Anda di halaman 1dari 22

PELAPORAN KORPORAT

Kombinasi Bisnis Dan Konsolidasi : Investasi Pada Entitas Lain (Aset Keuangan,
Entitas Asosiasi, Ventura Bersama, Dan Entitas Anak) Dan Kombinasi Bisnis
Dosen Pengampu : Drs. Rusmawan Wahyu Anggoro., MSA., Ak., CA.

Disusun Oleh :
Aloysius Audit Hartaka

(73.1628.606)

Maria Immaculata B. T

(73.1628.602)

Diyanita Berty K

(73.1628.609)

Program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) Angkatan 28


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI YKPN
YOGYAKARTA 2016

KOMBINASI BISNIS
Konsep Kombinasi Bisnis (Business Combination)
Adanya persaingan yang ketat antar perusahaan dalam hal jenis produk, mutu
produk, maupun dalam hal pemasaran sering kali menimbulkan persaingan yang tidak
sehat dan saling mengalahkan antar perusahaan. Untuk mengatasi hal tersebut maka
banyak perusahaan yang melakukan suatu bentuk kerja sama yang saling
menguntungkan. Salah satu bentuk kerja samanya adalah dengan melakukan
penggabungan usaha antara dua perusahaan atau lebih perusahaan dengan perusahaan
yang mempunyai kinerja baik yang sejenis maupun tidak sejenis. Kombinasi bisnis
merupakan suatu peristiwa dimana pihak yang melakukan akuisisi memperoleh
pengendalian atas satu atau lebih bisnis. Sedangkan menurut PSAK No. 22 paragraf 8
tahun 1999:Penggabungan usaha (business combination) adalah pernyataan dua atau
lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan
menyatu dengan (uniting wiith) perusahaan lain atau memperoleh kendali (control) atas
aktiva dan operasi perusahaan lain. Kombinasi bisnis diatur dalam PSAK No. 22
paragraf 8 tahun 1999.
Jenis-Jenis Kombinasi Bisnis
Berdasarkan PSAK no. 22 paragraf 08 tahun 1999, jenis-jenis kombinasi bisnis antara
lain :
a. Akuisisi (acquisition) adalah suatu penggabungan usaha dimana salah satu
perusahaan, yaitu pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendali atas aktiva netto dan
operasi perusahan yang diakuisisi (acquiree), dengan memberikan aktiva tertentu,
mengakui suatu kewajiban, atau mengeluarkan saham.
Metode Akuisisi
Penggabungan usaha didefinisi sebagai transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian
lainnya yang mengakibatkan diperolehnya kendali (control) oleh satu pihak
pengakuisisi atas satu atau lebih bisnis yang diakuisisi (acquiree). Meskipun dalam
kebanyakan kasus, pihak yang memperoleh kendali (acquirer) mudah untuk
diidentifikasi, kasus-kasus penggabungan usaha tertentu kadang kala menimbulkan

masalah yang pelik. Sebagai contoh, IFRS 3 memberikan panduan yang relatif rinci
terkait akuisisi terbalik (reverse acquisition) mengingat kerumitan fitur transaksinya.
Tanggal akuisisi harus ditetapkan karena nilai-nilai wajar asset, liabilitas, dan ekuitas
yang dipertukarkan dalam penggabungan usaha didasarkan pada tanggal akuisisi.
Tanggal akuisisi (acquisition date) adalah tanggal diperolehnya kendali (control) oleh
pihak pengakuisisi (acquirer) atas bisnis yang diakuisisi (acquiree). Tanggil ini
mungkin saja berbeda dengan tanggal pertukaran ketika pengorbanan diserahkan oleh
pihak pengakuisisi kepada pihak penjual. Selanjutnya, asset yang diperoleh dan
liabilitas yang ditanggung dari bisnis yang diakuisisi harus diidentifikasi, diakui, dan
diukur nilai-nilai wajarnya. Sekadar mengingatkan, istilah asset netto (net asset)
sama dengan asset dikurangi liabilitas, dan IFRS 3 menegaskan bahwa pembelian
asset dan liabilitas harus merupakan sebuah bisnis untuk dapat diperlakukan dengan
metode akuisisi. Pembelian asset atau pengalihan liabilitas yang bukan merupakan
sebuah bisnis harus diperlakukan sebagai pembelian asset atau pengalihan liabilitas
secara umum, tanpa adanya pengakuan goodwill.
Goodwill
Goodwill merupakan aset jangka panjang yang dikategorikan sebagai aset tidak
berwujud. Goodwill timbul ketika sebuah perusahaan mengakuisisi bisnis lain secara
keseluruhan. Goodwill adalah biaya untuk membeli bisnis dikurangi nilai pasar wajar
aset berwujud , aset tidak berwujud yang dapat diidentifikasi, dan kewajiban yang
diperoleh dalam pembelian. Jumlah dalam akun Goodwill akan disesuaikan dengan
jumlah yang lebih kecil jika ada penurunan nilai yang terjadi terhadap nilai pasar
goodwill tersebut yang diakuisisi perusahaan pada saat tanggal pelaporan neraca.
b. Penyatuan kepemilikan (uniting of interest/pooling of interest) adalah suatu
penggabungan usaha dimana para pemegang saham perusahaan yang bergabung
bersama-sama menyatukan kendali atas seluruh, atau secara efektif seluruh aktiva
neto dan operasi kendali perusahaan yang bergabung tersebut dan selanjutnya
memikul bersama segala resiko dan manfaat yang melekat pada entitas gabungan,
sehingga tidak ada pihak yang dapat diidentifikasi sebagai perusahaan pengakuisisi
(acquirer).

Bentuk-Bentuk Kombinasi Bisnis


Adapun bentuk-bentuk kombinasibisnis menurut Arifin S (2002 : 240-241) dibedakan
dalam beberapa golongan, antara lain sebagai berikut :
1.

Ditinjau dari bentuk penggabungannyayaitu :


a. Penggabungan horisontal merupakan penggabungan perusahaan-perusahaan yang
sejenis yang menjadi satu perusahaan yang lebih besar. Pada umumnya dasar
dibentuknya penggabungan usaha ini adalah untuk menghindari adanya
persaingan diantara perusahaan yang sejenis dan meningkatkan efisiensi diantara
perusahaan-perusahaan yang bersangkutan tersebut.
b. Penggabungan vertikal merupakan penggabungan perusahaan yang sebelumnya,
keduanya mempunyai hubungan yang saling menguntungkan, misalnya suatu
perusahaan lain yang kemudian pemasok (supplier) bahan baku perusahaan lain
yang kemudian bergabung agar dapat terjaga adanya kepastian bahan baku dan
kontinuitas produksi.
c. Penggabungan konglomerat merupakan kombinasi dari penggabungan horisontal
dan vertikal. Penggabungan konglomerat ini merupakan gabungan dari
perusahaan-perusahaan yang memiliki usaha yang berlainan misalnya perusahaan
angkutan bergabung dengan perusahaan jasa hotel dan perusahaan makanan

2.

(catering).
Ditinjau dari segi hukumnya.
a. Merger merupakan penggabungan usaha dengan cara satu perusahaan membeli
perusahaan lain yang kemudian perusahaan yang dibelinya tersebut menjadi anak
perusahaannya atau dibubarkan. Perusahaan yang dibelinya sudah tidak
mempunyai status hukum lagi dan yang mempunyai status hukum adalah
perusahaan yang membelinya.
b. Konsolidasi merupakan bentuk lain dari merger, yaitu penggabungan usaha
dengan cara satu perusahaan bergabung dengan perusahaan lain membentuk satu
perusahaan baru.
c. Afiliasi merupakan penggabungan usaha dengan cara membeli sebagian besar
saham atau seluruh saham perusahaan lain untuk memperoleh hak pengendalian
(controlling interest). Perusahaan yang dikuasai tersebut tidak kehilangan status
hukumnya dan masih beroperasi sebagaimana perusahaan lainnya.
Kebijakan Bisnis Kombinasi
Kebijakan bisnis kombinasi telah menjadi fenomena yang teramati sejak akhir 1800-an.
Wyatt mengkategorikan fenomena ini sebagai berikut :

1. Era Klasik periode dari 1890 sampai 1904, berdasarkan pasasi Sherman Act.
Kombinasi tersebut pada umumnya dilakukan melalui perusahaan holding dengan
tujuan integrasi vertikal atas keseluruhan operasi dari perolehan material sampai ke
penjualan produk.
2. Gelombang Kedua periode dari akhir PD-1 sampai pada akhir 1920an. Kombinasi
pada umumnya akuisis sedikit demi sedikit untuk tujuan ekspansi operasi melalui
perusahaan yang diakuisisi.
3. Gelombang Ketiga periode dari akhir PD-2 sampai setelah 1960an. Kombinasi ini
juga dilakukan melalui akusisi sedikit demi sedikit dengan tujuan memperkuat posisi
kompetitif, diversifikasi ke area baru, atau untuk menjaga keterbaruan terkait
perubahan teknologi.
Sebagai tambahan alasan kombinasi, beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan
organisasi bisnis mempertimbangkan untuk melakukan kombinasi dengan organisasi
lain adalah:
1. Konsekuensi pajak perusahaan yaitu pembeli memperoleh keuntungan dari
mengakrualkan rugi operasi tangguhan dari perusahaan yang diakuisisi.
2. Pertumbuhan dan diversifikasi yaitu perusahaan pembeli ingin mengakuisisi produk
baru atau memasuki pasar baru.
3. Pertimbangan finansial yaitu aset yang lebih besar bisa memudahkan perusahaan
untuk memperoleh tambahan dana dari pasar modal.
4. Tekanan kompetisi yaitu skala ekonomi dapat mengangkat situasi kompetisi pasar
yang tinggi.
5. Profit dan pensiun yaitu penjual bisa saja termotivasi oleh profit yang tinggi atau
ingin pensiun.
Akuntansi Untuk Kombinasi Bisnis
Sebagai sebuah konsep akuntansi, kombinasi bisnis merupakan upaya
menggabungkan dua atau lebih entitas bisnis ke dalam satu entitas akuntansi.
Kombinasi bisnis terjadi apabila satu entitas mengakuisis aset bersih atau kepentingan
ekuitas pada satu atau beberapa entitas dan memperoleh pengendalian atas entitas
tersebut. Berdasarkan GAAP terbaru, pengendalian sederhananya terjadi ketika sebuah
perusahaan memiliki mayoritas kepentingan ekuitas pada perusahaan lain. Terdapat dua
metode untuk memperoleh kepemilikan mayoritas pada perusahaan lain:

1. Perusahaan pengakuisis membeli saham ber-hak suara dari perusahaan terakuisis


dengan tunai, atau
2. Perusahaan pengakuisisi menukar saham ber-hak suara-nya dengan saham ber-hak
suara dari perusahaan terakuisisi.
Dalam akuntansi untuk kombinasi bisnis, penting diketauhi bahwa pelaporan
yang jujur dari hasil kejadian ekonomi pada perusahaan tertentu adalah inti dari proses
akuntansi. Laporan ini seharusnya tidak bias terhadap kepentingan masing-maing pihak
dan harus berdasarkan pada substansi kejadian ekonomi yang melandasi. Setelah SEC
dibentuk pada 1930an, dua metode akuntansi untuk kombinasi bisnis berevolusi, yaitu:
metode purchase dan pooling of interest.
Pooling of interest dianggap terjadi apabila kepemilikan atas dua atau lebih
beberapa perusahaan yang sebelumnya terpisah dikombinasikan dan berlanjut sebagai
hasil pertukaran saham hak kepemilikan. Perusahaan pengakuisisi akan memperoleh
pengendalian dengan menerbitkan saham kepada pemilik perusahaan terakuisisi.
Kemudian saham dari perusahaan pengakuisisi, yang diterbitkan untuk memperoleh
perusahaan terakuisis, menggantikan saham perusahaan terakuisisi. Oleh karena itu
pooling of interest mewakili keberlanjutan dari kepemilikan bisnis pada dua atau lebih
perusahaan yang sebelumnya merupakan bisnis yang terpisah, kombinasi bisnis akan
dicatat sebagai penggabungan kepentingan kepemilikan. Ini tidak akan dicatat sebagai
akuisisi tetapi malah sebagai fusi dari dua atau lebih perusahaan yang sebelumnya
terpisah. Sebagai contoh, nilai buku aset dan liabilitas dari masing-masing perusahaan
yang merger ditambahkan bersama-sama dan dilaporkan pada posisi keuangan
konsolidasi. Tidak ada penyesuaian yang dibuat untuk merefleksikan nilai wajar aset
dan liabilitas, dan goodwil tidak dilaporkan. Sebagai tambahan, income pada unit
pelaporan baru sudah termasuk income sejak tanggal pelaporan terakhir masing-masing
perusahaan yang sebelumnya merupakan perusahaan terpisah.
Perlu dicatat pula ketika saham berhak suara dipertukarkan, masing-masing
pemilik sebelumnya masih ada dalam perusahaan, dan perusahaan secara sederhana
digabungkan untuk melanjutkan operasi masing-masing yang sebelumnya terpisah. Ini
menunjukkan pooling of interest sepertinya akan lebih tepat digunakan apabila
kepemilikan dari dua atau lebih entitas dikombinasikan. Sebagai alternatif, ketika
perusahaan pengakuisisi membayar secara tunai untuk memperoleh pengendalian atas
perusahaan lain, hanya pemegang saham perusahaan induk yang tersisa. Pada kasus ini,

kombinasi bisnis tidak begitu berbeda dengan pembelian perolehan aset, seperti
bangunan. Perbedaannya hanya bahwa pada perusahaan pengakuisisi, sebagai dampak,
memperoleh seluruh aset bisnis lain dan juga liabilitasnya. Lebih jelasnya, suatu
kombinasi bisnis sebagai dampak pembelian tunai atas bagian ekuitas seharusnya
dicatat sebagai pembelian. APB meninjau ulang pertanyaan ini dan pada 1970
menerbitkan APB no. 16, Kombinasi Bisnis. Dewan menemukan kegunaan dalam
penggunaan keduanya, metode pooling of interest dan metode purchase, dan tidak
mengusulkan supaya satu metode harus digunakan sehingga mengesampingkan metode
lain. APB mencatat bahwa kedua metode tersebut tidak menjadi alternatif pada transaksi
yang sama dan membuat kriteria tertentu untuk menentukan apakah suatu kombinasi
harus dicatat sebagai pembelian atau sebagai pooling of interest. Dibawah APB No. 16,
seluruh transaksi yang melibatkan pertukaran secara tunai dicatat sebagai pembelian,
sedangkan pertukaran saham ber-hak suara dicatat sebagai pooling of interest sesuai dua
belas kriteria khusus penyatuan. Jika ada kriteria yang tidak terpenuhi, kombinasi
diperlakukan sebagai pembelian. Kriteria penyatuan tersebut disusun untuk memastikan
bahwa kombinasi tidak akan dapat dicatat sebagai pooling of interest apabila ada salah
satu kelompok pemegang saham memperoleh keuntungan atas yang lainnya, atau di
mana perusahaan yang berkombinasi tidak berencana untuk melanjutkan aktivitas
perusahaan yang sebelumnya terpisah.Ini menekankan bahwa pooling of interest
dipertimbangkan bisa digunakan apabila terdapat pertukaran saham ber-hak suara dan
setiap kondisi untuk penyatuan menurut APB no. 16 dipenuhi. Apabila kombinasi
merupakan dampak transaksi tunai atau salah satu dari persyaratan penyatuan tidak
terpenuhi, maka metode purchase harus digunakan.

LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN


Pengertian, Tujuan, dan Manfaat
Laporan keuangan konsolidasi adalah laporan yang menyajikan posisi keuangan
dan hasil operasi untuk induk perusahaan (entitas pengendali) dan satu atau lebih anak

perusahaan (entitas yang dikendalikan) seakan-akan entitas-entitas individual tersebut


merupakan satu entitas atau perusahaan satu perusahaan. Laporan keuangan konsolidasi
diperlukan apabila salah satu perusahaan yang bergabung memiliki kontrol terhadap
perusahaan lain, dan sebaliknyalaporan keuangan konsolidasi tidak diperlukan apabila
satu perusahaan tidak memiliki kontrol terhadap perusahaan lain. Artinya, jika tidak
memiliki hak kendali (control) yang lebih, maka mereka adalah badan usaha (entity)
mandiri, artinya mereka masing-masing akan membuat laporan keuangan yang sendirisendiri dan tidak mungkin untuk digabungkan, ditambahkan atau yang sejenisnya. Jadi,
tidak ada maksud untuk membuat sebuah laporan keuangan konsolidasi.
Adapun maksud dan tujuan laporan keuangan konsolidasi yaitu: agar dapat
memberikan gambaran yang obyektif dan sesuai atas keseluruhan posisi dan aktivitas
dari satu perusahaan (economic entity) yang terdiri atas sejumlah perusahaan yang
berhubungan istimewa, dimana laporan konsolidasi keuangan diharapkan tidak boleh
menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan dan harus didasarkan pada substansi atas
peristiwa ekonomi juga. Dalam PSAK No. 4, Paragraf 4 penyajian laporan keuangan
konsolidasi oleh induk perusahaan bertujuan untuk memberikan informasi kepada para
pemakai laporan keuangan mengenai data keuangan dari suatu kelompok perusahaan
dalam kelompok tersebut merupakan suatu entitas hukum yang terpisah satu sama lain.
Manfaat laporan keuangan konsolidasi yaitu :
1. Dapat memberikan gambaran yang jelas tentang total sumber daya perusahaan hasil
gabungan di bawah kendali induk perusahaan, kepada para pemegang saham,
kreditor dan peyedia dana lainnya.
2. Dapat memberikan informasi terkini bagi manajemen induk perusahaan, baik
mengenai operasi gabungan dari entitas konsolidasi dan juga mengenai perusahaan
individual yang membentuk entitas konsolidasi.

Laporan keuangan konsolidasi juga dapat menjadi ekses yang tidak baik, antara lain :
1. Dapat menyembunyikan kinerja perusahaan individu yang tidak bagus dengan kinerja
perusahaan lain yang bagus.
2. Tidak semua saldo laba ditahan konsolidasi tersedia untuk dividen induk perusahaan,
begitu pula dengan aktiva.

3. Rasio keuangan berdasarkan laporan keuangan konsolidasi yang terbentuk tidak


mencerminkan kondisi entitas yang membentuk konsolidasi maupun induk
perusahaan.
4. Beberapa akun tidak dapat seluruhnya dibandingkan, misalnya akun piutang.
5. Banyaknya informasi tambahan yang dibutuhkan untuk memberikan penyajian yang
wajar.
Kriteria Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi menggabungkan seluruh perusahaan yang dikendalikan
oleh induk perusahaan, kecuali anak perusahaan. Pengendalian (control) dianggap ada
apabila induk perusahaan memiliki baik secara langsung atau tidak langsung (melalui
anak perusahaan), lebih dari 50% hak suara pada suatu perusahaan. Walaupun suatu
perusahaan memiliki hak suara 50% atau kurang, pengendalian tetap dianggap ada
apabila dapat dibuktikan adanya salah satu kondisi berikut:
(a) Mempunyai hak suara yang lebih dari 50% berdasarkansuatu perjanjian dengan
investor lainnya.
(b) Mempunyai hak untuk mengatur dan menentukan kebijakan finansial dan
operasional perusahaan berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian.
(c) Mampu menunjuk atau memberhentikan mayoritas pengurus perusahaan;
(d) Mampu menguasai suara mayoritas dalam rapat pengurus.
Anak perusahaan tidak dikonsolidasikan apabila:
(a) Pengendalian dimaksudkan untuk sementara, karena saham anak perusahaan dibeli
dengan tujuan untuk dijual atau dialihkan dalam jangka pendek.
(b) Anak perusahaan dibatasi oleh suatu restriksi jangka panjang sehingga
mempengaruhi secara signifikan kemampuannya dalam mentransfer dana kepada
induk perusahaan.
Anak perusahaan yang tidak dikonsolidasikan tersebut harus dipertanggungjawabkan
oleh induk perusahaan sebagaimana anak perusahaan lainnya, sesuai dengan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi. Anak
perusahaan yang mempunyai kegiatan usaha yang berbeda dengan kegiatan perusahaan
lainnya dalam kelompok perusahaan tersebut, harus tetap dikonsolidasikan. Dalam

catatan atas laporan keuangan konsolidasi harus diungkapkan kegiatan usaha khusus
dari anak perusahaan tersebut.
Sifat-Sifat Laporan Keuangan Yang Dikonsolidasikan
1.

Laporan keuangan konsolidasi adalah model laporan akuntansi untuk menunjukkan


pengaruh ekonomi dari penggabungan dua atau lebih perusahaan yang tersendiri,
yang didasarkan atas pemilikan dan pengendalian bersama meskipun peleburan
secara hukum tidak dilakukan.

2.

Dalam menyusun neraca konsolidasi untuk perusahaan induk dan anak, perusahaan
anak ini dipandang seakan-akan sebagai cabang; aktiva dan kewajiban masingmasing perusahaan anak digabungkan dengan aktiva dan kewajiban perusahaan
induk; pos-pos silang yang tidak mempunyai arti penting apabila kesatuan usaha
bersangkutan dipandang sebagai kesatuan usaha tunggal harus dihapuskan.

3. Neraca perusahaan induk yang melaporkan saham perusahaan anak sebagai


investasi, dan neraca perusahaan anak yang melaporkan kepentingan yang dipegang
oleh perusahaan induk sebagai modal saham
Prosedur Konsolidasi
Prosedur Konsolidasi diatur dalam PSAK No. 4 (Paragraf 8,21 & 23) antara lain
dinyatakan bahwa dalam menyusun Laporan Keuangan Konsolidasi Laporan Keuangan
Induk Perusahaan (Parent Company) dan Anak Perusahaan (Subsidary Company)
digabungkan satu persatu dengan menggabungkan unsure-unsur yang sejenis dari
aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban. Adapun prosedur penyusunan laporan
keuangan konsolidasi dijelaskan lebih terperinci lagi, yaitu:
1. Mempersiapkan kertas kerja penyusunan laporan keuangan konsolidasi.
2. Memasukkan laporan keuangan meliputi laporan laba rugi, laporan laba ditahan dan
neraca masing-masing perusahaan induk dan anak pada kolomnya masing-masing.
3. Jika ada kesalahan-kesalahan pada laporan keuangan induk atau anak (seperti koreksi
terhadap pencatatan investasi dengan metode biaya dikonversi ke metode ekuitas)
perlu dibuatkan jurnal penyesuaian (diposting ke buku besar perusahaan induk atau
anak).
4. Memasukkan jurnal eliminasi dalam kertas kerja, seperti:
a. Mengeliminasi laba atau rugi antar perusahaan (laba atau rugi anak yang telah
diakui dalam laporan laba-rugi perusahaan induk). Mengeliminasi dividen anak

perusahaan yang telah dicatat pada saat perusahaan induk menerima dividen dari
anak.
Pendapatan dari perusahaan anak..................xxx
Dividen...............................................................
Investasi pada perusahaan anak.................

xxx

xxx

b. Penyesuaian untuk mencatat hak minoritas dalam laba dan dividen perusahaan
anak.
Beban hak minoritas.................................... xxx
Dividen......................................................

xxx

Hak minoritas............................................

xxx

c. Mengeliminasi akun resiprokal, yaitu akun investasi pada perusahaan anak (di
neraca induk) dan akun ekuitas (di neraca anak) dikali dengan persentase
kepemilikan induk.
Jika NW dari akun investasi pada perusahaan anak = NB dari akun ekuitas
Modal saham................................................. xxx
Tambahan modal (jika ada).......................... xxx
Laba ditahan.................................................. xxx
Investasi pada perusahaan anak................................. xxx
Hak monoritas (% kepemilikan x total ekuitas)........ xxx
Jika NW dari akun investasi pada perusahaan anak > < NB dari akun ekuitas.
(catatan lihat penjelasan selanjutnya)
Modal saham................................................. xxx
Tambahan modal (jika ada).......................... xxx
Laba ditahan.................................................. xxx
Alokasi kelebihan ......................................... xxx
Investasi pada perusahaan anak.............................. xxx
Hak monoritas (% kepemilikan x total ekuitas).....
d. Mengalokasikan

dan

mengamortisasi

perbedaan

nilai

xxx
wajar

dari

akun

investasi dengan nilai buku ekuitas (dari langkah ke 5). Jika ada perbedaan itu
dialokasikan ke aktiva tetap, maka perlu dibuatkan jurnal penyusutan. Demikian
pula jika ada hak paten perlu diamortisasi pertahun.
e. Mengeliminasi akun resiprokal lainnya (seperti hutang, piutang, pembelian dan
penjualan antar perusahaan.

5. Menjumlah akun-akun pada kedua laporan keuangan untuk akun-akun yang tidak
resiprokal pada kolom laporan konsolidasi.
6. Menjumlahkan akun-akun pada kedua laporan keuangan ditambah dan dikurangi
akun-akundalam kolom jurnal eliminasi.
Dalam penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi antara Induk Perusahaan dan Anak
Perusahaan dapat digunakan 3 (dua) metode yaitu:
a. Metode Ekuitas (Equity Method)
Konsep dasar dari metode ekuitas pada dasarnya memandang investasi Induk
Perusahaan terhadap Anak Perusahaan sebagai sesuatu penyertaan modal sehingga
jika aktiva bersih Anak Perusahaan berubah karena kegiatan operasionalnya, secara
otomatis akan menyebabkan perubahan pada nilai investasi induk Perusahaan.data.
Pencatatan investasi saham pada Anak Perusahaan dengan metode ekuitas,
didasarkan pada suatu anggapan investasi pada Anak Perusahaan sejajar dan sama
dengan investasi pada perusahaan-perusahaan cabangnya. Alasan diterapkannya
metode ekuitas juga didasarkan atas suatu fakta bahwa Induk Perusahaan dan Anak
Perusahaan merupakan bagian-bagian dari satu kesatuan usaha, seperti halnya
hubungan antara Kantor Pusat dan Cabang-Cabangnya. Oleh sebab itu perubahanperubahan yang terjadi didalam hak-hak pemegang saham pada Anak Perusahaan
harus diakui dan dicatat oleh Induk Perusahaan, untuk dapat mengikuti dan
melaporkan posisi keuangan dan perkembangan usahanya secara lengkap. Nilai
investasi Induk Perusahaan terhadap Perusahaan akan meningkat jika Anak
Perusahaan memperoleh laba bersih dan akan menurun atau berkurangnya nilainya,
jika Anak Perusahaan menderita kerugian. Meskipun Laporan Keuangan Konsolidasi
hasil penerapan metode ekuitas ini nantinya akan sama dengan penerapan
metode biaya, namun lembar kerja konsolidasi beserta jurnal untuk penyesuaian dan
eliminasi akan berbeda. Harus memperhatikan pengaruh perubahan modal anak
Perusahaan terhadap hak pemilikan Induk Perusahaan. Beberapa perkiraan (account)
yang perlu diperhatikan antara lain:
Perkiraan Investasi Saham dalam Anak Perusahaan
Akan berubah jumlahnya apabila Anak Perusahaan melaporkan adanya Laba Rugi

atau pembagian Dividen.


Perkiraan Kas
Akan berubah jumlahnya apabila Induk Perusahaan melaporkan adanya Laba Rugi
atau pembagian Dividen.

Perkiraan Piutang Dividen Anak Perusahaan


Timbul karena perusahaan mengumumkan Dividen namun belum dibayar.
Perkiraan ini harus dihapuskan apabila telah dibayar tunai (kas).
Perkiraan Laba yang ditahan (Retained Earning) Induk Perusahaan
Akan berubah jumlahnya apabila Anak Perusahaan melaporkan adanya Laba atau
Rugi. Selain itu akan berubah juga karena adanya Laba atau Rugi milik Induk

Perusahaan sendiri.
Perkiraan Laba yang ditahan (Retained Earning) Anak Perusahaan
Akan berubah jumlahnya apabila ada Laba Rugi atau pembagian Dividen pada

Anak Perusahaan sendiri.


Perkiraan-perkiraan diatas, dalam Kertas Kerja (Worksheet) penyusunan Laporan
Keuangan Konsolidasi harus sudah menunjukkan Saldo Akhir pada Laporan
Keuangan Konsolidasi, artinya sudah diperhitungkan perubahan jumlahnya.
b. Metode Ekuitas Tidak Lengkap
Jika metode ekuitas diterapkan secara benar ,laba bersih perusahan induk adalah
sama dengan laba bersih konsolidasi, dan saldo laba perusahaan induk adalah sama
dengan saldo laba konsolidasi. Persamaan jumlah laba dan saldo laba perusahaan
induk dan konsolidasi ini tidak selalu ada. Persamaan tersebut tidak ada jika metode
ekuitas diterapkan tidak secara benar,atau jika akuntansi metode biaya digunakan
untuk investasi perusahaan anak. Contohnya, perusahaan induk dalam menerapkan
akuntansi metode ekuias mungkin mengamortisasikan perbedaan antara investasi dan
nilai buku yang diperoleh pada buku terpisah perusahaan induk, atau mungkin tidak
mengeliminasi laba atau rugi antar-perusahaan. Kelalaian-kelalaian seperti itu
menyebabkan tidak lengkapnya penerapan akuntansi metode ekuitas. Kesalahankesalahan lain dalam penerapan metode ekuitas menyebabkan salah saji yang
seruppa dalam laba dan saldo laba perusahaan induk. Masalah yang timbul dari
salahnya penerapan metode ekuitas atau menggunakan metode biaya untuk investasi
perusahaan anak mugkin tidak seserius yang terlihat. Hal ini dikarenakan akuntan
harus menyiapkan laporan keuangan konsolidasi yang benar dengan mengabaikan
bagaimana

perusahaan induk

mempertanggungjawabkan

investasinya

pada

perusahan anak. Tidak ada pelanggaran terhadap prinsip akuntansi yang berlaku
umum sepanjang laporan keuangan konsolidasi yang disiapkkan bagi pemegang
saham benar dan perusahaan induk/investor tidak menerbitkan laporan keuangan
yang telah diaudit yang lain. Tetap digunakannya metode biaya atau metode ekuitas

tidak lengkap oleh beberapa perusahaan didasarkan pada asumsi bahwa penerbitan
laporan keuangan konsolidasi hanya sebagai laporan keuangan yang disiapkan bagi
para pemegang saham dari entias utama.
c. Metode Harga Perolehan (Cost Method)
Pada Metode Biaya, yang dipakai untuk mencatat investasi saham-saham Anak
Perusahaan, maka hanya dividen atas saham-saham tersebut (yang telah dibagikan
oleh Anak Perusahaan) yang diakui sebagi pendapatan (revenue) oleh Induk
Perusahaan. Sebaliknya laba atau rugi atas pemilikan modal (saham) hanya timbul
apabila sebagian atau seluruh jumlah saham yang dimiliki tersebut dijual. Pada
metode biaya bagian dividen yang dibagikan oleh Anak Perusahaan dicatat pada sisi
debit dalam rekening Piutang Dividen (Kas), dengan rekening lawan kredit
Penghasilan Dividen. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada Metode biaya:
1. Perkiraan Investasi Saham pada Anak Perusahaan, tidak mengalami perubahan
jumlahnya. Perubahan modal Anak Perusahaan akibat adanya Laba, Rugi atau
pembagian Dividen tidak mempengaruhi Perkiraan Investasi Saham pada Anak
Perusahaan, atau Induk Perusahaan tidak menyesuaikan Investasinya.
2. Laba atau rugi dari Anak Perusahaan baru diakui oleh Induk Perusahaan sebesar
Prosentase (%) kepemilikannya pada saat disusun Neraca Konsolidasi melalui
perkiraan Laba yang ditahan (Retained Earning) untuk Induk Perusahaan.
Perkiraan ini hanya tampak pada Worksheet penyusunan neraca Konsolidasi.
3. Penghapusan (eliminasi) terhadap perkiraan-perkiraan Modal Saham, Agio Saham
dan Retained Earning Anak Perusahaan hanya didasarkan pada jumlah awal/Saldo
Awal tahun atau Saldo Awal pada saat kepemilikan.
4. Metode Biaya berdasarkan pada asumsi bahwa investasi Induk terhadap Anak
Perusahaan merupakan bagian dari Aktiva.
5. Nilai Investasi harus selalu tetap, karena akan dittampakkan dalam neraca sebesar
harga perolehannya saja.
6. Perubahan nilai aktiva bersih Anak Perusahaan sebagai Konsekuensi dari kegiatan
operasionalnya tidak akan mempengaruhi besaarnya nilai investasi tersebut.
Kehilangan Pengendalian
Jika kehilangan pengendalian atas suatu entitas anak, maka tindakan entitas induk
adalah :

Menghentikan pengakuan aset (termasuk setiap goodwill) dan liabilitas entitas anak

pada nilai tercatatnya.


Menghentikan pengakuan jumlah tercatat setiap kepentingan non pengendali pada

entitas anak terdahulu pada tanggal hilangnya pengendalian.


Mengakui nilai wajar pembayaran yang diterima dan mengakui distribusi saham.
Mengakui setiap sisa investasi pada entitas anak terdahulu pada nilai wajarnya.
Mengklasifikasi ke laporan laba rugi /mengalihkan secara langsung ke saldo laba.
Mengakui setiap perbedaan yang dihasilkan sebagai keuntungan atau kerugian dalam
laporan laba rugi yang dapat diatribusikan pada entitas induk.

Masalah-Masalah Umum Yang Dihadapi Dalam Penyusunan Laporan Keuangan


Konsolidasi
Ada

beberapa

masalah

umum

yang

senantiasa

timbul

di

dalam

rangka

penyusunanneraca konsolidasi. Masalah-masalah tersebut antara lain timbul dan


dipengaruhi oleh :
1. Periode di mana laporan / neraca konsolidasi tersebut disusun.
Misalnya : penyusunan neraca konsolidsi sesaat setelah terjadi pemilikan sahamsaham, berbeda dengan neraca konsolidasi yang disusun satu tahun (periode)
kemudian berhubung telah terjadinya perubahan-perubahan di dalam pos-pos neraca.
2.

Jumlah saham yang dimiliki oleh perusahaan induk, dan harga perolehan
(pengorbanan) yang telah dikeluarkan untuk memperoleh saham tersebut.
Misalnya : penyusunan neraca knsolidasi di mana saham-saham dibeli dengan harga
di atas nilai bukunya berbeda dengan penyusunan neraca konsoidasi apabila sahamsaham diperoleh dengan harga yang sama dan kurang dari nilai bukunya.

Akuntansi Investasi Pada Entitas Anak, Pengendalian Bersama Entitas, dan


Entitas Asosiasi Dalam Laporan Keuangan Tersendiri
Jika entitas induk menyusun laporan keuangan tersendiri sebagai informasi tambahan,
maka entitas induk tersebut mencatat investasi pada entitas anak, pengendalian bersama
entitas, dan entitas asosiasi pada:
a. Biaya perolehan; atau
b. Sesuai PSAK 55.

Entitas induk mengakui deviden dari entitas anak, pengendalian bersama dan entitas
asosiasi pada laporan laba rugi komprehensif dalam laporan keuangan tersendiri ketika
hak menerima deviden ditetapkan. Entitas anak adalah suatu entitas, termasuk entitas
non-korporasi seperti persekutuan, yang dikendalikan oleh entitas lain (yang dikenal
sebagai entitas induk) . Entitas Asosiasi adalah suatu entitas, termasuk entitas nonkorporasi seperti persekutuan, dimana investor mempunyai pengaruh signifikan dan
bukan merupakan entitas anak ataupun bagian partisipasi dala ventura bersama.

INVESTASI PERUSAHAAN ASOSIASI

Pengaruh Signifikan
Istilah "perusahaan asosiasi" digunakan untuk menggambarkan suatu perusahaan
dimana investor mempunyai pengaruh signifikan. Pengaruh Signifikan adalah
wewenang untuk berpartisipasi dalam keputusan yang menyangkut kebijakan keuangan
serta operasi invest tapi bukan merupakan pengendalian terhadap kebijakan tersebut.

Jika investor memiliki, baik langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan,
20% atau lebih dari hak suara pada perusahaan investee, maka investor dipandang
mempunyai pengaruh signifikan. Sebaliknya, jika investor memiliki, baik langsung
maupun tidak langsung melalui anak perusahaan, kurang dari 20% hak suara, dianggap
investor tidak memiliki pengaruh signifikan. Kepemilikan substansial atau mayoritas
oleh investor lain tidak perlu menghalangi investor memiliki pengaruh signifikan.
Apabila investor mempunyai pengaruh yang signifikan maka investasi pada investee
dicatat dengan menggunakan metode ekuitas. Sebaliknya apabila investor tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan maka investasi dicatat dengan menggunakan
metode biaya.
Metode Akuntansi
1. Metode Ekuitas
Menurut metode ekuitas, investasi pada awalnya dicatat sebesar biaya perolehan dan
nilai tercatat ditambahkan atau dikurangi untuk mengakui bagian investor atas laba
atau rugi investee setelah tanggal perolehan. Distribusi laba (kecuali dividen saham)
yang diterima dari investee mengurangi nilai tercatat (carrying amount) investasi.
Penyesuaian terhadap nilai tercatat tersebut juga diperlukan untuk mengubah hak
kepemilikan proporsional investor pada investee yang timbul dari perubahan dalam
ekuitas investee yang belum diperhitungkan ke dalam laporan laba rugi. Perubahan
semacam itu meliputi perubahan yang timbul sebagai akibat dari revaluasi aktiva
tetap, perbedaan dalam penjabaran valuta asing, dan dari penyesuaian selisih yang
timbul dari penggabungan usaha.
2. Metode Biaya
Menurut metode biaya, investor mencatat investasinya pada perusahaan investee
sebesar biaya perolehan. Investor menyakui penghasilan hanya sebatas distribusi laba
(kecuali dividen saham) yang diterima yang berasal dari laba bersih yang
diakumulasikan oleh investee setelah tanggal perolehan. Penerimaan dividen yang
melebihi laba tersebut dipandang sebagai pemulihan investasi dan dicatat sebagai
pengurangan terhadap biaya investasi sesuai Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi.

Pilihan Metode Akuntansi Dalam Laporan Keuangan Konsolidasi


Pengakuan penghasilan berdasarkan dividen yang diterima tidak dapat
digunakan sebagai ukuran yang memadai untuk merefleksikan penghasilan yang
diperoleh investor dari investasi dalam suatu perusahaan asosiasi karena distribusi yang
diterima tersebut hampir tidak ada hubungannya dengan kinerja perusahaan asosiasi.
Mengingat pengaruhnya yang signifikan terhadap perusahaan asosiasi, investor
memiliki tolok ukur atas kinerja perusahaan asosiasi, yaitu imbalan investasi (return on
investment). Investor melaksanakan tanggungjawab ini dengan memperluas lingkup
laporan keuangan konsolidasi sehingga mencakup bagiannya atas hasil usaha
perusahaan asosiasi dan dengan demikian menyediakan analisis terhadap penghasilan
serta investasi sehingga rasio yang lebih relevan dapat dihitung. Dengan demikian,
penerapan metode ekuitas memungkinkan pelaporan aktiva bersih dan penghasilan
bersih oleh investor dengan lebih informatif.
Investasi di perusahaan asosiasi dipertanggungjawabkan dengan menggunakan
metode biaya jika perusahaan asosiasi beroperasi dengan pembatasan yang ketat dalam
jangka panjang sehingga secara signifikan mempengaruhi kemampuannya untuk
mengalihkan

dana

kepada

investor.

Investasi

di

perusahaan

asosiasi

juga

dipertanggungjawabkan dengan menggunakan metode biaya jika investasi diperoleh dan


dimiliki secara khusus dengan tujuan untuk dijual dalam jangka pendek. Investor
menghentikan penggunaan metode ekuitas sejak tanggal dimana :
a. Investor tidak lagi memiliki pengaruh signifikan dala perusahaan asosiasi tetapi
menahan, seluruh atau sebagian, investasinya; atau
b. Penggunaan metode ekuitas tidak lagi sesuai karena beberapa alasan.
Pada saat penghentian penggunaan metode ekuitas, jumiah investasi yang terbawa pada
tanggal tersebut diperlakukan sebagai biaya (cost).
Penerapan Metode Ekuitas
Terdapat beberapa prosedur dalam penerapan metode ekuitas yang tidak berbeda dengan
prosedur konsolidasi sebagaimana dijelaskan dalam Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi. Selanjutnya, konsep yang
mendasari prosedur konsolidasi yang digunakan dalam perolehan anak perusahaan
digunakan dalam perolehan investasi dalam perusahaan asosiasi. Investasi dalam

perusahaan asosiasi dipertanggungjawabkan dengan metode ekuitas sejak tanggal pada


saat investasi tersebut memenuhi definisi perusahaan asosiasi. Selisih (baik positif
maupun negatif) antara biaya perolehan (acquisition cost) dengan bagian investor atas
nilai wajar aktiva neto yang dapat diidentifikasi (net identificable asset) pada tanggal
akuisisi harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha. Penyesuaian yang
diperlukan terhadap bagian investor atas laba rugi setelah akuisisi harus dilakukan untuk
hal-hal berikut :
(a) Penyusutan aktiva tetap berdasarkan nilai wajarnya.
(b) Amortisasi atas selisih antara biaya perolehan dan bagian investor atas nilai wajar
aktiva neto yang dapat diidentifikasi (investor's share of the fair value of net
identifiable assets) .
Laporan keuangan perusahaan asosiasl yang paling akhir digunakan oleh investor dalam
penerapan metode ekuitas; laporan tersebut biasanya disajikan pada tanggal yang sama
dengan laporan keuangan investor. Jika tanggal pelaporan tersebut berbeda, perusahaan
asosiasi sering menyajikan, untuk digunakan oleh investor, laporan pada tanggal yang
sama dengan laporan keuangan investor. Jika penyamaan tanggal tidak mungkin
dilakukan, dapat digunakan laporan keuangan yang disusun pada tanggal pelaporan
yang berbeda, akan tetapi prinsip konsistensi mempersyaratkan bahwa jangka waktu
penggunaan tanggal tersebut konsisten dari periode ke periode.
Jika digunakan laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang berbeda,
penyesuaian dilakukan terhadap dampak dari setiap transaksi atau peristiwa signifikan
yang terjadi antara investor dan perusahaan asosiasi antara tanggal laporan keuangan
perusahaan asosiasi dan tanggal laporan keuangan investor. Laporan keuangan investor
lazimnya disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi untuk transaksi dan
peristiwa yang sama dalam keadaan yang serupa. Apabila perusahaan asosiasi
menggunakan kebijakan akuntansi yang lain daripada yang digunakan investor untuk
transaksi dan peristiwa yang sama, maka penyesuaian tertentu dilakukan terhadap
laporan keuangan - perusahaan asosiasi apabila laporan tersebut digunakan oleh investor
dalam penerapan metode ekuitas. Jika penyesuaian semacam itu tidak dapat dilakukan,
fakta adanya perbedaan tersebut harus diungkapkan. Jika perusahaan asosiasi memiliki
saham preferen kumulatif yang dimiliki oleh pihak luar, investor menghitung bagiannya

atas laba atau rugi setelah penyesuaian untuk dividen saham prioritas dengan
mengabaikan apakah dividen tersebut telah atau belum dideklarasikan. Jika,
berdasarkan metode ekuitas, bagian investor atas kerugian perusahaan asosiasi sama
atau melebihi nilai tercatat dari investasi, maka investasi dilaporkan nihil. Kerugian
selanjutnya diakru oleh investor apabila telah timbul kewajiban atau investor melakukan
pembayaran kewajiban perusahaan asosiasi yang dijaminnya. Jika perusahaan asosiasi
selanjutnya laba, investor akan mengakui penghasilan apabila setelah bagiannya atas
laba menyamai bagiannya atas kerugian bersih yang belum diakui. Jika terjadi
penurunan permanen atas nilai investasi dalam perusahaan asosiasi, nilai tercatat
dikurangkan untuk mengakui penurunan tersebut. Karena investasi pada perusahaan
asosiasi secara individual penting bagi investor, maka nilai tercatat ditentukan untuk
setiap perusahaan asosiasi secara individual.

Ventura Bersama
Ventura bersama adalah perjanjian kontraktual dimana dua atau lebih pihak
menjalankan aktivitas ekonomi yang tunduk pada pengendalian bersama.Sedangkan
pengendalian bersama adalah persetujuan kontraktual untuk berbagai pengendalian atas
suatu aktivitas ekonomi dan ada hanya ketika keputusan keuangan dan operasional
strategis terkait dengan aktivitas tersebut mensyaratkan konsesus dari seluruh pihakpihak yang berbagai pengendalian. Ventura bersama menggunakan banyak bentuk dan
struktur yang berbeda. Tiga jenis umum ventura bersama, yaitu : pengendalian bersama
operasi,pengendalian bersama asset, dan pengendalian bersama entitas yang secara
umum dijelaskan sebagai dan memenuhi definisi dari ventura bersama.
Karakteristik umum seluruh ventura bersama adalah :
(a) Dua atau lebih venturer terikat oleh suatu perjanjian kotraktual
(b) Perjanjian kontraktual tersebut membentuk pengendalian bersama
Pengendalian Bersama Operasi
Operasi melibatkan penggunaan aset dan sumber daya lainnya dari venturer bukan
pendirian suatu perseoran terbata, persekutuan, atau entitas lainnya, atau suatu struktur
keuangan yang terpisah dari venturer. Sehubungan dengan bagian partisipasi dalam
pengendalian bersama operasi venturer mengakui dalam laporan keuangannya :

(a) Aset yang dikendalikan dan liabilitas yang ditanggung


(b) Beban yang ditanggung dan bagian pendapatan yang diperoleh dari penjualan
barang dan jasa ventura bersama
Pengendalian Bersama Aset
Aset digunakan untuk memperoleh manfaat bagi venturer. Setiap venturer dapat
mengambil suatu bagian output dari aset dan menanggung suatu bagian yang disetujui
dari beban yang terjadi. Sehubungan dengan bagian partisipasinya dalam pengendalian
bersama aset, venturer mengakui dalam laporan keuangannya :
(a) Bagiannya diklasifikasikan sesuai dengan sifat aset
(b) Setiap liabilitas yang telah terjadi
(c) Bagiannya atas liabilitas yang terjadi bersama dengan venturer lain yang berkaitan
dengan ventura bersama
(d) Setiap penghasilan dari penjualan atau penggunaan bagiannya atas output ventura
bersama
(e) Setiap beban yang telah terjadi sehubungan dengan bagian partisipasinya dalam
ventura bersama
Pengendalian Bersama Entitas
Pengendalian bersama entitas adalah ventura bersama yang melibatkan pendirian suatu
perseoran

terbatas,

persekutuan

atau

entitas

lainnya

yang

mana

setiap

venturer mempunyai bagaian partisipasi. Pengendalian ini mengendalikan aset ventura


bersama, menanggung liabilitas dan beban, dan memperoleh penghasilan.
Laporan Keuangan Venturer
Venturer mengakui bagian partisipasinya dalam pengendalian bersama entitas dengan
menggunakan metode ekuitas, atau sebagai alternatif, konsolidasi proporsional. Ketika
konsolidasi proporsional digunakan, maka salah satu dari dua format pelaporan di
bawah ini digunakan. Penerapan konsolidasi proposional berarti laporan posisi
keuangan venturer memasukan bagiannya atas aset yang dikendalikan bersama dan
libailitas yang ditanggung bersama. Laporan laba rugi komperhensif venturer mencakup
bagiannya atas penghasilan dan beban dari pengendalian bersama entitas. Banyak
prosedur yang sesuai bagi penerapan konsolidasi proporsional serupa dengan prosedur
untuk konsolidasi investasi pada entitas anak, sebagaimana diatur dalam PSAK 4
(laporan keuangan konsolidasian dan laporan keuangan tersendiri). Venturer

menghentikan

penggunaan

konsolidasian

proporsional

sejak

tanggal

venturer

kehilangan pengendalian bersama atas pengendalian bersama entitas.


Pengungkapan
Venturer mengungkapkan jumlah agregat dari liabilitas kontinjensi berikut secara
terpisah dari jumlah libilitas kontinjensi :
(a) Setiap liabilitas kontinjensi yang ditanggung oleh venturer terkait dengan bagian
partisipasinya dalam ventura bersama dan bagiannya dalam setiap libailitas
kontinjensi yang telah terjadi secara bersama dengan venturer lain.
(b) Bagian venturer atas liabilitas kontinjensi dari ventura bersama itu sendiri dimana
ventura bersama tersebur terutang secara kontinjen.
(c) Liabilitas kontinjensi yang timbul akibat venturer terutang secara kontinjen untuk
liabilitas venturer lain dari ventura bersama.
Venturer mengungkapkan jumlah agregat dari komitmen berikut terkait dengan bagian
partisipasinya dalam venutra bersama secara terpisah dari komitmen lainnya :
(a) Setiap komitmen modal venturer yang terkait dengan bagian partisipasinya dalam
ventura bersama dan bagiannya dalam setiap komitmen modal yang telah terjadi
secara bersama dengan venturer lain.
(b) Bagiannya atas komitmen modal dari ventura bersama itu sendiri.
Venturer mengungkapkan daftar dan penjelasan bagian partisipasi dalam ventura
bersama yang signifikan dan bagian partisipasi kepemilikan dalam pengendalian
bersama entitas. Venturer yang mengakui bagian partisipasinya dalam pengendalian
bersama entitas menggunakan format pelaporan baris demi baris untuk konsolidasi
proporsional atau metode ekuitas, mengungkapkan jumlah agregat setiap aset lancar,
aset tidak lancar, liablitas jangka panjang, penghasilan dan beban yang terkait dengan
bagian partisipasinya dalam ventura bersama. Venturer mengungkapkan metode yang
digunakan untuk mengakui bagian partisipasinya dalam pengendalian bersama entitas.