Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH

PENILAIAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB


DEWASA BTA (+) DI PUSKEMAS GATAK KABUPATEN SUKOHARJO
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan
Program Profesi Dokter Stase Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing :
Drg.Tri Prasetyo, M.M

Disusun oleh:
Rizma Alfiani Rachmi

(J510155024)

Safira Tsaqifani Lathifah

(J510155044)

Rezita Oktiana Rahmawati

(J510155079)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016

MAKALAH
PENILAIAN KEBERHASILAN PENGOBATAN PENDERITA TB
DEWASA BTA (+) DI PUSKEMAS GATAK KABUPATEN SUKOHARJO

Diajukan Oleh :
Rizma Alfiani Rachmi

(J510155024)

Safira Tsaqifani Lathifah

(J510155044)

Rezita Oktiana Rahmawati

(J510155079)

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari

,tanggal

Pembimbing
Drg.Tri Prasetyo, M.M

(.................................)

Penguji
Dr.Shoim Dasuki, M.Kes

(.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :


dr.Dona Dewi Nirlawati

(.................................)

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya
serta shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan kepada nabi kita Muhammad
SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Ilmu Kesehatan Masyarakat
(IKM) dengan judul Penilaian Keberhasilan Pengobatan Penderita TB Dewasa
BTA (+) di Puskesmas Gatak Kabupaten Sukoharjo.
Penulis menyadari bahwa penulisan tugas ini masih jauh dari sempurna,
saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis
berharap semoga penulisan tugas ini dapat menambah pengetahuan bagi pembaca
sekalian.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Sukoharjo, 17 Oktober 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Penyakit tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat. TB adalah suatu penyakit infeksi yang
disebabkan bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama
Mycobacterium tuberculosis dan ditularkan melalui perantara droplet udara
(Hiswani, 2004).
Mycobacterium tuberkulosis telah menginfeksi sepertiga pendudiuk dunia.
Pada Tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TB karena
pada sebagian besar negara di dunia. Penyakit TB tidak terkendali, ini disebabkan
banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita
menular / BTA (+). Pada tahun 1995 diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 9
juta penderita baru TBC dengan kematian 3 juta orang. Jumlah penderita TB
diperkirakan akan meningkat seiring dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di
dunia (Depkes RI, 2002; Kemenkes RI, 2011).
Tahun 1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru
TB dengan kematian karena TB sekitar 140.000. Secara kasar diperkirakan setiap
100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TB paru BTA (+)
(Depkes RI, 2002; Girsang, 2002; Permatasari, 2005). Seorang penderita TB aktif
dapat menularkan basil TB kepada 10 orang di sekitarnya dalam kurun waktu 1
tahun. (Girsang, 2002; Permatasari, 2005). Pengobatan yang tidak teratur dan
kombinasi obat yang tidak lengkap diduga telah menimbulkan kekebalan ganda
kuman TB terhadap obat Antituberkulosis (OAT) atau Multi Drug Resistance
(MDR) (Depkes RI, 2002; Hiswani, 2004; Kemenkes RI, 2011).
Penyakit Tuberculosis (TBC) merupakan penyebab kematian terbanyak
dibanding dengan penyakit infeksi lain. Di Indonesia TBC merupakan penyebab
kematian peringkat ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit
pernafasan serta menjadi peringkat pertama dari golongan penyakit infeksi. Setiap
tahunnya, WHO memperkirakan terjadi 583.000 kasus TBC baru di Indonesia dan
kematian karena TBC sekitar 140.000 orang (Depkes, 2008). Sumber penularan
adalah penderita TBC BTA (Basil Tahan Asam) positif pada waktu batuk atau

bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet. Orang


dapat terinfeksi kalau droplet terhirup ke dalam saluran pernafasan (Depkes,
2008).
Adanya fenomena insidensi dan prevalensi kasus TBC di seluruh dunia,
yang dikenal sebagai fenomena TBC global, telah mendorong Badan Kesehatan
Dunia (WHO) mendeklarasikan global health emergency pada bulan maret 1993,
untuk menyadarkan dunia bahwa kita sedang menghadapi ancaman serius
penyakit TBC. Pada bulan September 2000, diselenggarakan Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang di ikuti oleh
189 negara anggota. Konferensi itu menyepakati untuk mengadopsi tujuan
Pembangunan Milenium atau Milenium Development Goals (MDGs). MDGs
memiliki 8 tujuan yang ingin dicapai sampai dengan tahun 2015, salah satunya
adalah memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lain seperti TBC dan
lain-lain.
Dengan adanya MDGs ini, diharapkan dapat membantu mengurangi
masalah yang ada khususnya mengenai insidensi dan prevalensi penyakit Sebagai
tenaga kesehatan, tentunya kita juga memiliki tanggung jawab sendiri untuk
mencapai tujuan MDGs tersebut khususnya dalam kasus pencegahan insidensi
penyakit TBC. Oleh karena itu, menyadarkan masyarakat akan pentingnya hidup
sehat merupakan pokok utama yang harus dilakukan sebagai upaya pencegahan
dini terhadap penularan penyakit TBC ini.
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana penanggulangan faktor risiko yang menyebabkan penularan
Tuberkulosis di Puskesmas Gatak Kabupaten Sukoharjo ?
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengetahui penanggulangan faktor risiko yang menyebabkan
penularan Tuberkulosis di Puskesmas Gatak Kabupaten Sukoharjo.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui peran puskesmas Gatak sebagai pelayanan kesehatan
tingkat dasar dalam menyikapi tingginya kasus Tuberkulosis (TB)

b. Mengetahui tugas dan peran petugas kesehatan, kader dan


masyarakat dalam menyikapi tingginya kasus Tuberkulosis (TB) di
puskesmas Gatak.
c. Mengetahui prioritas masalah yang menyebabkan peningkatan kasus
Tuberkulosis di Puskesmas Gatak
d. Menyusun rencana tindak lanjut pemecahan prioritas masalah yang
menyebabkan peningkatan kasus Tuberkulosis di Puskesmas Gatak
D. MANFAAT
1. Memberi masukan bagi puskemas Gatak tentang masalah-masalah yang
terjadi di puskesmas berkaitan dengan program pengendalian penyakit
TB, serta alternatif penanggulangannya.
2. Mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala dan hambatan dalam
pelaksanaan program pengendalian penyakit TB di Puskesmas.
3. Membantu penulis untuk memahami manajemen dan pelaksanaan dari
program pengendalian penyakit untuk mengatasi permasalahan TB.
4. Menambah pengetahuan penulis mengenai pelaksanaan program
pengendalian penyakit TB secara komprehensif.
E. KHALAYAK SASARAN
1. Kepala Puskesmas dan staff Puskesmas khususnya pemegang P2ML di
Puskesmas Gatak Kabupaten Sukoharjo
2. Petugas kesehatan, kader posyandu puskesmas Gatak dan seluruh lapisan
masyarakat di kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tuberkulosis
1 Definisi
Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit yang disebabkan
bakteri Mycobacterium tuberculosis, dapat menular secara langsung
melalui udara dalam bentuk droplet. Sebagian besar TB menyerang
pada paru tetapi juga dapat menyerang pada organ lain (Depkes RI,
2008).
2

Etiologi
Penyebab TB disebabkan oleh agen infeksius bakteri dalam genus
Mycobacterium, anggota dari family Mycobatericeae dan ordo
Actinomycetales. Spesies yang termasuk dalam family Mycobacterium
antara lain

Mycobacterium tuberculosis,

Mycobacterium

leprae,

Mycobacterium bovis,

Mycobacterium

paratuberculosis,

Mycobacterium ulcerans, Mycobacterium kansasii, Mycobacterium


balnei. Mycobacterium tuberculosis merupakan penyebab utama TB
3

(Behrman, 2000).
Epidemiologi
Tuberkulosis di negara-negara berkembang terdapat jumlah
anak yang menderita TB paling banyak usia di bawah 15 tahun dengan
jumlah 40%-50% per 100.000 populasi. Setiap tahun terdapat 500.000
anak menderita TB. Terjadi peningkatan proporsi kasus TB anak dari
tahun 2010 sebanyak 9,4% naik menjadi 8,5% pada tahun 2011. Kasus
BTA positif pada TB anak meningkat dari tahun 2010 sebanyak 5,4%

naik menjadi 6,3% (KEMENKES RI, 2013)


Faktor Risiko
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi TB
dan timbulnya TB pada anak yaitu dilihat dari faktor gizi, faktor
lingkungan, faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor riwayat imunisasi.
Faktor lingkungan terdiri dari riwayat merokok pada anggota keluarga,
kepadatan hunian rumah dan penerangan rumah. Faktor sosial seperti
pendidikan orang tua dan faktor ekonomi seperti pendapatan keluarga.

Faktor riwayat imunisasi khususnya BCG serta faktor gizi seperti


5

riwayat pemberian ASI pada anak (Halim, 2011).


Patogenesis
Tuberkulosis anak biasanya termasuk tuberkulosis primer yang
didapatkan kontak langsung dari orang tua yang positif TB. Perjalanan
penyakit tuberkulosis primer ini berawal dari masuknya kuman ke
dalam saluran napas dan bersarang pada sarang alveolus. Sarang primer
ini muncul gejala peradangan saluran getah bening di hilus, dari
limfangitis lokal sampai limfadenitis regional. Sarang primer dan
limfangitis regional membentuk kompleks primer (kompleks Ghon).
Kompleks primer (kompleks Ghon) mempunyai 3 bentuk yaitu sembuh
dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali, sembuh dengan
meninggalkan sedikit bekas, menyebar dengan cara perkontinuitatum
(penyebaran yang keluar dari organ yang ditumbuhi basil dan masuk ke
organ sekitarnya),

bronkogen

(penyebaran

melalui

paru yang

bersangkutan ke paru disebelahnya) dan hematogen (penyebaran


melalui kapiler darah dan masuk ke pembuluruh darah) serta limfogen
(penyebaran melalui saluran limfe dan menimbulkan metastasis ke
6

kelenjar getah bening) (PDPI, 2012).


Manifestasi Klinis
Gejala tuberkulosis primer awal merupakan gejalan non spesifik
yang dapat berupa demam yang berlangsung beberapa hari dan bisa
mencapai 2-3 minggu. Gejala tuberkulosis lainnya seperti batuk,
anoreksia, penurunan berat badan, malaise, mudah lelah dan kadangkadang dijumpai demam yang menyerupai tifus abdominalis atau
malaria yang disertai atau tanpa hepatospenomegali. Konjungtivitis
fliktenularis dapat dijumpai pada anak tuberkulosis yang dikarenakan

oleh gejala hipersensitivitas (Behrman, 2000).


Diagnosis
a Diagnosis TB Paru
Dalam upaya pengendalian TB secara Nasional, maka TB Paru
pada orang dewasa harus ditegakkan terlebih dahulu dengan
pemeriksaan bakteriologis. Pemeriksaan bakteriologis yang

dimaksud adalah pemeriksaan mikroskopis langsung, biakan

dan tes cepat.


Apabila pemeriksaan secara bakteriologis hasilnya negatif,
maka penegakan diagnosis TB dapat dilakukan secara klinis
menggunakan hasil pemeriksaan klinis dan penunjang (setidaktidaknya pemeriksaan foto toraks) yang sesuai dan ditetapkan

oleh dokter yang telah terlatih TB.


Pada sarana terbatas penegakkan diagnosis secara klinis

dilakukan setelah perbaikan klinis.


Tidak dibenarkan mendiagnosis TB dengan pemeriksaan

serologis.
Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan
pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu
memberikan gambaran yang spesifik pada TB paru, sehingga
dapat

menyebabkan

terjadi

overdiagnosis

ataupun

underdiagnosis.
Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya dengan pemeriksaan
uji tuberkulin.

Pemeriksaan Dahak Mikroskopis Langsung

Untuk kepentingan diagnosis dengan cara pemeriksaan


dahak secara mikroskopis langsung, terduga pasien TB
diperiksa contoh uji dahal SPS (Sewaktu Pagi

Sewaktu):
Ditetapkan sebagai pasien TB apabila minimal 1 (satu) dari

pemeirksaan contoh uji dahak SPS hasilnya BTA positif.


b Diagnosis TB ekstra paru
Gejala dan keluhan tergantung pada orang yang terkena,
misalnya kaku kuduk pada meningitis TB, nyeri dada pada TB
pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada
limfadenitis TB serta deformitas tulang belakang (gibbus) pada
spondilitis Tbdan lain-lainnya.

Diagnosis pasti pada pasien TB ekstra paru ditegakkan dengan


pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologis dari

contoh uji yang diambil dari organ tubuh yang terkena.


Dilakukan pemeriksaan bakteriologis apabila ditemukan
keluhan

dan

gejala

yang

sesuai,

untuk

menemukan

kemungkinan adanya TB paru.


Gambar 1
Alur diagnosis dan tindak lanjut TB Paru pada pasien dewasa
(tannpa kecurigaan/bukti: hasil tes HIV (+) atau terduga TB
Resisten Obat)

Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung
Pemeriksaan

dahak

berfungsi

untuk

menegakkan

diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan


potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan
diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 contoh uji dahak
yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan
berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS):

S (sewaktu): dahak ditampung pada saat terduga pasien


TB datang berkunjung pertama kali ke fasyankes. Pada
saat pulang, terduga pasien membawa sebuah pot dahak

untuk menampung dahak pagi pada hari kedua.


P (Pagi): dahak ditampung di rumah pada pagi hari kedua,
segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan

sendiri kepada petugas di fasyankes.


S (sewaktu): dahak ditampung di fasyankes pada hari

kedua, saat menyerahkan dahak pagi.


2) Pemeriksaan Biakan
Pemeriksaan biakan untuk identifikasi Mycobacterium
tuberkulosis (M.tb) dimaksudkan untuk menegakkan diagnosis
pasti TB pada pasien tertentu, misal:

Pasien TB ekstra paru.


Pasien TB anak.
Pasien TB dengan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis
langsung BTA negatif.
Pemeriksaan tersebut dilakukan disarana laboratorium

yang terpantau mutunya. Apabila dimungkinkan pemeriksaan


dengan menggunakan tes cepat yang direkomendasikan WHO
maka

untuk

memastikan

diagnosis

dianjurkan

untuk

memanfaatkan tes cepat tersebut.


8

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tuberkulosis dilakukan dengan strategi DOTS.
DOTS memiliki kepanjangan Directly Observed Therapy Short Course,
yang terdiri dari identifikasi basil tahan asam positif (+), pemeriksaan
langsung minum obat, regimen standar, pengolahan, distribusi dan
penyediaan obat yang baik (Djajaj, et all., 2009). Pengobatan
tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan
fase lanjutan (4 atau 7 bulan). Jenis obat lini pertama diantaranya INH,
rifampisin, piraziamid dan jenis obat tambahan lini kedua yaitu

rifampisin dan INH. Regimen obat yang dianjurkan adalah 2 RHZ / 4


9

RH (PDPI, 2012).
Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari tuberkulosis anak antara
lain TB milier dan meningitis TB. TB milier terjadi karena penyebaran
TB secara hematogen dan disebarkan sampai ke seluruh organ.
Meningitis TB menyerang sistem saraf pusat (SSP) anak dan
merupakan gejala klinis berat, mengancam jiwa anak dan meninggalkan
gejala sisa pada anak (KEMENKES, 2013)

B. Program Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Pada


Penyakit Tuberkulosis
1. Visi
Menuju Masyarakat Bebas Masalah Tb, Sehat, Mandiri Dan
Berkeadilan
2. Misi
a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan
masyarakat madani dalam pengendalian TB.
b. Menjamin ketersediaan pelayanan TB yang paripurna, merata,
bermutu, dan berkeadilan.
c. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya pengendalian
TB.
d. Menciptakan tata kelola program TB yang baik.
3. Tujuan
Menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB dalam
rangka

pencapaian

tujuan

pembangunan

kesehatan

untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.


4. Kebijakan
a. Pengendalian TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas
desentralisasi dalam kerangka otonomi dengan Kabupaten/kota
sebagai

titik

perencanaan,

berat

manajemen

pelaksanaan,

program,

monitoring

dan

yang

meliputi:

evaluasi

serta

menjamin ketersediaan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan


prasarana).

b. Pengendalian TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi


DOTS sebagai kerangka dasar dan memperhatikan strategi global
untuk mengendalikan TB (Global Stop TB Strategy).
c. Penguatan kebijakan ditujukan untuk meningkatkan komitmen
daerah terhadap program pengendalian TB.
d. Penguatan pengendalian TB dan pengembangannya ditujukan
terhadap peningkatan mutu pelayanan, kemudahan akses untuk
penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai
penularan dan mencegah terjadinya TB resistan obat.
e. Penemuan dan pengobatan dalam rangka pengendalian TB
dilaksanakan oleh seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
(FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut
(FKRTL), meliputi: Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah dan
Swasta, Rumah Sakit Paru (RSP), Balai Besar/Balai Kesehatan
Paru Masyarakat (B/BKPM), Klinik Pengobatan serta Dokter
Praktek Mandiri (DPM).
f. Pengobatan untuk TB tanpa penyulit dilaksanakan di FKTP.
Pengobatan TB dengan tingkat kesulitan yang tidak dapat
ditatalaksana di FKTP akan dilakukan di FKRTL dengan
mekanisme rujuk balik apabila faktor penyulit telah dapat
ditangani.
g. Pengendalian TB dilaksanakan melalui penggalangan kerja sama
dan kemitraan diantara sektor pemerintah, non pemerintah, swasta
dan masyarakat dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional
Pengendalian TB (Gerdunas TB).
h. Peningkatan kemampuan laboratorium

diberbagai

tingkat

pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu dan akses layanan.


i. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk pengendalian TB diberikan
secara cuma-cuma dan dikelola dengan manajemen logistk yang
efektif demi menjamin ketersediaannya.
5. Target
Pada tahun 2015-2019 target program pengendalian TB akan
disesuaikan dengan target pada RPJMN II dan harus disinkronkan
pula dengan target Global TB Strategy pasca 2015 dan target SDGs

(Sustainable Development Goals). Target utama pengendalian TB


pada tahun 2015-2019 adalah penurunan insidensi TB yang lebih
cepat dari hanya sekitar 1-2% per tahun menjadi 3-4% per tahun dan
penurunan angka mortalitas > dari 4-5% pertahun.
Diharapkan pada tahun 2020 Indonesia bisa mencapai target
penurunan insidensi sebesar 20% dan angka mortalitas sebesar 25%
dari angka insidensi tahun 2015.
6. Strategi Nasional
Strategi nasional program pengendalian TB nasional terdiri dari 7
strategi:
a. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu.
b. Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan
kebutuhan masyarakat miskin serta rentan lainnya.
c. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, masyarakat
(sukarela), perusahaan dan swasta melalui pendekatan Pelayanan
TB Terpadu Pemerintah dan Swasta (Public Private Mix) dan
menjamin

kepatuhan

terhadap

Standar

Internasional

Penatalaksanaan TB (International Standards for TB Care).


d. Memberdayakan masyarakat dan pasien TB.
e. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan dan
manajemen program pengendalian TB.
f. Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap
program TB
g. Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi
strategis.
7. Kegiatan
a. Tatalaksana TB Paripurna
1) Promosi Tuberkulosis
2) Pencegahan Tuberkulosis
3) Penemuan pasien Tuberkulosis
4) Pengobatan pasien Tuberkulosis
5) Rehabilitasi pasien Tuberkulosis
b. Manajemen Program TB
1) Perencanaan program pengendalian Tuberkulosis
2) Monitoring dan evaluasi program pengendalian Tuberkulosis
3) Pengelolaan logistik program pengendalian Tuberkulosis
4) Pengembangan ketenagaan program pengendalian
Tuberkulosis
5) Promosi program pengendalian Tuberkulosis.

c. Pengendalian TB Komprehensif
1) Penguatan layanan Laboratorium Tuberkulosis
2) Public-Private Mix Tuberkulosis
3) Kelompok rentan: pasien Diabetes Melitus (DM), ibu hamil,
4)
5)
6)
7)

gizi buruk
Kolaborasi TB-HIV
TB Anak
Pemberdayaan Masyarakat dan Pasien TB
Pendekatan praktis kesehatan paru (Practicle Aproach to

Lung Health = PAL)


8) Manajemen Terpadu Pengendalian TB Resistan Obat
(MTPTRO)
9) Penelitian tuberkulosis.
8. Aspek Tatalaksana pasien TB
Dilaksanakan oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan
Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL).
a

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)


FKTP dalam hal ini adalah fasilitas kesehatan tingkat pertama
yang mampu memberikan layanan TB secara menyeluruh mulai dari
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Fasilitas kesehatan yang
termasuk dalam FKTP adalah Puskesmas, DPM, Klinik Pratama, RS
Tipe D dan BKPM. Dalam layanan tatalaksana TB, fasilitas kesehatan
yang mampu melakukan pemeriksaan mikroskopis disebut FKTP
Rujukan Mikroskopis (FKTP-RM). FKTP Rujukan Mikroskopis
(FKTP-RM) menerima rujukan pemeriksaan mikroskopis dari FKTP
yang tidak mempunyai fasilitas pemeriksaan mikroskopis yang
disebut sebagai FKTP Satelit (FKTP-S).

b Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL)


FKRTL dalam hal ini adalah fasilitas kesehatan RTL yang mampu
memberikan layanan TB secara menyeluruh mulai dari promotif,
preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif untuk kasus-kasus TB
dengan penyulit dan kasus TB yang tidak bisa ditegakkan
diagnosisnya di FKTP. Fasilitas kesehatan yang termasuk dalam
FKRTL adalah RS Tipe C, B dan A, RS Rujukan Khusus Tingkat

Regional dan Nasional, Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat


(BBKPM) dan klinik utama.
Untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien TB secara
berkualitas dan terjangkau, semua fasilitas kesehatan tersebut diatas
perlu bekerja sama dalam kerangka jejaring pelayanan kesehatan baik
secara internal didalam gedung maupun eksternal bersama lembaga
terkait disemua wilayah.
9. Indikator Program TB
a. Angka Penjaringan Suspek
Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100.000
penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini digunakan
untuk mengetahui upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu,
dengan

memperhatikan

kecenderungannya

dari

waktu

ke

waktu

(triwulan/tahunan)
Rumus:
Jumlah suspek yg diperiksa
Jumlah penduduk

X 100.000

Jumlah suspek yang diperiksa bisa didapatkan dari buku daftar


suspek (TB .06). UPK yang tidak mempunyai wilayah cakupan penduduk,
misalnya rumah sakit, BP4 atau dokter praktek swasta, indikator ini tidak
dapat dihitung.
b.Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek
Adalah presentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara
seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Angka ini menggambarkan mutu
dari proses penemuan sampai diagnosis pasien, serta kepekaan
menetapkan kriteria suspek.
Rumus:
Jumlah pasien TB BTA positif yg ditemukan
Jumlah seluruh suspek TB yg diperiksa

X 100%

Angka ini sekitar 5 - 15%. Bila angka ini terlalu kecil ( < 5 % )
kemungkinan disebabkan :
Penjaringan suspek terlalu longgar. Banyak orang yang tidak memenuhi
kriteria suspek, atau
Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( negatif palsu ).
Bila angka ini terlalu besar ( > 15 % ) kemungkinan disebabkan :
Penjaringan terlalu ketat atau
Ada masalah dalam pemeriksaan laboratorium ( positif palsu).
c. Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB
Paru Tercatat/diobati
Adalah presentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara
semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. Indikator ini menggambarkan
prioritas penemuan pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh
pasien Tuberkulosis paru yang diobati.
Rumus:
Jumlah pasien TB BTA positif (baru + kambuh)
Jumlah seluruh pasien TB (semua tipe)

X 100%

Angka ini sebaiknya jangan kurang dari 65%. Bila angka ini jauh
lebih rendah, itu berarti mutu diagnosis rendah, dan kurang memberikan
prioritas untuk menemukan pasien yang menular (pasien BTA Positif).
d. Proporsi pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB
Adalah prosentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh
pasien TB tercatat.
Rumus :
Jumlah pasien TB Anak (<15 thn) yg ditemukan
Jumlah seluruh pasien TB yg tercatat

X 100%

Angka ini sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan


ketepatan dalam mendiagnosis TB pada anak. Angka ini berkisar 15%.
Bila angka ini terlalu besar dari 15%, kemungkinan terjadi overdiagnosis.
e. Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR)
Adalah presentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan
dan diobati dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan

ada dalam wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan cakupan


penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut.
Rumus:
Jumlah pasien baru TB BTA Positif yang dilaporkan dalam TB.07
Perkiraan jumlah pasien baru TB BTA Positif

X 100%

Perkiraan jumlah pasien baru TB BTA positif diperoleh


berdasarkan perhitungan angka insidens kasus TB paru BTA positif dikali
dengan jumlah penduduk. Target Case Detection Rate Program
Penanggulangan Tuberkulosis Nasional minimal 70%.
f. Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)
Adalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang
ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah
tertentu. Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan
kecenderungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut.
Rumus :
Jumlah pasien TB (semua tipe) yg dilaporkan dlm TB.07
Jumlah penduduk
Angka

ini

berguna

untuk

menunjukkan

X 100.000

kecenderungan

(trend)meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah


tersebut.
g. Angka Konversi (Conversion Rate)
Angka konversi adalah prosentase pasien baru TB paru BTA positif
yang mengalami perubahan menjadi BTA negatif setelah menjalani masa
pengobatan intensif. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat
hasil pengobatan dan untuk mengetahui apakah pengawasan langsung
menelan obat dilakukan dengan benar. Contoh perhitungan angka konversi
untuk pasien baru TB paru BTA positif :
Jumlah pasien baru TB paru BTA positif yg konversi
Jumlah pasien baru TB paru BTA positif yg diobati

X 100%

Di UPK, indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu
dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai
berobat dalam 3-6 bulan sebelumnya, kemudian dihitung berapa
diantaranya yang hasil pemeriksaan dahak negatif, setelah pengobatan
intensif (2 bulan). Di tingkat kabupaten, propinsi dan pusat, angka ini
dengan mudah dapat dihitung dari laporan (TB.11). Angka minimal yang
harus dicapai adalah 80%.
h. Angka Kesembuhan (Cure Rate)
Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan prosentase
pasien baru TB paru BTA positif yang sembuh setelah selesai masa
pengobatan, diantara pasien baru TB paru BTA positif yang tercatat.
Angka kesembuhan dihitung juga untuk pasien BTA positif pengobatan
ulang dengan tujuan:
Untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan kekebalan terhadap obat
terjadi di komunitas, hal ini harus dipastikan dengan surveilans kekebalan
obat.
Untuk mengambil keputusan program pada pengobatan menggunakan
obat baris kedua (second-line drugs).
Menunjukan prevalens HIV, karena biasanya kasus pengobatan ulang
terjadi pada pasien dengan HIV.Cara menghitung angka kesembuhan untuk
pasien baru BTA positif :
Jumlah pasien baru TB BTA positif yg sembuh
Jumlah pasien baru TB BTA positif yg diobati

X 100%

Di UPK, indikator ini dapat dihitung dari kartu pasien TB.01, yaitu
dengan cara mereview seluruh kartu pasien baru BTA Positif yang mulai
berobat dalam 9 - 12 bulan sebelumnya, kemudian dihitung berapa
diantaranya yang sembuh setelah selesai pengobatan.
Di tingkat kabupaten, propinsi dan pusat, angka ini dapat dihitung
dari laporan TB.08. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%. Angka
kesembuhan digunakan untuk mengetahui hasil pengobatan.
Walaupun angka kesembuhan telah mencapai 85%, hasil pengobatan
lainnya tetap perlu diperhatikan, yaitu berapa pasien dengan hasil
pengobatan lengkap, meninggal, gagal, default, dan pindah.

Angka default tidak boleh lebih dari 10%, karena akan menghasilkan
proporsi kasus retreatment yang tinggi dimasa yang akan datang yang
disebabkan karena ketidak-efektifan dari pengendalian Tuberkulosis.
Menurunnya angka default karena peningkatan kualitas penanggulangan
TB akan menurunkan proporsi kasus pengobatan ulang antara 10-20 %
dalam beberapa tahun
Sedangkan angka gagal untuk pasien baru BTA positif tidak boleh
lebih dari 4% untuk daerah yang belum ada masalah resistensi obat, dan
tidak boleh lebih besar dari 10% untuk daerah yang sudah ada masalah
resistensi obat.
i. Angka Keberhasilan Pengobatan
Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan prosentase
pasien baru TB paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik
yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien baru TB paru
BTA positif

yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupakan

penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap. Cara


perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan kategori 1.
Jumlah pasien baru TB BTA positif yg sembuh
Jumlah pasien baru TB BTA positif yg diobati

X 100%

j. Angka Kesalahan Laboratorium


Pada saat ini Penanggulangan TB sedang dalam uji coba untuk
penerapan uji silang pemeriksaan dahak (cross check) dengan metode Lot
Sampling Quality Assessment (LQAS) di beberapa propinsi. Untuk masa
yang akan datang akan diterapkan metode LQAS di seluruh UPK.
Metode LQAS :
Perhitungan angka kesalahan laboratorium metode ini digunakan
oleh propinsi-propinsi uji coba.
Klasifikasi kesalahan
Hasil dari lab.
Peserta
Negatif
Negatif
Betul
Scanty
PPR
1+
PPT
2+
PPT

Hasil
Scanty
NPR
Betul
Betul
KH

lab uji silang


1+
2+
NPT
NPT
Betul
KH
Betul
Betul
Betul
Betul

3+
NPT
KH
KH
Betul

3+

PPT

Betul
KH
(Kesalahan Hitung)
NPR (Negatif Palsu Rendah)
PPR (Positif Palsu Rendah)
NPT (Negatif Palsu Tinggi)
PPT (Positif Palsu Tinggi)
Selain kesalahan besar

KH

KH

Betul

: Tidak ada kesalahan


: Kesalahan kecil
: Kesalahan kecil
: Kesalahan kecil
: Kesalahan besar
: Kesalahan besar
dan kesalahan kecil, kesalahan juga dapat

berupa tidak memadainya kualitas sediaan, yaitu : terlalu tebal atau


tipisnya sediaan, pewarnaan, ukuran, kerataan, kebersihan dan kualitas
spesimen.
Mengingat sistem penilaian yang berlaku sekarang berbeda dengan
yang terbaru, petugas pemeriksa slide harus mengikuti cara pembacaan
dan pelaporan sesuai buku Panduan bagi petugas laboratorium
mikroskopis TB
Interpretasi dari suatu laboratorium berdasarkan hasil uji silang
dinyatakan terdapat kesalahan bila :
1. Terdapat PPT atau NPT
2. Laboratorium tersebut menunjukkan tren peningkatan kesalahan kecil
dibanding periode sebelumnya atau kesalahannya lebih tinggi dari rata-rata
semua UPK di kabupaten/kota tersebut, atau bila kesalahan kecil terjadi
beberapa kali dalam jumlah yang signifikan.
3. Bila terdapat 3 NPR
Penampilan setiap laboratorium harus terus dimonitor sampai
diketemukan penyebab kesalahan. Setiap UPK agar dapat menilai dirinya
sendiri dengan memantau tren hasil interpretasi setiap triwulan.
Metode 100 % BTA Positif & 10 % BTA Negatif
Sebagian besar propinsi masih menerapkan metode uji silang
perhitungan sebagai berikut :
Error Rate
Error rate atau angka kesalahan baca adalah angka kesalahan
laboratorium yang menyatakan prosentase kesalahan pembacaan slide/
sediaan yang dilakukan oleh laboratorium pemeriksa pertama setelah di uji
silang (cross check) oleh BLK atau laboratorium rujukan lain.

Betul

Angka ini menggambarkan kualitas pembacaan slide secara


mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama. Angka kesalahan
baca sediaan (error rate) ini hanya bisa ditoleransi maksimal 5%.
Apabila error rate 5 % dan positif palsu serta negatif palsu keduanya
5% berarti mutu pemeriksaan baik.
Error rate ini menjadi kurang berarti bila jumlah slide yang di uji
silang (cross check) relatif sedikit. Pada dasarnya error rate dihitung pada
masing-masing laboratorium pemeriksa, di tingkat kabupaten/ kota.
Kabupaten / kota harus menganalisa berapa persen laboratorium
pemeriksa yang ada diwilayahnya melaksanakan cross check, disamping
menganalisa error rate per PRM/PPM/RS/BP4, supaya dapat mengetahui
kualitas pemeriksaan slide dahak secara mikroskopis langsung.

BAB III
METODE PENELITIAN DAN HASIL KEGIATAN
A Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam kasus ini adalah
menggunakan analisis data menggunakan data sekunder, dimana data
sekunder diperoleh dari data hasil rekapitulasi angka kejadian tuberkulosis
(TB) tahun 2015 dan 2016
B Hasil Kegiatan
Hasil pada kasus ini diperoleh dengan menggunakan data sekunder.
Dimana data sekunder menggunakan data hasil rekapitulasi kejadian
Tuberkulosis (TB) dari tahun 2015 dan 2016 serta wawancara kepada
petugas P2ML seputar program dan pengendalian TB yang dijalankan
selama ini.
1 Letak Geografis
Puskesmas Gatak terletak di Dk. Kranon RT 02 RW 08
Blimbing Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo. Puskesmas Gatak
memiliki total wilayah binaan 194,72 km, yang terdiri dari 14 desa.
Batas Wilayah Kecamatan
- Sebelah Utara
:
- Sebelah Timur
:
- Sebelah Selatan
:
Sebelah Barat

:
Kecamatan Kartasura Sukoharjo
Desa Duwet, Kecamatan Baki
Kecamatan Wonosari Kabupaten Klaten

: Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali

Gambar 1.Peta Wilayah Kecamatan Gatak


2 Wilayah Kerja Cakupan
Berikut adalah wilayah kerja cakupan yang terdiri dari 14 desa, yaitu :
Desa Sanggung dengan luas wilayah 0,96 km2
Desa Kagokan dengan luas wilayah 0,95 km2
Desa Blimbing dengan luas wilayah 2,29 km2
Desa Krajan dengan luas wilayah 1,91 km2
Desa Geneng dengan luas wilayah 1,43 km2
Desa Jati dengan luas wilayah 1,15 km2
Desa Trosemi dengan luas wilayah 1,24 km2
Desa Luwang dengan luas wilayah 1,28 km2
Desa Klaseman dengan luas wilayah 0,91 km2
Desa Tempel dengan luas wilayah 1,024 km2
Desa Sraten dengan luas wilayah 0,96 km2
Desa Wironanggan dengan luas wilayah 1,263 km2
Desa Trangsan dengan luas wilayah 2,49 km2
Desa Mayang dengan luas wilayah 1,605 km2
Luas wilayah total 19,47 km2.

3. Keadaan Penduduk
Pertumbuhan dan kepadatan penduduk, berdasarkan data dari
Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukoharjo jumlah penduduk Sukoharjo
adalah 451.489 jiwa. Penyebaran penduduk belum merata dilihat dari
kepadatan desa Trangsan

merupakan desa yang memiliki kepadatan

penduduk tertinggi yaitu 7.261 jiwa, sedangkan yang terendah adalah


Tempel sebesar 1.815 jiwa,
4. Keadaan Sosial Ekonomi
Mayoritas masyarakat di daerah kerja puskesmas Gatak bekerja di
sektor pertanian serta pengolahan ladang sawah dengan komoditas padi
,sedangkan dari sektor industri mayoritas masyarakat bekerja di mebel
kayu dan mebel rotan.
5. Sarana Kesehatan
a.

Posyandu menurut Strata


a Posyandu Pratama
:0
b Posyandu Madya
:6
c Posyandu Purnama
: 73
d Posyandu Mandiri
: 12
Total posyandu adalah 91
b. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)
a Desa Siaga
: 14 desa
b Desa Siaga Madya
: 7 desa
c Desa Siaga Purnama
: 3 desa
d Desa Siaga Mandiri
: 4 desa
e PKD
: 14 desa
c.Data Dasar Puskesmas
1. Puskesmas
: 1 Puskesmas Induk
2. Unit Pelayanan
: 1 Unit Pelayanan Gatak di Sraten
3. Pustu/pusling
:9
4. Fasilitas Penunjang
: Laboratorium, Rontgen, Fisioterapi, dan
EKG
5. Rawat Inap
6. Sarana Transportasi
6.

Sumber Dana
Sumber dana berasal dari
Tengah, APBN.

7.

: 17 tempat tidur
: 3 Ambulans

Visi

APBDSukoharjo,

APBD Provinsi Jawa

Menjadi Puskesmas yang unggul dan pilihan pertama pelayanan


kesehatan di kabupaten Sukoharjo.
8.

Misi
1

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan promotif, preventif,


kuratif, dan rehabilitatif, secara efektif efisien serta terjangkau

seluruh masyarakat Gatak dan sekitarnya.


Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya kesehatan
supaya pelayanan yang bermutu dan profesional tetap di
pertahankan dan ditingkatkan sesuai dengan IPTEK bidang

kesehatan.
Menggerakkan peran serta masyarakat dalam mewujudkan perilaku

hidup sehat.
Meningkatkan kerjasama dan dukungan lingkungan sekitar demi
terwujudnya pemberdayaann masyrakat untuk mencapai desa sehat
aktif 2015.

9.

Struktur Organisasi
STRUKTUR ORGANISASI UKM ESSENSIAL DAN
KEPERAWATAN DI PUSKESMAS GATAK
DINAS KESEHATAN SUKOHARJO
Lampiran : SK Kepala Puskesmas
Nomor
: 900/ /IV/2015
Tanggal
: 22 April 2015

Kepala Puskesmas

: drg. Tri Prasetyo Nugroho, MM

Subbag Tata Usaha

: Sugeng Wiyono

1 Koordinator
: dr. A.K. Dewi Utami
2 Pelayanan Promisi Kesehatan termasuk UKS: Euis Win Farida, A.Md.Keb
Promizi
: Euis Win Farida, A.Md.Keb
4 UKS
: Sigit Abdullah Hasan, A.MKg.
5 Pelayanan Kesehatan Lingkungan
: Mardiyana
6 Kesling Masyarakat
: Andi Kurniawan, AMKI
7 Kesling Industri
: Sri Widati, AMKI
8 Pelayanan KIA, KB bersifat UKM : Meirdian Eva Y. A.Md.Keb
9 Kesehatan Anak
: Kenros Novi A.,A.Md.Keb
10 Kesehatan Ibu
: Ida Nurul Hayati, A.Md.Keb
11 Keluarga Berencana
: Lelly Susanti, A.Md.Keb
12 Pelayanan Gizi Bersifat UKM
: Maryamah,AMG
13 Pelayanan Pencegahan Penyakit : Tutik Suwartati,A.Md.Keb
14 Imunisasi
: Tutik Suwarti,A.Md.Keb

15
16
17
18
19
20

PTM
Pelayanan Pengendalian Penyakit
P2ML
P2PB
Surveilan
Pelayanan Perawatan Kes. Mas

: Amiwati
: Kisman
: Kisman
: Andi Kurniawan,AmKI
: Budi Kristanto
: Sri Riyani

10. Hasil Rekapitulasi Kunjungan Pasien TB dewasa di Puskesmas Gatak


bulan Januari 2015 sampai bulan Juni 2016
Pada pengendalian penyakit menular secara langsung didapatkan
rekapitulasi sebagai berikut :
1.Data Jumlah Pasien TB Dewasa yang berobat di Puskesmas Gatak
Semester I (Januari 2015-Juni 2015 )
No

Nama

Usia

Alamat

Konversi

Diobati

Sembuh

Pasien
Ny. R

25 tahun

Sanggrahan

Ny. SH

51 tahun

Trangsan

Ny. Su

55 tahun

Kagokan

Ny. SS

47 tahun

Trosemi

Ny. Sw

47 tahun

Krajan

Bp.Tr

50 tahun

Trosemi

Ny. En

32 tahun

Mayang

Bp.Pr

64 tahun

Waru

Sdr. Ok

22 tahun

Mayang

Jumlah

2.Data Jumlah Pasien TB Dewasa yang berobat di Puskesmas Gatak


Semester II (Juli 2015-Desember 2015)
No
1
2
3
4

Nama

Usia

Pasien
Ny. Sp
Ny. Kr
Ny. Sm
Bp. Ht

64 tahun
91 tahun
60 tahun
33 tahun

Alamat
Sanggung
Blimbing
Mayang
Baki

Konversi

Diobati

Sembuh

V
V
V
V

5
6
7
8
9
10
11

Bp. Sy
Bp. Mf
Ny. St
Bp.PS
Bp.PR
Bp.Sd
Bp.Ks

60 tahun
29 tahun
65 tahun
56 tahun
60 tahun
60 tahun
60 tahun
Jumlah

Wonosari
Mayang
Duwet
Wironanggan
Trangsan
Mayang
Trangsan

V
V
V
3

V
V
V
V
V
V
V
11

V
V
V
3

3.Data Jumlah Pasien TB Dewasa yang berobat di Puskesmas Gatak Semester I


(Januari 2016-Juni 2016)
No

Nama

Usia

Alamat

Konversi

Diobati

Sembuh

Pasien
1

Ny. My

40 tahun

Krajan

Bp.Wy

45 tahun

Krajan

Ny.Sr

62 tahun

Trangsan

Sdr.Rt

23 tahun

Wonosari

Bp. Sp

55 tahun

Baki

Bp. BC

46 tahun

Sanggung

Bp.Bi

40 tahun

Trangsan

Ny.NR

46 tahun

Krajan

Ny.DS

30 tahun

Trangsan

10

Bp.BK

46 tahun

Luwang

11

Bp.Bd

43 tahun

Sanggung

12

Bp. BI

55 tahun

Baki

12

Jumlah

Dari data di atas, rekapitulasi kejadian Tuberkulosis (TB) dewasa dari


bulan Januari 2015 sampai Juni 2016 yang berkunjung di Puskesmas Gatak
didapatkan bahwa terjadi peningkatan jumlah pasien TB dewasa yang diobati tiap
semester. Pada semester I tahun 2015, jumlah pasien konversi berjumlah 4 orang,
jumlah pasien sembuh berjumlah 4 orang dan jumlah pasien yang diobati
berjumlah 9 orang. Pada semester II tahun 2015, jumlah konversi berjumlah 3

orang, jumlah pasien sembuh berjumlah 3 orang dan jumlah pasien yang diobati
berjumlah 11 orang. Pada semester I tahun 2016, jumlah pasien konversi
berjumlah 2 orang, jumlah pasien sembuh berjumlah 2 orang dan jumlah pasien
yang diobati berjumlah 12 orang. Persentase angka konversi, 44,4% di semester I
tahun 2015, 36,36% di semester II tahun 2015 dan 14,28% di semester I tahun
2016. Persentase angka kesembuhan, 44,4% di semester I tahun 2015, 36,36% di
semester II tahun 2015 dan 14,28% di semester I tahun 2016.
Persentase angka konversi dan angka kesembuhan TB dewasa dari
semester I tahun 2015 menuju semester II tahun 2015 mengalami peningkatan.
Persentase angka konversi dan angka kesembuhan TB dewasa dari semester II
tahun 2015 menuju semester I tahun 2016 mengalami penurunan.
Hal ini dikarenakan tercapainya program pengendalian TB pada tahun
2015 sehingga meningkatkan angka kesembuhan diantara penderita TB kasus
lama. Menurut wawancara yang dilakukan terhadap penanggung jawab P2ML,
tingginya angka kejadian TB di lingkungan Puskesmas Gatak Kabupaten
Sukoharjo dikarenakan kurangnya pengetahuan masyrakat mengenai bahaya TB
terhadap kesehatan, cara penularan TB, dan kurangnya kesadaran masyarakat
terhadap perilaku sehat dan bersih menjadi resiko penularan utama dikalangan
masyarakat Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo.
12. PROGRAM PENILAIAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TB
a. Tujuan Pengobatan TB
-

Menyembuhkan pasien dan memperbaiki produktivitas serta kualitas

hidup
Mencegah terjadinya kematian oleh karena TB atau dampak buruk

selanjutnya
Mencegah terjadinya kekambuhan TB
Menurunkan penularan TB
Mencegah terjadinya dan penularan TB resisten obat

b. Prinsip Pengobatan TB

Obat Anti Tuberkulosis (OAT) adalah komponen terpenting dalam


pengobatan TB. Pengobatan TB adalah merupakan salah satu upaya paling efisien
untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari kuman TB.
Pengobatan yang adekuat harus memenuhi prinsip :
-

Pengobatan diberikan dalam bentuk panduan OAT yang tepat mengandung

minimal 4 macam obat untuk mencegah terjadinya resistensi


Diberikan dalam dosis yang tepat
Ditelan secara teratur dan diawasi secara langsung oleh PMO
Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup terbagi dalam tahap
awal serta tahap lanjutan untuk mencegah kekambuhan

c.Strategi
-

Surveilans penyakit dan vektor yang efektif.


Pemberantasan vektor yang terpadu, efektif, bersama masyarakat dengan

strategi kemitraan.
Kesiapan dan antisipasi terhadap KLB (SDM, Dana, Sarana ).
Diagnosis klinis dan penatalaksanaan kasus yang cepat dan tepat.
Mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan petugas dan kader melalui
pelatihan / fasilitasi / pendampingan.

d.Indikator
-

Angka Konversi (Conversion Rate)


Angka Kesembuhan (Cure Rate)

e.Kegiatan
-

Penyuluhan
Penjaringan suspek kasus TB
Pengadaan PMO ( Pengawas Minum Obat )
Pemeriksaan Kontak TB
Pencatatan dan Pelaporan Kasus TB

f.Penyediaan Sarana Penunjang


-

Pemeriksaan laboratorium ( pemeriksaan dahak )


Pemeriksaan Radiologis

g.Upaya Pencapaian Keberhasilan Program Pengobatan Penderita TB


Dewasa BTA (+) Pada P2ML
1. Penyuluhan
Penyuluhan merupakan salah satu kegiatan dalam rangka
penanggulangan penyakit TB. Target dari kegiatan ini adalah seluruh

lapisan masyarakat. Tehnik penyuluhan yang digunakan dalam penyuluhan


biasa dengan penyampaian informasi lewat paparan,diadakannya ceramah
dan Tanya jawab maupun kunjungan dari rumah ke rumah.
2. Penjaringan suspek kasus TB
Terduga TB yang telah dijaring oleh pelayanan kesehatan
menjalani pemeriksaan laboratorium. Upaya tersebut dimulai dari proses
penjaringan suspek, deteksi dan pencacatan kasus, pengobatan pasien dan
tatalaksana kasus MDR.
Pada tahap ini ditetapkan indikator proporsi pasien baru TB baru terkonfirmasi
bakteriologis diantara terduga TB . Indikator ini merupakan persentase
pasien baru TB paru terkonfirmasi bakteriologis ( BTA positif dan MTB
negatif ) yang di temukan di antara seluruh terduga yang diperiksa
dahaknya.
3. Pemeriksaan Kontak TB
Penderita yang telah terjaring oleh pelayanan kesehatan yang telah
dinyatakan positif TB, menjalani pemeriksaan disekitar lingkungan rumah
penderita guna mengetahui kontak pertama penyebaran TB. Hal ini
bertujuan agar penyebaran tidak meluas dan pengobatan TB dapat
dioptimalkan.
4. Pencatatan dan pelaporan kasus TB
Pasien yang telah terjaring kemudian dicatat dan dilaporkan
sebagai survei epidemiologi didaerah tersebut.
C.Analisis SWOT
-

KEKUATAN
o Sarana dan prasarana kesehatan dasar tercukupi
o Adanya program kerja yang jelas pada penyuluhan, penyelidikan
epidemiologi, pengendalian TB sesuai pedoman dalam manajemen
program pengendalian kasus TB
o Adanya pendanaan yang sesuai sebagai penunjang dalam manajemen

program pengendalian kasus TB


KELEMAHAN

o Penyesuaian jadwal pelaksanaan manajemen program pengendalian


TB secara berkesinambungan masih belum maksimal
o Komunikasi lintas program masih belum maksimal dalam manajemen
program pengendalian kasus TB
o Jumlah petugas kesehatan yang masih kurang dalam manajemen
program pengendalian kasus TB
o Kesadaran masyarakat tentang TB masih rendah
o Pedoman pengendalian TB baik yang tertulis dan secara teknis kadang
berbeda untuk di terapkan setiap daerah, khususnya desa-desa yang
pemetaannya berbeda
-

PELUANG
o Adanya dukungan kader dalam manajemen program pengendalian
kasus TB
o Kerjasama lintas sektor dengan stakeholder di kecakamatan gatak
misalnya ibu pkk, tokoh masyarakat, organisasi masyarakatdalam
mendukung program pengendalian kasus TB

ANCAMAN
o Kurangnya pengetahuan warga dalam pencegahan TB sehingga
memudahkan dalam penularan
o Kurangnya pelatihan bagi kader kesehatan di masyarakat untuk
meningkatkan kualitas dalam membantu manajemen program
pengendalian kasus TB
o Tidak tepatnya paradigma masyarakat tentang program pengendalian
penyakit TB

C Formulasi strategi swot


KEKUATAN + PELUANG ( S+O)
o Sarana dan prasarana tercukupi untuk mendukung kerjasama
lintas sektor dengan stakeholder dalam mendukung di
kecalamatan gatak misalnya ibu pkk, tokoh masyarakat,
organisasi

masyarakatdalam

pengendalian kasus TB
o Adanya program kerja

yang

mendukung
jelas

pada

program
penyuluhan,

penyelidikan epidemiologi, pengendalian dan pemberantasan

TB sesuai pedoman dalam manajemen program pengendalian


kasus TB sehingga mendukung keterlibatan aktif warga yang
sesuai dengan jadwal dalam manajemen program pengendalian
kasus TB
o Adanya pendanaan yang sesuai sebagai penunjang dalam
manajemen program pengendalian kasus TB sehingga bisa
menunjang untuk dukungan kader dalam manajemen program
-

pengendalian kasus TB
KELEMAHAN + PELUANG (W+O)
o Penyesuaian jadwal pelaksanaan

manajemen

program

pengendalian TB secara berkesinambungan harus maksimal


karena memperoleh dukungan kader dalam manajemen
program pengendalian kasus TB
o Pentingnya komunikasi lintas program untuk dimaksimalkan
dalam manajemen program pengendalian kasus TB sehingga
bisa sejalan dengan adanya keterlibatan aktif warga yang
sesuai dalam manajemen program pengendalian kasus TB
o Kerjasama lintas sektor dengan stakeholder di kecalamatan
gatak misalnya ibu pkk, tokoh masyarakat, organisasi
masyarakatdalam mendukung program pengendalian kasus TB
diharapkan mampu membantu jumlah petugas kesehatan yang
masih kurang dalam manajemen program pengendalian kasus
-

TB
KEKUATAN + ANCAMAN (S+T)
o Adanya sarana dan prasarana kesehatan dasar yang tercukupi
(contoh, letak puskesmas strategis, fogging dan serbuk abate)
mengurangi efek perubahan cuaca yang drastis mempengaruhi
jumlah peningkatan kasus TB
o Adanya pendanaan yang sesuai sebagai penunjang dalam
manajemen program pengendalian kasus TB meningkatkan
anggaran pelatihan bagi kader kesehatan di masyarakat untuk
meningkatkan kualitas dalam membantu manajemen program
pengendalian kasus TB

o Adanya

program

kerja

yang

jelas

pada

penyuluhan,

penyelidikan epidemiologi, pengendalian dan pemberantasan


TB sesuai pedoman dalam manajemen program pengendalian
kasus TB untuk dapat merubah paradigma masyarakat tentang
program pengendalian penyakit TB (salah satunya fogging,
-

PHBS dan 4M+)


KELEMAHAN + ANCAMAN (W+T)
o Pedoman pengendalian TB baik yang tertulis dan secara teknis
kadang berbeda untuk di terapkan setiap daerah, khususnya
desa-desa yang pemetaannya berbeda
o Komunikasi lintas program perlu dimaksimalkan dalam
manajemen program pengendalian kasus TB agar dapat
menunjang pelatihan bagi kader kesehatan di masyarakat untuk
meningkatkan kualitas dalam membantu manajemen program
pengendalian kasus TB

BAB IV
PEMBAHASAN
Dari analisis formulasi S-W-O-T diatas, yang diperoleh dari hasil data
sekunder melalui data rekapitulasi dan wawancara melalui penanggung jawab
P2ML , maka diperoleh permasalahan paling berat berasal dari internal dan
eksternal yang saling berkesinambungan, yaitu :
1. Komunikasi lintas program masih belum maksimal dalam manajemen program
keberhasilan pengobatan TB dewasa
Dalam proses penanggulangan kasus TB di kecamatan Gatak, di naungi oleh
UKM Essensial yaitu Program Pengendalian Penyakit Menular Langsung. Dari
pedoman pelaksanaan, proses manajemen program keberhasilan pengobatan TB
dewasa saling bersinergi dengan program lain untuk mampu memaksimalkan
jalannya program, yaitu dengan

bagian Kesehatan Lingkungan dan Promosi

Kesehatan. Dari data program yang berjalan, secara perorangan individu telah
menjalankan program, namun komunikasi yang dibangun dan program yang
dirancang belum cukup efektif.
Tidak adanya program kerja dari lintas program yang bertujuan langsung
dalam pencegahan penyebaran TB dan keberhasilan pengobatan TB menyebabkan
ketidakmampuan masyarakat untuk memahami penyakit TB secara lengkap serta
cara pengendaliannya. Namun dari pedoman pelaksanaan manajemen program
keberhasilan pengobatan TB kadang masih terdapat beberapa kendala yang
memang masih sulit untuk di ubah, seperti :
1. Jumlah petugas kesehatan yang masih kurang, bahkan dalam beberapa
kasus petugas kesehatan tersebut masih memegang beberapa program
sekaligus, hal ini bisa menyebabkan kurang efektifnya pelaksanaan
program pengendalian kasus TB, terutama dalam merubah paradigma
masyarakat mengenai proses pengendalian penyebaran TB.
2. Tidak adanya waktu khusus bagi lintas program untuk dapat melakukan
evaluasi program bersama-sama mengenai penyebab pasti peningkatan
penyebaran TB
3. Tidak adanya program kerja dari lintas program yang bertujuan langsung
dalam pencegahan penyebaran TB dan keberhasilan pengobatan TB

menyebabkan ketidakmampuan masyarakat untuk memahami penyakit TB


secara lengkap serta cara pengendaliannya.
Pedoman pelaksanaan yang terdapat dalam petunjuk klinis dan petunjuk
tertulis memiliki jadwal khusus dalam manajemen program Pengendalian
Penyakit TB. Setiap pemegang program telah menjalankan sesuai dengan
pedoman tersebut, namun kadang di lapangan terjadi beberapa kendala :
1. Tidak adanya jadwal kegiatan khusus, baik dari kesehatan lingkungan
dan promosi kesehatan, sehingga saat terjadi peningkatan kasus tiba-tiba,
program berjalan hanya sesuai waktu pedoman, tidak melihat dari
kondisi lapangan
2. Kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan yang belum maksimal dalam
manajemen program pengendalian kasus TB dan program keberhasilan
pengobatan TB
3. Pedoman pengendalian TB baik yang tertulis dan secara teknis kadang
berbeda untuk di terapkan setiap daerah, khususnya desa-desa yang
pemetaannya berbeda.
Alternatif Pemecahan Masalah
Masalah (Penyebab)
1. Komunikasi lintas program

Alternatif Pemecahan Masalah


-

masih belum maksimal dalam

monitoring lintas program

manajemen program
pengendalian kasus TB dan

pengendalian kasus TB
Pembuatan jadwal evaluasi khusus bagi
lintas program bagian manajemen

program keberhasilan
pengobatan TB

Adanya jadwal khusus untuk

pengendalian kasus TB
Adanya pedoman dan jadwal mengenai
manajemen program pengendalian
kasus TB saat terjadi peningkatan

kasus TB
Adanya pembentukan program khusus
pengendalian kasus TB dan
keberhasilan pengobatan dari lintas
program Kesehatan Lingkungan dan

Promosi Kesehatan meliputi :


Percontohan Rumah Sehat Bebas TB,
kaderisasi anggota masyarakat atau
perangkat desa melalui penyuluhan
mengenai TB dan pelaporan kasus
tersangka TB pada pelayan kesehatan
disertai pembuatan check list diagnosis
TB yang mudah dipahami agar
pencatatan dan pelaporan tersangka
kasus TB dapat berjalan dengan
-

pemahaman yang sama.


Ada pedoman khusus yang mengatur
jadwal pelaksanaan manajemen
program pengendalian kasus DBD
secara khusus dalam keadaan tanggap

2. penyesuaian jadwal
pelaksanaan manajemen

pemegang program agar dapat tersebar

program pengendalian TB

secara merata dan bisa dilaksanakan

secara berkesinambungan
masih belum maksimal

darurat
peningkatan kuantitas dan kualitas dari

secara berkesinambungan
pengkajian ulang mengenai pemerataan
pedoman pelaksanaan manajemen
program pengendalian kasus TB,
terutama mengenai biaya operasional

3. Pedoman pengendalian TB

pemeliharaan program
Pembuatan buku kesehatan penderita

baik yang tertulis dan secara

TB yang berisi mulai dari identitas

teknis kadang berbeda untuk

penderita, lembar pencatatan riwayat

di terapkan setiap daerah,

pengobatan penderita TB, jadwal

khususnya desa-desa yang

pengambilan obat, penjelasan

pemetaannya berbeda

mengenai TB, cara penularan,


pencegahan penularan serta komplikasi

yang dapat terjadi pada penderita TB


dimasa yang akan datang. Hal ini
dilakukan agar penerapan pengendalian
TB oleh pelayan kesehatan, anggota
kader dan seluruh lapisan masyarakat
dapat diterapkan dengan pemahaman
yang sama.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis SWOT dapat di simpulkan bahwa manajemen
pengendalian kasus TB di Puskesmas Gatak masih terdapat beberapa
kelebihan dan kekurangan, yang dapat berdampak kepada tingginya kasus TB
di masyarakat diantaranya adalah :
1. Segi sarana dan prasarana kesehatan di Puskesmas Gatak belum
mencukupi.
2. Segi Pendanaan belum sesuai dalam memenuhi kebutuhan manajemen
pengendalian kasus TB dalam menjalankan programnya.
3. Segi sumber daya manusia jumlah petugas kesehatan untuk pelaksanaan
program masih kurang.
4. Segi kerjasama lintas program dan sektoral dalam manajemen
pengendalian kasus TB masih belum dimaksimalkan.
B. SARAN
Dalam upaya mengatasi permasalahan manajemen pengendalian TB
di Puskesmas Gatak penulis menyarankan beberapa hal :
1. Perlu dilakukan monitoring dan evaluasi serta dibuatnya sebuah pedoman
mengenai manajemen program pengendalian kasus TB saat terjadi
peningkatan kasus TB.
2. Perlu dibuat pedoman berupa buku kesehatan penderita TB sehingga
pemahaman setiap daerah mengenai pencegahan penyebaran TB dapat
berjalan sama.
3. Perlu dibuat program penyuluhan lintas program dengan bagian Kesehatan
Lingkungan dan Promosi Kesehatan mengenai Rumah Sehat Bebas TB
dan cara pencegahan penularannya dengan hasil berupa check list yang
dibagikan pada setiap kader kesehatan desa sehingga program pencatatan
dan pelaporan tersangka TB dapat berjalanan dengan pemahaman yang
sama.