Anda di halaman 1dari 23

VI.

BATANG LENTUR
Perencanaan

batang

lentur

meliputi

empat

hal

yaitu:

perencanaan lentur, geser, lendutan, dan tumpuan. Perencanaan sering


kali diawali dengan pemilihan sebuah penampang batang sedemikian
sehingga

tegangan

lentur

yang

terjadi

memenuhi

persyaratan,

kemudian dilakukan kontrol terhadap tegangan geser dan lendutan.


Apabila kontrol terhadap tegangan geser atau lendutan tidak terpenuhi,
maka dilakukan perubahan penampang batang.

I.

Perencanaan batang lentur


Batang lentur direncanakan untuk dapat mendukung gaya

momen lentur dan gaya geser seperti pada Persamaan 6.1. Tahanan
terkoreksi adalah hasil perkalian tahanan acuan dengan faktor-faktor
koreksi. Komponen struktur lentur yang memikul gaya-gaya setempat
harus diberi pendetailan tahanan dan kestabilan yang cukup pada
daerah bekerjanya gaya-gaya tersebut.
Mu b M

(6.1a)

Vu v V

(6.1b)

66

Konstuksi Kayu

Keterangan notasi:
Mu

momen lentur
terfaktor

faktor waktu

Vu

gaya geser
terfaktor

faktor tahanan lentur, 0,85

tahanan lentur
terkoreksi

faktor tahanan geser, 0,75

tahanan geser
terkoreksi

Bentang rencana harus digunakan dalam menghitung momen


lentur, gaya geser, dan lendutan. Untuk komponen struktur berbentang
sederhana yang tidak menyatu dengan tumpuan-tumpuannya maka
bentang rencana adalah bentang bersih ditambah setengah kali panjang
tumpuan pada masing-masing ujung.
Takikan pada balok harus dihindari, terutama yang terletak jauh
dari tumpuan dan berada pada sisi tarik. Konsentrasi tegangan yang
disebabkan oleh takikan dapat dikurangi menggunakan konfigurasi
takikan yang diiris miring secara bertahap daripada menggunakan
takikan dengan sudut tajam. Apabila harus dibuat takikan dengan sudut
tajam, maka perkuatan dengan alat pengencang perlu ditambahkan
untuk mencegah timbulnya retak seperti terlihat pada Gambar 6.1.
Takikan pada ujung balok tidak boleh melampaui seperempat tinggi
balok untuk balok masif, dan sepersepuluh tinggi balok untuk balok
glulam (kayu laminasi struktural). Balok tidak boleh ditakik di lokasi
selain daripada di ujung balok bertumpuan sederhana.
Tahanan lentur balok pada setiap penampang yang bertakik, baik
di sisi tarik maupun di sisi tekan, tidak boleh melampaui tahanan lentur
dari penampang neto pada lokasi yang bertakik, bila takikannya berada

BAB 6 Batang Lentur

67

pada sisi tekan. Bila suatu takikan berada pada sisi tarik, dan momen
yang bekerja di sepanjang bagian yang bertakik tersebut melebihi
setengah tahanan lentur balok yang dihitung pada penampang neto
minimum bertakik maka tahanan lentur seluruh balok ditentukan oleh
neto bertakik tersebut.
Alat pengencang

(a)

(b)

Sudut irisan ()

dn

Potensi retak
Ring/washer

Gambar 6.1 Takikan pada tumpuan ujung: (a) takikan miring; dan (b)
penambahan alat pengencang

Pada konstruksi sistem lantai dimana terdapat tiga atau lebih


balok kayu yang tersusun dengan jarak tidak lebih dari 600 mm (jarak
pusat ke pusat) kemudian disatukan dengan sistem penutup, maka
kekuatan konstruksi tidak sepenuhnya bergantung pada masing-masing
tahanan lentur satu balok. Pada sistem konstruksi ini, semua balok akan
bekerja secara bersama-sama sehingga kekuatan secara sistem lebih
besar dari pada penjumlahan kekuatan masing-masing balok. Apabila
terdapat beban terpusat pada satu balok, maka beban tersebut akan
didukung tidak hanya oleh satu balok melainkan secara bersama-sama
oleh seluruh balok pada sistem tersebut. Untuk mempertimbangkan

68

Konstuksi Kayu

perilaku sistem lantai ini, maka tahanan lentur acuan dapat dikalikan
dengan faktor koreksi pembagi beban (Cr) yaitu sebesar 1,15.
Apabila balok diletakkan secara tidur (dimensi lebar lebih besar
dari pada dimensi tebal/tinggi) sehingga menderita tegangan lentur
pada sumbu lemahnya, maka tahanan lentur acuan dapat dikalikan
dengan faktor koreksi penggunaan datar (Cfu) seperti pada Tabel 6.1.
Tabel 6.1 Faktor koreksi penggunaan datar, Cfu
Lebar

Tebal/Tinggi
50 mm dan 75 mm

100 mm

1,00
1,10
1,10
1,15
1,15
1,20

1,00
1,05
1,05
1,05
1,10

50 mm dan 75 mm
100 mm
125 mm
150 mm
200 mm
250 mm dan lebih
1.

Pengaku lateral (Bracing)


Balok yang memiliki perbandingan tinggi terhadap lebar lebih

besar daripada dua dan dibebani terhadap sumbu kuatnya harus


memiliki pengaku lateral pada tumpuan-tumpuannya untuk mencegah
terjadinya rotasi atau peralihan lateral. Pengaku lateral tidak diperlukan
pada balok berpenampang bundar, bujur sangkar, atau persegi panjang
yang mengalami lentur terhadap sumbu lemahnya saja.
Untuk balok kayu masif, kekangan yang digunakan untuk
mencegah rotasi atau peralihan lateral ditentukan berdasarkan nilai
perbandingan tinggi nominal terhadap tebal nominal, d/b, sebagai
berikut:

BAB 6 Batang Lentur

69

a)

d/b 2: tidak diperlukan pengekang lateral;

b)

2 < d/b < 5: Semua tumpuan harus dikekang menggunakan


kayu masif pada seluruh ketinggian balok;

c)

5 d/b < 6: sisi tekan harus dikekang secara menerus


sepanjang balok;

d)

6 d/b < 7: pengekang penuh setinggi balok harus dipasang


untuk setiap selang 2.400 mm kecuali bila kedua sisi tekan
dan tarik dikekang secara bersamaan atau bila sisi tekan
balok dikekang pada seluruh panjangnya oleh lantai dan
pada tumpuan-tumpuannya diberi pengekang lateral untuk
mencegah rotasi;

e)

d/b 7: kedua sisi tekan dan tarik dikekang secara


bersamaan pada seluruh panjangnya.

Pengaku lateral harus diadakan pada semua balok kayu masif


berpenampang

persegi

panjang

sedemikian

sehingga

rasio

kelangsingannya (Rb) tidak melebihi 50 seperti pada Persamaan 6.2


dengan le adalah panjang efektif ekivalen yang nilainya dapat dilihat
pada Lampiran 1.

Rb

2.

le d
50
b2

(6.2)

Tahanan lentur balok yang terkekang dalam arah lateral


Anggapan balok yang terkekang penuh dalam arah lateral

dijumpai pada kondisi-kondisi berikut ini: a) balok berpenampang


bundar atau bujursangkar, b) balok berpenampang persegi panjang
yang terbebani pada arah sumbu lemahnya saja,

atau c) balok

70

Konstuksi Kayu

berpenampang persegi panjang yang terbebani pada arah sumbu kuat


dan memenuhi persyaratan pengaku lateral (bracing) seperti yang telah
diuraikan sebelumnya. Tahanan lentur balok dihitung dengan anggapan
nilai faktor koreksi stabilitas balok (CL) sama dengan 1,00. Tahanan
lentur terkoreksi dari balok berpenampang prismatis yang terlentur
terhadap sumbu kuatnya (x x) adalah:
M = Mx = Sx Fbx

(6.3)

Keterangan:
M = Mx : tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat
Sx

: modulus penampang lentur terhadap sumbu kuat

Fbx

: kuat lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat dengan nilai


faktor koreksi CL = 1,00

Tahanan lentur terkoreksi dari balok berpenampang prismatis yang


terlentur terhadap sumbu lemahnya (y y) adalah:
M = My = Sy Fby

(6.4)

Keterangan:
M = My : tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu lemah
Sy

: modulus penampang lentur terhadap sumbu lemah

Fby

: kuat lentur terkoreksi terhadap sumbu lemah dengan nilai


faktor koreksi CL = 1,00

BAB 6 Batang Lentur

71

Tahanan lentur terkoreksi yang ditetapkan oleh Persamaan 6.3


harus dikalikan dengan faktor koreksi bentuk (Cf) sebesar 1,15 untuk
komponen struktur berpenampang bundar selain daripada untuk tiang
dan pancang, dan harus dikalikan dengan faktor bentuk sebesar 1,40
untuk komponen struktur berpenampang persegi panjang yang
terlentur terhadap sumbu diagonal.
3.

Tahanan lentur balok tanpa pengekang lateral penuh


Tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat (xx) dari balok

berpenampang prismatis persegi panjang tanpa pengekang lateral atau


bagian yang tak-terkekang dari balok tersebut, adalah:

M = CL Sx Fbx*

(6.5)

Faktor stabilitas balok (CL) dihitung sebagai berikut:

2
1

CL
b

2c
cb
2cb
b

1 b

(6.6)

dengan:

s M e
b M x *

(6.7)

dan Sx adalah modulus penampang untuk lentur terhadap sumbu kuat


(xx); Mx* adalah tahanan lentur untuk lentur terhadap sumbu kuat (x
x) dikalikan dengan semua faktor koreksi kecuali faktor koreksi
penggunaan datar (Cfu) dan faktor koreksi stabilitas balok (CL); cb =

72

Konstuksi Kayu

0,95; s = 0,85 adalah faktor tahanan stabilitas; Me adalah momen


tekuk lateral elastis yang dapat diperoleh pada Persamaan 6.8.
M e 2,40 E ' y 05

II.

Iy

(6.8)

le

Gaya geser
Apabila beban yang mengakibatkan lentur bekerja pada muka

balok yang berlawanan dengan muka tumpuan maka seluruh beban


yang terletak di dalam jarak d (tinggi balok) dari bidang muka tumpuan
tidak perlu diperhitungkan dalam menentukan gaya geser perlu seperti
terlihat pada Gambar 6.2.

Gaya geser pada jarak d


dari muka tumpuan

Gambar 6.2 Reduksi gaya geser sejarak tinggi balok dari muka tumpuan

BAB 6 Batang Lentur

73

Tahanan geser terkoreksi (V) dihitung dengan Persamaan 6.9,


dengan Fv adalah kuat geser sejajar serat terkoreksi, I adalah momen
inersia balok, b adalah lebar penampang balok, dan Q adalah momen
statis penampang terhadap sumbu netral.
V '

F 'v Ib
Q

(6.9)

Untuk penampang persegi panjang dengan lebar b, dan tinggi d,


Persamaan 6.9 dapat disederhanakan menjadi Persamaan 6.10.

V '

1.

2
F 'v bd
3

(6.10)

Tahanan geser di daerah takikan


Pada penampang di sepanjang takikan dari sebuah balok persegi

panjang setinggi d, tahanan geser terkoreksi pada penampang bertakik


dihitung dengan Persamaan 6.11, dengan d adalah tinggi balok tanpa
takikan dan dn adalah tinggi balok di dalam daerah takikan.
2
d
V ' F 'v bd n n
3
d

(6.11)

Sebagai laternatif, apabila pada ujung takikan terdapat irisan


miring dengan sudut (lihat Gambar 6.1) terhadap arah serat kayu
untuk mengurangi konsentrasi tegangan maka tahanan geser terkoreksi
pada penampang bertakik dihitung sebagai:

74

Konstuksi Kayu
2
d d n sin
V ' F 'v bd n 1

d
3

2.

(6.12)

Tahanan geser di daerah sambungan


Apabila

suatu

sambungan

pada

balok

persegi

panjang

menyalurkan gaya yang cukup besar sehingga menghasilkan lebih dari


setengah gaya geser di setiap sisi sambungan maka tahanan geser
terkoreksi dihitung berdasarkan Persamaan 6.13 dengan de adalah
tinggi efektif balok pada daerah sambungan seperti ditunjukkan pada
Gambar 6.3.

d
2
V ' F 'v bde e
d
3

(6.13)

Tepi tanpa beban

de
de

Tepi tanpa beban

de
de

Gambar 6.3. Definisi tinggi balok efektif pada daerah sambungan

BAB 6 Batang Lentur

75

III. Lendutan
Selain mengalami lenturan dan geser, batang lentur juga
menderita lendutan. Lendutan pada batang lentur dapat mengakibatkan
terjadinya peningkatan tegangan. Batang lentur pada sistim lantai
diharuskan memiliki lendutan yang kecil untuk menghindari timbulnya
keretakan pada penutup lantai seperti keramik. Sehingga pada
beberapa jenis struktur tertentu sering kali dimensi penampang balok
ditentukan oleh pembatasan nilai lendutan, tidak oleh tegangan lentur.
Lendutan sebuah batang lentur seperti Gambar 6.4 ditentukan
oleh banyak faktor seperti gaya-gaya luar yang bekerja, bentang balok,
momen inersia penampang, dan modulus elastisitas lentur terkoreksi
seperti dinyatakan dalam Persamaan 6.14. Modulus elastisitas lentur
terkoreksi merupakan hasil perkalian antara modulus elastisitas lentur
dengan faktor koreksi. Untuk balok lentur dengan beban merata
sepanjang

bentang,

lendutan

maksimum

dihitung

berdasarkan

Persamaan 6.15. Dan untuk balok dengan beban terpusat di tengah


bentang, lendutan maksimum dihitung berdasarkan Persamaan 6.16.

P, w, L
Max f

I , E'

(6.14)

Max

5 wL4
384 E ' I

(6.15)

Max

1 PL3
48 E ' I

(6.16)

76

Konstuksi Kayu

Gambar 6.4 Bentuk lendutan pada balok dengan tumpuan sederhana


Lendutan ijin komponen batang lentur pada konstruksi terlindung
adalah L/300 dan pada konstruksi tidak terlindung adalah L/400 dengan

adalah

panjang

bentang

bersih.

Nilai

lendutan

ijin

perlu

diperhitungkan pada pembebanan yang berasal dari berat sendiri dan


beban tetap.

IV.

Perencanaan tumpuan
Balok kayu pada bagian tumpuan atau pada lokasi dimana gaya-

gaya luar bekerja secara langsung menderita tegangan tekan tegak


lurus serat seperti pada Gambar 6.5. Oleh karena itu, bidang kontak
antara balok dengan tumpuan atau dengan gaya-gaya luar harus
direncanakan sedemikian sehingga Persamaan 6.17 dapat terpenuhi. Pu
adalah gaya tekan terfaktor, A adalah luas tumpuan, c = 0,90, dan Fc
adalah tegangan tekan tegak lurus serat terkoreksi yang diperoleh pada
Persamaan 6.18.
P
f c u c Fc'
A

(6.17)

BAB 6 Batang Lentur

77

Fc' Fc CM Ct C pt ...

(6.18)

la

lb

Tumpuan balok

Gambar 6.5 Tegangan tekan tegak lurus serat pada daerah tumpuan
Apabila

panjang

bidang

tumpu

(lb)

dalam

arah

panjang

komponen struktur tidak lebih dari 150 mm dan jarak ke bidang tumpu
dari ujung kolom (la) lebih besar dari 75 mm seperti Gambar 6.5, maka
tahanan tekan tegak lurus serat dapat dikalikan dengan faktor koreksi
bidang tumpu (Cb) seperti pada Persamaan 6.19 dengan nilai lb dalam
satuan mm.

Cb = (lb + 9,5)/lb

(6.19)

78

Konstuksi Kayu
Apabila bidang kontak antara tumpuan dengan balok lentur tidak

tegak lurus serat, melainkan bersudut seperti pada Gambar 6.6, maka
kontrol tegangan tekan harus dilakukan berdasarkan Persamaan 6.20.
Tegangan tekan terkoreksi pada sudut dapat diperoleh dengan
persamaan Hankinson seperti pada Persamaan 6.21. Fc adalah
tegangan tekan sejajar serat terkoreksi yang diperoleh pada Persamaan
6.22.
P
f u c F'
A
F'

(6.20)

Fc' Fc'
Fc' sin 2 Fc' cos2

(6.21)

Fc' Fc C M C t C pt ...

(6.22)

Tegangan tekan f

Balok tumpuan

Gambar 6.6 Tegangan tekan bersudut pada struktur atap miring

BAB 6 Batang Lentur

V.

79

Contoh perencanaan batang lentur

Contoh 1
Balok dari sistim lantai mendukung beban mati terbagi merata
sebesar 5 kN/m (termasuk berat sendiri) seperti gambar di bawah.
Apabila dimensi balok kayu yang digunakan adalah 80/200 dengan kode
mutu E19, tunjukkan apakah dimensi balok yang dipilih memenuhi
persyaratan tahanan lentur, geser, dan lendutan ijin. Gunakan faktor
koreksi CM = Ct = Cpt = CF = 1,00.

w = 5 kN/m
200
2500

80

Penyelesaian
Karena

balok

berasal

dari

sistem

lantai,

maka

dapat

diamsumsikan terdapat kekangan lateral pada kedua ujungnya setinggi


balok dan kekangan pada sisi tekan (sisi atas) balok sepanjang bentang.
Sehingga faktor koreksi stabilitas balok (CL) tidak perlu diperhitungkan.
Hasil analisis struktur dengan kombinasi pembebanan 1,4D
Momen lentur maksimum =
Gaya geser maksimum =

1,4 x52,52 = 5,47 kNm


wL2
=
8
8

1,4 x52,5 = 8,75 kN


wL
=
2
2

80
a.

Konstuksi Kayu
Kontrol tahanan lentur

Fbx = Fb.CM.Ct.Cpt.CF
Fbx = 44x1,00x1,00x1,00x1,00 = 44 MPa
Modulus penampang (Sx)

Sx =

bd 2
80x 200 2
=
= 533.333 mm3
6
6

Tahanan momen lentur terkoreksi (Mx)

Mx = Sx . Fbx = 533.333x44 = 23,47 kNm


Momen lentur terfaktor (Mu)

Mu .b.Mx
5,47 kNm 0,6x0,85x23,47 = 11,97 kNm
b.

Ok!

Kontrol tahanan geser

Fv = Fv.CM.Ct.Cpt
Fv = 5,6x1,00x1,00x1,00 = 5,6 MPa
Tahanan geser terkoreksi (V)

V =

2
2 '
Fv bd = x5,6x80x200 = 59,73 kN
3
3

Gaya geser terfaktor (Vu)

Vu .v.V
8,75 kN 0,6x0,75x59,73 =26,88 kN
c.

Kontrol lendutan

E = Ew.CM.Ct.Cpt
E = 18000x1,00x1,00x1,00 = 18000 MPa
Lendutan ijin =

L
2500
=
= 8,3 mm
300
300

Ok!

BAB 6 Batang Lentur

81

Lendutan maksimum ()

I=

bd 3
80x 2003
=
= 53,33x106 mm4
12
12

5 wL4
384 E ' I
5
5 x 25004
384 18000 x53,33e6

= 2,65 mm << lendutan ijin (8,3 mm)


Dimensi balok 80/200 memenuhi persyaratan tahanan lentur,
tahanan geser, dan lendutan ijin. Walaupun demikian, dimensi balok
bisa diperkecil apabila diinginkan.

Contoh 2
Balok dengan sistem pembebanan seperti gambar di bawah
terbuat dari kayu dengan kode mutu E20. Beban terbagi merata dan
beban titik berasal dari beban mati (D). Pada balok tidak terdapat
pengaku lateral baik pada kedua ujungnya maupun pada sisi tekan.
Berdasarkan kombinasi pembebanan 1,4D dan faktor waktu () = 0,6,
tentukan dimensi balok yang memenuhi persyaratan gaya lentur dan
gaya geser.
P = 5 kN
w = 4 kN/m

d
3000 mm

82

Konstuksi Kayu

Penyelesaian
Hasil analisis struktur dengan kombinasi pembebanan 1,4D

Mmax =

4 x32 5 x3
wL2 PL

= 8,25 kNm
8
4
8
4

Mu = 1,4x8,25 = 11,55 kNm


Vmax =

wL P
4 x3 5
=
= 8,5 kN
2
2
2
2

Vu = 1,4x8,5 = 11,9 kN
Trial 1
Penampang balok adalah 60/150 (b = 60 mm dan d = 150 mm)
Karena tidak ada pengekang lateral pada balok, balok terlentur pada
sumbu kuatnya, dan nilai d/b (150/60 = 2,5) lebih besar daripada 2,00,
maka kontrol tahanan lentur ditentukan dengan Persamaan 6.5 sampai
dengan Persamaan 6.7.
Kontrol tahanan lentur

Fbx = Fbx = 47 MPa (semua faktor koreksi dianggap = 1,00)


Modulus penampang (Sx)

Sx =

bd 2
60x150 2
=
= 225.000 mm3
6
6

Menghitung faktor stabilitas balok (CL)

Mx* = Sx . Fbx = 225.000 x 47 = 10,575 kNm


lu/d = 3000/150 = 20
Karena lu/d lebih besar dari 14,3, maka:

le = 1,63lu + 3d = 1,63x3000 + 3x150 = 5340 mm

BAB 6 Batang Lentur

83

Rasio kelangsingan (Rb)


led
=
b2

Rb =

5340x150
= 14,9 (< 50)
60 2

Ok!

Ey05 = 0,69 Ew = 0,69x19000 = 13.110 MPa


Iy =

db3
150x60 3
=
= 5.400.000 mm4
12
12

Me = 2,40 E ' y 05

b =

le

= 2,40 x13110

5.400.000
= 31,8 kNm
5340

0.85 x31,8
s M e
=
=5
b M x *
0,6 x 0,85 x10,575

1 b
2cb

Iy

1 5
= 3,16
2 x0,95

2
1

b = 3,16
CL =

cb
2cb
2cb
1 b

3,162

5
= 0,987
0,95

Tahanan momen lentur terkoreksi (Mx)

Mx = CL. Sx . Fbx = 0,987x225.000x47 = 10,4 kNm


Momen lentur terfaktor (Mu)

Mu .b.Mx
11,55 kNm 0,6x0,85x10,4 = 5,3 kNm

... Tidak Ok!

84

Konstuksi Kayu

Trial 2
Penampang balok adalah 100/180 (b = 100 mm dan d = 180 mm)
Karena nilai d/b (180/100 = 1,8) lebih kecil daripada 2,0, maka pada
balok tidak diperlukan kekangan lateral; faktor koreksi stabilitas balok
(CL) bernilai 1,00.
Kontrol tahanan lentur

Fbx = 47 MPa
Sx =

bd 2
100x180 2
=
= 540.000 mm3
6
6

Mx = Sx . Fbx = 540.000 x 47 = 25,38 kNm


Momen lentur terfaktor (Mu)

Mu .b.Mx
11,55 kNm 0,6x0,85x25,38 = 12,94 kNm
Kontrol tahanan geser

Fv = Fv.CM.Ct.Cpt
Fv = 5,8x1,00x1,00x1,00 = 5,8 MPa
Tahanan geser terkoreksi (V):

V =

2
2 '
Fv bd = x5,8x100x180 = 69,6 kN
3
3

Gaya geser terfaktor (Vu):

Vu .v.V
8,75 kN 0,6x0,75x69,6 =31,32 kN

Ok!

... Ok!

BAB 6 Batang Lentur

85

Contoh 3
Balok gording dari rangka atap dengan bentang 3 m menerima beban
pada kedua sumbunya (sumbu kuat x-x, dan sumbu lemah y-y) seperti
gambar di bawah. Kayu yang akan digunakan memiliki kode mutu E17.
Rencanakan dimensi balok gording dengan kombinasi 1,2D + 1,6La +
0,8W. Gunakan faktor koreksi CM = Ct = Cpt = CF = 1,00.

Beban pada sumbu kuat


1500 mm

Beban pada sumbu lemah

0,8 kN (La)
1500 mm

0,2 kN/m (W)


0,75 kN/m (D)

0,5 kN (La)

0,5 kN/m (D)

d
3000 mm

3000 mm

Mx(D) = 0,75x32/8 = 0,844 kNm

My(D) = 0,5x32/8 = 0,5625 kNm

Mx(W) = 0,2x32/8 = 0,225 kNm

My(W) = 0 kNm

Mx(La) = 0,8x3/4 = 0,6 kNm

My(La) = 0,5x3/4 = 0,375 kNm

Penyelesaian
Momen terfaktor: Mux = 1,2Mx(D) + 1,6Mx(La) + 0,8Mx(W) = 2,1 kNm

Muy = 1,2My(D) + 1,6My(La) + 0,8My(W) = 1,275 kNm


Tegangan acuan kayu (kode mutu E17)

Ew = 16000 Mpa, dan Fb = 38 MPa

86

Konstuksi Kayu

Persamaan tegangan lentur:


M ux

b M x'

M uy

b M 'y

1,00

Trial 1 (Dimensi kayu b= 80 mm dan d = 150 mm)

Ix = 1503x80/12 = 22,5x106 mm4

Iy = 150x803/12 = 6,4x106 mm4

Sx = 1502x80/6 =300.000 mm3

Sy = 150x802/6 = 160.000 mm3

Karena nilai banding d/b (150/80 = 1,875) lebih kecil daripada 2,00,
maka pada balok tidak diperlukan pengekang lateral; CL = 1,00.

Fbx = CM . Ct . Cpt . CF . Fbx = 38 MPa


Mx = Sx. Fbx = 300.000x38 = 11,4 kNm
Fby = Fby = 38 MPa
My = Sy. Fby = 160.000x38 = 6,08 kNm

Kontrol tegangan lentur:


M ux

b M x'

M uy

b M 'y

1,00

2,1
1,275
1,00

0,8 x0,85 x11,4 0,8 x0,85 x6,08

BAB 6 Batang Lentur

87

0,27 + 0,31 1,00


0,58 1,00

Ok!

Kontrol lendutan balok


Lendutan ijin (max)

max =

L
3000
=
= 10 mm (Gording adalah konstruksi terlindung)
300
300

Lendutan akibat beban tetap

E = Ew.CM.Ct.Cpt = 16000 MPa


5 wL4
384 E ' I

Lendutan pada sumbu kuat (x) =

5 0,75 x3000 4
= 2,22 mm
384 16000 x 22,5e6

Lendutan pada sumbu lemah (y) =

Lendutan total () =

x 2 y 2

5 wL4
384 E ' I
5 0,5 x3000 4
= 5,15 mm
384 16000 x6,4e6

= 5,6 mm < max

Ok!

Dimensi balok 80/150 dapat digunakan. Dimensi balok yang lebih


kecil seperti 80/120 atau 60/120 dapat digunakan pada percobaan
berikutnya.