Anda di halaman 1dari 18

I.

TUJUAN
- Mengukur konsentrasi obat dalam ekskresi urin dan mengetahui parameter-parameter
-

II.

lain yang dapat dihitung


Memahami cara mengukur konsentrasi obat dari sampel urin

DASAR TEORI
Farmakokinetik atau kinetika obat adalah nasib obat dalam tubuh atau efek tubuh
terhadap obat. Farmakokinetik mencakup 4 proses, yakni proses absorpsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi. Metabolisme atau biotransformasi, dan ekskresi bentuk utuh atau
bentuk aktif, merupakan proses eliminasi obat (Setiadi,2007).
Proses eksresi obat lewat ginjal meliputi filtrasi glomerulus, sekresi tubular aktif,
reabsorpsi tubular (Shargel, 2005).
1. filtrasi glomerulus adalah proses dimana sekitar 20% plasma yang masuk ke kapiler
glomerulus menembus kapiler untuk masuk ke ruang interstisium selanjutnya ke kapsula
bowman (Corwin,2000).
Plasma darah yang mengalir dalam filtrasi glomerulus akan ditekan pada glomerulus
sehingga menjadi urin primer ,suatu ultrafiltrat yang hampir bebas protein (Mutschler,1991).
Filtrasi glomerulus menghasilkan ultrafiltrat yang minus protein jadi semua obat bebas
akan keluar dalam ultrafiltrat sedangkan yang terikat protein tetap tinggal dalam darah
(Ganiswarna,2007).
Di glomerulus gaya utama yang mendorong filtrasi adalah tekanan kapiler. Di sebagian
besar kapiler lainnya tekanan ini rata-rata berukuran 18 mmHg, di glomerulus tekanan rerata
hampir mencapai 60 mmHg (Corwin,2000).
Sebagian besar gaya penggerak untuk filtrasi glomerulus adalah tekanan hidrostatik
dalam kapiler-kapiler glomerulus, ginjal menerima pasokan darah yang besar (kira-kira 25%
curah jantung melalui arteri ginjal dengan penurunan tekanan hidrostatik yang sangat kecil.
(Shargel, 2005).
Laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate,GFR) didefinisikan sebagai volume
filtrat yang masuk kedalam kapsula bowman per satuan waktu (Corwin,2000).
Laju filtrasi glomerulus (GFR) dapat diukur dengan menggunakan suatu obat yang
dieliminasi hanya dengan filtrasi (tidak direabsorpsi atau disekresi). Contohnya seperti inulin
dan kreatinin, dimana klirens inulin sama dengan laju filtrasi glomerulus 125-130 ml/menit
(Shargel, 2005).
2. Sekresi aktif dari dalam darah ke lumen tubulus proksimal terjadi melalui transporter
membran P-glikoprotein (P-gp) dan MRP (multidrug-resistance protein) yang terdapat di
membran sel epitel dengan selektivitas berbeda yakni MRP untuk anion organik dan

konyugat (mis penisilin, probenesid) dan P-gp untuk kation organik dan zat netral (mis.
Kuinidin, digoksin). Dengan demikian terjadi kompetisi antara asam-asam organik maupun
antara basa-basa organik untuk disekresi (Ganiswarna,2007).
Obat-obat yang umum digunakan untuk mengukur tubular aktif meliputi asam paminohipurat (PAH) dan iodopiraset (diodras).sekresi aktif untuk obat-obat ini sangat cepat
dan praktis semua obat yang dibawa ke ginjal dieliminasi dalam satu jalur , sehingga klirens
untuk obat-obat ini mencerminkan aliran plasma ginjal efektif yang bervariasi dari 425-650
ml/menit (Shargel, 2005).
3. Reabsorpsi tubular terjadi setelah obat difiltrasi melalui glomerulus dan dapat aktif atau pasif.
Jika suatu obat direabsorpsi sempurna (misal glukosa) maka harga klirens obat mendekati
nol. Untuk obat-obat yang direabsorpsi sebagian harga klirens akan menjadi lebih kecil
daripada GFR 125-130 ml/menit. Reabsorpsi obat-obat asam atau basa lemah dipengaruhi
oleh pH urin dan pKa obat (Shargel, 2005).
Reabsorpsi pasif terjadi di sepanjang tubulus untuk bentuk nonion obat yang larut
lemak ,oleh karena derajat ionisasi bergantung pada pH larutan maka hal ini dimanfaatkan
untuk mempercepat eksresi ginjal pada keracunan suatu obat asam atau obat basa .obat asam
yang relatif kuat (pKa2) dan obat basa yang relatif kuat (12, mis guanetidin) terionisasi
sempurna pada pH ekstrim urin akibat asidifikasi dan alkalinisasi paksa(4,5-7,5). Hanya obat
asam dengan pKa antara 3,0 dan 7,5 dan obat basa dengan pKa 6 dan 12 yang dapat
dipengaruhi oleh pH urin (Ganiswarna,2007).
Selain itu ada pula beberapa cara lain yaitu melalui kulit bersama keringat, paru-paru,
empedu, air susu, dan usus (Tjay dan Rahardja, 2007).
Proses pembentukan urin di dalam ginjal melalui tiga tahapan yaitu filtrasi
(penyaringan), reabsorpsi (penyerapan kembali), dan augmentasi (penambahan) (Budiyanto,
2013).
Urine memiliki komponen organic dan anorganik. Urea, asam urat dan kreatinin
merupakan beberapa komponen organic dari urine. Ion-ion seperti Na, K, Ca serta anion Cl
merupakan komponen anorganik dari urine. Warna kuning pada urine, disebabkan oleh
urokrom, yaitu family zat empedu, yang terbentuk dari pemecahan hemoglobin. Bila
dibiarkan dalam udara terbuka, urokrom dapat teroksidasi, sehingga urine menjadi berwarna
kuning tua. Pergeseran konsentrasi komponen-komponen fisiologik urine dan munculnya
komponen-komponen urine yang patologik dapat membantu diagnose penyakit (Jan
Koolman, 2001).

Tetapan laju eliminasi K dapat dihitung dari data eksresi urin. Dalam penghitungan ini
laju eksresi obat dianggap sebagai orde kesatu .Ke adalah tetapan laju eksresi ginjal ,dan Du
adalah jumlah obat yang dieksresi urin:
= Ke DBOe-Kt atau log + log Ke DBO
tetapan laju Knr untuk berbagai rute eliminasi selain eksresi ginjal dapat diperoleh : K- K e =
Knr .Oleh karena eliminasi obat biasanya dipengaruhi oleh eksresi ginjal atau metabolisme
(biotransformasi) maka: Knr = Km (Shargel, 2012).

Metode lain untuk perhitungan tetapan laju eliminasi K dari data eksresi urin adalah
metode sigma minus , metode ini lebih disukai daripada sebelumnya karena fluktuasi data
laju eliminasi diperkecil. Jumlah obat tidak berubah dalam urin dapat dinyatakan sebagai
fungsi waktu melalui persamaan berikut :
DU = Du- DU (1-e-Kt)
DU adalah jumlah kumulatif obat tidak berubah yang dieksresi dalam urin. Jumlah
obat yang tidak berubah yang akhirnya dieksresi dalam urin D u dapat ditentukan dengan
membuat waktu t tak terhingga jadi e-Kt diabaikan dan didapat pernyataan

DU

Untuk mendapat suatu persamaa linear dapat ditulis dengan persamaan :


Log (Du- DU)= t+log Du
Suatu kurva linier diperoleh dengan membuat grafik log jumlah obat tidak berubah yang
belum dieliminasi Log (Du- DU) vs waktu (Shargel, 2012).
Klirens obat adalah suatu ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa mempermasalahkan
mekanisme prosesnya atau disebut juga laju eliminasi obat dibagi konsentrasi obat dalam
plasma pada waktu tersebut . Persamaannya yaitu :
Cl = KVDatau Cp = Ddu/dt
dimana dDu/dt adalah laju eksresi (g/menit), Cp adalah konsentrasi plasma (g/ml), K
adalah tetapan laju eliminasi ,VD adalah volume distribusi (ml/kg) (Shargel, 2012).

III.

ALAT DAN BAHAN

ALAT : Spektrofotometer UV-Vis


Pipet ukur
Tabung reaksi
Rak tabung reaksi
Labu takar 10 ml, 100 ml
Botol plastik
BAHAN :Vitamin C (Ester C 320 mg dan XON-C 500 mg)
Aquadest
IV.

CARA KERJA
1. Pengambilan sampel
Urin blanko dari suka relawan diambil sesudah obat diminum.

Obat diminum pada pukul 18.00 wib, setelah minum obat tidak boleh makan hanya boleh
minum air putih
Urin sukarelawan dikumpulkan sampai terkumpul 8 sampel urin

Urin yang terkumpul disimpan didalam botol plastik. Volume dari tiap urin diukur dan
dicatat waktunya

Disaring sebanyak 10 ml masukkan kedalam tabung reaksi

2. Perlakuan sampel
Tiap sampel urin diambil sebanyak 1000 l (1 ml) dan dimasukkan kedalam labu takar 10
ml, diencerkan dengan dapar fosfat pH 6,8
Sampel urin diukur absorbansinnya pada panjang gelombang UV 271 nm (dilakukan
scaning )
3. Pembuatan kurva baku

I.

Perhitungan :
Larutan induk vit 0,1%
Menimbang vit C 0,1 gr tambahkan aquadest ad 100 ml pada labu takar 100 ml.
Membuat seri pengenceran dari larutan induk vitamin c 0,1 %
1. 0,001 %
V1.N1 = V2.N2
3. 0,0015 %
100 . 0,001 = V2. 0,1
V2= 0,1 ml
V1.N1 = V2.N2
2. 0,002 %ran
100 . 0,0015 = V2. 0,1
V1.N1 = V2.N2
100 . 0,002 = V2. 0,1
V2= 1,5 ml
V2= 2 ml
4. 0,0025 %
V1.N1 = V2.N2
100 . 0,0025 = V2. 0,1
2,5 ml menggunakan lamda 256
Menghitung absorbansi seriV2=
pengenceran

V.

HASIL
Mengukur nilai absorbansi pada = 256 nm
Konsentras %
0,001
0,0015
0,002
0,0025

Konsentrasi g/ml
10
15
20
25

Regresi linear konsentrasi vs absorbansi


A = 0,3256
B = 0,03028
r = 0,865
y = 0,3256 + 0,03028 X

Absorbansi
0,702
0,740
0,790
1,190

Mengukur volume urine


Ester C

Xon C

93 ml
35 ml
100 ml
44 ml
98 ml
140 ml
106,8 ml

77 ml
104 ml
194 ml
185 ml
135 ml
91 ml
31 ml

Menyaring urine dengan kertas saring


Mengukur absorbansi pada

= 456 jika warna urine kuning muda pekat


= 256 jika hasil kecil

Ester C
t*

Abs

vol

Du

Du.kum

0,4165
1,3165
3,4335

0,833
1,8
5,067

0,833
0,967
3,267

0,736
0,269
0,203

42
35
100

3,554
-1,869
-4,049

569,268
-65,415
-404,9

569,268

5,267

5,467

0,4

0,950

44

20,621

907,324

5,625

5,783

0,316

0,339

98

0,443

43,414

5,933

6,083

0,3

0,295

140

-1,011

-141,54

8,833

11,583

5,5

0,682

56

11,770

659,12

t*

Abs

vol

Du

Du.kum

1,1335
2,7585
3,54

2,267
3,25
3,83

2,267
0,983
0,58

0,490
0,326
0,474

77
104
194

5,429
0,013
4,901

418,033
1,352
950,794

418,033
419,385
1370,17

1476,59
2
1520,00
6
2179,12
6

Du -

Du/t

Du.kum
1609,858

683,395

702,534

2268,31

659,12

137,386

119,84

Xon C
Du Du.kum
6580,5
6579,148
5628,354

Du/t
184,4
1,375
1639,3

5,04

6,25

2,42

0,643

185

10,482

1939,17

7,9165

9,583

3,33

0,259

135

-1,011

-0,007

10,85

12,1167

1,474

91

37,926

12,808

13,5

0,558

31

7,675

2,537
7
1,383
3

Ester C
1. 0,736 = 0,3256 + 0,03028X
0,4104 = 0,03028X
X
= 13,554
2. 0,269 = 0,3256 + 0,03028X
0,0566 = 0,03028X
X
= -1,869
3. 0,203 = 0,3256 + 0,03028X
-0,1226 = 0,03028X
X
= -4,049
4. 0,950 = 0,3256 + 0,03028X
0,6244 = 0,03028X
X
= 20,621
5. 0,339 = 0,3256 + 0,03028X
0,0134 = 0,03028X
X
= 0,443
6. 0,295 = 0,3256 + 0,03028X
-0,0306 = 0,03028X
X
= -1,011
7. 0,682 = 0,3256 + 0,03028X
0,3564 = 0,03028X
X
= 11,770

Xon C
1. 0,490 = 0,3256 + 0,03028X
0,1644 = 0,03028X

3451,26
6
237,925

9
3309,34
9
3309,34
2
6760,60
8
6998,53
3

3689,184

801,310

3689,191

0,0021

237,925
0

1362,14
5
171,998

= 5,429

2. 0,326 = 0,3256 + 0,03028X


0,0004 = 0,03028X
X
= 0,013
3. 0,474 = 0,3256 + 0,03028X
0,1484 = 0,03028X
X
= 4,901
4. 0,634 = 0,3256 + 0,03028X
0,3174 = 0,03028X
X
= 10,482
5. 0,295 = 0,3256 + 0,03028X
-0,0306 = 0,03028X
X
= -1,011
6. 1,474 = 0,3256 + 0,03028X
1,1484 = 0,03028X
X
= 37,926
7. 0,558 = 0,3256 + 0,03028X
0,2324 = 0,03028X
X
= 7,675
A. Xon C
Metode ARE
t vs log (Du - Du kum)
a = 4,233
b = - 0,1206
r = - 0,850
log Du = 4,233
Du
= 17100,15315
k
=0,1206
2,303
K

= 0,278

T1/2 =

0,693
K

0,693
0,278

= 2,493

Ke . Do
K

Du =

17100,153 =

Ke . 500000
0,278

4753,843 = Ke . 500000
Ke
= 0,00951
Km = K Ke
= 0,278 0,00951
= 0,268
Metode ARE
t vs Du - Du kum
a = 17098,426
b = - 0,278
r = - 0,850
Du = 17098,426
K = 0,278
T =

0,693
K

0,693
0,278

= 2,493
Du =

Ke . Do
K

17098,426 =

Ke . 500000
0,278

4753,362 = Ke . 500000
Ke
= 0,00951
Metode keceapatan ekskresi urin
t* vs log Du/t
a = 1,884
b = 0,072
r = 0,294
K
2,303

=b

K
=0,072
2,303

= 0,166

T=

0,693
K

0,693
0,166

= 4,175
Log Ke . Dbo
Ke . Dbo
Ke . 500000
Ke

= 1,884
= 76,560
= 76,560
= 0,000153

Km = K Ke
= 0,166 0,000153
= 0,166
Metode kecepatan ekskresi urin
t* vs Du/t
a = 76,607
b = 0,165
r = 0,294
K = 0,165
T=

0,693
K

0,693
0,165

= 4,2
Ke . Dbo = a
Ke . 500000 = 76,607
Ke
= 0,000153

B. Ester C
Metode ARE
t vs log (Du - Du kum)
a= 3,272
b= - 0,078

r= -0,999

Log Du = 3,272
Du = 1870,682
K
=b
2,303

T=

0,693
K

T=

0,693
=3,85
0,180

Du =

Ke . Do
k

1870,682 =

Ke . 320000
0,180

336,723 = Ke . 320.000
Ke = 0,00105
Km

= K Ke
= 0,180 0, 00105
= 0,179

Metode ARE
t vs Du - Du Kum
a= 1870,345
b= -0,180

r= -0,999

Du = 1870,345
K = 0,180
T=

0,693
k

T=

0,693
0,180

T = 3,85

Du

Ke . Do
K

1870,345

Ke . 320.00
0,180

336,662

= Ke . 320.000

Ke

= 0,00105

Metode kecepatan ekskresi urin


t* vs log Du/t
a= 3,042
b= -0,087
r= - 0,049

K
=b
2,303

K
2,303
K

= 0,087

= 0,2

T=

0,693
K

0,693
0,2

= 3,465

Log Ke . Dbo = a
Ke . Dbo

= 1101,540

Ke 320000

= 1101,540

Ke

= 0,00344

Km = K Ke
= 0,2 0,00344
= 0,196

Metode kecepatan ekskresi urin


t* vs Du / t
a= 1101,528
b= - 0,201
r= -0,499

K = 0,201
T

0,693
K

0,693
0,201

= 3,448

Ke . Dbo = a

VI.

Ke . 320000

= 1101,528

Ke

= 0,00344

PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, dilakukan penentuan kadar dan parameter farmakokinetik suatu
obat dari sampel urine dengan menggunakan dua metode yakni metode kecepatan ekskresi
unine (renal) dan metode ekskresi urine kumulatif (ARE). Praktikum ini juga dilakukan untuk
mengetahui kadar vitamin c yang terukur masih dalam rentang/jumlah yang sesuai atau tidak.
Sampel yang digunakan adalah urine dari 2 orang praktikan. Urine tersebut mengandung

berbagai komponen senyawa dan salah satunya adalah senyawa eksogen. Senyawa eksogen
merupakan senyawa yang berasal dari luar tubuh dan sengaja dimasukkan dengan tujuan
tertentu. Senyawa eksogennya adalah vitamin c yang digunakan sebagai obat dengan khasiat
antioksidan. Obat berkhasiat tersebut tentunya akan berinteraksi dengan molekul-molekul
yang penting secara fungsional dalam tubuh (reseptor) sehingga menghasilkan respon
biologis. Jika proses biofarmasetik berlangsung dengan baik, maka seharusnya jumlah
vitamin c meningkat dalam urine. Proses biofarmasetik sendiri adalah proses yang
menggambarkan obat mulai dari pemberian sampai terjadinya penyerapan zat aktif kemudian
diekskresikan. Vitamin c lah yang akan menjadi acuan nilai konstanta eliminasi dan waktu
paruh pada tubuh.
Pertama, dilakukan pengumpulan urine dengan rentang waktu yang telah ditentukan.
Hal ini dilakukan agar jumlah obat yang diekskresikan memiliki kecepatan eliminasi yang
tetap sehingga data urine yang diperoleh menjadi valid. Sebelumnya, 2 praktikan tersebut
diberikan obat vitamin c dengan nama dagang dan dosis yang berbeda yakni Ester C 320 mg
dan XON-C 500 mg. Dosis tersebut merupakan dosis lazim dimana dapat memberikan efek
farmakologis sesuai dengan jendela terapi (berada diantara MEC/Minimum Effective
Concentration dan MTC/Minimum Toxic Concentration). Obat tersebut diminum sehari
sebelum percobaan, tepatnya pukul 18.00. Hal ini untuk memaksimalkan proses
biofarmasetik dimana obat akan diabsorbsi, didistribusi, dimetabolisme dan terakhir
diekskresi melalui urine. Urine tersebut tentunya sudah mengandung vitamin c. Selain itu,
pada saat pengumpulan urine, perlu dilakukan pengukuran volume urine yang diekskresikan.
Pengukuran volume urine tersebut dimaksudkan agar dapat ditentukan berapa jumlah obat
(vitamin c) yang telah diekskresikan. Farmakokinetika obat pada darah maupun urine hanya
dapat memperoleh data berupa konsentrasi, bukan jumlah obat yang terkandungnya. Semakin
banyak volume urine yang dihasilkan, semakin banyak pula senyawa yang terdapat
didalamnya.
Kedua, sebelum menghitung absorbansi urine praktikan kita sebelumnya diharuskan
membuat kurva baku vitamin c 0,1 %. Fungsi kurva baku adalah sebagai pembanding. Dari
perhitungan didapatkan nilai A = 0,3256; B = 0,03028; R = 0,865. Sehingga didapatkan
persamaan y = 0,3256 + 0,03028 X. Persamaan tersebut yang nantinya akan digunakan untuk
menghitung konsentrasi obat dalam urine. Dari hasil persamaan diatas terlihat nilai R yang
tidak terlalu bagus yakni 0,865, yang berarti data yang kita miliki dalam perbuatan kurva
baku tidak memiliki absorbansi dan konsentrasi yang berkurang atau bertambah secara
konstan.

Ketiga, sebelum

dilakukan

pengukuran

absorbansi

dengan

menggunakan

spektrofotometer UV-VIS, urine tersebut disaring dahulu menggunakan kertas saring lalu
diukur absorbansinya menggunakan lamda 456 nm dengan alat spektrofotometer UV-VIS.
Nilai absorbansi yang baik adalah rentang 0,2-0,8 sehingga apabila ada urine yang
absorbansinya lebih dari 0,8 maka perlu dilakukan pengenceran. Berdasarkan hasil
perhitungan, didapat konsentrasi XON-C pada sampel 1 adalah 5,429 g/mL, konsentrasi
sampel 2 adalah 0,013 g/mL, konsentrasi sampel 3 adalah 4,901 g/mL, konsentrasi sampel
4 adalah 10,482 ungan absorbansi g/mL, konsentrasi sampel 5 adalah -1,011 g/mL,
konsentrasi sampel 6 adalah 37,926 g/mL dan konsentrasi sampel 7 adalah 7,675 g/mL.
Sedangkan hasil perhitungan yang didapat pada Ester C pada sampel 1 adalah 3,554 g/mL,
konsentrasi sampel 2 adalah -1,869 g/mL, konsentrasi sampel 3 adalah -4,049 g/mL,
konsentrasi sampel 4 adalah 20,621 g/mL, konsentrasi sampel 5 adalah 0,443 g/mL,
konsentrasi sampel 6 adalah -1,011 g/mL dan konsentrasi sampel 7 adalah 11,770 g/mL.
Konsentrasi tersebut kemudian dikalikan dengan faktor pengenceran. Hal ini
bertujuan agar dapat diperoleh konsentrasi vitamin c yang sebenarnya pada urine.
Konsentrasi tersebut dikalkulasikan kembali dengan volume urine untuk mendapatkan jumlah
obat yang terkandung dalam urine sehingga diperoleh Du (g). Jumlah obat tersebut dibagi
selisih selang waktu, maka diperoleh DU/t. Terakhir, dilakukan perhitungan regresi linier
menggunakan 2 metode yakni metode renal dan metode ARE. Jika menggunakan metode
renal maka perhitungan regresi eksponensial menggunkan tt vs DU/t. Jika menggunakan
metode ARE maka perhitungan regresi eksponensial menggunkan t vs DU-DU. Nilai
kemiringan (R) yang diperoleh pada XON-C sebesar 0,850, sedangkan pada Ester C nilainya
jauh dibawah 0,9 yaitu 0,049. Hal ini menandakan bahwa persamaan regresi tersebut tidak
linier. Liniearitas memiliki relasi dengan data yang didapat. Jika data tersebut tidak
menaik/menurun dengan konstan, maka liniearitas akan berkurang. Dari persamaan regresi,
dapat ditentukan kecepatan eliminasi dan waktu paruh dari XON-C dan Ester C. Kecepatan
eliminasi jam menandakan bahwa tubuh memiliki kecepatan sebesar 0,000153/jam untuk
mengeliminasi XON-C dari tubuh. Dan Kecepatan eliminasi jam menandakan bahwa tubuh
memiliki kecepatan sebesar 0,00344/jam untuk mengeliminasi Ester C dari tubuh. Semakin
besar kecepatan eliminasi, maka semakin besar pula laju perubahan obat. Dari hasil
perhitungan didapatkan bahwa Ester C memiliki laju perubahan obat yang lebih cepat
daripada XON-C.
Waktu paruh dari XON-C adalah 4,2 jam sedangkan waktu paruh pada Ester C adalah
3,448 jam. Waktu paruh tersebut cukup cepat karena membutuhkan waktu 4,2 jam sekali

untuk XON-C berkurang menjadi setengah dari jumlah awal, dan untuk ester C
membutuhkan waktu 3,448 jam jam sekali untuk ester C berkurang menjadi setengah dari
jumlah awal. Waktu paruh juga menentukan seberapa sering suatu obat diberikan. Faktor
yang mempengaruhi ekskresi obat antara lain filtrasi oleh glomerulus, sekresi oleh tubulus
maupun reabsorpsi di tubulus nefron.

VII.

KESIMPULAN
1. Metode yang digunakan untuk menghitung parameter farmakokinetik data urine ada
dua yaitu metode kecepatan ekskresi urine (renal) dan metode ekskresi urine
kumulatif (ARE).
2. Dari hasil perhitungan menggunakan 2 metode tersebut tidak menunjukkan adanya
perubahan yang signifikan antara metode yang satu dengan yang lain.
3. Parameter farmakokinetik data urine yang dapat dihitung adalah Ke dan T .
4. Pada XON-C didapatkan nilai Ke 0,000153/jam sebesar dannilai T sebesar 4,2 jam.
5. Pada Ester C didapatkan nilai Ke 0,00344/jam sebesar dannilai T sebesar 3,448
jam.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Budiyanto. 2013.

Proses

Pembentukan

Urin

Pada

Ginjal.

Tersedia

di:

http://budisma.web.id/materi/sma/biologi-kelas-xi/proses-pembentukan-urine-pada

ginjal.
Corwin, J.E. 2000. Buku Saku Patofisiologi . penerbit buku kedokteran .EGC.

Jakarta.
POM, 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI . Jakarta.
Ganiswarna, 2007. farmakologi dan terapi edisi 5. FK.Universitas indonesia.

Jakarta. hal 11,787,788.


Jan Koolman, Klaus-Heinrich Rohm, 2001, Atlas Berwarna & Teks Biokimia, Alih

bahasa ; dr. Septilia Inawati Wanandi, Hipokrates, Jakarta.


Mutschler ,ernest. 1991. Dinamika Obat edisi kelima ..penerbit ITB. Bandung .hal

553,554,557.
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia Edisi Pertama. Penerbit : Graha ilmu.

Yogyakarta.
Shargel,L B,C.YU,.2012. Biofarmasetika dan farmakokinetika terapan

kelima. Airlangga University Press. Surabaya.


Shargel,L B,C.YU,.2005. Biofarmasetika dan farmakokinetika terapan edisi

kedua. Airlangga University Press. Surabaya. Hal 53,57,177-184,201-205,207,209.


Tjay, T.H., dan Rahardja, K.. 2002. Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan
Efek-efek Sampingnya. Edisi Kelima

edisi

Anda mungkin juga menyukai