Anda di halaman 1dari 19

PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI

Rancangan Preformulasi Simvastatin Tablets (10mg)

Dosen Pengampu:
Ofa Suzanti Betha, M.Si. Apt.
Disusun oleh:
Laela wulandari

11141020000070

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
NOVEMBER/2016

I.

STUDI PRAFORMULASI ZAT AKTIF

Simvastatin
Sifat fisika
Pemerian: Serbuk kristal,
berwarna putih.
Kelarutan: tidak larut dalam air;
larut dalam kloroform 1:610;
larut dalam DMSO 1:540; larut
dalam metanol 1:200; larut
dalam etanol 1:160; larut dalam
propilen glikol 1:30.

Sifat kimia
Rumus kimia: C25H38O5
Berat molekul: 418.574 g/mol
Titik Leleh: 135-138C

Interaksi dan stabilitas kimia


Serbuk non-higroskopis. Berinteraksi dengan pct, kofein akan
menyebabkan konsentrasi pct meningkat didalam darah.
Farmakodinamik

Mekanisme aksi

Absorpsi

Distribusi Volume

Untuk mengobati hiperkolesterol


primer, menurunkan kolesterol
total dan LDL, serta plasma
trigliserid dan apolipoprotein B.
Simvastatin bekerja secara
kompetitif menghambat enzim
HMG-CoA reduktase sehingga
dapat mengurangi biosintesis
kolesterol di hati dan jumlah
kolesterol yang dapat diubah
menjadi VLDL.
Absorpsi simvastatin melalui
intravena memiliki persentase
85% dari rute oral (di uji pada
dua spesies hewan). Mengalami
metabolisme lintas pertama
yang ekstensif sehingga
bioavailibitasnya rendah.
Konsentrasi puncak plasma
terjadi pada 1.3-2.4 jam setelah
pemberian.
Simvastatin dapat melewati
sawar darah otak.

Ikatan protein
Metabolisme

Eliminasi

Waktu paruh
Toksisitas

II.

95% mengikat kuat dengan


protein plasma.
Dimetabolisme di hati oleh
enzim CYP34A menjadi hydroxyacid dan yang 6'hidroksi, 6'-hidroksimetil, dan
turunannya 6'-exomethylene.
13% disekresikan di urin dan
60% disekresikan di dalam
feses.
3 jam
Efek sampin yang paling umum
yaitu berhentinya efek terapi
termasuk gangguan
gastrointestinal (0.5%), myalgia
(0.1%) dan arthralgia (0.1%)

STUDI PRAFORMULASI EKSIPIEN


No.
Eksipien
Sifat Fisika
Lactosa
Pemerian: Serbuk
1
Monohidrat
berwarna putih
keabu-abuan, tidak
berbau dan sedikit
berasa manis.
Kelarutan: Praktis
tidak larut dalam
kloroform, etanol
dan eter.
Larut dalam air 1:
5.24, dalam air
40C 1: 3.05, dalam
air 50C 1: 2.30,
dalam air 60C 1:
1.71, dalam air
80C 1: 0.96.
2
Pati Pregelatinasi Pemerian: Serbuk
(Starch 1500)
agak kasar sampai
halus; serbuk
berwarna putih
sampai agak putih;

Sifat Kimia
Rumus kimia:
C12H22O11.H2O
Berat molekul:
360.31
Titik leleh:
201-202C
Densitas:
0.70 g/cm3

Rumus kimia:
(C9H10O5)n, n =
300-1000
Berat molekul:

tidak berbau;
memiliki rasa
lemah yang khas;
higroskopis.
Kelarutan:
Praktis tidak larut
dalam pelarut
organik; sedikit
larut atau larut
dalam air dingin,
tergantung derajat
pregelatinisasi
3

Butil
Anisol

Hidroksi Pemerian : Serbuk


kristal putih
kekuningan, bau
aromatik,
berbentuk padat
seperti lilin.
Kelarutan: Tidak
larut dalam air,
mudah larut dalam
alkohol dan
propilen glikol
Asam Askorbat
Pemerian: Serbuk
kristal berwarna
putih kekuningan,
tidak higroskopis,
tidak berbau,
memiliki rasa
asam.
Kelarutan: Praktis
tidak larut dalam
kloroform, eter dan
fixed oil.
Larut dalam etanol
1:50.
Larut dalam etanol
(95%) 1:25
Larut dalam
gliserin 1:1000

Rumus kimia:
C11H16O2
Berat molekul:
180.25
TD: 264C ;
TL:47C

Rumus molekul:
C6H8O6
Berat molekul:
176.13
Titik Leleh:
190C
Keasaman:
Ph 2.1-2.6 (5%
w/v dalam
larutan)

Asam Sitrat

Selulosa
Mikrokristal
(Avicel PH 102)

Magnesium
Stearat

Larut dalam
propilen glikol 1:20
Larut dalam air
1:3.5
Pemerian: Kristal
berwara putih,
tidak berbau dan
memiliki rasa
asam.
Kelarutan:
Kelarutan dalam air
: 207,7 gr/100 ml
(25C), sangat larut
didalam etanol,
larut dalam eter
dan etil asetat,
tidak larut dalam
benzen dan
kloroform.
Pemerian:
berwarna putih,
tidak berbau, tidak
berasa
Kelarutan: Sedikit
larut dalam 5% w/v
larutan NaOH,
praktis tidak larut
dalam air dan
pelarut organic
Penyimpanan:
stabil walaupun
merupakan bersifat
higroskopis,
disimpan dalam
wadah tertutup
ditempat yang
sejuk dan kering
Pemerian: serbuk
putih, memiliki bau
lemah asam
stearat dan rasa

Rumus kimia:
C6H8O7
Berat molekul:
192
TL: 153C dan TD:
175C.
Densitas:
0.70 g/cm3

Rumus Kimia:
(C6H10O5)220
Berat Molekul:
36000
Densitas: 1.420
1.460 g/cm3
Titik Leleh: 260
270OC

Rumus Kimia:
[CH3(CH2)16COO]2
Mg
Berat Molekul:

10

yang khas, serbuk


berminyak dan
mudah lengket jika
disentuh
Kelarutan: praktis
tidak larut dalam
etanol 95%, eter
dan air. Sedikit
larut dalam
benzene hangat
dan etanol hangat
Penyimpanan:
disimpan dalam
wadah tertutup
ditempat yang
sejuk dan kering
Silikon
Dioksida Pemerian: serbuk
Koloid
(Aerosil hablur, berwarna
200)
putih kebiruan,
tidak berbau, tidak
berasa dan
berbentuk amorf
Kelarutan: Praktis
tidak larut dalam
pelarut organik, air
dan asam
Penyimpanan:
wadah tertutup
rapat
Aquades
Kelarutan: larut
dengan pelarut
paling polar
Penyimpanan:
harus disimpan
dalam wadah yang
pantas bergantung
dari tujuannya
Etanol
Kelarutan: Larut
dengan kloroform,
eter, gliserin, dan
air (dengan

591.24
Densitas: 1.092
g/cm3
Jarak Leleh: 117
150OC

Rumus Kimia:
SiO2
Berat Molekul:
60.08
Densitas: 0.029
0.042 g/cm3
Titik Leleh:
1600OC

Rumus Kimia: H2O


Berat Molekul:
18.02
Titik Didih: 100OC
Titik Leleh: 0OC

Rumus Kimia:
C2H6O
Berat Molekul:
46.07

meningkatkan
suhu)
Penyimpanan:
ditempat kedap
udara dan sejuk

Densitas: 0.029
0.042 g/cm3
Titik Didih:
78.15OC

II.2 Fungsi Eksipien Dalam Formula


No.
Eksipien
1
Lactosa Monohidrat

3
4
5
6
7
8
9
10

Fungsi
Pengikat dalam tablet,
diluent dalam tablet,
dan pengisi dalam
tablet.
Pati Pregelatinasi (Starch 1500)
Pengisi tablet (5-75%);
pengikat tablet (untuk
kempa langsung 5-20%
atau untuk granulasi
basah 5-10%) ;
penghancur tablet (510%)
Butil Hidroksi Anisol
Antioksidan
Asam Askorbat
Antioksidan
Asam Sitrat
Disintegran
Selulosa Mikrokristal (Avicel PH Diluen, Lubrikan dan
102)
Disintegran
Magnesium Stearat
Lubrikan
Silikon Dioksida Koloid (Aerosil Glidan dan Disintegran
200)
Aquades
Pelarut
Etanol
Pelarut

II.3 Stabilitas Kimia Eksipien


No.
Eksipien
1
Lactosa Monohidrat

Stabilitas Kimia
Reaksi antara laktosa
dengan golongan amin
dapat menghasilkan
warna coklat
kekuningan. Dalam
penyimpanan yang
dalam juga dapat
merubah laktosa
berwarna coklat
kekuningan (dipercepat

6
7

dengan proses
pemanasan dan kondisi
lembab). Laktosa
inkompatibel dengan
asam amino,
amfetamine dan
lisinopril.
Pati Pregelatinasi (Starch 1500)
Stabil tapi higroskopis.
Harus disimpan dalam
wadah tertutup baik
pada tempat sejuk dan
kering.
Butil Hidroksi Anisol
Inkompatibel dengan
golongan fenol, agen
pengoksidasi, garam
besi,
Asam Askorbat
Inkompatibel dengan
basa, ion metal
(tembaga dan besi),
senyawa reduktor,
methamine,
phenylphrine
hidrocloride, sodium
nitrit, sodium salisilat.
Asam Sitrat
Inkompatibel dengan
potassium tartrate,
alkali, carbonat,
bicarbonat, acetat ,
sulfida dan nitrat.
Selulosa Mikrokristal (Avicel PH Inkompatibel dengan
102)
agen oksidator kuat
Magnesium Stearat
Inkompatibel dengan
asam kuat, alkali dan
garam ion. Hindari
pencampuran dengan
oksidator kuat, tidak
boleh digunakan dalam
produk yang
mengandung aspirin,
beberapa vitamin, dan
sebagian besar garam

8
9

10

III.

alkaloid
Silikon Dioksida Koloid (Aerosil Inkompatibel dengan
200)
preparasi dietilstilbestrol
Aquades
Dapat bereaksi dengan
zat aktif / eksipien yang
mudah terhidrolisis,
dapat bereaksi hebat
logam alkali dan
oksidanya, dapat juga
bereaksi dengan garam
anhidrat dan kalsium
karbida
Etanol
Dalam keadaan asam,
etanol dapat bereaksi
hebat dengan zat
oksidator. Juga
inkompatibel dengan
wadah aluminum dan
dapat berinteraksi
dengan obat.

PENIMBANGAN BAHAN
Formula (sumber: Handbook Of Pharmaceutical Manufacturing
Formulatin Second Edition)

*Penimbangan bahan untuk pembuatan 1000 tablet jika


rendemen hasil adalah 75%.

Maka untuk membuat minimal 1000 tablet formula harus


dilebihkan sebanyak 40%. Dengan tablet yang akan dihasilkan
sebanyak 1400 tablet.
1) Laktosa monohydrat
= (40% X 10) +10 mg = 14mg x 1000 = 14 gram
2) Starch 1500
= (40% X 15) +15 mg = 21mg x 1000 = 21 gram
3) BHA
= (40% X 0.02) +0.02 mg = 0.028mg x 1000 = 0.028 gram
4) Asam askorbat
= (40% X 2.5) + 2.5mg = 3.5mg x 1000 = 3.5 gram
5) Asam sitrat
= (40% X 1.25) + 1.25mg = 1.75 mg x 1000 = 1.75 gram
6) Avicel PH 102
= (40% X 15) + 15mg = 21 mg x 1000 = 21gram
7) Magnesium stearat
= (40% X 0.6)+ 0.6mg = 0.84 mg x 1000 = 0.84 gram
8) Aerosil 200
= (40% X 0.3)+ 0.3 mg = 0.42 mg x 1000 = 0.42 gram.
9) Aquades
= 24 gram (untuk 1000 tablet)
(40% x 24 gram) + 24gram= 33.6 gram
10)
Alkohol absolut
= 10 gram (untuk 1000 tablet)
(40% x 10 gram) + 10 gram= 14 gram
IV.
CARA DAN PROSES PEMBUATAN
*Hindari terlalu lama dalam mencampur karena dapat mengurangi
kekerasan tablet.
Penyiapan larutan granulasi
1) BHA dimasukan kedalam alkohol absolut lalu dicampur
dengan pengadukan perlahan (M1)
2) Asam askorbat dan asam sitrat dilarutkan kedalam aquades
dengan bantuan magnetik stirer (M2)
3) M1 dan M2 dicampurkan (M3)
Pencampuran serbuk kering.
Simvastatin, laktosa monohidrat dan starch 1500 diayak
dengan ayakan berukuran 500 um. Kemudian, dicampur
dengan mixer berkecepatan rendah selama 3 menit.
Pengadonan.
1) Larutan pengikat (M3) 25-31 g/min ditambahkan ke dalam
campuran serbuk sambil dimixer dengan kecepatan rendah.

2)

1)
2)
3)

1)

2)

V.

Setelah penambahan selesai lalu adonan dicampur


menggunakan mixer dan pemotong(chopper) dengan
kecepatan rendah. (Titik akhir pembentukan granul ditandai
dengan tidak adanya granul-granul besar pada adonan).
Jika dibutuhkan, dapat pula ditambahkan aquades (catat
aquades yang dipakai). Granul-granul diletakan diatas
nampan stainless steel.
Pengeringan.
Granul dikeringkan di dalam oven dengan suhu 55'C selama 6
jam. Setelah 3 jam, nampan di gerak-gerakan agar granulgranul dapat kering dengan merata.
Kemudian dicek LOD (Lost Of Drying)/kadar kelembaban
granul dengan nilai 1.0%-1.5%.
Jika tidak memenuhi nilai 1.0-1.5% maka dilakukan
pengeringan kembali dengan cara yang sama selama 1 jam.
Pengayakan
Granul diayak melewati ayakan 1.25 mm yang selanjutnya
ditampung dalam wada polietilen.
Pelumasan (lubrication).
Avicel PH 102 dan Aerosil 200 diayak melewati ayakan 500
um. Kemudian hasil ayakan dimasukan ke dalam wadah
polietilen yang berisi granul. Campurkan keduanya dengan
cara diguncangkan.
Magnesium stearat kemudian diayak melewati ayakan 500
um lalu ditambahkan Asam sitrat ke dalamnya lalu
dicampurkan ke dalam wadah berisi granul selama 1 menit 45
detik.
Pengempaan (Compression).
Granul dikompresi menggunakan mesin pengempa tablet
(ukuran 8.5mm x 5mm; tablet dikompresi dengan ukuran
100mg pertablet.
Pelapisan (Coating)
Tablet kemudian dilapisi dengan penyalut HPMC.

PEMBAHASAN PROSES PEMBUATAN


Penyiapan campuran granulasi: pada tahap ini diawali dengan
melarutkan BHA kedalam alkohol absolut (etanol) dengan
pengadukan perlahan,alkohol digunakan karena BHA bersifat
mudah larut dalam alkohol. Dalam wadah lain asam askorbat dan
asam sitrat dilarutkan dalam aquades dengan bantuan magnetik
stirer, dimana keduanya mudah larut dalam air, sedangkan
penggunaan magnetik stirer untuk membantu menghomogenkan
larutan. Kedua larutan lalu dicampurkan.

Pencampuran serbuk kering: simvastatin, laktosa dan starch


diayak dengan ayakan ukuran 500 um lalu dicampurkan dengan
mixer berkecepatan rendah selama 3 menit. Pengayakan dilakukan
untuk menghomogenkan ukuran ketiga bahan agar saat proses
pembentukan granul, granul yang terbentuk memiliki ukuran yang
seragam.
Pembuatan granul: Larutan pengikat (BHA & alkohol dan asam
askorbat, asam sitrat dan aquades) ditambahkan dengan cara
disemprot perlahan-lahan ke dalam campuran serbuk (simvastatin,
laktosa dan starch) sambil diaduk dengan mixer. Penyemprotan
pada tahap ini berfungsi agar larutan pengikat dapat tersebar
dengan merata sehingga tidak akan terbentuk granul-granul besar.
Pengeringan: Granul dikeringkan didalam oven dengan suhu
55'C selama 6 jam. Pemanasan ini berfungsi untuk mengurangi
kandungan air dalam granul karena jika granul mengandung air
diatas 1.5% maka tablet yang dihasilkan akan menjadi rapuh.
Granul yang udah dikeringkan lalu diayak dengan ukuran 1.25mm,
pengayakan dilakukan untuk menghomogenkan ukuran granul. Jika
ukuran granul tidak homogen maka akan mengurangi dosis pada
tablet yang dihasilkan.
Penambahan fasa luar: Avicel,aerosil,mg stearat dan asam
sitrat diayak
dengan ayakan ukuran 500um, kemudian avicel dan aerosil
dimasukan ke dalam wadah yang berisi granul. Pengayakan
dilakukan untuk menghomogenkan ukuran keempat bahan.
Kemudian mg stearat dan asam sitrat dimasukan ke dalam wadah
berisi granul. Pada tahap ini keempat bahan dicampurkan ke dalam
granul untuk membentuk fasa luar granul. Pengempaan: Granul
kemudian dikompresi dengan mesin pengempa tablet, tablet
dikompresi dengan ukuran 100mg pertablet. Lalu tablet disalut
dengan hpmc. Penyalutan ini dilakukan karena komposisi zat aktif
yang hanya mengandung 9.9% dari total bobot sedian. Berdasarkan
farmakope zat aktif yang mengandung <50% bobot sedian maka
perlu dilukan penyalutan untuk menghindari terdegradasinya zat
aktif sebelum sampai pada organ target. Sehingga zat aktif dapat
mengenai targetnya dengan maksimal.
VI.

EVALUASI GRANUL DAN TABLET


1. Evaluasi granul
a) Uji LOD
Granul yang telah kering diletakkan pada wadah alat uji LOD
sebanyak 10 gram, granul diratakan pada tempat LOD, alat

ditutup dan kemudian tekan tombol start hingga muncul tanda


rest over. Lalu dilihat nilai persennya. Persen yang baik yaitu
memenuhi rentang 1.0-1.5%.
b) Uji daya alir granul
Granul ditimbang sebanyak 15 gram. Disiapkan alat untuk
menentukan kecepatan alir serbuk dan sudut istirahat,
pastikan bagian bawah alat (berupa corong) telah tertutup
rapat. Di bawah alat diberi alas berupa kertas untuk membuat
plot diameter yang berbentuk. Kemudian granul yang akan
diuji dimasukkan ke dalam wadah berbentuk corong dan dibuka
penutupnya. Stopwatch dinyalakan bersamaan dengan
dibukanya penutup corong. Setelah granul telah mengalir
semua, diukur tinggi dan diameter tumpukan granul yang
dihasilkan. Hasil waktu dicatat.
c) Uji Kompresibilitas Granul
Granul ditimbang sebanyak 15 gram, kemudian dimasukkan
pada gelas ukur penampung massa cetak. Dan dicatat volume
awalnya. Kemudian tombol on pada alat ditekan, sehingga
menghasilkan beberapa ketukan, dan alat dinyalakn selama 5
menit. Lalu dicatat kembali volume akhirnya dan hitung %
kompresibilitas.
d) Bobot jenis
Bobot jenis sejati
BJ sejati dapat dilakukan dengan menggunakan alat
piknometer, yaitu dengan cara ditimbang bobot piknometer
kosong, masukka 1 gram granul pada piknometer yang telah
ditimbang tadi, kemudian masukkan 1 gram granul dan cairan
pendispersi pada piknometer yang kedua, dan berikutnya
masukkan cairan pendispersi pada piknometer ketiga, catat
hasil yang diperoleh kedalam rumus sebagai berikut :
Bj = (B a) x Bj cairan pendispersi
(B+d)(a+c)
a = Bobot piknometer kosong
B = Bobot piknometer 1 gram granul
c = Bobot piknometer 1 gram granul dan cairan pendispersi
d = Bobot piknometer cairan pendispersi.
Bobot jenis nyata
BJ nyata dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu gelas
ukur, dengan cara ditimbang bobot granul, misalnya 50 gram
dimasukkan kedalam gelas ukur. Kemudian dimasukkan
kedalam rumus sebagai berikut :
P= W
V

W = Bobot granul setelah ditimbang


V = Volume granul tanpa pemampatan
Bobot jenis nyata setelah pemampatan
BJ mampat dapat dilakukan dengan alat gelas ukur, dengan
cara ditimbang bobot ganul yang akan dilakukan evaluasi,
kemudian dimasukkan kedalam gelas ukur, dan lihat volume
granul setelah dilakukan 500 kali katuk pada gelas ukur
tersebut. Dengan rumus sebagai berikut :
Pn = W/Vn
W = Bobot granul setelah ditimbang
Vn = Bobot granul setelah dilakukan pemampatan
e) Distribusi ukuran partikel
Masukan sejumlah 100 gr granul diletakkan di atas ayakan
yang telah tersusun dan ditara.
Mulai dari ayakan mesh 20 sampai ayakan mesh 100 pada
alat sieve shaker.
Setelah pengujian selesai, masing-masing ayakan
ditimbang kembali dan dihitung distribusi granul pada
tiap-tiap ayakan (%).
f) Uji kadar kelembaban
Timbang seksama 5 gr granul
Granul dipanaskan didalam lemari pengering (105C)
selama 2 jam sampai bobot konstan.
Kemudian dimasukan ke dalam rumus:
= Wo-W1/Wo X 100
Wo: Bobot granul awal
W1: Bobot setelah pengeringan
Persyaratan yang harus dipenuhi dari kadar air suatu granul
yaitu 2-4%
1. Uji Sebelum Pencetakan Kaplet
a) Kerapatan (Densitas)
Bobot per satuan volume dari partikel padat dinyatakan
sebagai kerapatan sejati . Kebanyakan serbuk dalam
farmasetik berukuran kecil dan jika ditempatkan memenuhi 1
cc pada gelas ukur maka diperoleh kerapatan sebenarnya. Jika
serbuk tersebut dimampatkan hingga memadat, akan
didapatkan volume yang lebih kecil; kerapatannya dihitung
dari volume terkecil tersebut dan disebut kerapatan mampat.
Partikulat dapat berupa keadaan yang keras, lembut atau
keadaan yang berpori. Kesukaran akan timbul jika dilakukan
percobaan
untuk
memeriksa
volume
partikel
yang

mengandung retakan-retakan halus, pori internal dan rongga


kapiler. Kerapatan curah merupakan massa serbuk dibagi
dengan volume ruah.
Kerapatan mampatkerapatanl o nggar
Kompresibilitas (%) =
Kerapatan mampat
x 100%
b) Laju Alir
Suatu serbuk yang melalui lubang kecil, akan terlihat
dua kemungkinan jenis alir yang berbeda bentuk sifat alirnya
yaitu: jenis alir bebas atau jenis lengket (sticky ; kohesif). Jenis
alir bebas memungkinkan serbuk dapat mengalir dengan baik
dan kontinyu, sedangkan jenis kohesif mengalami kesukaran
untuk mengalir.
Sifat alir serbuk tersebut dipengaruhi oleh ukuran
partikel; bentuk; porositas dan kerapatan dan susunan
(tekstur) permukaan.
Sudut istirahat adalah sudut yang terbentuk antara lereng
suatu timbunan serbuk dengan bidang horizontal. Sudut
istirahat dipengaruhi fraksi antar partikel-partikel. Makin kasar
dan tidak beraturan permukaan partikel, akan semakin besar
sudut istirahatnya. Umumnya serbuk mempunyai sudut
istirahat sekitar 34o sampai 48o. Serbuk yang lebih mudah
mengalir mempunyai sudut istirahat yang kecil.
2. Uji Setelah Pencetakan Kaplet
a) Keseragaman Ukuran dan Bobot
Uji Keseragaman Ukuran
Panjang, lenat dan tinggi kaplet diukur masing-masing
(pada pengujian kali ini dilakukan terhadap dua puluh
kaplet) dengan menggunakan alat jangka sorong untuk
mengukurnya (Departemen Kesehatan RI, 1995).
Uji Keseragaman Bobot
Ditimbang dua puluh kaplet, dihitung berat rata-rata tiap
kaplet, kemudian kaplet-kaplet tersebut ditimbang satu
persatu. Tidak boleh lebih dari dua kaplet yang masingmasing beratnya menyimpang dari berat rata-ratanya
lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A dan
tidak boleh satu kapletpun yang beratnya menyimpang
dari berat rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan
pada kolom B pada Tabel 3.5 (Departemen Kesehatan RI,
1979).
b) Uji Kekerasan

Kaplet harus mempunyai kekuatan dan kekerasan tertentu


serta dapat bertahan dari berbagai goncangan mekanik
pada saat pembuatan, pengepakan dan transportasi. Alat
yang biasa digunakan adalah hardness tester (Banker and
Anderson, 1984). Kekerasan adalah parameter yang
menggambarkan ketahanan kaplet dalam melawan
tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan dan terjadi
keretakan kaplet selama pembungkusan, pengangkutan
dan pemakaian. Kekerasan ini dipakai sebagai ukuran dari
tekanan pengempaan (Parrott, 1971).
c) Waktu Hancur
Waktu hancur kaplet berkaitan dengan daya hancur yang
sangat penting untuk kaplet yang mengandung bahan
obat (seperti antasida dan diare) yang tidak dimaksudkan
untuk diabsorpsi tetapi lebih banyak bekerja setempat
dalam saluran cerna. Dalam hal ini, daya hancur kaplet
memungkinkan partikel obat menjadi lebih luas untuk
bekerja secara lokal dalam tubuh (Ansel, 1989).
d) Friabilitas
Uji friabilitas menentukan kecenderungan kaplet untuk
pecah atau kehilangan berat. Pengukuran dilakukan
dengan cara menghitung kehilangan berat kaplet sebelum
dan sesudah pengujian. Ketahanan terhadap kehilangan
berat menunjukkan kaplet tersebut bertahan terhadap
goresan ringan atau benturan yang terjadi selama
penanganan, pengemasan, dan pengiriman (Ansel, 1989).
Kaplet ditimbang sebanyak kurang lebih enam koma lima
gram, kemudian dimasukkan ke dalam alat penguji
keregasan kaplet. Alat dijalankan selama empat menit
dengan kecepatan putaran dua puluh lima putaran per
menit. Tablet yang masih utuh ditimbang, kemudian
dihitung kehilangan bobotnya. Kehilangan bobot yang
masih diperbolehkan tidak lebih dari 0,8%.
W 1 W 2
Friabilitas Kaplet =
x 100%
W1
Keterangan:
W1 = Berat Awal
W2 = Berat Akhir (Ansel, 1989).
VII.

DESAIN BROSUR DAN ETIKET


Etiket

Komposisi:
Tiap tablet salut mengandung:
Simvastatin............................10mg
Farmakologi:
Menghambat enzim pembentuk kolesterol sehingga kadar
kolesterol dalam darah berkurang.
Indikasi:
Brosur

Mengurangi kadar kolesterol dan LDL pada pasien


hipokolesterolemia.
Kontraindikasi:
Hipersensitif, penyakit hati aktif, wanita hamil dan
menyusui.
Aturan pakai:
10 mg satu kali sehari (pada sore/malam hari)
Dosis maksimal 40 mg satu kali sehari (pada sore/malam
hari)
Efek samping:
Abdo inal pain, konstipasi, flatulens, asthenia, sakit
kepala, miopati dan repdomiolisis.
Interaksi obat:
Resiko miopati meningkat dengan obat imunosupresif,
niasin dan fibrat. Penigkatan efek antikoagulan warfarin.
Peringatan dan perhatian:
Monitor fungsi hati dan miopati secara teratur.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Ansel,H.C., (1989). Pengatar Bentuk sediaan Farmasi. Edisi 4. UI
Press. Jakarta.
Banker, G. S. Dan Anderson, N. R., 1986, Tablet,
Dalam Lachman, L., Lieberman, H. A., Kanig, J. L. (Eds), Teori dan
Praktek Farmasi Industri, Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, UIPress, Jakarta.
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. 1979.
Farmakope Indonesia. Ed. III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. 1995.
Farmakope Indonesia. Ed. IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Kibbe, A.H. 2000. Handbook of pharmaceutical exipients. Ed.
III. American Pharmaceutical Association and Pharmaceutical Press.
United States of America.
Niazi, S.K. (2009). Handbook of Pharmaceutical Manufacturing
Formulations: Compressed Solid Products 2nd Edition Volume 1.
New York : Informa Healthcare USA, Inc. Hal. 585
Parrott, E.L. (1971). Pharmaceutical Technology Fundamental
Pharmaceutics. Mineapolis: Burgess Publishing Company.