Anda di halaman 1dari 6

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS LAUT

BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Pembangkit listrik yang terdapat di Indonesia sebagian besar menggunakan


sumber daya tidak terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat atau
industri, misalnya solar dan batubara. Energi yang tidak terbarukan akan habis
seiring dengan penggunaannya secara terus-menerus. Oleh karena itu, sekarang
banyak dikembangkannya energi terbarukan yang tidak akan habis dan ramah
lingkungan untuk memenuhi kebutuhan akan energi manusia di bumi, misalnya
penggunaan panas laut sebagai pembangkit listrik.
Energi yang di pancarkan matahari ke permukaan bumi pada saat matahari
bersinar terik di perkirakan 1.000 watt per meter persegi. Dan seperti kita ketahui
Bumi kita diliputi oleh lautan sekitar 70 %. Oleh sebab itu lautan merupakan
pengumpul energi yang maha luas. Temperatur di permukaan laut menjadi hangat
karena panas dari sinar matahari diserap sebagian oleh permukaan laut. Semakin
ke dalam energi matahari makin berkurang terserap sehingga di bawah
permukaan, temperatur akan turun dengan cukup drastis.
Konversi Energi Panas Laut (Ocean Thermal Energy Conversion) adalah
metode untuk menghasilkan energi listrik menggunakan perbedaan temperatur
yang berada di antara laut dalam dan perairan dekat permukaan untuk
menjalankan mesin kalor. Seperti pada umumnya mesin kalor, efisiensi dan energi
terbesar dihasilkan oleh perbedaan temperatur yang paling besar. Perbedaan
temperatur antara laut dalam dan perairan permukaan umumnya semakin besar
jika semakin dekat ke ekuator. Pada awalnya, tantangan perancangan OTEC
adalah untuk menghasilkan energi yang sebesar-besarnya secara efisien dengan
perbedaan temperatur yang sekecil-kecilnya.
Permukaan laut dipanaskan secara terus menerus dengan bantuan sinar
matahari, dan lautan menutupi hampir 70% area permukaan bumi. Perbedaan
temperatur ini menyimpan banyak energi matahari yang berpotensial bagi umat
manusia untuk dipergunakan. Jika hal ini bisa dilakukan dengan cost effective dan
dalam skala yang besar, OTEC mampu menyediakan sumber energi terbaharukan
yang diperlukan untuk menutupi berbagai masalah energi.
Konsep mesin kalor adalah umum pada termodinamika, dan banyak energi
yang berada di sekitar manusia dihasilkan oleh konsep ini. Mesin kalor adalah alat
termodinamika yang diletakkan di antara reservoir temperatur tinggi dan reservoir
temperatur rendah. Ketika kalor mengalir dari temperatur tinggi ke temperatur
rendah, alat tersebut mengubah sebagian kalor menjadi kerja. Prinsip ini
digunakan pada mesin uap dan mesin pembakaran dalam, sedangkan pada alat
pendingin, konsep tersebut dibalik. Dibandingkan dengan menggunakan energi
hasil pembakaran bahan bakar, energi yang dihasilkan OTEC didapat dengan
memanfaatkan perbedaan temperatur lautan disebabkan oleh pemanasan oleh
matahari.
Siklus kalor yang sesuai dengan OTEC adalah siklus Rankine,
menggunakan turbin bertekanan rendah. Sistem dapat berupa siklus tertutup
ataupun terbuka. Siklus tertutup menggunakan cairan khusus yang umumnya

bekerja sebagai refrigeran, misalnya ammonia. Siklus terbuka menggunakan air


yang dipanaskan sebagai cairan yang bekerja di dalam siklusnya.
B.
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Bagaimana prinsip kerja PLT-PL dalam menghasilkan listrik?
Berapa efisiensi pembangkitan energi panas laut?
Apa saja Keuntungan dan kerugian PLT-PL?
Sesuaikah apabila diterapkan di Indonesia?
BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah OTEC
1881, Jacques Arsene dArsonval, fisikawan prancis yang mengajukan
konsep konversi energi termal lautan.
1930, George Claude yang membuat pembangkit listrik OTEC pertama
kalinya di Kuba. Pembangkit listrik itu menghasilkan listrik 22 kilowatt
dengan turbin bertekanan rendah.
1931, Nikola Tesla meluncurkan buku On Future Motive Power yang
mencakup konversi energi termal lautan. ia beranggapan bahwa hal ini tidak
bisa dilakukan dalam skala besar.
1935, Claude membangun pembangkit kedua di atas 10000 ton kargo yang
mengapung di atas lepas pantai Brazil. Namun cuaca dan gelombang
menghancurkan pembangkit listrik tersebut sebelum bisa menghasilkan
energi.
1956, para fisikawan Prancis mendesain 3 megawatt pembangkit listrik
OTEC di Abidjan, Pantai Gading. Pembangkit listrik OTEC itu tak pernah
selesai karena murahnya harga minyak di tahun 1950an yang membuat
pembangkit listrik tenaga minyak lebih ekonomis.
1962, J. Hilbert Anderson dan James H. Anderson, Jr. mendesain sebuah
siklus untuk mencapai tujuan yang tidak dicapai Claude. Mereka fokus pada
pengembangan desain baru dengan efisiensi yang lebih tinggi.
1967, J. Hilbert Anderson dan James H. Anderson, Jr mematenkan desain
siklus tertutup setelah menganalisa masalah yang ditemukan pada desain
Claude.
B. Prinsip Kerja
Pembangkit listrik energi termal ini dapat dimanfaatkan jika perbedaan
temperatur tersebut cukup besar untuk bisa menghasilkan energi listrik. Perbedaan
temperatur antara permukaan yang hangat dengan air laut dalam yang dingin
dibutuhkan minimal sebesar 77 derajat Fahrenheit (25 C) agar dapat
dimanfaatkan untuk membangkitkan energi listrik. Teknologi yang digunakan
disebut dengan konversi energi panas laut (Ocean Themal Energy Convertion atau
OTEC). Pembangkit listrik tenaga panas laut yang telah dikembangkan dibedakan
menjadi 3 siklus yaitu:

1.

Siklus terbuka

Gambar 1. Siklus Terbuka (http://clubdesargonautes.org)


Pada siklus ini air laut digunakan sebagai sumber energi dan medium
kerja. Air hangat dari permukaan laut dipompa kedalam evaporator untuk
diuapkan menjadi uap air (gas) yang bertekanan. Uap air tesebut murni tanpa
senyawa lain yang terkandung bersamanya dan sisa air laut yang mengandung
mineral yang tidak teruapkan dikembalikan lagi ke laut. Uap air akan
melewati turbin, dimana turbin tersebut yang akan menggerakkan generator.
Setelah melewati turbin, uap air masuk kedalam kondensor untuk
dikondensasikan kembali menjadi air. Air keluaran dari kondensor
merupakan air tawar yang dapat dimanfaatkan menjadi air minum, air
pendingin kondensor atau dikembalikan ke laut.
Kelebihan:
a. Menghasilkan air tawar bisa dikombinasi dengan fungsi lain seperti air
minum
b. Tidak berbahaya karena tidak ada zat yang berbahaya
c. Produksi listrik stabil
d. Biaya operasi murah
Kekurangan:
a. Tekanan uap yang rendah membuat ukuran turbin harus besar
b. Efisiensi masih rendah sekitar 1-2%
c. Biaya pembangunan tidak murah
2.

Siklus tertutup

Gambar 2. Siklus Tertutup (opotec.jp)


Siklus tertutup menggunakan panas permukaan laut untuk menguapkan
fluida pengerak dan menggunakan suhu laut dalam untuk mendinginkan. Zat
ini bisa berupa ammonia (NH3), Freon R-22 (CHCLF2), dan gas propan
(C3H6) yang mempunyai titik didih rendah antara -30 sampai -50 derajat
celcius pada tekanan 1 atmosfer dan 30 derajat celcius pada tekanan antara
10-12,5 kg/cm2. Air hangat bersuhu antara 25-30 derajat celcius dipompakan
kedalam evaporator. Zat kerja dalam bentuk cair mendidih karena dipanaskan
oleh air hangat, kemudian menguap menjadi gas bertekanan 12kg/cm2. Gas
bertekanan ini dihantarkan kedalan turbin untuk menggerakan generator
sehingga tenaga listrik tercipta. Gas yang dipakai untuk menggerakan turbin
didinginkan didalam kondesator dengan zat pendinginnya berupa air laut
dalam. Gas tersebut berubah kembali menjadi cair dan dipergunakan lagi
seterusnya sehingga siklus ini berputar.
Kelebihan:
a. Tekanan uap tinggi membuat turbin tidak terlalu besar
b. Tidak membutuhkan bahan bakar
c. Produksi listrik stabil
d. Biaya operasi rendah
Kekurangan:
a. Zat medium yang digunakan berbahaya jika terjadi kebocoran
b. Biaya pembangunan tidak murah.
c. Efisiensi masih rendah sekitar 1-3%
3.

Siklus Hybrid

Gambar 3. Siklus Hybrid (http://clubdesargonautes.org)


Siklus hybrid menggunakan keunggulan sistem siklus terbuka dan
tertutup. Siklus hybrid menggunakan air laut yang diletakkan di tangki
bertekanan rendah untuk dijadikan uap. Lalu uap tersebut digunakan untuk
menguapkan fluida bertitik didih rendah (amonia atau yang lainnya). Uap air
laut tersebut lalu dikondensasikan untuk menghasilkan air tawar desalinasi.

C. Penerapan di Indonesia
Dengan luas lautan Indonesia mencapai 5,8 juta km2, mendekati 70% luas
keseluruhan wilayah Indonesia, dan dengan letak indonesia di garis khatulistiwa
membuat Indonesia tempat yang cocok untuk menerapkan teknologi PLT-PL ini.
Berdasarkan letak penempatan pompa kalor, konversi energi panas laut dapat
diklasifikasikan menjadi tiga tipe, konversi energi panas laut landasan darat,
konversi energi panas laut terapung landasan permanen, dan konversi energi
panas laut terapung kapal. Konversi energi panas laut landasan darat alat
utamanya terletak di darat, hanya sebagian kecil peralatan yang menjorok ke laut.
Kelebihan sistem ini adalah dayanya lebih stabil dan pemeliharaannya lebih
mudah. Kekurangan sistem jenis ini membutuhkan keadaan pantai yang curam,
agar tidak memerlukan pipa air dingin yang panjang.Untuk konversi energi panas
laut terapung landasan permanen, diperlukan sistem penambat dan sistem
transmisi bawah laut, sehingga permasalahan utamanya pada sistem penambat dan
teknologi transmisi bawah laut yang mahal. Jenis ini masih dalam taraf penelitian
dan pengembangan. Perkembangan teknologi konversi energi panas laut di
Indonesia baru mencapai status penelitian, dengan jenis konversi energi panas
laut landasan darat dan dengan kapasitas 100 kW, lokasi di Bali Utara.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Prinsip kerja PLT-PL memanfaatkan perbedaan temperatur yang berada di
antara laut dalam dan perairan dekat permukaan untuk menjalankan mesin
kalor.
2. PLT-PL dibedakan menjadi tiga : siklus terbuka, siklus tertutup dan siklus
hibrid.
3. PLT-PL memiliki efisiensi kecil karena tergantung dari perbedaan suhu
dari air laut yang digunakan.
4. PLT-PL cocok digunakan di Indonesia dengan letak Indonesia di garis
khatulistiwa dan luas lautan Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2.

DAFTAR PUSTAKA

Armand. 2011. Pembangit Listrik Tenaga Panas Laut.


http://armand10dma.blogspot.com/2011/08/pembangit-listrik-tenagapanas-laut.html (diakses 20 Agustus 2016 )
Cusmix .2009. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Laut.
https://cusmix.wordpress.com/2009/11/10/pltpl/
2016)

(diakses

20

Agustus

Suwasono, W.2009.Teknologi Panas Laut.


http://www.agussuwasono.com/technical-references/iptek/160-teknologipanas-laut.html
Tari, Suci R. 2013. Prinsip Pemanfaatan Energi Panas Laut Sebagai Sumber
Pembangkit Listrik Menurut Perspektif Fisika.
https://www.academia.edu/23254594/PRINSIP_PEMANFAATAN_ENE
RGI_PANAS_LAUT_SEBAGAI_SUMBER_PEMBANGKIT_LISTRIK_
MENURUT_PERSPEKTIF_FISIKA
Wikipedia.2016.Konversi Energi Termal Lautan.
https://id.wikipedia.org/wiki/Konversi_energi_termal_lautan (diakses 20
Agustus 2016 )
Sumber Gambar
https://opotec.jp
http://clubdesargonautes.org