Anda di halaman 1dari 19

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

LAPORAN KASUS
AGUSTUS 2016

HORDEOLUM EXTERNA

OLEH :
MUSFIRAH HATTA, S.KED
10542 0302 11

PEMBIMBING :
dr. Sitti Soraya, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: Musfirah Hatta, S.Ked

NIM

: 10542 0302 11

Kasus

: Hordeolum externa

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Agustus 2016

Pembimbing

(dr. Sitti Soraya, Sp.M)

BAB I
PENDAHULUAN
Kelopak mata adalah bagian mata yang sangat penting. Kelopak mata
melindungi kornea dan berfungsi dalam pendisribusian dan eliminasi air mata.
Penutupan kelopak mata berguna untuk menyalurkan air mata ke seluruh
permukaan mata dan memompa air mata melalui punctum lakrimalis.
Kelainan yang didapat pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari yang
jinak sampai keganasan, proses inflamasi, infeksi mau pun masalah struktur
seperti ektropion, entropion dan blepharoptosis. Untungnya, kebanyakan dari
kelainan kelopak mata tidak mengancam jiwa atau pun mengancam penglihatan.1
Hordeolum adalah salah satu penyakit yang cukup sering terjadi pada kelopak
mata. Secara klinis kelainan ini sering sulit dibedakan dengan kalazion akut.
Hordeolum merupakan infeksi lokal atau proses peradangan pada kelopak mata.
Bila kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum, sedangkan bila
kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka disebut hordeolum eksternum.2
Hordeolum biasanya menyerang pada dewasa muda, namun dapat juga terjadi
pada semua umur, terutama orang-orang dengan taraf kesehatan yang kurang.
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata, bagian atas
maupun bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri, biasanya oleh kuman
Stafilokokus.1 Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum
merupakan jenis penyakit infeksi kelopak mata yang paling sering ditemukan
pada praktek kedokteran. Insidensi tidak bergantung pada ras dan jenis kelamin.
Penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, angka kejadian
paling banyak ditemukan pada anak usia sekolah. Hordeolum dapat timbul pada
satu kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar kelopak mata tersebut meliputi
kelenjar Meibom, kelenjar Zeis dan Moll.2-5
Dikenal 2 bentuk hordeolum, yaitu hordeolum internum dan eksternum.
Hordeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar zeis atau moll dengan
penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak. Hordeolum internum merupakan

infeksi kelenjar meibom dengan penonjolan terutama ke daerah konjungtiva


tarsal.1,3,4.5
Penderita hordeolum biasanya menunjukan gejala radang pada kelopak
mata seperti bengkak, terasa mengganjal, kemerahan disertai nyeri jika ditekan.
Nyeri yang dirasakan berupa rasa terbakar, menusuk atau hanya berupa perasaan
tidak nyaman.1,5
Pada umumnya hordeolum dapat sembuh sendiri (self-limited). Namun tak
jarang memerlukan pengobatan secara khusus, obat topikal dan antibiotik topikal
maupun obat antibiotika sistemik.2,3 Jika tidak membaik perlu dilakukan insisi
pada daerah abses dengan fluktuasi terbesar. Hordeolum dapat dicegah dengan
cara mencuci tangan terlebih dahulu ketika hendak menyentuh mata atau
kelopaknya.Penyulit hordeolum dapat berupa selulitis palpebra yang merupakan
radang jaringan ikat jarang palpebra di depan septum orbita dan abses palpebra.1,3

BAB II
LAPORAN KASUS

A.

Identitas Pasien
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Pemeriksaan

:I
: Laki-laki
: 32 tahun
: Islam
: Buruh
: Sanrangang
: 25 Juli 2016

B. Anamnesis
Keluhan Utama : benjolan dikelopak bawah mata kiri

Anamnesis Terpimpin : Pasien datang ke poli mata RS. Syech Yusuf dengan
keluhan adanya benjolan dikelopak bawah mata kiri sejak 1 bulan yang lalu, ,
Awalnya berupa benjolan kecil kemerahan kemudian semakin lama semakin
besar hingga menjadi merah dan bengkak. Keluhan penglihatan kabur (-), air
mata berlebih(-), kotoran mata mata berlebih (-). Pasien memiliki riwayat
alergi telur.
Riwayat Penyakit Terdahulu :
Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama sebelumnya (-). Riwayat trauma
(-). Riwayat alergi (+).
Riwayat Pengobatan :
Tidak ada riwayat pengobatan
Riwayat Penyakit Keluarga dan sosial :
Terdapat riwayat penyakit yang sama pada keluarga pasien yaitu adik pasien.

C. Status General
Kepala

: Bentuk bulat,simetris, Rambut tidak mudah dicabut

Mata

: Lihat status oftalmologis

Leher

: Tidak ada pembesaran KGB dan nyeri tekan (-)

Thoraks

: Simetris kiri dan kanan

Pulmo

: Ronkhi -/-, Wheezing -/-

Jantung

: Dalam batas normal

Abdomen : Dalam batas normal


Ekstremitas : Dalam batas normal
D. Status Lokalisasi Oftalmologis
Palpebra
superior
Palpebra
inferior
Silia

OD

OS

Edema (-)

Edema (-)

Edema (-)
Hiperemis (-)

Edema (+), benjolan (+)


hiperemis (+)

Normal, sekret (-)

Normal, sekret (-)

Apparatus
Lakrimalis
Konjungtiva

lakrimasi (-)

lakrimasi (-)

Hiperemis (-)

Hiperemis(-)

Normal

Normal

Jernih

Jernih

Normal

Normal

Coklat, Kripte (+)

Coklat, kripte (+)

Pupil

Bulat, Sentral

Bulat, Sentral

Lensa

Jernih

Jernih

Bola mata
Kornea
BilikMata
Depan
Iris

Mekanisme

Ke

muscular

Ke segala arah

segala
arah

E. Pemeriksaan Palpasi
Palpasi

OD

OS

Tensi Okuler

Tn

Tn

Nyeri tekan

(-)

(-)

Nyeri pergerakan
Massa /tumor

(-)
(-)

(-)
(-)

Tidak ada pembesaran

Tidak ada pembesaran

Glandula preaurikuler

F. Tonometri
Tidak dilakukan pemeriksaan
G. Visus
VOD : 20/50
VOS : 1/300
H. Pemeriksaan Slit Lamp

a. SLOD : Palpebra edema (-), konjungtiva hiperemis (-), injeksio konjungtiva


(-), kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat
sentral (+), lensa jernih (+).
b. SLOS : Palpebra edema (+), konjungtiva hiperemis (-), injeksio konjungtiva
(-), kornea keruh, BMD kesan normal, iris coklat, kripte (+), pupil bulat
sentral (+), lensa jernih (+).
I.

Diagnosis Kerja
Hordeolum Externa palpebra inferior
J. Diagnosis Banding
- Hordeolum interna
- Kalazion
K. Penatalaksanaan
- LFX ED 1 x 1 tetes OS
- Ciprofloxacin 2 x 1
- Metil Prednisolon 3 x 1
- Planning : Eviserasi
L. Prognosis
- Ad vitam : bonam
- Ad functionam : bonam
- Ad sanationam : dubia ad bonam
- Ad cosmeticum : dubia ad bonam

RESUME
Pasien datang ke Poliklinik mata RS. Syekh Yusuf dengan keluhan
penglihatan kabur pada mata kiri yang sudah dirasakan sejak sebulan terakhir.
Awalnya pasien merasakan gatal sehingga pasien sering menggosok-gosok
matanya hingga menjadi merah dan lama kelamaan timbul nanah. Pasien juga
merasa mata kirinya seperti mau keluar. Riwayat airmata dan kotoran mata
berlebih disangkal pasien. Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama
sebelumnya tidak ada. Riwayat trauma tidak ada.
Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan konjugtiva inferior hiperemis
dan kornea keruh pada mata kiri serta penurunan visus dimana pasien hanya dapat
melihat lambaian tangan.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
HORDEOULUM EXTERNA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI PALPEBRA


Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat
menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea
dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata;
palpebra inferior menyatu dengan pipi.
Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam
terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan
fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva pelpebrae).5
1. Kulit
Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis,
longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.
2. Muskulus Orbikularis okuli
Fungsi otot ini adalah untuk munutup palpebra. Serat ototnya mengelilingi
fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian
orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat
di dalam palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal; bagian diatas septum
orbitae adalah bagian praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian
orbita. Orbikularis okuli dipersarafi oleh nervus facialis.
3. Jaringan Areolar
Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan degan lapis
subaponeurotik dari kujlit kepala.
4. Tarsus

Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa


padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan
penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak
atas dan 20 buah di kelopak bawah).
5. Konjungtiva Palpebrae
Bagian posterior palpebrae dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva
palpebra, yang melekat erat pada tarsus.
Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi
tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss
dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara
dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Glandula Moll adalah modifikasi
kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata. Tepian
posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang tepian ini terdapat muaramuara kecil dari kelenjar sebasesa yang telah dimodifikasi (glandula Meibom atau
tarsal)
Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior
palpebra. Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui
kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis.
Fisura palpebrae adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang dibuka.
Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus lateralis kira-kira 0,5
cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam.
Septum orbitale adalah fascia di belakang bagian muskularis orbikularis
yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar antara
palpebra orbita. Septum orbitale superius menyatu dengan tendo dari levator
palpebra superior dan tarsus superior; septum orbitale inferius menyatu dengan
tarsus inferior.5
Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior,
bagian otot rangka adalah levator palpebra superioris, yang berasal dari apeks
orbita dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan

bagian yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari muskulus
Muller (tarsalis superior). Di palpebra inferior, retraktor utama adalah muskulus
rektus inferior, yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus meuskulus
obliqus inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan
orbikularis okuli. Otot polos dari retraktor palpebrae disarafi oleh nervus simpatis.
Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotoris.
Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra.
Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V,
sedang kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V. 6

Gambar 1. Anatomi palpebra 6

B. DEFINISI
Hordeolum ( stye ) adalah infeksi atau peradangan pada kelenjar di tepi
kelopak mata bagian atas maupun bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri,
biasanya oleh kuman Stafilokokus (Staphylococcus aureus). Hordeolum dapat
timbul pada 1 kelenjar kelopak mata atau lebih. Kelenjar kelopak mata tersebut
meliputi kelenjar Meibom, kelenjar Zeis dan Moll.
Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Bila kelenjar Meibom
yang terkena, timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna.

10

Sedangkan hordeolum eksterna yang lebih kecil dan lebih superfisial adalah
infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.5

Gambar 2. Anatomi kelenjar palpebra 7

Hordeolum Eksternum
Adalah infeksi kelenjar sebaceous dari Zeis di dasar bulu mata,
atau infeksi pada kelenjar keringat apokrin dari Moll. [1Hordeolum
eksternum terbentuk pada bagian luar palpebra dan dapat dilihat sebagai
benjolan merah kecil.3
Hordeolum Internum
Adalah infeksi pada kelenjar sebaceous meibom yang melapisi
bagian dalam kelopak mata. Penyakit ini juga menyebabkan benjolan
merah di bawah palpebra (pada konjunctiva tarsalis) dan tampak dari luar
sebagai bengkak dan kemerahan. Hordeolum internum mirip dengan
chalazia, tetapi cenderung lebih kecil dan lebih menyakitkan dan biasanya
tidak menghasilkan kerusakan permanen. Hordeolum internum ditandai
dengan onset akut dan biasanya pendek durasinya (7-10 hari tanpa
pengobatan) dibandingkan dengan chalazia yang kronis dan biasanya tidak
sembuh tanpa intervensi.4

11

Gb 3. Hordeolum eksterna10

Gb 4. Hordeolum interna 2
Pada hordeolum eksternus benjolan ikut bergerak dengan pergerakan kulit,
benjolan menonjol ke arah kulit, dan bila mengalami supurasi benjolanmemecah
sendiri ke arah kulit. Sedangkan pada hordeolum internus benjolan tidak ikut
bergerak dengan pergerakan kulit, benjolan menonjol ke arah konjungtiva dan
karena letaknya dalamtarsus jarang memecah sendiri.

C. ETIOPATOGENESIS
Hordeolum merupakan

infeksi

yang

disebabkan

oleh

bakteri

Staphylococcus dan Streptoccocus pada kelenjar sebasea kelopak mata.


Staphylococcus aureus merupakan agent infeksi pada 90-95% kasus
hordeolum. 1,3
Hordeolum disebabkan oleh adanya infeksi dari bakteri Staphylococcus
aureus yang akan menyebabkan inflamasi pada kelenjar kelopak mata. Hordeolum
externum timbul dari blokade dan infeksi dari kelenjar Zeiss atau Moll.
Hordeolum internum timbul dari infeksi pada kelenjar Meibom yang terletak di

12

dalam tarsus. Obstruksi dari kelenjar-kelenjar ini memberikan reaksi pada tarsus
dan jaringan sekitarnya. Kedua tipe hordeolum dapat timbul dari komplikasi
blefaritis. Apabila infeksi pada kelenjar Meibom mengalami infeksi sekunder dan
inflamasi supuratif dapat menyebabkan komplikasi konjungtiva. 2
D. FAKTOR RESIKO 4
1. Penyakit kronik.
2. Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk.
3. Peradangan kelopak mata kronik, seperti Blefaritis.
4. Diabetes
5. Hiperlipidemia, termasuk hiperkolesterolemia.
6. Riwayat hordeolum sebelumnya
7. Higiene dan lingkungan yang tidak bersih
8. Kondisi kulit seperti dermatitis seboroik. 4

E. GEJALA KLINIS
Keluhan utama dapat berupa bengkak dan kemerahan pada kelopak mata yang
terasa nyeri untuk hoedeolum internum, dan bisul atau benjolan kmerahan, dapat
disertai nanah atau tidak pada hordeolum eksternum
GEJALA TAMBAHAN
Selain keluhan utama diatas hordeolum juga dapat disertai dengan
beberapa gejala tambahan, yaitu :

Benjolan di kelopak mata atas atau bawah


Pembengkakan lokal kelopak mata
Nyeri lokal kelopak mata
Kemerahan pada kelopak mata
Nyeri sentuh
Pengerasan kulit dari margo kelopak mata
Sensasi terbakar di mata
Terasa berat pada kelopak mata
Gatal pada bola mata
Iritasi pada mata
13

sensitivitas cahaya
Tearing
Ketidaknyamanan selama berkedip
Sensasi benda asing di mata

F. PENATALAKSANAAN
Biasanya hordeolum dapat sembuh dengan sendiri dalam waktu 5-7 hari.8
Umum
1. Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untuk
membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup.
2. Bersihkan kelopak mata dengan air bersih atau pun dengan sabun atau
sampo yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat
mempercepat proses penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup.
3. Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan
infeksi yang lebih serius.
4. Hindari pemakaian makeup pada mata, karena kemungkinan hal itu
menjadi penyebab infeksi.
5. Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke
kornea.
Obat
Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam tidak
ada perbaikan, dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah hordeolum.
1. Antibiotik topikal.
Bacitracin atau tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam selama 7-10
hari. 3
Dapat juga diberikan eritromicin salep mata untuk kasus hordeolum
eksterna dan hordeolum interna ringan.9
2. Antibiotik sistemik

14

Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda


pembesaran kelenjar limfe di preauricular. 3
Pada kasus hordeolum internum dengan kasus yang sedang sampai berat.
Dapat diberikan cephalexin atau dicloxacilin 500 mg per oral 4 kali sehari
selama 7 hari. Bila alergi penisilin atau cephalosporin dapat diberikan
clindamycin 300 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari atau klaritromycin
500 mg 2 kali sehari selama 7 hari.5
Pembedahan
Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur
pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada hordeolum. 8
Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal dengan pantokain
tetes mata. Dilakukan anestesi filtrasi dengan prokain atau lidokain di daerah
hordeolum dan dilakukan insisi yang bila: 6
-

Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus
pada margo palpebra.

Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.


Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi

jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberikan salep antibiotik.6

E. DIAGNOSIS BANDING
Beberapa diagnosis banding untuk keluhan diatas (menurut Andrew T. Raftery) :

15

Hordeolum Interna
Kalazion
Blepharitis12,13
Kalazion
Kalazion merupakan peradangan lipogranulomatosa kelenjar meibom yang
tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar meibom dengan infeksi
ringan yang mengakibatkan peradangan kronis kelenjar tersebut. Pada kalazion
terbentuk nodul pada palpebra yang bersifat keras dan tidak nyeri.9
Awalnya dapat berupa radang ringan dan nyeri tekan mirip hordeolumdibedakan dari hordeolum karena tidak ada tanda-tanda radang akut. Kalazion
cenderung membesar lebih jauh dari tepi kelopak mata daripada hordeolum.
Selain itu, kalazion berbeda dengan hordeolum dimana biasanya tidak
menimbulkan rasa sakit meskipun terasa kekakuan akibat pembengkakan, serta
berbeda dari segi ukurannya. Kalazion cenderung lebih besar dari hordeolum

Gambar 2. Kalazion di palpebra superior


Kalazion akan memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak
hiperemi, tidak ada nyeri tekan, dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preurikel tidak
membesar. Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat
tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut9

H. KOMPLIKASI

16

Komplikasi

hordeolum

dapat

berupa

mata

kering,,

abses,

dan

selulitis palpebra yang merupakan radang jaringan ikat jarang palpebra di depan
septum orbita dan abses palpebra.8
I. PENCEGAHAN
Jaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum
menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang. 1,5
Usap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap hangat untuk
membersihkan ekskresi kelenjar lemak.
Jaga kebersihan peralatan make-up mata agar tidak terkontaminasi oleh
kuman.
Gunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu.

17

KESIMPULAN
Hordeolum merupakan infeksi lokal atau proses peradangan pada kelopak
mata. Bila kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum, sedangkan
bila kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka disebut hordeolum eksternum.
Staphylococcus aureus adalah agent infeksi pada 90-95% kasus
hordeolum.
Gejala dan tanda hordeolum antara lain bengkak, nyeri pada kelopak mata,
perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata, memiliki riwayat
penyakit yang sama, eritema, edem, nyeri bila ditekan di dekat pangkal bulu
mata. Seperti gambaran absces kecil.
Penatalaksanaan terdiri dari perawatan umum seperti kompres hangat,
antibiotik topikal atau pun sistemik dan pembedahan.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas HS. Hordeolum. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta, 2004 : 92-4.
2. Sidarta, I. Ilmu Penyakit Mata, Edisi III, Cetakan I, Balai Penerbit FK UI,
Jakarta. 2004: Hal 92-94
3. Emergency

Medicine

News.

http://journals.lww.com/em-

news/Fulltext/2002/06000/Diagnosis__A_Hordeolum.8.aspx.

diakses

tanggal 19 mei 2016


4. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika,
Jakarta, 2000: Hal 17-20
5. Sidarta, I, dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata, Cetakan III, Balai Penerbit FK
UI, Jakarta 2003: Hal15 -16
6. Ilyas HS. Hordeolum. Dalam : Ilmu Perawatan Mata. Sagung Seto.
Jakarta, 2004 : 96-7.
7. Raftery AT., Lim, Eric., Churchills Pocketbook of Differential Diagnosis.
Elseviers : 2010
8. Yanoff, M., Duker, J. Textbook Of Ophtalmology. Moaby Elseviers : 2010
9. A. P. Watson, Treatment of chalazions with injection of a steroid
suspension.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1040480/pdf/br
jopthal00155-0093.pdf diakses tgl 20 mei 2016
10. Ilyas, Sidarta,Prof.dr.H. SpM. Ilmu penyakit Mata, FKUI, 2002.

19