Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENATARAN CALON ASISTEN

PRAKTIKUM FISIKA DASAR


MODUL I
ALAT UKUR LISTRIK dan HAMBATAN

Ditujukan sebagai penilaian untuk mengikuti penataran calon asisten praktikum fisika
dasar Institut Teknologi dan Sains Bandung

Disusun oleh
Nama

: Supianudin

NIM

: 124.12.032

Program Studi

: Teknik Perminyakan

FAKULTAS TEKNIK dan DESAIN


INSTITUT TEKNOLOGI dan SAINS BANDUNG
Tahun 2013/2014

Modul 1
Alat Ukur Listrik dan Hambatan

I.

Tujuan Percobaan
Melalui pelaksanaan modul percobaan ini diharapkan mahasiswa:
1. Memahami sifat arus listrik dalam rangkaian
2. Memahami perilaku komponen listrik dalam rangkaian
3. Mampu menggunakan alat ukur listrik dan mengubah batas ukurnya

II.

Alat-alat yang digunakan


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

III.

Sumber potensial (DC Power Supply)


Kabel-kabel penghubung
Voltmeter
Amperemeter
Hambatan (Resistror)
Kapasitor
Bangku Hambatan
Dioda

Dasar Teori
III.1
Arus dan Potensial Listrik
Pada muatan listrik, pada hal ini adalah elektron, mengalir dalam
rangkaian karena adanya beda potensial diantara dua titik dalam rangakain
yang bersangkutan. Aliran listrik dalam rangkain disebut sebagai arus listrik.
Besarnya arus listrik (i) didefinisikan sebagai jumlah muatan yang
melewati suatu penampang kawat persatuan waktu, dengan saatuan Ampere
[A]. Perumusan arus listrik pada suatu tempat adalah :
q
i=
[ A]
t
tepatnya dapat dinyatakan :
i(t)=

q
t

Karena satuan banyaknya muatan listrik [q] adlah Coulomb [C], maka:
C
1
1A= det . Dengan sifat arus yang demikian, maka pengukuran arus
dilakukan dengan menempatkan aperemeter pada titik dalam jalur rangkain
tersebut, secara deret (seri).
Beda potensial dinyatakan dalam satuan Volt [V], dan besarnya arus
seabanding dengan beda potensial: maka berlaku : V= i.R

Dengan R adalah nilai hambatan, dan dianggap sebagai suatu


komponen listrik yang disebut sebagai resistor.
Pengukuran nilai potensial suatu titik senantiasa dilakukan dengan
membandingkan terhadap nilai potensial suatu titik tertentu; oleh karena itu
dinyatakan sebagai beda potensial antara kedua titik dalam rangkaian. Sering
dilakukan titik tertentu yang dipakai sebagai acuan adalah bumi, yaitu
menghubungkan titik tersebut dengan tanah (ground). Titik yang dihubungkan
dengan tanah sering disebut sebagai ground dan memiliki potensial sebesar nol
Volt.
III.2
Batas alat ukur listrik
Batas bawah daerah pengukuran merupakan nilai skala terkecil alat
ukur, yaitu kemampuan nilai terkecil yang dapat terukur dengan baik. Sebagai
contoh : misalkan amperemeter mempunyai nilai skala terkecil 1 ampere,
maka bila alat ini dipergunakan unutk mengukur arus 1 mA kesalahan
pengukuran menjadi sangat besar.
Di setiap alat ukur listrik, terdapat hambatan dengan nilai tertentu,
yang disebut sebagai hambatan dalam, (r D ) . Hambatan dalam inilah
yang menentukan batas ukur alat tersebut. Hambatan dalam voltmeter
dinyatakan sebagai hambatan yang terpasang pararel dengan bagian
pengukurnya; dan hambatan dalam amperemeter dinyatakan sebagai hambatan
yang terpasang deret (pararel) dengan bagian pengukurnya.
Apabila diinginkan batas ukur alat naik menjadi n kali batas ukur
semula maka masing-masing alat dapat dipakai perumusan untuk:
a. Voltmeter : R L=(n1)r D
b. Amperemeter :
IV.

R L=

1
r
n1 D

Metode Pengukuran dan Ketidakpastian


Mengetahui tingkat, nilai, atau harga suatu besaran fisika. Penentuan
secara intuitif (taksiran) dan penentuan dengan bantuan alat.
a. Pengukuran dan Ketidakpastian Digital Multimeter
Nilai skala terkecil pada Digital Multimeter dilihat pada satuan yang
ditunjukkan ketika aakan mengetahui besarnya tegangan yang dapat dibaca.
1 A = 1 Volt mA
20 mA = 0,01 mA
200 m = 0,1
10 mA = 0,01 mA
Angka tersebut diatas menunjukan nilai skala terkecil yang ditampilakan
pada digital multimeter, akan tetapi untuk menggunkan digital multimeter
harus menentukan dulu sekiranya berapa tengangan yang akan digunakan,

jikalau tengangannya 12 mA maka kita arahkan ke nilai skalanya 20 mA,


karena jika tidak maka akan menimbulkan kerusakan pada alat tersebut.

Pada tengangan arus DC juga tidak jauh berbeda


100 V = 1 volt
200 V = 0,1 volt
20 V = 0,01 volt
2000 V = 1 m
terbatasnya nilai skala terkecil jika dilihat pada digital multimeter, karena jika
semakin kearah yang terkecil maka ketelitiannya aakn semakin besar, jadi jangan
melihat nominal pada saat mengarahkan ke besarnya tegangan tapi perhatikan
satuannya, karena mempengaruhi terhadap ke nilai ketelitiannya.
Pada Hambatan, kemarin melihat nilai skala terkecilnya,
2000 k = 1 k
200 k = 0,1 k
20 k = 0,01 k
2000 k = 1
200 k = 0,1
b. Pengukuran dan Ketidakpastian Amperemeter Analog
Banyaknya garis yang ada akan mengetahui nilai satuan terkecilnya.
Contohnya jika 0,001 A = 1 mA = 1000 A, satuan dan koma dibagi banyaknya
garis yang menentukan ketelitiannya. Nominal 0A sampai 10A NST nya adalah
2A, sedangkan 10A samapi 100A NST nya adalah 1A.
c. Pengukuran dan Ketidakpastian Voltmeter Analog
Penggunaan pada voltmeter analog tidak jauh berbeda dengan amperemeter
analog, akan tetapi pada voltmeter analog terdapat dua nominal, nominal yang
diatas adalah pasti hasil dibagi dengan nominal yang ada.
Seperti pada contoh berikut, jika jarum mennjukan pada 20 V maka nilainya
yang harus kita pilih tegangannya adalah 10 volt.
yang dibaca
Nilainya=
x nilai max
skala max

Nilainya=

20
x 50=10 Volt
100

d. Pengukuran dan Ketidakpastian Jangka Sorong (Caliper)


Skala utama nilai satuan terkecilnya 0,1 cm. Jangka sorong terdapat 3 macam
satuan, diantaranya mm, cm, dan inchi. Terdapat angka taksiran, angka ketelitian dan
angka-angka nonius.

V.

Metode Percobaan Alat Ukur Listrik dan Hambatan

1. Membuat rangkaian gambar 1.14a, kemudian diukur tegangan dan arus yang terbaca
pada amperemeter serta voltmeter yang digunakan. Kemudian membuat pengamatan
untuk banyaknya harga arus dan tegangan dengan cara merubah bangku hambat
RH
RH
. Kemudian catat pula nilai
nya.
2. Kemudian membuat rangkaian gambar 1.14b, kemudian diukur tegangan dan arus
yang terbaca pada amperemeter serta voltmeter yang dipaka. Lalu membuat
pengamatan anda untuk banyaknya harga arus dan tegangan dengan cara mengubah
RH
RH
bangku hambat
. Jangan lupa mencatat pula nilai
nya.
3. Membuat rangakain gambar 1.15a seperti pada modul, kemudian mengukur tegangan
dan arus yang terbaca pada amperemeter serta volmeter yang kita gunakan. Kemudian
melakukan pengamatan untuk banyak harga arus dan tegangan dengan cara mengubah
RH
RH .
bangku hambat
. Kemudian mencatat nilai
4. Mengulangi percobaan pada V.3 dengan rangkaian pada gambar 1.15
5. Seperti rangakaian 1.15a dan gambar 1.15b di atas, tetapi hambatan

RL

diganti

dengan dioda (gambar 1.16). Kemudian mengulangi percobaan seperti butir V.3 dan
V.4 diatas.
6. Mengulangi percobaan pada butir V.6, tetapi sekarang arah komponen dioda dalam
rangakain tersebut dibalik, seperti yang ditunjukkan dalam gambar 1.17.
7. Mengulangi percobaan pada butir V.7, tetapi sekarang komponen dioda dalam
rangkaian tersebut diganti kapasitor, seperti yang ditunjukkan dalam gambar 1.18.
V

RL
B
E
(a)

(a)
V

V
A

RL

B
E
(b)

(b)

Untuk rangakaian yang keduanya adalah arah komponen diodanya dibalik dan untuk r
rangakain terakhirnya menggunkan dioda.

VI.

DATA PERCOBAAN
Dengan Power Supply DC (v) = 12 volt
1. Percobaan I (1.14a)
Data I
Power Supply DC (V)
= 12 volt
I (arus di amperemeter) = 0,12 A
R (resistor)
= 100
Arus di volmeter
= 27 v
Arus total
= 13,5 A
2. Percobaan II
Data II
Power Supply DC (V)
= 12 volt
I (arus di amperemeter) = 0,12 A
R (resistor)
= 470
Arus di volmeter
= 27 v
Arus total
= 13,5 A
3. Percobaan I (1.14b)
Data I
Power Supply DC (V)
= 5 mv
I (arus di amperemeter) = 0,12 A
R (resistor)
= 100
Arus di volmeter
= 100 mv
Arus total
= 0,12 A
4. Percobaan II
Data II
Power Supply DC (V)
= 2 mv
I (arus di amperemeter) = 0,13 A
R (resistor)
= 470
Arus di volmeter
= 100 mv
Arus total
= 13,5 A
Dengan Pengubahan besar resistror
5. Percobaan I (1.15a)

Data I
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
Arus total
6. Percobaan II
Data II
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
Arus total
7. Percobaan I (1.15b)
Data I
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
Arus total
8. Percobaan II
Data II
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
Arus total

= 12 volt
= 100
= 100
= 6,5 v
= 0,06 A
= 12 volt
= 100
= 470
=2v
= 0,03 A

= 12 volt
= 100
= 100
= 6,5 v
= 0,06 A
= 12 volt
= 100
= 470
= 2,5 v
= 0,03 A

Dengan batas ukur Amperemeter


9. Percobaan I (1.16a)
Data I
Power Supply DC (V)
= 12 volt
I (arus di amperemeter) = 0,12
R (resistor)
= 100
Arus di volmeter
=1v
10. Percobaan II
Data II
Power Supply DC (V)
= 12 volt
I (arus di amperemeter) = 0,03
R (resistor)
= 470
Arus di volmeter
=1v
11. Percobaan I (1.16b)
Data I
Power Supply DC (V)
= 12 volt
I (arus di amperemeter) = 0,12
R (resistor)
= 100
Arus di volmeter
=1v
12. Percobaan II

Data II
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter

= 12 volt
= 0,02
= 470
=1v

Dengan batas ukur Voltmeter


13. Percobaan I (1.17a)
Data I
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
14. Percobaan II
Data II
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
15. Percobaan I (1.17b)
Data I
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
16. Percobaan II
Data II
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter

= 12 volt
= 0,001 A
= 100
= 13,5
= 12 volt
= 0,001
= 470
= 13,5 v
= 12 volt
= 0,01 A
= 100
= 13,5
= 12 volt
= 0,01
= 470
= 13,5 v

Dengan perubahan dengan menggunakan dioda


17. Percobaan I (1.17a)
Data I
Power Supply DC (V)
= 12 volt
I (arus di amperemeter) = 0,06 A
R (resistor)
= 100
Arus di volmeter
=7v
Coulumb
= 220 F

18. Percobaan II
Data II
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
Coulumb
19. Percobaan I (1.17b)
Data I
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
Coulumb
20. Percobaan II
Data II
Power Supply DC (V)
I (arus di amperemeter)
R (resistor)
Arus di volmeter
Coulumb
VII.

= 12 volt
= 0,01 A
= 470
= 6,5 v
= 220 f
= 12 volt
= 0,06 A
= 100
=7v
= 220 F

= 12 volt
= 0,01 A
= 470
= 6,5 v
= 220 F

Pengolahan Data
1. Grafik antara tegangan dan arus dari hasil percobaan butir V.1 sampai dengan
butir V.8
1. Percobaan 1
Percobaan hubungan arus terhadap tegangan berdasarkan perubahan
resistor pada rangakain (a)
14
12
10
8
6

Linear ()

4
2
0
50 100 150 200 250 300 350 400 450 500

2. Percobaan 2
Percobaan hubungan arus terhadap tegangan berdasarkan perubahan
resistor pada rangakain (b)

14
12
10
8
6

Linear ()

4
2
0
50 100 150 200 250 300 350 400 450 500

Keterangan : dari diatas adalah dengan hambatan 100 dan 470, dengan
sumbu x adalah V di volmeter dan Y adalah A di amperemeter (mA)
3. Percobaan 3
Kurva tegangan terhadap arus berdasarakan perubahan hambatan duduk
pada rangakaian (c)
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
102

104

106

108

110

112

114

116

118

120

Keterangan : dari diatas adalah dengan hambatan 100 dan 470, dengan
sumbu x adalah V di volmeter dan Y adalah A di amperemeter (mA).
Titik pertama 103.19
Titik kedua 110,22
Titik ketiga 118,34
4. Percobaan 4
Kurva arus terhadap tegangan berdasarakan perubahan hambatan duduk
pada rangakaian (d)
1.5
1
0.5
0
100

105

110

115

120

125

Keterangan : dari diatas adalah dengan hambatan 100 dan 470,


dengan sumbu x adalah V di volmeter dan Y adalah A di amperemeter
(mA).
Titik pertama 102,56
Titik kedua 109,19
Titik ketiga 120,35
2. Nilai hambatan dalam aperemeter dan voltmeter

1
1
1 R +R
= + = A v
R p R A Rv R A R v

Rt=100
I tot =

R A Rv
R A + Rv

Vtot
=
Rtot

12
R R
27 + A v
RA + Rv

Vab = I. Rp
13,5/1000 = 12/27+ (Ra.Rv/Ra+Rv)
13,5/1000 = 12/ 27+Rp
1200Rp = 364,5 + 13,5 Rp
11986,5 Rp = 364,5
Rp = 32,88 m

I A=

V ab
Ra

0,12=

13,5
Ra

Ra=112,5 m
= 0,01125

1
1
1 R +R
= + = A v
R p R A Rv R A R v
32,88= 11,5 Rv/112,5+Rv
3699+32,88 Rv = 112,5 Rv
Rv = 32,58
= 0,3258
3. Nilai Hambatan komponen
1. Komponen Dioda
I = V/R = 12/6,511+Rl
Vab = I (Ra+Rl)

0,06= I (0,01125+ Rl)


I = 0,06/0,01125 + Rl
0,06/0,1125 + Rl = 12/6,511 + Rl
0,390 + 0,06 Rl = 0,135 + Rl
0,390 0135 = (12-0,06) Rl
Rl = 0,255/11,94 = 0,021
4. Komponen Kapasitor data ke 2
I in = I out
12/6,511+ Rl
Vab (Ra + Rl)
I = Vab/ Ra + Rl
0,220/0,1125+Rl = 12/6,511+Rl
1,432+ 0,220 Rl = 0,135 + Rl
1,297 = (12 0,220) Rl
1,297 Rl = 11,78
Rl = 1,297/11,78 = 0,110

VIII.

Analisis Data
Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan dengan pengamatan saat
praktikum, maka saat hambatan semakin besar maka tegangan yang diperoleh pun akan
semakin kecil. Saat penggunaan dioda arus yang masuk serta tegangan yang terbaca
pada volmeter mengalami fluktuasi antara pada tegangan tertinggi maupun saat tegangan
rendah.
Ditinjau dari pengolahan data dan perhitungan data, bisa dikatakan bahwa komponen
pengganti seperti dioda atau kapasitor mempunyai hambatan dalam yang berasal dari
komponen itu sendiri.

IX.

Kesimpulan
Sifat arus listrik dalam rangkain semakin besar, maka semakin kecil arus yang
mengalir pada rangkaian, dan ini berpengaruh saat pembagian tegangan anat rangkain.
Perilaku komponen listrik dalam rangkaian mempengaruhi saat mengalirkan tegangan
terhadap komponen yanag lainnya, dan bisa mengetahui dititk mana terjadinya fluktuasi
saat tegangan mengalir sidetiap momponen. Menggunakan alat ukur listrik dan
mengubah batas ukurnya adalah dengan merubah rangkain antar komponen, dan alat
ukur ini sebagai acuan berapa tegangan yang terbaca di alat ukur, akan tetapi adakalnya
alat ukur tidak tepat saat mengukur tegangan yang ada.

X.

DAFTAR PUSTAKA
1. Suparno Satira, Fisika Pembahasan Terpadu, Penerbit ITB, in press
2. William David Cooper, and Abert D Helfick, Electronic Instrumentation
and Measurement Techniques, Prentice-Hall Inc, New Yersey, 1987
3. C.S Rangan et coll, Instrumentation Devices and System, Mc Draw Hill
Publ, New Delhi, 1992
4. F.W. Sears, M. W. Zemasky, and H. D. Young, University Physics,
Addison-Wesley Publ. Co. 1987