Anda di halaman 1dari 7

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan ini hanya digunakan ID kolom 53 mm dengan variasi
ketinggian unggun awal

2,5; 3,5; 4,5 dan 5,5 cm. Melalui percobaan kita

mendapatkan hasil hubungan antara pressure drop dengan flowrate udara selain
itu juga hubungan flowrate udara dengan porositas bed. Namun pressure drop
hanya didapat melalui perhitungan karna alat manometer dalam praktikum tidak
dapat digunakan. Berikut hasil dan pembahasan pada praktikum ini.
3.1 Hubungan Pressure drop dan porositas dengan flowrate udara.
3.1.1 Pasir Halus
Pasir halus dengan tinggi unggun yang bervariasi dan ID kolom 53 mm.
80
70
60
50

P (Kg/m.s^2)

40

Lo 2,5 cm

30

Lo 3,5 cm
Lo 4,5 cm

20

Lo 5,5 cm

10
0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4
V' (m/s)

Gambar 3.1 Grafik Hubungan Pressure Drop (P) dengan Flowrate Udara (v)
bahan Pasir menggunakan tinggi unggun awal yang divariasikan
Melalui Gambar 3.2 dapat dilihat bahwa pressure drop berhubungan secara
linear dengan laju alir fluida, semakin besar laju alir fluida maka pressure drop
yang terjadi juga semakin besar. Hal ini sesuai dengan persamaan Ergun yang

melibatkan laju alir fluida untuk menghitung pressure drop dengan hubungan
yang berbanding lurus, dapat dilihat pada persamaan 1.3. Selain itu hal ini juga
sesuai dengan prinsip kerja dari fluidisasi yaitu, jika kecepatan superfisial fluida
dinaikkan, maka pada suatu saat gaya seret fluida menyebabkan unggun
mengembang dan tahanan terhadap aliran fluida mengecil, sampai akhirnya gaya
seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel unggun sehingga mulai
bergerak yang disebut dengan kondisi minimum fluidization.
Selain laju alir fluida, tinggi unggun mula-mula juga berhubungan dengan
pressure drop. Melalui Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa semakin besar tinggi
unggun maka pressure drop yang terjadi juga semakin besar. Hal ini disebabkan
oleh massa partikel unggun yang juga semakin besar dengan bertambahnya tinggi
unggun maka pressure drop yang dibutuhkan untuk mengangkat partikel unggun
semakin besar. Hal ini juga sesuai dengan persamaan Ergun yang menyatakan
hubungan tinggi unggun yang berbanding lurus dengan pressure drop dapat dilihat
melalui Persamaan 1.3. Pressure drop yang semakin besar akan mengangkat
partikel-partikel unggun sehingga menyebabkan jarak antar partikel semkain besar
dan tinggi unggun semakin besar.
Melalui Gambar 3.2 dapat dilihat hubungan porositas dengan laju alir fluida,
semakin besar laju alir fluida yang digunakan maka porositas unggun semakin
besar. Hal yang sama dengan prinsip fluidisasi, Laju alir yang semakin besar akan
menurunkan tahanan terhadap aliran fluida hingga akhirnya akan mengangkat
partikel, menyebabkan partikel tersebut terkespansi sehingga menambah
ketinggian unggun. Melalui grafik tersebut juga kita dapat melihat bahwa
perubahan porositas unggun yang signifikan terjadi pada unggun dengan
ketinggian awal 2,5 cm, sedangkan pada ketinggian awal unggun 5,5 cm tidak
terjadi perubahan porositas unggun yang besar. Hal ini disebabkan oleh massa
partikel unggun total yang semakin besar dengan bertambahnya tinggi unggun
awal. Sehingga laju alir fluida yang dibutuhkan harus lebih besar untuk
mengangkat unggun, sementara itu pada grafik tersebut laju alir yang digunakan
sama sehingga tidak terlihat perubahan yang besar.

0.5
0.45
0.4
0.35
0.3
0.25
0.2
Lo 2,5 cm
0.15

Porositas

Lo 3,5 cm

Lo 4,5 cm

Lo 5,5 cm

0.1
0.05
0
0.6

0.7

0.8

0.9

1.1

1.2

1.3

V' (m/s)

Gambar 3.2 Grafik Hubungan porositas unggun dengan Flowrate Udara bahan
pasir menggunakan tinggi unggun awal yang divariasikan
3.1.2

Arang aktif
Arang aktif dengan tinggi unggun yang bervariasi dan ID kolom 53 mm.
30
25
20
P (Kg/m.s^2)
Lo 2,5 cm

15
10 Lo 3,5 cm

Lo 4,5 cm

Lo 5,5 cm

5
0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

1.4

V' (m/s)

Gambar 3.3 Grafik Hubungan Pressure Drop (P) dengan Flowrate Udara (v)
bahan Arang aktif menggunakan tinggi unggun awal yang divariasikan

Melalui Gambar 3.3 dapat dilihat hubungan antara pressure drop dengan
laju alir udara yang berbanding lurus, semakin besar laju alir udara maka pressure
drop yang terjadi juga semakin besar. Hal yang sama terjadi pada arang seperti
pada pasir halus. Namun pada arang aktif grafik yang dihasilkan (Gambar 3.3)
lebih beraturan dibandingkan dengan grafik pada Gambar 3.1 pada pasir halus. Ini
disebabkan oleh kolom atau alat yang digunakan memiliki ukuran jaring penahan
unggun yang lebih besar dibanding dengan diameter partikel pasir sehingga
menyebabkan pasir masuk menuju saluran kompresor.
Hubungan porositas unggun dengan laju alir udara dapat kita lihat pada
gambar berikut.
0.74
0.72
0.7
0.68
P (Kg/m.s^2) 0.66
Lo 2,5 cm
Lo 3,5 cm
0.64

Lo 4,5 cm

Lo 5,5 cm

0.62
0.6
0.6

0.7

0.8

0.9

1.1

1.2

1.3

V' (m/s)

Gambar 3.4 Grafik Hubungan porositas unggun dengan Flowrate Udara bahan
Arang aktif menggunakan tinggi unggun awal yang divariasikan
Melalui Gambar 3.4 dapat diketahui bahwa porositas unggun berbanding
lurus dengan laju alir fluida, semakin besar laju alire fluida maka porositras
unggun juga semakin besar. Hal yang sama juga terjadi jika kita menggunakan
bahan arang aktif. Perubahan yang signifikan terjadi pada unggun dengan tinggi
mula-mula 2,5 cm diakibatkan oleh massa partikel atau banyak nya partikel yang
lebih sedikit dibandingkan dengan unggun dengan tinggi mula-mula 5,5 cm

sehingga pada ekspansi partikel dapat terjadi lebih besar pada unggun 2,5 cm
dengan besar laju alir yang sama.
3.1.3

Zeolit Halus
Zeolit halus dengan tinggi unggun yang bervariasi dan ID kolom 53 mm.
18
16
14
12
10
P (Kg/m.s^2)
Lo 2,5 cm

8
6 Lo 3,5 cm

Lo 4,5 cm

Lo 5,5 cm

4
2
0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

1.4

V' (m/s)

Gambar 3.5 Grafik Hubungan Pressure Drop (P) dengan Flowrate Udara (v)
bahan Zeolit halus menggunakan tinggi unggun awal yang divariasikan
Melalui Gambar 3.5 dapat dilihat bahwa hubungan pressure drop dengan
laju alir udara berbanding lurus, semakin besar laju alir udara maka semakin besar
juga pressure drop yang terjadi dalam unggun. Penjelasan yang sama dengan
hubungan yang terjadi pada bahan pasir halus.
Selain itu juga kita melihat hubungan antara porositas dengan laju alir fluida
pada bahan zeolit halus. Pada zeolit halus terjadi juga hubungan bahwa semakin
besar laju alir fluida maka semakin besar juga porositas unggun atau fraksi kosong
dalam unggun diakibatkan unggun yang mulai terekspansi dapat diketahui dengan
tinggi unggun yang semakin bertambah. Sementara pada grafik dengan tinggi
unggun mula-mula tidak terjdi perubahan porositas. Ini diakibatkan oleh partikel
zeolit yang berukuran lebih besar yaitu 0,0028 m dan memiliki masa yang lebih

berat juga yaitu 0,000308 Kg setiap partikelnya, sehingga dengan laju alir yang
sama unggun zeolit tetap dalam keadaan fixed bed atau tidak terjadi ekspansi..
Berikut grafik hubungan porositas unggun dengan laju alir udara.
0.55
0.54
0.53
0.52
Porositas 0.51
Lo 2,5 cm
0.5

Lo 3,5 cm

Lo 4,5 cm

Lo 5,5 cm

0.49
0.48
0.6

0.7

0.8

0.9

1.1

1.2

1.3

V' (m/s)

Gambar 3.6 Grafik Hubungan porositas unggun dengan Flowrate Udara bahan
Zeolit Halus menggunakan tinggi unggun awal yang divariasikan
3.2 Perbandingan Pressure Drop berdasarkan jenis bahan yang diamati.
Melalui Gambar 3.7 dapat dilihat bahwa pressure drop yang terbesar terjadi
pada pasir halus dan yang terkecil terjadi pada zeolit. Ini dikarnakan diameter
partikel yang dimiliki pasir lebih kecil dibandingkan bahan lain, yaitu 0,00059 m
sedangkan arang aktif sebesar 0,00168 m dan zeolit sebesar 0,00280 m. Ini sesuai
dengan persamaan Ergun ( Persamaan 1.3 ), bahwa pressure drop berbanding
terbalik dengan diameter partikel unggun. Semakin besar diameter suatu partikel
unggun maka semakin kecil pressure drop yang terjadi pada unggun tersebut
dengan laju alir yang sama.
Pada gambar 3.7 dapat dilihat grafik perbandingan antara bahan pasir halus,
arang aktif, dan zeolit. Tinggi unggun mula-mula yang diambil ( Lo ) 2,5 cm
dengan ID kolom 53 mm.

60
50
40
P (Kg/m.s^2)

30

Pasir Halus20

Arang Aktif

Zeolit

10
0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

1.4

V' (m/s)

Gambar 3.7 Grafik perbandingan Pressure Drop (P) masing-masing bahan


dengan Flow Rate pada ID = 53 mm dengan L0 = 1,5 cm