Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

REPRODUKSI DAN EMBRIOLOGI


STRUKTUR FUNGSI BUNGA

Disusun oleh:
Anisatun Arviani

14304241010

Estu Ria Dwi Yulianingsih

14304241019

Furi Rahayu Marinta

14304244004

Fenti Richa Rukmana

14304244012

Pendidikan Biologi A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

A. Latar belakang
Tumbuhan mempunyai kemampuan untuk memperbanyak diri atau berkembang
biak secara aseksual maupun seksual. Pada tumbuhan Angiospermae, bunga merupakan
bagian yang sangat penting karena proses meiosis dan fertilisasi terjadi di dalam bunga
yaitu pistillum (putik) dan stamen (benang sari) (Budiwati, 2016: 6).
Bunga merupakan shoot (pucuk) yang termodifikasi. Batang pada pucuk
termodifikasi nantinya menjadi pedicel (tangkai bunga) dan dasar bunga. Receptaculum
(dasar bunga) biasanya merupakan bagian ujung tangkai bunga yang melebar menjadi
tempat tumbuhnya bagian-bagian bunga yang termodifikasi dari daun pada pucuk. Bunga
tersusun atas bagian steril yaitu perhiasan bunga yang terdiri atas calyx (kelopak) dan
corolla (mahkota) serta bagian fertil yaitu pistillum (putik) dan stamen (benang sari) .
Menurut Gembong (2009: 144-145), bunga dibedakan menjadi bunga lengkap (flos
completusl) jika memiliki semua bagian yaitu calyx, corolla, pistilum, dan stamen
sedangkan bunga tidak lengkap (flos incompletus) jika salah satu hiasan bunganya atau
alat kelaminnya tidak ada. Sedangkan berdasarkan alat reproduksinya bunga dibedakan
menjadi perfect flower (bunga sempurna) jika memiliki pistilum dan stamen dan
imperfect flower (tidak sempurna) jika hanya memiliki salah satu alat kelamin yaitu
pistilum atau stamen saja.
Berdasarkan hal tersebut, pada praktikum kali ini diamati struktur bunga untuk
untuk mengetahui bagian-bagian bunga berdasarkan alat reproduksi seksualnya, struktur
bunga, dan bagian bunga yang berkembang menjadi buah.
B. Tujuan
1. Mengamati struktur bunga.
2. Mengamati bagian-bagian bunga yang mempunyai peranan penting pada proses
reproduksi seksual.
3. Mengamati bagian bunga yang berkembang menjadi buah.
C. Metode
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah: kaca objek dan penutupnya,
pinset, silet, dan mikroskop cahaya.
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah: bunga anggrek (Arachnis flos-aeris),
bunga pepaya (Carica papaya), bunga telang (Clitoria ternatea), bunga kembang
sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), bunga markisa (Passiflora sp) dan air.
3. Cara kerja

Bunga diamati morfologinya secara menyeluruh pada perhiasan bunga maupun


alat reproduksinya (stamen dan pistillum). Kemudian diinventarisasi bentuk, warna,
posisi serta detail masing-masing bagiannya saling berlekatan atau tidak. Setelah itu
bunga dipotong membujur lalu diamati bentuk serta posisi ovarium, filamen, dan
stylus. Dilanjutkan dengan dokumentasi obyek yang telah diamati. Untuk mengetahui
adanya pollen serta bentuknya, diambil sebuah anthera yang sudah masak
menggunakan pinset dan diletakan diatas gelas benda yang telah diberi setetes air.
Dengan pinset anthera digoyang agar pollen keluar, kemudian diamati dibawah
mikroskop dan didokumentasi hasil pengamatannya.
D. Hasil dan pembahasan
1. Bunga pepaya (Carica papaya)
Pepaya termasuk golongan tumbuhan poligamus, karena pada satu tumbuhan
terdapat bunga jantan, bunga betina dan bunga banci atau berkelamin dua
(hermaprodit). Bunga jantan merupakan bunga majemuk bertangkai panjang dan
bercabang-cabang. Sedangkan bunga betina merupakan bunga tunggal. Bunga
pepaya berwarna putih kekuningan.
Bunga jantan berbentuk corong dan ramping. Memiliki panjang kurang lebih
3cm (gambar 1A). Tepala berjumlah lima helai. Tidak memiliki pistillum maupun
ovarium sehingga tidak dapat berkembang menjadi buah. Stamen sempurna,
berjumlah 10 helai (gambar 1B). Pada antera terdapat pollen. Pollen merupakan
butir tunggal yang berbentuk lonjong seperti terlihat pada gambar (gambar 1C).
Bunga betina berbentuk kerucut, memiliki panjang kurang lebih 6 cm
(gambar 1D). Tepala terdiri atas 5 helai dan letaknya terlepas satu sama lain.
Bunga tidak memiliki stamen, tetapi memiliki pistillum dengan kepala berjumlah
5. Pistillum dilengkapi dengan stylus yang pendek atau bebas tanpa stylus.
Memiliki ovarium beruang satu, berbentuk bulat atau bulat telur dan tepinya rata.
Ovarium menumpang diatas receptaculum atau berada di bagian paling tinggi
sumbu bunga sehingga disebut bunga hipogin. Bunga betina dapat berkembang
menjadi buah bila diserbuki bunga jantan dari luar (gambar 1E).

A
B
C
D
E
Gambar 1. Bunga pepaya (Carica papaya). A. Bunga jantan utuh; B. Bunga jantan
diiris median membujur; C. Pollen; D. Bunga betina utuh; E. Bunga
betina diiris median membujur; Keterangan: O=Ovarium; Ov=Ovulum;
P=Pistillum;

Ped=Pedicel;

Po=Pollen;

St=Stamen;

Stg=Stigma;

T=Tepala.
2. Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) merupakan bunga sempurna karena
memiliki stamen dan pistilum. Bunga ini juga merupakan bunga lengkap karena
memiliki calyx, corolla, stamen, dan pistillum.
Hibiscus rosa-sinensis terbagi atas 2 bagian, yaitu bagian bunga steril dan
bagian bunga fertil. Bagian steril terdiri atas pedical sebagai penghubung antara
bunga dan bagian batang; receptaculum yang fungsinya sebagai tempat meletaknya
calyx yang digunakan untuk melindungi corolla atau petala sebelum mekar atau
sewaktu kuncup. Perhiasan bunga terdiri atas calyx, epicalyx dan corolla. Bagian
fertil tersusun atas androecium berupa stamen dan gymnaecium yang berupa
pistillum. Corolla pada bunga sepatu berwarna mencolok sedangkan Petala nampak
melebar dan tidak saling berlekatan.
Bagian yang berperan dalam proses reproduksi bunga sepatu yang pertama
adalah androecium yang terdiri dari stamen yang berjumlah banyak yang terdiri dari
bagian filament dan anthera yang terletak di bagian ujung (distal). Pada bagian
anthera dihasilkan pollen yang kemudian diamati di bawah mikroskop dengan
perbesaran 150X. Hasil pengamatan pollen di bawah mikroskop menunjukkan
struktur berbentuk bulat dengan struktur tonjolan-tonjolan seperti duri yang menutupi
seluruh permukaannya. Bagian kedua adalah alat gymnaecium yang berupa pistillum
yang terdiri dari bagian stigma, stylus, dan ovarium dengan ovulum yang melekat
dibagian dindingnya. Stamen pada pada bunga sepatu ini bersatu dengan stylus
3

membentuk tabung dimana struktur seperti ini disebut monadelphus. Posisi anthera
dengan filament terlihat tegak dan anthera pada bunga Sepatu berjumlah 5. Posisi
ovarium bunga sepatu setengah tenggelam (hemi inferus) yang berarti bunga Sepatu
termasuk bunga perigin. Ovarium bunga sepatu memiliki bentuk oval dan filamentfilament bersatu membentuk tabung yang mengelilingi pistillum (monadelphus)
sehingga didalamnya tampak berongga.

po

Gambar 2. Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis). A. Bunga utuh; B. Bunga diiris


median membujur; C. Bagian fertile berupa ovarium; D. Bagian fertile
berupa pistillum dan stamen; E. Pollen, Keterangan: a=anther, ca=calyx,
ep=epicalyx, f=filament, o=ovarium, ov=ovulum, pd=pedical, pe=petal,
s=stylus, stg=stigma, po=pollen.
3. Bunga Markisa (Passiflora sp.)
Bunga Markisa (Passiflora sp.) merupakan bunga sempurna karena memiliki
stamen dan pistillum. Bunga ini juga merupakan bunga lengkap karena memiliki
calyx, corolla, stamen, dan pistillum.
Bunga Markisa terbagi atas 2 bagian yaitu bagian bunga steril dan bagian bunga
fertil. Bagian steril pada Passifora terdiri dari pedical sebagai penghubung antara
bunga dan bagian batang. Pada pedical terjadi pelebaran menjadi receptaculum.
Tangkai bunga yang melebar digunakan sebagai tempat duduknya corolla yang
tersusun atas petala, serta corrona. Bagian fertil tersusun atas androecium berupa
stamen dan gymnaecium yang berupa pistillum.
Bunga Passiflora memiliki dua perhiasan bunga. Perhiasan yang pertama
adalah petala yang berbentuk 5 lembaran yang berwarna merah dan disela-selanya
terdapat 5 sepala dengan bentuk dan warna yang mirip, serta setiap lembarnya
berlekatan dengan pangkalnya. Sedangkan corona berbentuk seperti serabut atau
rambut dengan warna putih (saat muda) dan warna merah (saat dewasa), perhiasan ini

juga saling berlekatan dengan pangkalnya. Pada bagian bawah terdapat modifikasi
daun berupa brachtea.
Bagian yang berperan dalam proses reproduksi bunga markisa yang pertama
adalah androecium yang terdiri dari stamen yang berjumlah 5 dan pistillum yang
berjumlah 3. Bagian stamen terdiri dari bagian filament dan anthera. Hasil
pengamatan pollen di bawah mikroskop dengan perbesaran 100X menunjukkan
struktur berbentuk bulat yang berukuran lebih kecil dibanding pollen pada bunga
Sepatu. Bagian kedua adalah gymnaecium yang berupa pistillum yang terdiri dari
bagian stigma, stylus, dan ovarium dengan ovulum yang berada di dalamnya. Posisi
ovarium menumpang (superus) sehingga termasuk bunga hipogin. Bakal buah pada
bunga markisa yang berada di bagian atas didukung oleh sebuah struktur berbentuk
tabung yang dinamakan androginofor.

po

Gambar 3. Bunga markisa (Passiflora sp.). A. Bunga utuh; B. Bunga diiris median
membujur; C. Bagian fertile berupa benang sari dan putik; D. Pollen,
Keterangan:

a=anther,

ad=androginofor,

br=brachtea,

cr=corona,

f=filament, o=ovarium, ov=ovulum, pd=pedical, pe=petal, s=stylus,


se=sepala, stg=stigma, po=pollen.

4. Bunga Telang (Clitoria ternatea)


Bunga telang (Clitoria ternatea) digolongkan dalam bunga monosimetris.
Bunga ini termasuk bunga lengkap karena dijumpai hiasan bunga dan alat kelamin
yang lengkap yaitu calyx, corolla, stamen, dan pistillum. Karena memiliki alat
kelamin yang lengkap, bunga telang juga disebut sebagai bunga sempurna karena
memiliki stamen, dan pistillum.

Bagian-bagian bunga yang diamati dari bunga Clitoria ternatea yaitu pedicel,
calyx dan corolla, namun untuk pistillum dan stamen tidak bergitu terlihat karena
ukurannya yang kecil. Struktur petala pada bunga ini tersusun atas carina 2 helai,
berlekatan pada salah satu sisinya dan menghadap ke bawah. Rongga yang dibentuk
oleh carina menyelubungi pistillum dan stamen. Alae berjumlah 2 helai dan
menempati posisi lateral terhadap carina. Vexillum 1 helai yang merupakan petala
yang paling besar ukurannya dan yang mengarah ke atas (gambar 4A).
Clitoria ternatea memiliki panjang 3,5 cm (gambar 4A), memiliki stamen
berjumlah10 buah dan terdapat antera berwarna kuning. Untuk mengetahui bentuk
pollen maka diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 150X. Hasil pengamatan
pollen dijumpai bentuk seperti segitiga yang tumpul (gambar 4C). Pistillum pada
bunga ini berbentuk memanjang dan sedikit pipih dengan adanya ovarium yang
bentknya pipih memanjang pada bagian bawah pistillum.

Gambar 4. Bunga telang (Clitoria ternatea). A. Bunga utuh; B. Bunga diiris median
membujur; C. Pollen, Keterangan: a=alae, v=vexillum, c=carina,
s=sepala, st=stylus, sti=stigma, sta=stamen, p=pedicel, o=ovarium,
po=pollen.
5. Bunga Anggrek (Arachnis flos-aeris)
Bunga anggrek (Arachnis flos-aeris) merupakan bunga yang memiliki struktur
khusus. Pada bungga anggrek tidak dijumpai calyx hanya terdapat daun-daun
perhiasan bunga, pistillum dan stamen saja, sehingga bunga anggrek digolongkan
dalam bunga tidak lengkap. Ditinjau dari kelengkapan alat reproduksinya bunga
anggrek merupakan bunga sempurna karena memiliki pistillum dan stamen.
Perhiasan bunga pada anggrek tersusun dalam 2 lingkaran masing-masing
terdiri atas tiga daun perhiasan bunga. Salah satu daun perhiasan bunga lingkaran
dalam termodifikasi menjadi labellum. Biasanya anggrek hanya mempunyai stamen
6

tunggal menyatu dengan stylus dan stigma membentuk suatu struktur yang disebut
ginostemium. Anther berada di ujung ginostemium dan menghasilkan kumpulan
pollen yang disebut polinium yang umumnya duduk di atas tangkai caudiculae
(Budiwati, 2016: 10).
Stigma pada anggrek tersembunyi di bagian ginostemium yang ditutupi oleh
sehelai selaput yang disebut rostelum (gambar 5C). Dibawah stigma terdapat ovarium
yang posisinya jauh lebih rendah dari bagian bunga lainnya sehingga anggrek
dikelompokkan dalam bunga epigin. Pollen pada bunga anggrek tidak teramati
karena kumpulan pollen memadat dan membentuk struktur yang disebut polinium,
kumpulan polinium membentuk polinia yang melekat pada stipes (tangkai) dengan
perantaraan caudicula yaitu bagian yang pendek dan sangat elastis (gambar 5B).

A
B
C
Gambar 5. A. Bunga utuh; B. Pollinia ; C. Potongan membujur median, Keterangan:
a=anther, o=ovarium, ov=ovulum, p=pedical, po=pollinia, st=stylus,
s=sepala, g=ginostemium, l=labellum.

6. Rekonstruksi Perkembangan Bunga


Buah markisa dibentuk oleh tiga carpella yang tepinya melipat ke dalam dan
merupakan sekat-sekat sejati, tetapi ujung daun-daun buah itu melipat lagi ke arah
dinding buah, sehingga ruang-ruang yang terjadi dari tengah-tengah buah terbagi lagi
oleh sekat-sekat yang tidak sempurna. Namun, jika buah telah masak sekat-sekatnya
pun akan lenyap, hingga buah hanya mempunyai satu ruangan saja dengan rongga
yang kosong tengahnya. Pada buah yang telah masak yang terlihat adalah adanya 3
bagian perlekatan biji pada bagian daging buah namun bagian tersebut tidak
menjorok ke bagian dalam seperti pada buah pepaya.

Gambar 6. Bunga Passiflora sp. Keterangan a=antera; an=androginofor;


ce=cepala;

co=corona;

f=filamen;

o=ovaroum;

ov=ovulum;

ped=pedilpus; pe=petala; st=stilus; stg=stigma.


E. Kesimpulan
1. struktur bunga secara umum terdiri pedicel, calyx, corolla, stamen, dan pistilum.
Pada beberapa bunga terdapat bagian tambahan seperti epicalyx dan corona.
2. bagian bunga yang mempunyai peranan penting dalam proses reproduksi seksual
adalah stamen sebagai alat kelamin jantan, pistilum sebagai alat kelamin betina,
ovarium dan ovulum yang berfungsi sebagai alat reproduksi generatif.
3. bagian bunga yang berkembang menjadi buah adalah ovarium yang berada di
bawah putik. Di dalam ovarium tersebut terdapat ovulum yang akan berkembang
menjadi biji.
F. Daftar pustaka
Budiwati. 2016. Reproduksi Generatif Angiospermae. Yogyakarta: FMIPA UNY.
Gembong Tjitrosoepomo. 2009. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press