Anda di halaman 1dari 7

1.

Pengertian Kemoterapi
Kemoterapi adalah suatu pengobatan medis yang menggunakan obat-obatan yang
khusus untuk merawat suatu penyakit kanker. Kemoterapi merujuk pada penggunaan obatobatan khusus untuk melawan dan memusnahkan sel-sel kanker yang sedang merebak
dengan cepat didalam tubuh penderita. Obat ini akan memasuki sistem aliran darah dan
menuju ke seluruh badan untuk membunuh sel-sel kanker yang tidak dapat dibuang melalui
pembedahan ataupun yang tidak dapat dimusnahkan melalui radioterapi. Bila obat-obatan
yang digunakan lebih dari satu, maka disebut dengan kemoterapi kombinasi.
Dari sumber lain yaitu Wikipedia mendefinisikan bahwa kemoterapi adalah
penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit. Dalam penggunaan modernnya, istilah ini
hampir merujuk secara eksklusif pada obat sitostatik yang digunakan untuk merawat kanker.
Dalam penggunaan non-onkologisnya, istilah ini dapat juga menunjuk ke antibiotik
(kemoterapi antibakteri). Dalam artian tersebut, agen kemoterapi modern pertama adalah
arsfenamin Paul Ehrlich, sebuah senyawa arsenik yang ditemukan pada tahun 1909 dan
digunakan untuk merawat sifilis. Ini kemudian diikuti oleh sulfonamida yang ditemukan
oleh Gerhard Domagk dan penisilin G yang ditemukan oleh Alexander Fleming.
Menurut Dr. Nugroho Prayogo, kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker
dengan jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker dan
diberikan secara sistemik. Obat antikanker yang artinya menghambat kerja sel.
Pada sejarah awal penggunaan kemoterapi digunakan satu jenis sitostatika, namun
dalam perkembangannya kini umumnya dipergunakan kombinasi sitostatika atau disebut
regimen kemoterapi, dalam usaha untuk mendapatkan khasiat yang lebih besar. Penggunaan
obat-obatan baik tunggal maupun kombinasi ini telah melalui penyelidikan mendalam di
berbagai pusat kesehatan. Semua akibat yang bermanfaat (khasiat) serta dampak buruknya
semua jenis kemoterapi sudah disahkan oleh DepKes di negara bersangkutan, maka akan
menjadi suatu regimen standart, sedangkan bila masih dalam penelitian disat pengobatan
kanker, belum disahkan disebut regimen kemoterapi dalam uji klinik (clinical trial).
2. Cara Pemberian Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik, sebagian besar diberikan dengan cara
injeksi kedalam pembuluh balik vena, sebagian kecil dapat berupa tablet/kapsul dan kadang-

kadang ada yang diberikan subkutan atau suntik bawah kulit, serta intratekal (diinjeksikan
ke dalam sistem syaraf) dan jarang sekali yang disuntikkan ke otot (intramuskular).
Apabila pasien diberikan suntikan intravena, seringkali digunakan kateter atau selang
plastik ke dalam vena untuk mencegah kerusakan vena serta mempermudah injeksi.
Kemoterapi diberikan secara siklit, dapat secara mingguan, dua mingguan 3-4 mingguan.
Pasien yang mendapatkan kemoterapi dosis tinggi diberikan dalam unit rawat inap. Kondisi
pasien juga menentukan apakah dapat diberikan dirawat jalan atau rawat inap. Jenis dan
jangka waktu kemoterapi tergantung pada jenis kanker dan obat yang digunakan.
Terdapat banyak jenis obat kemoterapi yang digunakan untuk merawat kanker. Obat
kemoterapi sebenarnya banyak yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan seperti contohnya
obat Paclitaxel yang digunakan untuk merawat banyak jenis kanker. Terdapat banyak jenis
obat kemoterapi yang mempunyai perbedaan dari cara obat mematikan sel-sel kanker.
Umumnya, semua obat kemoterapi mematikan sel kanker dengan cara menghentikan proses
pembiakan sel kanker. Ini dilakukan denagn cara merusak DNA ataupun calon sel-sel kanker
melalui berbagai cara seperti mengikat (cross-linking) ataupun memotong DNA tersebut.
Akibat dari kerusakan ini, maka sel-sel kanker akan mati.
Kadangkala, obat-obat kemoterapi tidak dapat membedakan di antara sel-sel kanker
dan sel-sel normal yang juga cepat membiak seperti sel-sel dinding usus,mulut, organ
reproduktif terutama ovari, sel-sel rambut dan juga sel-sel sumsum tulang. Obat-obat untuk
terapi kanker dipilih dari beberapa kelas obat, termasuk hormon, antimetabolit, alkaloid
nabati, dan agen alkilasi. Semua senyawa baru diteliti pada binatang untuk nilai
kemanjurannya dalam menekan pertumbuhan tumor dan toksisitasnya.
Sebelum mulai terapi, kadar asam urat dan kreatinin serum harus diukur, hidrasi yang
cukup harus dimantapkan, dan alopurinol (inhibitor xantin oksidase) harus diberikan, bila
perlu, untuk menurunkan kadar asam urat sampai rentang normal. Pada sindrom lisis tumor,
fosfat dan kalium juga dibebaskan ke dalam sirkulasi dalam jumlah besar waktu sel-sel
mengalami lisis akibat terapi. Hoperfosfatemia, hipokalsemia, dan hiperkalemia simtomatik
muncul bila keadaan fungsi ginjal tidak memadai.

3. Manfaat Kemoterapi
a. Pengobatan: Beberapa jenis kanker dapat desembuhkan secara tuntas dengan satu jenis
kemoterapi atau beberapa jenis kemoterapi.
b. Kontrol: Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan sel kanker
agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain.
c. Mengurangi Gejala: Bila kemoterapi tidak dapat menghilangkan kanker, maka
kemoterapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada pasien,
seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik, serta memperkecil
ukuran kanker pada daerah yang diserang.
Sampai saat ini, tidak semua kanker mendapat manfaat dari kemoterapi. Berikut ini rincian
beberapa manfaat kemoterapi pada berbagai jenis kanker.
a.

b.
1)
2)
3)
4)
5)
c.
1)
2)
3)
4)
5)
d.
1)
2)
3)

Kemoterapi sangat bermanfaat (karena dapat sembuh atau hidup lama)


1) Penyakit Hodgkin
2) Non Hodgkin limfoma jenis large sel
3) Kanker testis jenis germ sel
4) Leukimia dan limfoma pada anak
Kemoterapi bermanfaat (karena dapat dikendalikan cukup lama, kadang-kadang sembuh)
Kanker payudara
Kanker ovarium
Kanker paru jenis small sel
Limfoma non Hodgkin
Multiple Mieloma
Kemoterapi bermanfaat untuk paliatif (dapat mengulang gejala)
Kanker nasofaring
Kanker prostat
Kanker endometrium
Kanker leher dan kepala
Kanker paru jenis non small sel
Kemoterapi kadangkala bermanfaat
Kanker nasofaring
Melanoma
Kanker usus besar
Mengingat keterbatasan kemoterapi, maka digunakan kombinasi dengan cara

pengobatan lain, yaitu :


a.

Kemoterapi adjuvant: Kemoterapi yang diberikan sesudah operasi. Manfaatnya

b.

mengurangi kekambuhan lokal dan mengurangi penyebaran yang akan timbul.


Kemoterapi neo adjuvant: Kemoterapi yang diberikan sebelum operasi, manfaatnya
adalah untuk mengurangi ukuran tumor sehingga mudah dioperasi.

c.

Kemoterapi paliatif: Kemoterapi yang diberikan hanya untuk mengurangi besarnya tumor
yang dalam hal ini karena atau lokasinya mengganggu pasien karena nyeri atapun sulit
bernafas.

4. Komplikasi Kemoterapi
Tubuh manusia terdiri dari organ-organ tubuh. Organ tubuh terdiri dari jaringan dan
jaringan dari sel tubuh yang berubah atau mutasi menjadi ganas. Dan membelah terus
terkendali dan menjadi besar mendobrak, merusak, jaringan di sekitarnya dan akhirnya
menyebar, bersarang di organ lain dan mengulangi pertumbuhan seperti tempat semula. Sel
kanker inilah yang menjadi target obat kemoterapi.
Akibat dari kemoterapi bermacam-macam tergantung jenisnya, dosis besar dan ganda
mempunyai akibat akan lebih besar dan sebagainya. Kemoterapi sel kanker akan
menyebabkan sel kanker juga beberapa jenis sel yang sehat yang juga sedang membelah
atau tumbuk mengalami kerusakan. Namun sel kanker akan mengalami kerusakan lebih
parah dibanding kerusakan yang terjadi pada sel sehat. Setelah beberapa periode 1-3 minggu
sel sehat akan segera pulih dan sel kanker juga akan pulih kembali namun mengalami
kerusakan berarti, atas dasar inilah obat anti kanker dipergunakan.
Untuk mencegah kerusakan permanen dari sel sehat, obat kanker tidak bisa diberikan
sekaligus 4-8 siklus. Hal ini dimaksudkan untuk memulihkan sel sehat. Dilain pihak
berangsur mengecilkan sel kanker sehingga sel kanker menjadi sangat kecil, tidak terlihat
lagi dan bisa dihancurkan dengan sinar atau dihilangkan dengan operasi.
Secara umum obat anti kanker mempunyai akibat terhadap sel kanker yang sedang
cepat membelah itu, namun sel sehat yang cepat membelah pun termasuk kena akibat obat
anti kanker tersebut. Diantara sel yang sehat yang terkena dampak dari kemoterapi adalah
sel darah yang fungsinya adalah memerangi infeksi, membantu proses pembekuan dan
membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Berikut ini adalah beberapa efek samping kemoterapi tang bisa timbul pada pasien :
a.

Lemas: Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan.
Tidak langsung menghilang dengan istirahat, kadang berlangsung hingga akhir
pengobatan. Lemas ini dikarenakan kurangnya energi yang dibakar oleh oksigen dalam
darah.

b.

Mual dan muntah: Ada beberapa obat kemoterapi yang membuat mual dan muntah.
Selain itu ada beberapa orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini
dapat dicegah dengan obat anti mual yang diberikan sebelum/selama/sesudah pengobatan
kemoterapi. Mual dan muntah dapat berlangsung singkat maupun lama. Perasaan mual
dan muntah ini dikarenakan sel-sel pada saluran pencernaan juga cepat membelah,
sehingga akibat gangguan saluran cerna, pasien akan tidak merasa tidak nafsu makan,

c.

mual dan muntah.


Gangguan pencernaan: Beberapa obat kemoterapi memberikan efek diare. Bahkan ada
yang menjadi diare disertai dehidrasi berat yang harus segera dirawat. Kadang juga
terjadi sembelit. Bila diare, kurangi makanan berserat, sereal, buah dan sayur. Minum
banyak untuk mengganti cairan yang hilang. Bila terjadi konstipasi, perbanyak makanan

d.

berserat, olahraga ringan bila memungkinkan.


Sariawan: Beberapa obat kemoterapi mempunyai dampak dapat menyebabkan penyakit
mulut seperti terasa tebal, atau infeksi. Hal ini dikarenakan sel-sel mukosa yang berada di

e.

mulut juga akan mengalami pembelahan yang cepat.


Rambut rontok: Rambut rontok bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu
setelah kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah dekat kulit kepala.
Dapat terjadi setelah beberapa minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah

f.

kemoterapi selesai.
Otot dan syaraf: Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada

g.

jari tangan atau kaki serta kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.
Efek pada darah: Beberapa obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang
yang merupakan pabrik pembuat sel darah merah, sehingga jumlah sel darah merah
menjadi menurun. Yang paling sering adalah penurunan jumlah sel darah putih (leukosit).
Penurunan sel darah terjadi pada setiap kemoterapi dan tes darah akan dilaksanakan
sebelum pelaksanaan kemoterapi berikutnya untuk memastikan jumlah sel darah telah
kembali normal. Penurunan jumlah sel darah akan mengakibatkan :
1) Mudah terkena infeksi: Hal ini disebabkan karena jumlah leukosit yang turun, karena
leukosit adalah sel darah yang berfungsi untuk perlindunagn terhadap infeksi.
2) Perdarahan: Keping darah (trombosit) berperan dalam proses pembekuan darah.
Penurunan jumlah trombosit akan mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, bercak,
dan lebem di kulit.

3) Anemia: Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh
penurunan Hb (hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah. Akibat
h.

anemia, seseorang dapat menjadi mudah lelah, pucat dan lemah.


Kulit dapat menjadi kering, berubah warna, lebih sensitive terhadap matahari, kuku
tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.

5. Perawatan Paliatif dalam Kemoterapi


Strategi perang melawan kanker yang terbaik ialah dengan pencegahan seperti juga
pada penyakit-penyakit lain. Tetapi kalau penyakit kanker itu telah dalam stadium lanjut,
atau telah menyebar luas ke berbagai bagian tubuh, maka sulitlah, bahkan dapat dikatakan
tidak mungkin untuk disembuhkan, sekalipun dengan teknologi kedokteran yang canggih.
Semakin lanjut stadiumnya akan memberikan penderitaan yang makin berat. Kadang-kadang
penderitaan itu tidak tertahankan oleh penderita. Karena beratnya penderitaan yang
dideritanya, ia nekad mencoba bunuh diri. Penderitaan itu tidak saja dirasakan oleh penderita
sendiri, akan tetapi juga oleh keluarganya. Kalau kanker itu sudah menyebar ke berbagai
bagian tubuh atau ke berbagai organ tubuh kita, sebagaimana dikatakan tadi tidak mungkin
lagi disembuhkan. Kalau kita terus mengupayakan dengan berbagai cara pengobatan dengan
harapan dapat sembuh, yang kita dapatkan ialah bertambahnya penderitaan.
Pengobatan kanker dengan cara apa pun selalu memberikan efek samping yang
menyebabkan penderita tidak nyaman. Pembedahan dan pasca bedah tentu akan
menyebabkan nyeri. Dalam keadaan seperti ini hanyalah perawatan paliatif yang dapat
dikerjakan secara manusiawi, realistik, dan rasional. Perawatan paliatif merupakan sistem
perawatan terpadu yang meningkatkan kualitas hidup, dengan meringankan nyeri dan
penderitaan lain, memberikan dukungan spiritual dan psikososial mulai saat diagnosa
ditegakkan sampai akhir hidup, dan dukungan terhadap keluarga yang merasa kehilangan.
Menjadi hak semua pasien untuk mendapatkan perawatan yang terbaik sampai akhir
hayatnya. Penderita kanker yang dalam stadium lanjut atau tidak berangsur-angsur sembuh
perlu mendapat pelayanan kesehatan sehingga penderitaannya dapat dikurangi. Pelayanan
yang diberikan harus dapat meningkatkan kualitas hidup yang optimal, sehingga pasien
dapat meninggal dengan tenang dalam iman. Dalam definisi dan falsafah yang mendasari
perawatan paliatif, disebut-sebut selain masalah fisik, misalnya nyeri, juga masalah

psikologis, sosial, dan spiritual. Hal ini didasarkan kepada manusia sebenarnya tidak hanya
terdiri dari unsur fisik saja, tetapi juga psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Berbagai
unsur ini saling berhubungan dan saling memperngaruhi. Karenanya bila salah satu unsur ini
mengalami gangguan, maka unsur lainnya akan ikut terganggu Penderitalah yang berhak
pertama kali mengetahui tentang penyakitnya dan pengobatan apa yang akan diberikan
padanya. Ia pula yang berhak menentukan pengobatan mana yang akan diterima dan mana
yang ditolak, setelah pasien mendapatkan informasi yang jelas. Tanpa tim yang mampu
melaksanakan perawatan total (total care) atau perawatan holistik (holistic care) seperti ini,
yang merupakan persyaratan dalam pelaksanaan perawatan paliatif, tidak mungkin kita akan
meningkatkan kualitas hidup penderita dan keluarganya.