Anda di halaman 1dari 8

PEMBAHASAN

Dalam praktikum ini dilakukan pembuatan sediaan tablet dengan cara


granulasi. Granulasi adalah proses peningkatan ukuran dimana partikel-partikel kecil
digabungkan menjadi partikel dengan ukuran lebih besar, membentuk aglomerat atau
granul stabil sehingga lebih mudah mengalir. Proses granulasi dilakukan karena
sebagian besar serbuk tidak dapat dibentuk menjadi tablet secara langsung karena
kohesivitasnya rendah, tidak memiliki sifat lubrikasi dan disintegrasi yang diperlukan
dalam proses tabletasi.
Zat aktif yang digunakan dalam percobaan ini yaitu parasetamol
(acetaminofen). Parasetamol merupakan derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat
antipiretik/analgesik. Pembuatan sediaan tablet parasetamol ini dilakukan dengan
menggunakan metode granulasi basah dan pengikat ditambahkan dengan cara kering.
Prinsip granulasi basah adalah menciptakan ikatan antara partikel-partikel
dengan pemberatan secara mekanik. Ikatan yang mungkin timbul antar partikelpartikel tergantung dari sifat serbuk serta campuran.
Parasetamol memiliki sifat tahan terhadap pemanasan, memiliki sifat alir yang
jelek (rat holing) dan kompaktibilitas yang jelek, maka dipilih metode granulasi
basah. Formula B yang digunakan untuk pembuatan tablet paracetamol, sebagai fase
dalam (92%) adalah paracetamol 500 mg (zat aktif), PVP 5%,

amprotab 10%

(disintegran dan pengisi), dan laktosa q.s (pengisi). Sebagai fase luar (8%) adalah Mg
Stearat 1% (pelicin), talk 2% (pelicin dan diluent), dan amprotab 5% (disintegran).
Pada formula B ini, amprotab berfungsi sebagai zat pengisi dan disintregan.
Amprotab bersifat pengikat pada keadaan formulasi atau pencetakan (untuk mengikat
antar zat dan menaikan kohesi bagi tablet), sedangkan bersifat desintegran atau
penghancur pada saat tablet dimasukkan kedalam tubuh (oral) maka obat akan mudah
hancur ketika kontak dengan cairan tubuh. Amprotab merupakan disintregan yang
paling umum digunakan. Mekanisme kerjanya adalah dengan membentuk ikatan
hidrogen saat pengempaan dan pecah atau mengembang saat cairan masuk ke dalam
pori-pori tablet (kapiler). Selain itu ditambahkan laktosa, yang berfungsi sebagai

pengisi dalam formula tablet, ditunjukan untuk membuat bobot tablet sesuai dengan
yang tercantum dalam formula dan dihasilkan rasa yang manis sehingga akan lebih
diterima oleh pasien karena zat aktif yang digunakan, yaitu paracetamol memiliki
rasa pahit.
Untuk fase luar, Mg stearate digunakan sebagai glidan (pelicin antara partikelpartikel) yang merupakan boundary-type lubricant, karena Mg-Stearat berkonsentrasi
lebih kecil dibanding zat lainnya. Talk juga digunakan sebagai pengisi pelincin, untuk
melicinkan sediaan massa siap cetak dengan alat, yang meningkatkan aliran granul
sehingga tersebar ke seluruh tempat cetakan pada saat pengempaan dan agar tidak
menyumbat di cetakan.
Pada tahapan pembuatan granul, parasetamol sebagai zat aktif, amprotab, dan
laktosa dicampurkan hingga terbentuk suatu campuran yang homogen. Amprotab
merupakan disintregan yang paling umum digunakan, dengan mekanisme kerjan
membentuk ikatan hidrogen saat pengempaan dan pecah atau mengembang saat
cairan masuk ke dalam pori-pori tablet (kapiler). PVP sebagai pengikat juga
ditambahkan, dan dicampur sampai homogen, karena metode penambahan pengikat
dilakukan dengan cara kering. Adapun pelarut pengikat, yaitu etanol ditambahan
dengan cara diteteskan sedikit demi sedikit sampai menjadi massa basah, yang kepal
ketika di genggam dan mudah pudar jika ditekan.
Selanjutnya, massa campuran tadi dilewatkan pada mesh atau ayakan agar
terbentuk suatu granul sehingga luas permukaannya meningkat dan proses
pengeringan berjalan dengan lebih cepat. Ukuran mesh yang digunakan biasanya
mesh no.10/12. Pengayakan pada metode ini bertujuan untuk mencegah rasa kasar
dari sediaan yang disebabkan oleh bahan obat yang padat dan kasar, selain itu untuk
membentuk suatu campuran serbuk yang rata sehingga memiliki distribusi normal
dan diharapkan kandungan zat aktif dalam sediaan menjadi seragam. Granul yang
terbentuk, selanjutnya dikeringkan dengan cara dimasukan ke dalam oven pada suhu
400C untuk mencegah terjadinya binding dan sticking yang disebabkan masih adanya
kandungan air di dalam granul. Setelah proses pengeringan selesai, granul diayak

kembali dengan menggunakan ayakan yang ukurannya lebih kecil, biasanya


digunakan ayakan no.14/16 agar ukuran granul menjadi lebih homogen.
Pada granul kering yang terbentuk dilakukan evaluasi. Pertama, uji kecepatan
aliran yang bertujuan untuk menjamin keseragaman pengisian kedalam cetakan.
Apabila granul mudah mengalir, tablet yang dihasilkan mempunyai keseragaman
bobot yang baik. Kecepatan aliran tablet dilakukan dengan metode corong. Waktu alir
dapat digunakan untuk menentukan sifat alir serbuk atau granul. Waktu alir adalah
waktu yang dibutuhkan untuk mengalir dari sejumlah granul melalui lubang corong
yang diukur adalah sejumlah zat yang mengalir dalam suatu tertentu. Semakin baik
sifat alirnya maka akan semakin cepat waktu yang diperlukan untuk mengalirkan
sejumlah berat tertentu serbuk atau granul. Diketahui bahwa daya alir yang baik
adalah minimal 100 g granul 10 detik atau 10 g/ detik. Berdasarkan hasil yang
diperoleh, waktu alir 8,68 detik dari 100 g granul atau 11,52 g/detik, yang
menunjukan granul mudah mengalir karena hasil yang diperoleh

memenuhi

persyaratan minimalnya.
Selanjutnya pengujian kecepatan aliran menggunakan metode sudut istirahat.
Sudut istirahat adalah sudut maksimum yang bisa didapat antara permukaan tegak
bebas dari tumpukan serbuk dan dasar horizontal. Pengukuran itu memberikan
ketetapan kualitatif dari kohesi internal dan efek hambatan di bawah tingkat bawah
muatan eksternal, yang mungkin dipakai pada pencampuran serbuk atau pada
pencetak tablet (die). Berdasarkan pengamatan, sudut istirahat sebesar 27,02o.
Menurut literatur, jika = 25 30, menunjukan granul sangat mudah mengalir.
Evaluasi kedua, yaitu kelembaban untuk mengetahui persentase kandungan air
dalam granul. Semakin banyak air yang terkandung maka akan semakin buruk
sediaan yang akan dibuat. Granul dapat dikategorikan baik apabila kadar air yang
terkandung hanya sekitar 1 3% dan dapat dikategorikan kurang baik apabila kadar
airnya < 1%, karena air yang terkandung pun dapat berfungsi sebagai pengikat
sehingga terlalu rendahnya kadar air akan menyebabkan tablet yang akan dicetak
lebih mudah hancur. Kadar air yang dihasilkan yaitu 1,4%, yang berarti menunjukan
bahwa kualitas granul termasuk dalam kategori baik untuk parameter ini.

Evaluasi ketiga yaitu penentuan BJ nyata dan BJ mampat yang dilakukan


untuk mengetahui kadar pemampatan serta persen kompresibilitasnya, dari dua hal ini
sifat aliran granul juga dapat diketahui. Kadar pemampatan granul memenuhi syarat
karena kadar pemampatan yang dihasilkan > 20%, yaitu Kp = 4%. Granul yang baik
dapat terbentuk karena bahan pengikat di dalam granul bekerja efektif sehingga
granul lebih stabil saat diketuk. Berdasarkan hasil pengamatan, %K10 = 0%, nilai ini
tidak sesuai dengan literatur kerena minimal dari persentase kompresibilitas adalah
5%, dapat disebabkan karena kekuatan ketukan tidak sama, sedangkan %K 500 =
10,95% yang menunjukan aliran sangat baik.
Selain itu, perbandingan BJ mampat dan BJ nyata dapat menentukan bilangan
Haussner. Semakin besar bilangan Hausner yang diperoleh, makin besar daya
mengalirnya sehingga makin sedikit tekanan yang diperlukan untuk mengempa.
Berdasarkan hasil evaluasi, formula ini menghasilkan bilangan Hausner sesuai
persyaratan (1), yaitu angka Hausner

(10)

= 1 dan angka Haussner

(500)

= 1,04, yang

menunjukan granul memenuhi syarat.


Granul kering yang memenuhi syarat kemudian dicampur dengan fasa luar,
yaitu talkum dan magnesium stearat yang berfungsi sebagai pelincir yang
meningkatkan aliran granul sehingga tersebar ke seluruh tempat cetakan pada saat
pengempaan dan agar tidak meyumbat di cetakan. Selain itu pelincir dapat
memperpanjang waktu penghancuran obat, sehingga pada saat dilakukan uji
friabilitas, massa tablet tidak berkurang banyak. Kedua zat ini ditambahkan sebagai
fase luar untuk memberikan hasil yang lebih baik pada kekerasan tablet dibandingkan
ditambahkan sebagai fase dalam. Pada formulasi tablet, talkum ditambahkan
sebanyak 2% dan magnesium stearat ditambahkan sebanyak 1%. Jumlah yang
ditambahkan hanya sedikit karena pelincin yang banyak dapat menyebabkan tablet
terlalu keras sehingga sulit hancur dan sulit terlarut serta sulit di metabolisme didalam
tubuh. Selain itu ditambahkan pula amprotab yang berfungsi sebagai penghancur
untuk memisahkan antar granul pada proses disintergrasi pada saat obat dikonsumsi.

Pada proses pencetakan tablet, berat dan kekerasan tablet yang akan dicetak
diperhitungkan dengan mengatur punch atas dan punch bawah dari alat pencetak.
Untuk menentukan berat tablet yang akan dicetak, diatur dengan punch bawah.
Sedangkan untuk mengatur kekerasan tablet, digunakan punch atas. Volume bahan
yang diisikan yang mungkin masuk ke dalam cetakan harus disesuaikan dengan
beberapa tablet yang telah lebih dahulu dicetak. Penyesuaian ini diperlukan karena
formula tablet tergantung pada berat tablet yang akan dibuat.
Selama pencetakan, beberapa tablet yang dicetak diambil untuk pengontrolan
berat dan kekerasan tablet. Jika berat atau kekerasannya berada diluar rentang yang
diinginkan, alat pencetak dapat diatur kembali. Setelah seluruh serbuk dicetak,
kemudian dilakukan evaluasi tablet. Beberapa parameter uji/ evaluasi sediaan tablet
diantaranya adalah uji organoleptik, sifat fisika kimia, dan uji waktu hancur, uji
disolusi, dan penentuan kadar zat aktif dalam tablet.
Evaluasi tablet yang pertama yaitu visual atau organoleptik yang meliputi
warna, rupa, bau dan rasa. Sediaan tablet berwarna putih, dengan permukaan
halus/rata, bau obat yang khas dan rasanya pahit. Hasil ini sesuai dengan literatur
sehingga tablet memenuhi syarat. Sifat organoleptik suatu tablet dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor, misalnya proses pencampuran atau pembuatan massa cetak,di
mana jika pengadukan atau pencampuran kurang baik, tablet akan terlihat tidak
homogen. Selain itu, kebersihan mesin cetak juga dapat mempengaruhi organoleptik
tablet, misalnya penggunaan oli pada mesin cetak dapat membuat oli mengenai tablet
(terlihat berbintik-bintik) sehingga dapat menurunkan kepercayaan konsumen dan
bahkan berpengaruh kepada kesehatan pasien yang meminumnya. Bintik-bintik pada
tablet juga dapat disebabkan oleh pencampuran warna yang tidak homogen ataupun
karena adanya kotoran yang mengkontaminasi massa cetak karena pada metode
granulasi kering ini, kontaminan silang dari debu bias sangat tinggi jika
pengerjaannya tidak hati-hati.
Evaluasi tablet selanjutnya yaitu sifat fisika kimia, meliputi keseragaman
ukuran, kekerasan, friabilitas, keseragaman bobot serta keseragaman kandungan.

Pada evaluasi keseragaman ukuran, semua tablet memenuhi syarat, yaitu diameter
tablet tidak kurang dari 1 1/3 kali tebal tablet dan tidak lebih dari 3 kali tebal tablet.
Berdasarkan pengamatan, tebal = 0,3 cm dan diameter 1,3 cm, menunjukan tablet
memenuhi syarat. Data keseragaman ukuran dapat menentukan sifat deformasi plastis
dan elastis dari tiap campuran formulasi tablet serta dapat memberikan nilai estetika
yang baik terhadap tablet yang dibuat.
Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan yang tertentu agar dapat
bertahan dalam berbagai guncangan mekanik pada saat pembuatan, pengepakan, dan
pengapalan. Pada evaluasi kekerasan, tablet tidak memenuhi persyaratan ini, karena
rata-rata kekerasan tablet yang diperoleh 5,8 kg/cm2 (syarat: 7 10 kg/cm2 untuk
bobot tablet > 300 mg).
Persen friabilitas menunjukkan ketahanan tablet jika dijatuhkan dari suatu
ketinggian tertentu. Hal ini akan berkaitan dengan penggunaan jenis pengikat dan
distribusi pengikat dalam tablet. Pengikat yang efektivitasnya tinggi akan
memberikan % friabilitas yang rendah karena pengikat tersebut akan mengikat kuat
massa tablet sehingga massa yang lepas dari tablet akan lebih sedikit. Persyaratan %
friabilitas yang baik adalah < 1%. Berdasarkan hasil evaluasi friabilitas, formula B
memberikan % friabilitas <1%, yaitu 0,003%. Jika dihubungkan dengan jenis
pengikat yang digunakan, formula B yang menggunakan jenis pengikat PVP
memberikan nilai friabilitas yang baik. Hal ini disebabkan karena PVP merupakan
pengikat yang daya ikatnya baik di antara pengikat lain.
Uji keseragaman bobot dilakukan untuk menjamin keseragaman proporsi zat
aktif disetiap bagian. Menurut Farmakope Indonesia edisi 4, tablet dengan bobot
>300 mg memenuhi syarat uji apabila tidak lebih dari 2 tablet yang melebihi atau
kurang 5% dari bobot rata-rata (kolom A) dan tidak ada satu tablet pun yang melebihi
10% bobot rata-rata. Berdasarkan data yang diperoleh formula B memenuhi syarat
tersebut, karena dari 20 tablet tidak ada tablet yang menyimpang lebih besar dari
harga ditetapkan pada kolom A, dan tidak ada satupun tablet yang menyimpang dari

bobot rata-rata lebih dari harga pada kolom B. Hal ini menunjukan bahwa tablet yang
dibuat memiliki keseragaman bobot yang baik.
Uji disolusi bertujuan untuk mengukur banyaknya obat dan kadar zat aktif
yang dapat bereaksi pada waktu tertentu. Untuk tujuan terapeutik tablet model ini
diusahakan agar kadar obat tinggi hanya dalam waktu yang singkat. Pengujian
dilakukan dengan jalan tablet uji dimasukan kedalam alat disolusi kemudian
dilakukan pengambilan sampel dan dihitung absorbansinya. Dari hasil tersebut
menunjukan bahwa kadar parasetamol pada menit ke 30 yaitu 249,3 mg, sedangkan
secara teoritis seharusnya 280 mg, sehingga tablet ini tidak memenuhi syarat.
Penetapan kadar zat aktif bertujuan untuk mengetahui kadar zat aktif yang
terkandung dalam tablet. Dalam farmakope disebutkan bahwa kadar zat aktif
parasetamol tidak boleh kurang dari 95% dan tidak boleh lebih dari 110%, sedangkan
hasil yang didapat yaitu

, sehingga kadar zat aktif pada sediaan tablet tersebut

tidak memenuhi syarat. Hasil ini menunjukan bahwa tablet parasetamol yang dibuat
kadar zat aktifnya kurang dari standar minimal, yang akan berdampak tidak
tercapainya efek terapeutik yang diinginkan.
KESIMPULAN
Tablet parasetamol formula B dengan menggunakan metode granulasi basah
dan menambahan zat pengikat yaitu PVP dengan metode basah menghasilkan granul
yang memiliki kecepatan aliran baik dengan hasil 11,52 g/detik dan = 27,02.
Kelembaban granul baik dengan kadar air 1,4%. Kerapatan/BJ granul dengan hasil P
= 0,4 g/ml, P10 = 0,4 g/ml, P500 = 0,416 g/ml, BJ sejati = 0,2089 g/ml sehingga didapat
Kp = 4%, angka hausser10 = 1, angka hausser500 = 1,04 g/ml, dan %kompesibilitas =
10,95% menunjukan granul memenuhi syarat.
Berdasarkan evaluasi tablet, dengan uji visual/organoleptik memenuhi syarat
yaitu tablet halus/rata, tidak berbau, rasa pahit dan warna putih. Evaluasi sifat fisika
kimia keseragaman ukuran memenuhi syarat dengan tebal 0,3 cm dan diameter 1,3
cm, kekerasan rata-rata tablet = 5,8 kg/cm 2 tidak memenuhi syarat, friabilitas =

0,003% memenuhi syarat dan keseragaman bobot memenuhi syarat dengan


penyimpangan tidak lebih atau kurang dari 5% (kolom A) dan tidak lebih dari 15%
(kolom B). Hasil disolusi pada menit ke 30 tidak memenuhi syarat, yaitu sebesar
249,3 mg, sedangkan secara teoritis seharusnya 280 mg. Kadar zat aktif yang didapat
yaitu

tidak memenuhi syarat karena kurang dari 95%.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. 2004. Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat. UIPress. Jakarta
Depkes RI. 1994. Farmakope Indonesia Ed IV. Depkes RI. Jakarta
Martindale

The

Extra

Pharmacopoeia,

Twenty-Eight

Edition.

1982.

The

Pharmaceutical Press. London


Wade, Ainley and Paul J Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical excipients,
Ed II. The Pharmaceutical Press Department of Pharmaceutical Sciences.
London