Anda di halaman 1dari 7

Vira

| Wanita Usia 36 Tahun, Hamil 35 Minggu dengan Plasenta Previa dan Janin Letak Lintang

Wanita Usia 36 Tahun, Hamil 35 Minggu dengan Plasenta Previa dan Janin
Letak Lintang

Vira Weldimira
Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung


Abstrak:
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sehingga menutupi seluruh atau sebahagian
dari ostium uterus internum. Frekuensi perdarahan antepartum sekitar 3 % sampai 4 % dari semua persalinan. Kejadian
plasenta previa bervariasi antara 0,3-0,5 % dari seluruh kelahiran. Plasenta previa merupakan penyebab terbanyak dari
seluruh kasus perdarahan antepartum. Studi ini merupakan laporan kasus dari seorang ibu hamil, 36 tahun, G3P2A0 35
minggu, datang dengan keluhan keluar darah pervaginam tanpa disertai rasa nyeri dan kelainan letak janin. Pada
pemeriksaan fisik obstetri, didapatkan bahwa hasil inspeksi terdapat keluar darah pervaginam, hasil palpasi terdapat janin
letak lintang, hasil inspekulo terdapat fluxus keluar dari ostium uterus eksterna. Pemeriksaan penunjang didapatkan kadar
Hb 7,8 g/dl. Oleh karena itu, pasien ini didagnosis dengan plasenta previa totalis dan janin letak lintang. Penatalaksanaan
pasien ini yaitu dibutuhkan penanganan aktif.

Kata kunci: letak lintang, plasenta previa

A 36 years Pregnant Woman in 35 weeks of Gestation with Placenta Previa


and Transversal Fetus Position

Abstract
Placenta previa is the implantation of the placenta in the lower segment of the uterusso that it covers the whole or in part
from uteri internum ostium. Antepartum haemorrhage frequencyis about 3 % to 4 % of all births. The incidence of placenta
previa varies between 0.3-0.5 % of all births. From all cases of placenta previa, antepartum haemorrhage is the most
common cause. This studyis acase report of a pregnant woman, 36 years old, G3P2A0 35 weeks, present with painless
vaginal bleeding and abnormality position of fetus. On physical examination obstetrics, it is found that the results of the
inspection are vaginal bleeding, from palpation,it is found transversal fetus position, from inspekulo results, there was
fluxus cameout from uterus externum ostium. From supporting examination, itis found Hb levels was 7.8 g/dl. Therefore,
these patients diagnosis was placenta previa totalis and transversal fetus position. Management ofthese patients is active
treatment.

Keywords: placenta previa, transversal fetus position

Korespondensi: Vira Weldimira, S.Ked, e-mail eldhy_06@yahoo.co.id


Pendahuluan
Perdarahan
antepartum
adalah
perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 28
minggu.1 Perdarahan antepartum digolongkan
sebagai berikut yaitu perdarahan yang ada
hubungannya dengan kehamilan yaitu
plasenta previa, solusio plasenta, perdarahan
pada plasenta letak rendah, pecahnya sinus
marginalis dan vasa previa.1
Frekuensi perdarahan antepartum
sekitar 3 % sampai 4 % dari semua persalinan.
Kejadian plasenta previa bervariasi antara 0,30,5 % dari seluruh kelahiran. Dari seluruh
kasus perdarahan antepartum plasenta previa
merupakan penyebab terbanyak. Oleh karena
itu, pada kejadian perdarahan antepartum,
kemungkinan plasenta previa harus dipikirkan
terlebih dahulu.2,3

J Medula Unila|Volume 4|Nomor 2|Desember 2015|164


Kasus

Pasien Ibu hamil, G3P2A0, usia 36
tahun datang ke Rumah Sakit Abdul Moeloek
tanggal 28 November 2014 dengan keluhan
pasien mengeluarkan darah dari kemaluan
sebanyak 3x ganti pembalut sejak 6 jam
sebelum masuk rumah sakit. Keluarnya darah
tidak disertai rasa sakit dan berwarna merah
segar.Gejala seperti mulas yang menjalar
kepinggang hilang timbul dan semakin lama
semakin sering serta kuat tidak dirasakan
pasien. Keluar air-air dari kemaluan pun
disangkal. Pasien pernah melakukan Ante
Natal Care di bidan dan dinyatakan letak
lintang. Pasien memiliki riwayat diurut di
bagian perut. Usia kehamilan pasien adalah 35
minggu dengan gerakan janin yang masih
dapat dirasakan.

Vira | Wanita Usia 36 Tahun, Hamil 35 Minggu dengan Plasenta Previa dan Janin Letak Lintang


Pada pemeriksaan fisik umum
didapatkan, kesadaran compos mentis,
tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/m,
pernafasan 20 x/m, suhu 37 0C, konjungtiva
anemis. Pemeriksaan fisik obstetri didapatkan,
TFU (Tinggi Fundus Uteri) yaitu 30 cm dari
simfisis pubis, pada leopold I tidak teraba
bagian janin pada fundus uteri, pada leopold II
letak melintang teraba balotemen kepala pada
salah satu fosa iliaka dan bokong pada fosa
iliaka yang lain, padaleopold III dan IV tidak
teraba bagian janin pada bawah uteri,
auskultasi denyut jantung janin 145 x/menit.
Pemeriksaan dalam dilakukan inspeksi portio
livide, ostium uterus eksterna tertutup, dan
fluxus (+). Pemeriksaan colok vagina tidak
dilakukan.
Pemeriksaan penunjang pada pasien
ini didapatkan nilai hemoglobin 7,8 g/dL,
leukosit 8.800/uL hematokrit 25 %.

Pembahasan
Plasenta previa adalah plasenta yang
berimplantasi pada segmen bawah rahim
sehingga menutupi seluruh atau sebahagian
dari ostium uterus interna.Klasifikasi plasenta
previa yaitu plasenta previa totalis, plasenta
previa parsialis, plasenta previa marginalis,
plasenta previa letak rendah.3
Pasien ini didiagnosis dengan Plasenta
previa totalis dengan janin letak lintang.
Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan
anamnesis,
pemeriksaan
fisik,
dan
pemeriksaan penunjang.
Plasenta previa totalis atau komplit,
adalah plasenta yang menutupi seluruh
ostium uteri internum.3 Penyebab blastotika
berimplantasi pada segmen bawah rahim
belum diketahui dengan pasti. Implantasi
mungkin dipengaruhi oleh: abnormalitas
vaskularisasi pada endometrium, ovulasi
terlambat, trauma endometrium sebelumnya,
plasenta yang terlalu besar pada kehamilan
ganda, pembedahan pada uterus sebelumnya
(bedah sesar, miomektomi), paritas tinggi, dan
usia > 35 tahun.4
Letak lintang adalah suatu keadaan
dimana sumbu panjang janin kira-kira tegak
lurus dengan sumbu panjang tubuh ibu (janin
melintang di dalam uterus) dengan kepala
terletak di salah satu fossa iliaka dan bokong
pada fossa iliaka yang lain. Pada umumnya
bokong berada sedikit lebih tinggi daripada

kepala janin, sedangkan bahu berada pada


pintu atas panggul.5,6
Penyebab letak lintang adalah (1)
dinding abdomen teregang secara berlebihan
disebabkan oleh kehamilan multiparitas pada
ibu hamil dengan paritas 4 atau lebih terjadi
insiden hampir sepuluh kali lipat dibanding ibu
hamil nullipara. Relaksasi dinding abdomen
pada perut yang menggantung akibat
multipara dapatmenyebabkan uterus jatuh ke
depan. Hal ini mengakibatkan defleksi sumbu
panjang janin menjauhi sumbu jalan lahir,
sehingga terjadi posisi oblik atau melintang,
(2) pada janin prematur letak janin belum
menetap, perputaran janin sehingga
menyebabkan letak memanjang, (3) dengan
adanya plasenta atau tumor di jalan lahir
maka sumbu panjang janin menjauhi sumbu
jalan lahir, (4) cairan amnion berlebih
(hidramnion) dan kehamilan kembar, (5)
bentuk panggul yang sempit mengakibatkan
bagian presentasi tidak dapat masuk ke dalam
panggul (engagement) sehingga dapat
mengakibatkan sumbu panjang janin menjauhi
sumbu jalan lahir, dan (6) bentuk dari uterus
yang tidak normal menyebabkan janin tidak
dapat engagement sehingga sumbu panjang
janin menjauhi sumbu jalan lahir.3
Berdasarkan faktor risiko yang sudah
disebutkan diatas, pasien ini memiliki paritas
yang tinggi yaitu kehamilan ketiga dengan usia
> 35 tahun. Kemudian karena terjadi kelainan
letak plasenta, maka diikuti dengan kelainan
letak janin.
Hal yang paling khas pada plasenta
previa adalah perdarahan yang tidak nyeri,
yang biasanya belum muncul sampai
menjelang akhir trimester kedua atau
setelahnya. Namun, beberapa jenis abortus
dapat terjadi akibat lokasi plasenta abnormal
yang
sedang
berkembang
tersebut.
Perdarahan dari plasenta previa sering muncul
tanpa peringatan, terjadi tanpa disertai nyeri
pada wanita yang riwayat pranatalnya tampak
normal. Darah berwarna merah segar.
Untungnya,
perdarahan
awal
jarang
sedemikian deras sehingga menimbulkan
kematian. Perdarahan ini biasanya berhenti
spontan namun kemudian kambuh.7,8,9,10
Pada sebagian kasus, terutama pada
mereka yang plasentanya tertanam dekat
tetapi tidak menutupi ostium serviks,
perdarahan mungkin belum terjadi sampai
persalinan dimulai. Perdarahan ini dapat
J Medula Unila|Volume 4|Nomor 2|Desember 2015|165

Vira | Wanita Usia 36 Tahun, Hamil 35 Minggu dengan Plasenta Previa dan Janin Letak Lintang

bervariasi dari ringan sampai berat dan secara


klinis dapat menyerupai solusio plasenta.7,8,9,10
Penyebab perdarahan perlu ditekankan
kembali. Apabila plasenta terletak di atas
ostium uteri interna, pembentukan segmen
bawah uterus dan pembukaan ostium uteri
interna akan menyebabkan robeknya plasenta
pada tempat melekatnya. Perdarahan
diperparah oleh ketidakmampuan serat-serat
miometrium di segmen bawah uterus
berkontraksi untuk menjepit pembuluhpembuluh yang robek.7,8,9,10
Perdarahan dari tempat implantasi
plasenta di segmen bawah uterus dapat
berlanjut setelah plasenta dilahirkan, karena
segmen bawah uterus lebih rentan mengalami
gangguan kontraksi daripada korpus uterus.
Perdarahan juga dapat terjadi akibat laserasi
serviks dan segmen bawah uterus yang rapuh,
terutama setelah pengeluaran plasenta yang
agak melekat secara manual.11,12
Pada kasus ini, pasien mengalami keluar
darah dari kemaluan tanpa disertai rasa nyeri
dan berwarna merah segar, hal ini disebabkan
karena pada usia kehamilan yang lanjut,
umumnya pada trimester ketiga dan mungkin
juga lebih awal oleh karena mulai
terbentuknya segmen bawah rahim, tapak
plasenta akan mengalami pelepasan.
Sebagaimana diketahui tampak plasenta
terbentuk dari jaringan maternal yaitu bagian
desidua basalis yang bertumbuh menjadi
bagian dari uri. Dengan melebarnya isthmus
uteri menjadi segmen bawah rahim, maka
plasenta yang berimplantasi di situ sedikit
banyak akan mengalami laserasi akibat
pelepasan pada desidua pada tapak plasenta.
Demikian pula pada waktu serviks mendatar
(effacement) dan membuka (dilatation) ada
bagian tapak plasenta yang terlepas. Pada
tempat laserasi akan terjadi perdarahan yang
berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruang
intervillus dari plasenta.
Oleh karena fenomena pembentukan
segmen bawah rahim itu perdarahan pada
plasenta previa pasti akan terjadi (unavoidable
bleeding). Perdarahan di tempat itu relatif
dipermudah dan diperbanyak oleh karena
segmen bawah rahim dan serviks tidak
mampu berkontraksi dengan kuat karena
elemen otot yang dimilikinya minimal, dengan
akibat pembuluh darah pada tempat itu tidak
akan tertutup dengan sempurna. Perdarahan
akan berhenti karena terjadi pembekuan
J Medula Unila|Volume 4|Nomor 2|Desember 2015|166

kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang


besar dari plasenta, dimana perdarahan akan
berlangsung lebih banyak dan lebih lama. Oleh
karena pembentukan segmen bawah rahim itu
akan berlangsung progresif dan bertahap,
maka laserasi baru akan mengulang kejadian
perdarahan. Perdarahan akan berulang tanpa
sesuatu sebab lain (causeless). Darah yang
keluar berwarna merah segar tanpa rasa nyeri
(pain-less).13,14
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah
dinding segmen bawah rahim yang tipis
mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari
trofoblas, akibatnya plasenta melekat lebih
kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi
plasenta akreta dan inkreta bahkan plasenta
perkreta yang pertumbuhan vilinya bisa
sampai menembus buli-buli dan ke rektum
bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan
inkreta lebih sering terjadi pada uterus yang
sebelumnya pernah bedah sectio caesarea.
Segmen bawah rahim dan serviks yang rapuh
mudah robek oleh sebab kurangnya elemen
otot yang terdapat disana. Kedua kondisi ini
berpotensi
meningkatkan
kejadian
perdarahan pasca persalinan pada plasenta
previa, misalnya dalam kala tiga karena
plasenta sukar melepas dengan sempurna
(retensi plasenta) atau setelah uri lepas
karena segmen bawah rahim tidak mampu
berkontraksi dengan baik.13
Pemeriksaan fisik untuk mendiagnosis
plasenta previa yaitu:14
a.
Inspeksi:
terlihat
perdarahan
pervaginam berwarna merah segar.
b.
Palpasi abdomen: janin sering belum
cukup bulan, jadi fundus uteri masih
rendah; Sering disertai kesalahan letak
janin; Bagian bawah janin belum turun,
apabila letak kepala, biasanya kepala
masih dapat digoyang atau terapung;
Bila
pemeriksa
sudah
cukup
pengalaman dapat dirasakan suatu
bantalan pada segmen bawah rahim,
terutama pada ibu yang kurus.
c.
Inspekulo:
dengan
pemeriksaan
inspekulo dengan hati-hati dapat
diketahui asal perdarahan, apakah dari
dalam uterus, vagina, varises yang
pecah atau lain-lain.
d.
Pemeriksaan dalam hanya boleh
dilakukan di meja operasi (PDMO),
karena dengan pemeriksaan dalam akan

Vira | Wanita Usia 36 Tahun, Hamil 35 Minggu dengan Plasenta Previa dan Janin Letak Lintang

menyebabkan perdarahan pervaginam


yang lebih deras.
Sedangkan
untuk
pemeriksaan
penunjangnya yaitu plasenta previa hampir
selalu dapat didiagnosa dengan menggunakan
ultrasonografi (USG) abdomen, yang 95%
dapat dilakukan tiap saat.15
Pada kasus ini, dari hasil pemeriksaan
fisik pasien, hasil inspeksi terdapat keluarnya
darah pervaginam, dari hasil palpasi terdapat
kesalahan letak janin, dalam hal ini letak janin
didapatkan letak lintang, kemudian dari hasil
inspekulo, terdapat fluxus (darah) yang keluar
dari OUE, sedangkan vaginal toucher tidak
dilakukan karena akan menyebabkan
perdarahan pervaginam yang lebih deras. Jika
ingin dilakukan harus dengan PDMO seperti
yang dijelaskan di atas. Pemeriksaan
penunjang berupa pemeriksaan kadar
hemoglobin, dimana pada pasien ini
didapatkan hasil 7,8 g/dL yang berarti terjadi
anemia akibat perdarahan.
Setiap ibu hamil dengan perdarahan
antepartum harus segera dirujuk ke rumah
sakit yang memiliki fasilitas transfusi darah
dan operasi, tanpa dilakukan pemeriksaan
dalam terlebih dahulu. Perdarahan yang
pertama kali jarang mengakibatkan kematian
dengan syarat tidak dilakukan pemeriksaan
dalam sebelumnya, sehingga masih cukup
waktu untuk mengirimkan penderita ke rumah
sakit. Bila pasien dalam keadaan syok karena
perdarahan yang banyak, harus segera
diperbaiki keadaan umumnya dengan
pemberian infus atau tranfusi darah.16
Selanjutnya penanganan plasenta
previa bergantung kepada: Keadaan umum
pasien, kadarHb, jumlah perdarahan yang
terjadi, umur kehamilan/taksiran BB janin,
jenis plasenta previa, paritas dan kemajuan
persalinan.
Penanganan pasien dengan plasenta
previa ada 2 macam, yaitu penanganan
pasif/ekspektatif dan penanganan aktif.
17,18,19,20
Penangan pasif. Dahulu ada anggapan
bahwa kehamilan dengan plasenta previa
harus segera diakhiri untuk menghindarkan
perdarahan yang fatal. Namun sekarang
ternyata terapi ekspektatif dapat dibenarkan
dengan alasan sebagai berikut: perdarahan
pertama pada plasenta previa jarang fatal dan
untuk menurunkan kematian bayi karena
prematuritas.

Kriteria penanganan ekspektatif: umur


kehamilan kurang dari 37 minggu, perdarahan
sedikit, belum ada tanda-tanda persalinan,
keadaan umum baik, kadar Hb 8 % atau lebih.
Perdarahan pada plasenta previa
pertama kali terjadi biasanya sebelum paruparu janin matur sehingga penanganan pasif
ditujukan untuk meningkatkan survival rate
dari janin. Langkah awal adalah transfusi
untuk mengganti kehilangan darah dan
penggunaan agen tokolitik untuk mencegah
persalinan prematur sampai usia kehamilan 36
minggu. Sesudah usia kehamilan 36 minggu,
penambahan maturasi paru-paru janin
dipertimbangkan dengan beratnya resiko
perdarahan mayor.21
Kemungkinan
terjadi
perdarahan
berulang yang dapat mengakibatkan Intra
Uterine Growth Retardation (IUGR) harus
dipertimbangkan. Sekitar 75 % kasus plasenta
previa diterminasi pada umur kehamilan 3638 minggu.21
Dalam memilih waktu yang optimum
untuk persalinan, dilakukan tes maturasi janin
meliputi penilaian surfaktan cairan amnion
dan pengukuran pertumbuhan janin dengan
ultrasonografi. Penderita dengan umur
kehamilan antara 24-34 minggu diberikan
preparat tunggal betamethason (2x12 mg
intramuskular) untuk meningkatkan maturasi
paru janin. Berdasarkan data evidence based
medicine didapatkan pemakaian preparat
ganda
steroid
sebelum
persalinan
meningkatkan efek samping yang berbahaya
bagi ibu dan bayi.21,22,23.
Pada terapi ekspektatif, pasien dirawat
di rumah sakit sampai berat anak 2500 gr
atau kehamilan sudah sampai 37 minggu.
Selama terapi ekspektatif diusahakan untuk
menentukan lokasi plasenta dengan
pemeriksaan USG dan memperbaiki keadaan
umum ibu. Penderita plasenta previa juga
harus diberikan antibiotik mengingat
kemungkinan terjadinya infeksi yang besar
disebabkan oleh perdarahan dan tindakantindakan intrauterin. Setelah kondisi stabil dan
terkontrol, penderita diperbolehkan pulang
dengan pesan segera kembali ke rumah sakit
jika terjadi perdarahan ulang.22

Penanganan aktif atau terminasi
kehamilan.14 Terminasi kehamilan dilakukan
jika janin yang dikandung telah matur,
IUFD(Intra Uterine Fetal Death) atau terdapat
anomali dan kelainan lain yang dapat
J Medula Unila|Volume 4|Nomor 2|Desember 2015|167

Vira | Wanita Usia 36 Tahun, Hamil 35 Minggu dengan Plasenta Previa dan Janin Letak Lintang

mengurangi kelangsungan hidupnya, pada


perdarahan aktif dan banyak.

Kriteria penanganan aktif/terminasi
kehamilan:18 umur kehamilan 37 minggu, BB
janin 2500 gram, perdarahan banyak 500 cc
atau lebih, ada tanda-tanda persalinan, dan
keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis
Hb < 8 gr %.
Jenis persalinan apa yang kita pilih
untuk penanganan plasenta previa dan kapan
melaksanakannya bergantung pada faktorfaktor sebagai berikut: perdarahan banyak
atau sedikit, keadaan ibu dan anak, besarnya
pembukaan, tingkat plasenta previa, dan
paritas.
Ada 2 pilihan cara persalinan, yaitu
persalinan pervaginam dan sectio caesarea.
Persalinan pervaginam bertujuan agar bagian
terbawah janin menekan bagian plasenta yang
berdarah selama persalinan berlangsung,
sehingga perdarahan berhenti. Sectio
caesarea bertujuan mengangkat sumber
perdarahan, memberikan kesempatan pada
uterus untuk berkontraksi menghentikan
perdarahannya, dan menghindari perlukaan
servik dan segmen bawah uterus yang rapuh
apabila dilakukan persalinan pervaginam.3
Plasenta previa totalis merupakan
indikasi mutlak untuk sectio caesarea.
Plasenta previa parsialis pada primigravida
sangat cenderung untuk sectio caesarea.
Perdarahan banyak dan berulang merupakan
indikasi mutlak sectio caesarea karena
perdarahan itu biasanya disebabkan oleh
plasenta previa yang lebih tinggi derajatnya
dari pada yang ditemukan pada pemeriksaan
dalam, atau vaskularisasi yang hebat pada
servik dan segmen bawah uterus. Multigravida
dengan plasenta letak rendah, plasenta previa
marginalis atau plasenta previa parsialis pada
pembukaan lebih dari 5 cm dapat
ditanggulangi dengan pemecahan selaput
ketuban. Tetapi jika dengan pemecahan
selaput ketuban tidak mengurangi perdarahan
yang timbul, maka sectio caesarea harus
dilakukan.3
Pada kasus yang terbengkalai dengan
anemia berat karena perdarahan atau infeksi
intrauteri, baik persalinan pervaginam
maupun sectiocaesarea sama-sama tidak
aman bagi ibu dan janin. Akan tetapi dengan
bantuan transfusi darah dan antibiotik yang
adekuat, sectiocaesarea masih lebih aman
dibanding persalinan pervaginam untuk
J Medula Unila|Volume 4|Nomor 2|Desember 2015|168

semua kasus plasenta previa totalis dan


kebanyakan kasus plasenta previa parsialis.
Sectiocaesarea pada multigravida yang telah
mempunyai anak hidup cukup banyak dapat
dipertimbangkan
dilanjutkan
dengan
histerektomi untuk menghindari terjadinya
perdarahan postpartum yang sangat mungkin
akan terjadi, atau sekurang-kurangnya
dipertimbangkan dilanjutkan dengan sterilisasi
untuk menghindari kehamilan berikutnya.14
Persiapan untuk resusitasi janin perlu
dilakukan. Kemungkinan kehilangan darah
harus dimonitor sesudah plasenta disayat.
Penurunan hemoglobin 12 mg/dl dalam 3 jam
atau sampai 10 mg/dl dalam 24 jam
membutuhkan transfusi segera. Komplikasi
post operasi yang paling sering dijumpai
adalah infeksi masa nifas dan anemia.
Tindakan sectio caesarea pada plasenta
previa, selain dapat mengurangi kematian
bayi, terutama juga dilakukan untuk
kepentingan ibu. Oleh karena itu, sectio
caesarea juga dilakukan pada plasenta previa
walaupun anak sudah mati.14
Penatalaksanaan medikamentosa yang
diberikan sudah tepat yakni dengan
pemberian tokolitik untuk mencegah kontraksi
dari uterus agar tidak terjadi perdarahan.
Indeks tokolitik pada pasien ini adalah 2 yang
artinya tidak ada kontraindikasi. Obat tokolitik
yang digunakan adalah nifedipin dengan dosis
4x10 mg. Nifedipin bekerja dengan cara
blokade channel kalsium voltage-dependent
pada sel miometrium, sehingga menyebabkan
penurunan jumlah ion kalsium intrasel.
Nifedipin berperan sebagai antagonis kalsium
dengan menghambat influks langsung kalsium
ke miosit dan melepaskan kalsium intraselular.
Keseluruhan mekanisme selular ini berakibat
pada berkurangnya interaksi aktin miosin dan
relaksasi sel miometrium. Penggunaan
nifedipin ini dilaporkan memiliki efek samping
maternal yang lebih dapat ditoleransi dan efek
samping janin yang lebih sedikit.24
Tindakan terhadap kehamilan pasien
pada kasus ini sudah tepat yaitu terminasi
perabdominam dengan tindakan sectio
caesarea karena walaupun usia kehamilan <37
minggu namun terdapat salah satu kriteria
aktif yaitu kadar Hb ibu 7,8 g/dL dan pada
pasien ini didapatkan plasenta previa totalis
dan
letak
lintang
sehingga
tidak
memungkinkan terminasi pervaginam.

Vira | Wanita Usia 36 Tahun, Hamil 35 Minggu dengan Plasenta Previa dan Janin Letak Lintang

Simpulan
Penegakan diagnosis pasien ini sudah
tepat yaitu Plasenta Previa Totalis dengan
Janin letak lintang. Faktor risiko terjadinya
plasenta previa totalis adalah multiparitas
sedangkan terjadinya janin letak lintang yaitu
selain multiparitas juga karena kelainan letak
plasenta. Penatalaksanaan plasenta previa
dibagi menjadi penanganan ekspektatif dan
aktif. Pada kasus ini, dilakukan tindakan sectio
caesarea atas indikasi plasenta previa totalis
disertai letak lintang.

Daftar Pustaka
1.
Manuaba IBG. Ilmu kebidanan, penyakit
kandungan & keluarga berencana untuk
pendidikan Bidan. Jakarta: EGC; 2010.
hlm. 253-7.
2.
Sastrawinata S. Obstetri patologi ilmu
kesehatan reproduksi. Edisi ke-2.
Jakarta: EGC; 2005. hlm. 83-91.
3.
Prawirohardjo S. Ilmu kebidanan. Edisi
ke-4. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2009. hlm. 495-502.
4.
Chalik TMA. Perdarahan pada kehamilan
lanjut dan persalinan. Dalam: Saiffudin A
B, Rachimadhi T, Wiknjosastro GH. Ilmu
Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi
ke-4. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2010. hlm. 492-521.
5.
Cunningham, FC, Gant NF, Leveno KJ,
Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD.
Placenta previa. Dalam: William
Obstetrics. Edisi ke-23. New York: Mc
Graw Hill; 2005. hlm. 809-54.
6.
Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R,
Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita
Selekta Kedokteran. Edisi ke-3, jilid
pertama. Jakarta: Media Auesculapius
FKUI; 2001.
7.
Maharani
I.
Hubungan
kadar
hemoglobin
dengan
perdarahan
antepartum dengan skor apgar [skripsi].
Semarang:
Fakultas
Kedokteran
Universitas Diponegoro; 2012.
8.
Martaadiseobrata D, Wijayanegara H.
Obstetri patologi. Jakarta: EGC; 2005.
9.
Miller DA, Chollet JA, Goodwin TM.
Clinical risk factors for placenta praevia
-placenta accreta. Am J Obstet Gynecol.
2009; 177(1):210-4.
10. Rosaningtyas. Hubungan antara paritas
dengan plasenta previa di rumah sakit
umum daerah sunan kalijaga demak

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

[skripsi]. Surakarta: Fakultas Kedokteran


Universitas Muhammadiyah Surakarta;
2009.
Abdat AU. Hubungan antara paritas ibu
dengan kejadian plasenta previa di
rumah sakit dr. moewardi surakarta.
Surakarta [skripsi]. Solo: Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret;
2010.
Bahar A, Abusham A, Eskandar A,
Sobande A, Alsunaidi M. Risk factors
and pregnancy outcome in different
types of placenta previa. J. Obstet
Gynaecol Can. 2009; 31(2):126-31.
Hacker N, Moore JG, Gambone J.
Antepartum haemorrhage. Dalam:
Essentials of Obstetrics and Gynecology
edisi ke-4. United States: Elsevier; 2004.
hlm. 121-8.
Oppenheimer L, Armson A, Farine D,
Keenan-Lindsay L, Morin V, Pressey T, et
al. Diagnosis and management of
placenta previa. J Obstet Gynaecol Can
2007; 29(3):261-6.
Chou MM, Ho ESC, Lee YH. Prenatal
Diagnosis of placenta previa accreta by
transabdominal
color
doppler
ultrasound.
Ultrasound
Obstet
Gynaecol. 2000; 15(1):28-35.
Sastrawinata S, Martaadisoebrata D,
Wirakusumah
F.
Pendarahan
antepartum. Obstetri Patologi Ilmu
Kesehatan Reproduksi. Edisi ke-2.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran; 2005. hlm. 91-8.
Chang YL, Chang SD, Cheng PJ. Perinatal
outcome in patiets with abruption
plcenta with and without antepartum
hemorrhage. Int J Gynaecol Obstet.
2001; 75;193.
Clark SL. Placentae previa and abruptio
placentae. Dalam: Creasy RK, Resnik R,
eds. Maternal Fetal Medicine. Edisi ke5. Philadelphia: Wb Saunders; 2004.
hlm. 715.
DeCherney AH, Nathan L. Third
Trimester bleeding. Dalam: Current
obstetrics and gynecologic diagnosis
and treatment. New York: Mcgraw hill
Companies; 2003.
Vorvick L. Placenta previa. National
Library Medicine [internet]. 2011
[diakses tanggal 13 mei 2015]. Tersedia

J Medula Unila|Volume 4|Nomor 2|Desember 2015|169

Vira | Wanita Usia 36 Tahun, Hamil 35 Minggu dengan Plasenta Previa dan Janin Letak Lintang

dari:http://www.nlm.nih.gov/medlinepl
us/ency/article/000900.html
Rudra A, Chatterjee S, Sengupta S,
Wankhede R, Nandi B, Maitra G, et al.
Management
of
obstetric
hemmorrhage. Middle East J anesth.
2010; 20(4).
Ohio State University. Plasenta previa
[internet]. 2003 [diakses tanggal 12 Mei
2015]. Tersedia dari: http://
medicalcenter.osu.edu/patientEd/mate
rials/PDFDocs/womenin/pregnancy/placenta.pdf

21.

22.

J Medula Unila|Volume 4|Nomor 2|Desember 2015|170


23.

Hanafiah TM. Plasenta previa. Jurnal


USU [internet]. 2004 [diakses tanggal 12
Mei
2015].
Tersedia
dari:
http://www.library.usu.ac.id/download
/fk/obstetri-tmhanafiah2.pdf
Pryde PG, Besinger RE, Gianopoulos JG,
Mittendorf R. Adverse and beneficial
effects of tocolytic Therapy. Seminars in
Perinatology. 2001; 25:316-40.

24.