Anda di halaman 1dari 11

1.

Manajemen Utang Daerah


Manajemen utang daerah merupakan suatu proses penyusunan dan pengimplementasian
strategi pengelola utang pemerintah daerah yang terkait dengan upaya memperoleh dana
pinjaman pada tingkat resiko terkendali dan biaya terendah serta menggunakan pinjaman
tersebut secara efesien dan efektif.
Jenis Utang Daerah
1) Utang Jangka Pendek, adalah pinjaman untuk menutupi defisit dalam aliran
kas, dan harus dikembalikan secara penuh dalam waktu setahun.
2) Utang Jangka Menengah, yaitu pinjaman yang dapat digunakan untuk
membiayai proyek penghasil non-pendapatan, dan harus dikembalikan secara
penuh selama periode yang tidak melebihi masa jabatan kepala daerah.
3) Utang Jangka Panjang, yaitu pinjaman ynag dapat digunakan untuk
membiayai proyek penghasil pendapatan, dan harus dengan persetujuan
DPRD.
Manfaat Utang
Dalam konteks manajemen keuangan, utang sampai level tertentu memberikan
manfaat bagi organisasi. Manfaat utang antara lain :
1)
2)
3)
4)

Memperbaiki struktur neraca;


Memperbaiki struktur fiskal yaitu untuk pembiayaan anggaran defisit;
Menjaga kesinambungan fiskal;
Membiayai investasi yang membutuhkan dana besar untuk akselerasi

pembangunan;
5) Membangun prasarana publik yang dapat menghasilkan penerimaan untuk
pembayaran kembali utang;
6) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi;
7) Mengoptimalkan manajeemen kas daerah.
Risiko Utang
1)
2)
3)
4)

Utang yang terlalu besar (over-leveraged) dapat melemahkan struktur fiskal


Kegagalan membayar utang (default)
Kredit macet (nonperforming loan/NPL)
Penggelembungan utang karena perubahan kurs mata uang

Beberapa jenis resiko utang yang perlu mendapat perhatian pemeirntah daerah,
yaitu :
1) Risiko Pasar (Market Risk), yaitu risiko yang timbul terkait dengan perubahan
pasar.
1

2) Risiko Perpanjangan Utang (Rollever Risk), yaitu risiko utang terkait dengan
diperpanjangnya utang dengan biaya bunga yang tinggi atau tidak dapat
diperpanjang sama sekali.
3) Risiko Likuiditas (Liquidity Risk), yaitu risiko yang terkait dengan keadaan
aset likuid yang tidak mencukupi untuk memenuhi kewajiban atau kesulitan
organisasi untuk memperoleh tambahan kas melalui utang jangka pendek.
4) Risiko Kredit (Credit Risk), yaitu risiko tidak terbayarkan utang.
5) Risiko Perjanjian (Settlement Risk), yaitu kerugian potensial yang mungkin
ditangggung pemerintah sebagai mitra jika gagal memenuhi ketentuan dalam
perjanjian dengan pihak lain.
6) Risiko Operasional (Operational Risk), yaitu resiko yang diakibatkan oleh
kegagalan operasi.
7) Risiko Pendanaan (Funding Risk), yaitu risiko yang berkaitan dengan
kesulitan akses pasar untuk memperoleh pembiayaan utang ketika pemerintah
memerlukan dana untuk pembiayaan anggaran.
Analisis Risiko
Analisis risiko dilakukan untuk menghindari kerugian yang mungkin dialami
Pemerintah daerah terkait dengan pengadaan atau penggunaan utang. Analisis risiko
antara lain meluputi tindakan berikut.
1) Menganalisis kondisi ekonomi makro nasional, regional, dan internasional dan
prediksi ke depan.
2) Menganalisis nilai tukar (ecchange rate) dan prediksi ke depan
3) Memprediksi dan mengantisipasi adanyan kejutan eksternal (eksternal shock)
yang berpengaruh terhadap manajemen utang.
4) Membuat skema tindakan perlindungan nilai utang (hedging)
5) Memprediksi dan mengidentifikasi timbulnya utang bersyarat (contingent
liabilities)
6) Melakukan uji kekuatan (stress test) terhadap portofolio utang yang saat ini
dimilki pemerintah daerah dengan mendasarkan pada kejutan ekonomi dan
keuangan (economic & financial shocks) yang mempengaruhi daerah.
Aktivitas Manajemen Utang
1) Menjaga kesinambungan pertumbuhan utang pada level yang aman
2) Mengevaluasi struktur utang
3) Melakukan portofolio utang (debt portfolio)
2

4) Menegosiasikan dan memilih skema pinjaman yang memberikan keuntungan


optimal dan risiko terkecil bagi pemeirntah daerah
5) Menghitung biaya utang (borrowing cost) dan dampaknya terhadap stabilitas
6)
7)
8)
9)

fiskal menerintah daerah


Menghitung pengaruh utang terhadap makro ekonomi daerah
Memantau penggunaan utang
Mengevaluasi penggunaan utang
Melakukan penjadwalan kembali utang (debt rescheduling)

Prinsip Manajemen Utang Daerah


1) Prinsip Efesiensi dan Efektifitas Biaya
Menekankan

bahwa dalam melakukan

pinjaman daerah diupayakan

pemerintah daerah memperoleh pinjaman dengan biaya pinjaman yang sudah


dan risiko yang dapat diterima.
2) Prinsip Kehati-hatian
Menganjurkan agar proses pengambilan keputusan pengadaan pinjaman
dilakukan dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian, dengan menghindar
keputusan yang bersifat spekulatif.
3) Diversifikasi
Dalam proses mendapatkan utang perlu dipertimbangkan berbagai alternatif
sumber dana, mata uang, tingkat bunga, dan jangka waktu yang berbeda-beda,
dlam rangka memperoleh biaya utang yang rendah.
4) Transparansi dan Akuntabilitas
Menekankan bahwa utang harus digunakan secara optimal dan efesien,
transparansi dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
5) Bebas Ikatan
Penerimaan hibah luar negeri tidak boleh didasari oleh ikatan politik maupun
ikatan lainnya yang dapat merugikan negara.
6) Menjamin kesinambungan fiskal
Pengadaan utang harus dikaitkan dengan kemampuan membayar keembali,
bersifat sementara dan hanya dapat diterima sepanjang tidak ada ikatan politik,
serta dengan persyaratan yang tidak memberatkan Negara/pemerintah.
7) Mekanisme APBD
Pengadaan

utang

dikelola

dalam

mekanisme

APBD

yang

dalam

pelaksanaannya dituangkan dalam bentuk program dan proyek.


8) Menunjang pertumbuhan ekonomi
3

Kegiatan yang dibiayai dari pinjamin dan hibah luar negeri harus memberikan
dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemeretaan kesejahteraan
masyarakat.
Sumber Utang Daerah
1) Utang Jangka Panjang
a. Dalam negeri: mealalui penerbitan obligasi daerah dalam mata uang
rupiah
b. Luar negeri; melalui perjanjian penerusan utang
2) Utang Jangka Pendek
a. Pemerintah pusat
b. Pemerintah daerah lain
c. Lembaga keuangan dalam negeri
Persyaratan Utang Daerah
Meskipun pemerintah daerah memilki keleluasaan untuk mengadaan pinjaman,
tetapi terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu :
1) Batasan maksimum jumlah utang daerah
a. Utang Jangka Panjang
Jumlah kumulatif pokok utang daerah yang wajib bayar tidak
melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun

sebelumnya.
Berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaraan daerah

tahunan selama jangka pinjaman paling sedikit 2,5.


Laporan Keuangan dua tahun anggaran sebelumnya telah

diaudit oleh BPK.


Tidak memilki tunggakan utang kepada pemerintah pusat dan

atau pemberi utang luar negeri.


b. Utang Jangka Pendek
Jumlah maksimum utang jangka pendek adalah 1/6 dari jumlah

belanja APBD tahun anggaran berjalan.


Mempertimbangkan kecukupan penerimaan daerah untuk

membayar kembali utang tepat waktu.


Pelunasan utang jangka pendek wajib diselesaikan dalam tahun

anggaran berjalan.
c. Defisit APBD dan jumlah kumulatif defisit
Defisit APBD dibatasi max 3% dari PDRB daerah yang
bersangkutan.
d. Utang daerah dan jumlah kumulatif utang
Jumlah utang daerah dibatasi max 60% dari PDRB daerah yang
bersangkutan.
4

Jumlah kumulatif utang pemerintah pusat dan pemerintah

daerah tersebut.
2) Batas Max jangka waktu utang daerah
a. Disesuaikan dengan umur ekonomis aset yang dibiayai dari utang
tersebut.
b. Disesuaikan dengan masa konstruksi proyek.
c. Termasuk masa tenggang.
d. Utang jangka panjang dari dalam negeri, ditetapkan daerah dengan
persetujuan DPRD.
e. Utang jangka panjang dari luar negeri, disesuaikan dengan persyaratan
Utang Luar Negeri yang bersangkutan.
3) Larangan Penjaminan
a. Daerah dilarang melakukan perjanjian yang bersifat penjaminan
terhadap utang pihak lain yang mengakibatkan beban atas keuangan
daerah.
b. BMD yang digunakan untuk melayani kepentingan umum dan atau
yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku tidak boleh dijadikan jaminan dlam memperoleh utang.
c. Aset daerah selain yang digunakan untuk melayani kepentingan umum
dapat dijaminkan sepanjang utang yang bersangkutan nilai pokoknya
tidak melebihi 60% nilai pasar wajar aset tersebut dan harus
diungkapkan dalam Catatan Atas Lap. Keuangan.
d. Daerah tidak dapat melakukan kerjasama dengan pihak lain yang
menimbulkan pinjaman yang kemudian hari menjadi beban APBD.
2. Obligasi Daerah
Pengelolaan Obligasi Daerah
Pengelolaan obligasi daerah diselenggarakan oleh Gubernur/Bupati/Walikota yang
dapat dikuasakan kepada ketua PPKD sebagai BUD.
Pengelolaan obligasi darah sekurang-kurangnya meliputi :
1) Penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi daerah termasuk
2)
3)
4)
5)
6)
7)

kebijakan pengendalian risiko.


Perencanaan dan penetapan struktur portofolio Pinjaman Daerah.
Penerbitan obligasi daerah.
Penjualan obligasi daerah melalui lelang dan atau tanpa lelang.
Pembelian kembali obligasi daerah sebelum jatuh tempo.
Pelunasan.
Aktivitas lain dalam rangka pengembangan pasar perdana dan pasar sekunder
obligasi daerah.

Sukuk (Obligasi Syariah)


Berdasarkan fatwa Dewan syariah Nasional (DSN) MUI No: 32/DSNMUI/IX/2002, Sukuk (Obligasi Syariah) didefenisi sebagai suatu surat berharga
jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan perusahaan (emiten)
kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayarkan
pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil /margin/fee serta
membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Pada prinsipnya pemerinth
daerah juga dapat mengeluarkan sukuk untuk membiayai pembagunan infrasrtuktur
daerah yang menghasilkan pendapatan.
Jenis-jenis Obligasi Syariah
1) Obligasi Mudharabah (Profit Sharing)
Obligasi Mudharabah adalah syariah yang dikeluarkan dengan akad
mudharabah, yaitu akad kerjasama usaha antara dua pihak yang dalam hal ini
pihak investor (sahibui maal) menyediakan modal sedangkan pihak emiten
(mudharib) bertindak selaku pengelolah, dan keuntungan usaha dibagi di
antara mereka sesuai dengan kesepakatan dimuka yang dituangkan dalam
kontrak.
2) Obligasi Musyarakah (Profit and Loss Sharing)
Obligasi Musyarakah adalah obligasi syariah yang dikeluarkan berdasarkan
akad musyawarah, yaitu akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk
suatu usahan tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi
dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung
bersama sesuai kesepakatan. Obligasi musyawarah dilaksanakan berdasarkan
prinsip profit and loss sharing.
3) Obligasi Ijarah (Sale and lease Back/Head Lease and Sub Lease)
Obligasi Ijarah adalah obligasi syariah yang dikeluarkan berdasarkan akad
ijarah, yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang/jasa
dalam waktu tertentu

melalui pembayaran sewa, tanpa diikuti dengan

pemindahan kepemilikan atas barang tersebut.


4) Obligasi Istishna (Project Financing)
Obligasi Istisha adalah obligasi syariah yang dikeluarkan berdasarkan akad
istisha, yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang
tertentu dengan kriteria an persyaratan tertentu yang disepakati antara
pemesan (pembeli) dengan pembuat (penjual).
5) Obligasi Salam (Forward sale)

Obligasi salam adalah obligasi syariah yang dikelurkan berdasarkn akad


salam, yaitu kontrak jual beli barang dengan cara memesan dan pembayaran
harga lebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu.
3. Manajemen Investasi Daerah
Investasi daerah merupakan pengeluaran daerah yang dilakukan dalam rangka
memperoleh keuntungan dimasa yang akan datang. Terdapat tiga tujuan utama dilakukannya
investasi daerah, yaitu:
1) Untuk memperoleh keuntungan investasi (yield)
2) Untuk keamanan aset daerah (safety)
3) Untuk optimalisasi manajemen kas dan menjaga likuiditas keuangan (liquidity)
Pada dasarnya investasi aset daerah bersifat luas meliputi:
1) Investasi Aset Keuangan (Financial Asset), antara lain:
Depoito
Saham
Sukuk (Obligasi Syariah)
Reksadana
Surat Berharga lainnya
Penyertaan modal
2) Investasi Aset Nonkeuangan, meliputi:
a. Aset Berwujud (Tangible Aset) dalam bentuk Aset Tetap, antara lain:
Tanah dan bangunan
Jalan, irigasi, dan jembatan
Infrastruktur dan jaringan
Mesin dan peralatan
b. Investasi Aset Tidak Berwujud (Intangible Asset), antara lain:
Sumber Daya Manusia (intellectual Asset)
Database dan Sistem Informasi
4. Investasi Aset Keuangan
1) Berdasarkan jangka waktnya, terdiri atas:
Investasi jangka pendek (kurang dari 1 tahun)
Instrumen investasi jangka pendek yang bisa dipilih antara lain:
Deposito 1 bulan
Deposito 3 bulan
Deposito 6 bulan
Surat Perbendaharaan Negara (SPN)
Saham untuk dijual kembali dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun.
Investasi jangka pajang (lebih dari 1 tahun)
Instrumen investasi jangka panjang yang dilih antara lain:
Deposito 12 bulan
Surat Utang Negara
7

Obligasi Pemerintah daerah Lain


Saham/penyertaan modal jangka panjang
Dan bergulir (roll-over fund)
2) Berdasarkan sifat kepemilikannya, terdiri atas:
Investasi permanen
Investasi non permanen
5. Risiko Investasi
1) Risiko Kredit
Risiko Kredit adalah risiko yang terkait dengan kegagalan peminjam dan pemerintah
untuk mengembalikan dana yang dipinjam tersebut pada saat jatuh tempo. Resiko
kredit dapat diminimalisasi dengan cara melakukan analisis kredit secra cermat,
membatasi jumlah investasi terhadap kredit yang berisiko tinggi, mensyaratkan
adanya penjaminan atas investasi tersebut.
2) Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas terkait dengan kemudahan untuk menjual instrumen investasi
sebelum jauh tempotanpa menderita kerugian. Risiko likuiditas dapat dikurangi
dengan cara memilih instrumen investasi yang aktif diperdagangkan di pasar sekunder
serta membuat perkiraan arus kas dan skedul jatuh tempo investasi sehingga antara
kebutuhan kas dengan pencairan investasi bisa disesuaikan.
3) Risiko pasar dan suku bunga
Risiko pasar adalah risiko yang terkait dengan penurunan nilai investasi yang
disebabkan terjadinya perubahan pasar keungan. Harga pasar keuangan sangat terkait
dengan perubahan tingkat suku bunga. Kenaikan suku bungan dapat berisiko
menurunkan harga Surat Berharga.
4) Risiko Reinvestasi
Risiko Reinvestasi terjadi ketika pendapatan dan investasi tidak dapat diinvestasikan
kembali denga tingkat keuntungan yang sama dengan dana pokok yang
diinvestasikan. Hal ini pada umumnya terjadi

pada surat berharga yang belum

dilunasi sebelum jatuh tempo.


6. Prinsip Manajemen Investasi Daerah
1) Legalitas
Investasi daerah harus memenuhi aspek legalitas, misalnya undang-undang, peraturan
pemerintah, dan peraturan daerah tentang pokok-pokok pengelolaan keunagan daerah.
2) Keamanan
Keputusan invesatasi daerah harys mempertimbangkan aspek keamanan investasi.
Keungan daerah harus dilindungi dari kerugian investasi. Oleh karena itu, setiap
keputusan investasi daerah harus didukung denga analisis yang memadai tentang
manfaat dan risiko investasi.
8

3) Likuiditas
Likuiditas investasi adalah seberapa muudah investasi tersebut dapat dicaurkan
kembali menjadi kas tanpa mengalami kerugian berarti. Semakin likuid suatu
investasi, maka semakin mudah pemerintah daerah memperoleh dana untuk
memenuhi kebutuhan kas mendadak atau tidak terduga.
4) Keuntungan
Tujuan utama investasi adalah memperoleh keuntungan. Investasi yang dilakuak
daerah harus memberikan keuntungan yang optimal. Manajer keuangan daerah harus
berupaya untuk membuat fortopolio investasi yang memberikan keuntungan terbesar
bagi daerah dengan tingkat risiko tertentu.
5) Kesesuaian
Karena organisasi pemerintah daerah bukan seperti perusahaan bisnis, bukan juga
lembaga keuangan, maka tidak semua jenis instrumen investasi cocok untuk daerah.
Sebagai contoh, pemerintah daerah tidak dibenarkan ikut bermain vals meskipun hal
tersedbut memberikan keuntungan. Pemerintah daerah tidak pas jika melakuakn
investasi pad zero coupon bond dan surat berharga yang jatuh temponya lebih dari
lima tahun. Pemerintah daerah perlu memilih instrumen investasi yang sesuai untuk
operasionalisasi manajemen keuangan daerah dan tidak melanggar peraturan
perundangan terkait.

KESIMPULAN
Manajemen utang daerah merupakan suatu proses penyusunan dan pengimplementasian
strategi pengelola utang pemerintah daerah yang terkait dengan upaya memperoleh dana
pinjaman pada tingkat resiko terkendali dan biaya terendah serta menggunakan pinjaman
tersebut secara efesien dan efektif. Obligasi daerah dalam pengelolaannya diselenggarakan
oleh Gubernur/Bupati/Walikota yang dapat dikuasakan kepada ketua PPKD sebagai BUD.
Investasi daerah merupakan pengeluaran daerah yang dilakukan dalam rangka memperoleh
keuntungan dimasa yang akan datang. Investasi asset keuangan terdiri dari 2 jenis yaitu
berdasarkan jangka waktunya dan sifat kepemilikannya. Risiko investasi meliputi risiko
kredit, risiko likuiditas, risiko pasar dan suku bunga,dan risiko reinvestasi. Prinsip
manajemen investasi daerah yaitu legalitas, keamanan, likuiditas, keuntungan, dan
kesesuaian.

10

DAFTAR PUSTAKA
Mahmudi. 2010. Manajemen Keuangan Daerah. Jakarta: Erlangga

11