Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIABETIC FOOT

OLEH :
ANAK AGUNG PURNAMA JAYANTI
1302105078

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Diabetes mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan
metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar
gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein
sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat
disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta
Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel
tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).
Diabetes Melitus (DM) merupakan keadaan hiperglikemia kronik yang disertai
dengan berbagai kelainan metabolik yang diakibatkan oleh gangguan hormonal
yang menimbulkan berbagai macam komplikasi kronik pada organ mata, ginjal,
saraf, pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam dengan
menggunakan pemeriksaan dalam mikroskop (A. Mansjoer dkk, 2005).
Ulkus diabetika adalah salah satu bentuk komplikasi kronik Diabetes mellitus
berupa luka terbuka pada permukaan kulit yang dapat disertai adanya kematian
jaringan setempat (Frykberb Robert G, 2002).
Ulkus diabetika merupakan luka terbuka pada permukaan kulit karena adanya
komplikasi makro angiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi dan neuropati,
yang lebih lanjut terdapat luka pada penderita yang sering tidak dirasakan, dan
dapat berkembang menjadi infeksi disebabkan oleh bakteri aerob maupun anaerob
(Misnadiarly, 2006).
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan
diabetic foot atau ulkus kaki diabetes adalah suatu bentuk komplikasi kronik dari
diabetes melitus dimana terjadi luka terbuka pada permukaan kulit dan biasanya
luka tersebut tidak dirasakan oleh penderita karena adanya komplikasi makro
angiopati sehingga terjadi vaskuler insufisiensi.
2. Epidemiologi
Prevalensi penderita ulkus diabetes di Amerika Serikat sebesar 15-20%
dan angka mortalitas sebesar 17,6% bagi penderita DM dan merupakan sebab
utama perawatan penderita Diabetes mellitus di rumah sakit. Penelitian kasus
kontrol di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 16% perawatan DM dan 23%
total hari perawatan adalah akibat Ulkus diabetes dan amputasi kaki karena Ulkus
diabetes sebesar 50% dari total amputasi kaki. Prevalensi penderita ulkus diabetes
di Indonesia sebesar 15% dari penderita DM. Di RSCM pada tahun 2003 masalah
kaki diabetes masih merupakan masalah besar. Sebagian besar perawatan DM

selalu terkait dengan ulkus diabetes. Angka kematian dan angka amputasi masih
tinggi, masing-masing sebesar 32,5% dan 23,5%.
Penelitian cross sectional di RS Dr. Kariadi

oleh

Yudha dkk

menunjukkan bahwa penderita ulkus diabetika 84,62% terdapat dislipidemia, pada


penderita ulkus diabetes dengan dislipidemia kadar kolesterol lebih tinggi
(p=0,045) dan kadar trigliserida lebih tinggi secara bermakna (p=0,002)
dibandingkan dengan penderita DM tanpa dyslipidemia. Penelitian pada tahun
2002 oleh Waspadji menghasilkan bahwa kadar trigliserida merupakan faktor
risiko terjadi penyakit pembuluh darah perifer yang dapat mengakibatkan
terjadinya ulkus diabetes (Waspadji S, 2006).
3. Penyebab/Faktor Predisposisi
Faktor penyebab terjadi ulkus diabetika pada penderita Diabetes mellitus
menurut Lipsky dengan modifikasi dikutip oleh Riyanto dkk. terdiri atas
(RiyantoB, 2007; Djokomoeljanto, 1997; Subekti I, 2006):
3.1Faktor penyebab yang tidak dapat dimodifikasi
a) Umur 60 tahun.
Umur, menurut penelitian di Swiss dikutip

oleh

Suwondo

bahwa penderita ulkus diabetika 6% pada usia < 55 tahun dan 74%
pada usia 60 tahun42. Penelitian kasus oleh Robert menunjukkan bahwa
umur penderita ulkus diabetika pada usia tua 60 tahun 3 kali lebih banyak
dari usia muda < 55 tahun (Frykberb RobertG, 2002).
Umur 60 tahun berkaitan dengan terjadinya ulkus diabetika
karena pada usia tua, fungsi tubuh secara fisiologis menurun karena proses
aging terjadi penurunan sekresi atau resistensi insulin sehingga kemampuan
fungsi tubuh terhadap pengendalian glukosa darah yang tinggi kurang
optimal. Penelitian di Amerika Serikat dikutip oleh Rochmah W
menunjukkan bahwa dari tahun 1996-1997 pada lansia umur > 60 tahun,
didapatkan hanya 12% saja pada usia tua dengan DM yang kadar glukosa
darah terkendali, 8% kadar kolesterol normal, hipertensi 40%, dan 50%
mengalami gangguan pada aterosklerosis, makroangiopati.
b) Lama DM 10 tahun.
Penelitian di USA oleh Boyko pada 749 penderita Diabetes mellitus
dengan hasil bahwa lama menderita DM 10 tahun merupakan faktor
risiko terjadinya ulkus diabetika dengan RR-nya sebesar 3 (95 % CI :1,26,9). Ulkus diabetika terutama terjadi pada penderita Diabetes Mellitus

yang telah menderita 10 tahun atau lebih, apabila kadar glukosa darah tidak
terkendali,

karena

akan

muncul

komplikasi

yang

berhubungan

dengan vaskuler sehingga mengalami makroangiopati yang akan terjadi


vaskulopati dan neuropati yang mengakibatkan menurunnya sirkulasi darah
dan adanya robekan/luka pada kaki.
3.2 Faktor penyebab yang dapat diubah atau dimodifikasi : (termasuk kebiasaan
dan gaya hidup)
a) Hipertensi
(TD > 130/80 mm Hg) pada penderita Diabetes mellitus karena
adanya viskositas darah yang tinggi akan berakibat menurunnya aliran
darah sehingga terjadi defesiensi vaskuler, selain itu hipertensi yang
tekanan darah lebih dari 130/80 mm Hg dapat merusak atau
mengakibatkan lesi pada endotel.

Kerusakan

pada

endotel

akan

berpengaruh terhadap mikroangiopati melalui proses adhesi dan agregasi


trombosit yang berakibat vaskuler defisiensi sehingga dapat terjadi hipoksia
pada jaringan yang akan mengakibatkan terjadinya ulkus (Misnadiarly,
2006). Penelitian studi kasus kontrol oleh Robert diIowa menghasilkan
bahwa riwayat hipertensi akan lebih besar 4 X terjadi ulkus diabetika
dengan tanpa hipertensi pada DM (Frykberb Robert G, 2002).
b) Glikolisasi Hemoglobin (HbA1C) dan kadar glukosa darah tidak terkendali
Glikosilasi Hemoglobin adalah terikatnya glukosa yang masuk dalam
sirkulasi

sistemik

dalam sel darah

dengan

protein

merah. Apabila

plasma

Glikosilasi

termasuk

hemoglobin

Hemoglobin

(HbA1c)

6,5 % akan menurunkan kemampuan pengikatan oksigen oleh sel


darah merah yang mengakibatkan hipoksia jaringan yang selanjutnya terjadi
proliferasi pada dinding sel otot polos subendotel (Misnadiarly, 2006).
Kadar glukosa darah tidak terkontrol ( GDP > 100mg/dl dan
GD2JPP > 144 mg/dl) akan mengakibatkan komplikasi kronik jangka
panjang, baik makrovaskuler maupun mikrovaskuler salah satunya
yaitu ulkus diabetika (Waspadji S, 2006). Penelitiaan Case Control di USA
oleh Pract, ulkus diabetika terjadi lebih banyak pada kadar glukosa
darah yang tidak terkontrol dengan OR sebesar 7 (95 %CI : 3,6-9,4).
c) Kolesterol Total, HDL, Trigliserida tidak terkendali
Pada penderita Diabetes mellitus sering dijumpai adanya
peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol plasma, sedangkan konsentrasi
HDL (high-density-lipoprotein) sebagai pembersih plak biasanya rendah

( 45 mg/dl). Kadar trigliserida 150 mg/dl , kolesterol total 200 mg/dl


dan HDL 45 mg/dl akan mengakibatkan buruknya sirkulasi ke sebagian
besar jaringan dan menyebabkan hipoksia serta cedera jaringan,
merangsang reaksi peradangan dan terjadinya aterosklerosis. Konsekuensi
adanya aterosklerosis adalah penyempitan lumen pembuluh darah yang
akan menyebabkan gangguan sirkulasi jaringan sehingga suplai darah ke
pembuluh darah menurun ditandai dengan hilang atau berkurangnya denyut
nadi pada arteridorsalis pedis, tibialis dan poplitea, kaki menjadi atrofi,
dingin dan kuku menebal.
Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis jaringan sehingga timbul ulkus
yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai (Misnadiarly,2006;
Djokomoeljanto,

1997;

Reynold

FJ,

2007).Penelitian kasus kontrol

oleh Pract, pada penderita DM dengan kolesterol, HDL, trigliserida tidak


terkontrol mempunyai

risiko

ulkus

diabetika

3 kali

lebih tinggi

dari pada kadar kolesterol, trigliserida normal (Pract, 2000).


Penelitian cross sectional di RS Dr. Kariadi oleh Yudha

dkk.

Menunjukkan bahwa penderita ulkus diabetika 84,62% pada penderita DM


terdapat dislipidemia, kejadian ulkus diabetika pada penderita DM tipe 2 de
ngan dislipidemia lebih tinggi dibandingkan tanpa dislipidemia, dan kadar
kolesterol

(p=0,045)

dan

trigliserida

(p=0,002)

lebih tinggi secara

bermakna pada penderita ulkus diabetika dengan dyslipidemia (Yudha,


Suhartono T, 2005). Penelitian pada tahun 2002 oleh Waspadji
menghasilkan bahwa kadar trigliserida merupakan faktor terjadi penyakit
pembuluh

darah perifer yang dapat

mengakibatkan

terjadinya

ulkus

diabetika (Waspadji S, 2006).


d) Kebiasaan merokok
Penelitian case control di California oleh Casanno dikutip oleh WHO
pada penderita Diabetes mellitus yang merokok 12 batang per hari
mempunyai risiko 3 X untuk menjadi ulkus diabetika dibandingkan dengan
penderita DM yang tidak merokok. Kebiasaan merokok akibat dari nikotin
yang terkandung di dalam rokok akan dapat menyebabkan kerusakan
endotel kemudian terjadi penempelan dan agregasi trombosit. Selanjutnya
akan terjadi kebocoran sehingga lipoprotein lipase akan memperlambat
clearance lemak darah dan mempermudah timbulnya aterosklerosis.

Aterosklerosis berakibat insufisiensi vaskuler sehinggaaliran darah ke


arteri dorsalis pedis, poplitea, dan tibialis juga akan menurun.
e) Kurangnya aktivitas Fisik
Aktivitas fisik (olah raga) sangat bermanfaat untuk meningkatkan
sirkulasi darah, menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas
terhadap insulin, sehingga akan memperbaiki kadar glukosa darah. Dengan
kadar glukosa darah terkendali maka akan mencegah komplikasi kronik
Diabetes mellitus (Yunir EM, 2006). Olah raga rutin (lebih 3 kali dalam
seminggu selama 30 menit) akan memperbaiki metabolisme karbohidrat,
berpengaruh positif terhadap metabolisme lipid dan sumbangan terhadap
penurunan berat badan. Salah satu penelitian tentang efek olah raga pada
penderita

DM

menunjukkan

bahwa olah

raga akan menurunkan

kadar trigliserida.Penelitian di Swiss oleh Rocher dikutip oleh Wibisono


pada penderitaDM dengan neuropati, hasil penelitian olah raga tidak teratur
akanterjadi Ulkus diabetika lebih tinggi 4 kali dibandingkan dengan
olahraga yang teratur.
f) Pengobatan tidak teratur.
Pengobatan rutin pada penderita Diabetes mellitus tipe I, menurut
hasil penelitian di Amerika Serikat dikutip oleh Minadiarly didapatkan
bahwa pengobatan intensif akan dapat mencegah dan menghambat
timbulnya komplikasi kronik, seperti ulkus diabetika (Misnadiarly,2006).
g) Perawatan kaki tidak teratur
Perawatan kaki diabetisi yang teratur akan mencegah atau
mengurangi terjadinya komplikasi kronik pada kaki (PERKENI, 2006).
Penelitian di Spain yang dilakukan oleh Calle dkk. pada 318 diabetis
dengan neuropati dilakukan edukasi perawatan kaki kemudian diikuti
selama 3-6 tahun dihasilkan pada kelompok I (223 responden)
melaksanakan perawatan kaki teratur dan kelompok II (95 responden) tidak
melaksanakan perawatan kaki, pada kelompok I terjadi ulkus sejumlah 7
responden dan kelompok II terjadi ulkus sejumlah 30 responden.
Kelompok I dilakukan tindakan amputasi sejumlah 1 responden dan
kelompok II sejumlah 19 responden. Hasil penelitian pada diabetes dengan
neuropati yaitu kelompok yang tidak melakukan perawatan kaki 13 kali
risiko terjadi ulkus diabetika dibandingkan kelompok yang melakukan
perawatan kaki secara teratur.
h) Penggunaan alas kaki tidak tepat

Seseorang yang mengalami diabetes tidak boleh berjalan tanpa alas


kaki

karena

tanpa

menggunakan

alas kaki

yang tepat memudahkan

terjadi trauma yang mengakibatkan ulkus diabetika, terutama apabila terjadi


neuropati yang mengakibatkan sensasi rasa berkurang atau hilang.
Penelitian eksperimental oleh Gayle tentang tekanan pada kaki karena
penggunaan alas kaki yang tidak tepat dengan kejadian ulkus diabetika,
menghasilkan bahwa penggunaan alas kaki tidak tepat menyebabkan
tekanan yang tinggi pada kaki sehingga risiko terjadi ulkus diabetika
3 kali dibandingkan dengan penggunaan alas kaki yang tepat
4. Patofisiologi
Terjadinya masalah pada kaki diawali adanya hiperglikemia pada
penyandang DM yang menyebabkan kelainan neuropati dan kelainan pada
pembuluh darah. Diabetes seringkali menyebabkan penyakit vaskular perifer yang
menghambat sirkulasi darah. Dalam kondisi ini, terjadi penyempitan di sekitar
arteri yang sering menyebabkan penurunan sirkulasi yang signifikan di bagian
bawah tungkai dan kaki. Sirkulasi yang buruk ikut berperan terhadap timbulnya
kaki diabetik dengan menurunkan jumlah oksigen dan nutrisi yang disuplai ke
kulit maupun jaringan lain, akibatnya, perfusi jaringan bagian distal dari tungkai
menjadi kurang baik dan timbul ulkus yang kemudian dapat berkembang menjadi
nekrosi/gangren yang sangat sulit diatasi dan tidak jarang memerlukan tindakan
amputasi.
Angiopati diabetes disebabkan oleh beberapa faktor yaitu genetik, metabolik
dan faktor risiko yang lain. Kadar glukosa yang tinggi (hiperglikemia) ternyata
mempunyai dampak negatif yang luas bukan hanya terhadap metabolisme
karbohidrat, tetapi juga terhadap metabolisme protein dan lemak yang dapat
menimbulkan pengapuran dan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis),
akibatnya terjadi gaangguan peredaran pembuluh darah besar dan kecil., yang
mengakibatkan sirkulasi darah yang kurang baik, pemberian makanan dan
oksigenasi kurang dan mudah terjadi penyumbatan aliran darah terutama derah
kaki.
Neuropati diabetik dapat menyebabkan insensitivitas atau hilangnya
kemampuan untuk merasakan nyeri, panas, dan dingin. Diabetes yang menderita
neuropati dapat berkembang menjadi luka, parut, lepuh, atau luka karena tekanan
yang tidak disadari akibat adanya insensitivitas. Apabila cedera kecil ini tidak

ditangani, maka akibatnya dapat terjadi komplikasi dan menyebabkan ulserasi dan
bahkan amputasi.
Berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Secara umum penderita
diabetes lebih rentan terhadap infeksi. Hal ini dikarenakan kemampuan sel darah
putih memakan dan membunuh kuman berkurang pada kondisi kadar gula darah
(KGD) diatas 200 mg%. Karena kekurangan suplai oksigen, bakteri-bakteri yang
akan tumbuh subur terutama bakteri anaerob. Hal ini karena plasma darah
penderita diabetes yang tidak terkontrol baik mempunyai kekentalan (viskositas)
yang tinggi. Sehingga aliran darah menjadi melambat. Akibatnya, nutrisi dan
oksigen jaringan tidak cukup. Ini menyebabkan luka sukar sembuh dan kuman
anaerob berkembang biak. (Djokomoeljanto. 1997) (Pathway terlampir)
5. Klasifikasi
Dengan klasifikasi PEDIS (International Working Group on Diabetic Foot2003), maka akan dapat ditentukan kelainan apa yang lebih dominan, vascular,
infeksi, atau neuropatik, sehingga arah pengelolaan pun dapat dituju dengan lebih
baik. (Sarwono Waspadji, 2006)
Klasifikasi PEDIS International Consensus on the Diabetic Foot 2003
Impaired Perfusion
1= None
2= PAD+but not critical
2

Size/Extent in mm Tissue Loss/Depth

3= Critical limb ischemia


1= Superficial fullthickness, not deeper
than dermis
2= Deep ulcer, below dermis, involving
subcutaneous

struktur,

fascia,

muscle/tendon.
3= All subsequent layers of the foot
Infection

involved including bone and/joint


1= No symptoms/signs of infection
2= Infection of skin and subcutaneous
tissue only
3= Erythema >2cm / infection involving
subcutaneous structure(s). no systemic
sign(s) of inflammatory response
4=

Infection

with

systemic

manifestation : fever, leucocytosis, shift


to
Impaired Sensation

the

left,

metabolic

instability,

hypotension, azotemia
1= Absent
2= Present

Suatu klasifikasi lain juga yang sangat praktis dan sangat erat dengan
pengelolaan adalah klasifikasi yang berdasar pada perjalanan alamiah kaki
diabetes :
Stage 1: Normal Foot
Stage 2: High Risk Foot
Stage 3: Ulcerated Foot
Stage 4 : Infected Foot
Stage 5: Necrotic Foot
Stage 6 : Unsalvable Foot

Wagner (1983) membagi Diabetic Foot menjadi enam tingkatan, yaitu :


Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai
kelainan bentuk kaki seperti claw, callus.
Derajat I : Ulkus superficial terbatas pada kulit.
Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang.
Derajat III : Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis.
Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis.
Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.
6. Gejala Klinis
a) Neuropati
b) Jarak tampak menjadi lebih pendek (klaudilasio intermil)
c) Nyeri saat istirahat
d) Kerusakan jaringan (necrosis, ulkus)
e) Adanya kalus di telapak kaki
f) Kulit kaki kering dan pecah-pecah

7. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang noninvasive adalah dengan pengukuran oksigen
transkutan pada daerah kaki dan lengan (ankle-brachial index=ABI). ABI adalah
suatu pemeriksaan yang noninvansif dengan menggunakan alat Doppler. Alat
pengukur tekanan dipasang pada lengan atas dan kaki kemudian diukur tekanan
systole. Alat Doppler sendiri diletakkan pada a.dorsalis pedis atau a.tibialis
posterior. ABI sendiri merupakan hasil dari tekanan systole pada ankle yang
dibagi dengan tekanan systole pada brachial.

8.
Gambar : Hasil Abnormal dari pemeriksaan ABI

Gambar : Cara pemeriksaan ABI

Tes nylon monofilament adalah tes yang mudah dan digunakan untuk
mendiagnosis pasien dengan risiko adanya ulserasi akibat adanya sensorik-

neuropati perifer. Hasil yang abnormal didapatkan jika pasien tidak dapat
merasakan adanya sentuhan pada monofilament tersebut.

Gambar: Pemeriksaan Tes nylon monofilament

Selain pemeriksaan arteri dorsalis pedis atau arteri tibialis posterior, dapat juga
dilakukan USG Dopller, untuk mengetahui aliran (flow) pembuluh darah.

Gambar : USG Doppler

9. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
a.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dibutuhkan untuk mengetahui status klinis
pasien, yaitu:

pemeriksaan glukosa darah baik glukosa darah puasa atau

sewaktu, glycohemoglobin (HbA1c), Complete blood Count (CBC), urinalisis,


b.

dan lain- lain.


Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan X-ray untuk mengetahui ada tidaknya osteomyelitis.
- Kultur dan resistensi untuk mengetahui jenis mikroorganisme yang
menginfeksi luka segingga dapat memilih obat antibiotik yang tepat.
- Tes lain yang dapat dilakukan adalah: sensasi pada getaran, merasakan
sentuhan ringan, kepekaan terhadap suhu.

10. Diagnosis/Kriteria Diagnosis

Diagnosis kaki diabetik harus dilakukan secara teliti. Diagnosis kaki diabetik
ditegakkan oleh riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan penunjang.
1. Riwayat kesehatan pasien dan keluarga meliputi: lama diabetes; managemen
diabetes dan kepatuhan terhadap diet, olahraga dan obat-obatan; evaluasi dari
jantung, ginjal dan mata; alergi; pola hidup, medikasi terakhir; kebiasaan
merokok dan minum alkohol. Selain itu, yang perlu diwawancara adalah
tentang pemakaian alas kaki, pernah terekspos dengan zat kimia, adanya kallus
dan deformitas, gejala neuropati dan gejala iskemi, riwayat luka atau ulkus.
Pengkajian pernah adanya luka dan ulkus meliputi lokasi, durasi, ukuran, dan
kedalaman, penampakan ulkus, temperatur dan bau.
2. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi meliputi kulit dan otot. Inspeksi pada kulit yaitu status kulit
seperti warna, turgor kulit, pecah-pecah; berkeringat; adanya infeksi dan
ulserasi; ada kalus atau bula; bentuk kuku; adanya rambut pada kaki.
Inspeksi pada otot seperti sikap dan postur dari tungkai kaki; deformitas
pada kaki membentuk claw toe atau charcot joint; keterbatasan gerak
sendi; tendon; cara berjalan; kekuatan kaki.
b. Pemeriksaan neurologis yang dapat menggunakan monofilamen ditambah
dengan tunningfork 128-Hz, pinprick sensation, reflek kaki untuk
mengukur getaran, tekanan dan sensasi.
c. Pemeriksaan aliran darah dengan menggunakan palpasi denyut nadi pada
arteri kaki, capillary refiling time, perubahan warna, atropi kuit dan kuku
dan pengukuran ankle-brankhial index (Boulton et al, 2008; Adhiarta,
2011).
d. Pengukuran alas kaki meliputi bentuk alas kaki yang sesuai dan nyaman,
tipe sepatu dan ukurannya.
11. Theraphy/Tindakan Penanganan
a. Penatalaksanaan Medis
- Tindakan Bedah sesuai Klasifikasi Wagner
Menurut Wagner kaki diabetik dibagi menjadi :
Derajat 0 : tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh disertai dengan
pembentukan kalus claw
Derajat I : ulkus superfisial terbatas pada kulit
Derajat II : ulkus dalam dan menembus tendon dan tulang
Derajat III : abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis
Derajat IV : gangreng jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa
selullitis

Derajat V : gangreng seluruh kaki atau sebagian tungkai bawah


Tabel Pengelolaan berdasarkan kriteria Wagner :
Derajat 0

Sepatu yang layak


Edukasi
Perawatan Podiatrik paliatif
Bedah profilaksis
Prevensi

Derajat I

Infeksi : kultur permukaan ulkus dan antibiotic


Perawatan luka
Evaluasi Radiologi
Koreksi Stress
Pembedahan

Derajat II

Terapi antibiotic
Evaluasi dimensi luka
Evaluasi radiology
Pembedahan

Derajat III

Rawat Rumah Sakit untuk terapi antibiotic intravena


Debribement agresif yang dalam untuk diagnosis osteomielitis
Control metabolic
Bedah plastic menutup sebagaimana diperlukan

Derajat IV

Amputasi lokal sesuai lokasi nekrosis dan vaskularitas

Derajat V

Amputasi mayor dikehendaki

Berdasarkan

pembagian

diatas,

maka

tindakan

pengobatan

atau

pembedahan dapat ditentukan sebagai berikut :


- Derajat 0

: perawatan lokal secara khusus tidak ada

- Derajat I-IV : pengelolaan medik dan tindakan bedah minor


-

Derajat V : tindakan bedah minor, bila gagal dilanjutkan dengan


tindakan bedah mayor seperti amputasi diatas lutut atau amputasi
bawah lutut.
Beberapa tindakan bedah khusus diperlukan dalam pengelolaan kaki

diabetik ini, sesuai indikasi dan derajat lesi yang dijumpai seperti :
- Insisi : abses atau selullitis yang luas
- Eksisi : pada kaki diabetik derajat I dan II
- Debridement/nekrotomi : pada kaki diabetik derajat II, III, IV dan V

- Mutilasi : pada kaki diabetik derajat IV dan V


- Amputasi : pada kaki diabetik derajat V
12. Prognosis
Prognosis penderita diabetik foot atau ulkus diabetes sangat tergantung dari
usia, kerana semakin tua usia penderita diabetes melitus semakin mudah untuk
mendapatkan masalah yang serius pada kaki dan tungkainya, lamanya menderita
diabetes melitus, adanya infeksi yang berat, derajat kualitas sirkulasi, dan
ketrampilan dari tenaga medis yang merawat.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


I.
Pengkajian
a. Identitas Pasien
Identitas yang ditanyakan atau dicari data nya meliputi nama, umur, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, agama, suku bangsa,
alamat, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, sumber informasi, dan
diagnosa pada saat masuk.
b. Penanggung Jawab
- Nama : tanyakan nama
- Hubungannya dengan pasien : tanyakan penanggung jawab hubungannya
dengan pasien
c. Riwayat Keluarga
- Genogram dan keterangan genogram
Genogram membantu untuk mengetahui asal atau riwayat penyakit berasal,
karena bisa saja penyakit bersifat genetik yang berasal dari keluarga
d. Status Kesehatan
Status Kesehatan Saat Ini
- Keluhan utama (saat MRS dan saat ini)
- Alasan masuk Rumah Sakit dan perjalanan Penyakit saat ini
- Upaya yang dilkakukan untuk mengatasinya
e. Status Kesehatan Masa Lalu
- Penyakit yang pernah dialami
Tanyakan kepada pasien atau keluarga penyakit yang pernah dialami yang
berhubungan dengan penyakit yang dialami sekarang
- Pernah dirawat

Tanyakan kepada pasien dan keluarga apakah pernah dirawat sebelumnya,


jika pernah tanyakan dikarenakan oleh apa (diagnosa masuk), kemudian
kapan pasien pernah dirawat sebelumnya.
- Riwayat alergi
Tanyakan apakah pasien memiliki riwayat alergi baik itu makanan, atau
obat-obatan.
-

Riwayat tranfusi
Tanyakan pada pasien dan keluarga apakah pasien pernah melakukan
tranfusi, jika pernah jenis tranfusi apa yang dilakukan

- Kebiasaan
Kaji

apakah

pasien

memiliki

kebiasaan

merokok,

minum

kopi,

mengkonsumsi alkohol atau hal lainnya, jika iya tanyakan sejak kapan
memulai kebiasaan tersebut, jumlah yang dikonsumsi setiap hari nya.
- Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji apakah dari pihak keluarga memiliki penyakit yang berkaitan dengan
yang dialami pasien sekarang seperti riwayat Diabetes Melitus
- Diagnosa Medis dan therapy
f. Pengkajian Fisik
-

Pada pasien dengan gangguan pernapasan seperti diabetik foot atau ulkus
kaki pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan lab, pemeriksaan penunjang.

- Pengkajian Pola Gordon


a. Pemeliharaan dan Persepsi Terhadap Kesehatan
Data yang ditanyakan :
Menggambarkan Persepsi, pemeliharaan dan penanganan kesehatan. Persepsi
terhadap arti kesehatan,dan penatalaksanaan kesehatan, kemampuan menyusun
tujuan, pengetahuan tentang praktek kesehatan.
b. Nutrisi dan Metabolik
Tanyakan pada klien :
- Kebiasaan makan dan minum sebelum sakit (makanan yang disukai dan
tidak disukai, adakah suplemen makanan yang dikonsumsi, jumlah makan
yang masuk, jumlah makanan yang keluar, adakah nyeri telan, alergi
makanan)

- Apakah terjadi perubahan pola makan dan minum setelah sakit


- Adakah penurunan berat badan
- Kaji penyebab perubahan pola makan dan minum.
c. Pola Eliminasi
Data yang ditanyakan :
- Kaji kebiasaan eliminasi urin dan fekal
- Berapa kali dalam sehari BAB dan BAK
- Jumlah, konsistensi, bau, warna dan karekteristik BAB dan BAK
- Kaji apakah ada ada kesulitan/nyeri ketika BAK
serta apakah
menggunakan alat bantu untuk BAK.
d. Pola Aktivitas dan Latihan
Data yang ditanyakan:
- Menggambarkan pola aktivitas dan latihan, fungsi pernafasan dan sirkulasi
- Bagaimana pernapasan pasien, apakah ada kesulitan bernapas karena
adanya sumbatan atau merasa ada gangguan pada hidung
- Bagaimana kegiatan sehari-hari dan olahraga, aktivitas apa saja yang
dilakukan klien di waktu senggang
- Kaji apakah klien mengalami kesulitan dalam bernafas, lemah, batuk, nyeri
dada,
- kaji kekuatan tonus otot klien.
e. Pola Tidur dan Istirahat
Data yang ditanyakan:
- Tanyakan durasi tidur di malam hari
- Apakah tidur efektif
- Tanyakan juga apakah klien punya kebiasaan yang dilakukan sebelum tidur.
f. Pola Kognitif dan Perseptual
Data yang ditanyakan :
- Menggambarkan pola pendengaran, penglihatan, pengecap, penciuman,
persepsi nyeri, bahasa dan memori, status mental,
- Apakah klien bisa bicara dengan normal/tak jelas/gugup, kemampuan
berkomunikasi dan kemampuan memahami serta keterampilan interaksi
- Kaji juga anxietas klien terkait penyakitnya dan derajatnya, apakah ada
nyeri : akut/ kronik. Tanyakan lokasi nyeri dan intensitas nyeri, bagaimana
penatalaksaan nyeri, apa yang dilakukan klien untuk mengurangi nyeri saat
nyeri terjadi
- Apakah klien mengalami insensitivitas terhadap panas/dingin/nyeri.
- Kaji tingkat kenyamanan klien, pengaruh penyakit yang dialami dengan
perasaan nyaman klien.
g. Pola Persepsi Diri/Konsep Diri
Data yang ditanyakan :

- Menggambarkan sikap terhadap diri dan persepsi terhadap kemampuan,


harga diri, gambaran diri dan perasaan terhadap diri sendiri
- Kaji bagaimana klien menggambar dirinya sendiri
- Apakah ada hal yang membuaatnya mengubah gambaran terhadap diri,
tanyakan apa hal yang paling sering menjadi pikiran klien,
- Apakah klien sering merasa marah, cemas, depresi, takut, anjurkan klien
untuk menggambarkannya.
h. Pola Seksual dan Reproduksi
Data yang ditanyakan :
- Bagaimana kehidupan seksual klien (hubungan dengan istri/suami atau jika
sudah menikah
- Tanyakan apakah klien sudah memiliki anak
- Tanyakan

apakah

klien

masih

mengalami

menstruasi

atau

sudah

menopause/andropause
i. Pola Peran dan Hubungan
Data yang ditanyakan :
- Menggambarkan keefektifan hubungan dan peran dengan keluarga lainnya
- Tanyakan pekerjaan dan status pekerjaan klien
- Tanyakan juga sistem pendukung misalnya istri, suami, anak maupun
cucu, tanyakan bagaimana keadaan keuangan sejak klien sakit, bagaimana
dalam pengambilan keputusan dan penyelesaian konflik, tanyakan juga
apakah klien aktif dalam kegiatan sosial
j. Pola Manajemen Koping Stres
Data yang ditanyakan :
- Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress dan menggunakan
sistem pendukung,
- Tanyakan apa yang dilakukan klien dalam menghadapi masalah yang
dihadapi, apakah efektif.
- Tanyakan apakah klien termasuk orang yang santai atau mudah panik,
- Tanyakan juga apakah klien ada menggunakan obat dalam menghadapi
stress.
k. Pola Keyakinan-Nilai
Menggambarkan spiritualitas, nilai, sistem kepercayaan dan tujuan dalam
hidup, kaji tujuan, cita-cita dan rencana klien pada masa yang akan datang,
apakah agama ikut berpengaruh, apakah agama merupakan hal penting dalam
hidup.

DAFTAR PUSTAKA
Doctherman, J.M. and Gloria, N.B. 2008. Nursing Interventtions Classification (NIC), Fifth
Edition.USA : Mosby Elsevier
Djokomoeljanto. 1997. Tinjauan Umum tentang Kaki Diabetes. Dalam: Djokomoeljanto dkk,
editor, Kaki Diabetik Patogenesis dan Penatalaksanaannya, Badan Penerbit Universitas
Diponegoro Semarang.
Frykberg. (2006). Diabetic Foot Disorders a Clinical Practice Guidelines. The Journal of
Foot and Ankle Surgery .
Herdman, T.H. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi (NANDA) 2012-2014.
Jakarta: EGC
International Working Group on the Diabetic Foot, 2003. Epidemiology of diabetic foot
infections in a populationbased cohort. Paper presented at: International Consensus on
the Diabetic Foot; May 22-24, 2003; Noordwijkerhout, the Netherlands

Moorhead, Sue, et.al. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC), Fourth Edition. St.
Louis Missouri : Mosby Elsevier
Manjoer, A., dkk (2007). Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Pertama. Jakarta;
Media Aesculpius FKUI
Misnadiarly. (2006). Diabetes Melitus : Ulcer, Infeksi, Ganggren. Jakarta : Penerbit Populer
Obor
Riyanto B. 2007. Infeksi pada Kaki Diabetik. Dalam : Darmono, dkk, editors. Naskah
Lengkap Diabetes Mellitus Ditinjau dari Berbagai Aspek Penyakit dalam dalam rangka
Purna Tugas Prof Dr.dr.RJ Djokomoeljanto. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro,. p.15-30.
Subekti I. 2006. Neuropati Diabetik Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi keempat. Penerbit
FK UI. Jakarta.
Waspadji, S. (2006). Komplikasi Kronik Diabetes : Mekanisme Terjadinya Diagnosis dan
Strategi Pengelolaan. In d. Aru W, Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Ed 4. Jakarta: FKUI.
WHO Department of Noncommunicable Disease Surveillance Geneva. Definition, Diagnosis
and Classification of Diabetes Mellitus and its Complications. Report of a WHO
ConsultationPart 1: Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus . 1999