Anda di halaman 1dari 21

TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN STERIL

BATCH SHEET II
INJEKSI ANEURIN HCl

BAB I
NAMA ZAT AKTIF DAN BENTUK YANG DIGUNAKAN
1.1 Nama Zat Aktif
Aneurin Hidrochloridum
1.2 Bentuk Yang Digunakan
Obat suntik dalam ampul 1 ml no.V

BAB II
MONOGRAFI ZAT AKTIF
2.1. Aneurin HCl
NamaZatAktif
Struktur

: AneurinHCl
:

Pemerian

:Putih atau hampir putih, bubuk kristal

atau

kristal berwarna
pH

: 2.7-3.3

Kelarutan

: larutdalam air, larut dalamgliserol, sedikit larut


dalam alkohol

TitikLeleh

: 2480C

OTT

: Terhadap oksidator, reduktor, karbonat

Stabilitator

: HCl 0.1N
(British Pharmacopoeia 2009, British Pharmacopoeia Volume I & II)
BAB III

FORMULA DAN METODA PEMBUATAN


3.1

Formula

Aneurin Hidrochloridum 25mg/ml


Obat suntik dalam ampul 1ml no.V
3.2

Formula lengkap

Aneurin Hidrochloridum

25 mg

Natrii cloridum

2,995 mg

Acidum Hidrochloridum 0,1N ad pH stabilitas


Aqua pro ijecctionum
3.3

ad 1ml

Metoda Pembuatan

Aseptik Filling dalam Laminar Air Flow


Sterilisasi akhir dalam Otoklaf (Autoklaf)

BAB IV

MONOGRAFI ZAT TAMBAHAN


4.1. Natrium Chlorida
Pemerian

:Bubuk kristal putih atau kristal berwarna;


memiliki rasa garam.

Kelarutan

: Larut dalam 2,8bagian air, dalam 2,7 bagian air


mendidih dan dalam lebih kurang 10 bagian
gliserol P; sukar larut dalam etanol (95%) P.

Titik Leleh

: 8010C

Keasaman

: pH 6.7-7.3

Penyimpanan

: Bahan padat stabil dan harus disimpan dalam


wadah tertutup baik, di tempat yang sejuk dan
kering
(Handbook of pharmaceutical excipients hal 671)

4.2. Hydroclorid Acid


Pemerian

: Tidak berwarna, marah berairlarutan hidrogen


klorida, dengan bau yang menyengat

BobotMolekul

: 36,46

Kelarutan

: Tercampur dengan air; larut dalam dietil eter,


etanol (95%), dan metanol.

Fungsional

: Mengasamkanagen
(Handbook of pharmaceutical excipients hal 329)

4.3. Aqua Pro Injection


Fungsi

: Sebagai bahan pembawa sediaan iv

Pemerian

: Cairanjernih / tidak berwarna, tidak berbau, tidak


berasa

Kelarutan

: Dapat bercampur dengan pelarut polar dan


elektrolit

OTT

: Dalam sediaan farmasi, air dapat bereaksi


dengan obat dan zat tambahan lainnya yang
mudah terhidrolisis (mudah terurai dengan adanya
air atau kelembaban).

Stabilitas

: Air stabil dalam setiap keadaan (es, cairan, uap


panas)

BAB V
PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN
5.1

Perhitungan Bahan
Thiamin Hcl tb
C

= 2,5%

= 0,139

25C

0,52(0,139 x 2,5)
0,576

= 0,299 g/100ml (Hipotonis)


= 299 mg/ 100ml
Thiamin Hcl
V = (N +2) C + 6 ml
= (6+2) 1,1+ 6 ml
= 14,8 ml disetarakan dengan 15 ml
1. Thiamin Hcl

15 ml
100

2. NaCL
3. Aqua Pro Injection

5.2

15 ml
100

x 2,5 gram = 0,375 gram


x 0,299 gram = 0,0448 gram

ad 15 ml

Penimbangan Bahan
Thiamin Hcl
NaCl
Aqua Pro Injection

0,375 gram
0,0448 gram
ad 15ml

BAB VI
PROSEDUR
6.1 Sterilisasi
Dilakukan sterilisasi terhadap alat-alat yang akan digunakan, yaitu beaker
glass dan ampul, disterilisasi didalam oven 170C selama 30 menit. Corong dan
kertas saring disterilsasi dalam otoklaf 115-116C selama 30menit. Kaca arloji, spatel
logam dan batang pengaduk disterilisasi di atas api bunsen selama 20 detik sesaat
sebelum digunakan.
6.2 Prosedur Pembuatan
Timbang semua bahan yang diperlukan Thiamin Hcl sebanyak 0,375 gram
dan NaCl sebanyak 0,0448 gram di kaca arloji. Dididihkan 25 ml aqua pro ijection
dalam breaker glass selama 10 menit.
Larutkan Aneurin Hcl

dengan sebagian aqua pro ijection , selanjutnya

larutkan NaCL dengan sebagian aqua pro ijection. Kemudian kedua campuran
tersebut dicampurkan lalu dilakukan penambahan aqua pro injection sampai dengan
14ml, kemudian cek pH. Pada larutan tersebut ditambahkan Hcl 0,1N sampai larutan
berubah pH menjadi asam, selanjutnya larutan ditambahkan aqua pro ijection ad 15ml
Larutan disaring

dengan kertas saring di tampung didalam beaker glass

(filtrate pertama dibuang). Kemudian larutan di bawa ke LAF lalu diisikan kedalam 5
ampul masing-masing sebanyak 1,1 ml. Ampul yang sudah terisi larutan, dibawa ke
tempat las dengan cara disimpan didalam chamber . Ampul disemprot dengan uap air
dialiri dengan gas inert lalu ditutup.
Terakhir ampul yang sudah di las, di uji kebocoran dan disterilisasikan dengan
menggunakan autoklaf 115-116oC selama 15 menit(jam 21.00 s/d 21.15 Wib).

BAB VII
EVALUASI
1.1. Evaluasi Sediaan
1.1.1 Evaluasi Fisika
A. Penetapan pH
B. Bahan partikulat dalam injeksi
C. Penetapan volume injeksi dalam wadah
D. Uji keseragaman sediaan
E. Uji kejernihan
1.1.2 Evaluasi Biologi
A. Uji efektifitas sterilitas antimikroba
B. Uji sterilitas
C. Uji endotoksin bakteri
D. Uji pirogen
E. Uji kandungan zat antimikroba
1.1.3 Evaluasi Kimia
A. Uji identifikasi
B. Uji penetapan kadar
1.2. Evaluasi Lain
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Jenis Evaluasi
Penampilan fisik wadah
Jumlah sediaan
Kejernihan
Brosur
Kemasan
Kebocoran ampul
Etiket
Keseragaman volume

Penilaian

BAB VIII
ASPEK FARMAKOLOGI
Aneurin Hydrochloridum
Indikasi

: Tiamin dipergunakan untuk mencegah dan mengatasi


sindroma defisiensi vitamin B1seperti beri-beri, Wernicke's

encephalopathy syndrome,delirium dan neuritis perifer yang


terkait dengan pellagra atau neuritis karena kehamilan.
Mekanisme Kerja

: Vitamin B1 (Tiamin), setelah dikonversi menjadi tiamin


pyrophosphate. Fungsinya dengan adenosine tripospat (ATP)
dalam metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 (tiamin)
menghasilkan beriberi, dikarakteristik oleh manifestasi GI
(Gastrointestinal), neuropati perifer dan defisist cerebral.
Sumber eksogen (dari luar tubuh) vitamin B1 / tiamin
diperlukan untuk metabolisme karbohidrat. Fungsi sebagai
koenzim dalam metabolisme karbohidrat dan rantai cabang
asam amino.

Farmakokinetik

: Hanya sebagian kecil dari tiamin yang terabsorpsi dengan


baik dari saluran pencernaan setelah pemberian oral, namun
pada pemberian di atas 5 mg absorpsinya terbatasi. Tiamin juga
terabsorpsi dengan baik pada injeksi intramuscular. Tiamin
terdistribusi luas pada banyak jaringan tubuh, termasuk pada
air susu. Di dalam sel, tiamin kebanyakan berada dalam bentuk
tiamin difosfat. Tiamin tidak disimpan dalam jumlah berlebih
di dalam tubuh, dan sisa dari yang diperlukan tubuh diekskresi
bersama urin dalam bentuk metabolitnya atau tak berubah

Kontra Indikasi

: Disebut kepekaan terhadap tiamin atau bahan dalam


formulasi.

Reaksi

sensitivitas.

Reaksi

hipersensitivitas.

Kemungkinan reaksi hipersensitivitas berat / anafilaksis,


terutama setelah penggunaan secara berulang secara parenteral.

Peringatan

: Kandungan aluminium : Beberapa persiapan injeksi tiamin


hidroklorida mengandung aluminium, yang mungkin toxic.

Aluminium dapat mencapai tingkat beracun dengan pemberian


parenteral berkepanjangan
Efek Samping

: Tiamin umumnya bersifat nontoksik bahkan pada pemberian


secara parenteral dosis tunggal yang tinggi (100-500 mg).
Bagaimanapun, hipersensitivitas dan efek samping lainnya
seperti peningkatan suhu tubuh, pruritus, nyeri, urtikaria,
berkeringat angioedema, hipotensi, kollaps vaskuler dan
kematian kadang terjadi, terutama karena pemberian intravena
dosis tinggi berulang

Interaksi

Bila

dicampurkan

metabisulfit

dengan

sodium

dan sodium hidrosulfit

sulfit,

potassium

dapat menurunkan

kestabilan thiamin HCl di dalam larutan. Tiamin HCl tidak


stabil dalam larutan basa atau netral atau dengan agen oksidasi
atau mengurangi. Hal ini paling stabil pada pH 2.
OT

: Dengan riboflavin dalam larutan jejak prespitation dari


thiocrom atau chloroflafin terjadi dengan benzilpenicillin.
Kompatibel

dengan

suntikan

dekstrosa

atau

adictive

containning metabisulfit
ADME

: Thiamin yang paling baik diserap didalam keadaan asam,


secara pasif diserap di proksimal duodenum. Pada manusia,
thiamin dapat disintesis di usus besar sebagai thiamin
pirofosfat (TPP). Pada penggunaan oral dengan dosis sadalah
8-15 mg / hari. Setelah diserap, thiamin disalurkan ke seluruh
organ dengan konsentrasi tertinggi di dalam hati, ginjal,
jantung dan otak. Thiamin dalam dosis tinggi tidak akan
menyebabkan

keracunan

karena

klebihannya

akan

di

eksresikan melalui urin dalam bentuk utuh atau dalam bentuk


metabolitnya. Kebutuhan sehari-hari untuk bayi diperkirakan

sebanyak 30mcg/kg BB dan untuk dewasa 1 1,5 mg/ kg BB.


Sebagian kebutuhan ini disintesis oleh flora normal diusus.
DOSIS

Biasanya diberikan secara oral. Dapat digunakan melalui


injeksi IV atau IM bila ada indikasi atau ketika penggunaan
oral tidak dapat dilakukan. Tersedia sebagai tiamin
hidroklorida; dosis dinyatakan dalam bentuk garam.
Pasien Pediatric
Kekurangan tiamin/ Vitamin B1
Oral: anak-anak sakit Noncritically: 10-50 mg sehari, diberikan
dalam dosis terbagi
IM atau IV : Anak yang sakit kritis (misalnya, beri-beri
infantil): 10-25 mg.
DEWASA
Oral:
Dewasa sakit Noncritically: 5-30 mg sehari, sebagai dosis
tunggal atau 3 dosis terbagi, untuk 1 bulan.
Wernicke sindrom: Awalnya 100 mg IV, diikuti oleh 50-100 mg
IM setiap hari sampai pasien dapat mengkonsumsi diet
seimbang.

BATASAN RESEP
Satu dosis > 30 mg tidak digunakan.

10

POPULASI KHUSUS
Rekomendasi Diet /Asupan Vitamin B untuk ibu hamil adalah 1,4 mg sehari.
Asupan Tiamin > 1,4 mg per hari dibutuhkan oleh wanita yang sedang hamil dengan
> 1 fetus.
Persyaratan kebutuhan vitamin B1 meningkat pada wanita hamil untuk menutupi
pemanfaatan energi meningkat dan pertumbuhan compartments. ibu dan janin
Wanita menyusui : untuk wanita menyusui adalah 1,5 mg sehari. Rekomendasi
diet /asupan Vitamin B Tiamin asupan> 1,5 mg per hari dibutuhkan oleh wanita yang
menyusui > 1 infant. Peningkat kebutuhan Vitamin B1pada wanita menyusui untuk
memastikan konsentrasi yang cukup vitamin dalam ASI.

BAB IX
PEMBAHASAN

11

Pada praktikum formulasi sediaan steril di buat sediaan injeksi Aneurin Hcl
atau disebut juga Vitamin B1, kekuatan sediaan pada Aneurin ini adalah 25 mg / ml.
Dengan volume tiap ampul sebanyak 1,1 mL. Aneurin Hcl atau Thiamini HCl
merupakan senyawa dengan bentuk hablur atau serbuk hablur, berwarna putih, berbau
khas lemah, dan mudah larut dalam air, larut dalam gliserin, sukar larut dalam etanol,
tidak larut dalam eter dan benzen ( FI ed IV hal 784).
Senyawa Aneurin HCl sudah memiliki sifat yang mudah larut dalam air
sehingga yang digunakan adalah garam HCl nya dan tidak perlu diganti dengan
bentuk yang lain. Aneurin HCl merupakan senyawa yang mudah larut dalam air,
maka sediaan injeksi yang dibuat berbentuk larutan. Formula sediaan injeksi yang
akan dibuat terdiri dari Aneurin HCl dengan konsentrasi 25 mg/mL, NaCl secukupnya
dan Aqua pro injeksi sampai volume 1,1 mL. Aneurin HCl bertindak sebagai zat aktif.
NaCl berfungsi sebagai pengatur tonisitas, karena salah satu syarat sediaan injeksi
adalah harus isotonis yang artinya memiliki konsentrasi yang sama besar dengan
konsentrasi dalam sel darah merah. Selain itu sediaan injeksi juga harus memenuhi
persyaratan isoosmotik yaitu memiliki tekanan osmose yang sama dengan tekanan
osmose serum darah. Untuk mencapai keadaan yang isotonis dan isoosmotik, suatu
larutan harus ekivalen dengan larutan NaCl 0,9 % yang ekivalen dengan tonisitas sel
darah dan tekanan osmosenya ekivalen dengan osmose serum darah. Aqua pro injeksi
berfungsi sebagai pelarut dalam sediaan injeksi yang akan dibuat. Aqua pro injeksi
dipilih sebagai pelarut karena Aqua pro injeksi sudah steril. Aqua pro injeksi dibuat
dengan memenuhi persyaratan untuk menjadi pelarut dalam sediaan injeksi antara
lain berbentuk cairan jernih, steril, bebas pirogen, tidak berbau, tidak berwarna, tidak
berasa serta tidak mengandung logam berat dan zat pereduksi, dengan pH di kisaran
5,0-7,0.
Selain persyaratan sterilitas, isotonisitas, dan isoosmotik, suatu sediaan injeksi
harus memenuhi persyaratan isohidris. Isohidris berarti sediaan injeksi yang akan
disuntikkan harus memiliki pH yang sama dengan pH fisiologis tubuh manusia yaitu
sekitar 7,4. Sehingga untuk menjaga pH sediaan injeksi seringkali ditambahkan dapar

12

agar pH larutan tetap. Farmakope Indonesia menyebutkan bahwa pH untuk sediaan


injeksi Aneurin HCl adalah 2,5 4,5. Hal ini karena aktivitas fisiologi maksimal
Aneurini HCl dapat tercapai pada rentang pH 3 4 . Sehingga untuk injeksi Aneurin
HCl dilakukan usaha euhidris, atau usaha pendekatan pH larutan suatu zat secara
teknis kearah pH fisiologis tubuh. Euhidris dapat dilakukan untuk zat zat yang tidak
stabil dalam pH fisiologis tubuh, atau zat yang memiliki aktivitas fisiologi yang lebih
baik pada pH yang bukan pH fisiologis tubuh. Larutan injeksi yang kami buat
memiliki pH 6,5, untuk mencapai pH dengan rentang 2,5 4,5 dilakukan
penambahan larutan HCl 0,1 N sebanyak 3,5 ml. Hasil akhir pH larutan injeksi
Aneurin HCl yang dibuat adalah 4.
Metode sterilisasi yang digunakan adalan Terminal sterilization atau sterilisasi
di akhir proses, sehingga dalam pengerjaannya dilakukan dengan tehnik aseptik, dan
digunakan bahan serta alat yang steril. Proses pengisian larutan injeksi ke dalam
ampul dilakukan didalam Laminar Air Flow untuk mencegah bakteri atau virus
masuk kedalam ampul saat proses pengisian. Sterilisasi dilakukan dengan metode
autoklaf pada suhu 121oC dengan tekanan 1 atm, selama 15 menit.
Pada percobaan ini dibuat 6 ampul dengan volume masing masing ampulnya
1mL, namun pada pembuatannya larutan yang dibuat dilebihkan jumlahnya untuk
mengantisipasi terjadinya tumpahan saat pengisian. Perhitungan volume larutan yang
dibuat, dihitung dengan menggunakan persamaan untuk ampul = (n+2) c +6mL ,
dimana n adalah jumlah sediaan yang diminta, dan c adalah volume sediaan yang
telah dilebihkan volumenya sesuai anjuran FI ed IV. Volume yang dimasukkan pada
setiap ampul tidaklah 1 mL namun 1,1 mL volume ini berdasarkan anjuran
penimbangan dan volume yang tercantum dalam farmakope hal 1044. Hal ini
dilakukan
untuk mengantisipasi larutan yang tertinggal pada ampul pada saat pengambilan
cairan. Jika ampul diisi tepat 1 mL di khawatirkan volume cairan yang diambil
tidaklah tepat 1 mL sehingga akan berpengaruh pada dosis yang diberikan. Setelah itu
Aqua for injeksi didihkan selama 5 menit dengan menggunakan spirtus tujuaanya
untuk menghilangkan CO2 agar tidak mempengaruhi kestabilan larutan.

13

Pada praktikum kali ini dilakukan uji kebocoran, uji kebocoran yang dilakukan adalah
metode konvensional. Metode ini dilakukan dengan memanaskan ampul yang telah
dibuat dalam posisi terbalik pada otoklaf dengan suhu 121C Selama 15 menit. Pada
uji kebocoran ini ampul ditekan oleh suhu yang berada di otoklaf. Setelah 15 menit
ampul dikeluarkan dan diamati apakah ada ampul yang mengalami kebocoran, ampul
yang mengalami kebocoran jumlah volume pada ampul akan berkurang dan bisa juga
bertambah. Dari hasil percobaan , dari 6 ampul yang dibuat ternyata 1 ampul
mengalami kebocoran dan 5 ampul lainnya dalam kondisi baik.

14

BAB X

KESIMPULAN
Pada praktikum kali ini telah dibuat sediaan injeksi Aneurin HCl dengan kekuatan
sediaan 25 mg/mL, dengan volume tiap ampul adalah 1,1 mL. Injeksi yang dibuat
berbentuk larutan bening, dengan pH 4. Dari 6 ampul yang dibuat 1 ampul
mengalami kebocoran, dan 5 ampul dalam kondisi baik. Setelah dilakukan evaluasi
terhadap kelarutan sediaan akhir diketahui bahwa larutan yang dihasilkan larut
dengan homongen ditandai dengan tidak adanya pertikel-partikel kasar pada sediaan
akhir.

15

BAB XI
ETIKET DAN LABEL

16

BAB XII
KEMASAN DAN BROSUR

17

18

BAB XIII
DAFTAR PUSTAKA
Wade, Ainley and Weller, Paul J. 1994.Handbook of Pharmaceutical Excipients.5th
edition.The Pharmacuetical Press. London.
British Pharmacopeia. Volume I and II. London: The Stationery Office; 2009.
Dirjen POM. 1995.Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.
Reynold, James EF. 1982. Martindale the extra pharmacopeia, Twenty-eight edition.
London : The pharmaceutical press.

19

Distribusi kerja
Rava Hidayat

: BAB 2,BAB 4,BAB 11,BAB 12,BAB 13

Noviasari

:BAB 1,BAB 3,BAB 5,BAB 6,BAB 8

Diah

: BAB 7,BAB 9,BAB 10,Editor

20

21