Anda di halaman 1dari 2

Nanoteknologi: Teknologi Ramah

Lingkungan
Written by Muhammad Syakir, S.Si
Wednesday, 10 February 2010
Dalam periode pada tahun 2010 sampai 2020 akan tejadi percepatan luar biasa dalam
penerapan nanoteknologi di dunia industri dan ini menandakan bahwa sekarang ini dunia
sedang mengarah pada revolusi nanoteknologi.
Negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, Kanada dan negara-negara Eropa,
serta beberapa negara Asia, seperti Singapura, Cina, dan Korea tengah giat-giatnya
mengembangkan suatu cabang baru teknologi yang populer disebut Nanoteknologi. Mereka
berani mengucurkan milyaran dollar dana di berbagai bidang penelitian. Semuanya berlomba-
lomba menggunakan kata kunci Nanoteknologi.

Nanoteknologi adalah teknologi pada skala nanometer, atau sepersemilyar meter. Indonesia
memiliki peluang untuk mengatasi ketertinggalan dari negara lain melalui pengembangan
nanoteknologi. Dengan nanoteknologi, kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat diberi
nilai tambah guna memenangi persaingan global. Dengan menciptakan zat hingga berukuran
satu per miliar meter (nanometer), sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang
diinginkan.Dengan nanoteknologi pula, kekayaan alam menjadi tak berarti karena sifat-sifat
zat bisa diciptakan sesuai dengan keinginan. Karena itu, kita harus mampu memberi nilai
tambah atas kekayaan alam kita.

Negara yang tidak menguasai nanoteknologi akan menjadi penonton atau paling tidak akan
semakin jauh tertinggal dari negara lain. Nanoteknologi akan mempengaruhi industri baja,
pelapisan dekorasi, industri polimer, industri kemasan, peralatan olah raga, tekstil, keramik,
industri farmasi dan kedokteran, transportasi, industri air, elektronika dan kecantikan.
Penguasaan nanoteknologi akan memungkinkan berbagai penemuan baru yang bukan sekadar
memberikan nilai tambah terhadap suatu produk, bahkan menciptakan nilai bagi suatu produk.

Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng, peneliti pada Pusat Penelitian Fisika LIPI telah
mematenkan alat pembentuk nanopartikel. Temuan ini menjadi terobosan penting dalam
mencapai kemajuan di bidang industri dan lingkungan, dengan kata lain untuk mencapai
kemajuan teknologi yang lebih efisien, hemat, dan ramah lingkungan

Ramah lingkungan karena dengan nanoteknologi sebuah produk dapat dibuat dengan bahan
yang sedikit, tetapi berkualitas. Dr. Nurul Taufiqu Rochman mencontohkan hasil penelitian
nanopartikel baja yang sedang ditekuninya bahwa nanopartikel baja diarahkan untuk
membentuk materi baja yang lebih ringan dan hemat. Tetapi, kualitas baja itu tidak berkurang,
bahkan partikel nano dalam baja mampu menambah kekuatannya. Penelitian nanopartikel baja
ini dapat mengurangi bobot mobil mencapai 30 persen, tanpa mengurangi kekuatannya.
Begitu pula, pengurangan bobot baja tanpa mengurangi kekuatannya sangat bermanfaat
seperti pada pengembangan konstruksi-konstruksi bangunan yang terus berkembang saat ini.
Di samping itu, bahan dasar pembuat baja yang diperlukan dapat dikurangi setengah dan
eksplorasinya dapat ditekan.

Dalam buku yang berjudul Gelombang Nanoteknologi, yang ditulis oleh Dr. Kebamoto,
disebutkan bahwa isu lingkungan sangat berkait erat dengan polusi. Di sini, penguasaan
nanoteknologi akan memberikan jalan keluar untuk mengatasi polusi.

Menurut buku ini ada delapan keunggulan nanoteknologi untuk mengatasi polusi.
Pertama, dengan penguasaan nanoteknologi akan mengurangi penggunaan bahan bakar di
bidang transportasi. Kedua, mengurangi gas buang dan limbah. Ketiga, nanofilter akan
mampu menyaring debu, gas dan partikel di bawah orde satu mikron. Keempat, nanoteknologi
memungkinan pembuatan barang dengan bahan yang sedikit dengan kualitas baik. Kelima,
dengan nanoteknologi akan ditemukan solar sel yang bisa mengurangi sumber energi senyawa
karbon. Keenam, nanoteknologi memungkinkan penemuan baterai dengan kapasitas tinggi
dan bertahan lama. Ketujuh, nanoteknologi akan memungkinkan penghematan energi karena
jaringan listrik tidak lagi menggunakan tembaga sebagai konduktor listrik, tapi akan
menggunakan konduktor dengan tingan resistensi nol. Kedelapan, nanoteknologi
memungkinkan penggunaan hidrogen sebagai sumber energi baru.

Sebuah majalah ilmiah American Society of Mechanical Engineering melaporkan bahwa


beberapa ilmuwan telah berhasil menemukan lampu penerang hasil rekayasa dalam skala nano
yang mampu menghemat konsumsi energi lebih dari 10 persen. Lampu penerang ini
diperkirakan dapat menghemat sebesar 100 miliar dollar AS per tahun serta mampu
mengurangi emisi karbon sebesar 200 juta ton per tahun.

Untuk itu, tidak berlebihan kalau kemajuan teknologi di masa depan akan ditentukan
nanoteknologi, rekayasa biologi dan teknologi informasi, dimana ketiganya memiliki saling
ketergantungan. Oleh karena itu dengan semakin berkembang pesatnya teknologi saat ini,
maka kitapun harus segera menyesuaikan diri agar kita tidak tertinggal dan mempersiapkan
diri dari segala aspek. Akhirnya, ketika kita sudah siap, maka sambutlah nanoteknologi itu
dengan senyuman yang ramah dan bersegeralah kita berubah. Mari bersama membangun
bangsa dengan nanoteknologi.

Referensi :
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0503/05/opi05.html
http://sudarjanto.multiply.com/journal/item/1743/Menuju_Era_Nanoteknologi
http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=7&id=2160
http://arghainc.wordpress.com/2008/09/24/lipi-menemukan-terobosan-dalam-bidang-
nanoteknologi/
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0309/29/inspirasi/588634.htm