Anda di halaman 1dari 18

10

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGGUNAAN DAN MANFAAT OBAT
ACARA 3
MENYIAPKAN SEDIAAN OBAT 1
SEDIAAN PADAT

Disusun oleh :
Nama

: Nurul Sukmawati

NIM

: 15/386189?SV/09575

Kelompok : B 2
Asisten

: Ayu Dessy Essyanawati

LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

I.
II.

III.

Judul Praktikum : Menyiapkan Sediaan Obat Padat


Tujuan Praktikum :
1. Mengetahui cara penyiapan obat bagi bentuk sediaan padat (tablet, kapsul);
2. Mengetahui bahan dan teknik dalam penyiapan sediaan dalam bentuk padat
Tinjauan Pustaka
A. Macam-macam bentuk fisik obat
Sediaan Padat
Sediaan padat atau solid adalah sediaan yang mempunyai bentuk dan
tekstur yang padat dan kompak. Macam-macam sediaan padat pada obat
meliputi kapsul, serbuk atau pulvis, dan serbuk bagi atau pulveres (Anief,
2007). Termasuk juga diantaranya pil, supositoria, serta tablet (Anief,
1990). Granul dan bolus termasuk bentuk fisik obat dalam sediaan padat
(Blodinger, 1994).
Sediaan Semi Padat
Obat yang termasuk sediaan semi padat diantaranya salep, krim, pasta,
dan jeli. Salep adalah sediaan setengah padat untuk dipakai pada kulit. Krim
adalah sediaan setengah padat yang mengandung banyak air. Pasta adalah
suatu salep yang mengandung serbuk yang banyak seperti amilum dan ZnO
yang bersifat pengering. Jeli adalah suatu sediaan semi padat, kental, lekat
dan dibuat dari gom yang hidrasi. Digunakan pada kulit atau membrana
mukosa untuk efek pelumas atau sebagai bahan pembawa obat. Fungsi salep
adalah pembawa obat untuk pengobatan kulit, pelumas pada kulit,
pelindung terhadap rangsang pada kulit, bakteri, dan alergen (Anief, 2007).
Sediaan Cair
Bentuk sediaan cair dalam obat dapat berupa suspensi dan larutan
(Blodinger, 1994). Obat dalam bentuk sediaan cair biasanya diberikan
secara per oral serta parenteral. Contoh untuk penggunaan obat sediaan cair
melalui parenteral dengan injeksi. Injeksi adalah sediaan berupa larutan
emulsi atau suspensi dalam air atau cairan pembawa lain yang cocok, steril
dan digunakan secara parenteral yaitu dengan merobek lapisan kulit atau
lapisan mukosa. Untuk larutan dapat berupa larutan dalam air (injeksi
vitamin C), larutan dalam minyak (injeksi Oleum Camphoratum), larutan
lain seperti Solutio Petit (Injeksi luminal). Contoh suspensi yaitu suspensi
dalam minyak (injeksi Penicilin dalam minyak) dan contoh emulsi atau
mikroemulsi biasanya obat-obat hormon (Anief, 2007).
Sediaan Gas

Obat dalam keadaan gas atau uap diabsorpsi sangat cepat melalui
hidung, trachea, paru-paru dan selaput lendir pada perjalanan pernafasan.
Cara lama cairan anestesi dituang pada kain kasa sebagai tutup hidung, uap
yang timbul diisap (inhalasi). Cara modern menggunakan tutup hidup
hidung dan dipasang pada mesin atau alat. Alat inhalasi dapat berupa :
peghisap uap, alat penguap, alat penyemprot, aerosol, botol atau botol
pijatan (Anief, 2007).
Obat-obat yang diberikan ke dalam sistem pernafasan, seperti anti
asmatik, dapat diformulasikan dalam suatu aerosol atau larutan inhalasi
(Shargel&Yu, 2005). Terdapat tiga tipe aerosol yang dapat digunakan untuk
penggunaan topikal diantaranya aerosol semprotan pembasah atau
permukaan; aerosol aliran semprotan; dan aerosol busa (Anief, 2007).
B. Jalur pemberian obat sediaan padat
Jalur Oral
Penggunaan obat melalui oral bertujuan terutama untuk mendapatkan
efek sistemik, yaitu obat beredar melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh.
Penggunaan obat melalui oral adalah yang paling murah dan paling aman
(Anief, 2007). Keuntungan utama yang dapat diperoleh dari penggunaan
obat melalui jalur oral adalah kemudahan pemakaian dan menghilangkan
ketidakenakan yang terjadi pada pemakaian injeksi (Shargel&Yu, 2005).
Kerugiannya pada beberapa obat akan mengalami pengrusakan oleh cairan
lambung dan usus saat obat tersebut masuk ke dalam tubuh (Anief, 2007).
Cara ini dilakukan untuk menghindari bahaya dari pemberian intravena
yang cepat dan menyebabkan konsentrasi obat tinggi yang toksik dalam
darah. Rasa mual atau ketidakenakan lambung dapat terjadi pada beberapa
obat yang menyebabkan iritasi saluran cerna lokal, bioavaibilitas yang jelek
atau penurunan absorpsi mungkin disebabkan oleh antasid atau interaksi
makanan (Shargel&Yu, 2005). Kecepatan absorpsi obat melalui oral
tergantung pada ketersediaan obat terhadap cairan biologik yang disebut
ketersediaan hayati. Ketersediaan hayati adalah persentase obat yang
diabsorpsi tubuh dari suatu dosis yang diberikan dan tersedia untuk
memberi efek terapetiknya. Bentuk obat yang memberi aksi onset cepat
tidak selalu menguntungkan, sebab makin cepat obat diabsorpsi akan cepat
mengalami metabolisme dan ekskresi. Sedang obat yang diabsorpsi lambat
akana memberi aktivitas obat yang panjang (Anief, 2007).

Pada umumnya, obat-obat dengan berat molekul besar bila diberikan


secara oral tidak dapat diabsorpsi dengan baik. Beberapa molekul besar
diabsorpsi bila diberikan secara oral dengan absorpsi yang baik bila
diformulasikan dengan suatu surfaktan dalam minyak. Peranan minyak
adalah untuk merangsang aliran limfa dan juga menunda retensi obat.
Pembawa bersifat minyak telah digunakan untuk memperpanjang waktu
transisi dalam saluran cerna dari sediaan oral (Shargel&Yu, 2005). Oleh
karena itu pemilihan bentuk obat memerlukan pertimbangan terhadap
banyak faktor. Contoh bentuk obat padat untuk pemakaian oral adalah
tablet, kapsul, dan serbuk (Anief, 2007).
Jalur Rectal
Jalur pemberian obat secara rectal dilakukan untuk obat-obat yang
menyebabkan rasa mual atau dalam keadaan yang tidak memungkinkan
memberi obat secara oral. Absorpsi obat melalui rektal dapat menghindari
first pass effect yang disebabkan oleh enzim dalam hati. Pada umumnya,
obat yang diabsorpsi dalam daerah rektal bagian bawah tidak melewati hati,
sedangkan suatu obat yang diabsorpsi melalui daerah rektal bagian atas
melewati vena porta hepatik dan dapat diaktivasi oleh hati. Walau respon
obat hampir sama dengan rute pemberian yang berbeda, terdapat contoh di
mana terjadi perbedaan yang sangat dalam hal respons. Sebagai contoh,
pada obat isoproterenol sehubungan dengan rute pemberian yang berbeda
telah didapat perbedaan aktivitas 1000 kali (Shargel&Yu, 2005).
Jalur Topical
Penggunaan obat pada kulit dimaksudakn untuk memperoleh efek pada
atau di dalam kulit. Bentuk obat topikal dapat berupa padat, cair, dan semi
padat. Betuk obat padat untuk penggunaan topikal adalah serbuk yang
tujuannya menyerap lembab, mengurangi geseran antar dua lipatan kulit dan
sebagai bahan pembawa obatnya (Anief, 2007).
Jalur Parenteral
Anti parenteral ialah suatu rute yang tidak melalui usus. Istilah umum
yang lain ialah injeksi atau suntik. Injeksi adalah sediaan berupa larutan
emulsi atau suspensi dalam air atau cairan pembawa lain yang cocok, steril
dan digunakan secara parenteral yaitu dengan merobek lapisan kulit atau
lapisan mukosa. Untuk sediaan padat diberikan dapat berupa suspensi obat
padat dalam aqua, contoh injeksi suspensi hidrokortison asetat (Anief,

2007). Macam-macam rute penggunaan obat secara parenteral dapat melalui


injeksi intravena, injeksi subkutan, injeksi intramuskular, dan injeksi
intraartikular (Blodinger, 1994).
Pada umumnya pemakaian intravena memberikan mula kerja yang
paling cepat. Obat-obat yang diinjeksikan secara intravena langsung masuk
ke dalam darah dan dalam beberapa menit beredar ke seluruh bagian tubuh.
Suatu obat yang diinjeksikan secara intramuskular melibatkan penundaan
absorpsi karena obat berjalan dari tempat injeksi ke aliran darah. Suatu
keuntunga utama dari injeksi intramuskular dibanding injeksi intravena
adalah fleksibilitas formulasi. Suatu obat yang tidak larut dalam air tidak
dapat diberikan secara mudah melalui rute intravena. Untuk penggunaan
intravena ada beberapa injeksi dengan pelarut non aqueous, dan untuk
menghindari pengendapan obat maka injeksi tersebut harus diberikan
dengan sangat lambat. Kombinasi propilen glikol dengan pelarut-pelarut
yang lain telah digunakan dalam sediaan intravena (Shargel&Yu, 2005).
C. Macam sediaan obat padat
1. Tablet
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa-cetak, berbentuk rata
atau

cembung

rangkap,

umumnya

bulat,

mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau


tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan
dapat

berfungsi

pengembang,
pembasah.

zat
Tablet

sebagai
pengikat,

zat
zat

digunakan

pengisis,

zat

pelicin,

zat

untuk

tujuan

pengobatan lokal atau sistemik. Pengobatan lokal


misalnya :
a) Tablet

Gambar 1. Tablet
Sumber : dixabay.com

untuk vagina, berbentuk seperti

amandel, oval, digunakan sebagai anti infeksi, anti fungi, penggunaan


hormon secara lokal;
b) Lozenges, trochisci, digunakan untuk efek lokal di mulut dan
tenggorokan, umumnya digunakan sebagai anti infeksi.
Sementara itu, pengobatan untuk mendapatkan efek sistemik selain tablet
biasa yang ditelan masuk perut terdapat pula yang lain seperti :
a) Tablet Bukal, caranya dimasukan di antara pipi dan gusi dalam rongga
mulut, biasanya berisi hormon steroid, absorpsi terjadi melalui
mukosa mulut masuk peredaran darah;

b) Tablet Sublingual, caranya dimasukkan di bawah lidah, biasanya


berisi hormon steroid. Sebagai contoh, tablet Nitroglycerium
diberikan secara sublingual yang mempercepat pemberian efek pada
jantung dan bila melalui lambung akan dirusak;
c) Tablet Implementasi, berupa pellet, bulat atau oval pipih, steril
dimasukan secara implantasi dalam kulit atau badan;
d) Tablet Hipodermik dilarutkan dalam air steril untuk injeksi dan
disuntikan di bawah kulit (Anief, 1990).
Macam-macam tablet :
1) Tablet kempa;
2) Tablet kunyah, tablet besar yang tidak ditelan tetapi dikunyah sebagai
contoh tablet antasid;
3) Tablet salut, macam salut meliputi :
Salut gula dibuat dengan larutan gula atau disebut degree,
penyalutan dilakukan dengan larutan gula dalam panci dan panci
untuk mengkilapkan tablet yang diputar dengan motor penggerak
yang dilengkapi dengan alat penghisap dan sistem penghembusan
udara panas (Anief, 2007);
Salut tekan dibuat dengan mesin;
Salut film dibuat dengan polimer;
Salut enterik, salut yang tahan terhadap asam lambung dan tablet
hanya dapat hancur di usus, salut dibuat dari asam ftalat, resin, dan
asam stearat (Anief, 2007),
Salut kempa, yaitu tablet inti yang sudah jadi mengalami proses
kempa berupa granul halus dan kering lalu dikempa di sekitar
tablet ini (tablet dalam tablet). Tablet salut kempa pembuatannya
lebih cepat sehingga lebih ekonomis, selain itu pembuatannya
harus lembab serta tidak terjadi inkompatibilitas tablet karena
lembab;
Salut selaput, ialah tablet yang dilapisi lapisan selaput tipis dengan
zat penyalut yang dikenakan atau disemprotkan pada tablet (Anief,
2007).
4) Tablet efervesen, caranya tablet ini terlebih dahulu dilarutkan dalam
air dan akan mengeluarkan gas CO2. Tablet akan pecah dan larut. Jika
larutan obat ini diminum, rasanya seperti limun karena mengandung
rasa sirup dan segar karena ada gas CO2. Contohnya ialah tablet
Calcium D.Redoxson (Anief, 2007).
Keuntungan penggunaan tablet :

a) Pemberian yang mudah dari satu takaran akurat;


b) Mudah disesuaikan dengan berbagai ukuran takaran dari bahanbahan obat;
c) Tablet mudah diangkut dan kompak tidak memberikan suatu curah
(bulk);
d) Dapat menimbulkan paling sedikit masalah stabilitas
e) Tablet merupakan sediaan yang ekonomis (Blodinger, 1994)
f) Ukuran dosis tepat, dikemas dengan baik, mudah penyimpanan
(Aryani&Sadono, 2011).
Kerugian penggunaan tablet :
a) Tablet tidak memberikan kemungkinan untuk mengobati hewan;
b) Tablet tidak memberikan kemungkinan untuk mengobati kawanan
secara mudah;
c) Tablet dapat menunjukan bionekuivalensi (Blodinger, 1994).
d) Penggunaan tablet umunya digunakan untuk dewasa karena anakanak mengalami kesulitan menelan sediaan padat (Aryani&Sadono,
2011).
2. Kapsul
Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul keras
atau kapsul lunak. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa
zat tambahan lain. Cangkang dapat pula dibuat dari metilsselulosa atau
bahan lain yang cocok (Anief, 2007).
Macam-macam kapsul :
a) Capsulae Gelatinosae operculatae atau kapsul keras. Kapsul ini terdiri
dari wadah dan tutup. Cangkang kapsul keras dibuat dari campuran
gelatin, gula dan air. Cangkang kapsul ini
bening tak berwarna dan tak berasa (Anief,
2007). Kapsul gelatin keras ini bagian dasar
digunakan sebagai wadah obat dan bagian
atas sebagai tutupnya. Betuk kapsul ini
keras sehingga banyak orang menyangka
kaca yang tidak dapat hancur, tetapi bila Gambar 2.1 Kapsul Cangkang
terkena air akan mudah lunak serta hancur
(Anief, 2007).
b) Soft Capsule atau kapsul lunak. Merupakan

Keras
Sumber : 4bp.blogspot.com

kapsul yang tertutup dan berisi obat yang


pembuatan dan pengisiannya dilakukan
dengan alat khusus. Cangkang kapsul lunak
dibuat dari gelatin ditambah gliserin atau
Gambar 2.2 Kapsul Cangkang
Lunak
Sumber :
aulinadwi06.wordpress.com.

alkohol polihidris seperti sorbitol untuk melunakkan gelatinnya (Anief,


2007).
Keuntungan penggunaan kapsul :
a) Kapsul dapat diberi warna macam-macam agar menarik;
b) Pemberian warna juga membedakan isi kandungan dengan kapsul
yang lain;
c) Cangkang kapsul dapat dibuat dari gelatin atau tanpa campuran zat
tambahan lain (Anief, 2007)
d) Mudah diberikan;
e) Dapat dicernakan untuk bahan-bahan berlainan seperti serbuk,
granul, pelet, suspensi, emulsi atau minyak (Blodinger, 1994).
Kerugian penggunaan kapsul :
a) Kapsul disimpan dalam tempat yang tidak lembab;
b) Kapsul dapat disimpan dalam wadah yang diberi zat pengering;
c) Kapsul disimpan dalam wadah tertutup rapat;
d) Kapsul lunak diperlukan wadah obat cair atau cairan seperti minyak
levertran;
e) Waktu hancur tidak boleh lebih dari 15 menit (Anief, 2007).
3. Supositoria
Supositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur,
berbentuk torpedo, dapat melunak, melarut atau meleleh pada suhu tubuh.
Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada
suhu tubuh (Anief, 2007).
Keuntungan penggunaan supositoria diantaranya :
a) Dapat menghindari terjadinya irirtasi obat
pada lambung;
b) Dapat menghindari kerusakan obat oleh
enzim pencernaan;
c) Obat dapat masuk langsung dalam saluran
darah dan berakibat obat dapat memberi efek
lebih cepat daripada penggunaan per oral;
d) Bentuk torpedo jika masuk melalui otot

Gambar 3. Supositoria
Sumber : dokteranakku.net

penutup dubur maka akan tertarik masuk sendiri;


e) Pasien dapat muntah atau tidak sadar (Anief, 1990).
Kerugian penggunaan supositoria :
a) Penyimpanannya pada wadah yang tertutup;
b) Supositoria disimpan dalam ruangan yang
sejuk (Anief, 2007)
4. Pulvis (serbuk)
Serbuk adalah campuran homogen dua atau
lebih obat yang diserbukkan. Pada pembuatan
serbuk kasar, terutama simplisa nabati, digerus
Gambar 4. Pulvis (serbuk)
Sumber : img2.everychina.com

lebih dulu sampai derajat halus tertentu setelah itu dikeringkan pada suhu
tidak lebih dari 50o C. Derajat halus serbuk dinyatakan dengan satu nomor
atau dua nomor. Jika dinyatakan dengan 2 nomor dimaksudkan bahwa
semua serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak
lebih dari 40% melalui pengayak dengan nomor tertinggi. Sebagai contoh
22/60, dimaksudkan bahwa serbuk dapat melalui pengayak no 22
seluruhnya dan tidak lebih dari 40% melalui pengayak nomoor 60 (Anief,
2007).
Pulvis adspersorius atau serbuk tabur harus bebas dari butiran kasar
dan dimaksudkan untuk obat luar. Talk, kaolin dan bahan mineral lainnya
yang digunakan harus bebas dari bakteri Clostridium tetani dan Welchii
serta Bachillus anthrachis. Cara sterilisasi serbuk tabur ialah dengan
pemanasan kering pada suhu 150o C selama 1 jam. Dalam pembuatan
serbuk hendaknya obat-obat yang berkhasiat dicampur dengan Talk atau
Dolus Alba tidak dengan Zinci Oxydum (Anief, 2007).
Keuntungan penggunaan pulvis :
a) Dapat diberikan dengan mencampurnya bersama makanan hewan;
b) Dapat dikemas dalam kantung-kantung takaran satuan utuk digunakan oleh
c)
d)
e)
f)

pemilik hewan kesayangan;


Stabilitasnya baik;
Pengaturan takaran mudah;
Formulasi ini digunakan untuk pengobatan profilaktik;
Serbuk dapat diformulasikan sebagai suatu serbuk yang larut untuk

ditambahkan pada air minum;


g) Serbuk tersebut dapat diformulasikan sebagai suatu serbuk yang dapat
terbasahi untuk digunakan dalam pemberi minum cairan (Blodinger, 1994).
Kerugian penggunaan pulvis :
a) Kemungkinan takaran sebenarnya yang dikonsumsikan dapat berbeda luas
jika digunakan sebagai suatu hiasan bagian atas untuk mengobati sejumlah
hewan besar
b) Takaran ini tergantung pada kecukupan ampuran dan kebiasaan makan
5.

hewan (Blodinger, 1994).


Pulveres (serbuk bagi)
Pulveres atau serbuk bagi adalah serbuk
yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama,
dibungkus dengan kertas perkamen atau bahan
pengemas lain yang cocok. Cara dokter menulis
serbuk dalam resep yaitu ditulis jumlah obat lalu
Gambar 5. Pulveres (serbuk
bagi)
Sumber :
dikaramadanu.blogspot.com

dibagi menjadi beberapa bungkus dan dapat ditulis jumlah obat setiap
bungkus dan membuat berapa bungkus (Anief, 2007).
Keuntungan penggunaan pulveres :
a) Tiap satu bungkus dapat berisi 1 dosis obat (Anief, 2007).
b) Pemberian minum serbuk, volume biasanya kurang dari volume
pemberian minum cairan yang ekuivalen (Blodinger, 1994).
c) Memudahkan pasien anak-anak untuk menelan obat dalam bentuk
sediaan padat;
d) Pemberian ini dimaksudkan untuk meberkan kenyamanan pada anakanak saan mengkonsumsi obat (Helni, 2014)
Kerugian penggunaan pulveres :
a) Lebih sukar untuk mengobati jumlah besar hewan secara efisien dengan
formulasi ini daripada dengan pemberi minum cairan;
b) Formulasi serbuk tersebut harus mempunyai sifat-sifat aliran yang baik;
c) Untuk satu bobot jenis curah yang stabil karena takaran akan diukur
berdasarkan volume (Blodinger, 1994).
6. Pil
Pil adalah suatu sediaan yang berbentuk bulat seperti kelereng
mengandung satu atau lebih bahan obat. Berat pil
berkisar antara 100 mg sampai 500 mg. Pil kecil
yang beratnya kira-kira 30 mg disebut granul dan
pil besarnya lebih dari 500 mg disebut boli. Boli
biasanya digunakan untuk pengobatan hewan
seperti sapi, kuda, dan lain-lain (Anief, 1990).
Keunggulan penggunaan pil :
a) Dalam satu pil dapat mengandung satu atau
lebih bahan obat;
b) Penyalutan pil digunakan untuk menghindari

Gambar 6. Pil
Sumber : lusa.web.od

oksidasi zat aktifnya dan menghindari agar pil tidak pecah dalam
lambung;
c) Pil tidak mudah pecah dalam lambung;
d) Pil tidak bekerja dalam lambung tetapi di usus;
e) Penggunaan pil tidak mengiritasi lambung (Anief, 1990).
Kekurangan penggunaan pil :
a) Penyimpanan bentuknya tidak boleh berubah;
b) Tidak begitu keras sehingga dapat hancur dalam saluran pencernaan;
c) Pil salut enterik tidak hancur dalam lambung tetapi hancur dalam usus
halus (Anief, 1990).

D. Alat yang dipakai untuk meracik obat


Mortir dan Stemper
Mortir digunakan sebagai tempat pencampuran
berbagai macam bahan sediaan padat yang akan
dibuat obat (Anief, 1990)
Stemper

digunakan

untuk mengaduk

dan

menggerus bahan obat agar tercampur merata


Gambar 7 . Mortir dan
Stemper

menjadi satu (Anief, 2007).


Kertas Perkamen
Kertas
perkamen

digunakan

untuk

Sumber :
http://c2.statisticflickr.com

membungkus hasil serbuk bagi yang telah


dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama.
Sebagai pembungkus dapat digunakan kertas
perkamen atau bahan lain yang cocok (Anief,
2007).
IV.

Gambar 8 . Kertas perkamen

Materi dan Metode

Sumber : img.briceza.co.id

1. Kapsul
Alat : a. Mortir dan stemper
b. Sudip
c. Kertas perkamen
d. Kapsul nomor 1
Bahan : a. Paracetamol 6 tablet
b. Lactosum
Cara Kerja :
Siapkan bahan.

Masukan tablet paracetamol ke mortir.

Gerus/dihaluskan dengan stemper dan aduk secara searah.

Tambahkan lactosum secukupnya dan aduk secara searah.

Ratakan dan ambil dengan sudip. Taruh diatas kertas perkamen yang telah disiapkan.

Bagi untuk 12 kapsul.

Masukkan ke dalam kapsul no.1. Padatkan dengan cara diketuk.

Tutup rapat kapsul sampai bunyi krek / klil.

Beri etiket
2. Pulveres
Alat : a. Mortir dan stemper
b. Sudip
c. Kertas perkamen
d. Timbangan
Bahan : a. Acetocal 1 gr
b. Lactosum 2 gr
Cara Kerja :
Siapkan bahan.

Timbang acetocal sebanyak 1 gr dan lactosum 2 gr.

Masukkan acetocal ke mortir.

Gerus/dihaluskan dengan stemper dan aduk secara searah.

Tambah lactosum 2 gr dan aduk secara searah.

Ratakan dan ambil dengan sudip. Taruh diatas kertas perkamen yang telah disiapkan.

Bagi 12 bagian sama besar.

Lipat kertas tidak sampai bagian pada satu sisi. Lipat kembali sisi satunya menutupi obat.

Lipat miring dengan ujung satunya lebih besar dari ujung lain.

Satukan kedua ujung dengan cara memasukkan ujung satunya (yang kecil) ke dalam lubang
yang besar.

Beri etiket
V.

Hasil Praktikum
1. Pembuatan Pulveres
GAMBAR

KETERANGAN

Menyiapkan stamper, mortir, kertas


perkamen, sudip sebaga ialat, dan
menimbang lactose 2 gram dan acetosal 1
gram sebagai bahan pembuataan pulveres
.

Memasukkan acetosal terlebih dahulu


kemudian menggerusnya.
Bahan yang lebih sedikit di masukkan ke
dalam mortar terlebih dahulu agar bahan
bisa homogen semuanya

Memasukkan lactose ke dalam mortar dan


menggerusnya hingga homogen.
Mengumpulkan bubuk-bubuk yang
menenpel di dinding mortar dan stamper.

Menata kertas perkamen di atas meja,


dengan tataan menjajar untuk
mempermudah pengambilan dan agar tidak
tumpah.

Menuangkan serbuk obat yang sudah


homogeny ke kertas perkamen, lalu
membaginya menjadi 12 sama rata dengan
dikira-kira

Melipat kertas perkamen dengan rapi agar


obat di dalamnya tidak tumpah

Menaruhnya di dalam wadah dan member


etiket

2. Pembuatan Kapsul

GAMBAR

KETERANGAN

Menyiapkan cangkang kapsul keras, tablet obat,


dan lactosum

Menyiapkan stamper dan mortir, jangan lupa alasi


serbet/kain agar saat menggerus stamper dan
mortar dapat dilakukan dengan nyaman.

Memasukkan lactosum sebagai penambah bahan


agar kapsul saat diisi tidak ada ruang yang
kosong.

Memasukkan obat tablet ke dalam mortar dan


menggerusnya hingga halus dan homogen. Arah
penggerusan jangan bolak-balik/ tetap searah

Mengumpulkan bubuk yang menempel pada


dinding mortar dan stamper dan
menengahkannya, lalu menuangkannya dalam
kertas perkamen agar mudah menakarnya.

Membagi dalam 12 kertas perkamen agar mudah


mengira-ngira dan memudahkan memasukkan
bubuk ke dalam kapsul

Membuka tutup kapsul dan menuangkan bubuk


obat kedalamnya

Menutup kapsul dengan menekannya hati-hati


dan menaruhnya ke dalam wadah,
Sebelum dimasukkan dalam wadah, kapsul
dibersihkan dengan lap yang kering dan bersih
dahulu agar minyak-minyaknya hilang

VI.

Pembahasan

1.
Pada praktikum, pembuatan kapsul menggunakan parasetamol dan lactosum
dengan cara memasukan parasetamol dalam mortir, lalu digerus dengan stemper.
Kemudian dimasukkan lactosum ke dalam mortir, lalu homogenkan dengan stemper.
Sehabis itu masukan parasetamol dan lactosum yang telah terhomogen ke dalam kapsul.
Setelah parasetamol dan lactosum dimasukkan, tutup erat kapsul tersebut dan bersihkan
dengan serbet.
Cara pembuatan kapsul menurut literatur adalah buka bagian kapsul, badan
kapsul dimasukan ke dalam lubang pada bagian alat yang tidak bergerak/tetap,taburkan
serbuk yang akan dimasukan ke dalam kapsul, ratakan dengan bantuan alat kertas film,
tutup kapsul dengan cara merapatkan atau menggerakkan bagian alat yang bergerak
(Syamsuni, 2006).
Hasil praktikum dengan literatur tidak sesuai karena proses pada pembuatan
kapsulnya dari literatur tidak terlalu lengkap dikarenakan di literatur hanya dijelaskan
saat memasukkan sediaan ke dalam kapsul, tanpa disertakan saat proses
menghomogenkan campurannya. Selain itu, dalam literatur kapsul yang sudah
dimasukkan sediaan tidak dibersihkan terlebih dahulu dengan serbet agar lebih bersih
dan steril.
2. Pulveres

Pada praktikum, pembuatan pulveres menggunakan asetocal 1 gram dan


lactosum 2 gram dengan cara menimbang terlebih dahulu acetosal dan lactosumnya ,
lalu setelah itu masukan kedalam mortir, sehabis itu homogenkan dan masukan kedalam
kertas perkamen. Lalu bungkus dan beri label pada bungkus pulveresnya.
Cara pembuatan pulveres menurut literatur adalah serbuk diracik dengan cara
mencampur bahan obat satu per satu dan sedikit demi sedikit; dimulai dari bahan obat
yang jumlahnya sedikit, kemudian diayak yang biasanya menggunakan pengayak No.60
untuk serbuk agak kasar lalu dicampur lagi (Anief, 2007).
Hasil praktikum dengan literatur tidak sesuai karena adanya perbedaan pada
alat yang digunakan serta prosesnya pada literatur tidak terlalu lengkap juga berbeda
pada literatur proses langsung di jelaskan ketika mengayak sedangkan pada hasil
praktikum proses di jelaskan dari penimbangan bahan yang akan di buat menjadi
pulveres hingga pembungkusan dengan kertas perkamen

VII. Daftar Pustaka


Anief, M. 1990. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Anief, M. 2007. Apa yang Perlu Diketahui Tentang Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Anief, M. 2007. Farmasetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Aryani, N.L.D., Winata, S.R.J. 2011. Formulasi Sirup Pembawa yang Didapar Pada pH
5, 5 Untuk Sediaan Racikan Serbuk. Jurnal Sain dan Teknologi, Vol.4 No.2:101114.
Blodinger, J. 1994. Formulasi Bentuk-Bentuk Sediaan Veteriner. Surabaya : Airlangga
University Press.
Helni. 2014. Studi Keseragaman Bobot Sediaan Pulveres yang Dibuat Apotek di Kota
Jambi. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains Vol.16, No.1 : 39-44
Shargel, L., Wu-Pong, S., Yu, A.B.C. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Edisi
2. Surabaya : Airlangga University Press.
Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta : Penerbit EGC.