Anda di halaman 1dari 24

Bahan Kuliah

Fisika Zat Padat FMIPA UNS


(Pak Ari Handono Ramelan)

VIBRASI KISI : SIFAT-SIFAT TERMAL DAN AKUSTIK

3.1 Pendahuluan
Pada pembahasan struktur kristal pada dua bab sebelumnya, diasumsikan bahwa atomatom tidak bergerak pada kisi-kisinya. Kenyataannya atom-atom tidak bergerak sepenuhnya,
tetapi atom-atom tersebut berosilasi dari keadaan kesetimbangan (equilibrium) karena adanya
energi termal pada atom-atom tersebut. Untuk hal tersebut diatas akan dibahas secara terinci
vibrasi kisi dan juga pengaruhnya terhadap sifat-sifat termal, akustik dan optika dari kristal.
Dalam bab ini kita akan membahas vibrasi kristal pada batasan panjang gelombang
elastis yang panjang, yang mana kristal dianggap sebagai media kontinu dan akan dibandingkan
beberapa model yang digunakan untuk menjelaskan panas jenis (specific heat). Telah adanya
kesesuaian antara teori dan eksperimen penentuan panas jenis suatu kristal

dengan

menggunakan konsep-konsep kuantum. Oleh karena itu akan diperkenalkan "fonon", yaitu unit
kuantum dari gelombang suara (sound waves) dan akan dilanjutkan pembahasan vibrasi kisi
dengan memperhitungkan bentuk diskrit dari kisi kristal dan juga pembahasan tentang konduksi
panas oleh kisi-kisi kristal.
Pengamatan langsung terjadinya gelombang kisi kristal yang disebabkan oleh hamburan
radiasi (seperti X-rays) juga akan dibahas. Juga akan dilanjutkan aspek yang menarik dari
gelombang kisi pada daerah gelombang mikro (microwave region). Akhirnya juga akan dibahas
tentang refleksi dan serapan (absorpsi) dari sinar inframerah oleh vibrasi kisi dalam kristal
ionik.

22

3.2. Gelombang Elastis

Zat padat terdiri dari atom-atom yang diskrit dan kediskritan atom-atom tersebut
diperhitungkan dalam pembahasan vibrasi kisi.

Tetapi bila panjang gelombangnya sangat

panjang, maka atom-atom dalam zat padat tersebut dapat dianggap sebagai media kontinu.
Vibrasi yang terjadi di dalam zat padat tersebut merupakan bentuk gelombang elastis.
Sebagai contoh suatu gelombang elastis yang merambat pada suatu batang besi seperti
diperlihatkan pada Gambar 3.1.

Bila gelombang yang merambat adalah dalam bentuk

gelombang longitudinal dan pergeserannya pada titik x dinyatakan dengan u(x), maka regangan
(strain) didefinisikan sebagai berikut
e = du
dx

(3.1)

Persamaan diatas adalah merupakan perubahan panjang untuk setiap satuan panjang.
Sedangkan tekanan (stress) S didefinisikan sebagai gaya untuk setiap satu satuan luas. Menurut
hukum Hooke, tekanan (stress) sebanding dengan dengan regangan (strain), yaitu dapat
dituliskan

S=Ye
dimana Y adalah konstanta elastis dan lebih dikenal sebagai modulus Young.

x+dx

Gambar 3.1. Gelombang elastis dalam batang besi

23

(3.2)

Untuk menganalisa gelombang elastik dalam batang besi tersebut, maka diambil salah satu
bagian (segmen) batang besi sepanjang dx seperti yang diperlihatkan pada gambar diatas
tersebut. Dengan menggunakan Hukum Newton II, maka dapat dituliskan pergerakan segmen
pada batang besi tersebut sebagai berikut

(A dx ) t u = [S (x + dx ) S (x )]A
2

'

'

(3.3)

dimana adalah kerapatan massa jenis dan A ' adalah luas penampang permukaan batang besi.
Suku sebelah kiri dari persamaan (3.3) adalah massa dikalikan percepatan, sedangkan suku
disebelah kanan adalah gaya total (net force) yang terjadinya karena tekanan pada ujung-ujung
batang besi tersebut. Untuk bagian (segment) batang besi yang pendek, maka ditulis

S (x + dx ) S ( x ) =

S
dx
x

Dengan mensubstitusi S dari persamaan (3.2) dan menggunakan persamaan (3.1), maka
persamaan (3.3) dapat ditulis sebagai berikut,

2u 2u

=0
x 2 Y t 2

(3.4)

Persamaan (3.4) dikenal dengan persamaan gelombang dalam satu dimensi.


Solusi (jawaban) persamaan gelombang dalam bentuk gelombang datar yang merambat ,
yaitu

u = Ae i (kx t )

(3.5)

dimana k bilangan gelombang (wave number), yaitu k = 2 , adalah frekuensi dan A adalah
amplitude. Substitusi persamaan (3.5) ke dalam persamaan (3.4) akan menghasilkan

= vk

(3.6)

dimana

v=

(3.7)

Persamaan (3.6) yang menghubungkan antara frekuensi dan bilangan gelombang dikenal dengan
hubungan disperse (dispersion relation). Dari teori gelombang bahwa kecepatan gelombang
24

adalah k , sehingga constant v dalam persamaan (3.6) adalah kecepatan gelombang dan
merupakan sifat dari bahan media perambatan seperti yang ditunjukkan dalam persamaan (3.7).
Gelombang yang dibahas diatas lebih dikenal dengan istilah gelombang suara (sound wave).
Hubungan dispersi untuk gelombang elastis ditampilkan pada Gambar 3.2. Hubungan
tersebut merupakan garis lurus dan kemiringan garisnya adalah besar kecepatan gelombang yang
merambat dalam media. Hubungan dispersi dimana hubungan dan k berbentuk linear juga
berlaku untuk bentuk gelombang lainnya, seperti gelombang optik (sinar) yang merambat di
dalam vakum akan mempunyai bentuk hubungan dispersi = ck dimana c adalah kecepatan
sinar. Gelombang suara dalam cairan dan gas juga berlaku hubungan dispersi.

=vk

Gambar 3.2. Kurva dispersi dari gelombang elastis

3.3. Densitas Keadaan Dari Media Kontinu


Suatu gelombang elastis merambat dalam sebuah batang yang panjang seperti dilukiskan
pada Gambar 3.1, dimana gelombang tersebut hanya merambat dalam satu dimensi saja. Solusi
untuk perambatan gelombang tersebut seperti pada persamaan (3.5) dan dapat ditulis dalam
bentuk,

u = Ae ikx

(3.8)

25

dimana factor waktu dihilangkan dalam persamaan tersebut, karena tidak relevan untuk topik
yang akan dibahas. Pembahasan pengaruh syarat batas (boundary condition) pada persamaan
(3.8) akan juga dilakukan. Syarat-syarat batas ditentukan oleh batasan ekternal yang diterapkan
pada ujung-ujung batangnya. Sebagai contoh ujung-ujung batang tersebut dijepit (clamped)
pada saat terjadinya vibrasi dalam batang atau ujung-ujung batang tersebut dibiarkan bebas
bergetar. Syarat-syarat batas tersebut akan digunakan untuk semua pembahasan dan dikenal
dengan istilah syarat batas periodik (periodic boundary condition). Oleh karena itu bila ujung
kanan batang dijepit, maka ujung sebelah kiri juga sama dalam keadaan terjepit. Bila panjang
batang tersebut L dan diambil titik awal (origin) adalah ujung kiri, maka kondisi periodik berarti
bahwa,

u x =0 = u x = L

(3.9)

dimana u adalah solusi seperti pada persamaan (3.8). Bila persamaan (3.8) disubstitusi ke dalam
persamaan (3.9), maka akan didapat

e ik 0 = e ikL

(3.10)

1 = e ikL

Persamaan tersebut akan membuat kondisi nilai k tertentu yang berlaku, dan nilai-nilai k
yang memenuhi persamaan (3.10) yang diijinkan (allowed). Bila kita perhatikan bahwa e in 2 = 1

untuk semua n bilangan bulat (integer), sehingga dapat disimpulkan dari persamaan (3.10)
bahwa nilai-nilai k yang diijinkan adalah
k =n

2
L

(3.11)

dimana n = 0, 1, 2, dst . Bila nilai-nilai tersebut diplot sepanjang sumbu-k akan terbentuk
jajaran nilai k dalam satu dimensi dan jarak antara nilai k yang satu dengan nilai k sebelah
adalah sama seperti dilukiskan pada Gambar 3.3.

26

Origin

2/ L

Gambar 3.3. Nilai-nilai k yang diijinkan (allowed values of k)

Setiap nilai k dari persamaan (3.11) atau setiap titik pada Gambar 3.3 mewakili moda
vibrasi. Bila diambil suatu interval dk di dalam ruang k, dan mencari jumlah moda vibrasi yang
mempunyai nilai terletak di interval tersebut. Bila kita menganggap panjang batang L besar,
sehingga titik-titiknya seperti seolah-olah kontinu (quasi-continuous) dan ini tentu saja untuk
batang besi bila dilihat secara makro. Karena jarak antar nilai k adalah 2 L , maka jumlah
moda vibrasi (moda getar),

L
dk
2

(3.12)

Tetapi vektor gelombang k dan frekuensi saling dihubungkan dengan hubungan dispersi dan
akan dicari jumlah moda dalam rentangan frekuensi d yang terletak antara ( , + d ).
Kerapatan keadaan (density of states) didefinisikan dengan g ( )d yang merupakan jumlahnya
tersebut. Membandingkan definisi ini dengan persamaan (3.12), maka dapat dituliskan
L
g ( )d =
dk
2
atau
L

g ( ) =
d
dk

Seperti disajikan pada Gambar 3.4 dalam penghitungan g ( ) harus disertakan moda yang
terletak di rentangan daerah k-negatif dan k-positif. Daerah k-negatif mewakili gelombang yang
merambat ke arah kiri sedangkan k-positif menunjukkan gelombang yang merambat ke arah
27

kanan, sehingga dalam perhitungan kerapatan moda (density of states) g ( ) harus dikalikan
factor 2, sehingga didapat

g ( ) =

(3.13)

d dk

Persamaan (3.13) diatas adalah kerapatan keadaan (density of states) g ( ) untuk kasus satu
dimensi dan nilai g ( ) ditentukan oleh hubungan dispersi. Untuk hubungan linear antara k dan

seperti pada persamaan (3.6), maka persamaan (3.13) dapat ditulis sebagai berikut
g ( ) =

L1
v

(3.14)

dimana nilai g ( ) adalah konstan dan tidak tergantung dari frekuensi .

dk

dk

Gambar 3.4. Kurva dispersi yang terdiri dari dua segmen, yaitu = kv dan = kv

Sedangkan untuk kasus tiga dimensi, maka solusi gelombangnya analog dengan
persamaan (3.8), yaitu

u = Ae

i kx x+k y y+kz z

= Ae ikr

(3.15)

dimana perambatan gelombang digambarkan oleh vector gelombang k. Sekarang akan diselidiki
efek dari kondisi batas (syarat batas) perambatan gelombang dalam batang yang panjangnya L.
28

Dengan penerapan syarat batas periodik, maka akan didapat nilai k yang diijinkan (allowed
values) harus memenuhi kondisi berikut,

i kx L+k y L+kz L

=1

sehingga nilai-nilai k adalah

(k

2 2
2
, ky , kz ) = n
,m
,l

L
L
L

(3.16)

dimana n, m dan l adalah sembarang tiga bilangan bulat (any three integers).

0
kontour

kontour + d

Gambar 3.5. Nilai-nilai k untuk gelombang yang merambat dalam ruang 3 dimensi.

Jika kita plot nilai-nilai tersebut dalam ruang k (k-space) seperti disajikan pada Gambar
3.5, maka akan didapat tiga dimensi saringan kubik (three dimensional cubic mesh). Besar
volume untuk tiap titik didalam ruang k adalah (2 L ) .
3

Setiap titik didalam Gambar 3.5 menentukan satu mode. Bila jari-jari bola dalam
adalah k, maka volume bola tersebut sebesar (4 3)k 3 . Karena volume untuk setiap titik (moda)

(2 L )3 ,

maka jumlah moda yang terdapat didalam bola yang mempunyai jari-jari sebesar k

adalah
29

V 4 3
L 4 3
k =
k

(2 )3 3
2 3
3

(3.17)

dimana V = L3 adalah volume dari sampelnya.


Persamaan (3.17) menunjukkan jumlah gelombang yang diijinkan yang mempunyai nilai
k kurang dari nilai tertentu yang merambat ke segala arah. Bila kita turunkan persamaan (3.17)
terhadap k, maka didapat

V
4k 2 dk
3
(2 )

(3.18)

yang merupakan jumlah moda getar (vibration modes) atau jumlah titik didalam kulit bola yang
mempunyai jari-jari antara k dan (k + dk ) seperti terlihat pada Gambar 3.5.
Kerapatan keadaan (density of states) g ( ) didefinisikan sedemikian rupa sehingga
g ( )d adalah jumlah moda yang mempunyai frekuensi terletak antara interval ( , + d ) .

Jumlah moda dalam rentangan frekuensi didapat dari persamaan (3.18) dengan mengubah
variabel dari k menjadi yang dilakukan dengan menggunakan bentuk hubungan dispersi.
Dengan menggunakan persamaan (3.6), yaitu = vk , akan didapat g ( )d jumlah moda
(states) yang mempunyai frekuensi terletak antara interval ( , + d ) ,
g ( )d =

(2 )3

d
4
v v
2

Persamaan diatas juga menunjukkan jumlah titik antara permukaan yang mempunyai frekuensi

dan frekuensi ( , + d ) .

Bila diplot di ruang-k seperti dalam Gambar 3.5, maka

permukaannya dalam bentuk bola dan volumenya adalah merupakan kulit bola dengan jari-jari
antara dan ( , + d ) . Sehingga g ( )d adalah jumlah titik (moda) dalam kulit bola
tersebut.
Menurut persamaan diatas, kerapatan keadaan (density of states) g ( ) adalah berikut ini,
g ( ) =

V 2
2 2 v 3

(3.19)

30

Persamaan (3.19) bila diplotkan seperti disajikan pada Gambar 3.6, dimana densitas moda
g ( ) meningkat dengan besar 2 dan tidak seperti kasus satu dimensi dimana g ( ) adalah

konstan. Untuk kasus 3-dimensi, peningkatan densitas keadaan g ( ) merupakan gambaran


bahwa volume kulit bola pada Gambar 3.5 meningkat dengan k 2 atau 2 karena sebanding
dengan k .
g( )

Gambar 3.6. Densitas moda (states) dalam medium yang elastis

Dalam perhitungan densitas moda diatas hanya dikaitkan dengan moda tunggal untuk
setiap nilai k. Hal ini tidak begitu tepat dalam kasus ruang 3-dimensi, karena untuk setiap nilai k
gelombang dapat berupa gelombang longitudinal dan gelombang transversal.

Pada

kenyataannya terdapat 1 gelombang longitudinal dan 2 gelombang transversal dikaitkan dengan


nilai k yang sama. Hubungan dispersi untuk gelombang longitudinal dan gelombang transversal
adalah berbeda, karena keduanya mempunyai kecepatan rambat gelombang v yang berbeda.
Tetapi jika diabaikan perbedaan kecepatan rambat tersebut, maka densitas moda pada persamaan
(3.19) harus dikalikan dengan factor 3, yaitu densitas moda (states) akan menjadi persamaan
berikut ini

g ( ) =

3V 2
2 2 v 3

(3.20)
31

Persamaan (3.19) akan digunakan dalam kaitannya untuk menghitung panas jenis (specific heat)
dengan teori Debye. Perhatikan dalam persamaan (3.19) bahwa g ( ) sebanding dengan V
(volume dari specimen) dan akan untuk mudahnya volume V akan dianggap satu (unity).

3.4. Panas Jenis (Specific Heat) : Model Einstein dan Debye

Panas jenis per mole didefiniskan sebagai

C=

Q
T

dimana Q adalah jumlah panas yang digunakan untuk menaikkan suhu sebesar Q untuk
setiap mole.

Bila proses tersebut dilakukan pada keadaan volume yang konstan, maka

Q = E , dimana E adalah kenaikan energi dalam (internal energy) dari system. Oleh karena
itu panas jenis suatu zat pada volume tetap (konstan) CV dinyatakan dengan
E
CV =

T V

(3.21)

Panas jenis suatu zat tergantung dari suhu seperti yang dilukiskan pada Gambar 3.7. Pada suhu
tinggi nilai CV mendekati nilai 3R untuk segala jenis zat yang lebih dikenal dengan hukum
Dulong-Petit (Dulong-Petit law), dimana R adalah konstanta gas universal.

Karena nilai

R 2 kal K mole , sehingga pada rentangan suhu tinggi (termasuk suhu ruangan) nilai

CV 6 kal K mole .

32

Cv

3R

T ( K)

Gambar 3.7. Panas jenis dari zat padat sebagai fungsi dari suhu

Nilai deviasi panas jenis CV dari hukum Dulong-Petit pada rentangan suhu rendah dapat
dijelaskan berikut, bahwa semakin rendah suhu suatu zat, maka panas jenisnya CV juga akan
turun dan akan menjadi nol pada suhu nol

mutlak.

Dari hasil observasi lainnya bahwa

mendekati nilai suhu nol mutlak, panas jenis CV sebanding dengan T 3 .


Untuk menjelaskan hal tersebut diatas, panas jenis suatu bahan akan dijelaskan secara
teori dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan panas jenis dari hasil eksperimen. Model
pertama yang digunakan adalah teori klasik (classical theory), yaitu suatu model yang
menjelaskan bahwa setiap atom dalam zat padat terikat pada tempat (bound to its site) oleh gaya
harmonik (harmonic force).

Ketika zat padat tersebut dipanaskan, maka atom-atom tersebut

akan bergetar (vibrasi) di sekitar tempat kedudukannya seperti osilator harmonik. Besarnya
energi dari vibrasi atom-atom tersebut seperti dinyatakan dalam persamaan (3.21). Energi ratarata untuk osilator harmonik dalam 1-dimensi adalah sama dengan kT, dimana k adalah
konstanta Boltzmann, sehingga dapat ditulis

= kT

(3.22)

Oleh karena itu rata-rata energi setiap atom untuk osilator harmonik dalam 3-dimensi adalah
sebesar 3 kT, sehingga energi per mole adalah,
E = 3 N A kT = 3RT
33

(3.23)

dimana N A adalah bilangan Avogadro (jumlah atom untuk setiap mole zat), dan juga digunakan
hubungan R = N A k . Bila persamaan (3.23) disubstitusikan ke dalam persamaan (3.21), maka
didapat persamaan berikut,
(3RT )
E
= 3R
CV =
=
T
T V

(3.24)

Hasil ini tentu saja sesuai dengan hasil eksperiment pada rentangan suhu tinggi, tapi tidak sesuai
pada suhu rendah. Ketidak-cocokan antara teori dan eksperimen salah satu bentuk paradoks
dalam dunia fisika sampai tahun 1905, ketika Eistein menggunakan teori mekanika-kuantum
untuk menjelaskan peristiwa tersebut.

Model Einstein

Dalam model Einstein ini, atom-atom diperlakukan seperti osilator yang bebas
(independent oscillators), tetapi energi osilator diberikan dengan mekanika kuantum sebagai
pengganti teori klasik pada persamaan (3.22). Menurut mekanika kuantum, energi dari osilator
yang terisolasi dibatasi mempunyai nilai-nilai tertentu, yaitu

= nh

(3.25)

dimana n adalah bilangan bulat positif atau nol (n = 0, 1, 2, ). Konstan adalah frekuensi
osilator. Jadi dikatakan bahwa energi osilator terkuantisasi. Keadaan dasar (ground state),
untuk nilai n=0, atom mempunyai energi o = 0 , dan keadaan tereksitasi (excited states)
mempunyai energi yang dalam bentuk spektrum yang diskrit dan berjarak sama dengan interval
sebesar h seperti yang dilukiskan pada Gambar 3.8.

34

n
h

n
2 h

1
0

Gambar 3.8. Spektrum energi osilator 1-dimensi menurut teori mekanika kuantum

Persamaan (3.25) menunjukkan osilator yang terosilasi, tetapi osilator atomic dalam zat
padat tidak terisolasi. Atom-atom tersebut selalu berubah energinya dengan suhu ambien
sekeliling zat padat tersebut. Oleh karena itu energi osilator secara kontinu akan selalu berubah,
tetapi nilai rata-rata pada kesetimbangan termal (thermal equilibrium) dinyatakan dengan
persamaan berikut

n =0

e ( n

e (

kT )

kT )

n =0

Eksponensial e ( n

kT )

dikenal dengan faktor Boltzmann yang menunjukkan probabilitas keadaan

energi n terisi (occupied), sedangkan factor penyebut persamaan diatas untuk normalisasi. Bila
persamaan (3.25) disubstitusikan ke dalam persamaan diatas dan dengan evaluasi secara deret
(series), maka didapat hasil berikut ini,

h kT

(3.26)

35

Gambar 3.9 menampilkan plot antara dan temperature, dan pada suhu yang tinggi energi

kT sama dengan nilai energi yang dihitung secara klasik. Tetapi dengan menurunnya suhu,
maka energi juga akan turun terus sampai suhu T = 0 o K , yaitu titik suhu dimana nilai
energinya hilang. Keadaan pada suhu yang rendah ini merupakan bentuk kuantum alami dari
gerakan (motion).

Klasik

Kuantum

T
h / k

Gambar 3.9. Energi rata-rata osilator versus suhu. Garis putus-putus hasil

secara klasik = kT , perhatikan bahwa nilai kuantum dari jauh


lebih kecil nilai klasik pada rentangan suhu rendah

Gambar 3.9 diatas dapat dijelaskan secara kualitatif sebagai berikut, yaitu bahwa osilator
yang dikopel dengan suatu bejana termal (thermal bath) saling bertukar sejumlah energi
sebanyak rata-rata sebesar kT . Pada suhu yang tinggi, yaitu kT >> h , yang berarti bahwa
osilator dalam keadaan kuantum tereksitasi tinggi (a highly excited quantum state). Karena
energi termal kT jauh lebih besar dibandingkan energi kuantum h , spectrum energi kuantum
menjadi tidak penting lagi dan didapat rata-rata energi secara klasik sebesar = kT . Tetapi
sebaliknya pada suhu rendah, kT << h , pertukaran energi kT tidak cukup mengangkat osilator
ke keadaan tereksitasi tingkat pertama. Pada saat tersebut energi osilator jauh lebih kecil dari
h , dan kenyataannya mendekati nilai nol, sehingga pergerakan kuantum secara alami

memegang peranan penting.


36

Persamaan (3.26) sama dengan rumus yang digunakan oleh Planck dalam teorinya
tentang radiasi benda hitam (blackbody radiation), pada waktu konsep kunatisasi energi
dipostulasi untuk pertama kali. Kenyataan teori Einstein tentang panas jenis sangat dekat sejajar
dengan teori Planck tentang radiasi benda hitam.
Energi dalam benda pada didapat dengan menganggap bahwa setiap atom setara dengan
3 osilator, sehingga terdapat total osilator sebanyak 3 N A osilator. Oleh karena total energi
osilator dinyatakan dengan persamaan

E = 3N A

E
h E kT

(3.27)

dimana E adalah frekuensi Einstein untuk menyatakan frekuensi osilator. Panas jenis didapat
dari dengan menurunkan persamaan (3.27) terhadap temperature T, yaitu
e h E kT
E
h E
CV =
= 3R

2
T T
kT e h E kT 1
2

(3.28)

Persamaan diatas dapat disederhanakan dengan memperkenalkan suhu Einstein E dimana


k E = h E , sehingga persamaan (3.28) dapat ditulis dengan,

e E T
E
CV = 3R
2
T e E T 1
2

(3.29)

Bila persamaan (3.29) diplot, maka kurva hubungan antara CV dengan T seperti diperlihatkan
pada Gambar 3.10 dan bentuknya sama dengan Gambar 3.7. Hal ini menunjukkan bahwa hasil
eksperimen dengan teori adalah sama. Hasil ini juga menggambarkan kapasitas jenis pada suhu
sangat rendah, yaitu CV 0 pada saat T 0 o K adalah hasil yang baru dan sangat penting
dimana tidak dapat dijelaskan dengan teori klasik.

37

Cv (cal / g.mole - K)

6
5
4
3
2
1
o

T ( K)

100

300

200

Gambar 3.10. Plot panas jenis tembaga terhadap suhu. Titik menunjukkan hasil

eksperimen, sedangkan garis didapat dari persamaan (3.29)

Temperatur E parameter yang dapat diubah-ubah dan dipilih untuk menghasilkan kurva
yang paling tepat (best fit) dengan hasil pengukuran pada semua rentangan suhu.

Dari

perunutan kurva yang paling tepat (best fit) untuk tembaga seperti diperlihatkan pada Gambar
3.10 didapat nilai temperature Einstein E sebesar 240 K. Kenyataan bahwa hanya dengan
mengubah satu parameter E didapat kurva yang sama dengan nilai hasil eksperimen untuk
rentanga suhu yang lebar adalah hasil yang sangat menarik (impressive).
T >> E , nilai e E

Padas suhu tinggi

= (1 + E T ) , sehingga nilai panas jenisnya

CV 3R , yaitu sama dengan nilai panas jenis dengan teori klasik. Hal ini karena pada suhu
tinggi problem aspek kuantum dalam material tersebut tidak relevan lagi. Sedangkan pada suhu
rendah T << E , nilai e E

jauh lebih besar, yaitu e E

+ 1 = e E T , sehingga panas jenis zat

padat dapat dituliskan dengan persamaan berikut,



CV = 3R E e E
T
2

dimana

B(T )e E

(3.30)

B(T ) adalah suatu fungsi yang tidak banyak terpengaruh oleh suhu. Karena factor

eksponential e E

nilai panas jenis mendekati nilai nol dan nilai tidak ada pada saat T = 0 o K .
38

Panas jenis dengan model Einstein dapat disimpulkan bahwa pada suhu tinggi, osilator
(atom-atom dalam zat padat) tereksitasi secara penuh dan mendapat energi termal sebesar kT
dan membuat nilai panas jenis molar adalah sebesar CV 3R . Sebaliknya pada suhu rendah,
osilator pada dasarnya tidak tereksitasi, oleh karena itu nilai panas jenis CV 0 , dengan kata
lain osilator membeku (frozen) di keadaan dasar (ground state). Pembekuan (freezing) ini
juga merupakan alasan mengapa moda vibrasi (vibrational modes) untuk molekul diatomic
(seperti H2) tidak berperan pada panas jenis, kecuali pada suhu tinggi.
Pada dasarnya model Einstein adalah suatu keberhasilan yang sangat mengagumkan.
Pada umumnya hasil secara teori sama dengan nilai eksperimen untuk semua rentangan suhu,
hanya pada suhu rendah nilainya lebih rendah dari nilai panas jenis yang didapat dari
eksperimen. Ketidak-cocokan nilai panas jenis pada suhu rendah ini diatasi dengan menerapkan
model Debye.

Model Debye

Pada model Einstein ini atom-atom dianggap berosilasi secara independen (sendirisendiri).

Tetapi kenyataannya atom-atom dalam zat padat saling berinteraksi, pergerakan

(vibrasi) suatu atom berpengaruh pada atom-atom disebelahnya (tetangga) dan seterusnya akan
saling berpengaruh ke seluruh atom-atom dalam zat padat.

Oleh karena itu harus

dipertimbangkan pergerakan kisi secara keseluruh dan tidak dianggap sebagai pergerakan atom
tunggal.
Bila gelombang suara merambat dalam zat padat, atom-atom tidak berosilasi (vibrasi)
secara independent, tetapi pergerakan atom-atom tersebut teratur (seperti orkestra). Atom-atom
tersebut berosilasi dengan amplitude yang sama dan dengan hubungan fase yang tetap. Dengan
menggunakan gelombang suara (sound waves) sebagai sebuah prototype moda kisi (lattice
modes), Debye berasumsi bahwa moda tersebut mempunyai sifat yang mirip dengan gelombang
suara, yaitu memenuhi hubungan dispersi, yaitu

= vk
Hubungan disperse diatas akan digunakan untuk mengevaluasi panas jenis zat padat. Dalam
model Debye frekuensi vibrasi kisi (lattice vibration) meliputi rentangan frekuensi yang lebar,
39

mengingat bilangan gelombang k berubah (ingat panjang gelombang berubah), maka frekuensi

juga berubah. Tidak seperti model Einstein yang hanya mengasumsikan frekuensi
tunggal. Dalam model Debye frekuensi yang terendah adalah = 0 berkaitan dengan k = 0

atau dengan kata lain mempunyai panjang gelombang tak terhingga (infinite). Sedangkan untuk
frekuensi tertinggi yang diijinkan (highest allowed frequency) akan dijelaskan berikut ini.
Asumsi hubungan disperse untuk gelombang kisi (lattice waves) adalah suatu bentuk
aproksimasi, karena mengabaikan bentuk kediskritan dari kisi. Aproksimasi ini berlaku untuk
gelombang dengan panjang gelombang besar (frekuensi rendah), dimana factor kediskritan dari
kisi dapat diabaikan. Bila panjang gelombang sangat pendek, yaitu dalam kisaran jarak antar
atom (interatomic spacing), maka aproksimasi Debye (dimana = vk ) tentu saja tidak berlaku
lagi. Hal ini akan dijelaskan dalam bagian 3.5.
Untuk menentukan nilai panas jenis (specific heat) zat padat dengan model Debye, maka
harus ditentukan besarnya energi vibrasi. Setiap moda getar adalah suantu bentuk osilator
harmonic tunggal yang mempunyai energi rata-rata seperti disajikan pada persamaan (3.26),
yaitu

h kT

Besarnya energi total vibrasi untuk seluruh kisi dinyatakan dengan persamaan berikut ini,

E = ( )g ( )d

(3.31)

dimana integrasi persamaan diatas dipengaruhi oleh semua nilai frekuensi yang diijinkan.
Sedangkan g ( ) adalah fungsi densitas keadaan (density of state function) dan g ( )d adalah
jumlah moda pada rentangan frekuensi ( , + d ) , dan besarnya energi untuk setiap moda
getar adalah ( ) . Dengan kata lain kisi yang bervibrasi merupakan kumpulan moda-moda
yang bergetar secara independent. Substitusi persamaan (3.20) dan (3.26) ke dalam persamaan
(3.31), maka total energinya adalah

40

E=

3V
h
2 h kT 1 d
2 3
2 v
e

(3.32)

Dalam aproksimasi Debye bahwa kisi bervibrasi sebagai medium yang kontinu, sehingga
sehingga densitas moda g ( ) (persamaan 3.20) digunakan untuk menghitung total energi.
Untuk menganalisa integral persamaan (3.32) harus dicari batas integral, yaitu frekuensi
tertinggi dan terendah yang diijinkan. Untuk batas frekuensi rendah adalah = 0 , sedangkan
batas frekuensi atas (cutoff frequency) oleh Debye ditentukan bahwa jumlah moda getar yang
diikutkan adalah sama dengan jumlah derajad kebebasan (degrees of freedom) untuk seluruh zat
padat (1 mole zat padat), yaitu sebanyak 3 N A karena setiap atom mempunyai 3 derajad
kebebasan. Oleh karena dapat ditulis bahwa densitas moda (state density) dengan persamaan
berikut

g ( )d = 3 N A

(3.33)

dimana frekuensi putus (cutoff frequency) dinyatakan dengan D yang lebih dikenal dengan
nama frekuensi Debye.

Gambar 3.11

menunjukkan penentuan frekuensi Debye dengan

menggunakan grafik.

41

g( )

Gambar 3.11. Prosedur penentuan frekuensi Debye, yaitu luas daerah yang

diarsir adalah jumlah moda getar 3 N A

Penentuan ini batas frekuensi atas didasarkan pada alasan yang dapat diterima, karena
bila penentuan ini tidak dilakukan maka mengalami kesulitan penghitungan energi totalnya.
Sebagai contoh bila frekuensi atas besarnya dapat tak terhingga, maka akan menyebabkan
jumlah energi total yang tak terhingga (persamaan 3.32) dan ini tidak berarti secara fisik (it does
not make any sense physically).
Frekuensi Debye ditentukan dengan cara mensubstitusi persamaan (3.20) ke dalam
persamaan (3.33) dan kemudian diintegralkan, yaitu

3V 2
d = 3N A
2 2 v 3

D = v(6 2 n )

13

(3.34)

dimana n = N A V adalah konsentrasi atom didalam zat padat.


42

Persamaan (3.34) dapat juga ditentukan secara geometri, yaitu dengan cara menggambar
contour untuk frekuensi = D dalam ruang k (k-space) seperti tersaji pada Gambar 3.12.
Dalam bola tersebut jumlah titik-titik k sama dengan N A . Karena untuk setiap titik mewakili 3
moda, yaitu 1 longitudinal dan 2 transversal, sehingga jumlah moda adalah 3 N A , jumlah derajad
kebebasan. Permukaan bola yang pada Gambar 3.12 dinamakan bola Debye (Debye sphere)
dengan jari-jarinya k D . Seperti pada persamaan (3.17) jumlah titik didalam bola adalah

V 4 3
k
(2 )3 3 D
3

1
V
=
(ingat dalam ruang 3-dimensi volume 1 moda getar
)
(2 )2
2 L

Karena jumlah titik dalam bola tersebut adalah N A bilangan Avogrado (jumlah atom/molekul
untuk setiap mole zat), maka

(2 )

4 3
kD = N A
3

Oleh karena itu nilai k D adalah

k D = 6 2 n

13

(3.35)

Hubungan dispersi D = vk , bila disubstitusi ke dalam persamaan (3.35), maka didapat,

D = v(6 2 n )

13

43

Jari-jari
Debye

Gambar 3.12. Bola Debey untuk mentukan frekuensi putus

(cutoff frequency) D

Kembali ke persamaan (3.32), energi total dinyatakan dengan,


3V
h 3
E=
d
2 2 v 3 e h kT 1

(3.36)

Nilai panas jenis CV didapat dengan mendeferensiakan persamaan (3.36) terhadap suhu, yaitu

CV =

E
T

CV =

3V h 2
2 2 v 3 kT 2

4 e h kT

(e
0

kT 1 2

(3.37)

Persamaan diatas dapat disederhanakan dengan merubah menjadi peubah tak berdimensi,
x = h kT

44

dan dengan

mendefiniskan suhu Debye D dengan k D = h D , maka persamaan (3.37)

menjadi, (ingat batas integral diubah D T = h D kT ),

T
CV = 9 R
D

D T

x 4e x

(e )

x 1 2

(3.38)

dx

Dalam persamaan diatas kecepatan diganti dengan persamaan (3.34).


Untuk membandingkan persamaan (3.38) dengan hasil eksperimen, maka harus
ditentukan suhu Debye D untuk disubstitusikan dalam persamaan tersebut untuk mendapatkan
kurva yang paling tepat (best fit) dengan nilai eksperimen. Bila persamaan (3.38) diplot antara

CV dan T (normalisasi suhu), sehingga akan didapat kurva yang bentuknya sama dan dikenal
dengan kurva universal (universal curve) seperti disajikan pada Gambar 3.13. Bentuk kurva ini
telah diuji dengan hasil eksperimen untuk 4 jenis zat padat yang sangat berbeda dan hasil sangat
sesuai dengan kurva universal.

Cv (cal / g.mole - K)

6
5
4
3
2
1

Cu (343 K)
Ag (226 K)

0,5
T / D

Gambar 3.13. Kurva universal panas jenis (universal curve for specific heat)

45