Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PAKAN

PEMBUATAN SILASE RUMPUT GAJAH DENGAN DEDAK AROMATIK


Disusun oleh :
KELAS B
KELOMPOK 5
Ilham Isfano

200110130173

Muhammad Nur Fakhri

200110140021

Wildan Hidayat

200110140031

Zhasa Nurlailya

200110140039

Muhamad Ramdan

200110140127

M. Sandi Yulloh

200110140158

Annisa Nurrohmah

200110140172

Marzuki Tanjung

200110140173

Syahrindra Anzala

200110140234

LABORATORIUM NUTRISI TERNAK UNGGAS,


NON RUMINANSIA DAN INDUSTRI MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2016

I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu kendala pada peternakan ruminansia adalah ketersediaan pakan kasar.
Ketersediaan pakan kasar berkualitas bagi ternak ruminansia di Indonesia sangatlah
fluktuatif. Pada musim hujan, hijauan berproduksi tinggi sehingga melimpah.
Sedangkan pada musim kemarau, hijauan merupakan pakan yang sulit didapat. Salah
satu cara untuk mengawetkan hijauan adalah dengan membuat silase. Silase adalah
pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian atau bijian berkadar air
tertentu yang telah diawetkan dengan cara disimpan dalam tempat kedap udara
selama kurang lebih tiga minggu. Penyimpanan pada kondisi kedap udara tersebut
menyebabkan terjadinya fermentasi pada bahan silase.
Fermentasi silase dimulai saat oksigen telah habis digunakan oleh sel tanaman.
Bakteri menggunakan karbohidrat mudah larut untuk menghasilkan asam laktat
dalam menurunkan pH silase. Tanaman di lapangan mempunyai pH yang bervariasi
antara 5 dan 6, setelah difermenatsi turun menjadi 3.6- 4.5.
Rumput gajah dimanfaatkan terutama sebagai hijauan makanan ternak bagi
ruminansia. Rumput ini merupakan rumput unggul yang banyak dibudidayakan dan
baik untuk makanan ternak karena mudah diusahakan, produksi dan nilai gizinya
tinggi serta mempunyai palatabilitas yang tinggi (Lubis, 1963). Silo adalah tempat
untuk membuat silase yang berbentuk menara diatas tanah atau lubang di bawah
tanah. Yang disebut silo, bisa berupa bangunan permanen berupa tembok, beton, besi,
seng atau bahan lain. Namun silo bisa hanya berupa lubang yang diberi alas plastik.
Silo permanen biasanya digunakan untuk menyimpan bahan pangan.

Oleh karena itu pada mata kuliah teknologi pangan ini diadakan praktikum
tentang pembuatan silase terutama pembuatan silase pada rumput gajah, agar rumput
gajah yang banyak dan tidak dapat dihabiskan langsung oleh ternak, dapat disimpan
sebagai cadangan makanan pada saat pakan mulai mengurang terutama pada musim
kemarau dengan kandungan nutrisi dan palatabilitas yang tinggi pula.
1.2 Identifikasi Masalah
1.

Bagaimana cara membuat silase rumput gajah dengan tambahan dedak aromatic

2.

Bagaimana hasil dari silase rumput gajah dengan tambahan dedak aromatic
1.3 Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui cara membuat silase rumput gajah dengan tambahan dedak aromatic
2. Mengetahui hasil dari silase rumput gajah dengan tambahan dedak aromatic
1.4 Waktu dan Tempat
Hari/tanggal

: Senin, 7 November dan 14 November , 2016

Waktu

: 10.00 12.00 WIB

Tempat

: Gedung Mini feednmill Fakultas Peternakan, Universitas


Padjadjaran.

II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Rumput Gajah
Berikut adalah klasifikasi dari Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
Kingdom

: Plantae

Phlum

: Spermatophyta

Class

: Monokotil

Ordo

: Poales

Family

: Poaceae

Genus

: Pennisetum

Spesies

: Pennisetum purpureum

Rumput gajah (Pennisetum purpureum) berasal dari afrika tropik, tumbuh


berumpun dan tingginya dapat mencapai 3 m lebih. Permukaan buluhnya licin dan
pada buluh yang masih muda bisanya ditutupi oleh sejenis zat lilin tipis. Pelepahnya
licin atau berbulu pada waktu muda dan kemudian berbulu-bulu tersebut gugur.
Daunnya berbentuk garis, pangkalnya lebar dan ujungnya lancip sekali. Tepi daun
kasar. Perbungaan berupa tandan tegak yang panjangnya sampai 25 cm, gaganggagangnya berbulu. Bulir-bulirnya berkelompok, terdiri dari 3-4 buliran tiap
kelompoknya dan bergagang pendek sekali. Pangkal bulirnya bulirannya berbulu
panjang dan halus. Perbanyakan dapat dilakukan dengan pemecahan rumpun dan
potongan-potongan buluhnya. Dapat tumbuh hingga pada ketinggian 1500 m dpl,
rumput gajah mempunyai daun relatif besar, bunga tersusun dalam tandan warna
keemasan, batangnya tebal dan keras. (Okaraonye dan Ikewuchi, 2009)

Rumput gajah banyak disukai ternak karena bernilai gizi yang tinggi (Soegiri et
al., 1980). Produktifitas rumput gajah adalah 40 ton per hektar berat kering pada
daerah beriklim subtropis dan 80 ton per hektar pada daerah beriklim tropis (Woodard
dan Prine, 1993). Total karbohidrat dan serat kasar termasuk selulosa jumlahnya
masing-masing adalah 30,91% dan 9,09%.
Masa panen rumput gajah yaitu saat umur 55-60 hari atau saat belum berbunga.
pada umur tersebut rumput gajah belum tua tidak terlalu muda. Cara memanen
rumput gajah adalah dengan cara memotong batang nya dari bagian tanah, kira-kira
dengan ketinggian 10-15 cm dari permukaan tanah. Kalau pemotongannya tinggi atau
terlalu rendah, maka tunas yang tumbuh tidak akan banyak, maka pemotongan
rumput gajah harus diperhatikan dengan jarak yang pas dari tanah. Rumput gajah
dibudidayakan dengan potongan batang (stek) atau sobekan rumpun (pous) sebagai
bibit. Bahan stek berasal dari batang yang sehat dan tua, dengan panjang stek 20-25
cm (2-3 ruas atau paling sedikit 2 buku atau mata). Sebelum penanaman bagian
vegetatif dari sobekan rumpun dipangkas terlebih dahulu untuk menghindari
penguapan yang tinggi sebelum sistem perakaran dapat aktif menghisap air. Analisis
kandungan kimia dari rumput gajah adalah sebagai berikut:

Illustrasi 1. analisis kandungan kimia dari rumput gajah (Okaraonye dan


Ikewuchi, 2009)

Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan tanaman pakan ternak yang


sangat responsif terhadap pemupukan berat yaitu pada dosis 40 ton pupuk
kandang/ha/tahun, 800 kg/urea/ha/tahun, 200 kg KCl/ha/tahun dan 200 kg
TSP/ha/tahun (Lugiyo dan Sumarto, 2000). Rumput gajah juga sebagai tanaman
konservasi lahan, terutama di daerah bertopografi pegunungan dan berlereng
(Prasetyo, 2003). Adiati et al. (1995) menyatakan bahwa pertumbuhan dan produksi
rumput gajah di Indonesia sangat bervariasi. Pertumbuhan dan produksi rumput ini
akan lebih baik bila dilakukan pemupukan dengan dosis yang tepat dan sesuai.
Penggunaan dosis pupuk N, P, dan K secara optimal dapat meningkatkan produksi
rumput gajah.
2.2 Dedak
Dedak padi merupakan limbah pengolahan padi menjadi beras dan kualitasnya
bermacam-macam tergantung dari varietas padi. Dedak padi adalah hasil samping
pada pabrik penggilingan padi dalam memproduksi beras. Dedak padi merupakan
bagian kulit ari beras pada waktu dilakukan proses pemutihan beras. Dedak padi
digunakan sebagai pakan ternak, karena mempunyai kandungan gizi yang tinggi,
harganya relatif murah, mudah diperoleh, dan penggunaannya tidak bersaing dengan
manusia. Produksi dedak padi di Indonesia cukup tinggi per tahun dapat mencapai 4
juta ton dan setiap kuwintal padi dapat menghasilkan 18-20 gram dedak.
(Schalbroeck, 2001). Penggilingan padi dapat menghasilkan beras giling sebanyak
65% dan limbah hasil gilingan sebanyak 35%, yang terdiri dari sekam 23%, dedak
dan bekatul sebanyak 10%. (Yudono et al., 1996). Protein dedak berkisar antara 1214%, lemak sekitar 7-9%, serat kasar sekitar 8-13% dan abu sekitar 9-12% (Murni et
al., 2008).
Dedak padi merupakan bahan pakan yang telah digunakan secara luas oleh
sebagian peternak di Indonesia. Sebagian bahan pakan yang berasal dari limbah

agroindustri. Dedak mempunyai potensi yang besar sebagai bahan pakan sumber
energi bagi ternak (Scott et al.,1982). Kelemahan utama dedak padi adalah
kandungan serat kasarnya yang cukup tinggi, yaitu 13,0% dan adanya senyawa fitat
yang dapat mengikat mineral dan protein sehingga sulit dapat dimanfaatkan oleh
enzim pencernaan. Inilah yang merupakan faktor pembatas penggunaannya dalam
penyusunan ransum. Namun, dilihat dari kandungan proteinnya yang berkisar antara
12-13,5 %, bahan pakan ini sangat diperhitungkan dalam penyusunan ransum unggas.
Dedak padi mengandung energi termetabolis berkisar antara 1640 1890 kkal/kg.
Kelemahan lain pada dedak padi adalah kandungan asam aminonya yang rendah,
demikian juga halnya dengan vitamin dan mineral (Rasyaf, 2004).
Sebagai bahan pakan dedak padi mempunyai beberapa karakter yaitu
mempunyai struktur yang cukup kasar, Mempunyai bau khas wangi dedak, Berwarna
coklat dan tidak menggumpal, Dedak padi umumnya tidak tahan disimpan dan cepat
menjadi tengik. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan lemak. Dedak padi
ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh waktu atau musim. Pakan ini merupakan
bahan yang bersifat mudah rusak selama penyimpanan jika disimpan melebihi waktu
tertentu.
Penambahan dedak padi sebagai sumber karbohidrat diharapkan dapat mudah
larut dan dapat dengan cepat dimanfaatkan oleh BAL sebagai nutisi untuk
pertumbuhannya. Kandungan nutrisi dedak padi pabrik kualitas nomor satu adalah
protein kasar I 1,9%, energi metabolis 2200 kkaV kg, lemak 12,l%, serat kasar
10,0%, fosfor 1,3%, kalsium 0,1% (Hartadi et al., 1993). Limbah penggilingan padi
dengan karbohidrat atau serat kasar sebesar l0% dapat menstimulasi pertunbuhan
BAL. Ditinjau dari harganya bahan ini murah dan mudah didapatkaq sehingga cocok
untuk aditifsilase.
Dedak aromatic didapatkan dari pencampuran antara dedak padi, molasses dan
probiotik dengan perbandingan tertentu. Probiotik yang digunakan adalah probiotik

Heriyaki yang memiliki kandungan mikroba proteolitik, amilolitik, dan selulolitik


yang diharapkan dapat merombak bahan menjadi produk lain yang memiliki
karakteristik dan manfaat yang lebih baik.
2.3 Silase
Silase adalah pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian atau
bijian berkadar air tertentu yang telah diawetkan dengan cara disimpan dalam tempat
kedap udara selama kurang lebih tiga minggu. Penyimpanan pada kondisi kedap
udara tersebut menyebabkan terjadinya fermentasi pada bahan silase. Tempat
penyimpanannya disebut silo. Silo bisa berbentuk horizontal ataupun vertikal. Silo
yang digunakan pada peternakan skala besar adalah silo yang permanen, bisa
berbahan logam berbentuk silinder ataupun lubang dalam tanah (kolam beton). Silo
juga bisa dibuat dari drum atau bahkan dari plastik. Prinsipnya, silo memungkinkan
untuk memberikan kondisi anaerob pada bahan agar terjadi proses fermentasi. Bahan
untuk pembuatan silase bisa berupa hijauan atau bagian-bagian lain dari tumbuhan
yang disukai ternak ruminansia, seperti rumput, legume, biji bijian, tongkol jagung,
pucuk tebu, batang nanas dan lain-lain. Kadar air bahan yang optimal untuk dibuat
silase adalah 65-75% . Kadar air tinggi menyebabkan pembusukan dan kadar air
terlalu rendah sering menyebabkan terbentuknya jamur. Kadar air yang rendah juga
meningkatkan suhu silo dan meningkatkan resiko kebakaran (Heinritz, 2011).
Teknologi silase adalah suatu proses fermentasi mikroba merubah pakan menjadi
meningkat kandungan nutrisinya (protein dan energi) dan disukai ternak karena
rasanya relatif manis. Silase merupakan proses mempertahankan kesegaran bahan
pakan dengan kandungan bahan kering 30 35% dan proses ensilase ini biasanya
dalam silo atau dalam lobang tanah, atau wadah lain yang prinsifnya harus pada
kondisi anaerob (hampa udara), agar mikroba anaerob dapat melakukan reaksi
fermentasi. Keberhasilan pembuatan silase berarti memaksimalkan kandungan

nutrien yang dapat diawetkan. Selain bahan kering, kandunganm gula bahan juga
merupakan faktor penting bagi perkembangan bakteri pembentuk asam laktat selama
proses fermentasi (Khan et al., 2004).
2.3.1 Metode dan Prinsip Dasar Pembuatan Silase
1.

Metode Pemotongan

Hijauan dicincang dahulu dengan ukuran 3-5 cm.

Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik

Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)

Tutup dengan plastik dan tanah

2.

Metode Pencampuran
Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk

mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk,


meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan campuran dapat berupa:
asam-asam organik (asam formiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat),
molases/tetes, garam, dedak padi, menir /onggok.
3.

Metode Pelayuan

Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering 40% 50%)

Lakukan seperti metode pemotongan


Proses pembuatan silase secara garis besar terdiri atas empat fase : (1) fase aerob;

(2) fase fermentasi; (3) fase stabil dan (4) fase pengeluaran untuk diberikan kepada
ternak. Setiap fase mempunyai ciri-ciri khas yang sebaiknya diketahui agar kualitas
hijauan sejak dipanen, pengisian ke dalam silo, penyimpanan dan periode pemberian
pada ternak dapat dipelihara dengan baik agar tidak terjadi penurunan kualitas hijauan
tersebut (Sapienza dan Bolsen, 1993). Proses pembuatan silase (ensilage) akan
berjalan optimal apabila pada saat proses ensilase diberi penambahan akselerator.
Akselerator dapat berupa inokulum bakteri asam laktat ataupun karbohidrat mudah

larut. Fungsi dari penambahan akselerator adalah untuk menambahkan bahan kering
untuk mengurangi kadar air silase, membuat suasana asam pada silase, mempercepat
proses ensilase, menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan jamur, merangsang
produksi asam laktat dan untuk meninngkatkan kandungan nutrien dari silase
(Schroeder, 2004).
Selama proses fermentasi asam laktat yang dihasilkan akan berperan sebagai zat
pengawet sehingga dapat menghindarkan pertumbuhan mikroorganisme pembusuk.
Bakteri asam laktat dapat diharapkan secara otomatis tumbuh dan berkembang pada
saat dilakukan fermentasi secara alami, tetapi untuk menghindari kegagalan
fermentasi dianjurkan untuk melakukan penambahan inokulum bakteri asam laktat
(BAL) yang homofermentatif, agar terjamin berlangsungnya fermentasi asam laktat.
Inokulum BAL merupakan additive paling populer dibandingkan asam, enzim atau
lainnya. Peranan lain dari inokulum BAL diduga adalah sebagai probiotik, karena
inokulum BAL masih dapat bertahan hidup di dalam rumen ternak dan silase pakan
ternak dapat meningkatkan produksi susu dan pertambahan berat badan pada sapi
(Weinberg et al., 2004).
2.3.2 Kriteria Silase Yang Baik
Temperature yang baik untuk silase berkisar 27oC hingga 35oC. (Kartadisastra,
2004). Pada temperature tersebut, kualitas silase yang dihasilkan sangat baik. Kualitas
tersebut dapat diketahui secara organoleptik, yaitu:
1.

Mempunyai tekstur segar

2.

Berwarna kehijau-hijauan

3. Tidak berbau busuk


4. Disukai ternak
5. Tidak berjamur
6. Tidak menggumpal

Silase yang baik biasanya berasal dari pemotongan hijauan tepat waktu
(menjelang berbunga), pemasukan ke dalam silo dilakukan dengan cepat,
pemotongan hijauan dengan ukuran yang memungkinkannya untuk dimampatkan,
penutupan silo secara rapat (tercapainya kondisi anaerob secepatnya) dan tidak sering
dibuka.

Silase yang baik beraroma dan berasa asam, tidak berbau busuk. Silase

hijauan yang baik berwarna hijau kekuning-kuningan, dipegang terasa lembut dan
empuk tetapi tidak basah (berlendir). Silase yang baik juga tidak menggumpal dan
tidak berjamur. Kadar keasamanya (pH) apabila dilakukan analisa lebih lanjut adalah
3,2-4,5. Silase yang berjamur, warna kehitaman, berair dan aroma tidak sedap adalah
silase yang mempunyai kualitas rendah (Rukmana, 2005).
Silase bisa digunakan sebagai salah satu atau satu satunya pakan kasar dalam
ransum sapi potong. Pemberian pada sapi perah sebaiknya dibatasi tidak lebih 2/3
dari jumlah pakan kasar. Silase juga merupakan pakan yang bagus bagi domba tetapi
tidak bagus untuk kuda maupun babi. Silase merupakan pakan yang disukai ternak
terutama bila cuaca panas. Ternak yang belum terbiasa mengkonsumsi silase, maka
pemberiannya dapat dilakukan secara sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan
yang biasa dimakan (Hanafi, 2008). Keberhasilan pembuatan silase berarti
memaksimalkan nutrien yang dapat diawetkan. Silase yang baik diperoleh dengan
menekan berbagai aktivitas enzim yang berada dalam tanaman dan yang tidak
dikehendaki serta mendorong berkembangnya bakteri asam laktat (Sapienza dan
Bolsen, 1993).
Mikroba yang tidak diinginkan bersaing menggunakan karbohidrat yang terlarut
dengan bakteri penghasil asam laktat sehingga hasil akhir metabolismenya tidak
menghasilkan bahan-bahan yang bersifat mengawetkan. Silase yang baik mempunyai
cirri-ciri yaitu rasa dan bau asam, warna masih hijau, tekstur hijauan masih jelas,
tidak berjamur atau berlendir, banyak asam laktat, kadar ammonia rendah (kurang

dari 10%), tidak mengandung asam butirat dan pH rendah dengan kisaran 3,5-4 (Aksi
Agraris Kanisius, 1983).

INDIKATOR
PENILAIAN

NILA
I

PENJELASAN

1.

Wangi

25

Wangi seperti buahbuahan dan sedikit


asam, sangat wangi
dan terdorong untuk
mencicipinya.
2. Ingin mencoba
mencicipinya tetapi
asam, bau wangi
1. Bau asam, dan
apabila diisap oleh
hidung, rasa/wangi
baunya semakin kuat
atau sama sekali tidak
ada bau.
2. Seperti jamur dan
kompos bau yang tidak
sedap

NILAI
YANG
DIPEROLE
H

1.

Rasa

Warna

25

25

Apabila dicoba digigit,


manis dan terasa asam
seperti
youghurt/yakult.
1. Rasanya sedikit asam
1. Tidak ada rasa
1. Rasa yang tidak
sedap, tidak ada
dorongan untuk
mencobanya.
1.

Hijau kekuningkuningan
1. Coklat agak kehitam-

25
20
10
0

25
20
5
0

25
10

1.

hitaman
Hitam, mendekati
warna kompos

1.

Sentuhan

25

JUMLAH
100

Kering, tetapi apabila


dipegang terasa
lembut dan empuk.
Apabila menempel
ditangan karena
baunya yang wangi
tidak dicucipun tidak
apa-apa
1. Kandungan airnya
terasa sedikit banyak
tetapi tidak terasa
basah. Apabila
ditangan dicuci bau
wanginya langsung
hilang.
2. Kandungan airnya
banyak, terasa basah
sedikit (becek) bau
yang menempel
ditangan, harus dicuci
dengan sabun supaya
baunya hilang.

25
10
0

Jumlah nilai = Nilai wangi


+ Nilai rasa + Nilai warna +
Nilai sentuh

Table 1. Penilaian terhadap kualitas silase yang dihasilkan dari


proses pembuatan silase yang disimpan selama 21 hari dalam
suasana silo.

2.3.3

Bakteri Asam Laktat(BAL) Dan Asam Format


Bakteri asam laktat (BAL) sangat dibutuhkan untuk menghasilkan silase yang

berkualitas baik. Bila bakteri ini terlibat dalam proses ensilase, maka akan terjadi
fermentasi asam laktat. Jenis bakteri asam laktat yang bekerja dalam fermentasi

termasuk genus Lactobacillus, Streptococcus, Leuconostoc, Pediococcus. Genusgenus ini dikelompokkan menjadi dua golongan berdasarkan produk akhir
fermentasinya yaitu bakteri homofermentatif dan heterofermentatif (Ross, 1984).
Bakteri asam laktat (BAL) ini selalu ditemukan pada hijauan bagian luar tetapi
peranannya belum dapat diketahui dengan jelas. Diduga keberadaan BAL ini dalam
tanaman untuk melindungi tanaman dari serangan pathogenik mikroorganisme
dengan memproduksi antagonistik komponen seperti beberapa asam, bakteriosin dan
agen anti-fungal. Hal ini mungkin ada benarnya setelah ditemukan BAL dalam
jumlah yang banyak pada bagian tanaman yang rusak (Bolsen, 1985).
Keberhasilan pembuatan silase tergantung dari besarnya populasi bakteri asam
laktat, sifat fisik antara lain karbohidrat, temperatur, pH dan juga perbandingan antara
sumber karbohidrat dan protein. Kadar air bahan untuk pembuatan silase sebaiknya
berkisar dari 65 - 75% (Bolsen, 1985). Bila kadar air lebih rendah dari 65%, keadaan
anaerob sukar dicapai sehingga jamur akan tumbuh. Namun bila kadar air lebih dari
75%, Clostridia dapat berkembang biak sehingga banyak dihasilkan asam butirat dan
senyawa-senyawa nitrogen yang terlarut yang akan menurunkan kandungan nutrisi
yang dihasilkan. Untuk mencapai kadar air yang dianjurkan perlu dilakukan pelayuan
dahulu sebelum bahan dibuat silase.
Asam format adalah jenis asam karboksilat yang paling sederhana. Asam format
secara alami terdapat antara lain pada sengat lebah dan semut. Asam format juga
merupakan senyawa intermediet atau senyawa antara yang penting dalam banyak
sintesis kimia. Rumus kimia asam format dapat dituliskan sebagai HCOOH atau
CH2O2. Asam format ditemukan secara alami pada sengatan dan gigitan banyak
serangga dari ordo Hymenoptera, misalnya lebah dan semut. Asam format juga
merupakan hasil pembakaran yang signifikan dari bahan bakar alternatif, yaitu
pembakaran metanol (dan etanol yang tercampur air), jika dicampurkan dengan
bensin. Nama asam format berasal dari kata Latin formica yang berarti semut. Pada

awalnya, senyawa ini diisolasi melalui distilasi semut. Senyawa kimia turunan asam
format, misalnya kelompok garam dan ester, dinamakan format atau metanoat. Ion
format memiliki rumus kimia HCOO.

III
ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA
3.1

3.2

Alat
1

Mesin Chopper Rumput

Terpal plastik

Drum plastik kapasitas 60 liter

Timbangan kapasitas 100 kg

Garu kayu
Bahan

Rumput gajah

Bahan aditif (dedak aromatik)

3.3
1

Prosedur Kerja
Melakukan pengecilan ukuran bahan dengan cara dipotong dengan ukuran 3-5
cm menggunakan chopper.

Menimbang bahan 70 kg dan tambahkan 0,5% dedak aromatik dari bahan


yang ditimbang.

Menyiapkan terpal plastik ukuran 3 x 2 meter.

Menyimpan bahan di atas terpal plastic perlakuan dengan garu kayu sehingga
didapat ketinggian lebih kurang 10 cm.

Menaburkan dedak aromatik secara merata.

Mengaduk bahan dan dedak aromatik, dengan cara menarik ujung terpal
berlawanan arah dan berulang, sehingga bahan campuran jadi homogen.

Memasukkan hasil pencampuran ke dalam tong plastik kapasitas 60 liter, dan


padatkan dengan diinjak-injak sampai padat

Menutup drum sampai terkunci, sehingga didapatkan kondisi anaerob.

IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Tabel Pengamatan Pembuatan Silase Menggunakan Dedak Aromatik
Pengamatan

Sebelum Di Fermentasi

Sesudah Di Fermentasi

Warna

Hijau

Sedikit Kecoklatan

Rasa

Khas Rumput

Sedikit Asam

Aroma

Khas Rumput

Aroma hasil fermantasi

Tekstur

Sedikit Kasar

Lebih Halus

4.2 Pembahasan
Silase merupakan awetan segar yang disimpan dalam silo pada kondisi anaerob.
Pada suasana tanpa udara tersebut akan mempercepat pertumbuhan bakteri anaerob
untuk membentuk asam laktat. Pada praktikum kali ini pembuatan silase
menggunakan metode pencampuran dimana sebelum rumput dimasukan kedalam
tong dilakukan pencampuran dengan menambahkan bahan additive terlebih dahulu,
bahan rumput gajah yang kemudian dicacah dengan panjang cacahan 10-50mm
menggunakan chopper tujuan dari pengecilan partikel rumput gajah ini adalah agar
rumput yang dimasukkan dalam silo dalam keadaan rapat dan padat sehingga tidak
ada ruang untuk oksigen dan air yang masuk.

Setelah rumput gajah dipotong potong kemudian ditaburi dedak aromatic


dengan perbandingan 70kg rumput gajah, 0,5% dedak aromatic penggunaan dedak
aromatic pada pembuatan silase ini

bertujuan karena selama proses fermentasi

diperlukan stater untuk merangsang perkembangan bakteri asam laktat, stater dapat
menggunakan bahan yang merupakan sumber karbohirat misalnya : tetes atau gula
pasir atau dedak hal ini diperlukan bila bahan dasarnya kurang mengadung
karbohidrat, dapat pula dibantu dengan bahan kimia (asam formiat) bila kandungan
air dari bahan cukup tinggi, hal tersebut dibenarkan dengan adanya jurnal yang
melakukan penelitian mengenai silase dan menyatakan bahwa penambahan
karbohidrat tersedia seperti tetes, onggok dan bekatul untuk mempercepat
terbentuknya asam laktat serta menyediakan sumber energi yang cepat tersedia bagi
bakteri. ( Risna Esti Mugiawati dkk, 2013)
Setelah campuran merata baru dimasukan ke dalam tong plastic, sedikit demi
sedikit sehingga padat. Padatkan sehingga tidak ada celah untuk udara di dalam
kantong plastik, bila tidak padat akan merusak kualitas silase yang dihasilkan.
Pembuatan silase harus dilakukan secara anaerob dikarenakan penyimpanan pada
kondisi kedap udara tersebut menyebabkan terjadinya fermentasi pada bahan silase.
Setelah rumput dimasukan kedalam tong plastic kemudian tutup rapat tong tersebut dan
disimpan selam 21 hari, namun dalam praktikum kali ini waktu yang dibutuhkan untuk
membuat silase kurang dari 21 hari tetapi saat pengecekan silase pada hari ke-8 rumput gajah
sudah berubah menjaddi silase yang titandai dengan suhu silase pada saat diambil hangat
karena sudah tidak adanya aktifitas mikroorganisme, aromanya yang berbau seperti

tapai atau aroma khas fermentasi, warnanya yang berubah mennjadi kecoklatan dan
teksturnya yang sudah mulai melunak hal tersebut dapat disimpulkan silase berhasil,
hal tersebut di benarkan oleh literature yang didapatkan bahwa Selain Ph, wama dan
tekstur silase yang juga merupakan peubah kualitas silase yang dihasilkan. Silase
yang dihasilkan memenuhi kriteria, baik kiteria wama maupun kriteria tekstur silase

yang baik, yaitu kuning kecoklatan dan lembut. Persentase kensakan silase yang
dihasilkan berada pada kisaran 2%-3%. Suhu silase pada waktu dipanen dijadikan
salah satu l<riteria atau peubah kualitas silase yang dihasilkan. Suhu silase yang
dihasilkan pada semua perlakuan berkisar antara 26-28oC. Silase masih dikaakan
berhasil baik karena suhu panen yang dihasilkan beberapa derajat masih berada di
bawah suhu lingkungan. Sebaliknya apabila melebihi suhu lingkungan sampai 5-10 oC
berarti silase tersebut diduga telah terkontaminasi mikoorganisme yang lain seperti
kapang dan jamur. (R, Ridwan, S. Ratnakomala, G Kartina & Y. Widyastuti, 2005).

V
KESIMPULAN

Pembuatan silase menggunakan dedak aromatic dilakukan dengan melakukan


pengecilan partikel rumput gajah, kemudian pemberian dedak aromatic, dan
memadatkan silase kedalam tong atau silo agar tercipta suasana anaerob.

Silase yang baik beraroma dan berasa asam, tidak berbau busuk. Silase hijauan
yang baik berwarna hijau kekuning-kuningan, dipegang terasa lembut dan empuk
tetapi tidak basah (berlendir). Silase yang baik juga tidak menggumpal dan tidak
berjamur. Kadar keasamanya (pH) apabila dilakukan analisa lebih lanjut adalah
3,2-4,5. Silase yang berjamur, warna kehitaman, berair dan aroma tidak sedap
adalah silase yang mempunyai kualitas rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Adiati, U. Soepeno, E. Handiwirawan, A. Gunawan dan D. Anggraenu. 1995.
Pengaruh pemberiaan pupuk kandang terhadap produksi rumput gajah
(pennisetum purpureum) di kecamatan Puspo kabupaten Pasuruan. Prosiding
Seminar Nasional Peternakan dan veteriner, 7-8 November di bogor. Jilid 2:
583-5866.
Gonggo, B. M., Hermawan, B., and Anggraeni, D. 2005. Pengaruh jenis tanaman
penutup dan pengolakan tanah terhadap sifat fisika tanah pada lahan alangalang. Jurnal ilmu-ilmu pertanian Indonesia. 7(1):44-55.
Hanafi, N. D. 2001. Enzim sebagai Alternatif baru dalam Peningkatan Kualitas Pakan
untuk Ternak. Program pascasarjana, IPB, Bogor
Hartadi, H., S. Reksohsdiprodjo & A. D. Tillman. 1993. Tabel Komposisi Pakan
untuk Indonesia. Cetakan ke-3. Universitas Gajah Mada, Yoryakarta.
Lubis. D.A. 1963. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangunan : Jakarta.
Mugiati, Risna., Suwarno Nur Hidayat. 2013. Kadar Air Dan pH Silase Rumput
Gajah Pada Hari Ke - 21 Dengan Penambahan Jenis Additive Dan Bakteri
Asam Laktat. Jurnal Ilmiah Peternakan 1(1):201-207 2013
Murni, R., Suparjo, Akmal, dan B. L. Ginting. 2008. Buku Ajar Teknologi
Pemanfaatan Limbah Untuk Pakan. Laboratorium Makanan Ternak. Fakultas
Peternakan. Universitas Jambi. Jambi.
Okaraonye, C. C., and Ikewuchi, J. C. 2009. Nutritional and antinutritional
components of Pennisetum purpureum Schumach. Pakistan journal of
nutritional 8(1): 32-34
Prasetyo, A. 2003. Model Usaha Rumput Gajah Sebagai Pakan Sapi Perah Di
Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Lokakarya Nasional Tanaman
Pakan Ternak. Semarang.
Rasyaf, M. 2002. bahan Makanan Unggas di Indonesia. Cetakan ke-9 Penerbit
Kanisius, Yogyakarta
Rasyaf, M. 2004. Seputar Makanan Ayam Kampung. Cetakan ke-8, Penerbit
Kanisius, Yogyakarta

Ridwan, R,. Ratnakomala,S., Kartina. G., and Widyastuti Y., 2005. Pengaruh
Penambahan Dedak Padi dan Lactobacillus planlarum lBL-2 dalam
Pembuatan Silase Rumput Gajah (Pennisetum PutPur um). Media Peternakan.
Volume 28, No. 3. www.Jesl.journal.ipb.ac.id. 20 November 2016.
Sanderson, M. A. and R. A., Paul. 2008. Perennial forages as second generation
bioenergy crops. International Journal of Molecular Sciences, 9, 768-788
Scott, M. L, M. C. Neisheim dan R. J. Young. 1982. Nutrition of Chiken. 3rd Edition,
Published M, L Scott and Associates: Ithaca, New York.
Shcalbroeck. 2001. Toxicologikal evalution of red mold rice. DFG- Senate Comision
on Food Savety. Ternak monogastrik. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Soegiri, Ilyas, H.S., Damayanti. 1980. Mengenal Beberapa Jenis Hijauan Makanan
Ternak Daerah Tropik. Direktorat Bina Produksi Peternakan. Direktorat
Jendral Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta.
Sunarso, S. 1980. Pengaruh Tingkat Pemberian Bekatul dalam Ransum
terhadap Berat Karkas Domba Lokal Jantan. Bogor: P3T Ciawi-Bogor.
Woodard, K.R., and G.M., Prine, 1993. Dry matter accumulation of elephantgrass,
energycane and elephantmillet in a subtropical climate. Crop Science, 33, 818
824.
Yudono, B. F. Oesman, dan Hermansyah. 1996. Komposisi asam lemak sekam dan
dedak padi. Majalah Sriwijaya. Vol. 32. No. 2. 8-11.

LAMPIRAN

Silase yang telah jadi

Anda mungkin juga menyukai