Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil) Bimoli
Bimoli adalah merek minyak goreng yang diproduksi oleh PT Salim Ivomas
Pratama di Indonesia. Saat ini merek Bimoli dimiliki oleh Indofood. Terbuat dari biji
kelapa sawit pilihan yang proses produksinya disempurnakan dengan tahap
Pemurnian Multi Proses (PMP). Melalui enam tahap pemrosesan, PMP dapat
mempertahankan secara optimum zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan, terutama
Omega 9. Berperan dapat menurunkan kolesterol LDL dan menaikkan kolesterol
HDL. Diproses secara higienis dan bebasmkolesterol, di bawah pengawasan ketat
sesuai standar international. Bimoli dibuat dari 100% minyak sawit sehingga
menghasilkan kualitas tinggi dan merupakan sumber beta-karoten (pro-vitamin A)
tinggi serta vitamin E. Golden Refinery ini yang menghasilkan minyak dengan kilau
keemasan khas Bimoli (Mada, 2013).
2.2 Sabun
Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan
membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang
karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas,
terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air
bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air
bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai
alat bantu mencuci atau membersihkan (Naomi, dkk., 2013).
2.2.1 Sifat sifat sabun
Sifat sifat sabun yaitu :
a. Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku
tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan
sabun dalam air bersifat basa.
CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + NaOH
b. Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air
diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi
3

pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah
garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2
c. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses
kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk
mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun
mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai
rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat
hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organik sedangkan
COONa sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut
dalam air.
(Naomi, dkk., 2013)
2.2.2

Komposisi Sabun
Formulasi atau komposisi dari sabun adalah sebagai berikut :
a. Lemak dan minyak, merupakan bahan dasar dalam pembuatan sabun,
dimana asam lemak yang bereaksi dengan basa akan menghasilkan
gliserin dan sabun, yang dikenal dengan proses saponifikasi. Lemak
yang digunakan dalam pembuatan sabun adalah tallow, sedangkan
minyak yang digunakan dalam pembuatan sabun adalah coconut oil,
palm kernel oil, dan palm stearin.
b. Basa, peran dari basa adalah sebagai agen pereaksi dengan fase minyak
sehingga akan terjadi proses saponifikasi. Dengan adanya reaksi antara
fase minyak dan basa, maka akan terbentuk gliserol dan sabun, yang
berupa garam dan natrium.
c. Bahan aditif atau bahan tambahan, berguna untuk meningkatkan minat
konsumen terhadap produk sabun. Bahan tambahan yang biasa
digunakan dalam formulasi sabun adalah fragrance, pengawet,
kondisioner kulit dan surfaktan sintetik.
(Setyoningrum, 2010)

2.3 Reaksi Penyabunan


Proses pembentukan sabun dikenal sebagai reaksi penyabunan atau saponifikasi,
yaitu reaksi antara lemak/gliserida dengan basa.
O
H2C O C R1
O

O
HC O C R2 + NaOH/
KOH
O

KO/NaO

H2C - OH
R +

HC - OH
H2C - OH

H2C O C R3
Lemak/Minyak

Basa

Sabun

Gliserol

Gambar 2.1 Reaksi Saponifikasi


(Perdana dan Ibnu, 2009)
Saponifikasi merupakan proses hidrolisis basa terhadap lemak dan minyak, dan
reaksi saponifikasi bukan merupakan reaksi kesetimbangan. Hasil mula-mula dari
penyabunan adalah karboksilat karena campurannya bersifat basa. Setelah campuran
diasamkan, karboksilat berubah menjadi asam karboksilat (Naomi, dkk., 2013).
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Penyabunan
Reaksi penyabunan merupakan reaksi eksotermis sehingga harus diperhatikan
pada saat penambahan minyak dan alkali agar tidak terjadi panas yang berlebihan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi penyabunan, antara lain :
a. Konsentrasi larutan KOH atau NaOH
Konsentrasi basa yang digunakan dihitung berdasarkan stokiometri reaksinya,
dimana penambahan basa harus sedikit berlebih dari minyak agar tersabunnya
sempurna. Jika basa yang digunakan terlalu pekat akan menyebabkan
terpecahnya emulsi pada larutan sehingga fasenya tidak homogen, sedangkan jika

basa yang digunakan terlalu encer, maka reaksi akan membutuhkan waktu yang
lebih lama.

b. Suhu (T)
Ditinjau dari segi termodinamikanya, kenaikan suhu akan menurunkan hasil,
hal ini dapat dilihat dari persamaan Van`t Hoff :
d ln K H

dT
RT

Karena reaksi penyabunan merupakan reaksi eksotermis (H negatif), maka


dengan kenaikan suhu akan

dapat memperkecil

harga K

(konstanta

keseimbangan), tetapi jika ditinjau dari segi kinetiknya, kenaikan suhu akan
menaikan kecepatan reaksi.
c. Pengadukan
Pengadukan dilakukan untuk memperbesar probabilitas tumbukan molekulmolekul reaktan yang bereaksi. Jika tumbukan antar molekul reaktan semakin
besar, maka kemungkinan terjadinya reaksi semakin besar dan sebaliknya.
d. Waktu
Semakin lama waktu reaksi menyebabkan semakin banyak pula minyak yang
dapat tersabunkan, berarti hasil yang didapat juga semakin tinggi, tetapi jika
reaksi telah mencapai kondisi setimbangnya, penambahan waktu tidak akan
meningkatkan jumlah minyak yang tersabunkan.
(Perdana dan Ibnu, 2009)