu 69% dan diikuti oleh industri dan rumah
tangga. Bahan pencemar ini menyebabkan iritasi saluran
pernafasan, bronkhitis, dan juga dapat memicu serangan
asma. Besarnya emisi NOx dari kendaraan bermotor
menurut Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2001
meningkat dari tahun 1999, 2000 dan 2001 yaitu sebesar 605.315,1 ton/tahun; 630.266,1 ton/tahun; dan
694.224,9 ton/tahun. Dari keempat jenis kendaraan,
sepeda motor menempati urutan teratas dalam perkiraan
besarnya emisi ini yaitu 433.560,3 ton/tahun;
450.495,6 ton/tahun; dan 509.414,9 ton/tahun
masing-masing untuk tahun 1999, 2000 dan 2001.

3. Karbon Monoksida
Karbon monoksida (CO) merupakan hasil pembakaran
tidak sempurna kendaraan bermotor. Penyebarannya di
udara lebih terpusat pada daerah sumber timbulnya
pencemaran tersebut. Oleh karena itu CO merupakan
masalah di kota-kota besar, di mana ruangan udara
dibatasi oleh jalan-jalan dan gedung-gedung. Bahan
pencemar CO pada manusia akan menimbulkan efek
sistemik karena meracuni tubuh dengan cara pengikatan
haemoglobin yang sangat vital untuk membawa oksigen
ke jaringan tubuh. Bila otak kekurangan oksigen dapat
menimbulkan kematian.
Perkiraan besarnya emisi CO yang berasal dari kendaraan
bermotor tahun 1999 sampai 2001 masing-masing
12.452.197,2 ton/tahun; 12.965.473,9 ton/tahun; dan
14.281.198,4 ton/tahun. Emisi CO paling tinggi berasal
dari sepeda motor yaitu 8.918.955 ton/tahun;
9.267.338,3 ton/tahun; dan 10.479.377,9 ton/tahun,
untuk tahun 1999, 2000 dan 2001. (Statistik Lingkungan
Hidup Indonesia, 2001).

40

Perkiraan besarnya emisi SO2 yang berasal dari kendaraan


bermotor menurut Statistik Lingkungan Hidup Indonesia
(2001) pada tahun 1999, 2000 dan 2001 berurutan
adalah 46.562,7 ton/tahun; 48.482 ton/tahun;
53.401,9 ton/tahun. Menurut jenis kendaraan bermotor,
sepeda motor merupakan penyumbang terbesar emisi SO2
yaitu 33.350,8 ton/tahun; 34.653,5 ton/tahun; dan
39.185,7 ton/tahun untuk tahun 1999, 2000 dan 2001.
5. Debu
Debu yang bersumber dari gas buang kendaraan bermotor
dapat menimbulkan dampak yang sangat berbahaya
karena meracuni sistem pernafasan dan menimbulkan
gangguan pembentukan darah merah. Pada anak kecil
menimbulkan penurunan kemampuan otak, sedangkan
pada orang dewasa menimbulkan anemia dan gangguan
tekanan darah tinggi.
Perkiraan besarnya emisi debu dari kendaraan bermotor
menurut Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (2001)
meningkat dari tahun 1999 sampai 2001 masing-masing
yaitu 59.866,3 ton/tahun; 62.334 ton/tahun; dan
68.659,6 ton/tahun. Berdasarkan jenisnya, sepeda motor merupakan penyumbang terbesar emisi debu yaitu
sebesar 42.879,6 ton/tahun; 44.554,5 ton/tahun; dan
50.381,6 ton/tahun untuk tahun 1999, 2000 dan 2001.
6. Timbal
Timbal (Pb) adalah logam berat yang sangat berbahaya
dan merupakan peracun syaraf. Dampaknya merusak
berbagai organ tubuh manusia, terutama sistem syaraf,
sistem pembentukan darah, ginjal, sistem jantung dan
sistem reproduksi (EPA, 1986). Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan teracuni Pb karena sistem otak
dan sarafnya belum berkembang penuh, sehingga penyerapan timbal dibandingkan proporsi berat tubuh jauh
lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Ada hubungan

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

yang signifikan antara keberadaan Pb dalam darah


dengan penurunan tingkat kecerdasan pada anak.
Pb di udara ambien sekitar 80% akan terabsorbsi melalui
sistem pernafasan tanpa teroksidasi terlebih dahulu. Jadi
Pb dari emisi kendaraan bermotor terutama di kota besar
yang tingkat kepadatan lalu lintasnya tinggi akan sangat
merusak kesehatan.
Untuk mengantisipasi keadaan tersebut telah dilakukan
pemantauan dengan melakukan pengukuran kadar Pb
di udara ambien di beberapa kota di Pulau Jawa dan
Jabotabek seperti terlihat pada Gambar 3.9.
Hasil pemantauan menunjukkan, kadar Pb telah terdeteksi
di beberapa kota di Pulau Jawa walaupun secara umum
masih berada di bawah baku mutu, yaitu sebesar 2 g/m3
(PP No. 41 tahun 1999). Dari kelima lokasi tersebut terlihat
kadar Pb tertinggi di Kota Surabaya (Gambar 3.9).
Berdasarkan pengukuran Laboratorium Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan, Bapedal pada tahun 1994,
tercatat konsentrasi Pb di udara Jakarta mencapai 2 g/
m3. Pada tahun yang sama Inga Heize melakukan Assessment of Lead in School Children from Jakarta, mendapatkan
Pb yang dilepas ke udara Jakarta mencapai 2 ton/hari.

BLL yang cukup tinggi dalam penelitian tersebut menunjukkan


program penghapusan bensin bertimbal di Jakarta harus
diteruskan. Dengan dihapusnya bensin bertimbal, BLL anakanak Jakarta diharapkan akan menurun dengan cepat seperti
yang terjadi di negara-negara lain yang sudah menghapus
bensin bertimbal.

D.

KEBAKARAN HUTAN

Asap akibat kebakaran hutan tidak hanya mengganggu


kesehatan, tetapi juga transportasi darat (arus lalu lintas),
transportasi laut (angkutan sungai), dan transportasi udara
(kegiatan penerbangan). Angkutan sungai dari dan ke pelosok pedalaman Kalimantan yang melayani penduduk untuk
mensuplai bahan bakar minyak dan sembilan bahan pokok
berhenti total dan tertahan di dermaga-dermaga karena
terhalang kabut asap. Kabut asap juga mengganggu penerbangan karena jarak pandang hanya 100-400 meter.
Beberapa bandara ditutup sementara atau mengubah jadwal
penerbangannya karena jarak pandang yang aman bagi
pendaratan minimum 800 meter. Pemerintah daerah
menyarankan pengguna transportasi darat pada siang hari
menyalakan lampu kendaraan, terutama di pagi hari untuk
menghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas dan
menggunakan masker bila hendak keluar rumah.

Kadar Timbal (g/m3)

Pada tanggal 3 Juni 2001, US Environment Protection Agency dan US Centers for Desease Control and Prevention bekerja sama dengan Bapedal dan difasilitasi oleh Swisscontact
melakukan penelitian kadar Pb dalam darah pada anakanak di Jakarta. Tingkat partisipasi anak-anak dalam
penelitian ini adalah 70,5% (423/600). Hasil penelitian
menunjukkan rata-rata geometris BLL (Blood Lead Levels) anakanak tersebut adalah 8,6 g/dL, 35% anak-anak
mempunyai BLL > 10 g/dL dan 2,4 % mempunyai BLL >
20 g/dL. Sekitar seperempat jumlah anak-anak mempunyai
BLL antara 10-15 g/dL. Rata-rata tingkat haemoglobin
adalah 13,1 g/dL. Dari 397 anak-anak yang diteliti tersebut,
ditemukan 8,2% menderita anemia ringan (Hb<11,5 g/
dL) dan 0,3% anak-anak anemia berat (Hb<7 g/dL).

Prediktor dari BLL setelah disesuaikan usia dan jenis


kelaminnya adalah tingkat pendidikan dari pengasuh utama
anak tersebut, sumber air minum dan cat/vernis rumah.
BLL akan menurun dengan semakin tingginya tingkat
pendidikan pengasuh anak. Anak-anak yang tinggal di
rumah di mana airnya diperoleh dari sumber air lain, bukan
dari PAM atau dari sumur mempunyai BLL yang lebih rendah
dari anak-anak yang memperoleh air minum dari sumber
PAM. BLL pada anak-anak dalam penelitian tersebut cukup
tinggi dan konsisten dengan BLL anak-anak di negaranegara yang menggunakan bensin bertimbal. Tingkat
prevalensia anemia sangat rendah dibandingkan prevalensi
yang ditemukan dalam penelitian di negara-negara
berkembang lain.

Kota
Sumber: KLH, 2002.

Gambar 3.9. Kadar Timbal (Pb) Tahun 2002.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

41

Dok: KLH, 2002.

Gambar 3.10. Stasiun Pemantau Kualitas Udara di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya.

Data PM-10 pada bulan September 2002 mencapai


1649 g/m3, dan konsentrasi CO pada bulan Oktober
2002 mencapai 20,78 mg/m3, angka tersebut menunjukkan konsentrasi yang tinggi, jauh melebihi standar yang
ditetapkan untuk udara yaitu 150 g/m3 untuk PM-10
dan 10 g/m3 untuk CO.

Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara di Kota


Palangkaraya selama periode kebakaran hutan, yaitu
pada bulan Juli sampai dengan November 2002, terlihat
peningkatan pencemaran udara pada bulan September
dan Oktober, hal ini terutama peningkatan konsentrasi
PM-10 dan CO (Lihat Gambar 3.11 dan Gambar 3.12).
Maksimum

Rata-rata

Standar (150 ug/m3)

3,000
2,500
2,000
1,500
1,000
500

22.11.2002

13.11.2002

04.11.2002

26.10.2002

08.10.2002

17.10.2002

20.09.2002

11.09.2002

29.09.2002

24.08.2002

02.09.2002

15.08.2002

28.07.2002

06.08.2002

10.07.2002

19.07.2002

01.07.2002

Konsentrasi (mg/m3)

Minimum

Hari
Sumber: KLH, 2002.

Gambar 3.11. Grafik Konsentrasi PM-10 Saat Kebakaran Hutan Tahun 2002.

Minimum

Maximum

Average

Standard (1 Hour)

Standard (24 Hours)

60

Konsentrasi (mg/m3)

50

40

30

20

10

Hari
Sumber: KLH, 2002.

Gambar 3.12. Grafik Konsentrasi CO Pada Saat Kebakaran Hutan Tahun 2002.

42

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

26.11.2002

23.11.2002

18.11.2002

13.11.2002

08.11.2002

03.11.2002

29.10.2002

24.10.2002

19.10.2002

14.10.2002

09.10.2002

04.10.2002

29.09.2002

24.09.2002

19.09.2002

14.09.2002

09.09.2002

04.09.2002

30.08.2002

25.08.2002

20.08.2002

15.08.2002

10.08.2002

05.08.2002

31.07.2002

26.07.2002

21.07.2002

16.07.2002

11.07.2002

06.07.2002

01.07.2002

Dok: Suara Pembaruan, 2002

Gambar 3.13. Kabut Asap di Bandara Supadio, Pontianak.

Berdasarkan rekapitulasi data ISPU dengan parameter


kritis PM-10, menunjukkan bahwa kondisi kualitas udara
memburuk pada bulan Februari-Maret 2002 di Pekanbaru
dan Medan dengan nilai ISPU mencapai 165 (Pekanbaru)
dan 194 (Medan). Sehingga kondisi rata-rata kualitas
udara pada periode ini dikategorikan tidak sehat.
Partikel PM 10 yang berdiameter 10 mikron memiliki tingkat kelolosan yang tinggi dari saringan pernafasan
manusia dan bertahan di udara dalam waktu cukup lama.
Tingkat bahaya semakin meningkat pada pagi dan malam
hari karena asap bercampur dengan uap air. PM 10
tidak terdeteksi oleh bulu hidung sehingga masuk ke paruparu. Jika partikel tersebut terdeposit ke paru-paru akan
menimbulkan peradangan saluran pernapasan, gangguan penglihatan dan iritasi kulit.
Sementara jika CO masuk ke dalam pernapasan dan
bereaksi dengan Hb (hemoglobin) dalam darah dapat
menghambat fungsi normal Hb untuk membawa oksigen
ke seluruh tubuh. Gejala keracunan CO berupa sesak
napas dan karena kekurangan oksigen juga dapat menyebabkan kematian.
Bahan partikel halus dengan ukuran kurang dari 10 mikro
meter dapat meningkatkan jumlah dan keparahan penyakit
saluran pernapasan, hingga menyebabkan kematian.
Penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) di Kota
Palangkaraya pada musim kemarau mengalami
peningkatan cukup tajam. Dari data Dinas Kesehatan Kota
Palangkaraya, penderita ISPA pada Mei 2002 sebanyak
1.896 orang. Sementara anak-anak di bawah usia lima

tahun (balita) pada bulan yang sama jumlah penderitanya


sebanyak 548 orang. Pada bulan Juni 2002 jumlah
pasien meningkat menjadi 2.051 orang dan sebanyak
622 orang balita, dan di bulan Agustus sebanyak 2.051
orang terserang ISPA (Data Dinas Kesehatan Kota
Palangkaraya dalam Media Indonesia 1 Agustus 2002).
Asap kebakaran lahan, hutan dan semak belukar di
Palangkaraya juga mengakibatkan dua orang balita
meninggal akibat ISPA (Suara Pembaharuan, 29 Agustus
2002)
Pencemaran udara akibat kebakaran hutan di Palangkaraya ini juga mengakibatkan 8.000 ekor ayam mati,
sehingga menimbulkan kerugian yang besar bagi peternak ayam pedaging di kota tersebut (KOMPAS, 29
Agustus 2003). Selama bulan Agustus 2002 sebanyak
6.701 jiwa warga kota Pontianak terkena penyakit ISPA,
atau setiap hari ada 231 orang yang terkena penyakit
tersebut .
Korban kabut asap di Pekanbaru terdiri dari berbagai
usia. Para korban tersebut selain menderita serangan asma
dan ISPA juga terserang penyakit mata, muntah-muntah
dan diare (Data RSUD Pekanbaru, dalam Inter Press Service Asia Pacific, 2002). Dalam jangka pendek serangan
asap bisa menimbulkan iritasi saluran napas seperti
pharingitis, laringitis, trakeitis dan bronkitis akut atau kronik.
Sementara dalam jangka panjang bahan polutan yang
bersifat iritasi akan menimbulkan fibrosis karsinogenik yang
menyebabkan berkembangnya penyakit kronik, emfisema,
asma, kanker paru dan pneumokoniosis.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

43

KOTAK 3.3
KASUS KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN
Kasus PT. Adei Plantation & Industry
PT. Adei Plantation & Industry dihukum terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan seluas 2.970 hektar di Propinsi
Riau. PT. Adei Plantation & Industry adalah terdakwa kasus kebakaran hutan dan lahan pertama kalinya di Indonesia
yang dijatuhi hukuman dengan pasal tindakan pidana korporasi, setelah sekian lama pidana hanya dikenakan pada
pelaku langsung di lapangan. Dalam putusannya pada Oktober 2002, Majelis Hakim PN (Pengadilan Negeri)
Bangkinang menyatakan mereka terbukti bersalah melawan hukum, yang mengakibatkan pencemaran dan perusakan
lingkungan hidup.
Menurut hakim, hal yang memberatkan adalah pencemaran nama baik Indonesia di dunia internasional, karena
pencemaran asap yang berasal dari pembakaran lahan ini telah mengganggu penduduk negara tetangga Malaysia dan Singapura. Dalam persidangan, jaksa yang mengatasnamakan Bapedal sebagai pihak yang mengajukan
gugatan berdasarkan Pasal 46 tentang Tindak Pidana Korporasi pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997.
Selain itu, terdakwa juga dikenai Pasal 41 undang-undang yang sama tentang kesengajaan melakukan aktivitas
yang menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.
Metode membuka lahan dengan pembakaran sebenarnya sudah dilarang pemerintah. Namun, para pengusaha
sering kali memanfaatkan kevakuman tindakan aparat hukum dan pengawasan dari pihak yang berkompeten.
Kenyataan menunjukkan, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berulang kali terjadi. Kebakaran tahun 1982,
1987, 1991, 1994, dan 1997/1998 merupakan kebakaran terburuk selama 15 tahun terakhir.

Kasus PT. Jatim Jaya Perkasa


Berbeda dengan kasus PT. Adei Plantation & Industry, kasus PT. Jatim Jaya Perkasa tidak dapat diselesaikan sesuai
dengan yang diharapkan, akibat kurangnya pemahaman teknis pemantauan di lapangan.
Berdasarkan pemantauan titik panas (hot spots) pada tanggal 10 Juli 2000 dari sumber ASMC (ASEAN Specialist
Meteorologycal Center) Singapore di lokasi PT. Jatim Jaya Perkasa, Desa Mojo, Kecamatan Kubu, Kabupaten
Bengkalis, Riau, ditemukan titik panas akibat pembakaran lahan/hutan. Pembakaran tersebut menimbulkan
pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bapedal Regional I
yang datang ke lokasi itu dan menemukan adanya asap tebal. Setelah dipantau oleh mobil laboratorium pemantau
udara ambien selama 24 jam secara terus menerus, dapat dikatakan tingkat pencemaran udara pada lokasi
tersebut sangat tidak sehat.
Walaupun ada bukti di lapangan dan adanya saksi ahli yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan serta
kerusakan tanah, Majelis Hakim di PN Dumai memvonis bebas PT Jatim Jaya Perkasa. Jaksa Penuntut Umum
mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.
Asap di Areal PT. Jatim Jaya Perkasa
(100o 4059E 1o5711N)

Dok: KLH, 2002.

Citra Satelit SPOT Band 3-2-1


10 Juli 2000, 03:33:03 (UTC)

Gambar 3.14. Titik Panas dan Sebaran Asap Hasil Pemantauan Citra Satelit Spot di Lokasi PT. Jatim

Jaya Perkasa.

44

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

E.

Walaupun Indonesia mempunyai hutan, lahan pertanian,


dan lautan yang cukup luas tetapi menurut perhitungan
yang dirangkum oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Indonesia merupakan Negara penghasil neto GRK (Tabel
3.6).

PERUBAHAN IKLIM

Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam


skala waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau
siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan maupun siklus
beberapa tahunan. Selain perubahan yang berpola siklus,
aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara
berkelanjutan, baik dalam skala global maupun skala lokal.

Sebagai gambaran nyata, keragaman iklim besar seperti


saat kejadian El-Nino dan La-Nina yang sering membawa
keadaan kering dan basah yang lebih besar dari keadaan
normal, membuat sistem produksi tanaman pangan di
Indonesia terganggu secara nyata (Tabel 3.7). Keadaan
anomali iklim pada tahun 1991 dan tahun 1994 menyebabkan Indonesia harus mengimpor beras masingmasing sebesar 600.000 ton dan lebih dari sejuta ton
beras (Indonesia Country Study on Climate Change
1998). Keadaan tersebut menggambarkan kerentanan
sistem produksi pertanian terhadap adanya perubahan
iklim.

Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan pada


iklim yang dipengaruhi langsung atau tidak langsung oleh
aktivitas manusia yang merubah komposisi atmosfer, yang
akan memperbesar keragaman iklim teramati pada
periode yang cukup panjang. Indikator-indikator yang
dapat dirasakan dari perubahan iklim adalah adanya
perubahan pola penyebaran curah hujan, pergeseran
waktu datangnya musim hujan dan kemarau, bencana
kekeringan yang berkepanjangan serta bencana alam
seperti banjir dan kebakaran hutan.

Peningkatan CO2 dan suhu udara akan meningkatkan


aktivitas fotosintesis pada tanaman. Tetapi peningkatan suhu
terutama malam hari akan memperbesar respirasi tanaman.
Di daerah tropis peningkatan suhu ini menyebabkan hasil
fotosintesis netto berkurang. Inilah yang menyebabkan menurunnya produksi tanaman di daerah tropis akibat
perubahan iklim.

Penyebab dari perubahan iklim adalah meningkatnya


konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) setelah masa revolusi
industri. Semakin tinggi kebutuhan untuk meningkatkan
kualitas hidup menyebabkan semakin besarnya aktivitas
industri, penebangan hutan, usaha pertanian, rumah tangga
dan aktivitas-aktivitas lain yang melepaskan GRK. Akibatnya
konsentrasi GRK di atmosfer meningkat.

Perubahan iklim akan mengganggu kelestarian keanekaragaman hayati. Beberapa jenis flora/fauna akan tertekan
populasinya atau punah dan beberapa jenis lainnya akan
lebih berkembang. Penelitian kerentanan beberapa jenis
flora/fauna menghadapi perubahan iklim di Indonesia
masih sangat kurang, sehingga belum didapatkan laporan
mengenai jenis-jenis yang akan tertekan dan jenis-jenis
yang akan dominan.

Perubahan konsentrasi GRK global ini juga berpengaruh


pada kenaikan suhu lokal. Di Indonesia perubahan suhu
terjadi secara perlahan-lahan lebih kurang 0,03oC per
tahun (Hidayati 1990). Jika ditinjau dalam periode
puluhan tahun (dibandingkan dengan puluhan juta tahun
usia bumi kita) maka perubahan ini cukup besar. Apalagi
jika kenaikan suhu menyertai kejadian iklim ekstrim.

TABEL 3.6
IKHTISAR INVENTARISASI GAS RUMAH KACA DI INDONESIA PADA
TAHUN 1994
UPTAKE (Gg)

EMISI (Gg)

ROSOT DAN SUMBER


CO2
1

CO2

CH4

CO

N2O

NOx

Energi keseluruhan

- 170.016,31 2.395,73

8.421,50

5,72

818,30

a. Pembakaran
bahan bakar
b. Emisi bahan bakar

- 170.016,31

357,56

8.421,50

5,72

818,30

0,00

0,00

0,00

Proses Industri

- 19.120,0

0,51

0,01

Pertanian

- 3.243,84

Perubahan penggunaan lahan dan


hutan

Limbah dan pengolahan tanah


Indonesia

2.038,17

330,73

52,86

18,77

367,00

3.214,00

2,52

91,26

402,00

403.846,00 748.607,31 6.409,08

11.966,23

61,11

928,33

403.846,00 559.471,00

Sumber: Hidayati R, 2001.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

45

TABEL 3.7
LUAS TANAMAN PADI TERKENA BENCANA BANJIR DAN KEKERINGAN
DAN PUSO (HA) PADA TAHUN 1988-1997
TAHUN

KETERANGAN

1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997

El-Nino
La-Nina
Normal
Normal
El-Nino
Normal
Normal
El-Nino
La-Nina
Normal
El-Nino

KEBANJIRAN

KEKERINGAN

***
130.375
96.540
66.901
38.006
50.360
78.480
132.975
218.144
107.385
58.974

430.170
87.373
36.143
54.125
867.997
42.409
66.992
544.422
28.580
59.560
504.021

PUSO
***
44.049
15.290
19.163
198.054
16.882
47.259
194.025
51.571
50.649
102.254

Sumber: Hidayati R, 2001

TABEL 3.8
SEKTOR-SEKTOR YANG AKAN TERKENA DAMPAK PERUBAHAN IKLIM
DAN UPAYA ADAPTASI YANG DAPAT DILAKUKAN
SEKTOR

DAMPAK

ADAPTASI

Pengairan

- Kendala suplai irigasi dan air


minum, dan peningkatan salinitas;
- Intrusi air asin ke daratan dan
aquifer pantai

- Perencanaan, pembagian air,


komersialisasi;
- Suplai air alternatif.

Ekosistem Darat

- Peningkatan salinitas di lahan


pertanian dan aliran air;
- Kepunahan Keanekaragaman
Hayati;
- Peningkatan resiko kebakaran;
- Invasi Gulma

- Perubahan praktek penggunaan lahan;


- Pengelolaan Pertamanan;
- Pengelolaan lahan;
- Perlindungan terhadap
Kebakaran;
- Pengelolaan Pertamanan

Ekosistem Air

- Salinisasi lahan sawah di wilayah


Pantai;
- Perubahan ekosistem sungai dan
sawah;

- Intervensi fisik
- Perubahan alokasi air
- Perubahan alokasi air, mengurangi aliran masuk hara

Ekosistem Pantai

- Perusakan terumbu karang;


- Limbah beracun

Penyemaian terumbu karang

Pertanian dan
Kehutanan

- Penurunan produktivitas,
banjir dan kekeringan, kebakaran
hutan;
- Perubahan pada pasar global;
- Peningkatan serangan hama dan
penyakit;
- Peningkatan produksi oleh peningkatan CO2 diikuti dengan penurunan produksi oleh perubahan
iklim

- Perubahan pengelolaan dan


kebijakan, perlindungan terhadap kebakaran dan peramalan musim;
- Pemasaran, perencanaan dan
perdagangan karbon;
- Pengendalian terpadu,
penyemprotan;
- Merubah teknik usaha tani dan
industri.

Hortikultur

Dampak campuran + dan - tergantung spesies dan lokasi

Relokasi

Perikanan

Perubahan tangkapan

Monitoring, pengelolaan

Perumahan,
Industri

Peningkatan dampak banjir, badai


dan kenaikan muka air laut

Pewilayahan, perencanaan
bencana

Kesehatan

- Ekspansi dan perluasan vektor pe- - Karantina, eradikasi atau


nyakit;
pengendalian;
- Peningkatan polusi foto kimia udara - Pengendalian emisi

Sumber: Hidayati R, 2001

46

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

Perubahan iklim, pada kondisi yang sangat kering


merupakan salah satu faktor penyebab kebakaran hutan.
Kekeringan diperkirakan akan lebih sering terjadi karena
peningkatan suhu udara dan peningkatan peluang kejadian
iklim ekstrem, sehingga peluang kebakaran hutan akan
lebih tinggi.
Beradaptasi pada dampak perubahan iklim adalah salah
satu cara penyesuaian yang dilakukan secara spontan atau
terencana untuk bereaksi menghadapi perubahan iklim yang
diprediksi atau yang sudah terjadi. Mitigasi adalah kegiatan
jangka panjang yang dilakukan untuk menghadapi dampak
dengan tujuan mengurangi risiko atau kemungkinan terjadi
suatu bencana. Kegiatan lebih lanjut dari mitigasi dampak
adalah kesiapan menghadapi bencana, tanggapan ketika
bencana dan pemulihan setelah bencana terjadi
(Murdiyarso, 2001). Berbagai sektor akan terpengaruh oleh
adanya perubahan iklim (Lihat Tabel 3.8).
Indonesia tidak termasuk dalam negara katagori Annex I
(negara-negara maju) menurut penggolongan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). Menurut UU
No 6 Tahun 1994, yaitu UU Pengesahan Konvensi
Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, Indonesia
tidak wajib ikut menekan emisi GRK, tetapi hanya bersifat
suka rela. Menurut UU Lingkungan Hidup No. 23 Tahun
1997, menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah suatu
yang harus dilakukan agar pembangunan dapat dilakukan
secara berkelanjutan. Jadi upaya mengurangi laju emisi
GRK menjadi keharusan dalam rangka melestarikan
lingkungan.

F.

DEPOSISI ASAM

Deposisi basah terjadi dengan pembentukan awan dan


akhirnya turun sebagai hujan, salju atau kabut yang mengandung asam. Ukuran keasaman ditunjukkan oleh nilai
pH air presipitasi tersebut. Deposisi kering ditunjukkan
dengan gas aerosol yang mengandung asam. Deposisi
kering terjadi bila keadaan cuaca cerah atau berawan.
Deposisi asam akan meningkatkan keasaman tanah, air
danau yang kemudian akan mempengaruhi mahluk hidup,
seperti tumbuhan dan ikan.
Rata-rata tingkat keasaman (pH) air hujan selama lima tahun
terakhir di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara
4,8 hingga 5,8. Kondisi ini menunjukkan air hujan di sebagian besar wilayah Indonesia telah berada di bawah nilai
pH air normal (5,6) atau telah mencerminkan sifat air hujan
yang asam. Beberapa daerah antara lain Lhokseumawe,
Bukit Kototabang-Bukit Tinggi, Bengkulu, Denpasar, Ujung
Pandang, Ambon mempunyai pH air hujan relatif masih
mendekati nilai pH air normal, yakni sebesar 5,4 hingga
5,5 tetapi ada enam daerah yang derajat keasamannya
telah berada di bawah nilai 5, yakni Tanjung Karang, Citeko
Bandung, Surabaya, Palangkaraya dan Winangun.
Hasil pemantauan di beberapa tempat menunjukkan
kecenderungan pengukuran keasaman terendah terjadi pada
bulan-bulan permulaan tahun atau terjadi pada kondisi
frekuensi hujan tinggi dan curah hujan tinggi, sedangkan
pada frekuensi terjadinya hujan rendah dengan curah hujan
sedikit maka terjadi kenaikan konsentrasi deposisi yang cukup
signifikan. Pada bulan ketujuh atau kedelapan biasanya
terjadi kenaikan deposisi asam, kemudian menurun hingga
permulaan tahun kembali pada hasil pengukuran terendah.
Hal ini tercermin pada data pemantauan hingga tahun
2002. Pada tahun 2002 frekuensi terjadinya hujan lebih
sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bulan Agustus,
September dan Oktober 2002 paling jarang terjadi hujan.
Frekuensi turun hujan pada tahun 2001 berkisar 60 hingga
70 kali dan tahun 2002 hanya sekitar 60 kali.

pH

Deposisi asam berawal dari kegiatan manusia baik dalam


kegiatan rumah tangga maupun industri yang menghasilkan polutan yang diemisikan ke udara. Polutan seperti
oksida sulfur dan oksida nitrogen berubah menjadi asam
sulfat dan asam nitrat melalui reaksi kimia yang kompleks,
kemudian berpindah dari atmosfer ke permukaan bumi

melalui deposisi langsung dan presipitasi, sehingga


dikenal deposisi kering dan deposisi basah.

Bulan
Sumber: KLH, 2002

Gambar 3.15. Derajad Keasaman (pH) Dalam Air Hujan Tahun 2002.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

47

TABEL 3.9
RATA-RATA pH AIR HUJAN DI KOTA-KOTA INDONESIA
PADA TAHUN 1995-1999
NO

NAMA KOTA

RATA-RATA pH AIR HUJAN

Lhokseumawe

5,4

Medan

5,1

Pekanbaru

5,1

Bukit Kototabang-GAW

5,1

Jambi

5,1

Palembang

4,9

Bengkulu

5,5

Tanjung Karang

5,0

Jakarta

5,0

10

Citeko

4,9

11

Bandung

4,9

12

Pontianak

5,1

13

Surabaya

4,8

14

Denpasar

5,5

15

mataram

5,3

16

Kupang

5,1

17

Banjarbaru

5,1

18

Samarinda

5,8

19

Palangkaraya

4,9

20

Winagun-Manado

4,8

21

Samratulangi-Manado

5,3

22

Panakukang-Makassar

5,4

23

Palu

5,0

24

Ambon

5,5

25

Bau-bau

5,1

26

Jayapura

5,0

Sumber: KLH, 2001

Dari gambar 3.16 terlihat bahwa nilai daya hantar listrik


dalam air hujan yang terjadi sepanjang tahun 2002 di
stasiun EMC Serpong dan LAPAN Bandung hampir sama
pada setiap bulannya, hanya beberapa bulan seperti
Agustus 2002 yang signifikan berbeda. Terlihat nilai fluktuasi dari konsentrasi satu hingga tujuh ppm.

DHL (mS/m)

Dari pH kualitas air hujan Stasiun EMC Serpong dan


LAPAN Bandung diatas terlihat nilai pH yang terjadi
sepanjang tahun 2002 mempunyai nilai dominan
dibawah nilai pH alam yaitu berkisar antara 4 hingga
5,6, sehingga kualitas air hujan dapat dikategorikan
sebagai hujan asam.

Bulan
Sumber: KLH, 2002

Gambar 3.16. Daya Hantar Listrik Dalam Air Hujan Tahun 2002

48

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

20
LAPAN
10

Sep 02

Nop 02

Okt 02

Agust 02

Juli 02

Juni 02

Mei 02

April 02

Februari 02

Maret 02

Januari 02

Konsentrasi (ppm)

EMC
15

Sumber: KLH, 2002

EMC

Sep 02

Okt 02

Nop 02

Sep02

Okt02

Nop 02

Agust 02

Juli 02

Juni 02

Mei 02

April 02

Maret 02

LAPAN

Feb 02

16
14
12
10
8
6
4
2
0

Jan 02

Konsentrasi (ppm)

Gambar 3.17. Konsentrasi Ion Sulfat (SO42) Dalam Air Hujan.

Sumber: KLH, 2002

Gambar 3.18. Konsentrasi Ion Nitrat (NO3) Dalam Air Hujan.


2.5
EMC
LAPAN
1.5
1

Agust 02

Juli 02

Juni 02

Mei 02

Maret 02

Feb 02

April 02

0.5
Jan 02

Konsentrasi (ppm)

Sumber: KLH, 2002

Gambar 3.19. Konsentrasi Ion Ammonia (NH4+) Dalam Air Hujan.

Dari gambar 3.17 terlihat bahwa nilai konsentrasi ion


sulfat dalam air hujan yang terjadi sepanjang tahun 2002
di stasiun EMC Serpong dan LAPAN Bandung hampir
sama pada setiap bulannya. Fluktuasi terjadi dari konsentrasi satu hingga 18 ppm.

yang signifikan berbeda. Terlihat fluktuasi dari konsentrasi


0,2 ppm hingga dua ppm.

Dari gambar 3.18 terlihat bahwa nilai konsentrasi ion nitrat


dalam air hujan yang terjadi sepanjang tahun 2002 di
stasiun EMC Serpong dan LAPAN Bandung hampir sama
pada setiap bulannya. Fluktuasi dari konsentrasi satu hingga
14 ppm.

Hujan asam telah terjadi di kota Bandung sejak 3 tahun


terakhir (1998-2000) yang ditunjukkan oleh pH air hujan
yang berada dibawah angka normal 5,6. Hal ini erat
kaitannya dengan peningkatan polusi udara yang terjadi
di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya
dan Semarang. Dari tahun 1985-2000 di daerah Terusan
Pasteur Bandung telah terjadi penurunan pH sebesar 40%
dari rata-rata tahunan yaitu 6,30 menjadi 3,80.

Dari gambar 3.19 terlihat nilai konsentrasi ion ammonia


dalam air hujan yang terjadi sepanjang tahun 2002 di
stasiun EMC Serpong dan LAPAN Bandung hampir sama
pada setiap bulannya, hanya bulan Juni dan Juli 2002

Prediksi deposisi sulfur dari sumber industri, transportasi,


gunung berapi dan pembangkit tenaga listrik di Indonesia tahun 2000 dilakukan dengan menggunakan model
Resgen dan Rains Asia. Hasil prediksi pada tahun 2000

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

49

memperlihatkan bahwa Jakarta (Jabotabek), Bandung dan


Halmahera Timur mempunyai deposisi sulfur 1000-2000
mg/m2-tahun, merupakan daerah yang perlu diwaspadai.
Daerah itu sangat berpotensi menerima hujan asam bila
dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia atau
menjadi penyebab daerah lain/sekitarnya terkena hujan
asam dikarenakan pengaruh angin.
Curah hujan di berbagai tempat tidak merata oleh karena
itu fenomena alam dan kegiatan manusia akan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang berbeda di berbagai
tempat, hal ini dikenal sebagai isu global tentang air.
Air permukaan (sungai, danau) setiap hari dan sepanjang
waktu terus menerus mengalami proses alamiah, mengalami
penguapan, membentuk awan dan kembali jatuh ke bumi
sebagai air hujan. Kondisi saat ini menunjukan bahwa
awan juga mengikat senyawa sulfat dan nitrat yang berasal
dari emisi antropogenik dan mengakibatkan terjadinya
deposisi asam pada sistem perairan.
Akibat air hujan yang asam memang sulit dibuktikan. Tetapi
secara teoritis air asam tersebut dapat membuat tanaman
mudah mati karena mengurangi hasil perkecambahan dan
reproduksi tanaman dan meracuni tunas berikut akarnya.
Pada sistem akuatik (sungai, danau) air asam akan
menetralisir basa-basa, menurunkan produksi dan
pertumbuhan ikan berikut makanannya, menghancurkan
insang dan mengganggu kontraksi otot ikan. Hujan asam
juga akan merusak bangunan, karena kandungan sulfatnya
bersifat korosif sehingga sangat berbahaya bagi struktur
benda yang tak terlindungi. Asam juga merusak baja pada
beton bertulang sehingga akan melemahkan gedung dan
jalan. Cat dan karet juga akan memburuk karena oksidasi
yang ditimbulkannya. Sementara bagi manusia, sedikit logam
(timah atau tembaga) pada air minum dapat menyebabkan
diare. Hujan asam juga dapat menimbulkan penyakit gatalgatal serta menyebabkan atau memperburuk penyakit

penapasan (seperti kanker paru-paru, bronkitis dan


emphisema), berperan dalam kematian dini.

G.

OZON

Perlindungan kapasitas dari fungsi atmosfer merupakan isu


lingkungan yang sangat penting bagi Indonesia. Atmosfer
mempunyai fungsi yang sangat vital sebagai sistem
pendukung kehidupan di bumi, baik adanya lapisan ozon
pada ketinggian antara 25-40 km maupun konsentrasi gasgas rumah kaca pada ketinggian antara 10-25 km.
Lapisan ozon berfungsi melindungi bumi dari sinar ultra
violet yang dipancarkan oleh matahari. Penipisan lapisan ozon disebabkan oleh penggunaan bahan-bahan
kimia perusak lapisan ozon (ozone depliting substance ODS).
Di Indonesia ODS yang terbanyak dikonsumsi adalah
CFC (Chloro Fluoro Carbon) dan Indonesia termasuk
dalam katagori negara Artikel 5 berdasarkan Protokol
Montreal karena konsumsi CFC dan halon kurang dari
0,3 kg/kapita/tahun. Dengan demikian Indonesia berhak
atas bantuan teknis dan bantuan dana untuk mengubah
teknologi ODS ke teknologi non-ODS.
Dampak penipisan lapisan ozon antara lain adalah
meningkatnya intensitas sinar ultra violet yang mencapai
permukaan bumi yang mengganggu kesehatan, menyebabkan kanker kulit, katarak, dan penurunan daya
tahan tubuh, dan bahkan terjadinya mutasi genetik.
Menipisnya lapisan ozon mengakibatkan terjadinya
degradasi lingkungan, kerusakan rantai makanan di laut,
musnahnya ekosistem terumbu karang dan sumber daya
laut lainnya, menurunnya hasil produksi pertanian yang
dapat mengganggu ketahanan pangan, dan bencana
alam lainnya.

TABEL 3.10
PERKEMBANGAN PENGHAPUSAN ODS
JML ODS YANG
AKAN DIGANTI

JML ODS YANG


SUDAH DIGANTI
(MT)

JML BPO YANG


HARUS DIGANTI
(MT)

NO

SEKTOR

1
2
3

Aerosol
Foam
Commercial
Refrigeration
MAC
Tobacco
Halon
Solvent

460.00
3,922.13
853.27

1,824.40
601.96

460.00
2,097.73
292.31

41.00
90.00
682.40
240.30

41.00
54.00
682.40
218.70

0
36.00
0
21.60

TOTAL

6,289.10

3,381.46

2,907.64

4
5
6
7

Sumber: KLH, 2002

50

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

TABEL 3.11
TARGET PENGHAPUSAN CFC
(DALAM METRIK TON)
SEKTOR/THN

2001

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

Konsumsi Nasional
Refri (mfg)
Refri (serv)
MAC
Chillers
Aerosols
Foam

5019
1231
1072
915
70
200
810

4479
1231
1072
695
70
200
700

3879
1141
1072
585
70
100
700

3020
241
872
476
70
50
700

2050
0
572
366
70
0
490

1122
0
250
280
60
0
280

66
0
0
0
55
0
0

51
0
0
0
50
0
0

0
0
0
0
0
0
0

Sumber: KLH, 2002

Upaya untuk melindungi lapisan ozon adalah menggantikan ODS dengan alternatif lain yang bersifat tidak
beracun, tidak merusak ozon dan ramah lingkungan
seperti HCFC (Hydro Chloro Fluoro Carbon), HFC (Hydro Fluoro Carbon), atau gabungan keduanya.

H. UPAYA PENGENDALIAN

Melalui bantuan dana hibah Multilateral Fund (yang


diimplementasikan oleh UNDP, UNIDO dan Bank Dunia),
Pemerintah Indonesia sampai saat ini telah memfasilitasi
lebih dari 150 perusahaan industri pengguna ODS untuk
mengganti teknologinya menjadi teknologi non-ODS, dan
telah menurunkan konsumsi ODS sekitar 6.500 MT sejak
dimulainya kegiatan ini tahun 1994. Total dana hibah
yang telah disalurkan langsung kepada industri sampai
bulan Maret 2002 tercatat senilai US $ 37.133.752.

1.

Total dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan penghapusan CFC pada tabel 3.11 diperkirakan sebesar US$
25.3 juta.

Dalam rangka mengatasi pencemaran udara dan atmosfer


yang terjadi, berbagai upaya pengendalian telah
dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat, yaitu:

Pemantauan Kualitas Udara Ambien

Program pemantauan di Indonesia telah dilakukan ditandai


dengan pembangunan stasiun pemantau kualitas udara
kontinu yaitu pembangunan 33 Stasiun Pemantau Kualitas
Udara Permanen dan sembilan Stasiun Pemantau Kualitas
Udara Bergerak yang dilakukan pada tahun 19992002.
Pembangunan ini merupakan kerja sama antara Pemerintah
Indonesia (Bapedal) dengan Pemerintah Austria di 10 kota
besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Pekanbaru, Medan, Palangkaraya, Denpasar, Jambi
dan Pontianak (Lihat Gambar 2.3). Peralatan pemantau
kualitas udara di 10 kota ini mampu memantau lima parama-

Pontianak
1 Fixed Stations
1 Fixed Station PM-10
1 Mobile Station

Medan
4 Fixed Stations
3 Data Displays
1 Mobile Station

Jambi
1 Fixed Stations
1 Data Displays

Palangka Raya
3 Fixed Stations
1 Data Displays
1 Mobile Station

Pekanbaru
3 Fixed Stations
2 Data Displays
1 Mobile Station
DKI Jakarta
5 Fixed Stations
5 Data Displays
1 Mobile Station
Bandung
5 Fixed Stations
5 Data Displays
1 Mobile Station

Semarang
3 Fixed Stations
3 Data Displays
1 Mobile Station

Surabaya
5 Fixed Stations
5 Data Displays

Denpasar
3 Fixed Stations
1 Fixed Station PM-10 & Data Display
1 Mobile Station

Sumber: KLH, 2002

Gambar 3.20. Lokasi Jaringan Pemantauan Udara.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

51

ter pencemar udara yaitu PM-10, CO, SO2, NO2, dan


O3. (Lihat Gambar 3.20).

Program Langit Biru

2.

Tujuan Program Langit Biru adalah :


a. Terciptanya mekanisme kerja dalam pengendalian
pencemaran udara yang berdaya guna dan berhasil
guna;
b. Terkendalinya pencemaran udara;
c. Tercapainya kualitas udara ambien yang memenuhi
standar kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya;
d. Terwujudnya perilaku manusia sadar lingkungan.

Dok: A. Riyadi, 2002

Dalam upaya meningkatkan kualitas udara, sejak tahun


1992 telah dilaksanakan Program Langit Biru sebagai
upaya untuk mengendalikan pencemaran udara baik yang
berasal dari sumber bergerak maupun tidak bergerak yang
bertujuan untuk memulihkan kualitas udara serta memenuhi
baku mutu udara yang ditetapkan. Pada bulan Agustus
1996 Pemerintah mencanangkan Program Langit Biru
sebagai program pengendalian pencemaran udara tingkat
nasional di Semarang. Dalam pelaksanaan Program Langit

Biru, pengendalian pencemaran udara difokuskan kepada


sumber pencemaran dari industri dan sarana transportasi
kendaraan bermotor karena keduanya memberikan
kontribusi terbesar dalam pencemaran udara.

Gambar 3.21. Kontras: Dampak Pencemaran Udara Selama Setahun (abu-abu tua)

yang Menimpa Gedung Kementerian Lingkungan Hidup.

KOTAK 3.4
KEP-35/MENLH/10/1993
TENTANG
AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR
1.

Kandungan CO (Carbon Monoksida) dan HC (Hidrocarbon) dan ketebalan asap pada pancaran gas buang:
a.
b.
c.
d.

Sepeda Motor 2 (dua) langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana > 87 ditentukan
maksimum 4,5% untuk CO dan 3.000 ppm untuk HC.
Sepeda motor 4 (empat) langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana > 87 ditentukan
maksimum 4,5% untuk CO dan 2.400 ppm untuk HC.
Kendaraan bermotor selain sepeda motor dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana > 87
ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 1.200 ppm untuk HC.
Kendaraan bermotor selain sepeda motor dengan bahan bakar solar / disel dengan bilangan oktana > 45
ditentukan maksimum ekivalen 50% Bosch pada diameter 102 mm atau 25% opasiti untuk ketebalan asap.

2.

Kandungan CO dan HC sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, b, c diukur pada kondisi percepatan
bebas (idling)

3.

Ketebalan asap gas buang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, diukur pada kondisi percepatan
bebas.

Sumber: KLH, 2002

52

3.

Pengendalian pencemaran udara dari sarana


transportasi kendaraan bermotor meliputi:
a.

b.

Pengembangan perangkat peraturan


Pentaatan peraturan perundangan, dimana
kendaraan bermotor yang mengeluarkan
emisi gas buang ke udara harus memenuhi
Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup No: KEP-13/MenLH/3/1995
tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang
Kendaraan Bermotor;
Dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 41 tahun 1999 yang mengatur
BBM (Bahan Bakar Minyak) bebas timah
hitam serta solar berkadar belerang rendah
sesuai standar internasional;
Dikeluarkannya Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 1585.K/32/
1999 tentang Persyaratan Bahan Bakar
Jenis Bensin dan Solar Dalam Negeri
dengan ketentuan: BBM (Bahan Bakar
Minyak) dalam negeri wajib memperhatikan
perkembangan kinerja dan teknologi permesinan serta ramah lingkungan. Penyediaan bahan bakar ramah lingkungan
paling lambat 1 Januari 2003;
Dikeluarkannya Surat Menteri Negara
Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal
kepada Menteri Pertambangan dan Energi
No. B-189/BAPEDAL/02/2000 tanggal
4 Februari 2000 yang isinya agar pengadaan bahan bakar bensin bebas timbal
segera sebelum tahun 2003 untuk wilayah
DKI Jakarta dan penyesuaian harga BBM;
Draft final Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup tentang Ambang Batas
Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe
Baru dan Pedoman Pelaksanaannya.
Kepmen tersebut menetapkan baku mutu
kendaraan baru melalui 3 tahapan yaitu
tahun: 2003-2005 (menggunakan bensin
bertimbal); 2006-2008 (bensin tanpa timbal,
EURO 1); dan 2009 keatas (EURO 2);
Adanya kesepakatan ATPM (Agen Tunggal
Pemegang Merk) terhadap dikembangkannya mandatory disclosure for vehicle
emissions.
Penggunaan bahan bakar bersih (cleaner fuels)
Bensin tanpa timbal akan diadakan secara
bertahap (2003-2005) di Indonesia menjelang dioperasikannya kilang Balongan
dan Cilacap pada tahun 2005 yang
dapat menyediakan bensin tanpa timbal
untuk seluruh Indonesia. Pada masa transisi
tersebut bensin tanpa timbal dihadirkan di
Bali (Februari 2003), Batam (Juni 2003)

dan daerah Pantai Utara Jawa (Agustus


2003);
Pengadaan bahan bakar solar/diesel
dengan kandungan sulfur rendah. Upaya
akan dijajaki dengan DSDM-Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral/
Pertamina.

c.

Pengembangan bahan bakar alternatif


Penyiapan sarana dan prasarana bagi
penggunaan bahan bakar alternatif CNG
(Compressed Natural Gas) maupun LPG
(Liquid Petroleum Gas) di seluruh Indonesia
khususnya di kota-kota besar antara lain
10.000 kendaraan angkutan umum/taksi
dan 500 bis. BBG (Bahan Bakar Gas)
akan ditingkatkan penggunaannya pada
kendaraan umum seperti bus kota;
Energi alternatif lainnya adalah LPG.
Kendala yang dihadapi dalam penggunaan BBG seperti LNG (Liquid Natural Gas)
dan LPG adalah mahalnya harga converter
kit yaitu sekitar US$2000. Untuk itu perlu
adanya kebijakan harga yang tepat untuk
memacu penggunaan bahan bakar gas
LNG dan LPG tersebut.
Penggunaan energi alternatif yang berasal
dari sumber energi nabati lainnya (biofuel/
biodiesel) dengan menggunakan minyak
kelapa sawit /CPO (Crude Palm Oil).

d.

Pengembangan manajemen transportasi


Upaya pengelolaan model transportasi
melalui pengelolaan lalu lintas di jalan,
pengalihan model transportasi ke jenis
angkutan lain (misalnya kereta api),
peremajaan angkutan umum disesuaikan
dengan kebijakan umum tata ruang kota
metropolitan. Hal ini untuk menekan
kemacetan yang dapat meningkatkan emisi
kendaraan bermotor di daerah perkotaan.

e.

Pengembangan teknologi
Penggunaan catalytic converter yang dapat
menyaring 90% emisi gas buang kendaraan bermotor dengan syarat: bensin
harus tanpa timbal;
Pengembangan fasilitas pengukuran emisi
kendaraan bermotor, baik untuk kendaraan
baru maupun kendaraan yang di jalan.

f.

Pemantauan emisi gas buang kendaraan


bermotor
Sosialisasi baku mutu emisi kendaraan
bermotor tipe baru;
Pemantauan pelaksanaan uji emisi di
daerah;

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

53

g.

Pengembangan pelaksanaan kegiatan uji


emisi kendaraan di jalan oleh pemerintah
daerah;
Penyelenggaraan lomba emisi.

4.

Pengendalian pencemaran udara dari industri


meliputi:

Pemberdayaan peran masyarakat melalui


komunikasi massa.
Meningkatkan akses masyarakat untuk
mendapatkan informasi mengenai upaya
pengendalian emisi kendaraan bermotor
melalui website, artikel dan media lainnya;
Sosialisasi program kepada para
pengambil keputusan (DPR, DPRD, sektor
dan pemerintah daerah);
Pembuatan iklan layanan masyarakat.

Pentaatan peraturan perundang-undangan


dimana industri yang mengeluarkan emisi gas
buang ke udara harus memenuhi Keputusan
Menteri Negara LH No: KEP-13/MenLH/3/
1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak
Bergerak. Industri-industri tersebut berpotensi besar
dalam pencemaran udara, industri dengan
kapasitas produksi yang besar dan industri yang
berlokasi di daerah sensitif seperti daerah
pemukiman, sekolah dsb.
Peningkatan peran industri untuk mentaati Baku
Mutu Emisi melalui penandatanganan SUPER
(Surat Pernyataan) dengan insentif dan disinsentif;

KOTAK 3.5
PENAATAN BAKU MUTU EMISI SO2 DI KEGIATAN PLTU
BAHAN BAKAR BATUBARA
Dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-13/MENLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi
Sumber Tidak Bergerak tercantum Baku Mutu Emisi Standar untuk tahun 1995 sampai tahun 2000. Pada prinsipnya
pentaatan untuk parameter SO2 telah dilakukan oleh seluruh kegiatan PLTU berbahan bakar batubara di Indonesia, namun ada juga PLTU yang sulit untuk memenuhi ketentuan tersebut.
TABEL 3.12
BAKU MUTU EMISI UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP
BERBAHAN BAKAR BATU BARA KEP-13/MENLH/3/1995
BATAS MAKSIMUM (MG/M3)

PARAMETER

BERLAKU TAHUN 1995

BERLAKU MULAI TAHUN 2000

Total Partikel
Sulfur Dioksida (SO2)
Nitrogen Dioksida (NO2)

300
1500
1700

150
750
850

Opasitas

40%

20%

Sumber: KLH, 2002

Catatan :
Nitrogen Dioksida ditentukan sebagai NO2;
Konsentrasi partikulat dikoreksi sebesar 3% O2;
o
Volume gas dalam keadaan standar (25 C dan tekanan 1 atm);
Opasitas digunakan sebagai indicator praktis pemantauan dan dikembangkan untuk memperoleh
hubungan korelatif dengan pengamatan total partikel;
Pemberlakuan BME (Baku Mutu Emisi) untuk 95% waktu operasi normal selama 3 bulan.
Pihak PLTU berkeberatan untuk menggunakan batubara berkadar sulfur rendah secara kontinyu karena pembangunan
FGD (Flue Gas Desulfurization) memerlukan biaya dan luas area tertentu. Sementara itu dampak pencemaran SO2 di
lingkungan semakin meningkat, ditandai dengan semakin tingginya kejadian hujan asam di Indonesia, sehingga tidak
dimungkinkan untuk memberikan kelonggaran terhadap Baku Mutu Emisi tersebut dan peraturan itu tetap diberlakukan
sampai saat ini. Untuk menyelesaikan polemik baku mutu emisi SO2 dari PLTU berbahan bakar batubara ternyata tidak
dapat digeneralisasi, tetapi harus dilihat kasus demi kasus karena tidak semua PLTU meminta kelonggaran peraturan
tersebut.
Sumber: KLH, 2001

54

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

5.

Relokasi industri (pencemar udara) ke kawasankawasan industri atau zona industri;


Pengkajian Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak sebagaimana Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 13 tahun 1995 diantaranya, PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), Semen,
CEM (Continuous Emission Monitoring);
Pengembangan Baku Mutu Emisi Industri lain
meliputi industri minyak, pupuk elektronik, PLTD
(Pembangkit Listrik Tenaga Disel);
Pemenuhan aspek-aspek pendukung (baku mutu
emisi beberapa jenis industri, peningkatan peran
masyarakat, pemantauan, penyusunan dan
penetapan pedoman-pedoman teknis)

Kebijakan Antisipasi Deposisi Asam

Dalam rangka antisipasi dampak deposisi asam terutama


pencemaran lintas batas, Kementerian Lingkungan Hidup
berkoordinasi dengan instansi lain melakukan pemantauan
status deposisi asam serta dampaknya. Untuk melaksanakan
ini telah dibentuk jaringan pemantauan deposisi asam
ditingkat nasional yang dikoordinasikan oleh Kementerian
Lingkungan Hidup dengan anggota Sarpedal KLH, Badan
Meteorologi dan Geofisika, Pusat Penelitian Atmosfer LAPAN,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Air; serta
Pengembangan Tanah dan Agroklimat dan Pusat Penelitian
dan Pengembangan Air, Dep. Kimpraswil.
Dalam kaitannya dengan upaya regional menanggulangi
masalah deposisi asam ini, Kementerian Lingkungan Hidup
sebagai focal point ikut serta dalam kegiatan Jaringan
Pemantauan Deposisi Asam di wilayah Asia Timur (East
Asia Network on Acid Deposition Monitoring-EANET) yang
diprakarsai oleh Pemerintah Jepang melalui Acid Deposition and Oxidant Research Center-ADORCH. EANET
merupakan kerjasama 10 negara di wilayah Asia Timur,
yaitu: Cina, Indonesia, Jepang, Malaysia, Mongolia,
Filipina, Korea Selatan, Thailand, Rusia dan Vietnam.
6.

Kebijakan Antisipasi Perubahan Iklim

Secara umum respon yang dilakukan Indonesia berkaitan


dengan masalah perubahan iklim terdiri dari dua hal.

Pertama, menurunkan laju emisi gas rumah kaca dari


berbagai sektor dan kedua melakukan adaptasi menghadapi perubahan iklim apabila terjadi. Respon tersebut
dilaksanakan atas dasar sukarela dan dapat menunjang
pembangunan berkelanjutan.
Kementerian Lingkungan Hidup sebagai National Focal
Point perubahan iklim telah melaksanakan berbagai
persiapan dan koordinasi dengan instansi terkait dalam
rangka menyusun kebijakan dan strategi nasional dalam
mengantisipasi dampak negatif akibat adanya perubahan
iklim, antara lain :
Persiapan pembentukan Komisi Nasional Perubahan
Iklim;
Ikut aktif terlibat dalam menghadiri pertemuan
tahunan para pihak COP (Conference of The Parties)
sebagai konsekuensi dari keterlibatan Indonesia
menjadi negara yang ikut meratifikasi Konvensi
Perubahan Iklim;
Mempersiapkan bahan untuk Ratifikasi Protokol Kyoto.
7.

Kebijakan Perlindungan Lapisan Ozon di


Indonesia

Indonesia sesuai dengan Protokol Montreal dan Amandemen Copenhagen Konvensi Wina, yang sudah
diratifikasi dengan Keputusan Presiden Nomor 23 tahun
1992, berkewajiban menghapus penggunaan bahan
perusak ozon kelompok CFC secara bertahap sampai
dengan 1 Januari 2010. Pemerintah Indonesia menetapkan jadwal penghapusan penggunaan ODS pada tahun
2007.
Indonesia mempunyai kewajiban untuk:
Mengembangkan program perlindungan lapisan
ozon di tingkat nasional;
Melaksanakan upaya penghapusan ODS secara
bertahap sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi
negara berkembang;
Melaporkan tingkat pemakaian ODS di Indonesia;
Tidak melaksanakan perdagangan ODS dengan
negara-negara yang belum meratifikasi Konvensi dan
Protokol Montreal.

Status Lingkungan Hidup Indonesia 2002

55