Anda di halaman 1dari 2

Cara Pencegahan dan Penanganan Leptospirosis

Cara Pencegahan pada Lingkungan,Hewan,dan Manusia


Penularan Leptospirosis dapat terjadi jika ada kontak antara manusia dengan
lingkungan atau bahan pangan dengan reservoir seperti tikus atau lingkungan. Pencegahan
Leptospirosis pada lingkungan dan hewan bisa dilakukan dengan beberapa cara sebagai
berikut :
Pencegahan hubungan dengan air atau tanah yang terkontaminasi
Melindungi sanitasi air
Pemberian vaksin pada hewan
Pencegahan dengan antibiotik kemoprofilaksis
Pengendalian hospes perantara leptospira
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
Penanganan sampah secara benar
Menghalau dan Memberantas tikus
Selalu memakai alas kaki tertutup,sarung tangan,dan pelindung mata ketika
menangani hewan dan ketika beraktivitas diluar
Jangan berenang di dalam air yang mungkin tercemar urine hewan
Tutupi luka dan lecet dengan balut kedap air
Jangan beri anjing pakan jeroan mentah
Tikus mempunyai peranan penting pada saat Kejadian Luar Biasa (KLB) Leptospirosis
di DKI Jakarta. Tikus terutama Rattus Norvegicus merupakan reservor penting dalam
penularan Leptospirosis. Hasil penelitian Agung Prasetyo (2006) bahwa adanya populasi
tikus di dalam rumah mempunyai risiko 5,17 kali lebih besar untuk terjadi Leptospirosis.
Penelitian Murtiningsih (2003) di Yogyakarta dan sekitarnya menyimpulkan bahwa
dijumpainya tikus di dalam rumah meningkatkan risiko 7,4 kali kejadian Leptospirosis.
Tindakan pencegahan Leptospirosis di lingkungan air dilakukan dengan cara
pemberian desinfeksi sodium hipoklorit. Setiap penampungan air yang ada di sekitar rumah
kasus Leptospirosis (ember, bak dll.) diberi 1:4000 sodium hipokloritt (1 ml sodium
hipoklorit untuk 4 liter air). Sedangkan genangan air di sekitar rumah (kolam, genangan air
sungai/hujan, dan bak-bak air untuk wudlu) diberi chlorine diffuser. Pada genangan air dan
kolam berukuran minimal 2 x 4 m dengan kedalaman 1 m diberi chlorine diffusser sebanyak
4 set di sudut kolam, dan genangan air tanah berukuran minimal 4 x 10 m kedalaman 1-1,5 m
diberi chlorine diffusser sebanyak 5 set yang diletakkan di sudut dan tengah gengan air.
Pengendalian tikus dilakukan dengan cara pemasangan perangkap kawat, di habitat
rumah dan LTBS (linier trap barrir system) di sawah. Jumlah perangkap yang digunakan
untuk menangkap tikus sebanyak 100 perangkap (60 perangkap di pasang di dalam rumah
dan 40 perangkap di luar rumah/kebun). Secara garis besar upaya pengendalian Leptospirosis
dapat dilakukan antara lain dengan peningkatan pengetahuan untuk dapat melakukan usaha
preventif atau menghindari risiko, pengelolaan dan sanitasi lingkungan, serta pengendalian
tikus. Pencegahan penyakit Leptospirosis yang efektif antara lain membiasakan diri
berperilaku hidup bersih dan sehat, menyimpan makanan agar terhindar dari tikus, memakai
alat pengaman diri jika berada atau kontak dengan benda dan barang yang berisiko
terkontaminasi kencing tikus, dan menghalau binatang pengerat (khususnya tikus) dengan
cara menjaga kebersihan rumah dan mengelola sampah dengan benar (Widarso. 2004).

Cara pencegahan pada Pangan

Pemanasan suhu 50 derajat Celcius selama 10 menit atau 60 derajat Celcius selama
kurang dari 1 menit.
Tempat penyimpanan bahan pangan maupun pangan yang masak harus tertutup
Hindari kontak dengan bahan media yang mengandung Leptospirosis
Selalu cuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh bahan pangan
Cuci semua peralatan yang akan digunakan ataupun yang siap digunakan
Jangan makan sambil menangani hewan yang mungkin terkena. Cuci dan keringkan
tangan sebelum makan.

Cara Pengobatan Leptospirosis pada hewan


A. Leptospirosis ringan (mild illness/suspect case) :
Doxycycline kapsul 100 mg 2x/hari (selama 7 hari)
Amoxicillin atau Ampicillin kapsul 2gr/hari (selama 7 hari)
B. Leptospirosis berat (severe case/probable case)
Injeksi Penicillin G2 juta unit IV/6 jam (selama 7 hari)
Injeksi Ceftrioxine 1 gr IV/ hari (selama 7 hari)
DAFTAR PUSTAKA
Agung Prasetyo. 2006. Faktor-faktor risiko leptospirosis berat di kota Semarang. Tesis.
Bagian / SMF Ilmu Penyakit Dalam. FK Undip. RSDK.
Murtiningsih dan Berty. 2003. Faktor Risiko Leptospirosis di Provinsi Yogyakarta dan
Sekitarnya. Program Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.
Widarso, E.H.S. (2004). Pedoman Diagnosa dan Penatalaksanaan Kasus Penanggulangan
Leptospirosis di Indonesia, Jakarta.