Anda di halaman 1dari 3

TES NISTAGMUS

Pemeriksaan mata : mata bergerak atau dalam posisi netral.


1. Mencari adanya strabismus, bila ada keluhan diplopia perlu diperiksa dengan
kaca Maddox.
2. Mencari adanya nistagmus:
- Pada saat mata dalam posisi netral, bila ada nistagmus
disebutmistagmus spontan.
- Pada saat mata melirik ke kiri, kanan, atas dan bawah, bila ada
nistagmus disebut nistagmus tatapan.
- Nistagmus yang disebabkan oleh kelainan sistem saraf pusat
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Nistagmus pendular : nistagmus yang tidak mempunyai
fase cepat atau fase lambat.
b. Nistagmus vertikal murni : nistagmus itu gerakannya ke atas
dan ke bawah.
c. Nistagmus rotator murni : gerakannya berputar.
d. Gerakan nistagmoid : gerakan bola mata yang bukan nistagmus
sebenarnya tetapi mirip dengan nistagmus.
e. Nistagmus tatapan murni : nistagmus yang berubah arahnya
bila arah lirikan mata berubah.
3. Pemeriksaan dengan rangsangan perubahan posisi kepala dan tubuh :
- Cari kemungkinan adanya posisi tertentu yang membangkitkannistagmus
atau vertigo.
- Tes baring terlentang, baring miring ke kiri, ke kanan dan test baring
terlentang dengan kepala menggantung.
- Tiap-tiap tes dilakukan selama satu menit, dengan kecepatan gerakan
perubahan posisi 90 dalam 5 detik sehingga pengaruh daya gravitasi
ditiadakan.
Ada tiga jenis nistagmus yang dapat ditimbulkan oleh test tersebut di mana
nistagmusnya disebut nistagmus posisional:
Tipe I
: Nistagmus berubah arah (Directionchanging nystagmus),nistagmus yang arahnya selalu berubah
pada setiap ada perubahan posisi kepala.
Tipe II
: Nistagmus arah tetap (Direction-jbced nystagmus), arah
nistagmus tetap saja meskipun ada perubahan-perubahan posisi
kepala.
Tipe III
: Nistagmus tak menentu (Irregular Nystagmus), respons
nistagmus yang timbul pada tiap-tiap perubahan posisi kepala
berubah-ubah, berganti-an Tipe I dan Tipe II, meskipun
rangsangannya tetap sama.
Dari tes ini dapat dibedakan apakah nistagmus posisional
itu bersumber dari kelainan sistem saraf pusat (Tipe I atau Tipe
III), ataukah perifer (Tipe II). Peminum alkohol, sering pada test
posisi ini menunjukkan nistagmus, terutama pada posisi
berbaring miring ke kanan dan ke kiri.

PEMERIKSAAN INDERA PENCIUMAN


Pemeriksaan kemosensoris penghidu yaitu pemeriksaan dengan menggunakan
odoran tertentu untuk merangsang sistem penghidu. Ada beberapa jenis
pemeriksaan ini, diantaranya tes UPSIT (University of Pennsylvania Smell
Identification), Tes The Connectitut Chemosensory Clinical Research Center
(CCCRC), Tes Sniffin Sticks, Tes Odor Stick Identification Test for Japanese
(OSIT-J).
Tes UPSIT (University of Pennsylvania Smell Identification). Test ini
berkembang di Amerika, pada tes ini terdapat 4 buku yang masing-masing berisi
10 odoran.2 Pemeriksaan dilakukan dengan menghidu buku uji, dimana
didalamnya terkandung 10-50 odoran. Hasilnya pemeriksaan akan dibagi
menjadi 6 kategori yaitu normosmia, mikrosmia ringan, mikrosmia sedang,
mikrosmia berat, anosmia, dan malingering. Test ini dapat mendeteksi ambang
penghidu, identifikasi odoran, dan evaluasi nervus trigeminal. Untuk ambang
penghidu digunakan larutan butanol 4% dan diencerkan dengan aqua steril
dengan perbandingan 1:3, sehingga didapat 8 pengenceran pada 8 tempat yang
berbeda. Tempat untuk butanol 4% diberi nomor 0, dilanjutkan dengan
pengenceran diberi sampai nomor 8. Dalam melakukan test dimulai dari nomor
8, nomor 7 dan seterusnya sampai nomor 0. Untuk menghindari bias pasien
disuruh menentukan mana yang berisi odoran tanpa perlu
mengidentifikasikannya. Ambang penghidu didapat bila jawaban betul 5 kali
berturut-turut tanpa kesalahan. Pemeriksaan dikerjakan bergantian pada hidung
kiri dan kanan, dengan menutup hidung kiri bila memeriksa hidung kanan atau
sebaliknya.
Tes kedua yaitu identifikasi penghidu, dengan menggunakan odoran kopi,
coklat, vanila, bedak talk, sabun, oregano, dan napthalene. Nilai ambang dan
identifikasi dikalkulasikan dan dinilai sesuai skor CCCRC
Tes Sniffin Sticks. Tes Sniffin Sticks adalah tes untuk menilai kemosensoris
dari penghidu dengan alat yang berupa pena. Tes ini dipelopori working group
olfaction and gustation di Jerman dan pertama kali diperkenalkan oleh Hummel
dan kawan-kawan. Tes ini sudah digunakan pada lebih dari 100 penelitian yang
telah dipublikasikan, juga dipakai di banyak praktek pribadi dokter di Eropa.
Panjang pena sekitar 14 cm dengan diameter 1,3 cm yang berisi 4 ml odoran
dalam bentuk tampon dengan pelarutnya propylene glycol. Alat pemeriksaan
terdiri dari tutup mata dan sarung tangan yang bebas dari odoran. Pengujian
dilakukan dengan membuka tutup pena selama 3 detik dan pena diletakkan 2
cm di depan hidung, tergantung yang diuji hidung sebelah kiri atau sebelah

kanan. Pemeriksaan dilakukan dengan menutup mata subyek untuk menghindari


identifikasi visual dari odoran.