Anda di halaman 1dari 9

10

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGGUNAAN DAN MANFAAT OBAT
ACARA IV
SEDIAAN OBAT 2
(SEDIAAN CAIR)

Disusun oleh :
Nama

: Nurul Sukmawati

NIM

: 15/386189?SV/09575

Kelompok : B 2
Asisten

: Adretta Soedarmanto

LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

I.
II.

Judul Praktikum : Sediaan Obat Cair dan Infusa


Tujuan Praktikum :
1. Membuat larutan dari bahan padat sesuai dengan konsentrasi yang dikehendaki
2. Membuat atau mengencerkan larutan ke konsentrasi yang lebih rendah untuk
memudahkan penggunaannya
3. Menghitung jumlah yang diperlukan untuk membuat larutan sederhana,
menggunakan presentase dan ratio

III.
Tinjauan Pustaka
A. Sediaan Cair
1. Larutan
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu jenis obat atau lebih dalam
pelarut air suling kecuali dinyatakan lain, dimaksudkan untuk digunakan sebagai
obat dalam, obat luar atau untuk dimasukkan ke dalam rongga tubuh. Untuk
larutan (solutio) steril yang digunakan sebagai obat luar harus memenuhi syarat
yang tertera pada injectiones (Anief, 2007). Sebagai pelarut dapat digunakan air
atau ditambah zat cair lainnya seperti sedikit gliserin, alkohol dan sebagainya.
Contoh larutan dalam air adalah injeksi Vitamin C (Anief, 2009).
Sesuai penggunnaan, larutan dibagi menjadi :
a. Larutan steril : larutan untuk penggunaan luar sebagai pengobat luka atau
kulit terbuka; larutan iritasi kandung kemih; larutan intraperitoneum; alat
dan larutannya memerlukan wadah yang steril
b. Larutan tidak steril : larutan obat dalam dapat langsung diminum atau
yang harus diramu terlebih dahulu; larutan obat untuk kulit utuh; larutan
hemodialisa
c. Larutan antiseptik : mudah dicemari jasad renik yang telah resisten; air
yang digunakan harus air suling dan wadahnya harus bersih serta tidak
menggunakan tutup gabus; larutan steril tidak disuntikkan (Anief, 2007).
Larutan memberikan berbagai keuntungan diantaranya terhadap bentuk
takarannya, termasuk campuran homogen dan bahan obat terbagi merata pada
seluruh sediaan. Hal ini memudahkan pemberiaan suatu takaran merata satu obat
pada sejumlah besar hewan-hewan, seperti dengan pemakaian suatu wadah
takaran majemuk dan alat senapan pemberi minum pada domba. Ukuran takaran
dapat diubah dengan mudah pada larutan-larutan. Kerugiannya bentuk larutan ini
memerlukan banyak wadah-wadah untuk penyimpanan. Obat dalam larutan
termasuk paling peka terhadap degradasi sehingga penyimpanannya harus
dilakukan pada suhu kamar (Blodinger, 1994).
a) Potiones

Potiones adalah sediaan yang berupa cairan untuk diminum, dibuat sedemikian
rupa hingga dapat digunakan sebagai dosis tunggal dalam volume yang besar,
umumnya 50 ml. Contoh potiones diantaranya OBH dan OBP (Anief, 2007).
b) Sirup
Sirup adalah larutan pekat dari gula yang ditambah obat atau zat pewangi dan
merupakan larutan jernih berasa manis. Larutan gula yang encer, merupakan
medium pertumbuhan bagi jamur, ragi dan bakteri (Anief, 2007). Sirup dapat juga
merupakan larutan obat dalam larutan gula yang jenuh biasanya diberi esen
(Anief, 2009). Untuk contoh sirup yaitu biogestic sirup dan dumin sirup (Murini,
2015).
Ada tiga macam sirup yaitu :
Sirup simpleks mengandung 65% gula dalam larutan Nipagin 0,25% b/v
Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat
tambahan dan digunakan untuk pengobatan
Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi

atau zat penyedap lain. Tujuan pengembangan sirup ini adalah untuk
menutupi rasa tidak enak dan bau obat yang tidak enak (Anief, 2007).
c) Eliksir
Eliksir adalah suatu larutan alkoholis dan diberi pemanis mengandung obat
dan diberi bahan pembau. Sebagai pelarut adalah gliserin, sirup atau larutan
sorbitol (Anief, 2009). Eliksir ini digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut
utama adalah etanol 90% dan dapat ditambahkan gliserol, sorbitol, dan
propilenglikol. Eliksir berisfat hidroalkohol maka dapat menjaga obat baik yang
larut dalam air etanol dalam larutan eliksir. Kadar etanol berkisar antara 30%
sampai 44% dan biasanya eliksir mengandung etanol 5-10%. Contoh eliksir yaitu
Phenobarbital Elixir (Anief, 2007).
d) Tinktura
Tingtur adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi
simplisia nabati atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang
tertera pada masing-masing monografi. Kecuali dinyatakan lain, tingtur dibuat
menggunakan 20% zat khasiat dan 10% untuk zat khasiat keras. Penyimpanan
dilakukan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya dan di tempat sejuk.
Sebagai contoh adalah pembuatan maserasi dan pembuatan perkolasi (Farmakope,
1979). Contoh lainnya adalah sediaan cair halog sebanyak 8 ml (Murini, 2015).
2. Suspensi
Suspensi adalah dispersi kasar, dimana partikel padat yang tak larut terdispersi
dalam medium cair. Suspensi sirop antibiotika biasanya mengandung 25-500 mg

partikel padat per dosis. Pada pemakaian kulit dan maksud pelindung
mengandung fase dispers 20%. Suspensi untuk parenteral mengandung 0,5-30%
partikel padat tersuspensi. Suspensi untuk mencegah fase dispers mengenap
begitu cepat dan fase dispers yang mengenap pada dasar tempat wadah tak boleh
membentuk endapan yang keras tetapi dapat segera terdispersi kembali menjadi
campuran yang homogen bila wadahnya digojok. Untuk losion harus mudah
menyebar pada daerah pemakaian dan losion harus cepat kering dan membentuk
film pelindung. Suspensi dapat digunakan berbagai cara :
Injeksi intramuskuler (contoh suspensi Penicilin G)
Tetes mata (contoh suspensi Hidrokortison Asetat)
Melalui mulut (contoh suspensi Sulfat/Kemicetin)
Melalui rektum (contoh suspensi Paranitro Sulfathiazol) (Anief, 2007).
3. Emulsi
Emulsi adalah suatu sediaan yang mengandung dua zat cair yang tidak mau
campur, biasanya air dan minyak dimana cairan satu terdispersi menjadi butirbutir kecil dalam cairan yang lain. Ada dua macam tipe emulsi yang terbentuk
yaitu tipe M/A dimana tetes minyak terdispersi ke dalam fase air, dan tipe A/M
dimana fase intern adalah air dan fase ekstern adalah minyak. Fase intern disebut
pula fase dispers atau fase diskontinu. Sebagai contoh suspensi Efedrin dalam
emulsi M/A bila dipakai pada mukosa hidung diabsorpsi lebih lambat dibanding
larutan dalam minyak (Anief, 2007).
Sebagai contoh lain yaitu pembuatan sediaan emulsi oleum caryophylli
dilakukan dengan oleum caryophylli dan zat tambahan lainnya ditimbang terlebih
dahulu. Botol yang akan digunakan dikalibrasi terlebih dahulu. Pembuatan corpus
emuls terlebih dahulu dengan cara memasukkan air ke dalam mortir dan taburkan
emulgator di atasnya kemudian digerus kuat dan cepat sampai terdengar bunnyi
lengket yang menandakan corpus emuls telah terbentuk, lalu masukan ke dalam
botol dan tambahkan sedikit air kocok kuat. Asam benzoat dimasukan, berfungsi
sebagai pengawet dan sudah dilarutkan dengan propilenglikol sedikit demi sedikit
kocok kuat sampai homogen. Lalu tambahkan oleum caryophylli dan kocok kuat
sampai homogen, terakhir tambahkan air sampai batas kalibrasi (Yuliana, 2014).
B. Infusa
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan
air pada suhu 90o selama 15 menit. Pembuatannya campur simplisia dengan derajat
halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya, panaskan di atas tangas air
selama 15 menit terhitung mualai suhu mencapai 90 o sambil sekali-kali diaduk.

Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui
ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki. Infus daun sena dan infus
simplisia yang mengandung minyak atsiri, diserkai setelah dingin. Infus daun sena,
infus asam jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh
diperas. Asam jawa sebelum dibuat infus dibuang bijinya dan diremas dengan air
hingga masak seperti bubur, buah adasmanis dan buah adas harus dipecah dahulu.
Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan
khasiat; pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon,
ditambahkan Natrium Karbonat 10% dari bobot simplisia. Kecuali dinyatakan lain,
dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah, infus yang mengandung bukan
bahan khasiat keras, dibuat dengan menggunakan 10% simplisia (Farmakope,
1979).
C. Daun Beluntas
Kandungan zat dalam tanaman Beluntas (Pluchea indica Linn, Less /
Bachharis indica Linn / Sonchus volubilis Rumph ) diantaranya : triptofan, treonin,
isoleusin, leusin, calcium, phosphor, ferrum, vitamin A, C, lemak, minyak atsiri dan
alkaloid. Khasiatnya untuk pengobatan meliputi keputihan, haid tidak teratur,
kencing darah, bau keringat-peluruh keringat, gangguan pencernaan-menambah
nafsu makan, demam, syaraf lemah, rematik, koreng, dan borok. Ciri-ciri tubuhan :
Tumbuh liar, semak, tinggi mencapai 2 meter;
Banyak ranting-rantingnya, berbulu halus / pendek;
Biasa dipakai sebagai pagar hidup;
Daun tumbuh berseling, tangkai pendek, bentuk bulat telur, tepi daun bergerigi,
warna daun hijau kekuningan;
Bunga tumbuh pada ujung ranting atau ketiak daun, bentuk bongol, warna
ungu keputihan atau puith kecoklatan (Nugroho, dkk, 1994).
Golongan senyawa aktif yang teridentifikasi dalam daun beluntas antara lain
fenol hidrokuinon, tanin, alkaloid, steroid dan minyak atsiri. Senyawa tanin
bersifat sebagai astringet, mekanisme tanin sebagai astringen adalah dengan
menciutkan permukaan usus atau zat yang bersifat proteksi terhadap mukosa
usus dan dapat menggumpalkan protein. Oleh karena itu senyawa tanin dapat
membantu meringankan diare. Daun beluntas juga empunyai efektivitas
farmakologi

daya

antiseptik

terhadap

bakteri

penyebab

diare

yaitu

Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Salmonella typhimurium


(Nurhalimah, dkk, 2015).
IV.

Hasil Praktikum

1. Pengenceran 10 % glukosa
No.

Gambar

Keterangan

1.

Tuang aquades ke dalam tabung kornikel


sebanyak 10 ml

2.

Masukan 1 gram glukosa ke dalam aquades pada


tabung kornikel dan segera tutup rapat

3.

Homogenkan dengan cara mengocoknya


membentuk angka delapan dan terbentuklah
larutan glukosa 10%

4.

Untuk pengenceran, siapkan tabung kornikel 2


dan masukan 5 ml larutan glukosa 10%

5.

Selanjutnya dihomogenkan dengan cara


mengocoknya seperti membentuk angka delapan
dan terbentuk larutan glukosa 5% hasil
pengenceran larutan glukosa 10%
2. Pembuaatan sediaan infusa 10%

No.
1.

Gambar

Keterangan
Masukan air secukupnya pada panci 1, tunggu
hingga mendidih

2.

Tuangkan panci 2 diatas panci 1

3.

Ukur air menggunakan gelas ukur hingga


volume 100 ml dan masukan ke dalam panci 2
tambahkan 20 ml aquades

4.

Ukur suhu dalam panci menggunakan


termometer hingga menunjukan suhu 90oC

5.

Masukan serbuk daun beluntas 10 gram ke dalam


panci dan aduk agar merata

6.

Angkat dan saring serta letakkan di atas corong


lalu ditempatkan di atas gelas ukur

7.

Jika air hasil saringan belum mencapai 100 ml,


maka tambahkan air hingga volumenya 100 ml

II.
1.

Pembahasan
Pembuatan sediaan infusa 10%
Pada praktikum yang telah dilaksanakan bahan yang diperlukan untuk pembuatan
sediaan infusa yakni serbuk daun beluntas kering sebagai bahan utama pembuatan.
Alat yang diperlukan meliputi panci infusa untuk merendam
serbuk daun beluntas, pengaduk

untuk mengaduk serta

menghomogenkan bahan, gelas ukur untuk mengukur volume


air yang dibutuhkan dalam proses pembuatan sediaan infusa,
termometer digunakan untuk mengukur suhu larutan. Corong
dan kertas saring digunakan untuk memisahkan serbuk daun
Gambar 1. Hasil sediaan
beluntas dengan air hasil saringan.
infusa
Tahapan yang dilakukan dalam pembuatan sediaan infusa

10% dimulai dengan menyiapkan alat dan bahan yang


diperlukan, selanjutnya menuangkan air ke dalam gelas ukur sebanyak 100 ml.
Kemudian dituangkan ke panci yang telah dipanaskan serta ukur suhunya dengan
termometer hingga menunjukkan suhu 90oC. Serbuk daun beluntas sebanyak 10 gram
dimasukkan ke dalam panci kemudian aduk hingga rata. Masukkan air sebanyak 20 ml
tunggu hingga tercampur rata dan sesekali diaduk. Angkat dan saring ke dalam gelas
beker menggunakan corong. Selanjutnya air tambahkan hingga mencapai volume 100
ml jika air hasil saringan belum mencapai 100 ml.

Proses pembuatan sediaan infusa menurut literatur diawali dengan pencucian


daun beluntas. Dikeringkan dengan pengeringan kabinet suhu 60oC selama kurang
lebih 2 jam. Penghalusan dilakukan dengan blender kering sampai menjadi serbuk.
Proses ekstraksi dengan 2 metode, metode maserasi dengan pelarut etanol yaitu
direndam pada suhu 27oC selama 3 x 24 jam, metode infusa dengan pelarut air yaitu
direbus pada suhu 80-90oC selama 15 menit. Penyaringan dengan menggunakan kertas
saring halus (Nurhalimah, dkk, 2015). Literatur lain menyebutkan bahwa pembuatan
infusa dapat dilakukan dengan menggunakan bahan daun sesewanua. Daun sesewanua
dibuat infusa pada konsentrasi 20%, 40%, dan 80%. Daun sesewanua ditimbang untuk
masing-masing konsentrasi yaitu sebanyak 20 gram, 40 gram, dan 80 gram. Aquades
sebanyak 100 ml diletakkan pada waterbath, saat aquades telah mencapai suhu 90oC.
Dimasukkan daun sesewanua 20 gram, 40 gram, dan 80 gram. Diaduk berulang-ulang
selama 15 menit lalu diserkai dengan kain flanel. Apabila infusa kurang dari 100 ml
ditambahkan aquades secukupnya pada ampas infusa tersebut hingga diperoleh
volume 100 ml (Moot, dkk, 2013).
Berdasarkan hasil praktikum dan studi literatur diperoleh perbandingan pada
pembuatan sediaan infusa menggunakan daun beluntas pada proses penyajian daun
beluntas. Saat praktikum berlangsung daun beluntas yang digunakan sudah dalam
bentuk sediaan serbuk, sementara pada literatur disebutkan bahwa tahap pertama
pembuatan sediaan infusa yakni dengan penyiapan bahan meliputi pencucian
daunbeluntas lalu dilanjutkan dengan pengeringan pada suhu 60oC selama 2 jam
selanjutnya baru diblender untuk dijadikan serbuk. Namun perbedaan bentuk
penyajian daun beluntas baik yang masih segar maupun yang sudah diolah dalam
bentuk serbuk tidak memberikan pengaruh yang berarti pada hasil akhir pembuatan
infusa dari daun beluntas. Sementara itu pada praktikum tahap terakhir dilakukan
penambahan aquades pada air hasil saringan dikarenakan air hasil saringan belum
mencapai 100 ml. Hal ini didukung juga dengan literatur yang menyatakan bahwa
apabila infusa kurang dari 100 ml ditambahkan aquades secukupnya pada ampas
infusa tersebut hingga diperoleh volume 100 ml. Kekurangan air infusa ini dapat
disebabkan karena beberapa faktor salahsatunya waktu pemanasan dalam panci yang
terlalu lama menyebabkan penguapan air berlebih sehingga mengurangi kandungan air
rendaman serbuk daun beluntas.
III.

Daftar Pustaka

Anief, M. 2007. Farmasetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.


Anief, M. 2009. Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Blodinger, J. 1994. Formulasi Bentuk-bentuk Sediaan Veteriner. Surabaya : Airlangga
University Press.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga.
Jakarta : DepKes RI.
Moot, C. L., Bodhi, W., Mongi, J. 2013. Uji Efek Antipiretik Infusa Daun Sesewanua
(Clerodendron squamatum Vahl) terhadap Kelinci Jantan yang Diinduksi Vaksin
DTP HB. Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 2, No. 03 : 58-61.
Murini, T. 2015. Diktat : Bentuk Sediaan Obat (BSO) dalam Preskripsi. Yogyakarta :
Gadjah Mada University.
Nugroho, E., Whendrato, I., Madyana, I.M., N, K.E. 1994. Tetumbuhan Khasiat
Melawan Keputihan (Candida/flour/leucorrhoea). Semarang : Penerbit Eka Offset.
Nurhalimah, H., Wijayanti, N., Widyaningsih, T.D. 2015. Efek Antidiare Ekstrak Daun
Beluntas

(Pluchea indica L.) terhadap Mencit Jantan yang Diinduksi Bakteri

Salmonella typhimurium. Jurnal Pangan dan Agroindustri, Vol. 3, No. 3 : 10831094.


Yuliana, A. 2014. Uji Aktivitas Antijamur Formulasi Emulsi Minyak Cengkeh (Syzgium
aromaticum L. Merr). Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada, Vol. 12, No. 1 : 242253.