Anda di halaman 1dari 36

PROPOSAL PENELITIAN

PRAKTIK GADAI YANG DIAKHIRI DENGAN


KEPEMILIKAN DI DUSUN ONJUR DESA SEMPOLAN
KECAMATAN SILO KABUPATEN JEMBER DALAM
PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Oleh :
HASBULLAH
NIM. 083112111

DOSEN PEMBIMBING
BUSRIYANTI, M.Ag
JURUSAN MUAMALAH FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) JEMBER
2014

DAFTAR ISI
Halaman
Daftar Isi ......................................................................................................... i
Daftar Tabel.................................................................................................... ii
A. Judul Penelitian ......................................................................................... 1
B. Latar Belakang Masalah........................................................................... 1
C. Fokus Penelitian ........................................................................................ 5
D. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 6
E. Manfaat Penelitia ...................................................................................... 6
F. Definisi Istilah ............................................................................................ 7
G. Kajian Kepustakaan.................................................................................. 8
1. Penelitian Terdahulu ............................................................................ 8
2. Kajian Teori.......................................................................................... 12
H. Metode Penelitian ...................................................................................... 24
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian........................................................... 24
2. Lokasi Penelitian .................................................................................. 25
3. Subyek Penelitian ................................................................................. 25
4. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 25
5. Analisis Data ........................................................................................ 27
6. Keabsahan Data.................................................................................... 28
7. Tahapan-Tahapan Penelitian ................................................................ 29
I. Sitematika Pembahasan............................................................................ 30
Daftar Pustaka................................................................................................ 32

DAFTAR TABEL
No. Uraian
Halaman
1. Persamaan dan Perbedaan Penelitian........................................................ 12

ii

A. Judul Penelitian
PRAKTIK GADAI YANG DIAKHIRI DENGAN KEPEMILIKAN DI
DUSUN

ONJUR

DESA

SEMPOLAN

KECAMATAN

SILO

KABUPATEN JEMBER DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

B. Latar Belakang Masalah


Islam merupakan ajaran Allah yang bersifat universal yang mengatur
seluruh aspek kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk sosial dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya, baik secara material maupun spiritual, selalu
berhubungan dan bertransaksi antara satu dan yang lainnya. Dalam
berhubungan dengan orang lain inilah antara satu dan yang lain sering terjadi
interaksi.1
Bentuk interaksi tersebut dapat berupa perikatan atau perjanjian dalam
bentuk transaksi (akad). Transaksi yang dilakukan tersebut harus sesuai
dengan hukum syariah Islam, karena Islam melarang cara-cara yang
mengandung unsur-unsur penindasan, pemerasan, atau penganiayaan
terhadap orang lain.2 Karena Islam sangat mengutamakan prinsip keadilan
dan mashlahah dalam mengatur setiap hubungan antar umat, dimana tujuan
akhir dari hubungan tersebut adalah falah (kemakmuran dunia akhirat).
Transaksi tersebut dapat berupa pemberian pinjaman uang kepada
orang lain yang amat membutuhkan, disertai dengan penyerahan barang oleh
si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya,3 transaksi
semacam ini disebut gadai (rahn). Pemberian barang jaminan ini diadakan
bila salah satu pihak tidak saling percaya mempercayai. 4 Barang yang
dijadikan sebagai jaminan disebut marhun, pihak yang menggadaikan atau
menyerahkan jaminan disebut rahin, biaya gadai disebut marhun bih,
sedangkan pihak yang menerima gadai disebut murtahin.
1

Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik Dan Kontemporer (Hukum Perjanjian, Ekonomi, Bisnis,
Dan Sosial), (Bogor: Ghalia Indonesia, 2012), 19.
2
Muhammad Sholikhul Hadi, Pegadaian Syariah, (Jakarta: Salemba Diniyah, 2000), 49-50.
3
Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani, 2001),
128.
4
Mardani, Ayat-Ayat dan Hadis Ekonomi Syariah, (Jakarta: Rajawali Pres, 2014), 81.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sangat membutuhkan akad


ini, karena pada kenyataannya banyak orang yang tidak mampu memenuhi
kebutuhan yang bersifat mendesak dan memerlukan biaya banyak secara
seketika serta ketidakinginan banyak orang untuk menjual barangnya.
Keberadaan akad gadai ini dapat membantu meringankan kesedihan rahin
(kebutuhan rahin yang bersifat mendesak dan memerlukan biaya banyak
secara seketika dapat terpenuhi) dengan menggadaikan barang miliknya
kepada murtahin.5
Praktik gadai di dusun Onjur desa Sempolan kecamatan Silo
kabupaten Jember sudah berlangsung cukup lama. Menurut bapak Syukron
selaku orang yang berniat melakukan transaksi gadai, latar belakang awal
masyarakat melakukan transaksi gadai ialah karena ingin mendapatkan uang
dengan cepat dengan jumlah yang banyak tanpa menjual barang yang
dimilikinya. Lebih jelas bapak Syukron juga menuturkan bahwa masyarakat
lebih memilih untuk melakukan transaksi gadai karena uang yang
dipinjamkan lebih besar daripada transaksi yang lain, seperti sewa.
Selanjutnya uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,
membangun rumah, membeli kendaraan, dan terkadang juga dijadikan
sebagai modal usaha lain.6
Praktik gadai yang biasa dilakukan masyarakat dusun Onjur desa
Sempolan kecamatan Silo kabupaten Jember menurut bapak Taufiq selaku
orang yang pernah melakukan transaksi gadai, menuturkan bahwa orang yang
membutuhkan uang akan mendatangi orang kaya (orang yang dianggap bisa
memberinya pinjaman uang dengan jumlah yang ia butuhkan) untuk
menawarakan transaksi gadai kepada orang tersebut. Kemudian setelah kedua
pihak sepakat untuk melakukan transaksi gadai, orang yang berhutang (rahin)
menyerahkan barang jaminan (biasanya berupa sawah, tegal, kebun, atau
barang yang berharga lainnya) kepada orang yang berpiutang (murtahin)
sebagai jaminan atas hutangnya tersebut. Pada awal akad, keduanya akan
5

Nawawi, Fikih Muamalah, 204.


Hasil wawancara dengan Bapak Syukron warga dusun Onjur desa Sempolan pada tanggal 07
Desember 2014, 09.42 WIB
6

mengadakan perjanjian tentang masa waktu gadai dan pengembalian hutang


(kurang lebih satu tahun tergantung kesepakatan). Orang yang menggadaikan
boleh melunasi hutangnya sebelum waktu jatuh tempo, sesuai dengan
kesepakatan di awal akad, dan orang yang menerima gadai berhak mengelola
atau memanfaatkan barang jaminan tersebut selama jangka waktu gadai yang
disepakati oleh kedua belah pihak berjalan. Tak jarang pula orang yang
menggadaikan meminta tambahan biaya gadai (hutang) dan perpanjangan
masa gadai sebelum masa gadai berakhir. Hal ini bisa berulang-ulang
dilakukan orang yang menggadaikan tergantung banyaknya kebutuhan.
Sehingga terkadang biaya gadai tersebut hampir mendekati harga jual barang
yang digadaikannya, dan mengakibatkan biaya gadai semakin banyak dan
masa gadai semakin lama.
Ketika masa gadai hampir selesai, kedua belah pihak akan bertemu
untuk membicarakan kelanjutan dari akad gadai tersebut. Jika orang yang
menggadaikan belum mampu melunasi hutangnya, maka orang yang
menerima gadai akan meminta kepadanya agar segera menjual barang yang ia
gadaikan atau mengalihkan gadainya kepada orang lain.
Melihat kondisi orang yang menggadaikan tidak mampu melunasi
hutangnya, maka orang yang menerima gadai mempunyai inisiatif untuk
memiliki barang jaminan, karena ia enggan menambah biaya dan melanjutkan
akad gadai. Kemudian status kepemilikan barang jaminan tersebut akan
berpindah dari orang yang berhutang kepada penerima gadai setalah terjadi
akad jual beli diantara keduanya. Mengenai harga jual barang jaminan
tersebut ialah senilai harga yang telah disepakati kedua belah pihak dikurangi
banyaknya hutang yang diterima orang yang menggadaikan. Lebih jelas
bapak Taufiq menuturkan bahwa kebiasaan di masyarakat ketika barang
jaminan akan dijual, maka harga jualnya tidak sama dengan harga umum
pasaran, harga akan relatif menurun karena barang tersebut menjadi jaminan.

Faktor yang menjadi alasan orang yang menggadaikan menjual barang


jaminan kepada orang yang menerima gadai bukan kepada orang lain
menurut bapak Taufiq ialah:7
1) Sulitnya mencari pengganti (orang lain yang akan menjadi pengalihan
hutangnya) untuk meneruskan transaksi gadai tersebut karena biaya gadai
yang besar.
2) Ketika barang yang berstatus barang jaminan akan dijual sulit untuk
menemukan pembeli.
3) Orang yang menggadaikan enggan menolak tawaran dari penerima gadai,
karena ia merasa tidak nyaman jika menolak tawaran orang yang telah
membantu dan memberikan pinjaman kepadanya.
Secara sepintas terlihat adanya ketidakadilan yang dialami oleh orang
yang menggadaikan. Disamping ia harus mengembalikan hutangnya, barang
yang ia jadikan jaminan juga dikelola oleh si penerima gadai meskipun segala
risiko yang timbul sepenuhnya ditanggung penerima gadai. Akan tetapi jika
pengelolaan barang jaminan membawa hasil yang besar, keuntungan tersebut
hanya dinikmati oleh si penerima gadai saja tanpa sepengetahuan orang yang
menggadaikan karena bukan lagi haknya. Dan orang yang menggadaikan
tidak mendapatkan apa-apa, bahkan ia harus mengembalikan hutangnya.
Apabila ia tidak dapat mengembalikan hutangnya terus-menerus pada waktu
jatuh tempo, maka barang miliknya yang menjadi jaminan akan menjadi milik
penerima gadai. Sedangkan si penerima gadai mendapat banyak keuntungan,
diantaranya keuntungan dari hasil mengelola barang jaminan, uang yang
dipinjam oleh orang yang menggadaikan akan kembali, sekaligus
memperoleh barang yang dijaminkan kepadanya dengan harga di bawah ratarata.
Menurut Bapak Hidayat selaku orang yang paham dan pernah
melakukan transaksi gadai, keuntungan yang diperoleh penerima gadai sama
saja riba atau uang beranak. Namun apa daya, orang yang menggadaikan
7

Hasil wawancara dengan Bapak Taufiq warga dusun Onjur desa Sempolan pada tanggal 09
Desember 2014, 19.42 WIB

tidak bisa menolak keinginan penerima gadai yang bernisiatif untuk membeli
barang yang digadaikannya dengan alasan

yang sudah dijabarkan

sebelumnya. Mau tidak mau ia menerimanya dan menjual barang yang


digadaikannya.
Bapak Hidayat juga berpendapat bahwa apa yang terjadi pada
transaksi gadai yang biasa dilakukan masyarakat di dusun Onjur desa
Sempolan memiliki unsur ketidakadilan bagi orang yang menggadaikan.
Namun harus bagaimana lagi jika penerima gadai enggan melanjutkan
transaksi gadai dan berinisiatif untuk memiliki barang jaminan, sedangkan
orang yang menggadaikan belum mampu untuk melunasi hutangnya. Di
samping itu, gadai ini telah menjadi kebiasaan masyarakat hingga kini yang
sulit untuk dirubah karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sedangkan mengenai status kepemilikan barang jaminan oleh pihak
penerima gadai pada saat masa waktu gadai yaitu penerima gadai hanya
berkuasa atas manfaatnya saja bukan barangnya. Namun setelah terjadi akad
jual beli, maka penerima gadai berkuasa penuh atas barang jaminan tersebut,
baik barang maupun manfaatnya. Dalam syariah Islam sebuah akad dianggap
sah jika didasarkan atas unsur keadilan, kerelaan dan keseimbangan, serta
tidak ada unsur riba, gharar dan maisir didalamnya.
Berdasarkan uraian-uraian di atas maka penelitian ini akan
difokuskan pada masalah gadai yang diakhiri kepemilikan yang biasa
dilakukan masyarakat dusun Onjur desa Sempolan kecamatan Silo kabupaten
Jember dalam bentuk karya ilmiah yang disusun dalam skripsi dengan judul

Praktik Gadai Yang Diakhiri Dengan Kepemilikan di Dusun Onjur Desa


Sempolan Kecamatan Silo Kabupaten Jember Dalam Perspektif Hukum
Islam.

C. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka
peneliti memfokuskan penelitian ini ke dalam beberapa fokus penelitian
berikut:
5

1. Bagaimana pemahaman masyarakat dusun Onjur desa Sempolan


kecamatan Silo kabupaten Jember tentang gadai ?
2. Bagaiamana praktik gadai yang biasa dilakukan masyarakat dusun Onjur
desa Sempolan kecamatan Silo kabupaten Jember ?
3. Bagaimana perspektif hukum Islam terhadap praktik gadai yang diakhiri
kepemilikan di dusun Onjur desa Sempolan kecamatan Silo kabupaten
Jember ?

D. Tujuan Penelitian
Setelah mengidentifikasi terhadap masalah-masalah yang ada, maka
tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu:
1. Untuk mendeskripsikan pemahaman masyarakat dusun Onjur desa
Sempolan kecamatan Silo kabupaten Jember tentang gadai.
2. Untuk mendeskripsikan praktik gadai yang biasa dilakukan masyarakat
dusun Onjur desa Sempolan kecamatan Silo kabupaten Jember.
3. Untuk mendeskripsikan perspektif hukum Islam terhadap praktik gadai
yang diakhiri kepemilikan di dusun Onjur desa Sempolan kecamatan Silo
kabupaten Jember.

E. Manfaat Penelitian
Penelitian dengan Judul Praktik Gadai Yang Diakhiri Dengan
Kepemilikan di Dusun Onjur Desa Sempolan Kecamatan Silo Kabupaten
Jember Dalam Perspektif Hukum Islam ini merupakan bentuk rasa
keingintahuan peneliti tentang praktik gadai yang dilakukan masyarakat
dusun Onjur desa Sempolan kecamatan Silo kabupaten Jember.
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Teoritis
a. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pengetahuan bagi pihak yang membutuhkan berkaitan dengan
permasalahan yang diangkat, serta menambah keilmuan dan wawasan
6

masyarakat berkenaan hukum Islam terhadap praktik gadai yang


diakhiri dengan kepemilikan di dusun Onjur desa Sempolan
kecamatan Silo kabupaten Jember khususnya.
b. Sebagai salah satu cara untuk menambah pengetahuan dan
pengalaman berkenaan sudut pandang hukum Islam terhadap praktik
gadai yang diakhiri dengan kepemilikan, bagi peneliti khususnya serta
umumnya bagi para peneliti yang membutuhkan dan kemudian dapat
digunakan sebagai rujukan penelitian berikutnya.
2. Praktis
a. Bagi peneliti penelitian ini diharapkan dapat menjadi penelitian ilmiah
yang memenuhi syarat sebagai laporan atau tugas akhir untuk
mendapat gelar Sarjana Starata Satu (S1).
b. Bagi almamater IAIN Jember dan Mahasiswa Muamalah diharapkan
dapat menjadi koleksi serta rujukan penelitian berikutnya.

F. Definisi Istilah
Praktik gadai yang diakhiri kepemilikan adalah transaksi hutang
piutang yang disertai dengan penyerahan barang yang memiliki nilai menurut
pandangan syariat oleh pihak yang berhutang atau menggadaikan (rahin)
kepada pihak penerima gadai (murtahin) sebagai jaminan atas hutangnya
tersebut, yang pada akhir masa gadai barang jaminan tersebut akan berpindah
kepemilikan kepada pihak murtahin, karena pihak rahin tidak mampu
melunasi hutangnya dalam jangka waktu yang telah disepakati.
Praktik gadai yang diakhiri kepemilikan yang menjadi kajian dari
penelitian ini adalah suatu kebiasaan atau tatacara bermuamalah yang
dilaksanakan oleh masyarakat dusun Onjur desa Sempolan kecamatan Silo
kabupaten Jember untuk memperoleh uang dengan cepat dan jumlah yang
banyak tanpa menjual barang yang dimilikinya, yaitu dengan cara berhutang
disertai penyerahan barang berharga yang dimilikinya sebagai jaminan
kepada pihak penerima gadai atau orang yang berpiutang, yang mana mereka
menggunakan akad gadai (rahn) dalam praktiknya. Permasalahan ini akan
7

dianalisis dengan fungsi fiqih, yakni mengkaji hukum muamalah yang terkait
dengan penafsiran dan pengqiyasan dengan hukum-hukum yang telah
diijtihadkan sebelumnya. Sebagaimana kaidah fiqih berikut :







Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan
kecuali ada dalil yang mengharamkannya.8
Sedangkan hukum fiqih muamalah yang dimaksudkan dalam
penilitian ini adalah pendapat para ulama-ulama ahli fiqih terutama para
imam madzhab dan ulama lainnya yang ahli di bidang fiqih muamalah.

G. Kajian Kepustakaan
1. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu bermaksud untuk mengetahui sejauh mana
keaslian

dan

posisinya

dengan

perbandingan

penelitian-penlitian

sebelumnya yang sudah pernah dilakukan.9 Beberapa penelitian terdahulu


yang memliki tema hampir sama dengan tema yang diangkat oleh peneliti
saat ini adalah:
a. Penelitian oleh Muzakki Alfarobi (2013) dengan judul: Perilaku Gadai
Masyarakat Kaliwates Jember Dalam Tinjauan Hukum Ekonomi Islam
Rumusan masalah yang menjadi pokok kajian dalam penelitian
tersebut adalah: Bagaimana perilaku gadai masyarakat Kaliwates Jember
dalam tinjauan hukum Islam ?, Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan

pendekatan

kualitatif

deskriptif

dengan

teknik

pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.


Teknik penentuan informan yang digunakan oleh peneliti adalah teknik
purposive sampling dan keabsahan data menggunakan triangulasi
sumber.

Himpunan Undang-Undang & Peraturan Pemerintah Tentang Ekonomi Syariah dilengkapi 44


Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI Tentang Produk Perbankan Syariah, (Yoyakarta: Pustaka
Zeedny, 2009), 159.
9
STAIN Jember, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, (Jember: STAIN Jember Press, 2014),
45-46.

Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa transaksi gadai yang


terjadi pada masyarakat Kelurahan Kaliwates Kabupaten Jember telah
sesuai dengan syarat-syarat dan rukun dalam melakukan transaksi
gadai.10
b. Penelitian oleh Muhammad Jamroni (2010) dengan judul: Analisis
Hukum Islam Terhadap Praktek Gadai Sawah (Studi Kasus Gadai di
Desa Penyalahan Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal ).
Rumusan masalah yang menjadi pokok kajian dalam penelitian
tersebut adalah: a) Bagaimana praktek gadai sawah yang dilakukan
oleh masyarakat di Desa Penyalahan Kecamatan Jatinegara Kabupaten
Tegal ?, b) Bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap praktek gadai
sawah yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Penyalahan Kecamatan
Jatinegara Kabupaten Tegal ?, dengan menggunakan jenis penelitian
lapangan (fiel research), dengan menggunakan metode penelitian
kualitatif, dan analisis data menggunakan deskriptif analisis.
Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa praktek gadai yang
dilakukan oleh masyarakat di Desa Penyalahan sudah memenuhi syarat
dan rukun gadai. Namun, ada beberapa hal yang perlu dibenahi seperti
pengelolaan barang jaminan dan pembagian hasil barang jaminan.
Karena dengan ketidak jelasan hal tersebut, pada akhirnya timbul
prasangka bahwa salah satu pihak merasa diuntungkan atau
dirugikan.11
c. Penelitian oleh Lila Isnawati (2008) dengan judul Pemanfaatan Gadai
Sawah di Dukuh Bunggang Sangen, Desa Krajan, Kecamatan Weru
Kabupaten Sukoharjo (Sebuah Kajian Normatif Dan Sosoiologi
Hukum Islam).

10

Muzaki Alfarobi, Perilaku Gadai Masyarakat Kaliwates Jember dalam Tinjauan Hukum
Ekonomi Islam, (Jember : STAIN Jember, 2013).
11
Muhamad Jamroni, Analisis Hukum Islam Terhadap Praktek Gadai Sawah (Studi Kasus Gadai
di Desa Penyalahan Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal), (Semarang : IAIN Walisongo
Semarang, 2010)

Rumusan masalah yang menjadi pokok kajian penelitian ini


adalah: 1) Apakah pemanfaatan barang jaminan tanah (sawah) oleh
kreditur termasuk riba?, 2) Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan
masyarakat Dusun Brunggang Sangen Desa Krajan Kecamatan
Weru Kabupaten Sukoharjo melaksanakan praktek gadai tanah?,
Dengan menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan
metode penelitian kualitatif deskriptif.
Hasil penelitian mengemukakan bahwa dari segi rukun dan
syarat tanah gadai yang ada di Brunggang Sragen, sudah sah akan
tetapi dalam pemanfaatan barang gadai yang dilakukan oleh para pihak
murtahin secara penuh tidak dibenarkan dalam hukum Islam, karena
terdapat penyelewengan atau melenceng dari ketentuan- ketentuan dari
aturan- aturan syariat Islam. Dan faktor-faktor yang menyebabkan
adanya pemanfaatan yang dilakukan tersebut adalah mayoritas
penduduk Brunggang Sangen bermata pencaharian sebagai petani dan
merupakan golongan ekonomi menengah kebawah. Hal ini yang
menyebabkan adanya praktek gadai sawah. Sudah menjadi perihal yang
biasa yang kemudian berkembang menjadi adat, Keinginan

saling

tolong-menolong antar sesama warga, Faktor permasalahan ekonomi


penggadai yang mendesak. 12

Judul
Perilaku
Gadai
Masyarakat
Kaliwates
Jember
Dalam
Tinjauan
Hukum

Persamaan dan perbedaan penelitian:13


Metode
Hasil
Analisis
Berdasarkan penelitian Metode
yang dilakukan dapat
penentuan
disimpulkan oleh
informan
peneliti bahwa perilaku menggunakan
gadai yang dilakukan
Purposive
masyarakat Kaliwates
Jember sudah sesuai
dengan rukun dan

12

Obyek
Penelitian
Masyarakat
Condro
Kelurahan
Kaliwates
Jember

Lila Isnawati, Pemanfaatan Gadai Sawah di Dukuh Bunggang Sangen Desa Krajan Kecamatan
Weru Kabupaten Sukoharjo(Sebuah Kajian Normatif dan Sosiologi Hukum Islam), (Yogyakarta:
UIN Sunan Kali Jaga, 2008)
13
Data persamaan dan perbedaan dalam penelitian ini diperoleh dari data yang diolah dari hasilhasil penelitian terdahulu.

10

Ekonomi
Islam

syarat-syarat dalam
melakukan transaksi
gadai
Analisis
Hasil dari penelitian
Hukum Islam ini menyatakan bahwa
Terhadap
praktek gadai yang
Praktek
dilakukan oleh
Gadai Sawah masyarakat di Desa
(Studi Kasus Penyalahan sudah
Gadai di
memenuhi syarat dan
Desa
rukun gadai. Namun,
Penyalahan
ada beberapa hal yang
Kecamatan
perlu dibenahi seperti
Jatinegara
pengelolaan barang
Kabupaten
jaminan dan
Tegal)
pembagian hasil
barang jaminan.
Karena dengan ketidak
jelasan hal tersebut,
pada akhirnya timbul
prasangka bahwa
salah satu pihak
merasa diuntungkan
atau dirugikan
Pemanfaatan Hasil penelitian
Gadai Sawah mengemukakan bahwa
di Dukuh
dari segi rukun dan
Bunggang
syarat tanah gadai
Sangen,
yang ada di Brunggang
Desa Krajan, Sragen, sudah sah akan
Kecamatan
tetapi dalam
Weru
pemanfaatan barang
Kabupaten
gadai yang dilakukan
Sukoharjo
oleh para pihak
(Sebuah
murtahin secara penuh
Kajian
tidak dibenarkan dalam
Normatif
hukum Islam, karena
Dan
terdapat
Sosoiologi
penyelewengan atau
Hukum
melenceng dari
Islam)
ketentuan- ketentuan
dari aturan- aturan
syariat Islam. Dan
faktor-faktor yang
menyebabkan adanya
pemanfaatan yang
11

Metode
analisis data
mengunakan
kualitatif
deskriptif

Rahin dan
murtahin
(Masyarakat
desa
Penyalahan)

Metode
analisis data
mengunakan
kualitatif
deskriptif

Para petani
pelaku
gadai (rahin
dan
murtahin)
di Dukuh
Bunggang
Sangen

dilakukan tersebut
adalah mayoritas
penduduk Brunggang
Sangen bermata
pencaharian sebagai
petani dan merupakan
golongan ekonomi
menengah kebawah.
Hal ini yang
menyebabkan adanya
praktek gadai sawah.
Sudah menjadi perihal
yang biasa yang
kemudian berkembang
menjadi adat,
Keinginan saling
tolong-menolong antar
sesama warga, Faktor
permasalahan ekonomi
penggadai yang
mendesak
Peneliti
Sekarang

Metode
keabsahan
data
menggunakan
triangulasi
sumber
dengan
analisis
kualitatif
deskriptif

Para pelaku
gadai (rahin
dan
murtahin)
dan
masyarakat
yang
memahami
tentang
masalah
yang
diangkat

Tabel 1.
2. Kajian Teori
a. Gadai (Rahn)
1) Definisi Gadai (Rahn)
Gadai (rahn) dalam bahasa arab adalah
tsubutu) yang berarti tetap, dan

( ad-dawamu) uang

(ats-

berarti

kekal. Pengertian tetap dan kekal dimaksud merupakan makna


12

yang tercakup dalam kata

( al-habsu) yang

berarti menahan.

Kata ini merupakan makna yang bersifat materil. Karena itu, secara
bahasa kata rahn berarti menjadikan sesuatu barang yang bersifat
materi sebagai pengikat hutang.
Sedangkan menurut beberapa ahli fiqih gadai (rahn) adalah
sebagai berikut:
-

Ulama Malikiyah mendefinisikan gadai (rahn) dengan:

Harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan hutang


yang bersifat mengikat.14
Menurut ulama Syafiiyah dan Hanabilah yaitu:

Menjadikan materi (barang) sebagai jaminan hutang, yang


dapat dijadikan pembayar hutang apabila orang yang
berhutang tidak bisa membayar hutangnya itu.
Menurut Sayid Sabiq, gadai (rahn) didefinisikan sebagai:

Tindakan yang menjadikan barang yang mempunyai nilai


harta menurut pandangan syara sebagai jaminan hutang
hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil hutang.15
Sedangkan gadai (rahn) menurut Syekh Zainuddin Bin Abdul
Azis al-Malibari al-Fanani adalah:16
Menjaminkan barang yang dapat dijual sebagai jaminan
utang, jika penanggung tidak mampu membayar utangnya
karena kesulitan. Oleh karena itu tidak boleh menggadaikan
barang wakaf atau ummu al-walad (budak perempuan yang
punya anak di tuannya).
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

gadai (rahn) adalah penyerahan barang yang bernilai menurut


syara oleh orang yang berhutang sebagai jaminan atas hutang yang
diterimanya.
2) Dasar Hukum Gadai (Rahn)
Para ulama mengemukakan bahwa akad rahn dibolehkan
dalam Islam berdasarkan pada al-Quran dan hadits Rasulullah
SAW, serta ijma ulama sebagai berikut:
14

Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), 252.
Nawawi, Fikih Muamalah, 199.
16
Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari Al-Fanani, Fathul Muin Terjemah Bahasa Madura, Jilid
II, terj. Baghdad Al-Maliki (Surabaya: Maktabah Al-Hidayah, t.t.), 232.
15

13

Al-Quran



Artinya:
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara
tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka
hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang
berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai
sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia
bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para
saksi) menyembunyikan persaksian. Dan Barang siapa yang
menyembunyikannya, maka Sesungguhnya ia adalah orang
yang berdosa hatinya, dan Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 283)17
Ayat tersebut secara eksplisit menyebutkan barang
tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Dalam
dunia finansial, barang tanggungan biasa dikenal sebagai
jaminan (collateral) atau objek pegadaian.18
Hadits










Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad telah
menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan
kepada kami al-A'masy berkata: Kami membicarakan tentang
gadai dalam jual beli kredit (salam) di hadapan Ibrahim maka
dia berkata, telah menceritakan kepada saya al-Aswad dari
'Aisyah R.A. bahwa Nabi SAW pernah membeli makanan dari
orang Yahudi yang akan dibayar beliau pada waktu tertentu di
17

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Surabaya: Mekar Surabaya, 2004), 71;
Mardani, Ayat-Ayat dan Hadis Ekonomi Syariah, 81.
18
Antonio, Bank Syariah, 128-129.

14

kemudian hari dan beliau menjaminkannya (gadai) dengan baju


besi.(HR. Bukhari no. 1926, kitab al-Buyu).19
Dalam hadits ini terkandung pembolehan gadai ketika
berada di tempat tinggal. Sedangkan ayat di atas memberikan
gambaran yang umum ketika tidak ada penulis dan saksi di
tengah perjalanan.20






Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil telah
mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan
kepada kami Zakariya' dari asy-Sya'biy dari Abu Hurairah R.A.
berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda: Apabila ada ternak
digadaikan, punggungnya boleh dinaiki (oleh orang yang
menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya
(menjaga)nya. Apabila ternak itu digadaikan, air susunya yang
deras boleh diminum (oleh orang yang menerima gadai) karena
ia telah mengeluarkan biaya (menjaga)nya. Kepada orang yang
naik dan minum, ia harus mengeluarkan biaya
perawatannya.(HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai,
Bukhari No. 2329, kitab ar-Rahn)21
Ijma Ulama
Para
diperbolehkan,

ulama

telah

dan

tidak

sepakat
ada

satu

bahwa

gadai

pendapatpun

itu
yang

menyalahinya (tidak memperbolehkan).22


Fatwa DSN-MUI Tentang Gadai (Rahn)
Fatwa

Dewan

Syariah

Nasional

Majelis

Ulama

Indonesia (DSN-MUI) Nomor: 25/DSN-MUI/III/2002, tentang

19

Al-Bukhari, Terjemah Shahih Bukhari, (t.tp: Dawahrights, 2010), 854; Antonio, Bank Syariah,
129.
20
Mardani, Ayat-Ayat dan Hadis Ekonomi Syariah, 141.
21
Al-Bukhari, Terjemah Shahih Bukhari, 1042; Antonio, Bank Syariah, 129.
22
Nawawi, Fikih Muamalah, 199.

15

rahn; menjadi salah satu rujukan yang berkenaan gadai syariah,


diantaranya dikemukakan sebagai berikut:23
Bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai
jaminan hutang dalam bentuk rahn dibolehkan dengan
ketentuan sebagai berikut:
1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk
menahan marhun (barang) sampai semua hutang rahin
(yang menyerahkan barang) dilunasi.
2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik rahin. Pada
prinsipnya, Marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh
murtahin kecuali seizin Rahin, dengan tidak mengurangi
nilai marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti
biaya pemeliharaan dan perawatannya.
3. Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya
menjadi kewajiban rahin, namun dapat dilakukan juga oleh
murtahin, sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan
tetap menjadi kewajiban rahin.
4. Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan marhun tidak
boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman.
5. Penjualan marhun:
o Apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan
rahin untuk segera melunasi hutangnya.
o Apabila rahin tetap tidak dapat melunasi hutangnya,
maka marhun dijual paksa/dieksekusi melalui lelang
sesuai syariah.
o Hasil penjualan marhun digunakan untuk melunasi
hutang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang
belum dibayar serta biaya penjualan.
o Kelebihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan
kekurangannya menjadi kewajiban rahin.
3) Rukun Gadai (Rahn)
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa rukun gadai (rahn)
hanya ijab (pernyataan menyerahkan barang sebagai agunan oleh
pemilik barang) dan qabul (pernyataan kesediaan member utang
dan menerima barang agunan tersebut).24
Namun, menurut jumhur ulama rukun gadai (rahn) itu ada
empat:25
23

Himpunan Undang-Undang, 199-202.


Haroen, Fiqh Muamalah, 254.
25
Dumairi Nor, dkk., Ekonomi Syariah Versi Salaf, (Pasuruan; Pustaka SIDOGIRI, 2012), 112.
24

16

Rahin dan murtahin (orang yang bertransaksi)


Marhun (barang yang digadaikan)
Marhun bih (hutang atau tanggungan)
Shighat ijab qabul (ucapan serah terima)
4) Syarat Gadai (Rahn)
Syarat dalam akad gadai (rahn) terdiri dari, syarat pihak
yang bertransaksi (rahin dan murtahin), syarat barang yang
digadaikan (marhun), syarat hutang (marhun bih), dan syarat sighat
akad. Penjelasan syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :
Syarat pihak yang bertransaksi (rahin dan murtahin)
Orang yang melakukan akad gadai (rahn) harus
memenuhi beberapa syarat berikut:
a) Jumhur ulama berpendapat bahwa syarat rahin dan
murtahin adalah berakal, mumayyiz, dan baligh.
Sedangkan menurut ulama Hanafiah tidak harus baligh,
tetapi cukup berakal dan mumayyiz saja. Oleh karena itu,
anak kecil yang mumayyiz boleh melakukan akad rahn
dengan syarat medapat persetujuan dari walinya.26
b) Antara

kedua

pihak

baik

penyewa

atau

yang

menyewakan harus ada kerelaan. Sehingga tidak ada


unsur keterpaksaan atau bahkan adanya tekanan, karena
hal itu dapat membuat batalnya akad.27
Syarat barang yang digadaikan (marhun)
Barang yang dijadikan jaminan harus memenuhi
beberapa syarat berikut:
a) Barang harus bisa diperjualbelikan (memiliki nilai
ekonomis) menurut tijauan syariat.
b) Barang harus berupa harta yang bernilai.

26
27

Haroen, Fiqh Muamalah, 254.


Nor, Ekonomi Syariah Versi Salaf, 112.

17

c) Barang harus bisa dimanfaatkan secara syariah, tidak


berupa barang haram.
d) Barang harus dimiliki oleh rahin, setidaknya harus atas
izin pemiliknya.28
Syarat hutang (marhun bih)
Hutang (marhum bih) merupakan hak yang wajib
diberikan

kepada

pemiliknya,

yang

memungkinkan

pemanfaatannya (artinya apabila barang tersebut tidak dapat


dimanfaatkan, maka tidak sah), dan dapat dihitung jumlahnya.
Selain itu hutang yang digunakan haruslah bersifat tetap, tidak
berubah dengan tambahan bunga atau mengandung unsur riba.
Syarat sighat akad
Sighat tidak boleh terikat dengan syarat tertentu dan juga
dengan waktu di masa mendatang. Apabila akad itu dibarengi
dengan syarat tertentu atau dikaitkan dengan masa yang akan
datang, maka syaratnya batal sedangkan akadnya sah.
5) Sifat gadai (Rahn)
Secara umum gadai dikategorikan sebagai akad yang
bersifat derma sebab apa yang diberikan penggadai (rahin) kepada
penerima gadai (murtahin) tidak ditukar sesuatu. Yang diberikan
murtahin kepada rahin adalah hutang, bukan penukar atas barang
yang digadaikan.29
Gadai juga termasuk akad yang bersifat ainiyah, yaitu
dikatakan sempurna sesudah menyerahkan benda yang dijadikan
akad, seperti hibah, pinjam-meminjam, titipan, dan qirad. Semua
termasuk akad tabarru (derma) yang dikatakan sempurna setelah
memegang (al-Qabdu) sesuai kaidah:


Tidak sempurna tabarru kecuali setelah pemegangan.
28
29

Nawawi, Fikih Muamalah, 200.


Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), 160.

18

6) Berakhirnya akad gadai (Rahn)


Menurut Sayyid Sabiq, hak-hak gadai akan berakhir jika: 30
o Rahin telah melunasi semua kewajibannya kepada murtahin.
o Rukun dan syarat gadai tidak terpenuhi.
o Baik rahin dan murtahin atau salah satunya ingkar dari
ketentuan syara dan akad yang telah disepakati oleh
keduanya.
o Pembatalan akad rahn dari pihak murtahin.
o Memanfaatkan marhun sebagai penyewaan, hibah, atau
shadaqah baik dari pihak rahin atau murtahin.
b. Kepemilikan dalam Islam
1) Definisi kepemilikan
Secara etimologi, kepemilikan dalam bahasa arab adalah
milkun yang berarti milik atau kepemilikan.31 Dapat juga diartikan
memiliki

sesuatu

dan

sanggup

bertindak

secara

bebas

terhadapnya.32
Menurut Ulama fiqih kepemilikan adalah keistimewaan
atas suatu benda yang menghalangi pihak lain bertindak atasnya
dan memungkinkan kepemilikannya untuk bertransaksi secara
langsung diatasnya selamanya tidak ada halangan syariah. 33
Sedangkan menurut pendapat beberapa ahli ekonomi Islam,
kepemilikan adalah:
-

Menurut Hasbi ash-Shiddieqy:


Suatu ikhtisas yang menghalangi yang lain, menurut syara
yang membenarkan si pemilik ikhtisas itu bertindak terhadap
barang miliknya sekehendaknya, kecuali ada penghalang.34

30

Hadi, Pegadaian Syariah, 53.


Abdul Rokhim, Ekonomi Islam Perspektif Muhammad SAW, (Jember: STAIN Jember Press,
2013), 3.
32
Suhrawardi K. Lubis dan Farid Wajdi, Hukum Ekonomi Islam, (Jakarta Timur: Sinar Grafika,
2012), 6.
33
Ibid., 3.
34
Hasbi ash-Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1997),
11.
31

19

Menurut Abdul Salam al-Abadi sebagaimana dikutip Lukman


Hakim:35

Hak khusus manusia terhadap kepemilikan barang yang


diizinkan bagi seseorang untuk memanfaatkan dan
mengalokasikan tanpa batas hingga terdapat alasan yang
melarangnya.
Menurut Abdul Madjid:
Kekhususan terhadap pemilik suatu barang menurut syariat
untuk bertindak secara bebas bertujuan mengambil
manfaatnya selama tidak ada penghalang syari.36
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

yang dimaksud kepemilikan adalah


2) Dasar-dasar kepemilikan
Islam sangat menghargai prinsip kepemilikan, baik itu
kepemilikan umum ataupun khusus. Karena pada dasarnya semua
harta dengan segala bentuk dan macamnya adalah milik Allah
SWT37. sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:

Artinya:
Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada
Allah-lah kembali (segala sesuatu).(QS. Al-Maidah:18)38

Artinya:
Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di
bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah
tanah. (QS. Thaha: 6)39
Jika ditinjau bahwa semua adalah milik Allah maka
kedudukan manusia hanya sebagai khalifah yang bertugas
mengatur dan mengelola harta itu. Sebagaimana firman Allah
dalam surat al-Baqarah ayat 30:

35

Lukman Hakim, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Penerbit Erlangga, 2012), 42.
Nawawi, Fikih Muamalah, 57.
37
Ibid., 61.
38
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, 161.
39
Ibid., 476.
36

20

Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi. mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?
Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah: 30)40
Al-Assal dan Fathi Ahmad Abdul Karim berpendapat
sebagaiman dikutip oleh Ismail Nawawi: 41
Kedudukan manusia sebagai khalifah Allah dalam harta pada
hakikatnya menunjukkan bahwa manusia merupakan wakil dan
petugas yang bekerja kepada Allah demi kemaslahatan seluruh
manusia. Oleh karena itu, patutlah sebagai khalifah Allah merasa
terikat dengan perintah-perintah ajaran Allah serta bersedia
mematuhinya dengan jalan bertaqwa kepada-Nya.
3) Klasifikasi dan sebab-sebab kepemilikan
Dalam Islam kepemilikan terbagi atas dua jenis antara lain:
Kepemilikan umum
Kepemilikan

umum

adalah

hukum

syari

yang

terkandung pada suatu barang atau kegunaan yang menuntut


adanya kesempatan seluruh manusia secara umum atau salah
seorang

diantara

mereka

untuk

menggunakan dengan jalan penguasaan.

memanfaatkan

dan

42

Jadi yang dimaksud kepemilikan umum adalah harta


yang sifatnya khusus untuk dimanfaatkan bagi kepentingan
masyarakat. Kepemilikan umum ini biasanya meliputi semua

40

Ibid., 13.
Nawawi, Fikih Muamalah, 62.
42
Lukman Hakim, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam, 42-43.
41

21

kekayaan yang ada dalam negara, seperti jalan-jalan, aliranaliran sungai, dan sebagainya.43
Sumber-sumber dan jenis-jenis kepemilikan umum
menurut syara antara lian:44
Wakaf, adalah menahan suatu harta yang manfaatnya
disalurkan untuk kepentingan agama Allah.
Tanah suaka (ardu-hima), adalah sebidang tanah yang
dikelola oleh pemerintah yang khusus dimanfaatkan
untuk kepentingan kaum muslimin, tidak dikhususkan
bagi seorang tertentu.
Kebutuhan pokok seperti air, rumput, dan sinar matahari
merupakan bagian dari barang-barang yang berhak
dimiliki

oleh

semua

manusia.

Karenanya

tidak

diperbolehkan bagi satu orang untuk memilikinya.


Barang-barang tambang adalah segala sesuatu yang
keluar dari dalam bumi berupa apa yang diciptakan Allah
di dalamnya dari yang selainnya, dari hal-hal yang
memiliki nilai.
Pantai, lautan, padang pasir, gunung dan tanah mati.
Setiap padang pasir, bukit, gunung, lembah, tanah mati
yang tidak terurus dan belum pernah ditanami atau yang
pernah ditanami kemudian terbengkalai karena tidak
dikelola, maka tanah tersebut menjadi milik negara dan
khalifah mengaturnya untuk kemaslahatan masyarakat.
Ash-Shawafi, yaitu tanah yang dikumpulkan khalifah dari
tanah-tanah taklukan dan ditetapkan untuk Baitul Mal.
Istilah ash-Shawafi ditetapkan oleh khalifah Umar bin
Khatab.

43
44

Ibid., 43;
Lukman Hakim, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam, 48-52.

22

Harta Fai, yaitu harta rampasan yang diperoleh dari


musuh tanpa terjadinya pertempuran.
Kepemilikan khusus (individu)
Kepemilikan khusus adalah hukum syari yang
diberlakukan untuk memberikan hak khusus bagi manusia atau
seseorang dalam kepemilikan benda atau manfaat serta hak
untuk

membelanjakannya

tanpa

adanya

sesuatu

yang

melarang.
Jadi kepemilikan khusus ialah izin Allah kepada
individu atau pihak tertentu untuk memanfaatkan sekaligus
menguasai suatu harta yang tidak ada halangan bagi bagi
individu tersebut dalam mengalokasikan hartanya.
Kepemilikan khusus dalam Islam dibedakan menjadi
dua jenis yakni:45
Kepemilikan

yang

sempurna

(milkut

tam),

yaitu

kepemilikan yang meliputi penguasaan atas benda


sekaligus

manfaat

dari

benda

tersebut

secara

keseluruhan.
Kepemilikan yang kurang sempurna (milkun naqishah),
yaitu kepemilikan yang hanya meliputi salah satu dari
benda atau manfaatnya saja.
Faktor-faktor yang menyebabkan kepemilikan khusus
antara lain:46
Ikhraj al-Mubahat, adalah memiliki sesuatu benda atau
harta yang mubah (belum dimiliki seseorang) atau harta
yang tidak termasuk sebagai harta yang dihormati (milik
yang sah) dan tidak ada penghalang syara untuk
dimiliki.

45

Lubis dan Wajdi, Hukum Ekonomi Islam, 8-9; Nawawi, Fikih Muamalah, 58.
ash-Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, 12-20; Lubis dan Wajdi, Hukum Ekonomi Islam, 914; Nawawi, Fikih Muamalah, 60-61.
46

23

Khalafiyah, yaitu bertempatnya seseorang atau sesuatu


yang baru di tempat yang lama yang akhirnya berbagai
macam haknya hilang.
Tawallud min mamluk, yaitu segala yang terjadi dari
benda yang telah dimiliki, menjadi hak bagi yang
memiliki benda tersebut. Misalnya, bulu domba menjadi
milik pemilik domba.
Uqud (akad), yaitu kesepakatan atau perjanjian seseorang
atau lebih dalam mengikatkan dirinya dengan orang lain.
Maksud dari uqud ini adalah seseorang dapat memiliki
suatu harta atau benda dengan cara melakukan akad
dengan orang lain.
Karena penguasaan terhadap milik negara atas pribadi
yang sudah lebih dari tiga tahun. Hal ini didasarkan pada
saat khalifah Umar bin Khatab berkuasa.47

H. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu.48 Kemudian dalam penelitian ini
digunakan beberapa teknik atau metode penelitian yang meliputi:
1.

Pendekatan dan Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini merupakan penelitian kasus (case study) atau
penelitian lapangan (field study). Penelitian kasus merupakan studi
mendalam mengenai unit tertentu, yang hasil penelitian itu memberi
gambaran luas dan mendalam mengenai unit tertentu.49
Pendekatan penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah
pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses

47

Ibid., 61.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, cet. 19 (Bandung: CV. Alfabeta,
2013), 2.
49
Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif, (Bandung : Pustaka Setia, 2002), 54.
48

24

penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang


menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia.50
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif peneliti
ingin mengetahui langsung dari pelaku di tempat penelitian, yaitu
menyajikan data,

menganalisis dan menginterpretasikannya. Peneliti

berupaya untuk menggambarkan dan menjelaskan persepsi petani di


desa Temusari atas transaksi gadai lahan persawahan dan tinjauannya
dalam prinsip keadilan bertransaksi secara syariah. Hal ini menjadi suatu
alasan bagi peneliti untuk menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di dusun Onjur desa Sempolan
kecamatan Silo kabupaten Jember.
3. Subyek Penelitian
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif menurut Lofland
adalah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti
dokumen dan lain-lain.51 Sebagaimana pendapat tersebut, maka sumber
data yang diperlukan dibagi menjadi dua macam yaitu:
a. Sumber data primer adalah data yang diperoleh dari lokasi
penelitian yang berupa jawaban-jawaban dari pertanyaan kepada
para pelaku gadai serta masyarakat lain yang paham tentang praktik
gadai yang diakhiri dengan kepemilikan.
b. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari bukubuku, artikel, jurnal, atau dokumen-dokumen yang berkaitan dengan
permasalahan yang dibahas.
4. Teknik Pengumpulan Data
a. Observasi
Yaitu metode penelitian dengan cara mengamati, mencatat,
dan kemudian mengolah hasil pengamatan dengan kata-kata secara
50

Julian Syah Noor, Metodologi Penelitian, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2011), 3334.
51
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Ed. rev., cet. 28 (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2010), 157.

25

cermat dan tepat.52 Dalam

hal ini peneliti akan mengobservasi

praktik gadai yang dikahiri dengan kepemilikan di dusun Onjur,


desa Sempolan, kecamatan Silo, kabupaten Jember karena metode
ini bermanfaat untuk mendefinisikan data-data lapangan, teori-teori
atau hal-hal lain yang peneliti peroleh di lapangan.
Adapun jenis observasi yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah observasi partisipasi pasif. Jadi dalam hal ini
peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak
ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.53
Teknik

observasi

ini

digunakan

oleh

peneliti

untuk

memperoleh data tentang :


a. Kondisi geografis masyarakat dusun Onjur desa Sempolan
Kecamatan Silo kabupaten Jember.
b. Mekanisme gadai yang diakhiri kepemilikian di dusun Onjur
desa Sempolan Kecamatan Silo kabupaten Jember.
b. Wawancara (interview)
Yaitu teknik pengumpulan data apabila seorang peneliti ingin
mengetahui secara mendalam dengan permasalahan yang diteliti
dengan jumlah responden atau informan yang relatif sedikit.54 Dalam
hal ini peneliti akan melakukan wawancara dengan para pelaku
gadai serta masyarakat lain yang paham dan berpengalaman tentang
praktik gadai yang diakhiri dengan kepemilikan. Sedangkan jenis
wawancara yang akan digunakan adalah wawancara semi terstruktur
dan wawancara tak terstruktur.
Metode wawancara (interview) ini digunakan untuk
memperoleh data tentang :
a. Pemahaman masyarakat dusun Onjur desa Sempolan
Kecamatan Silo kabupaten Jember tentang transaksi gadai.

52

S. Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), Ed. 1, cet. 12 (Jakarta: Bumi Aksara, 2011),
106.
53
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV. Alfabeta, 2014), 66.
54
Sugiyono, Metode Penelitian, 137.

26

b. Mekanisme gadai yang diakhiri kepemilikian di dusun Onjur


desa Sempolan Kecamatan Silo kabupaten Jember.
c. Dokumentasi
Yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat,
dan sebagainya.55 Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau
karya-karya monumental dari seseorang.56
Dengan demikian jelas yang dimaksud metode dokumentasi
adalah metode yang digunakan oleh peneliti untuk mencari data-data
yang sudah didokumentasikan. Hal ini dilakukan agar peneliti lebih
mudah untuk menyempurnakan datanya. Data-data yang ingin
diperoleh melalui teknik dokumenter ini adalah sebagai berikut :
a. Surat-surat perjanjian gadai oleh masyarakat di dusun Onjur
desa Sempolan Kecamatan Silo kabupaten Jember.
b. Serta data lain yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
d. Studi Pustaka
Adapun literatur yang akan dijadikan studi pustaka dalam
penelitian ini yaitu buku yang berjudul Ekonomi Syariah Versi Salaf
karya Dumairi Nor, dkk, Fikih Muamalah Klasik Dan Kontemporer
(Hukum Perjanjian, Ekonomi, Bisnis, dan Sosial) karya Ismail
Nawawi, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam karya Lukman Hakim dan
literatur-literatur lain yang berkaitan dengan judul yang diangkat.
5. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif menurut Nasution dimulai
sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan
dan berlangsung terus sampai penelitian laporan penelitian.57 Namun,
penelitian kualitatif lebih memfokuskan analisis data saat dilapangan
bersama dengan proses pengumpulan data.

55

Arikonto, Prosedur Penelitian, 274.


Sugiyono, Metode Penelitian, 240.
57
Ibid., 245.
56

27

Menurut Miles dan Huberman analisis data kualitatif dilakukan


secara interaktif dan terus menerus sampai tuntas, hingga datanya jenuh.
Tahapan-tahapan

analisis

data

yang

digunakan

peneliti

adalah

sebagaimana tahapan-tahapan yang dikemukakan Miles dan Huberman,


yaitu sebagai berikut:58
a. Reduksi data (data reduction)
Data yang diperoleh dilapangan semakin lama akan semakin
banyak sehingga data semakin kompleks dan rumit, oleh karena itu
peneliti harus mereduksi data (merangkum, memilih hal-hal yang
pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan
polanya). Data yang sudah direduksi akan lebih memudahkan peneliti
untuk memperoleh gambaran di lapangan dan memudahkan peneliti
mengumpulkan data berikutnya.
b. Penyajian data (data display)
Setelah mereduksi data, kemudian peneliti dapat menyajikan
data dengan lebih mudah. Penyajian data kualitatif bisa dengan urain
singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.
Penyajian data yang paling sering digunakan dalam penelitian
kualitatif adalah dengan teks naratif. Memahami data akan lebih
mudah setelah adanya display data, sehingga merencanakan kerja
selanjutnya bisa lebih cepat.
c. Penarikan Kesimpulan
Peneliti yang kompeten akan menganalisa semua data yang
diterima atau yang didapat menjadi sebuah kesimpulan yang pada
awalnya longgar, tetap terbuka dan skeptis, tetapi kesimpulan sudah
disediakan yang mula-mula belum jelas, kemudian meningkat
menjadi lebih rinci, mengakar, dan mengokoh.
6. Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian yaitu ditekankan pada uji
validitas data. Artinya data yang valid adalah data yang dilaporkan oleh
58

Ibid., 246-253.

28

peneliti sesuai dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek


penelitian.
Mengolah data merupakan tahapan yang tidak dapat dihindari
dalam penelitian apapun, baik dalam penelitian kuantitatif maupun
kualitatif. Pengolahan dan analisis data bersifat kontinyu sejak penelitian
berada di lapangan hingga kembali dan pasca pengumpulan data.59
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji validitas data
dengan metode triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan
keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu
untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Teknik triangulasi yang paling sering digunakan adalah pemeriksaan
melalui sumber lainnya.
Pemeriksaan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
teknik triangulasi sumber, yang berarti menguji kredibilitas data yang
dilakukan dengan cara mengecek atau membandingkan data yang telah
diperoleh melalui berbagai sumber.
Dalam hal ini, pengumpulan dan pengujian data akan dilakukan
kepada para informan yang terkait dengan penelitian. Kemudian dari data
tersebut dikroscekkan dan dianalisis dalam metode kualitatif dengan
mendeskripsikan, mengkategorikan mana pandangan yang sama, yang
berbeda, dan mana yang spesifik dari sumber data tersebut.
7. Tahapan-tahapan Penelitian
Ada beberapa tahapan penelitian. Tahap-tahap penelitian ini
terdiri atas tahap pra-lapangan, tahap pekerjaan lapangan dan tahap
analisis data.
a. Tahap Pra-lapangan
1) Menyusun rancangan penelitian
2) Memilih lapangan penelitian
3) Mengurus perizinan
4) Menjajaki dan menilai lapangan
59

Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif, 217.

29

Penjajakan dan penilaian lapangan akan terlaksana


dengan baik apabila peneliti sudah membaca terlebih dahulu
dari kepustakaan atau mengetahui melalui orang dalam tentang
situasi dan kondisi daerah tempat penelitian dilakukan dan
diharapkan peneliti dapat menyesuaikan diri dengan keadaan
lingkunga tempat penelitian.
5) Memilih dan memanfaatkan informasi
6) Menyiapakan perlengkapan penelitian
7) Memahami etika dalam penelitian
b. Tahap pekerjaan lapangan
1) Memahami latar belakang penelitian dan persiapan diri
Pembatasan latar dan peneliti
Penampilan
Pengenalan hubungan peneliti di lapangan
Jumlah waktu studi
2) Memasuki lapangan
Keakraban hubungan
Mempelajari bahasa
Peranan peneliti
3) Berperan-serta sambil mengumpulkan data
Mencatat data
Analisis di lapangan
4) Tahap analisis data60

I. Sistematika Pembahasan
Penelitian

skripsi

ini terdiri

atas

lima bab, masing-masing

bab membahas permasalahan yang diuraikan menjadi beberapa sub bab.


Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas serta mempermudah dalam
pembahasan, secara global sistematika penelitian skripsi ini adalah sebagai
berikut:
60

Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, 102.

30

BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini merupakan dasar dalam penelitian, yang mengemukakan latar
belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
definisi istilah, serta sistematika penelitian. Hal tersebut berfungsi sebagai
gambaran secara umum dari skripsi ini.
BAB II : KAJIAN KEPUSTAKAAN
Dalam bab ini terdiri dari penelitian terdahulu dan kajian teori.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini membahas tentang pendekatan dan jenis penelitian yang
dilakukan, lokasi penelitian dilaksanakan, subyek penelitian, teknik
pengumpilan data, analisis data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian
yang akan dilaksanakan.
BAB IV : PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
Bab ini berisikan gambaran obyek penelitian, penyajian data dan
analisisnya, serta pembahasan temuan.
BAB V : PENUTUP ATAU KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab terakhir ini ditarik kesimpulan yang ada setelah proses di
bab-bab sebelumnya yang kemudian menjadi sebuah hasil atau analisa dari
permasalahan yang detiliti. Kemudian dilanjutkan dengan saran-saran untuk
pihak-pihak yang terkait di dalam penelitian ini secara khusus ataupun pihakpihak yang membutuhkan secara umumnya.

31

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhari, Abi Abdillah Muhammad bin Ismail. 2010. Terjemah Shahih


Bukhari, t.tp: Dawahrights.
Al-Fanani, Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari. t.t. Fathul Muin Terjemah
Bahasa Madura, Jilid II, terj. Baghdad Al-Maliki. Surabaya:
Maktabah Al-Hidayah.
Ash-Shiddieqy, Hasbi. 1997. Pengantar Fiqh Muamalah. Semarang: PT.
Pustaka Rizki Putra.
Antonio, Muhammad Syafii. 2001. Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktik.
Jakarta: Gema Insani.
Arikonto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan
Praktik), Ed. Rev., cet. 14. Jakarta: Rineka Cipta.
Bisri, Cik Hasan. 2003. Model Penelitian Fiqih (Paradigma Penelitian
Fiqih & fiqih Penelitian), Jilid I. Bogor: Kencana.
Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi peneliti kualitatif. Bandung : CV Pustaka
Setia.
Departemen Agama RI. 2004. Al-Quran dan Terjemahnya. Surabaya:
Mekar Surabaya.
Hadi, Muhammad Sholikhul. 2000. Pegadaian Syariah. Jakarta: Salemba
Diniyah.
Hakim, Lukman. 2012. Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam. Yogyakarta:
Penerbit Erlangga.
Haroen, Nasrun. 2007. Fiqih Muamalah. Jakarta: Gaya Media Pratama.
http://mukhtar17luthfy.wordpress.com/2012/09/24/transaksi-menurut-paraahli/ diakses pada tanggal 15 Desember 2014, 20.16 WIB
Karim, Adiwarman A. 2009. Bank Islam (Analisis Fiqih dan Keuangan),
Ed. 3. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Kurniawan, Doni. 2010. Kamus Praktis Ilmiah Populer. Surabaya: Karya
Ilmu.

32

Lubis, Suhrawardi K. dan Farid Wajdi. 2012. Hukum Ekonomi Islam.


Jakarta Timur: Sinar Grafika.
Mardani, 2014. Ayat-Ayat dan Hadis Ekonomi Syariah. Jakarta: Rajawali
Pres.
Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif, Ed. rev., cet. 28.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nasution, S. 2011. Metode Research (Penelitian Ilmiah), Ed. 1, cet. 12.
Jakarta: Bumi Aksara.
Nawawi, Ismail. 2012. Fikih Muamalah Klasik Dan Kontemporer (Hukum
Perjanjian, Ekonomi, Bisnis, dan Sosial). Bogor: Ghalia Indonesia.
Nor, Dumairi dkk. 2011 Ekonomi Syariah Versi Salaf. Pasuruan; Pustaka
SIDOGIRI.
Noor, Julian Syah. 2011. Metodologi Penelitian. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group
Rofiq, Ahmad. 2001. Pembaharuan Hukum Islam Di Indonesia.
Yogyakarta: Gama Media.
Rokhim, Abdul. 2013. Ekonomi Islam Perspektif Muhammad SAW. Jember:
STAIN Jember Press.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, cet. 19.
Bandung: CV. Alfabeta.
_________. 2014. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta.
STAIN Jember. 2014. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jember:
STAIN Jember Press.
Suhendi, Hendi. 2011. Fiqih Muamalah. Jakarta: Rajawali Pers.
Syafei, Rachmat. 2001. Fiqih Muamalah. Bandung: Pustaka Setia.
_________.2009.Himpunan Undang-Undang & Peraturan Pemerintah
Tentang Ekonomi Syariah Dilengkapi 44 Fatwa Dewan Syariah
Nasional MUI tentang Produk Perbankan Syariah. Yoyakarta:
Pustaka Zeedny.

33