Anda di halaman 1dari 33

STRUKTUR BAJA

(I Lanjutan)

I. K O L O M
1.1. Bentuk Penampang
Bentuk penumpang dari batang tekan yang dipakai untuk kolom dapat
dibagi atas 3 kelompok :
1. Kolom kolom yang solid, tanpa adanya lubang-lubang, disebut juga
solid wall columns.

2. Open Columns : Terdiri dari beberapa profil yang disatukan satu sama
lain dengan lacing (trali) atau dengan batton plates
platkoppel.

3. Perforated cover plates :


Bentuk ketiga ini dapat dikatakan peralihan antara
kedua bentuk di atas kolom ini mempunyai plat tepi
(cover plates) yang berlubang-lubang (perforated).

Perforated cover plates


Dalam merencanakan suatu solid wall columns, yang dipakai adalah gros
section (luas broto).
Pada open columns, lacing batten plates diabaikan.
Untuk kolom tipe 3, sebagai luasnya adalah gros section dari badan yang
menerus ditambah dengan net section (luas bersih).
1.2. Pengaruh Geser Terhadap Beban Kritis :

Pada waktu kolom menekuk, setiap penampang akan berputar sebesar dy/dx,
dimana dy/dx ini adalah kemiringan (slepe) yang disebabkan oleh lentur.
Dengan demikian, maka sekarang gaya P yang vertikal tidak terlalu lurus lagi pada
bidang penampang, dan ini menyebabkan timbulnya komponen

yang

merupakan gaya geser.


QP

dy
dx

Gaya geser ini, juga dinamakan lateral force, akan menambah lentur dari batang
tersebut sebesar dys. dengan demikian, maka lentur total menjadi dy + dys.
Perubahan kemiringan yang disebabkan oleh gaya geser itu pada solid colums dapat
dituliskan sebagai berikut :
3

dy s n.Q

dx
F.G
Dimana n = Suatu faktor yang tergantung pada bentuk penampang (untuk
bentuk segi empat harganya 1,2 dan untuk bentuk I kira-kira
dengan 2).
F = Luas penampang
G = Modulus of rigidity
Kalau Q berubah - ubah sepanjang batang, maka dys/dx demikian juga halnya,
sehingga :

d 2 ys
n dQ

2
dx
PG dx
2
d ys n P d 2 y

dx 2 F G dx 2
Cuevature yang disebabkan oleh lentur murni persamaannya adalah :
d2y P y
0
dx 2 EI
d2y P y
atau 2
dx EI

(a)

Sehingga total curvature menjadi :

atau

d 2 y P.y n.P d 2 y

dx 2 EI FG dx 2
d2y
Py

0
2
dx
nP
EI 1
FG

(b)

Persamaan persamaan (a) dan (b) hanya berbeda pada faktor

1
nP . Karena
1
FG

faktor ini tidak tergantung pada y, maka sifatnya tidak berubah.


Untuk mendapatkan beban kritis dari Euler, persamaan (a) dipenuhi apabila y =
( / L)2, dan ini berlaku pula untuk persamaan (b).
Jadi :

Pcr

2
nPcr L
KI 1

FG
Pcr
2 EI

P
nPcr L2
1

FG
P
Pcr e
nP
1 e
FG

(1)

Persamaan terakhir ini menunjukkan pengaruh dari gaya geser terhadap beban kritis
dari suatu batang tekan.
Solid wall columns :
Ternyata bahwa gaya geser (shear) kecil sekali pengaruhnya terhadap daya
dukung kolom dari tipe ini. Sehingga pada umumnya dapat diabaikan.
Open columns :
Berbeda dengan solid columns, disini pengaruh geser terhadap gaya dukung
kolom lebih besar.
Beberapa specification tidak menyinggung tentang pengurangan ini, tapi
American Columns Mesearch Counsil menganjurkan pemakaian rumus
pendekatan sebagai berikut :
Open Columns dengan Lacing :
Untuk memperhitungkan pengaruh geser terhadap daya dukung kolom tersebut,
maka koefisien k untuk mendapatkan panjang tekuk, harus diubah (modified)
menjadi :
k' k(

)
4000

(2)

Open Columns dengan batten plates :


Koefisien k untuk mendapatkan panjang tekuk dihitung dengan persamaan:
k' k 1

L1
i1

2 L1 /i1
12 L/i y

(3)

jarak antara batton plates

= jari-jari satu profil terhadap sumbu -1


5

= panjang kolom seluruhnya

iy

= Jari-jari dari profil rangkap terhadap sumbu -7

Perforated Columns :
Penelitian-penelitian analistis dan expiris menunjukkan bahwa gaya geser
mempengaruhi daya dukung dari kolom dari jenis ini.
Kalaupun ada, kecil sekali sehingga dapat diabaikan. Jenis perhitungannya sama
dengan solid wall columns.
1.3. Tekuk Setempat (Local Buckling)
Pada open columns terdapat kemungkinan bahwa runtuhnya kolom itu disebabkan
oleh tekuknya masing-masing batang terhadap sumbu -1 (lihat gambar atas) pada
beban yang lebih kecil dari daya dukung kolom seluruhnya. Kejadian ini
dinamakan tekuk setempat atau local buckling.
Dengan mengabaikan tahanan dari lacing batten, panjang tekuk dari local buckling
ini adalah L1. tegangan kritis local dan acerall buckling masing-masing adalah :

cr

2E t

dan

L1/i1 2

cr

2Et

KL1/i 2

Tekuk setempat itu dapat dihindarkan dengan penempatan lacing atau batton yang
betul. Dari kedua persamaan di atas dapat dilihat tekuk setempat tidak akan terjadi
selama :
L1

i1kl
i

Untuk keperluan ini, dapat diambil harga k =1 untuk semua keadaan, sehingga kita
dapatkan :
L1

i1.L
i

(4)

ASSHO (Highway) dan AREA (Hailway) Specifications mengharuskan jarak


antara lacing atuu batten plates tidak lebih dari :

a)

L1 40.i1

(5a)

2 i L
b) L1 1
3 i

(5b)

1.4. Pengaruh geser pada plat koppel :


Besarnya gaya geser q seperti telah kita lihat dimuka adalah P . dy/dx.
Untuk praktisnya, menurut AASHO Spesification besarnya adalah :
Q

1 100

P
100 10 100

(6a)

Sedangkan menurut ATSC Spesification adalah :


Q 2%P

(6b)

Lateral force Q ini menyebabkan terjadinya gaya


geser T pada plat kopel yang bekerja di tengahtenganya.
Q
e
x L1 t
2
2
Q.L
T 1
e

(7)

Untuk tiap plat kopel : T1

T
2

L1

= jarak plat kopel

= jarak garis berat masing-masing profil

contoh perhitungan :
1) Rencanakan sebuah kolom dengan tinggi 7,5 meter yang dapat memikul gaya tekan
sebesar 260 ton (kedua ujungnya sendi).
a) Kolom terdiri dari bajasiku dan cover plates dengan lacing.
b) Kolom terdiri dari bajasiku saja dengan lacing.

a. Coba penampang sebagai berikut :


4 120.120.12 = 110 cm2

2 450.12
A

= 108 cm2
= 218 cm2

1
1,2 45 3 18.200
12
4.368
1500

Tx 2

4 27,519,1

40.100
59800

59800
16,6 cm
218
750

45
16,6

ix

i y 2.54 22,5 4.368 27,517,9 91400 cm4


2

91400
20,5 cm
218
750

36,6
20,5

iy

Untuk tekuk terhadap sumbu ini K harus dimodified menjadi :


k1 k 1
1,01
4000

1,01 750 37 45

20,5

Dengan = 45

(tidak menentukan)

cr = 2170 kg/cm2
f = 1,79
2170

Daya dukung kolom : P 1,79 x 218 264000 kg 264 ton


Lacing :

1 100
37

P 0,025 P
100 37 10 100
0,025 260 6,5 ton

Untuk tiap lacing Q1

65
3,25 ton
2

Q1
3,25

3,7 ton.
Cos30 0,87

Gaya tiap batang :

Untuk merencanakan ukuran lacing, ambil kelangsingan maximum. Dengan


panjang batang 318 mm, maka :
318
140
i min
318
140
0,29t

318
8mm
0,29x140

Ambil t = 10 mm.

318
110
0,29x10

cr 1525 kg/cm 2

f
Luas yang diperlukan =

= 1,91

3700 1,91
1525

4,64 cm 2

4,64

2
Lebar perlu = 1,0 4,64 cm

Pakai plat berukuran 50.10 untuk lacing.


Plate : Jarak antara rivet (pada gambar dimuka diambil 280 mm) tidak boleh lebih besar
dari 40 cm.

Local Buckling :

55,01,6 54 0,6

55 54
i1 54 2,61 0,6

2 368 4,6 2,61 27,5


2

2,61 mm

218

956
1174

1174
3,28 cm.
109
40.i1 40.3,28 131cm

i1

2 i1L 2 3,28 750


x
x
99 cm
16,6
3 i
3
L1 40 cm 99 cm 0.Y.

(menentukan)

Tie Plate :
Plat ini harus dipasang pada kedua ujung batang.
Tebal minimum adalah 1/50 dari jarak rivet :
1
x280 5,6mm
50
ambil t 6mm
t min

Panjangnya harus lebih besar dari jarak rivet


(280 mm) :
Ambil l = 350 mm
Jadi tie plate : 350.6

b. Coba penampang sebagai berikut :


F = 4 x 51,8 = 207,2 cm2
Ix = Iy = 4 x 1230
4 x 51,8 (20,43)2

= 4920
= 86400
91320

10

91320
207,2

21,0cm

750
21,0

35,7

35,7

k' 1 1

4000
1,01 750
'
21,0
f
cr

1,01
36
1,77
2220 kg/cm 2

Daya dukung koles :


2220
x207,2 26000 kg
1,77
260 ton
O.K

Lacing :
1 100
36

P 0,0254 P
100 36 10 100
0,0254x260 6,6 ton

Q1 12 Q 3,3 ton
3,3
3,9 ton
CosQ
panjang lacing 378 mm

gaya tiap lacing

378
9,4 mm.
Ambil t 10 mm
0,29x140
378

130
f 1,92
0,29x1,0
t min

cr 1220 kg/cm 2

Luas perlu =

3900 1,92
1220

6,15 cm 2

6,15

Lebar perlu = 1,0 6,15 cm

Ambil l 70 mm

Jadi dipakai lacing 70.10

Tie Plate :
t min

320
6,4 mm
50

Ambil 7 mm

11

Ambil panjangnya 400 mm (> 320 mm)


Jadi ukuran tie plate : 400.7
Local Buckling :
40 x 11 = 40 x 3,13 = 125,2 cm
2 i1L 2 3,13 750
x
x
74,5 cm
3 i
3
21,0

(menentukan)

11 = dalam hal ini adalah jari-jari minimum dari sebuah baja siku.
L1

= 40 cm

< 74,5 cm

o.k

2) Tentukan profil yang diperlukan untuk kolom yang terdiri dari sepasang baja kanal.
Dihubungkan satu sama lain dengan plat kopel (batten platen).
Gaya yang harus dipikul adalah 55 ton, tinggi kolom 7,5 meter dan kedua ujungnya
sendi :
Jawab :

Dicoba [ -20 seperti tergambar]


F = (2) (23,2) = 64,4 cm2
Ix = (2) (1910) = 3820 cm 4
L 750

97
ix
7,7

Iy = (2) [148 + (32,2)(9,49)2]


= 6096 cm4
iy =

6096
9,73 cm
64,4

L 750
L

77 : 1 x 21 40 o.k
i y 9,73
i1

Dengan persamaan (2) : k' 1 1

2 21

12 77

1,05

12

k ' L 1,03 750

80
iy
9,73

07

Jadi x = 97 menentukan

f = 1,89
cr= 1700 kg/cm2

Daya dukung kolom : P

1700 64,4
1,89

58000 kg

= 59 ton > 55 ton

O.K.

Lateral force :
Q

1 100
80

P 0,02 P

100 80 10 100

= (0,02)(55) = 1,1 ton.


Batang Tunggal:
P = 55/2 = 27/2 = 27,5 ton
Wmax =

1,1
(18,5) 10,2 ton
2

Dengan L1/i1 = 21

f = 1,72
cr = 2270 kg/cm2

2,27
(32,2)
42,7 ton
1,27
2,300
Mo
(27,0)
37,1 ton
1,67
P
M
27,5 10,2

0,645 0,275 0,92 1


Po M o 42,7 37,1
Po

Gaya geser pada plat kopel :


T

o.L 1,1 450

2,6 ton
o
189,8

Tiap plat kopel : T1

T
2,6

1,3ton
2
2

15
M (1,3)( ) 9,75 ton
2
1
W (0,6)(16) 2 25,6 cm3
6

13

9750
381 kg/cm2
1400
25,6
3 T
3 1300
x 1 (
) 203 kg/cm2
2 F
2 0,6x16
0,6 x 1400 o.k

max
max

o.k

1.5. Perforated Columns :


Dalam merencanakan suatu preforated columns,
harus diperhatikan hal hal sebagai berikut :
1) Bentuk dari lubang (perporation) haruslah
oval, ollips atau bulat. Pada bentuk oval dan
ollips, sumbu memanjang lubang harus searah
dengan sumbu kolom.
2) Jarak antara dua tepi lubang, o-a tidak kalah
kecil dari jarak rivet lines.
3) Semua

besaran-besaran

dihitung

pada

penampang yang melalui lubang.


a

4) i i
1
y

a
20
i1

5) Pada suatu perforation setiap flange harus


memikul setengah dari lateral force.
6) Jarak antara lubang dengan rivet lines harus
lebih kecil dari 16 kali tebalnya.
Contoh Perhitungan :
Sebuah kolom terdiri dari profil-profil tersusun dengan cover Platos seperti
tergambar. Tinggi kolom 7,5 meter dan k=1, hitung daya pikul kolom tersebut.

Jawab :
Luas : 4 90.90.9 = (4) (15,5)

= 62 cm2

2 450.10 = (2) (45)

= 90 cm2

2 450.10 (Perf.) = (2) (45-20)

= 50 cm2
14

F
Ix =

4 . 116+(15,5) (19,96)2
1

(1)(45) 3 (25)(23,0) 2
12

Ix

= 202 cm2

= 25164,90 cm4
41637 cm4

= 66801,9 cm4

66801
18,18 cm
202
750
x
41
18,2

ix

Iy = 4 baja siku

= 25164,90 cm4

(2)(45)(23)2

= 47610 cm4

(2)(

1
) (1) (45)3 = 15160 cm4
12

(2)(

1
) (1) (20)3
12

= 1330 cm4
86700 cm4

86770
20,7 cm
202
750
y
36
41
20,7

iy

Dengan = 41

f = 1,78
cr = 2195

Daya dukung kolom :


P

2,195 202
1,78

258 ton

Pemeriksaan pada perforated section :

15

45 0,5 31,0 3,54 25 7,25


45 31,0 25

3,1 cm
I 1 45 2,6 2.116 31 0,44
2

1
112,5 3 12,5 4,15 2 1300 cm4
12

F 101 cm2
2

1300
3,6 cm
101
a
35
L
36

9,7

12
i 1 3,6
3i y
3

i1

20

o.k
o.k

Lateral force : dengan =36 kita dapatkan :


1 100
36

P 0,0254 P

100 36 10 100
0,0254 258 6,55 ton

Tiap bagian = 3,275 ton.


Geser :
max

max

Q S
Is
S 45 2,6 2.15,5 0,44 2.12,5 4,15
234,39 cm3

s 21,0 0,9 3,8 cm


3.275 234,39 155,39 kg/cm2

1300 3,8
0,6 x 1400 O.K

16

II. PANJANG TEKUK


Di muka telah kita tinjau dengan panjang lebar panjang kolom prismatis pada
berbagai macam portal. Kini akan kita lihat untuk beberapa bentuk yang lain.
3.2. Rangka Batang (Trus)
Apabila suatu rangka batang direncanakan hanya untuk beban tetap, maka harga
k (effective length coeficient) = 1. Ini disebabkan karena tegangan tegangan
maksimum terjadi serentak pada sebuah batang. Kalau beban bergerak diperhitungkan,
maka dapat diambil k = 0,9.
Jika suatu batang menerus, bagian yang satu tekan dan yang lain tarik, dapat
dipakai harga k = 0,85 untuk bagian tekan tersebut. Semua harga-harga k di atas adalah
untuk tekuk dalam bidang rangka batang. Untuk tekuk tegak lurus padanya, harga k
selalu kita ambil = 1. Kecuali bila kolom itu merupakan bagian dari portal melintang.

Portal Melintang
Untuk batang vertikal pada gambar (a) dapat diambil k = 0,8 dan pada gambar (b) k =
0,7.
Untuk tekuk dalam bidang rangka batang pada gambar (c) sebagai panjang tekuk
dari batang AB dan BC masing-masing dapat diambil L1 dan L2.
Kalau pada A dan c terdapat lateral bracing, sedangkan pada B tidak ada, maka effective
length dari tekuk tegak lurus pada bidang rangka tidak mudah ditentukan. Hal yang
sama juga kita jumpai apabila pada titik B dari gambar (d) tidak terdapat lateral bracing.
Kolom bertingkat seperti pada gambar (e) juga mempunyai persoalan yang sama.

17

Untuk hal yang khusus dimana L1 = L2 dan I1 = I2 maka dapat dipakai rumus empiris :
k 0,75 0,25

P1
P2

(8)

P2 adalah gaya yang lebih besar, dan apabila salah satu gaya berupa tarik, maka
tandanya harus dipakai negatif.
Contoh Perhitungan :
Rencanakan batang vertikal untuk rangka batang
seperti batang.
P1 = + 17 ton (tarik)
P2 = - 18 ton (tarik)
Jawab : coba DIN 20. dengan sumbu x dalam
bidang rangka.
a) Tekuk dalam bidang rangka :
K = 0,85
k

kL 0,85 500

iy
5,08

50
f
cr

1,35
2142 kg/cm2

Gaya yang dapat dipikul :


P

2,140 82,7 98
1,80

ton 57

O.K

b) Tekuk tegak lurus pada bidang rangka :

18

k 0,75 0,25

P1
P2

17
0,75 0,25 - 0,70
87
kL 0,70 600

49,5 50
ix
8,48
(tidak menentukan)

3.3. Non Prismatic Columns :


Apabila sebuah kolom tidak sama besar diseluruh
panjangnya, maka berlaku persamaan.
Pcr

2 EI1
2 EI 2

k1L1 2 k 2 L 2 2

atau

k1 L 2 L1

k 2 L1 L 2

dan

tg

k 2L2
tg

k1 2k 2 k1L1

(9)
(10)

(Penurunan dari persamaan terakhir ini dapat


dilihat pada buku Steel Structuresn

W.Mc

Gufre).
Contoh Perhitungan :
Diketahui :

Kolom (a) seluruhnya terjadi dari profi DIE 30. Kolom (b) terjadi dari
DIE 24 yang diperkuat dengan cover plate seperti pada gambar.

Pertanyaan : Bandingkan daya dukung kedua kolom itu.


Jawab :

Kolom (a)
kl 720
96
Kolom (b) i y 7,53

f 1,89
cr 1710 kg/cm2

Kolom (b)

1,710
x 112 101 ton.
1,89

P = 77,5 + (2) (26,0) (1,3) = 145 cm2


1,3
2
26,0 6600 cm4
12

I y 2780 2
iy

6600
6,75 cm
145

19

Dari persamaan (9) :


k1

k 2L2
L1

I1
2790
Ik 2
1,30 k 2
I2
6600

Dari persamaan (10) :


tg

k L
2
tg
2 2
1,54
k1
2k 2 k1L1 1,30

Persamaan terakhir ini dipecahkan dengan cara trial and error.


k2 = 2,25 :

tg

tg
1,56
2,92
4,50

1,54

k2 = 2,26 :

tg

tg
1,52
2,94
4,52

1,54

Jadi k2 = 2,255

Pcr

2 EI 2 2 EI 2

k 2 L 2 2 kL 2

k 2 L 2 2,255 3,6

1,13
L
7,2
kL 1,13 720

120
iy
6,75
k

1,380 145 105 ton


1,91

f 1,91
cr 1380 kg/cm2
101 ton

Ternyata daya dukung kolom (b) lebih besar dari kolom (a) tapi ini tidak berarti
bahwa otomatis kolom (b) lebih ekonomis dari pada kolom (a). Ini hanya sekedar
ilustrasi perhitungan analistis.
Note : Dalam contoh soal ini , tekuk tegak lurus terhadap sumbu x tidak menentukan.

III. LATERAL PRACING


4.1. Pendahuluan :

20

Dalam pembahasan tentang batang tekan, telah disinggung singgung


tentang adanya lateral bracing (tumpuan samping) yang terdapat pada arah tertentu,
baik sepanjang batang itu, maupun yang terdapat jarak-jarak tertentu.
Gunanya lateral bracing ini adalah untuk meniadakan atau memperkecil panjang
tekuk dari batang tekan itu dalam bidang di mana ia berada. Misalnya, sebuah
kolom yang terdapat dalam dinding yang masif tumpuan samping yang kita dapat
boleh dikatakan menerus sepanjang dinding tersebut.
Demikian juga halnya dengan balok dengan lantai beton, tumpuan samping yang
diberikan oleh lantai ini adalah menerus sepanjang lantai itu.
Apabila tumpuan samping itu menerus, tapi tidak begitu kaku, seperti
yang terdapat pada lantai kayu atau plat baja, maka disini akan kita dapatkan suatu
tumpuan yang tidak kaku (non rigid support). Keadaan ini kita dapatkan juga
apabila tumpuan itu ada pada jarak jarak tertentu.
Kesukarannya adalah bahwa sampai sekarang belum ada cara atau teori yang
sederhana untuk perhitungan kerja sama antara batang utama (main member) dan
pengaku (bracing).
Biasanya pengalaman atau kira-kira yang dipakai untuk menentukan profil yang
akan dipakai sebagai lateral bracing.
G. Winter dalam tulisannya lateral bracing of columns and beams memberikan
sumbangan dalam pemecahan sebagian dari persoalan ini. Caranya akan kita
berikan di bawah ini. Sifat yang penting yielding support ini adalah kekakuan.
4.2. Kekakuan yang diperlukan :
Misalnya ada sebuah kolom ideal dengan sepanjang 2 L. Beban kritisnya adalah :
Pcr

2 EI
2L 2

gambar (a)

Jika sebuah tumpuan yang tak dapat bergerak (non deflecting support) ditempatkan
di tengah-tengah, maka beban kritisnya akan bertambah jadi empat kali semula (b).
Kemudian, kalau tumpuan yang kita pasang di tengah-tengah itu dapat bergerak
(yielding support), maka akan kita dapatkan keadaan antara kedua hal di atas,
gambar (c).

21

Sifat yang penting dari yielding support ini adalah kekakuan (stiffness) dan
kekuatannya (strength).
Pertama akan ditinjau kekakuannya :
Tumpuan itu dapat kita anggap sebagai suatu per elastis (elastic spring) dengan
spring constant :

Dimana

H = gaya pada spring (lateral fores)


D = perpendekan spring

Kalau tumpuan itu berupa sebuah batang dengan panjang Ls dan luas Is, maka
perpanjangan atau perpendekannya adalah :
d

H Ls
ps E

Spring constant dari batang ini menjadi :


H FE
k s
d Ls

(b)

22

Apabila gaya tekan pada kolom kecil atau sama dengan Pcr =

EI
,
2L 2

maka secara teoritis tak ada gaya yang bekerja pada spring.
Tapi apabila gaya tersebut lebih besar dari 2EI/(2L)2, maka batang itu akan
menekuk seperti pada gambar (d), sampai akhirnya ia patah. Makin kaku tumpuan
tadi, makin besar gaya dapat dipikul oleh kolom.
Dengan bertambahnya kekakuan dari tumpuan itu, maka akhirnya kolom itu akan
menekuk seperti gambar (e).
Sekarang P kritis dari kolom telah menjadi sebesar 2EI/L2. apabila keadaan ini
telah tercapai, maka kolom itu dikatakan telah ditumpu penuh (fully braced), dan
penambahan kekakuan dari tumpuan sekarang tak ada pengaruhnya lagi terhadap P
kritis dari kolom.
Dengan mengambil keseimbangan dari bagian atas atau bawah dari
batang yang melentur itu, maka kita dapatkan :
H
L Pcr d
2

Dengan H = k . d, maka kita dapatkan :


k

2pcr
L

(c)

k di sini adalah spring constant yang diperlukan untuk mendapatkan


tumpuan penuh.
Misalnya tumpuan yang ada di tengah-tengah kolom itu sebuah batang yang terjadi
dari bahan yang sama dengan kolom, maka dengan persamaan persamaan (b) dan
(c) kita dapatkan :
k

Fs E 2 2 EI


L s L L2
L s Fc
x 2
L L/i

Fs 2 2

(d)

23

Di mana Fc adalah luas kolom.


Kalau kita ambil contoh dengan angka-angka, di mana kelangsingan kolom kita
misalnya = 100, dan panjang lateral support 1/10 tinggi kolom, jika luas penampan
lateral support yang diperlukan menurut persamaan (d) adalah :
Fs 0,0002 Fc

Pada contoh ini ditirukan dengan keadaan inelastic buckling, maka faktor Et/E
harus dimasukkan pada persamaan (d).
Misalkan Et/E = 0,26 ; L/i = 40 ; Ls/L = 1 dan y = 3500
Pada persamaan (d) memberikan : Fs = 0,003 Fc.
Tentu banyak kombinasi kombinasi Ls / L dan L/i lain yang akan
memberikan perbandingan Fs dan Fc yang diperlukan. Tapi dalam prakteknya. Tapi
dalam prakteknya kombinasi yang umum antara kolom dan bracing terletak antara
kedua contoh di atas.
Terlihat bahwa untuk mendapatkan full bracing, luas tumpuan samping yang
diperlukan (Fs) cukup kecil bila dibandingkan dengan luas kolom (Fb).
Dalam keadaan sesungguhnya, kita harus memperhitungkan tidak
idealnya kolom dan pembebanan. Untuk memasukkan faktor-faktor ini dalam
perhitungan, G. Winter memakai suatu equitment initial curvature, yaitu suatu
deflection sebesar do pada interiar support.
Dengan demikian, maka :
H
L Pcr d o d
2

Dan dengan H = ka . d, dimana ka adalah spring constant yang sebenarnya (actual)


untuk kolom, maka :
ka

2pcr d o
1
Ld

d
k a k o 1
d

(e)

Dari persamaan terakhir ini dapat dilihat dapat dilihat bahwa kekakuan lateral
bracing yang diperlukan lebih besar dari kekakuan yang dihitung untuk kolom
ideal. Perbandingan do/d besarnya tergantung pada taksiran kita sendiri Winter
mengajarkan pemakaian do/d.

24

4.3. Kekakuan yang diperlukan :


Setelah didapatkan kekakuan yang diperlukan untuk lateral bracing, maka
kekuatannya (H reguired) dapat dihitung sebagai berikut :
Hr ka d do d

(f)

Yang penting adalah k dan do.


Untuk suatu batang tekan, kesalahan bentuk batang menurut AISX Specification tak
boleh lebih besar dari 1/1000 bentangnya (Unbraced lenght).
Untuk suatu kolom yang ditumpu ditengah-tengahnya, dimuka sudah kita dapatkan
bahwa :
k

2p cr
dan dengan mengambil do=d
L

Maka pers. (f) menjadi :


Hr 4do

Pcr
L

(g)

Ditengah-tengahnya di beri lateral support terhadap tekuk yang tegak lurus pada
sumbu lemah (sumbu-y).
Kolom terdiri dari profil DIE-20.
1) Hitung beban maksimum yang diizinkan pada kolom.
2) Rencanakan lateral bracing ditenga-tengahnya dengan panjang 3 meter.

Jawab :
1)

L 780

95
i x 8,24

(menentukan)

L 390

79 95
i y 4,96
cr 1720 kg/cm2

Pcr 1720 57,0 98000 kg


P

1720
x 57,0 52000 kg
1,89

f 1,89

25

2) Coba dipakai baja-T sebagai lateral


bracing dengan :
F = 13,6 cm2
IIx= 73,7 cm4

Iy = 37,0 cm4

ix = 2,33 cm

iy = 1,65 cm

k=

2Pcr 2 x 98

0,50 t/cm
L
390

Kekakuan actual yang diperlukan :


ka = 2k = 1,0 t/cm
Cross-Section
Baracing

L
i min

H cr

300
182
1,65

2 EI y

L 2

< 200 (batas untuk batang sekunder)

2 2,1x10 6 37,0

8500 kg
300 2

Kekakuan yang ada : k

F.E 13,6 2,1x10 6

300
L

=95 t/cm > 2,1 t/cm


Kekuatan :

assume do =
=

O.K

1
x bentang
500
1
x 390 0,78 cm
500

Dari pors. (g), kekuatan yang diperlukan adalah :


Pcr
98
4 0,78
0,78 ton
L
390
H cr 8,5 ton
O.K
H r 4.d o

Jadi baja T tersebut dapat dipakai.

26

IV. P L A T
4.1. Tegangan Kritis :
Seperti kita ketahui, sebelum kolom yang dibebani sentris akan menekuk pada
tegangan Euler :
cr

2E
kL/i 2

cr k

2E
L/i 2

atau dapat juga ditulis


dimana K = (

1 2
)
k

Serupa dengan keadaan ini, jika sebuah plat (misalnya flange dari sebuah I-beam)
mendapat gaya tekan, maka ia dapat menekuk. Dalam keadaan ideal, hal ini akan terjadi
pada tegangan kritis yang dapat dihitung dengan persamaan yang identik dengan rumus
Euler untuk kolom di atas, yaitu :
cr k

2E
1 u 2 b/i 2

(a)

Di mana : b = lebar plan


i = jari-jari yang untuk plat setebal t besarnya adalah t/ 12
k = suatu faktor yang tergantung, pada macam tumpuan plat.
u = Foissons ratio, untuk baja harganya 0,3
dengan memasukkan harga jari-jari di atas maka
persamaan di atas dapat ditulis :
cr k

2E
2
2
t21 u b/t

(b)

Sebuah kolom akan menekuk dan kemudian patah pada tegangan yang lama atau
sedikit kurang dari tegangan yang diberikan oleh persamaan (a) diatas :
Tapi tidak demikian halnya dengan sebuah plat yang tertekan.
Apabila tegangan yang timbul telah sampai pada tegangan kritis seperti yang diberikan
oleh persamaan (b), gelombang tekuk (buckling waver) akan terjadi perlahan-lahan, tapi
plat belum patah.

27

Ia masih sanggup memikul beban yang lebih besar, kadang-kadang jauh lebih besar dari
pada beban yang menyebabkan gelombang tekuk pertama tadi, terutama apabila
perbandingan b/t besar. Gejala ini dinamai post buckling strength.
Contoh soal :
Hitung beban yang dapat dipikul (per
satuan lebar) oleh plat seperti pada gambar.
Tebal plat 2,5 mm, dan kedua tepi plat
simply supported (sendi).
Jawab :
Untuk plat dengan simpel support ini harga
k = 4 (lihat tabel dibelakang).
cr k

2E
2
2
121 u b/t

4 2 2,1x106
760 kg/cm2
2
2
121 0,3 250/2,5

P cr t 760 0,25 190 kg/cm

4.2. Tekuk setempat


Umumnya profil yang dipakai terdiri dari bagian-bagian yang berupa alat.
Apabila bagian itu tertekan, ia dapat menekuk, keluar dari bidangnya semula. Pengaruh
dari tekuk setempat ini terhadap batang itu sebagai keseluruhan tergantung pada :
a) Letak dari elemen yang menekuk itu.
b) Kekuatan elemen itu (buckling and post buckling strength)
c) Macamnya batang tersebut.
Ada tiga keadaan penting :
1) Tekanan merata

: Misalnya terdapat pada flange sebuah balok dan flange


serta web dari kolom.

2) Lentur murni

: Terdapat pada sebuah balok, dimana gaya geser nol.

3) Geser murni

: Terdapat pada web sebuah balok, dimana momen-lentur


nol.

Untuk keadaan 1) dan 2), tegangan kritis dapat dihitung dengan persamaan :
28

cr k

2E
2
121 u 2 b/t

cr k

2E
2
121 u 2 b/t

dan untuk keadaan 3) :

Dimana k adalah koefisien tekuk yang tergantung pada macam tumpuan dan juga
perbandingan antara lebar dan tebal plat.
Harga k ini dapat dilihat pada tabel dibelakang, yang diambil dari buku Tuckling
strength of metal structures karangan Bleich.
Tumpuan sendi (simpel sport) dinyatakan dengan //// dan tumpuan sempit (pixed
support) dinyatakan dengan xxxx, sedangkan yang bebas tidak diberi tanda apa-apa.
Meskipun pada tabel itu dijelaskan keadaan tumpuan di kedua ujung (arah
melintang) dan sepanjang tepinya (arah memanjang), namun halnya yang terakhir ini
yang paling menentukan.
Keadaan tumpuan di kedua ujungnya, dimana beban bekerja, sedikit sekali pengaruhnya
terhadap kekuatan plat itu.
Contoh soal :
Sebuah plat berukuran :
L = 1500 mm
b = 750 mm
t = 6 mm
keempat sisinya simply supported.
Pertanyaan :
1) Hitung momen maksimum yang dapat dipikul oleh plat ini pada
keadaan lentur murni.
2) Hitung tegangan kritis pada keadaan geser murni.

Jawab :

29

1) L/b

1500
2
750

k 24

k 2E
24 2 2,1x106

2920
2
2
12 1 u 2 b/t
121 0,09 750/6

m cr xw
f basoc safety factor
f
1
2
w 0,6 75 560 cm3
6
2,920 x560 980 t cm

1,67
cr

2) L/b 2
4
4
5,34 6,34
2
4
2
6,34 2 2,1x106
k E
cr

2
2
12 1 u 2 b/t
121 0,09 750/6
770 kg/cm2

k 5,34

30

Note : Harga k pada tekanan merata hanya berlaku untuk plat yang panjang. Untuk plat
keempat sisinya sendi, L harus lebih panjang atau sama dengan (b).

31

cr kg/cm2 untuk y 2300 kg/cm2

0
2
4

20
22775
2270
2265
30
2245
2235
2230
40
2200
2175
2175
50
2140
2130
2115
60
2070
2055
2040
70
1985
1965
1950
80
1890
1865
1845
90
1780
1735
1733
100
1660
1635
1610
110
1525
1495
1470
120
1380
1345
1315
130
1220
1185
1150
140
1055
1025
1000
150
920
895
875
160
810
790
770
170
720
700
685
180
640
625
610
190
575
565
550
200
520
Note : Interpolasi linier dapat dipakai pada tabel ini.

6
2260
2220
2165
2100
2020
1930
1825
1710
1580
1440
1285
1120
970
850
750
670
600
540

8
2250
2210
2150
2085
2005
1910
1805
1685
1550
1410
1250
1090
945
830
735
655
585
530

32

Safety factor (f) untuk y = 2300 kg/cm2


0
2
4

20
1,72
1,73
1,73
30
1,75
1,75
1,76
40
1,78
1,78
1,79
50
1,80
1,81
1,81
60
1,82
1,83
1,83
70
1,85
1,85
1,85
80
1,86
1,87
1,87
90
1,88
1,88
1,89
100
1,90
1,90
1,90
110
1,91
1,91
1,91
120
1,91
1,91
1,91
130
1,92
1,92
1,92
Note : Kelangsingan yang lebih besar dari c = 134 mempunyai

6
8
1,74
1,74
1,77
1,77
1,79
1,80
1,82
1,82
1,84
1,84
1,86
1,86
1,83
1,88
1,89
1,89
1,90
1,90
1,91
1,91
1,92
1,92
1,92
1,92
safety factor yang sama

semuanya, yaitu = 1,92.

33