Anda di halaman 1dari 19

REFERAT

HEMATURIA

Disusun oleh :
Aleya Yostha Kaban
Hambali Humam Macan
Ika Agustin Putri H
Nindia Dara Utam
Yudha Prasetyo Dharma

Perceptor :
dr. Agung Prasetyo Nitisasmito , Sp. U

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSUD Dr H ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hematuria adalah keadaan abnormal yang ditandai dengan adanya darah atau
sel darah merah dalam urin. Hematuria bisa muncul tersembunyi sebagai
hematuria mikroskopik yang yang ditemukan pada pemeriksaan dipstik urin
atau sebagai hematuria kasar yang bisa dilihat oleh pasien atau keluarga
pasien. Hematuria merupakan suatu gejala yang penting pada berbagai
penyakit ginjal dan salurannya. Sehingga hal ini harus dibedakan dengan
bloody uretral dishcharge atau perdarahan per uretram atau keluarnya darah
dari meatus uretra eksterna tanpa melalui proses miksi.
Hematuria dapat disebabkan oleh berbagai kelaianan yang berasal dari dalam
maupun dari luar system urogenitalia. Sehingga pemeriksaan hematuria harus
dilakukan dengan teliti dan terarah supaya jangan sampai ada hal penting yang
terlewatkan, sedangkan pemeriksaan-pemeriksaan yang tidak perlu sebaiknya
dihindarkan.
Hematuria dapat merupakan petanda dari suatu penyakit yang serius sehingga
oleh karenanya sangat penting untuk di pastikan adanya sel darah merah
dalam saluran kemih serta ditentukan tingkat keparahan dan persistensinya.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik memegang peranan begitu penting dalam
menegakan diagnosis pada hematuria. Menetukan lokasi perdarahan akan
memandu kepada gejala-gejala yang berhubungan, riwayat penyakit dahulu,
riwayat penyakit keluarga, pemeriksaan fisik dan karakteristik urin.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan referat ini adalah
1. Untuk mengetahui penyebab hematuria
2. Untuk mengetahui etiologi hematuria
3. Untuk mengetahui klasifikasi hematuria
2

4. Untuk mengetahui penegakan diagnosa hematuria


5. Untuk mengetahui penatalaksanaan hematuria.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

Definisi
Hematuri adalah suatu gejala yang ditandai dengan adanya darah atau sel darah
merah dalam urin. Sel darah merah mungkin berasal dari sepanjang saluran
kencing, dari glomerulus sampai uretra distal. Secara visual, hematuria
dibedakan dalam 2 keadaan, yaitu hematuria makroskopik dan hematuria
mikroskopik. Hematuria makroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata
dapat dilihat sebagai urine yang berwarna merah. Hematuria makroskopik atau
gross hematuri dapat terjadi bila sedikitnya 1 cc darah per liter urin. Hematuria

makroskopik yang berlangsung terus menerus dapat mengancam jiwa karena


dapat menimbulkan penyulit berupa terbentuknya gumpalan darah yang dapat
menyumbat

aliran

urine,

eksanguinasi

sehingga

menimbulkan

syok

hipovolemik/anemi, dan menimbulkan urosepsis. Hematuri mikroskopis yaitu


hematuri yang hanya dapat diketahui secara mikroskopis atau tes kimiawi.
Pada mikroskopis ditemukan lebih dari 2 (dua) sel darah merah per lapangan
pandang. Sel darah merah (SDM) dalam urin mungkin saja normal secara
morfologi (eumorfik), atau hancur, atau berbentuk tak beraturan (dismorfik)
Keberadaan SDM dismorfik mengarahkan kepada sebuah penyebab glomerular
pada SDM. Hal yang perlu ditegaskan bahwa beberapa spesimen urin
menunjukan campuran dari SDM eumorfik dan dismorfik.

II. Etiologi
Hematuria dapat disebabkan oleh kelainan-kelainan yang berada di dalam
sistem urogenitalia atau kelainan yang berada di luar sistem urogenitalia.
Penyebab paling umum dari hematuria pada populasi orang dewasa termasuk
saluran kemih infeksi, batu saluran kemih, pembesaran prostat jinak, dan
keganasan dalam urologi. Namun, diferensial lengkap sangat luas, beberapa
insiden khusus kondisi yang berhubungan dengan hematuria bervariasi dengan
umur pasien, jenis hematuria (gross atau mikroskopis, gejala atau tanpa gejala),
dan adanya faktor risiko keganasan. Secara keseluruhan, sekitar 5% pasien
dengan hematuria mikroskopis dan sampai dengan 40% pasien dengan gross
hematuria ditemukan pada neoplasma dari saluran genitourinaria. Sebaliknya,
pada hingga 40% pasien dengan asimptomatik mikrohematuria, sulit di
identifikasikan penyebabnya. Akibatnya, dokter harus mempertimbangkan
hematuria yang tidak jelas penyebabnya dari tingkat mana pun dan mampu
mempertimbangkan kemungkinan suatu keganasan .

Tabel 1. Beberapa penyebab hematuria makroskopis

Kelainan yang berasal dari sistem urogenitalia antara lain adalah:


-

Infeksi, antara lain pielonefritis, glomerulonefritis, ureteritis, sistitis, dan

uretritis.
Tumor jinak atau tumor ganas yaitu: tumor ginjal (tumor Wilms), tumor
grawitz, tumor pielum, tumor ureter, tumor buli-buli, tumor prostat, dan

hiperplasia prostat jinak.


Kelainan bawaan sistem urogenitalia, antara lain : kista ginjal.
Trauma yang mencederai sistem urogenitalia.
Batu saluran kemih.

Kelainan-kelainan yang berasal dari luar sistem urogenitalia antara lain


adalah:
-

Kelainan pembekuan darah (Diathesis Hemorhagic).


SLE.
Penggunaan antikoagulan, atau proses emboli pada fibrilasi atrium jantung
maupun endokarditis.

III.

Klasifikasi
III.1

Hematuria makroskopik

Hematuria makroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata dapat


dilihat sebagai urin yang berwarna merah. Hematuria makroskopik atau
gross hematuri dapat terjadi bila sedikitnya 1 cc darah per liter urin.
Karakteristik suatu hematuria dapat dipakai sebagai pedoman untuk
memperkirakan lokasi penyakit primernya yaitu porsi hematuria (warna
merah yang dilihat saat berkemih) terjadi pada saat awal miksi (hematuria
inisial) yang berasal dari uretra, seluruh proses miksi (hematuria total)
yang berasal dari buli buli ureter atau ginjal, atau akhir miksi (hematuria
terminal) yang berasal dari leher kandung kemih.
Urin berwarna merah atau merah jambu memberi kesan perdarahan nonglomerular. Dibawah mikroskop, sel darah merah akan tampak seragam.
Proteinuria secara khas minimal, tetapi jika terlalu banyak darah pada
urin, proteinuria +2 mungkin tampak pada hematuria nonglomerular.
Keadaan klots atau kristal akan mendukung penyebab non glomerular.
Hal ini membantu untuk menentukan apabila perubahan warna urin terjadi
ketika urin mengalir. Hematuria awal atau hematuria akhir akan memberi
kesan apakah hematuria di uretra atau vesika urinaria.Pemeriksaan genital
dibutuhkan untuk menilai bukti trauma, iritasi, atau infeksi. Pemeriksaan
abdomen seharusnya meliputi penilaian terhadap masa dan nyeri
(misalnya tumor Wilms). Nyeri suprapubik dapat ditemukan pada infeksi
saluran kencing, sedangkan nyeri sudut kostovetebra mungkin memberi
kesan infeksi atau obstruksi, seperti yang mungkin terjadi pada
nefrolitiasis.
Penyebab terbanyak dari hematuri non glomerular adalah infeksi,
uretrorhagia, trauma, hipekalsiuria, nefrolitiasis, dan kegiatan fisik.
Penyebab lain meliputi benda asing penyakit polikistik ginjal autosimaldominan, trait sickle sel dan anemia, dan tumor Wilms. Terjadinya
hematuria setelah trauma ringan mengarahkan untuk non glomerular.
Riwayat infeksi berhubungan dengan keadaan abnormal anatomi seperti
hidronefrosis atau kista ginjal. Gejala yang berhubungan seperti nyeri
perut atau punggung, disuri, frekuensi, urgensi mengarahkan ke penyakit
non-glomerular. Riwayat infeksi saluran kemih, hidronefrosis, kista
6

ginjal, sikle sel dan perdarahan akan berhubungan. Temuan yang


berhubungan dari riwayat keluarga meliputi nefrolitiasis, reflux
vesikoureter, infeksi saluran kecing dan penyakit sickle sel. Pada
pemeriksaan fisik seharusnya dinilai apakah terdapat masa pada abdomen,
nyeri ketok sudut costovertebra, nyeri abdomen atau suprapubik, dan
bukti trauma atau kekerasan.
Urin yang berwarna coklat atau warna air teh, merupakan karakteristik
hematuria glomerular. Pada beberapa kasus, urin akan tampak merah
gelap, menyaebabkan keraguan menentukan lokasi perdarahan. Temuan
yang sedang berlansung yaitu proteinuria (+2 atau lebih) dan serpihan sel
memberi kesan hematuria glomerular. Dibawah mikroskop sel darah
merah akan menunjukan variasi dalam ukuran.
Penyebab terbanyak hematuria glomerular termasuk glomerulonefritis
pascainfeksi, Henoch-Schonlein purpura, nefropati IgA. Dan yang jarang
Sindrom Alport, SLE, dan tipe lain dari glomerulonefritis akut atau
kronik. Gejala oliguri, kehilangan berat badan yang tidak dapat
dijelaskan, atritis, atralgia, faringitis atau impetigo, ruam, dispneu atau
fatigue akan mengarahkan tentang penyakit glomerular. Riwayat keluarga
seharusnya memperlihatkan tentang hematuria, kehilangan pendengaran
pada remaja dan dewasa, gagal ginjal,dan penyakit spesifik lainnya seperti
Sindrom Alport atau SLE. Pada pemeriksaan fisik ditemukan edema,
hipertensi,

ruam, purpura,

atritis,

atau

batuk

akan

konsisten

denganglomerulonefritis. Pertumbuhan ginjal yang buruk akan mendasari


penyakit ginjal kronik.
III.2
Hematuria mikroskopik.
Hematuria mikroskopik adalah hematuria yang secara kasat mata tidak
dapat dilihat sebagai urin yang berwarna merah tetapi pada pemeriksaan
mikroskopik diketemukan lebih dari 2 sel darah merah per lapangan
pandang. Meskipun gross hematuria didefinisikan didapatkannya sel-sel
darah merah di dalam urin, ada kontroversi mengenai definisi yang tepat
dari hematuria mikroskopik. American Urological Association (AUA)
mendefinisikan hematuria mikroskopis klinis yang signifikan karena
7

terdapat lebih dari 3 sel darah merah (sel darah merah) pada lapangan
pandang besar pada 2 dari 3 spesimen urin dikumpulkan dengan selama 2
sampai 3 minggu. Namun, pasien yang berisiko tinggi untuk penyakit
urologi harus dievaluasi secara klinis untuk hematuria jika urinalisis
tunggal menunjukkan 2 atau lebih sel darah merah pada lapangan
pandang besar.

IV.

Pendekatan Diagnosis
Penegakkan diagnosis pada hemeturia diperlukan pemeriksaan yang
sistematik dan terarah meliputi anamnesis, pemerikasaan fisik, laboratorium
dan pemeriksaan khsusus lainnya, dan menghindari pemeriksaan yang tidak
perlu. Karakteristik suatu hematuria dapat dipakai sebagai pedoman untuk
memperkirakan lokasi lokasi penyakit primernya, yaitu apakah terjadi pada
awal miksi, semua proses miksi, atau pada akhir miksi.
IV.1

Evaluasi Diagnosis

Harus diyakinkan dahulu, benarkah seorang pasien menderita hematuria,


pseudo hematuria, atau perdarahan per-uretra. Pseudo atau false hematuria
adalah urin yang berwarna merah atau kecoklatan yang bukan disebabkan
sel-sel darah merah. Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena
hemoglobinuria, mioglobinuria, konsentrasi asam urat yang meningkat,
sehabis makan/minum bahan yang mengandung pigmen tumbuh-tumbuhan
yang berwarna merah, atau setelah mengkonsumsi beberapa obat-obatan
tertentu antara lain: fenotiazin, piridium, porfirin, rifampisin, fenolftalein
dan antikoagulan. Perdarahan per-uretra adalah keluarnya darah dari
meatus uretra eksterna tanpa melalui proses miksi, hal ini sering terjadi
pada trauma uretra atau tumor uretra. Hemoglobinuria tanpa hematuria
dapat disebabkan oleh adanya hemolisis. Mioglobinuria tanpa hematuria
terjadi pada sindrom rabdiomiolisis setelah cedera otot rangka dan disertai
peningkatan sebanyak lima kali pada kadar kreatin kinase plasma.
Rabdomiolisis dapat terjadi secara sekunder akibat miositis viral, luka
remuk, abnormalitas elektrolit berat (hipernatremia, hipofosfatemia),
hipotensi, koagulasi intravaskulas terdisseminasi (DIC), toksin (obat,
8

racun), dan kejang berkepanjangan. Urin tanpa heme dapat terlihat merah,
coklat kola, atau merah keunguan akibat konsumsi berbagai jenis obat,
makanan atau pewarna makanan. Urin dapat berwarna coklat kehitaman
atau hitam jika terdapat berbagai kelainan metabolit urin.

Penyebab positif palsu dan negatif palsu pada urinalisis sel darah merah .

Penyebab hematuria di saluran kemih bagian bawah berasal dari sistem


pelvokaliks, ureter, kandung kemih dan uretra. Hematuria yang berasal
dari nefron seringkali tampak sebagai urin berwarna coklat, coklat cola,
atau merah keunguan, disertai proteinuria (>100 mg/dL dengan dipstick),
terdapat cast SDM dan akantosit atau kelaianan bentuk SDM lain pada
pemeriksaan mikroskopik urin. Hematuria yang berasal dari tubulus
kontortus dapat dilihat dari keberadaan cast leukosit atau sel epitel tubulus
renal. Hematuria dari saluran kemih bagian bawah umumnya dihubungkan
dengan hematuria berat, hematuria terminal (hematuria terjadi pada saat
aliran urin akan berakhir), bekuan darah, morfologi urin SDM normal, dan
proteinuria minimal pada dipstick (<100 mg/dL).
IV.2
Anamnesis
Dalam mencari penyebab hematuria perlu dicari data yang terjadi pada
saat episode hematuria, antara lain:
Bagaimanakah warna urine yang keluar?
Apakah diikuti dengan keluarnya bekuan darah?
Di bagian manakah miksi urine berwarna merah?
Apakah diikuti dengan rasa nyeri?

1. Deskripsi detail urin


Langkah pertama dalam mengevaluasi pasien dengan hematuria kasar
adalah memperoleh deskripsi detail dari urin, termasuk onset dan
durasi perubahan warna serta apakah persisten atau intermiten. Warna
urin seperti teh, coklat, atau coca-cola mengarahkan glomerulus
sebagai etiologinya, sedangkan warna merah muda atau merah terang
berupa bercak pada urin mengindikasikan perdarahan saluran cerna
bawah. Urin yang keruh mengarahkan kepada terdapatnya sel dalam
urin memberi kesan penyakit glomerular atau infeksi. Adakalanya
presipitat kristal kalsium dan fosfat membuat urin menjadi keruh, hal
ini tampak pada keadaan patologis seperti pada nefrolitiasis tetapi
mungkin juga tampak pada ekskresi urin normal dari substansi tersebut
(terutama jika urin bersifat alkali).
2. Bekuan darah
Selanjutnya perlu ditanyakan pada pasien apakah urin yang keluar
bersama dengan gumpalan atau bekuan darah atau tidak. Urin yang
keluar dengan gumpalan-gumpalan bekuan darah memberikan kesan
secara tidak langsung bahwa sel darah merah yang keluar dalam
jumlah yang banyak. Bentuk bekuan darah juga seringkali dapat
mengisyaratkan darimana darah berasal, bentuk bekuan darah seperti
lidi atau cacing sering menunjukkan bahwa asal perdarahan dari ginjal,
karena mengikuti dengan anatomi ureter yang panjang dan sempit.
Gumpalan

darah

yang

bulat

dan

agak

panjang

seringkali

mengisyaratkan bahwa asal perdarahan berasal dari kandung kemih.


Namun tidak semua bentuk bekuan darah dapat selalu menunjukkan
asal perdarahan.
3. Gejala penyerta
Anamnesis lebih lanjut seharusnya menilai hubungan gejala dan tanda,
termasuk frekuensi, urgensi, disuri, nokturia, dan eneuresis, perubahan
keluaran urin, nyeri perut atau pinggang, sembab pada wajah atau
ekstremitas, atau gejala sistemik seperti kehilangan berat badan, lemah,
demam, atralgia, atau ruam kulit. Kita harus mengetahui riwayat
penyakit sebelumnya atau trauma, dan riwayat keluarga berupa

10

penyakit glomerular, tubular, maupun batu, riwayat keluarga


dengan penyakit

ginjal

(termasuk

nefritis

herediter,

penyakit

polikistik ginjal autosomal dominan maupun resesif, malformasi


kongenital, atau refluk vesikoureteral, nefrolitiasis, gagal ginjal
stadium akhir/ dialisis/ transplantasi, metabolik (seperti sistinuria,
hiperoxaluria), penyakit vaskular kolagen atau rematik, atau gangguan
pendengaran seharusnya diinvestigasi secara hati-hati.
4. Waktu
Hematuria dari saluran kemih bagian bawah umumnya dibagi menjadi
hematuri pada awal miksi, hematuri pada seluruh proses miksi, dan
hematuri pada akhir miksi
Terjadi
pada
Tempat
kelainan

Inisial
Awal Miksi

Total
Seluruh proses

Terminal
Akhir miksi

Uretra

miksi
Buli-buli, ureter,

Leher buli-buli

ginjal

Dari data yang diperoleh melalui pertanyaan yang diajukan, kadangkadang etiologi hematuri sudah dapat diduga seperti:
a. Pada glomerulonefritis akut post streptokokus (GNAPS), sakit
tenggorokan sering mendahului hematuri makroskopis 7-14 hari
sebelumnya. Keluhan sakit tenggorokan biasanya menghilang bila
hematuri mulai timbul. Sedangkan pada nefropati IgA, hematuri
makroskopis terjadi selama ISPA berlangsung dan biasanya
menghilang bersamaan dengan redanya ISPA tersebut.
b. Hematuri makroskopis tanpa rasa nyeri dengan warna urin seperti air
cucian daging (coke-colored urine) mungkin disebabkan oleh
glomerulonefritis. Bila urin berwarna merah terang biasanya
berkaitan dengan kelainan nonglomerulus seperti trauma, tumor,
kelainan koagulasi, tbc ginjal.
c. Sakit waktu miksi (disuri), sering miksi (polakisuri), ngompol
(enuresis), miksi mendesak (urgency), demam, merujuk ke arah
infeksi saluran kemih (ISK). Lebih lanjut bila hematuri disertai

11

demam, sakit pinggang, mungkin ISK bagian atas (pielonefritis);


tetapi bila disertai gejala lokal seperti nyeri suprapubik, disuri,
mungkin ISK bagian bawah. Disuri disertai hematuri yang timbul
pada permulaan miksi mungkin akibat uretritis anterior, dan bila
disertai hematuri terminal.
d. Mungkin akibat uretritis posterior atau batu kandung kemih. Nyeri
menyerupai kolik di daerah pinggang atau menyebar ke lipatan paha
mungkin akibat batu atau bekuan darah di ginjal atau ureter.
e. Riwayat penyakit ginjal kronis dalam keluarga dengan atau tanpa
gangguan pendengaran atau penglihatan, mendukung kearah sindrom
Alport.
f. Ada riwayat rash kulit (purpura), sakit sendi, sakit perut dan demam
mengarah ke kemungkinan sindrom Schonlein Henoch atau lupus
eritematosus sistemik.
g. Adanya trauma pada saluran kemih baik trauma tumpul maupun
trauma tajam.

V. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik harus fokus pada deteksi hipertensi yang hadir bersamaan
dengan sindrom nefritik dan penyakit pembuluh darah ginjal, edema terkait
dengan sindrom nefrotik, massa perut atau panggul teraba menyarankan
ginjal neoplasma, dan adanya nyeri ketok kostovertebral atau nyeri tekan
suprapubik berhubungan dengan infeksi saluran kemih. Pemeriksaan rektal
pada pria dapat mengungkapkan nodularitas prostat atau pembesaran sebagai
penyebab potensial.
Pada pemeriksaan diperhatikan adanya hipertensi yang mungkin merupakan
manifestasi dari suatu penyakit ginjal. Syok hipovolemik dan anemia
mungkin disebabkan karena banyak darah yang keluar. Ditemukannya tandatanda perdarahan di tempat lain adalah petunjuk adanya kelainan sistem
pembekuan darah yang bersifat sistemik.
o Pucat pada kulit dan konjungtiva sering terlihat pada pasien dengan
anemia.
o Periorbital, skrotum, dan edema perifer, mungkin menunjukkan

12

hipoalbuminemia dari glomerulus atau penyakit ginjal.


o Cachexia, mungkin menunjukkan keganasan.
o Nyeri tekan dari sudut kostovertebral, dapat disebabkan oleh
pielonefritis atau dengan perbesaran massa seperti tumor ginjal.
o Nyeri suprapubik, sistitis, baik yang disebabkan oleh infeksi,
radiasi, atau obat sitotoksik.
o Kandung kemih tidak teraba ketika didekompresi. Dalam retensi
urin akut, biasanya terlihat dalam kasus-kasus BPH atau obstruksi
oleh bekuan, kandung kemih bisa diraba dan dapat dirasakan
hingga tingkat umbilikus.
o Palpasi bimanual pada

ginjal

perlu

diperhatikan

adanya

pembesaran ginjal akibat tumor, obstruksi, ataupun infeksi ginjal.


Massa pada suprasimfisis mungkin disebabkan karena retensi
bekuan darah pada buli-buli.
o Pada pemeriksaan genitalia eksterna dilakukan inspeksi untuk
melihat adanya tanda-tanda trauma pada alat genital, palpasi untuk
menilai adakah nyeri tekan dan apakah teraba massa pada uretra.
o Pada colok dubur, ukuran, bentuk dan konsistensi prostat dinilai
mengetahui adanya pembesaran prostat benigna maupun karsinoma
prostat. Setelah prostatektomi enukleasi maupun endoskopik,
simpai prostat dibiarkan sehingga pada colok dubur memberikan
kesan prostat masih membesar. Lobus medial prostat yang
mungkin menonjol ke kandung kemih umumnya tidak dapat
dicapai dengan jari. Karsinoma prostat menyebabkan asimetri dan
perubahan konsistensi setempat. Diagnosis dipastikan melalui
biopsi jarum transrektal.

VI. Pemeriksaan penunjang


Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah :
Pemeriksaan urin (urinalisis) dilakukan untuk

pemeriksaan

mikroskopik, bakteriologik dan sitologik. Pemeriksaan urinalisis dapat


mengarah kepada hematuria yang disebabkan oleh faktor glomeruler
ataupun non glomeruler. Walaupun morfologi SDM urin dapat normal
pada perdarahan saluran kemih bawah dan dismorfik pada perdarahan
glomerular, morfologi sel tidak secara pasti berhubungan dengan lokasi
13

hematuria. Pada pemeriksaan pH urine yang sangat alkalis menandakan


adanya infeksi organisme pemecah urea di dalam saluran kemih,
sedangkan pH urine yang sangat asam mungkin berhubungan dengan
batu asam urat. Sitologi urine diperlukan untuk mencari kemungkinan

adanya keganasan sel-sel urotelial.


Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan Hb dapat menilai apakah
hematuri yang terjadi masif atau tidak dengan melihat kadar Hb pasien,
eritrosit, trombosit, leukosit juga dapat menilai apakah terjadi infeksi
dan kelainan darah pada pasien. Pemeriksaan hapusan darah tepi dapat
menunjukkan proses mikroangiopati yang sesuai dengan sindrom
hemolitik-uremik, trombosis vena ginjal, vaskulitis, atau SLE. Pada
keadaan terakhir, adanya autoantibodi dapat ditunjukkan dengan reaksi
Coombs positif, adanya antibodi antinuclear, leukopenia dan penyakit
multisistem. Trombositopenia dapat diakibatkan oleh berkurangnya
produksi trombosit (pada keganasan) atau peningkatan konsumsi
trombosit (SLE, purpura trombositopenik idiopatik, sindrom hemolitik-

uremik, trombosis vena ginjal).


Pemeriksaan darah lainnya yang dilakukan yakni penentuan kadar
kreatinin, ureum dan elektrolit untuk mengetahui faal ginjal; fosfatase
asam yang mungkin meningkat pada metastase prostat, dan fosfatase
alkali yang dapat meningkat pada setiap jenis metastase tulang. Kadar
kalsium, fosfat, asam urat dan hormon paratiroid ditentukan bila

terdapat kemungkinan urolithiasis.


IVP adalah pemeriksaan rutin yang dianjurkan pada setiap kasus
hematuria & sering digunakan untuk menentukan fungsi ekskresi ginjal.
Umumnya, menghasilkan gambaran terang saluran kemih dari ginjal
sampai dengan kandung kemih, asal faal ginjal memuaskan.
Pemeriksaan ini dapat menilai adanya batu saluran kemih, kelainan
bawaan saluran kemih, tumor urotelium, trauma saluran kemih, serta

beberapa penyakit infeksi saluran kemih.


USG berguna untuk menetukan letak dan sifat massa ginjal dan prostat
(padat atau kista), adanya batu atau lebarnya lumen pyelum, penyakit
kistik, hidronefrosis, atau urolitiasis ureter, kandung kemih dan uretra,

14

bekuan darah pada buli-buli/pielum, dan untuk mengetahui adanya


metastasis tumor di hepar. Ultrasonografi dari saluran kemih sangat
berguna pada pasien dengan hematuria berat, nyeri abdomen, nyeri
pinggang, atau trauma. Jika hasil penelitian awal ini tetap normal,

disarankan dilakukan pemeriksaan kreatinin dan elektrolit serum.


Endoultrasonografi, yaitu ekografi transurethral sangat berguna untuk

pemeriksaan prostat dan buli-buli.


Arteriografi dilakukan bila ditemukan tumor ginjal nonkista untuk
menilai vaskularisasinya walaupun sering digunakan CT-Scan karena
lebih aman dan informative. Bagian atas saluran kemih dapat dilihat

dengan cara uretrografi retrograd atau punksi perkutan.


Pemeriksaan endoskopi uretra dan kandung kemih memberikan

gambaran jelas dan kesempatan untuk mengadakan biopsi.


Sistometrografi biasanya digunakan untuk menentukan perbandingan

antara isi dan tekanan di buli-buli.


Sistoskopi atau sisto-uretero-renoskopi

(URS)

dikerjakan

jika

pemeriksaan penunjang di atas belum dapat menyimpulkan penyebab


hematuria.
VII.Penatalaksanaan
Saat terjadi gumpalan pada urin yang menimbulkan retensi urin, maka
perlu dilakukan kateterisasi dan bilasan buli dengan memakai cairan garam
fisiologis. Jika gagal maka sebaiknya pasien dirujuk untuk ditangani lebih
lanjut dengan evakuasi bekuan darah dan menghentikan sumber
perdarahan. Jika sampai menyebabkan anemia maka perlu difikirkan untuk
transfusi darah. Jika terjadi infeksi maka harus diberikan antibiotik. setelah
gejala hematurianya ditangani selanjutnya dicari penyebab primernya.
Tidak ada pengobatan spesifik untuk hematuria. Pengobatannya tergantung
pada penyebabnya.

15

Tatalaksana hematuria
Pada pasien hematuria dapat diberikan asam traneksamat 500-1000 mg
(IV) dengan injeksi lambat (1 ml/menit) 3 x sehari. Untuk pengobatan
lebih dari 3 hari dapat dipertimbangkan pemberian oral. Sementara secara
peroral diberikan 1-1,5 gram 2-3 x sehari. Gangguan-gangguan
gastrointestinal : mual, muntah-muntah, anorexia, eksantema dan sakit
kepala dapat timbul pada pemberian secara oral. Gejala-gejala ini
menghilang dengan pengurangan dosis atau penghentian pengobatannya.
Dengan injeksi intravena yang cepat dapat menyebabkan pusing dan
hipotensi. Untuk menghindari hal tersebut maka pemberian dapat
dilakukan dengan kecepatan tidak lebih dari 1 ml/menit. Pemberian asam
traneksamat dikontraindikasikan pada :

Penderita yang hipersensitif terhadap asam traneksamat.

Penderita perdarahan subarakhnoid.

Penderita dengan riwayat tromboembolik.

Tidak diberikan pada pasien dengan pembekuan intravaskular aktif.

16

Penderita buta warna.

Gangguan fungsi ginjal berat

Selain itu pula dapat diberikan vit K. Dosis untuk dewasa secara injeksi 510 mg dosis tunggal IM berupa ampul kandungannya 10 mg/ml (1 ml).

17

BAB III
KESIMPULAN
1. Hematuria adalah keadaan abnormal yang ditandai dengan adanya darah
atau sel darah merah dalam urin.
2. Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pemeriksaan penunjang
memegang peranan begitu penting dalam menegakan diagnosis pada
hematuria.
3. Tidak ada pengobatan spesifik untuk hematuria. Pengobatannya tergantung
pada penyebabnya.

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi 17.Philadelphia;


2004. h 1813-1814.

18

Glatter R.D. Gross hematuria and Microscopic hematuria. [cited on Aug, 8 2015].
Available from: http://health.yahoo.net/sw/khs-what-is-hematuria
Sanjeev Gulati, MD, MBBS, DNB(Peds), DM, DNB(Neph). Hematuria. Available
from: http://emedicine.medscape.com/article/981898-diagnosis
National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse. Hematuria:
Blood

in

the

Urine.

March

2012.

Available

from:

http://www.niddk.nih.gov/health-information/health-topics/urologicdisease/hematuria-blood-in-the-urine
Purnomo BB. Batu saluran Kemih. Dalam: Dasar-dasar urologi. Edisi kedua.
Jakarta: Sagung Seto; 2007: hal. 57-66.
R. Sjamsuhidajat, Wim, de Jong. Saluran kemih dan alat kelamin lelaki, Trauma
penis. Buku ajar Ilmu Bedah edisi 2, Jakarta, 2004; hal 773
Stoppler, M. C. MedicineNet.com. Bloody urine (Hematuria). 2010.[cited on Aug,
9

2015].Available

from:http://www.medicinenet.com/blood_in_urine/article.htm
Tanagho E.A., Mc Annich J.W., Smiths General Urology 16 [15] th ed., Mc Graw
Hill 2004: hal. 77, 613, 620-623

19