Anda di halaman 1dari 51

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Gerontik


1. Definisi
a. Gerontik adalah cabang ilmu yang membahas atau menangani proses
penuaan dan masalah yang timbul pada orang yang telah berusia lanjut.
(Wahit Iqbal, 2010; 139)
b. Menurut UU no.13/1998, Lanjut usia adalah sseorang yang telah
mencapai usia 60 tahun ke atas.
c. Menurut UU Kesehatan No.23 pasa 19, manusia usia lanjut adalah
seseorang karena usianya mengalami perubahan biologis, fisik,
kejiwaan dan social.
d. Gerontik adalah studi mengenai proses penuaan dan meliputi ilmu
biologi, psikologi dan sosiologi. (Smeltzer dan Bare, 2001; 168)
2. Batasan Lansia
a. WHO :
1) Usia pertengahan (middle age) : usia 45-59 tahun
2) Usia lanjut (elderly)
: usia 50-70 tahun
3) Usia lanjut (old)
: usia 75-90 tahun
4) Usia sangat tua (very old)
: usia diatas 90
b. Prof. DR Ny.Sumiati Ahmad Mohamad, guru besar FK.UGM membagi
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
c.

periodiasasi biologi perkembangan manusia sebagai berikut:


0-1 tahun
: masa bayi
1-6 tahun
: masa pra sekolah
6-10 tahun
: masa sekolah
10-20 tahun
: masa pubertas
20-40 tahun
: masa dewasa
40-65 tahun
: masa setengah umur (prasenium)
65 tahun ketatas: masa lanjut usia (senium)
Menurut Drs.Jos Mardani (Psikolog UI):

Lanjut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat


dibagi menjadi empat yaitu:
1) Fase luventus
: 20-40 tahun
2) Fase fertilitas
: 40-50 tahun
3) Fase prasenium
: 55-65 tahun
4) Fase senium
: lebih 65
d. Menurut pasal 1 undang-undang No. 4 tahun 1965:
Seseorang dinyatakan sebagai orang jompo atau usia lanjut setelah
yang bersangkutan mencapai usia 55 tahun, tidak mempunyai atau
tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya seharihari, dan menerima nafkah dari orang lain. (Sabariah Gani, 2011; 8)
3. Proses Penuaan dan Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap
kehidupan, yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua yang tidak dapat
dihindari oleh setiap individu. Pertambahan usia akan menimbulkan
pereubahan-perubahan pada struktur dan fisiologis dari berbagai
sel/jaringan/organ dan system yang adap ada tubuh manusia.
Ada dua proses penuaan, yaitu penuaan secara primer dan penuaan
secara sekunder. Penuaan primer akan terjadi bila terdapat perubahan pada
tingkat sel, sedangkan penuaan sekunder merupakan proses penuaan akibat
factor lingkungan fisik dan social, stress fisik/psikis, serta gaya hidup dan
diet dapat mempercepat proses menjadi tua. Secara umum, perubahan
fisiologis proses penuaan adalah sebagai berikut:
a. Perubahan mikro merupakan perubahan yang terjadi dalam sel seperti:
1) Berkurangnya cairan dalam sel.
2) Berkurangnya ukuran sel.
3) Berkurangnya jumlah sel.
b. Perubahan makro, yaitu perubahan yang jelas dapat diamati atau
terlihat seperti:
1) Mengecilnya kelenjar mandibula.

2) Menipisnya diskus intervertebralis.


3) Erosi pada permukaan sendi-sendi.
4) Terjadinya osteoporosis.
5) Otot-otot mengalami atrofi.
6) Sering dijumpai adanya emfisema polmonum.
7) Presbiopi.
8) Adanya arteriosklerosis.
9) Menopouse pada wanita.
10) Adanya demensia senilis.
11) Kulit tidak elastic lagi.
12) Rambut memutih. (Wahit Iqbal, 2010; 140-141)
4. Teori-Teori Proses Penuaan
Berikut ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang mendukung
terjadinya proses penuaan, antara lain:
a.Teori biologis
Pada tahun 1993, Mary Ann Christ at al. (lihat Hardywinoto dan
Toni setiabudi,1999) menyatakan bahwa penuaan merupakan proses
berangsur-angsur yang mengakibatkan perubahan yang kumulatif dan
mengakibatkan perubahan yang berakhir dengan kematian.penuaan
menurut teori biologis diantaranya adalah sebagai berikut.
1) Teori Genetik Clock
Menurut teori ini menua telah trprogram secara genetik untuk
spesies-spesies tertentu.Tiap spesies dalam inti selnya mempunyai
suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi
tertentu.
2) Teori Mutasi Somatic ( Error catastrophe Theory )
Menurut teori ini penuaan disebabkan oleh kesalahan yang
berungtung dalam jangka waktu lama melalui transkripsi dan
translasi.Kesalahan tersebut menyebabkan terbentuknya enzim
yang salah dan berakibat pada metabolism yang salah, sehingga
mengurangi fungsional sel.
3) Teori Autoimun (Auto Immune Theory)

Menurut teori ini proses metabolisme tubuh suatu saat akan


memproduksi zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak
tahan terhadap suatu zat, sehingga jaringan tubuh menjadi lemah
dan sakit. Sebagai contoh ialah tambahan kelenjar timus yang pada
usia dewasa akan berinvolusi kemudian semenjak itu terjadilah
kelainan autoimun (Godteris & Brocklehurst, 1989).
4) Teori Radikal Bebas
Menurut teori ini penuaan disebabkan adanya radikal bebas dalam
tubuh.Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas.tidak stabilnya
radikal bebas ( kelompok atom ) yang masuk ke dalam tubuh akan
mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahhan organik, seperti
karbohidrat dan protein.
5) Pemakaian dan Rusak
Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah
(rusak).
6) Teori virus yang perlahan-lahan Menyerang sistem Kekebalan
Tubuh ( Immunology Slow Virus Theory )
Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat dari sistem imun
yang kurang efektif seiring dengan bertambanhya usia. Masuknya
virus ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan pada organ
tubuh.
7) Teoris Stres
Menurut teori ini penuaan terjadi akibat hilangnya sel-sel yang
biasa

digunakan

tubuh.

Regenerasi

jaringan

tidak

dapat

mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha,


dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
8) Teori Rantai Silang

Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat adanya reaksi


kimia sel-sel yang tua atau yang telah usang menghasilkan ikatan
yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan
jaringan menjadi kurangnya elastis, kaku, dan hilangnya fungsi.
9) Teori Program
Menurut teori ini penuaan terjadi karena kemampuan organism
untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel
tersebut mati.
b. Teori Kejiwaan Sosial
1) Aktivitas atau Kegiatan (Activity theory)
a) Teori aktivitas, menurut Havighusrst dan Albrecht (1953)
berpendapat bahwa sangat penting bagi lansia untuk tetap
beraktivitas dan mencapai kepuasan hidup.
b) Ketentuan akan meningkatnya penurunan jumlah kegiatan
secara langsung.
c) Ukuran optimal (pola hidup) dilanjutkan pada cara hidup
lansia.
d) Mempertahankan hubungan antara system social dan individu
agar tetap stabil dari usia pertengahan keusia lanjut.
2) Teori Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory)
Teori ini merupakan gabungan teori diatas. Pada teori ini
menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang
berusia lanjut sangat dipengaruhi oleh tipe kpribadian yang
dimiliki.
3) Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia,seseorang
berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya.
Keadaan ini mengakibatkan interaksi social lansia menurun, baik

secara kualitas maupun kuantitas, sehingga sering terjadi


kehilangan ganda (triple loss).
c. Teori Psikologi
Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah
satu teori yang ada. Teori tugas perkembangan yang diungkapkan oleh
Hanghurst (1972) adalah bahwa setiap individu harus memperhatikan
tugas perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang
akan memberikan perasaan bahagia dan sukses. Tugas perkembangan
yang spesifik ini bergantung pada maturasi fisik, pengharapan cultural,
masyarakat, nilai aspirasi individu.
d. Teori Kesalahan Genetik
Menurut dr. Afgel bahwa proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan
sel genetic DNA dimana sel genetik memperbanyak diri, sehingga
mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang

berakibat

pula

pada

terhambatnya pembentukan sel berikutnya, sehingga mengakibatkan


kematian sel. Pada saat sel mengalami kematian orang akan tampak
menjadi tua.
e. Teori Rusaknya Sistem Imun Tubuh
Mutasi yang sering terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan
system

imun

untuk

mengenali

dirinya

berkurang,

sehingga

mengakibatkan kelainan pada sel karena dianggap sel asing yang


membuat hancurnya kekebalan tubuh.
f. Teori Penuaan Akibat Metabolisme
Teori penuaan akibat metabolisme menjelaskan bagaimana proses
menua terjadi.
1) Datang dengan sendirinya, merupakan Karunia yang tidak bisa
dihindari/ditolak.
2) Usaha dalam memperlambat menjadi awet tua.

3) WHO (1982) usia lanjut yang berguna, bahagia, dan sejahtera.


(Wahit Iqbal, 2010; 146-149)

5. Mitos-mitos Lansia dan Realitanya


Mitos-mitos yang berkaitan dengan proses lanjut usia.
a. Mitos kedamaian dan Ketenangan
Lanjut usia dapat santai dan menikmati hasil kerja dan jerih payahnya
dimasa muda dan dewasanya, badai dan berbagai goncangan
kehidupan seakan-akan sudah berhasil dilewati.
Kenyataan:
1) Sering stress karena kemiskinan dan berbagai keluhan penyakit.
2) Depresi
3) Kekhawatiran
4) Paranoid
5) Masalah psikotik
b. Mitos Konservatisme
Pandangan usia lanjut pada umumnya:
1) Konservatif (kolot)
2) Tidak kreatif
3) Menolak inovasi
4) Berorientasi masa silam
5) Merindukan masa lalu
6) Kembali kemasa kanak-kanak
7) Susah berubah
8) Keras kepala
9) Cerewet
Kenyataan:
Tidak semua lansia bersifat dan berperilaku demikian. Sebagian tetap
segar, berpandangan ke depan, inovatif serta kreatif.
c. Mitos Berpenyakitan
Lansia dipandang sebagai masa degenerasi biologis yang disertai oleh
berbagai penderitaan akibat bermacam penyakit yang menyertai proses
menua (masa berpenyakitan dan kemunduran).
Kenyataan:

Memang proses ketuaan disertai dengan menurunnya daya tahan tubuh


dan metabolismesehingga rawan terhadap penyakit. Tetapi banyak
penyakit yang masa sekarang dapat dikontrol dan diobati.
d. Mitos Senilitas
Usia lanjut dipandang sebagai masa demensia (pikun) yang disebabkan
oleh kerusakan bagian tertentu dari otak.
Kenyataan:
Tidak semua lanjut usiadalam proses ketuaannya diiringi dengan
kerusakan bagian otak (banyak yang masih sehat dan segar).
e. Mitos A Seksualitas
Ada pandangan bahwa pada usia lanjut, hubungan seks itu menurun.
Minat, dorongan, gairah, kebutuhan dan daya seks berkurang.
Kenyataan:
Menunjukkan bahwa seks pada lanjut usia normal saja. Memang
frekuensi hubungan seksual sejalan meningkatnya usia, tetapi masih
tetap tinggi.
f. Mitos Ketidak Produktifan
Usia lanjut dipandang sebagai usia yang tidak produktif.
Kenyataan:
Tidak demikian, banyak lansia yang mencapai kematangan, kemantapan
dan produktivitas mental dan material pada lansia. (Sabariah Gani,
2011; 9-11)
6. Tren Dan Isu Keperawatan Gerontik
a. Masalah kehidupan seksual. Adanya anggapan bahwa semua
ketertarikan seks pada lansia telah hilang adalah mitos dan
kesalapahaman. Kenyataannya, hubungan seksual pada suami istri
yang sudah menikah dapat berlanjut sampai bertahun-tahun.
b. Perubahan perilaku. Pada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan
perilaku, diantaranya: daya ingat menurun, pelupa, sering menarik diri,

ada kecendrungan penurunan merawat diri,timbulnya kecemasan


karena

dirinya

sudah

tidak

menarik

lagi,dan

lansia

sering

menyebabkan sensitivitas emosional seseorang yang akhirnya menjadi


sumber banyaknya masalah.
c. Pembatasan aktivitas fisik. Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan
mengalami kemunduran, terutama di bidang kemampuan fisik yang
dapat mengakibatkan penurunan pada peranan peranan sosialnya. Hal
ini mengakibatkan timbulnya gangguan dalam hal mencukupi
kebutuhan hidupny, sehingga dapat meningkatkan ketergantungan yang
memerlukan bantuan orang lain.
d. Palliative care. Pemberian obat pada lansia yang bersifat palliative
care adalah obat tersebut ditujukan untuk menguurangi rasa sakit yang
dirassakan oleh lansia. Fenomena polifarmasi dapat menimbulkan
masalah, yaitu adanya interaksi obat dan efek samping obat.
e. Penggunaan obat. Medikasi pada lansia memerlukan perhatian yang
khusus dan merupakan persoalan yang sering kali muncul di
masyarakat atau rumah sakit. Persoalan utama dan terapi obat pada
lansia adalah terjadinya perubahan fisiologis pada lansia akibat efek
obat yang luas, termasuk efek samping obat tersebut.
f. Kesehatan mental. Selain mengalami kemunduran fisik, lansia juga
mengalami kemunduran mental. Semakin lanjut seseorang, kesibukan
sosialnya akan semakin berkurang dan dapat mengakibatkan
berkurangnya integrasi dengan lingkungannya.
g. Hukum dan etik dalam perawatan gerontik. Dalam pasal 27 ayat (1)
Undang-Undang Dasar 1945 segala warga Negara bersamaan
kedudukanya

didalam

hukum

dan

pemerintahan

dan

wajib

menjunjungnya hukum dan pemerintahanya itu dengan tidak ada


kecualinya. Kode etik yang harus diperhatikan oleh perawat
diantaranya adalah sebagai berikut.
1) Perawat harus memberikan rasa hormat kepada klien tanpa
memerhatikan suku, ras, golongan, pangkat, jabatan, status social
dan masalah kesehatan.
2) Menjaga rahasia klien.
3) Melindungi klien dari campur tangan pihak yang tidak kompeten,
tidak etis, dan praktik illegal.
4) Perawat berhak menerima

jasa dari

hasil konsultasi

dan

pekerjaanya.
5) Perawat menjaga kompetensi keperawatan.
6) Berpartisipasi aktif dalam meningkatkan standar pemberian asuhan
yang perofesional.
7) Berpartisipasi dalam usaha mencegah masyarakat dari informasi
yang salah, misinterpretasi, dan menjaga integritas perawat.
13) JPKM lansia. Salah satu program pokok perawatan kesehatan
masyarakat yang ada dipuskesmas sasaranya adalah keluarga yang
didalamnya terdapat lansia. Dengan strategi ini diharapkan lansia
mendapatkan perawatan yang baik dan perhatian yang selayaknya.
(Wahit Iqbal, 2010; 143-145)

7. Perubahan-perubahan Yang Terjadi Pada Lansia


a. Perubahan Kondisi Fisik
Perubahan kondisi fisik pada lansia meliputi: perubahan dari tingkat sel
sampai ke semua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernapasan,
pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh,
muskuloskletal, gastrointestinal, urogenital, endokrin, damn integumen.

Masalah fisik sehari-hari yang sering ditemukan pada lansia diantaranya


lansia mudah jatuh, mudah lelah, kekacauan mental akut, nyeri pada
dada, berdebar-debar, sesak napas pada saat melakukan aktivitas/kerja
fisik, pembengkakan pada kaki bawah, nyeri pinggang atau punggung,
nyeri sendi pinggul, sulit tidur, sering pusing, berat badan menurun,
gangguan pada fungsi penglihatan, pendengaran dan sulit menahan
kencing.
b. Perubahan Kondisi Mental
Pada umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan
psikomotor. Perubaha-perubahan mental inierat sekali kaitannya dengan
perubahan

fisik,

keadaan

kesehatan,

tingkat

pendidikan

atau

pengetahuan, dan situasi lingkungan. Dari segi mental dan emosional


sering muncul perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman, dan
cemas. Factor-faktor yang mempengaruhi perubahan kondisi mental
diantaranya:
1) Pertama-tama perubahan fisik,khususnya organ perasa;
2) Kesehatan umum;
3) Tingkat pendidikan;
4) Keturunan (hereditas)
5) Lingkungan;
6) Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian;
7) Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan;
8) Rangkaian daroi kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan
teman dan keluarga;
9) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap
gambaran diri, dan konsep diri.
c. Perubahan Psikososial
Masalah perubahan psikososialserta reaksi individu terhadap perubahan
ini sangat beragam, bergantung pada kepribadian individu yang
bersangkutan. Orang yang telah menjalani kehidupannya dengan

bekerja, mendadak dihadapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan


pensiun. Perubahan psokososial yang lain adalah merasakan atau sadar
akan kematian, perubahan cara hidup memasuki rumah perawatan,
penghasilan menurun, biaya hidup meningkat, tambahan biaya
pengobatan, penyakit kronis, ketidakmampuan, kesepian akibat
pengasingan diri dari lingkungan social, kehilangan hubungan dengan
teman dan keluarga, hilangnya kekuatan dan ketegangan fisik,
perubahan konsep diri, serta kematian pasangan hidup.
d. Perubahan Kognitif
Perubahan pada fungsi kognitif diantaranya adalah kemunduran pada
tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan dan tugas yang memerlukan
memori jangka pendek, kemampuan intelektual tidak mengalami
kemunduran, dan kemampuan verbal dalam bidang kosakata akan
menetap bila tidak ada penyakit yang menyertai.
e. Perubahan Spiritual
Perubahan yang terjadi pada aspek spiritual lansia adalah sebagai
berikut:
1) Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya.
2) Usia lanjut makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini
terlihat dalam cara berpikir dan bertindak dalam sehari-hari.
14) Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Fowler adalah
universalizing, perkembangna yang dicapai pada tingkat ini adalah
berpikir dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara
mencintai dan bewrsikap adil. (Wahit Iqbal, 2010; 150-155)

8. Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia

a. Permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lansia


diantaranya:
1) Ketidakberdayaan fisik, sehingga menyebabkan ketergantungan
pada orang lain.
2) Ketidakpastian ekonomi, sehingga membutuhkan perubahan total
dalam pola hidup.
3) Membuat teman baru untuk mendapat ganti mereka yang telah
meninggal atau pindah.
4) Mengembangkan aktivitas baru untuk mengisi waktu luang yang
bertambah banyak.
5) Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa.
b. Masalah kesehatan utama
1) Penyakit jantung
2) Penyakit keganasan seperti kanker
3) Penyakit ginjal
4) Penyakit paru akut seperti pneumonia dan edema paru
5) Penyakit vascular seperti CVA dan penyakit pembuluh perifer
6) COPD atau PPOM
7) Arthritis
8) Kelainan pada kulit dan kecelakaan
c. Peningkatan stressor
Hal ini dapat diakibatkan adanya hemiplegi, deficit sensorik,
hospitalisasi, tinggal di rumah perawatan, kesulitan berbicara,
kehilangan anak dan teman, pemindahan benda yang memiliki arti,
serta cara kerja yang tidak bisa dilakukan sebagaimana pada waktu
dahulu (muda).
d. Respon obat
Permasalahan yang berkaitan dengan respons obat pada lansia
dipengaruhi oleh banyak factor, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Menurunnya absorpsi obat, hal ini dapat disebabkan oleh
menurunnya HCl, asam lambung dan perubahan pergerakan
gastrointestinal.

2) Perubahan distribusi obat, hal ini disebabkan oleh menurunnya


serum albumin yang mengikat obat dan tersimpannya obat pada
jaringan lemak.
3) Perubahan metabolisme obat, akibat menurunnya aktivitas enzim
hati.
4) Menurunnya ekskresi obat, terjadi akibat menurunnya aliran darah
ke ginjal, menurunnya kecepatan filtrasi glomerulus, dan
menurunnya beberapafungsi tubulus ginjal.
e. Post Power sindrom
Merupakan suatu keadaan maladjustment mental dari seseorang yang
mempunyai kedudukan dari ada menjadi tidak ada dan menujukkan
gejala depresi, frustasi dan lain-lain. (Wahit Iqbal, 2010; 155-156)

9. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penuaan


Faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan adalah:
a. Hereditas
b. Keturunan Genetik
c. Nutrisi atau Makanan
d. Status Kesehatan
e. Pengalaman Hidup
f. Lingkungan
g. Stres
(Wahit Iqbal, 2010; 156)
10. Karakteristik Penyakit Yang Dijumpai Pada Lansia
a. Penyakit yang sering multiple, saling berhubungan satu sama lain.
b. Penyakit bersifat degeneratif, sering menimbulkan kecacatan.
c. Gejala sering tidak jelas, berkembang secara perlahan.
d. Masalah psikologis dan social sering terjadi bersamaan.
e. Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut.
f. Sering terjadi penyakit yang bersifat iatrogenik.
g. Hasil penelitian profil penyakit lansia di empat kota (Padang,
Bandung, Denpasar,dan Makassar) adalah sebagai berikut.

1) Fungsi tubuh yang dirasakan menurun: penglihatan (76,24%), daya


ingat (69,39%), seksual (58,04%), kelenturan (53,23%), gigi dan
mulut (51,12%).
2) Masalah kesehatan yang sering muncul: sakit tilang atau sendi
(69,39%), sakit kepala (51,15%), daya ingat menurun (38,51%),
selera makan menurun (30,08%), mual atau perut perih (26,66%),
sulit tidur (24,88%), dan sesak napas (21,28%).
15) Penyakit kronis: reumatik (33,14%), hipertensi (20,66%), gastritis
(11,34%), dan penyakit jantung (6,45%). (Wahit Iqbal, 2010; 141)
11. Penyakit Yang Sering Dijumpai Pada Lansia
Menurut the National Old Peoples Welfare Council, penyakit pada lansia
diantaranya:
a. Deperesi mental
b. Gangguan pendengaran
c. Bronchitis kronis
d. Gangguan pada tungkai atau sikap berjalan
e. Gangguan pada koksa atau sendi panggul
f. Anemia
g. Demensia
(Wahit Iqbal, 2010; 156-157)

B. Konsep Keperawatan Gerontik


1. Pengkajian
Proses pengkajian terdiri dari pengumpulan data, analisa data, perumusan
masalah dan prioritas masalah.
a. Pengumpulan data
1) Riwayat kesehatan
Perawat melakukan pengkajian pada klien dengan cara menanyakan
pada klien tentang riwayat kesehatan yang ada padanya. Tanyakan
bagaimana riwayat kesehatan masa lalu, apa pernah mengalami
sakit, sakit apa, berobat kemana, apa pernah masuk rumah sakit,

dapat obat apa saja, pengobatanya tuntas atau tidak. Sedangkan


untuk riwayat kesehatan saat ini, tanyakan bagaimana kondisi klien
saat ini, apa ada yang dikeluhkan, dan bagaimana status
kesehatanya secara umum.
2) Aspek pengkajian
a) Fisik atau biologis
(1) Wawancara riwayat kesehatan
(a) Pandangan lansia tentang kesehatanya
(b) Kegiatan apa yang mampu dilakukan lansia
(c) Kekuatan fisik lansia: otot, sendi, pendengaran dan
(d)
(e)
(f)
(g)

penglihatan
Kebiasan lansia merawat diri sendiri
Kebiasaan makan, minum, istrahat/tiidur, BAB/BAK
Kebiasan menggerakkan badan/olahraga
Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat

bermakna dirasakan
(h) Kebiasaan lansia dalam memelihara kesehatan dan
kebiasaan minum obat
(i) Masalah-masalah seksual yang dirasakan
(2) Pemeriksaan fisik
(a) Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi,
perkusi dan aukultasi untuk mengetahui perubahan
sistem tubuh.
(b) Pendekatan yang digunakan dalam pemeriksaan fisik
adalah head to toe. Pada pengkajian data dasar perawat
memriksa bagaiman tanda-tanda vital lansia; berat
badan lansia; memori dan tingkat orientasi lansia;
kebetuhan lansia pola tidur lansia.
b) Psikologis
Hal-hal yang perlu dikaji dalam aspek psikologis antara lain:
(1) Apakah mengenal masalah-masalah utamanya.

(2) Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan.


(3) Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan.
(4) Apakah dirinya merasa dibutuhkan atau tidak.
(5) Bagaimana cara mengatasi masalah atau stress yang
dialami.
(6) Apakah mudah untuk menyesuaikan diri.
(7) Apakah lansia pernah mengalami kegagalan.
(8) Apakah harapan pada saat ini dan dimasa yang akan datang.
c) Sosial ekonomi
Dalam pengkajian sosial ekonomi, pertanyaan yang diajukan
pada klien diantaranya adalah sebagai berikut:
(1) Bagaimanan lansia membina keakraban dengan teman
sebaya maupun dengan lingkungannya dan bagaimana
keterlibatan lansia dalam organisasi sosial.
(2) Penghasilan yang diperoleh.
(3) Perasaan sejahtera dalam kaitannya dengan sosial ekonomi.
(4) Hal-hal yang perlu dikaji antara lain:
(a) Kesibukan lansia mengisi waktu luang.
(b) Dari mana sumber keuangan diperoleh.
(c) Dengan siapa dia tinggal.
(d) Kegiatan organisasi social apa yang diikuti lansia.
(e) Bagaimana pandangan lansia terhadap lingkunganya.
(f) Berapa sering lansia berhubungan dengan orang lain
diluar rumah.
(g) Siapa saja yang bisa mengunjunginya.
(h) Seberapa besar keuntunganya.
(i) Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginanya
dengan fasilitas yang ada.
d) Spritual
(1) Apakah lansia teratur melaksanakan ibadah sesuai dengan
keyakinan agamanya.
(2) Apakah lansia teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam
kegiatan keagamaan.
(3) Bagaimana cara lansia menyelesaikan masalah, apakah
dengan berdoa atau banyak mengeluh.
(4) Apakah lansia terlihat sabar dan tawakal.
e) Kognitif

Mengkaji apakah daya ingat lansia mengalami penurunan,


mudah lupa, masih mengingat kejadian masa lalu dan lain-lain.
f) Status mental
Mengkaji kondisi status mental lansia, apakah lansia mudah
tersinggung, emosi lansia labil/stabil.
b. Analisis data
Setelah dilakukan pengumpulan data melalui kegiatan wawancara dan
pemeriksaan fisik, kemudian dilakukan dengan analisa data. Analisis
data dilakukan dengan memilih data- tata yang ada, sehingga dapat
dirumuskan menjadi suatu diagnosis keperawatan. Analisis data adalah
kemampuan untuk mengaitkan data dan menghubungkan data dengan
kemampuan kognitif yang dimiliki, sehingga dapat diketahui
kesenjangan atau masalah yang dihadapi lansia.
c. Perumusan masalah
Berdasarkan analisis data, dapat diketahui masalah kesehatan dan
keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat. Selanjutnya dengan
masalah tersebut perawat dapat menyusun rencana asuhan keperawatan
dan dapat dilakukan intervensi.
d. Prioritas masalah
Prioritas masalah dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan
menurut Abraham H. Maslow, yaitu:
1) Keadaan yang mengancam kehidupan.
2) Keadaan yang mengancam kesehatan.
3) Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperwatan adalah respon individu pada masalah kesehatan, baik
yang aktual maupun potensial. Diagnosis keperawatan mengandung

komponen utama, yaitu PES (Problem, Etiology dan symptom). Berikut ini
disajikan diagnosis keperawatan yang sering muncul pada lansia.
a. Fisik/Biologis
1) Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat.
2) Gangguan persepsi sensorik: pendengaran/penglihatan
berhubungan

dengan

gangguan

hambatan

penerimaan

yang
dan

pengiriman rangsangan.
3) Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan menurunnya
minat dalam merawat diri.
4) Risiko cedera fisik (jatuh) yang berhubungan dengan penyesuaian
terhadap penurunan fungsi tubuh tidak adekuat.
5) Perubahan pola eliminasi yang berhubungan dengan pola makan
tidak efektif.
6) Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan kecemasan atau
nyeri.
7) Gangguan pola napas yang berhubungan dengan penyempitan jalan
napas.
8) Jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan penyempitan
jalan napas atau adanya penumpukan sekret.
9) Gangguan mobilisasi yang berhubungan dengan kekakuan sendi.
b. Psikologis dan social
1) Menarik diri dari lingkungan yang berhubungan dengan perasaan
2)
3)
4)
5)

tidak mampu.
Isolasi sosial yang berhubungan dengan rasa curiga.
Depresi yang berhubungan dengan isolasi social.
Harga diri rendah yang berhubungan dengan perasaan ditolak.
Koping yang tidak adekuat yang berhubungan dengan

ketidakmampauan menggungkapkan perasaan secara tepat.


6) Cemas yang berhubungan dengan sumber keuangan yang terbatas.
c. Spritual
1) Risiko berkabung/atau berduka yang berhubungan dengan ditinggal
pasangan.

2) Penolakan terhadap proses penuaan yang berhubungan dengan


ketidaksiapan menghadapi kematian.
3) Marah terhadapp Tuhan yang berhubungan dengan kegagalan yang
dialami.
4) Perasaan tidak tenang yang berhubungan dengan ketidakmampuan
melakukan ibadah secara tepat.
3. Intervensi Keperawatan
Perencanaan keperawatan

adalah

penyusunan

rencana

tindakan

keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai


dengan diagnosis keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan
terpenuhinya kebutuhan klien. Perencanaan asuhan keperawatan pada
lansia disusun berdasarkan diagnosis yang telah ditetapakan dan rencana
keperawatan yang disusun harus mencakup:
a. Perumusan tujuan.
b. Rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan.
c. Kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan.
(Wahid Iqbal Mubarak, 2010; 167-172)

C. Konsep Dasar Medis


1. Anatomi dan fisiologi
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima
makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh
dengan

jalan

proses

pencernaan

(pengunyahan,

penelanan

dan

pencampuran) dengan enzim dan zat cair mulai dari mulut sampai anus.
(Syaifuddin, 2006; 167)

Gambar 2.1 Anatomi system pencernaan


Sumber : (http://www.google.co.id
a.Anatomi
Saluran pencernaan adalah 2 jalur panjang totalnya 23 sampai 26
kaki yang berjalan dari mulut melalui esofagus, lambung, dan usus
sampai anus. Mulut merupakan permulaan saliran pencernaan yang
terdiri dua bagian, bagian yang luar yang sempit atau vestibula yaitu
ruang diantara gusi, gigi, bibir, dan pipi. Bagian dalam yaitu rongga
mulut yang dibatasi oleh tulang maksilari, palatum. Bagian superior
disebut

nasofaring

pada

nasofaring

bermuara

tuba

yang

menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga. Bagian media


disebut orofaring, bagian ini terbatas kedepan sampai diakar lidah
bagian inferior disebut laring orofaring dengan laring. (Smeltzer dan
Bare, 2001; 984)
Esofagus terletak di mediasternum rongga torakal, anterior tulang
punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung masuk kedalam
abdomen menyambung dengan lambung , selang yang dapat
mengempis yang panjangnya kira kira 25 cm (10 inchi)menjadi
distensi bila makanan meleatinya. Faring merupakan organ yang

menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (esofagus) disini


terletak dipersimpangan antara jalan napas dan jalan makanan, letaknya
di belakang rongga mulut dan rongga

hidung, didepan ruas tulang

belakang faring terdiri dari bagian suferior (bagian yang sama tinggi
dengan hidung, bagian media (bagian yang sama tinggi dengan mulut
dan bagian inferior (bagian yang sama tinggi dengan laring).
(Syaifuddin, 2006; 171)
Bagian dari saluran pencernaan terletak di dalam rongga
peritonial. Lambung terletak oblik ke kanan menyilang di abdomen atas
tepat difragma. Dalam keadaan kosong bila penuh berbentuk seperti
buah pir raksasa lambung menyerupai tabung bentuk J bawah diatas
tepat ditempatkan dibagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah
tubuh tepat di bawah diafragma kiri. Lambung adalah suatu kantung
yang dapat berdistensi dengan kapasitas kira- kira 1500 ml. Inlet ke
lambung disebut pertemuan esofogogastrik. Bagian ini di kelilingi oleh
cincin otot halus di sebut sfingter esofagus bawah yang pada saat
kontraksi menutup lambung dari esofagus lambung dapat di bagi
kedalam empat bagian anatomis, kardia (jalan masuk), fundus , korpus,
dan pilorus (outlet) otot halus sirkuler didinding pilorus membentuk
sfingter pilorus dan mengontrol lubang diantara lambung dan usu halus.
(Smeltzer dan Bare, 2001; 984).
Sub mukosa tersusun atas jaringan areolar longgar yang
menghubungkan lapisan mukosa dan lapisan muskularis. Jaringan ini

memungkinkan mukosa bergerak dengan gerakan peristaltik dan lapisan


ini juga mengandung pleksus saraf , pembuluh darah dan limfe.
Mukosa lapisan dalam lambung tersusun atas lipatan lipatan
rugae yang memungkingkan terjadinya distensi lambung sewaktu diisi
makanan. Gastrin merangsang kelenjar gastrik untuk mengasilkan asam
hidroklorida dan pepsinogen . Persarafan lambung sepenuhnya berasal
dari sistem saraf otonom. (Sylvia A.Price, 2005; 416)
Bagian lambung terdiri dari:
1) Fundus ventrikuli, bagian yang menonjol ke atas terletak sebelah kiri
osteum kardium dan biasanya penuh berisi gas.
2) Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada
bagian bawah kurvatura minor.
3) Antrum pilorus,bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot
yang tebal membentuk sfingter pilorus.
4) Kurvatura minor, terdapat di sebelah kanan lambung, terbentang dari
osteum kardiak melalui fundus ventrikuli emnuju ke kanan sampai
ke piloris inferior.
5) Osteum kardiak, merupakan tempat esofagus bagian abdomen masuk
ke lambung. (Syaifuddin, 2006; 171)
Fungsi lambung (Syaifuddin) antara lain:
1) Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan
oleh peristaltic lambung dan getah lambung.
2) Getah cerna lambung yang dihasilkan:
a) Pepsin, fungsinya mencegah putih telur menjadi asam amino
(albumin dan pepton)
b) Asam garam (HCl), fungsinya mengasamkan makanan, sebagai
antiseptik dan desinfektan, dan membuat suasana asam pada
pepsinogen sehingga menjadi pepsin.

c) Renin fungsinya sebagai ragi yang membekukan susu dan


membentuk kasein dari kasinogen (kasinogen dan protein susu)
d) Lapisan lambung jumlahnya sedikit memecah lemak menjadi
asam lemak yang merangsang sekresi getah lambung.
Usus halus atau intestinum minor adalah bagian sistem
pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada
sekum panjangnya 6 m, merupakan saluran paling panjang tempat
pencernaan dan absorpsi hasil pencernaan yang terdiri dari lapisan usus
halus (lapisan mukosa [sebelah dalam] lapisan otot melingkar [M.
sirkuler], lapisan otot memanjang [M.longitudinal] dan lapisan serosa
[sebelah luar]). (Syaifuddin, 2006; 172)
Duodenum disebut juga usus 12 jari, panjangnya 25 cm,
berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini
terdapat pankreas. Duodenum dapat dibagi ke dalam 4 bagian yaitu
1) Pars superior duodeni, mempunyai ukuran kira-kira 5 cm, berjalan
ke arah kranial dan dorsal,bagian ini dapat bergerak dan berbatasan
dengan hepar.
2) Pars descendens duodeni, berukuran kira-kira 7,5 cm berjalan
vertikal disebelah kanan vertebrae lumbalis II-III.
3) Pars horizontale duodeni, berukuran kurang lebih 10 cm, berjalan
horizontal ke kiri.
4) Pars ascendens duodeni, bersama dengan pars horizontalis duodeni
membentuk pars inferior duodeni, berukuran 2,5 cm. (Thoepilus
Buranda, 2008; 64)

Jejunum dan ileum mempunyai panjang sekitar 6 m. Dua


perlima bagian atas adalah (jejunum) degna panjang 23 m dan ileum
dengan panjang 4-5 m. Lekukan jejunum dan ileum melekat pada
dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan pritonium yang
berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium. Fungsi usus halus
meliputi
1) Menerima zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui
kapiler-kapiler darah dan saluran saluran limfe.
2) Menyerap protein dalam bentuk asam amino
3) Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida (Syaifuddin,
2006; 173-174)
Usus besar atau intestinum mayor panjangnya 11/2 m, lebarnya
5-6 cm. Lapisan lapisan usus besar dari dalam ke luar : selaput lendir,
lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, jaringan ikat. Usus
besar terdiri dari :
1) Kolon ascendens
Panjangnya 13 cm, terletak di bawah abdomen sebelah kanan,
membujur ke atas dari ileum ke bawah hati.

2) Kolon transversum
Panjangnya 38 cm, membujur dari kolon ascendens sampai ke
kolon descendens berada di bawah abdomen, sebelah kanan

terdapat fleksura hepatika dan sebelah kiri terdapat fleksura


lienalis.
3) Kolon descendens
Panjangnya 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri
membujur dari atas ke bawah dan fleksura lienalis sampai ke depan
ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid.
4) Kolon sigmoid
Merupakan lanjutan dari kolon descendens, terletak miring dalam
rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S, ujung
bawahnya berhubungan dengan rektum. Syaifuddin, 2006; 176)
b. Fisiologi
Makanan yang masuk ke lambung akan disimpan selama
beberapa menit sampai beberapa jam. Selama proses penyimpanan di
lambung, makanan akan bercampur dengan asam lambung (HCl
Lambung), yang akan menyebabkan bahan makanan mempunyai
osmolalitas plasma darah. Secara mekanik lambung berfungsi untuk
tempat penyimpanan, mencampur makanan dengan asam lambung dan
mengosongkan makanan dari lambung dan duodenum.
(Edy Mulyono, 2004; 102)
Perangsangan sekresi getah lambung sebagian diterima dari
rangsangan saraf dan sebagian dari rangsangan kimiawi. Sekresi mulai
Pada awal orang makan, bila melihat dan mencium makanan, akan
merangsang sekresi. Rasa makanan kemudian merangsang sekresi

karena kerja saraf. Makanan di dalam lambung menimbulkan


rangsangan

kimiawi

karena

menyebabkan

dinding

lambung

melepaskan hormone yang disebut gastrin. (Pearce, 2002; 187)


Secara fungsional, mukosa lambung mempunyai 2 kelenjar:
kelenjar

oksintik

berlokasi

di

corpus

dan

fundus

lambung

menghasilkan asam lambung (HCl), pepsinogen, factor intrinsic dan


mucus.kedua, kelenjar pilorik yang terdapat pada bagian distal
lambung (antrum) menghasilakn hormon gastrin, mucus dan sedikit
pepsinogen. Sekresi asam lambung terdiri dari 3 fase berdasarkan
lokasi reseptor yang merangsang mulainya sekresi asam yaitu:
1) Fase sefalik terjadi pada saat makan atau bahkan saat sebelum
makan. Penglihatan, penciuman, saat menelan makanan akan
merangsang kemoreseptor dan mekanoreseptor yang mengaktifkan
pusat nafsu makan di hypothalamus. Melalui saraf vagus impuls ini
dihantarkan ke lambung untuk merangsang sel parietal kelenjar
oksintik mensekresi asam.
2) Fase gastric terjadi saat makanan memasuki lambung. Distensi
lambung yang terjadi merangsang mekanoreseptor pada mukosa
lambung dan menimbulkan reflex vasovagal yang akan mengirim
impulsnya ke nucleus saraf vagus.
3) Fase intestinal berlangsung saat makanan berada di duodenum.
Adanya makanan ini merangsang sekresi asam akibat mukosa
duodenum menghasilkan gastrin yang merangsang/meningkatkan
sekresi asam lambung. (Edy Mulyono, 2004; 108-109)

Fungsi pencernaan dan fungsi motorik lambung adalah sebagai


berikut:
1) Fungsi menampung; Menyimpan makanan sampai makanan
tersebut sedikit demi sedikit dicerna dan bergerak pada saluran
cerna. Menyesuaikan peningkatan volume tanpa menambah
tekanan dengan relaksasi reseptif otot polos; diperantarai oleh
nervus vagus dan dirangsang oleh gastrin.
2) Fungsi mencampur; Memecahkan makanan menjadi partikelpartikel kecil dan mencampurnya dengan getah lambung melalui
kontraksi otot yang mengelilingi lambung. Kontraksi peristaltik
3)

diatur oleh suatu irama listrik intrinsik dasar.


Fungsi pengosongan lambung; diatur oleh pembukaan sfingter
pylorus yang dipengaruhi oleh viskositas, volume,

keasaman,

aktivitas osmotik, keadaan fisik, serta oleh emosi, obat-obatan dan


olahraga. Pengosongan lambung diatur oleh factor saraf dan
hormonal, seperti kolesistokinin.
Fungsi pencernaan dan sekresi lambung yaitu:
1) Pencernaan protein oleh pepsin dan HCl dimulai di sini;
pencernaan karbohidrat dan lemak oleh amilase dan lipase dalam
lambung kecil peranannya.
2) Sintesis dan pelepasan gastrin dipengaruhi oleh protein yang
dimakan, peregangan antrum, alkalinisasi antrum, dan rangsangan
vagus.
3) Sekresi factor intrinsic memungkinkan absorpsi vitamin B12 dari
usus halus bagian distal.

4) Sekresi mucus membentuk selubung yang melindungi lambung


serta berungsi sebagai pelumas sehingga makanan lebih mudah
diangkut.
5) Sekresi bikarbonat, bersama dengan sekresi gel mucus, tampaknya
berperan sebagai barier dari asam lumen dan pepsin. (Price dan
Wilson, 2005; 420)
Enzim intestinal yang dikeluarkan usus halus adalah sekretin,
CCK, enteropeptidase. Gerakan usus halus adalah mencampur dengan
membentuk rantai sosis dan peristaltik atau mendorong dengan
kecepatan 0,5-2 cm/detik, berhenti setiap 3-5 cm. Rat-rata kecepatan
adalah 1cm/detik, sehingga dibutuhkan waktu dari pilorus ke ilieoslisl
3-5 jam. Frekuensi maksimal kontraksi segmentasi dalam usus halus
ditentukan oleh frekuensi gelombang lambat dalam dinding usus.
Kontraksi segmentasi menjadi lemah apabila aktivitas perangsangan
sistem saraf enterin dihambat oleh atropin. Fungsi gelombang
peristaltik tidak hanya mendorong kimus sepanjang usus. Proses ini
meningkat sewaktu kimus masuk ke duodenum. Ilieosekalis peristaltik
meningkat dalam ileum dan mendorong kimus melalui katup
ileosekalis dan masuk ke dalam sekum. Pembangkit refleks
enterogastrik :
1)

Derajat peregangan duodenum

2)

Adanya iritasi dalam mukosa duodenum

3)

Derajat keasaman kimus duodenum

4)

Derajat osmolalitas kimus

5)

Adanya hasil pemecahan tertentu dalam kimuss protein/lemak.


Fungsi katup ileisekalis mencegah aliran balik isi dari kolon ke
dalam usus halus. Katup ileosekal menonjol kedalam lumen sekum dan
tertutup erat. Bila terbentuk tekanan yang berlebihan dalam sekum akan
mencoba mendorong ke belakang, mendrong bibir, dan katup dapat
menahan tekanan balik dan usus besar. Bila sekum diregangkan maka
kontraksi sfingter ileosekal ditingkatkan dan peristaltik ileum dihambat
sehingga menunda pengosongan kimus dari ileum.
(Syaifuddin;2006; hal.188)
Pada keadaan diare terjadi refleks saraf ekstrinsik yang diteruskan ke
ganglia sistem saraf otonom dan batang otak, diinterpretasikan ke usus
melalui desakan peristaltik yang meningkatkan refleks pleksus
mienterika, menyapu usus halus dari chyme yang mengiritasi atau
peregangan yang berlebihan. Sedangkan pada saat puasa teradi komplek
motorik bermigrasi setiap 90 menit yang menyapu sekresi-sekresi yang
tetap dikeluarkan pada saat ridak ada makanan yang dicerna, sehingga
sekresi ini tidak mencerna mukosa atau tidak mengotori lumen usus.
(Iin Inayah; 2004;hal.12)
Fungsi usus besar adalah menyerap air dari makanan, tempat tinggal
bakteri coli, tempat feses. Sekresi usus besar adalah mukus. Gerakan
kolon adalah mengabsorpsi air dan elektrolit dari kimus dan
penimbunan bahan feses sampai dapat dikeluarkan. Pergerakan kolon

secara normal sangat lambat dan mempunyai karakteristik yang sama


dengan usus halus yaitu gerakan mencampur dan gerakan mendorong.

2. Pengertian
Gastritis merupakan inflamasi mukosa lambung akibat diet yang
sembrono. Individu makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau makan
makanan yang terlalu berbumbu atau mengandung mikroorganisme
penyebab penyakit. Juga bisa disebabkan oleh alcohol, aspirin, refluks
empedu atau terapi radiasi. (Brunner Suddarth, 2002; 1062)
Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan
mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus atau lokal.
(Price dan Wilson, 2005; 422)
Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung yang disertai dengan
gejala dyspepsia dan indigesti. (Mansjoer A, 2000; 492)
Gastritis adalah suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang
akut dengan kerusakan-kerusakan erosi\perlukaan pada bagian mukosa.
(Iin Inayah, 2004; 57)

3. Etiologi
Secara makroskopik terdapat lesi erosi mukosa dengan lokasi. Jika
ditemukan pada corpus dan fundus, biasanya disebabkan oleh stress. Jika
disebabkan karena obat-obatan AINS terutama ditemukan di daerah
antrum, namun dapat juga menyeluruh. Sedangkan secara mikroskopik,

terdapat erosi dengan regenerasi epitel, dan ditemukan reaksi sel inflamasi
neutrofil yang minimal. (Mansjoer, 2000; 492)
Gastritis akut dapat pula timbul tanpa diketahui penyebabnya.
Penyebab yang sering dijumpai ialah :
b Infeksi H. Pylori
c Obat analgetik-anti inflamasi, terutama aspirin.
d Bahan kimia misalnya lisol.
e Merokok.
f Alkohol.
g Stress fisis yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma,
pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf
pusat.
h Refluks usus lambung.
i Endotoksin.
Penyebab gastritis kronik antara lain:
a
b
c
d

Anemia penyakit adisson dan gondok.


Anemia kekurangan besi idiopatik.
Ulkus lambung kronik.
Imunologi. (Iin Inayah, 2004; 58-59)

4. Klasifikasi Gastritis
Gastritis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu sebagai berikut :
a. Gastritis akut
Gastritis akut adalah lesi mukosa akut berupa erosi dan perdarahan
akibat faktor-faktor agresif atau akibat gangguan sirkulasi akut mukosa.

Gastritis akut merupakan kelainan klinis akut yang jelas


penyebabnya dengan tanda dan gejala yang khas. Biasanya ditemukan
sel inflamasi akut dan neutrofil. (Mansjoer, 2000; 492)
b. Gastritis kronik
Gastritis kronik merupakan suatu peradangan bagian permukaan
mukosa lambung yang menahun, ada dua jenis yaitu gastritis fundus
kronik dan antrum-pilorum. (Iin Inayah, 2004; 59)
Gastritis kronik adalah inflasi lambung yang lama dapat
disebabkan oleh ulkus benigna atau maligna dari lambung atau oleh
bakteri Helicobacter pylori ( H. pylori).
(Smeltzer dan Bare, 2002; 1062)
5.

Manifestasi Klinis
Gejala klinis gastritis akut (Mansjoer, 2000) antara lain:
a

Nyeri epigastrium.

Mual muntah.

Perut kembung.

Perdarahan saluran cerna berupa hematemesis dan melena.

Kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia setelah perdarahan.


Gejala klinis gastritis kronik (Iin Inayah, 2004) yaitu :

Nyeri ulu hati.


Anoreksia.
Nausea.
Nyeri seperti ulkus peptik.
Anemia.
Nyeri tekan epigastrium.
Cairan lambung terganggu.
Aklorhidria
Kadar gastrin serum tinggi pada gastritis kronik fundus yang berat.

6.

Patofisiologi
Faktor-faktor tersebut biasanya tidak berdiri sendiri. Misalnya stress
fisis akan menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga
timbul daerah-daerah infark kecil. Disamping itu sekresi asam lambung
juga terpacu. Muccosal barier pada penderita stress fisis biasanya tidak
terganggu. Hal itu yang membedakannya dengan gastritis erosif karena
bahan kimia atau obat. Pada gastrititis refluks, gastritis karena bahan
kimia, obat, mucosal barier rusak sehingga difusi balik ion H meninggi.
Suasana asam yang terdapat pada lumen lambung akan mempercepat
musocal barier oleh cairan usus.
Membran mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (kongesti
dengan jaringan, cairan, dan darah) dan mengalami erosi superficial,
bagian

ini

mensekresi

sejumlah

jaringan

getah

lambung,

yang

mengandung sangat sedikit asam tetapi banyak mucus. Ulserasi superficial


dapat terjadi dan dapat menimbulkan hemoragi. Pasien dapat mengalami
ketidaknyamanan, sakit kepala, malas, mual, dan anoreksia, sering disertai
dengan muntah dan cekungan. Beberapa pasien asimtomatik.
Mukosa lambung mampu memperbaiki diri sendiri setelah mengalami
gastritis. Kadang-kadang, hemoragi memerlukan intervensi bedah. Bila
makanan pengiritasi tidak dimuntahkan tetapi mencapai usus, dapat
mengakibatkan kolik dan diare. Biasanya, pasien sembuh kira-kira sehari,
meskipun nafsu makan mungkin menurun selama 2 atau 3 hari kemudian.

Gastritis kronik dapat diklasifikasikan sebagai tipe A atau tipe B. tipe


A (sering juga disebut sebagai gastritis autoimun) diakibatkan dari
perubahan sel parietal, yang menimbulkan atrofi dan infiltrasi seluler. Hal
ini dihubungkan dengan penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa dan
terjadi pada fundus atau korpus dari lambung. Tipe B (kadang disebut
sebagai gastritis H. pylori) mempengaruhi antrum dan pylorus (ujung
bawah lambung dekat duodenum). Ini dihubungkan dengan bakteri H.
pylori; factor diet, minum panas atau pedas, penggunaan obat-obat dan
alcohol, merokok atau refluks isis usus kedalam lambung.
(Smeltzer dan Bare, 2001; 1062)
7. Tes Diagnostik
Menurut Doenges (2000) pemeriksaan diagnostik pada gastritis
antara lain :
a

EGD (Esofogogastrorodudenoskopi) : Tes diagnostik kunci untuk


perdarahan GI atas dilakukan untuk melihat sisi perdarahan/derajat

jaringan/cedera.
Minum barium dengan foto rontgen : Dilakukan untuk membedakan

diagnosa penyebab/sisi lesi.


Analisa gaster : Dapat dilakukan untuk menentukan adanya darah,
mengkaji aktivitas sekretori mukosa gaster, contoh peningkatan asam
hidroklorik dan pembentukan asam nokturnal penyebab ulkus

duodenal. Penurunan atau jumlah normal diduga ulkus gaster.


Angiografi : Vaskularisasi GI dapat dilihat bila endoskopi tidak dapat

disimpulkan atau tidak dapat dilakukan.


Feses : Tes feses akan positif.

Hb/Ht : Penurunan kadar terjadi dalam 6-24 jam setelah perdarahan

mulai.
Jumlah darah lengkap : Dapat meningkat, menunjukkan respons tubuh

terhadap cedera.
Analisa gastrin serum : Peningkatan kadar di duga sindrom zolligens
atau kemungkinan adanya penyembuhan ulkus yang buruk. Normal

atau rendah pada gastritis tipe B.


Kadar pepsinogen : Meningkat dengan ulkus duodenal; kadar rendah

diduga gastritis.
Sel parietal antibodi serum : Adanya dugaan gastritis kronis.

8. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan dalam hal ini (Iin Inayah) meliputi :
a.

Mengatasi kedaduratan medis yang terjadi.

b.

Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dijumpai.

c.

Diet, makan makanan yang lunak, mudah dicerna dan menghindari


makanan yang dapat merangsang peningkatan asam lambung seperti
jangan makan yang pedas, asam, minum kopi, dan sayur yang
mengandung gas.

d.

Pemberian obat-obat seperti antasid atau obat-obat ulkus lambung


lainnya.

D. Konsep Asuhan Keperawatan


Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis
dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, kelompok, masyarakat
yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respon pasien

terhadap penyakitnya. Proses keperawatan digunakan untuk membantu


perawat untuk melakukan praktik keperawatan secara sistematis dalam
memecahkan masalah keperawatan. (Tarwoto, 2006; 2).
Tahap-tahap proses keperawatan adalah sebagai berikut :
1. Pengkajian
Pengkajian data merupakan awal dan merupakan dasar proses
keperawatan. Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan
membawa penentuan status kesehatan dan pada pertahanan klien,
mengidentifikasikan kekuatan dan kebutuhan klien serta merumuskan
diagnosa keperawatan. Pengkajian ini meliputi proses pengumpulan data,
memvalidasi, menginterpretasiinformasi tentang klien sebagai individu
yang unik. (Zainuddin, 2009; 52)
Menurut Doenges, pengkajian pada klien dengan Gastritis adalah
sebagai berikut :
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan.
Tanda : Takikardia, takipnea/hiperventilasi (respons terhadap aktivitas).
Sirkulasi
Gejala : Hipotensi
Takikardia,

(termasuk

postural).

disritmia

(hipovolemia/hipoksemia).

Kelemahan/nadi perifer lemah.


Pengisian kapiler lambat/perlahan (vasokonstriksi).
Warna kulit : Pucat, sianosis (tergantung pada jumlah
kehilangan darah).
Kelembaban

kulit/membrane

mukosa:

Berkeringat

(menunjukkan status syok, nyeri akut, respons psikologik).

Integritas ego
Gejala : Faktor stress akut atau kronis (keuangan, hubungan kerja),
perasaan tak berdaya.
Tanda : Tanda ansietas, misal : gelisah, pucat, berkeringat, perhatian
menyempit, gemetar, suara gemetar.
d.

Eliminasi

Gejala : Riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena


perdarahan GI atau masalah yang berhubungan dengan GI,
misal: luka peptic/gaster, gastritis, bedah gaster, iradiasi
area gaster.
Tanda

Perubahan pola defekasi/karakteristik feses.


: Nyeri tekan abdomen, distensi.
Bunyi usus : Sering hiperaktif selama perdarahan, hipoaktif
setelah perdarahan. Karakteristik feses : diare, darah warna
gelap, kecoklatan atau kadang-kadang merah cerah,
berbusa, bau busuk (steatorea). Konstipasi dapat terjadi
(perubahan diet, penggunaan antasida).
Haluaran urine : Menurun, pekat.

e.
Makanan/Cairan
Gejala : Anoreksia, mual, muntah (muntah yang memanjang diduga
obstruksi pilorik bagian luar sehubungan dengan luka
duodenal).
Masalah menelan : cegukan.
Nyeri ulu hati, sendawa bau asam, mual/muntah.
Tidak toleran terhadap makanan, contoh makanan pedas,
coklat; diet khusus untuk penyakit ulkus sebelumnya.
Penurunan berat badan.

Tanda : Muntah : Warna kopi gelap atau merah cerah, dengan atau
tanpa bekuan darah.
Membran mukosa kering, penurunan produksi mukosa,
turgor kulit buruk (perdarahan kronis).
Berat jenis urine meningkat.
Neurosensori
Gejala : Rasa berdenyut, pusing/sakit kepala karena sinar, kelemahan.
Status mental : Tingkat kesadaran dapat terganggu, rentang
dari agak cenderung tidur, disorientasi/bingung, sampai
pingsan

dan

koma

(tergantung

pada

volume

sirkulasi/oksigenasi).
g. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri, digambarkan sebagai tajam, dangkal, rasa terbakar,
perih; nyeri hebat tiba-tiba dapat disertai perforasi.
Rasa ketidaknyamanan/distres samar-samar setelah makan
banyak dan hilang dengan makan (gastritis akut).
Nyeri epigastrum kiri sampai tengah atau menyebar ke
punggung terjadi 1-2 jam setelah makan dan hilang dengan
antasida (ulkus gaster).
Nyeri epigastrum kiri sampai/atau menyebar ke punggung
terjadi kurang lebih 4 jam setelah makan bila lambung
kosong dan hilang dengan makanan atau antasida (ulkus
duodenal).
Tak ada

nyeri

(varises

esofegeal

atau

gastritis).

Faktor pencetus : makanan, rokok, alkohol, penggunaan obatobatan tertentu (salisilat, reserpin, antibiotik, ibuprofen),
stresor psikologis.

Tanda : Wajah berkerut, berhati-hati pada area yang sakit, pucat,


berkeringat, perhatian menyempit.
h. Keamanan
Gejala : Alergi terhadap obat/sensitif misal: ASA.
Tanda : Peningkatan suhu.
Spider
angioma,
eritema palmar

(menunjukkan

sirosis/hipertensi portal)
i.
Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Adanya penggunaan obat resep/dijual bebas yang mengandung
ASA, alkohol, steroid.
NSAID menyebabkan perdarahan GI.
Keluhan saat ini dapat diterima karena (misal: anemia) atau
diagnosa yang tak berhubungan (misal: trauma kepala), flu
usus, atau episode muntah berat. Masalah kesehatan yang lama
misal: sirosis, alkoholisme, hepatitis, gangguan makan.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas mengenai status
kesehatan

atau

masalah

actual

atau

resiko

dalam

rangka

mengedintifikasikan dan menentukan intervensi keperawatan untuk


mengurangi, menghilangkan atau mencegah masalah kesehatan klien
yang ada pada tanggung jawabnya. (Tarwoto, 2006; 4).
b. Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis terhadap respon aktual
dan potensial dari individu, keluarga atau masyarakat terhadap masalah
kesehatan. (Doenges, 2000; 6).

Adapun diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan


gastritis menurut Doenges adalah sebagai berikut :
a.

Kekurangan volume cairan berhubungan

dengan perdarahan, mual, muntah dan anoreksia.


b.
Risiko tinggi terhadap kerusakan perfusi
c.

jaringan berhubungan dengan hipovolemia.


Ansietas berhubungan dengan perubahan

status kesehatan, ancaman kematian.


d.
Nyeri akut berhubungan dengan luka
bakar kimia pada mukosa gaster, rongga oral, refleks spasme otot pada
dinding perut.
e.

Kurang

pengetahuan

tentang

proses

penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan


kurang informasi/mengingat, tidak mengenal sumber informasi,
kesalahan interpretasi informasi.
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik
yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh
perawat.
Menurut Tarwoto (2006), pada tahap perencanaan ada empat hal
yang harus diperhatikan:
Menentukan prioritas masalah.
Menentukan tujuan.
Menentukan kriteria hasil.
Merumuskan intervensi dan aktivitas perawatan.
Adapun intervensi keperawatan yang di lakukan pada penderita
Gastritis menurut Doenges, adalah sebagai berikut:

Diagnosa keperawatan I
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan, mual,
muntah dan anoreksia.
Tujuan : Menunjukkan perbaikan keseimbangan cairan dengan kriteria
hasil :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal.


Tanda vital stabil.
Membrane mukosa lembab.
Turgor kulit baik.
Pengisian kapiler cepat.
Tidak mual dan muntah.
Nafsu makan baik.

Table 2.1
Intervensi diagnosa I
Intervensi
Rasional
Catat karakteristik muntah dan/atau Membantu
drainase.

dalam

membedakan

penyebab distres gaster. Kandungan


empedu
menunjukkan
terbuka.

kuning

kehijauan

bahwa

pilorus

Kandungan

fekal

menunjukkan obstruksi usus. Darah


merah cerah menandakan adanya

Awasi tanda vital

atau perdarahan arterial akut.


Perubahan tekanan darah dan nadi
dapat digunakan perkiraan kasar
kehilangan darah (misal: TD < 90
mm Hg dan nadi > 110 diduga 25%
penurunan volume atau kurang

Awasi

masukan

dihubungkan
berat

badan.

dan

haluaran

dengan

perubahan

Ukur

kehilangan

lebih 1000 ml).


Memberikan
pedoman
penggantian cairan.

untuk

Intervensi
darah/cairan

Rasional
melalui

penghisapan

muntah,

gaster/lavase,

defekasi.
Pertahankan

tirah

dan

baring,

mencegah muntah dan tegangan


pada

saat

aktivitas

defekasi.
untuk

Aktivitas/muntah

meningkatkan

tekanan intra-abdominal dan dapat

Jadwalkan

mencetuskan perdarahan lanjut.

memberikan

periode istirahat tanpa gangguan.


Tinggikan kepala tempat tidur

selama pemberian antasida.

Mencegah

refleks

gaster

pada

aspirasi antasida dimana dapat

sesuai indikasi.

menyebabkan

Kolaborasi, berikan cairan/darah

komplikasi

paru

serius.
Penggantian cairan tergantung pada

Kolaborasi, berikan obat sesuai

derajat hipovolemia dan lamanya

indikasi:

perdarahan (akut atau kronis).

Ranitidin (zantac), nizatidin (axid).

Antasida

(misal:

Amphojel,

Penghambat

histamin

H2

menurunkan produksi asam gaster.

Maalox, Mylanta, Riopan)

Dapat

digunakan

untuk

mempertahankan pH gaster pada


Antiemetik

(misal:

tingkat 4,5 atau lebih tinggi untuk

metoklopramid/reglan,

menurunkan

proklorperazine/campazine).
Tambahan

vitamin

B12

risiko

ulang.
Menghilangkan

perdarahan
mual

dan

mencegah muntah.

Pada gastritis atropik samar, factor


intrinsic yang perlu untuk absorpsi

Antibiotik

B12 dari saluran GI tidak disekresi,


dan

individu

dapat

mengalami

Intervensi

Rasional
anemia pernisiosa.
Mungkin digunakan bila infeksi
penyebab

gastritis

kronis

(Campylobacter Pylori).

Diagnosa keperawatan II
Risiko tinggi terhadap kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan
hipovolemia.
Tujuan : Mempertahankan /memperbaiki perfusi jaringan dengan
kriteria hasil :
1)
2)
3)
4)

Tanda vital stabil.


Kulit hangat.
Nadi perifer teraba. GDA dalam batas normal.
Keluaran urine adekuat.

Tabel 2.2
Intervensi diagnosa II
Intervensi
Rasional
Selidiki perubahan tingkat kesadaran, Perubahan dapat menunjukkan
keluhan pusing/sakit kepala.

ketidakadekuatan perfusi serebral


sebagai akibat tekanan darah

Selidiki keluhan nyeri dada.

Kaji kulit terhadap dingin, pucat,

arterial.
Dapat menunjukkan iskemia
jantung sehubungan dengan

penurunan perfusi.
berkeringat, pengisian kapiler lambat Vasokonstriksi adalah respons
dan nadi perifer lemah.
simpatis terhadap penurunan volume
sirkulasi dan/atau dapat terjadi
Catat haluaran dan berat jenis urine.

sebagai efek samping pemberian


vasopresin.

Intervensi

Rasional
Penurunan perfusi sistemik dapat
menyebabkan iskemia/gagal ginjal

Catat

laporan

nyeri

abdomen,

dimanifestasikan dengan

khususnya tiba-tiba, nyeri hebat atau

nyeri menyebar ke bahu.

penurunan keluaran urine.


Nyeri disebabkan oleh ulkus gaster
sering hilang setelah perdarahan
akut karena efek bufer darah. Nyeri
berat berlanjut atau tiba-tiba dapat

Observasi

kulit

untuk

menunjukkan iskemia sehubungan

pucat,

kemerahan, pijat dengan minyak.

Ubah posisi dengan sering.


Kolaborasi, berikan oksigen tambahan

dengan terapi vasokinstriksi.


Gangguan pada sirkulasi perifer
meningkatkan risiko kerusakan

sesuai indikasi.

Kolaborasi, berikan cairan IV sesuai

kulit.
Mengobati hipoksemia dan
asidosis laktat selama perdarahan

indikasi.
Rasional: mempertahankan volume
sirkulasi

dan

perfusi

akut.
Mempertahankan volume sirkulasi
dan perfusi.

Diagnosa keperawatan III


Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, ancaman
kematian.
Tujuan : Mendiskusikan pengenalan

takut/masalah yang sehat dan

takut tak sehat dengan riteria hasil:


1) Menyatakan tentang perasaan yang tepat.
2) Menunjukkan rileks dan laporan ansietas menurun sampai
tingkat dapat ditangani.

3) Menunjukkan pemecahan masalah dari penggunaan


sumber efektif.
Tabel 2.3
Intervensi diagnosa III
Intervensi
Awasi respons

fisiologi

Rasional
misal: Dapat menjadi indikatif derajat takut

takipnea, palpitasi, pusing, sakit

yang dialami pasien tetapi dapat juga

kepala, sensasi kesemutan.

berhubungan dengan kondisi

Dorong pernyataan takut dan ansietas,


berikan
Rasional:

umpan

balik.

membuat

hubungan

fisik/status syok.
Membuat hubungan terapeutik.

terapeutik.
Berikan informasi akurat.
Melibatkan pasien dalam rencana
asuhan dan menurunkan ansietas
yang tak perlu tentang
Berikan lingkungan tenang untuk
istirahat.

ketidaktahuan.
Memindahkan pasien dari stresor luar
meningkatkan relaksasi, dapat

meningkatkan keterampilan koping.


Dorong orang terdekat tinggal dengan Membantu menurunkan takut melalui
pasien.

pengalaman menakutkan menjadi

Tunjukkan

teknik

relaksasi.

seorang diri.
Belajar cara untuk rileks dapat
membantu menurunkan takut dan
ansietas.

Diagnosa kperawatan IV
Nyeri akut berhubungan dengan luka bakar kimia pada mukosa gaster,
rongga oral, refleks spasme otot pada dinding perut.
Tujuan : Menyatakan nyeri hilang dengan kriteria hasil :
1) Menunjukkan postur tubuh rileks.
2) Mampu tidur dan istirahat dengan tepat.

Tabel 2.4
Intervensi diagnosa IV
Intervensi
Rasional
Catat keluhan nyeri, termasuk lokasi, Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada
lamanya, intensitas (skala 0-10).

harus dibandingkan dengan gejala


nyeri pasien sebelumnya, dimana
dapat

membantu

mendiagnosa

Kaji ulang faktor yang meningkatkan

etiologi perdarahan dan terjadinya


atau menurunkan nyeri.
komplikasi.
Berikan makanan sedikit tapi sering Membantu dalam membuat diagnosa
sesuai indikasi untuk pasien.
dan kebutuhan terapi.
Makanan mempunyai efek penetralisir
asam,

juga

menghancurkan

kandungan gaster. Makan sedikit


Bantu

latihan

rentang

gerak

aktif/pasif.

mencegah distensi dan haluaran


gastrin.

Berikan perawatan oral sering dan menurunkan


tindakan kenyamanan, misal: pijatan
punggung, perubahan posisi.
Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi, misal:
Antasida

kekakuan

sendi,

meminimalkan
nyeri/ketidaknyamanan.
Napas bau karena tertahannya sekret
mulut menimbulkan tak nafsu makan
dan dapat meningkatkan mual.

Antikolinergik (misal : belladonna, Menurunkan keasaman gaster dengan


atropin)
absorbsi atau dengan menetralisir
kimia.
Diberikan pada waktu tidur untuk
menurunkan
menekan

motilitas
produksi

gaster,
asam,

Intervensi

Rasional
memperlambat pengosongan gaster,
dan menghilangkan nyeri nokturnal.

Diagnosa kperawatan V
Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, prognosis dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurang informasi/mengingat, tidak
mengenal sumber informasi, kesalahan interpretasi informasi.
Tujuan : Menyatakan pemahaman penyebab gastritis dan penggunaan
tindakan pengobatan dengan kriteria hasil :
1) Mulai mendiskusikan perannya dalam

mencegah

kekambuhan.
2) Mengidentifikasi/melakukan perubahan pola hidup yang
perlu.
3) Berpartisipasi dalam program pengobatan.
Tabel 2.5
Intervensi diagnosa V
Intervensi
Tentukan persepsi pasien tentang
gastritis.
Berikan/kaji ulang informasi tentang
etiologi gastritis, penyebab/efek
hubungan perilaku pola hidup, dan
cara menurunkan resiko/factor
pendukung. Dorong untuk bertanya.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi
hubngan masukan makanan dan
pencetus/atau hilangnya nyeri
epigastrik, termasuk menghindari
iritan gaster mis., merica, kafein,
alcohol, sari buah, minuman

Rasional
Membuat pengetahuan dasar dan
memberikan beberapa kesadaran
yang konstruktif pada individu ini.
Memberikan pengetahuan dasar
dimana pasien dapat membuat
pilihan informasi/keputusan tentang
masa depan dan control masalah
kesehatan.
Kafein dan rokokmerangsang
keasaman lambung. Alcohol
mendukung untuk erosi mukosa
lambung. Individu dapat
menemukan bahwa
makanan/minuman tertentu

Intervensi
karbonat, merokok, dan makanna
dengan suhu ekstrem panas, dingin,
berlemak atau makanan pedas.
Anjurkan makan sedikit tapi
sering/makanan kecil, mengunyah
makanan dengan perlahan, makan
pada waktu yang teratur, dan
menghindari makan banyak.

Rasional
meningkatkan sekresi lambung dan
nyeri.
Sering makan mempertahankan
netralisasi HCl, melarutkan isi
lambung pada kerja minimal asam
mukosa lambung. Makan sedikit
mencegah distensi gaster yang
berlebihan.
Menurunkan rangsang eksentrik HCl,

Dukung penggunaan teknik


penanganan stress, hindari stress
emosi.
Kaji ulang program obat,
kemungkinan efek samping dan
interaksi dengan obat lain dengan
tepat.
Rujuk ke kelompok pendukung

menurunkan resiko perdarahan


ulang.
Membantu pemahaman pasien tentang
alasan meminum obat, dan gejala
apa yang penting untuk dilaporkan
ke pemberian asuhan.
Penggunaan alcohol mempunyai
insiden lebih tinggi terjadi gastritis.

/konseling untuk perubahan


/penurunan pola hidup/perilaku
sehubungan dengan factor risiko
mis., penyalahgunaan zat/klinik
berhenti merokok.

4. Implementasi Keperawatan
Penerapan rencana intervensi keperawatan merupakan langkah
keempat dalam proses keperawatan. Semua kegiatan yang digunakan
dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien harus direncanakan
untuk menunjang tujuan pengobatan medis dan memenuhi tujuan rencana

keperawatan.Implementasi rencana asuhan keperawatan berarti perawat


mengarahkan , menolong mengobservasi dan mendidik semua personil
keperawatan yang terlibat terhadap personil keperawatan dan klien
termasuk evaluasi perilaku dan pendidikan. (Zainuddin, 2009; 53)
Agar lebih jelas dan akurat dalam melakukan implementasidiperlukan
perencanaan keperawatan yang spesifik dan operasional.
Bentuk implementasi keperawatan menurut Tarwoto adalah sebagai
berikut:
a

Bentuk perawatan, pengkajian untuk mengidentifikasi masalah baru


atau mempertahankan masalah yang ada.

Pengajaran/pendidikan

kesehatan

pada

pasien

ntuk

membantu

menambah pengetahuan tentang kesehatan.


c

Konseling pasien untuk memutuskan kesehatan pasien.

Konsultasi atau mereferdengan tenaga professional kesehatan lainnya


sebagai bentuk perawatan holistic.

Bentuk

penatalaksanaan

secara

spesifik

atau

tindakan

untuk

memecahkan masalah kesehatan.


f

Membantu pasien dalam melakukan aktivitas sendiri.

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah langkah kelima dalam proses keperawatan merupakan
pertimbangan sistematis dari standar dan tujuan yang dipilih sebelumnya
dibandingkan dengan penerapan praktek yang aktual dan tingkat asuhan
yang diberikan. Evaluasi keefektifan asuhan yang diberikan hanya dapat

dibuat jika tujuan yang dicapai sebelumnya cukup realistis dan dapat
dicapai oleh perawat, klien dan keluarga. (Zainuddin, 2009; 53)
Evaluasi merupakan proses yang interaktif dan kontinyu, karena setiap
tindakan keperawatan, respon pasien dicatat dan dievaluasi dalam
hubungannya dengan hasil yang diharapkan kemudian berdasarkan respon
pasien, revisi, intervensi keperawatan/hasil pasien yang mungkin
diperlukan. Pada tahap evaluasi mengacu pada tujuan yang telah
ditetapkan pada penderita gastritis yaitu :
1. Menunjukkan berkurangnya ansietas.
2.
Menghindari makan makanan pengiritasi atau minuman yang
mengandung kafein atau alcohol.
3. Mempertahankan keseimbangan cairan.
1) Mentoleransi terapi intravena sedikitnya 1,5 L setiap hari.
2) Minum 6-8 gelas setiap hari.
3) Mempunyai haluaran urine kira-kira 1 L setiap hari.
4) Menunjukkan turgor kulit yang adekuat.
Mematuhi program pengobatan.
1)
Memilih makanan

dan

minuman bukan pengiritasi.


2)

Menggunakan obat-obatan

sesuai resep.
Melaporkan nyeri berkurang. (Smeltzer dan Bare, 2001; 1064)