Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Kedokteran Keluarga
1.
Definisi Kedokteran Keluarga
Ilmu kedokteran keluarga adalah ilmu kedokteran yang khusus
mempelajari pelayanan kesehatan untuk pasien dan keluarganya secara
berkesinambungan dan komprehensif. Menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDI),
dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan
yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, tidak hanya
memandang penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari
unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif, tetapi bila perlu aktif
mengunjungi penderita atau keluarganya. Dokter keluarga adalah tenaga
kesehatan tempat kontak pertama pasien untuk menyelesaikan semua masalah
kesehatan yang dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, organologi,
golongan usia, dan jenis kelamin sedini dan sedapat mungkin, secara
menyeluruh, paripurna, berkesinambungan, dan dalam koordinasi serta
kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip
pelayanan yang efektif dan efisien serta menjunjung tinggi tanggung jawab
profesional, hukum, etika dan moral.
Dokter keluarga berperan sebagai ujung tombak pelayanan kedokteran
primer Indonesia, diharapkan mereka dapat bercakap-cakap dalam bahasa
pasiennya, dalam suasana kekeluargaan, dan senantiasa siap melayani
kebutuhan pasiennya baik dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit.
Layanan yang diselenggarakannya (wewenang) sebatas kompetensi dasar
kedokteran yang diperolehnya selama pendidikan kedokteran dasar ditambah
dengan kompetensi dokter layanan primer yang diperoleh melalui CME/CPD
terstruktur dalam proses resertifikasi.1
2.

Definisi Pelayanan Dokter Keluarga


The American Academy of Family Physician mendefinisikan pelayanan

dokter keluarga dalam dua rumusan. Rumusan pertama adalah pelayanan


kedokteran yang menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga

20

sebagai suatu unit, dimana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan


kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga
tidak oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja. Sementara rumusan
kedua berbunyi pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas
yang bertitik tolak dari suatu pokok ilmu yang dikembangkan dari berbagai
disiplin ilmu lainnya terutama ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, ilmu
kebidanan dan kandungan, ilmu bedah serta ilmu kedokteran jiwa, yang secara
keseluruhan membentuk kesatuan yang terpadu, diperkaya dengan ilmu
perilaku, biologi dan ilmu - ilmu klinik, dan karenanya mampu mempersiapkan
dokter untuk mempunyai peranan yang unik dalam menyelenggarakan
penatalaksanaan pasien, penyelesaian masalah, pelayanan konseling, serta
dapat bertindak sebagai dokter pribadi yang mengkoordinasikan seluruh
pelayanan kesehatan.
3.

Kriteria Pelayanan Kesehatan Kedokteran Keluarga


Kriteria pelayanan kesehatan yang harus terpenuhi untuk mewujudkan

keadaan sehat diantaranya adalah tersedianya pelayanan kesehatan (available),


tercapai (accesible), terjangkau (afordable), berkesinambungan (continue),
menyeluruh (comprehensive), terpadu (integrated), dan bermutu (quality).
Pengertian pelayanan kesehatan disini mencakup bidang yang sangat luas.
Secara umum dapat diartikan sebagai setiap upaya yang diselenggarakan secara
sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan ataupun
masyarakat.2
Kedokteran keluarga merupakan disiplin akademik profesional, yaitu
pengetahuan klinik yang diimplementasikan pada komunitas keluarga. Dalam
memberikan pelayanan, idealnya setiap dokter dan khususnya dokter keluarga,
menerapkan ilmu ini.
Kedokteran keluarga memiliki kekhususan yaitu : 2
1. Komprehensif dalam ilmu kedokteran, dalam arti tidak membatasi
disiplin ilmu kedokteran tertentu.
2. Komprehensif dalam pelayanan kesehatan.
21

3. Sasarannya adalah individu yang bermasalah atau yang sakit, namun di


samping menganalisis fungsi organ tubuh secara menyeluruh, juga fungsi
keluarga.
4. Disusun secara komunal, sehingga setiap dokter dapat memanfaatkan
sesuai kebutuhan.
5. Bersifat universal terhadap manusia dan lingkungan.
4.

Karakteristik Kedokteran Keluarga : 2,3


1. Melayani penderita tidak hanya sebagai orang perorang melainkan
sebagai anggota satu keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat
sekitarnya.
2. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan memberikan
perhatian kepada penderita secara lengkap dan sempurna, jauh melebihi
jumlah keseluruhan keluhan yang disampaikan.
3. Mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan

derajat

kesehatan seoptimal mungkin, mencegah timbulnya penyakit dan


mengenal serta mengobati.
4. Mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan
berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.
5. Menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat
pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjutan.
Ciri pelayanan kedokteran yang baik adalah:
a. Terstruktur (Stuctured)
b. Berkeadilan (Equity)
c. Merata (Equality)
d. Terjangkau (Affordable)
e. Aman (Safe)
f. Bermutu (Quality)
g. Dalam Satu Kesisteman (Terpadu)
5.

Tujuan dan Manfaat


Tujuan pelayanan dokter keluarga ialah terwujudnya keadaan sehat

bagi setiap anggota keluarga, sedangkan tujuan khusus : 2,3


1. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang
lebih efektif.

22

2. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang


lebih efisien.
Manfaat Kedokteran Keluarga : 2
1.Dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai manusia
seutuhnya, bukan hanya terhadap keluhan yang disampaikan.
2.Dapat diselenggarakan pelayanan pencegahan penyakit dan dijamin
kesinambungan pelayanan kesehatan.
3.Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis, pengaturannya akan lebih baik
dan terarah, terutama ditengah-tengah kompleksitas pelayanan
kesehatan saat ini.
4.Dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga
penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan berbagai
masalah lainnya.
5.Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan maka segala
keterangan tentang keluarga tersebut baik keterangan kesehatan
ataupun keterangan keadaan sosial dapat dimanfaatkan dalam
menangani masalah kesehatan yang sedang dihadapi.
6.Dapat diperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya
penyakit, termasuk faktor sosial dan psikologis.
7.Dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tatacara
yang lebih sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan
meringankan biaya kesehatan.
8.Dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih yang
memberatkan biaya kesehatan.

6.

Ruang Lingkup Pelayanan Dokter Keluarga


Ruang lingkup pelayanan dokter keluarga mencakup bidang amat luas

sekali. Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua macam : 3
1. Kegiatan yang dilaksanakan
Pelayanan yang diselenggarakan oleh dokter keluarga harus memenuhi
syarat pokok yaitu pelayanan kedokteran menyeluruh cmc (comprehensive
medical services). Karakteristik cmc :
a. Jenis pelayanan yang diselenggarakan mencakup semua jenis
pelayanan kedokteran yang dikenal di masyarakat.

23

b.

Tata cara pelayanan tidak diselenggarakan secara terkotak-kotak


ataupun terputus-putus melainkan diselenggarakan secara terpadu

c.

(integrated) dan berkesinambungan (continu).


Pusat perhatian pada waktu menyelenggarakan

pelayanan

kedokteran tidak memusatkan perhatiannya hanya pada keluhan dan


masalah kesehatan yang disampaikan penderita saja, melainkan pada
d.

penderita sebagai manusia seutuhnya.


Pendekatan pada penyelenggaraan pelayanan tidak didekati hanya
dari satu sisi saja, melainkan dari semua sisi yang terkait
(comprehensive approach) yaitu sisi fisik, mental dan sosial (secara

holistik).
2. Sasaran Pelayanan
Sasaran pelayanan dokter keluarga adalah kelurga sebagai suatu unit.
Pelayanan dokter keluarga harus memperhatikan kebutuhan dan tuntutan
kesehatan keluarga sebagai satu kesatuan, harus memperhatikan
pengaruhmasalah kesehatan yang dihadapi terhadap keluarga dan harus
memperhatikan pengaruh keluarga terhadap masalah kesehatan yang
dihadapi oleh setiap anggota keluarga.
Batasan pelayanan kedokteran keluarga ada banyak macamnya. Dua
diantaranya yang dipandang cukup penting adalah: 2,3
a. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang
menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga
sebagai satu unit, dimana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan
kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin,
tidak juga oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja.
b. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas yang
bertitik tolak dari suatu pokok ilmu yang dikembangkan dari
berbagai disiplin ilmu lainnya terutama ilmu penyakit dalam, ilmu
kesehatan anak, ilmu kebidanan dan kendungan, ilmu bedah serta
ilmu kedokteran jiwa yang secara keseluruhan membentuk satu
kesatuan yang terpadu, diperkaya dengan ilmu perilaku, biologi dan
ilmu-ilmu klinik, dan karenanya mampu mempersiapkan setiap
dokter agar mempunyai peranan unik dalam menyelenggarakan
penatalaksanaan pasien, penyelesaian masalah, pelayanan konseling

24

serta

dapat

bertindak

sebagai

dokter

pribadi

yang

mengkoordinasikan seluruh pelayanan kesehatan.


Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga banyak
macamnya. Secara umum dapat dibedakan atas tiga macam :
1. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek
dokter keluarga hanya pelayanan rawat jalan saja. Dokter yang
menyelenggarakan praktek dokter keluarga tersebut tidak melakukan
pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah atau pelayanan rawat
inap di rumah sakit.Semua pasien yang membutuhkan pertolongan
diharuskan datang ke tempat praktek dokter keluarga. Jika kebetulan
pasien tersebut memerlukan pelayanan rawat inap, pasien tersebutdirujuk
ke rumah sakit.
2. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan
pasien dirumah.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter
keluarga mencakup pelayanan rawat jalan serta pelayanan kunjungan dan
perawatan pasien di rumah.Pelayanan bentuk ini lazimnya dilaksanakan
oleh dokter keluarga yang tidak mempunyai akses dengan rumah sakit.
3. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan
pasien di rumah, serta pelayanan rawat inap di rumah sakit.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter
keluarga telah mencakup pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan
pasien di rumah, serta perawatan rawat inap di rumah sakit. Pelayanan
bentuk ini lazimnya diselenggarakan oleh dokter keluarga yang telah
berhasil menjalin kerja sama dengan rumah sakit terdekat dan rumah sakit
tersebut memberi kesempatan kepada dokter keluarga untuk merawat
sendiri pasiennya di rumah sakit.
7. Diagnosis Holistik3
Merupakan salah satu standar dalam praktik pelayanan kedokteran
keluarga dimana melihat individu sebagai bagian dari komunitasnya (keluarga,
tempat kerja, budaya, negara) dan mampu memahami bahwa pasien merupakan
seorang makhluk yang utuh yang terdiri dari fisik, psikis dan jiwa (body, mind
and spirit).

25

Diagnosis adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan menentukan


dasar dan penyebab penyakit atau luka dari keluhan, riwayat penyakit pasien
dan hasil pemeriksaan penunjang. Sedangkan Holistik memandang manusia
sebagai makhluk biopsikososial pada ekosistemnya, Sebagai makhluk biologis
manusia merupakan sistem organ yang terbentuk dari jaringan serta sel-sel
yang kompleks fungsinya dimana manusia terdiri dari komponen organ, nutrisi,
kejiwaan dan perilaku.
Diagnostik holistik merupakan proses diagnosis secara sistematis,
dengan kerangka kerja yang memperhitungkan aspek keluhan, diagnosis klinis,
masalah perilaku, pemicu yang ada dalam keluarga dan kehidupan
sosialnya.Kegiatan untuk mengindentifikasi dan menentukan dasar dan peny,
sebab penyakit (disease), luka (injury) serta kegawatan yang diperoleh dari
keluhan, riwayat penyakit pasien, pemeriksaan, hasil pemeriksaan penunjang
dan risiko internal dan eksternal dalam kehidupan pasien dan keluarganya.

8. Aspek dalam diagnosis holistik3


1. Aspek Personal: alasan kedatangan, harapan, kekhawatiran dan persepsi
pasien
a. Keluhan utama (reason of encounter) /simptom/ sindrom klinis yang
ditampilkan
b. Apa yang diharapkan pasien atau keluarganya
c. Apa yang dikhawatirkan pasien atau keluarganya
2. Aspek Klinis: Masalah medis, diagnosis kerja berdasarkan gejala dan
tanda
a. Diagnosis klinis biologis, psikologis, intelektual, nutrisi sertakan
derajat keparahan
b. Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan cukup dengan diagnosis
kerja/ diagnosis banding
c. Diagnosis berdasarkan ICD 10, dan ICPC-2
3. Aspek
risiko internal : seperti pengaruh genetik, gaya hidup,
kepribadian, usia, gender
a. Perilaku individu dan gaya hidup (life style) pasien, kebiasaan yang
menunjang terjadinya penyakit, atau beratnya penyakit
b. kebiasaan merokok
c. kebiasaan jajan, kebiasaan makan

26

d. kebiasaan individu mengisi waktu dengan perihal yang negatif


(dietary habits;tinggi lemak, tinggi kalori)
4. Aspek risiko eksternal dan psikososial: berasal dari lingkungan (keluarga,
tempat kerja, tetangga, budaya)
a. Pemicu biopsikososial keluarga dan lingkungan dalam kehidupan
pasien hingga mengalami penyakit seperti yang ditemukan
b. Dukungan keluarga (family support)
c. Tidak ada bantuan/perhatian/ perawatan/ suami & istri, anak, menantu,
cucu atau pelaku rawat lainnya
d. Perilaku makan keluarga (tak masak sendiri), menu keluarga yang tak
sesuai kebutuhan
e. Perilaku tidak menabung / perilaku konsumtif
f. Tidak adanya perencanaan keluarga (tak ada pendidikan anak , tak ada
pengarahan pengembangan karier, tak ada pembatasan jumlah anak)
g. Masalah perilaku keluarga yang tidak sehat
h. Masalah
ekonomi
yang
mempunyai
pengaruh
terhadap
penyakit/masalah kesehatan yang ada
i. Akses pada pelayanan kesehatan yang mempengaruhi

penyakit

(jarak/transportasi/asuransi)
j. Pemicu dari lingkungan fisik (debu, asap rokok)
k. Masalah bangunan dan kepadatan pemukiman yang mempengaruhi
penyakit/masalah kesehatan yang ada
5. Derajat Fungsional: Kualitas Hidup Pasien . Penilaian dengan skor 1 5,
berdasarkan disabiltas dari pasien

27

Gambar 2.1 Skala Fungsi Sosial

28

B. Hiperplasia Endometrium
1. Anatomi dan Fisiologi Endometrium

Gambar 2.2 Anatomi Organ Reproduksi Wanita

Uterus adalah organ muscular yang berbentuk buah pir yang terletak di
dalam pelvis dengan kandung kemih di anterior dan rectum di posterior.Uterus
biasanya terbagi menjadi korpus dan serviks. Korpus dilapisi oleh endometrium
dengan ketebalan bervariasi sesuai usia dan tahap siklus menstruasi. Endometrium
tersusun oleh kelenjar-kelenjar endometrium dan sel-sel stroma mesenkim, yang
keduanya sangat sensitive terhadap kerja hormone seks wanita.Hormon yang ada
di tubuh wanita yaitu estrogen dan progesteron mengatur perubahan endometrium,
dimana

estrogen

merangsang

pertumbuhan

dan

progesterone

mempertahankannya.4
Pada ostium uteri internum, endometrium bersambungan dengan kanalis
endoserviks, menjadi epitel skuamosa berlapis.
Endometrium adalah lapisan terdalam pada rahim dan tempatnya
menempelnya ovum yang telah dibuahi.Di dalam lapisan Endometrium terdapat
pembuluh darah yang berguna untuk menyalurkan zat makanan ke lapisan ini.
Saat ovum yang telah dibuahi (yang biasa disebut fertilisasi) menempel di lapisan
endometrium (implantasi), maka ovum akan terhubung dengan badan induk
dengan plasenta yang berhubung dengan tali pusat pada bayi.

29

Lapisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka


mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan,agar hasil konsepsi bisa
tertanam. Pada suatu fase dimana ovum tidak dibuahi oleh sperma, maka korpus
luteum akan berhenti memproduksi hormon progesteron dan berubah menjadi
korpus albikan yang menghasilkan sedikit hormon diikuti meluruhnya lapisan
endometrium yang telah menebal, karena hormon estrogen dan progesteron telah
berhenti diproduksi. Pada fase ini, biasa disebut menstruasi atau peluruhan
dinding rahim.
2.

Siklus Endometrium Normal

Pada masa reproduksi dan dalam keadaan tidak hamil, epitel mukosa
padaendometrium

mengalami

siklus

perubahan

yang

berkaitan

dengan

aktivitasovarium. Perubahan ini dibagi menjadi 4 fase endometrium, yakni :4,5


a. Fase Menstruasi (Deskuamasi)
Fase ini berlangsung 3-4 hari.Pada fase ini terjadi pelepasanendometrium
dari dinding uterus yakni sel-sel epitel dan stroma yangmengalami
disintergrasi dan otolisis dengan stratum basale yang masihutuh disertai
darah dari vena dan arteri yang mengalami aglutinasi danhemolisis serta
sekret dari uterus, serviks dan kalenjar-kalenjar vulva.
b. Fase Pasca Haid (Regenerasi)
Fase ini berlangsung 4 hari (hari 1-4 siklus haid).Terjadi regenerasiepitel
mengganti sel epitel endometrium yang luruh. Regenerasi inimembuat
lapisan endometrium setebal 0,5 mm.
c. Fase Intermenstrum (Proliferasi)
fase ini endometrium menebal hingga 3,5 mm. berlangsungselama 10
hari (hari ke 5-14 siklus haid).
a) Fase proliferasi dini (early proliferation phase)
Fase ini berlangsung selama 3 hari (hari ke 5-7).Pada fase
initerdapat

regenerasi

kelenjar

dari

mulut

kelenjar

dengan

epitelpermukaan yang tipis.Bentuk kelenjar khas fase proliferasi


yaknilurus, pendek dan sempit dan mengalami mitosis.
b) Fase proliferasi madya (midproliferation phase)
Fase ini berlangsung selama 3 hari (hari ke 8-10).Fase
iniberupakan bentuk transisi dan dapat dikenal dari epitel
permukaanyang berbentuk torak dan tinggi.Kelenjar berlekuk-lekuk

30

danbervariasi.Sejumlah

stroma

mengalami

edema.

Tampak

banyakmitosis dengan inti berbentuk telanjang (nake nucleus)


c) Fase proliferasi akhir (late proliferation phase)
Fase ini berlangsung selama 4 hari.Fase ini dapat dikenali
daripermukaan

kelenjar

yang

tidak

rata

dengan

banyak

mitosis.Intiepitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi.Stroma


semakintumbuh aktif dan padat.
a. Fase Pra Haid (Sekresi)
Fase ini berlangsung sejak hari setelah ovulasi yakni hari ke 14 sampai
hari ke 28. Pada fase ini ketebalan endometrium masih sama, namun yang
berbeda adalah bentuk kelenjar yang berubah menjadi berlekuklekuk,panjang

dan

Dalamendometrium

mengeluarkan
telah

tersimpan

getah

yang

glikogen

semakin
dan

kapur

nyata.
yang

kelakdiperlukan sebagai makanan untuk telur yang dibuahi.Memang,


tujuanperubahan

ini

adalah

untuk

mempersiapkan

endometrium

untukmenerima telur yang dibuahi. Fase ini terbagi menjadi dua, yakni :
a) Fase sekresi dini
Dalam fase ini endometrium lebih tipis dari sebelumnya
karenakehilangan cairan. Pada saat ini, endometrium dapat
dibedakanmenjadi beberapa lapisan yakni :
Stratum basale, yakni lapisan endometrium bagian dalamyang
berbatasan dengan miometrium.Lapisan ini tidak aktif, kecuali

mitosis pada kelenjar.


Stratum spongiosum, yaitu lapisan tengah berbentukanyaman
seperti spons.Ini disebabkan oleh banyaknya kelenjar yang

melebar, berkelok-kelok dan hanya sedikitstroma di antaranya.


Stratum kompaktum, yaitu lapisan atas yang padat.Saluransaluran kelenjar sempit, lumennya berisi sekret danstromanya

edema.
b) Fase sekresi lanjut
Pada fase ini tebalnya 5-6 mm. dalam fase initerdapat peningkatan
dari

fase

sekresi

dini,

denganendometrium

sangat

banyak

mengandung pembuluh darahyang berkelok-kelok dan kaya akan


glikogen. Fase ini sangatideal untuk nutrisi dan perkembangan
ovum.Sitoplasma sel-selstroma bertambah. Sel stroma ini akan
berubah menjadi seldesidua jika terjadi pembuahan.
31

2. Hiperplasia Endometrium
a.

Definisi
Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebih dari kelenjar,

dan stroma disertai pembentukan vaskularisasi dan infiltrasi limfosit pada


endometrium.Bersifat noninvasif, yang memberikan gambaran morfologi
berupa

bentuk

kelenjar

yang irreguler

dengan

ukuran

yang

bervariasi.Pertumbuhan ini dapat mengenai sebagian maupun seluruh bagian


endometrium.5,6

Gambar 2.3. Endometrium

Hiperplasia endometrium biasa terjadi akibat rangsangan / stimulasi


hormon estrogen yang tidak diimbangi oleh progesteron.Pada masa remaja dan
beberapa tahun sebelum menopause sering terjadi siklus yang tidak berovulasi
sehingga pada masa ini estrogen tidak diimbangi oleh progesteron dan
terjadilah hiperplasia.Kejadian ini juga sering terjadi pada ovarium polikistik
yang ditandai dengan kurangnya kesuburan (sulit hamil).5,6
b. Klasifikasi
Risiko keganasan berkorelasi dengan keparahan hyperplasia, sehingga
diklasifikasikan sebagai berikut :
1)

Hiperplasia sederhana (hiperplasia ringan). Dicirikan dengan peningkatan


jumlah kelenjar proliferative tanpa atipia sitologik. Kelenjar tersebut,
meskipun berdesakkan dipisahkan oleh stroma selular padat dan memiliki
berbagai ukuran. Pada beberapa kasus, pembesaran kelenjar secara kistik
mendominasi (hiperplasia kistik). Risiko karsinoma endometrium sangat
rendah.5

32

2)

Hiperplasia

kompleks

tanpa

atipia

(hiperplasia

sedang/hiperplasia

adenomatosa). Menunjukkan peningkatan jumlah kelenjar dengan posisi


berdesakan. Epitel pelapis berlapis dan memperlihatkan banyak gambaran
mitotic. Sel-sel pelapis mempertahankan polaritas normal dan tidak
menunjukkan pleomorfisme atau atipia sitologik. Stroma selular padat
masih terdapat di antara kelenjar.5
3)

Hiperplasia kompleks dengan atipia (hiperplasia berat/hyperplasia


adenomatosa atipikal). Dicirikan dengan berdesakannya kelenjar dengan
kelenajr yang saling membelakangi dan adanya atipia sitologik yang
ditandai dengan pleomorfisme, hiperkromatisme dan pola kromatin inti
abnormal.

Hiperplasia

kompleks

dengan

atipia

menyatu

dengan

adenokarsinoma in situ pada endometrium dan menimbulkan risiko


karsinoma endometrium yang tinggi.5
Menurut International Federation of Gynecology and Obstetrics
perdarahan uterus abnormal diklasifikasikan berdasarkan etiologi atau
penyebabnya dengan klasifikasi PALM COEIN, yaitu :
1. Polip
Polip oada uterus merupakan salah satu penyebab yag sering dari
perdarahan uterus abnormal. 39% terjadi pada wanita pre-menopause
dan 21-28% terjadi pada wanita post-menopause.
2. Adenomiosis
Perdarahan jalan lahir adalah gejala klinis pada 70% wanita dengan
adenomiosis, 30% sisanya adalah gejala berupa nyeri perut bagian
bawah.
3. Leiomioma
Leiomioma dalah tumor jinak organ genitalia wanita yang paling sering
dengan gejala klinis berupa perdarahan jalan lahir dan sering terjadi
pada wanita usia lebih dari 5 tahun.
4. Malignansi
Perdarahan jalan lahir merupakan gejala yang paling sering timbul
akibat neoplasia organ uterus. Sebanyak 15% merupakan hiperplasia
endometrium dan 15% berupa karsinoma endometrium. Keadaan

33

hiperplasia endometrium sangat berisiko untuk terjadinya karsinoma


pada endometrium.
5. Koagulopati
Gangguan hemostasis dapat terjadi pada 13% wanita dengan perdarahan
uterus abnormal.
6. Kelainan Ovulasi
Pasien dengan siklus menstruasi yang tidak normal sering berhubungan
dengan

keadaan

endokrinopati,

seperti

keadaan

PCOS

atau

hipotiroidisme.
7. Iatogenik
Perdarahan uterus abnormal juga dapat diakibatkan oleh karena
penggunaan IUD, steroid eksogen, dan konsumsi obat-obatan yang
bersifat antikoagulan.
8. Not Classified
Penggolongan ini ditegakkan bila pada pemeriksaan tidak ditemukan
penyebab pasti, atau suatu keadaan malformasi arteriovena dan
hipotrofi miometrium.
c. Patogenesis
Hiperplasia endometrium ini diakibatkan oleh hiperestrinisme atau adanya
stimulasi

unoppesd

estrogen

(estrogen

tanpa

pendamping

progesteron / estrogen tanpa hambatan).Kadar estrogen yang tinggi


ini menghambat produksi Gonadotrpin (feedback mechanism).Akibatnya
rangsangan terhadap pertumbuhan folikel berkurang, kemudian terjadi
regresi dan diikuti perdarahan.7,8
Pada wanita perimenopause sering terjadi siklus yang anovulatoar
sehingga terjadi penurunan produksi progesteron oleh korpus luteum
sehingga estrogen tidak diimbangi oleh progesteron.Akibat dari keadaan ini
adalah terjadinya stimulasi hormon estrogen terhadap kelenjar maupun
stroma endometrium tanpa ada hambatan dari progesteron yang menyebabkan
proliferasi berlebih dan terjadinya hiperplasia pada endometrium. Juga terjadi
pada wanita usia menopause dimana sering kali mendapatkan terapi hormon
penganti yaituprogesteron dan estrogen, maupun estrogen saja.8
Estrogen tanpa pendamping progesterone (unopposed estrogen)akan
menyebabkan penebalan endometrium. Peningkatan estrogen juga dipicu oleh
adanya kista ovarium serta pada wanita dengan berat badan berlebih.8

34

d. Gejala Klinis
Siklus menstruasi tidak teratur, tidak haid dalam jangka waktu lama
(amenorrhoe) ataupun menstruasi terus-menerus dan banyak (metrorrhagia).
Selain itu, akan sering mengalami flekbahkan muncul gangguan sakit kepala,
mudah lelah dan sebagainya. Dampak berkelanjutan dari penyakit ini, adalah
penderita

bisa

mengalami

kesulitan

hamil

dan

terserang

anemia

berat.Hubungan suami-istri pun terganggu karena biasanya terjadi perdarahan


yang cukup parah.5
e. Faktor Risiko
Hiperplasia Endometrium seringkali terjadi pada sejumlah wanita yang
memiliki resiko tinggi :5,8
1. Sekitar usia menopause
2. Didahului dengan terlambat haid atau amenorea
3. Obesitas ( konversi perifer androgen menjadi estrogen dalam jaringan
lemak )
4. Penderita Diabetes melitus
5. Pengguna estrogen dalam jangka panjang tanpa disertai pemberian
progestin pada kasus menopause
6. PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome)
7. Penderita tumor ovarium dari jenis granulosa theca cell tumor

f. Diagnosis
Pemeriksaan penunjang

dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa

hyperplasia endometrium dengan cara USG, Dilatasi dan Kuretase, lakukan


pemeriksaanHysteroscopydan

dilakukan

juga

pengambilan

sampel

untuk pemeriksaan PA.Secara mikroskopis sering disebut Swiss cheese


patterns.8
a) Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)

35

Gambar 2.4.

Ulrasonografi Pada Hiperplasia Endometrium

Pada wanita pasca menopause ketebalan endometrium pada pemeriksaan


ultrasonografi transvaginal kira kira < 4 mm. Untuk dapat melihat keadaan
dinding cavum uteri secara lebih baik maka dapat dilakukan pemeriksaan
hysterosonografi dengan memasukkan cairan kedalam uterus.
b) Biopsy
Diagnosis hiperplasia endometrium dapat ditegakkan melalui pemeriksaan
biopsi yang dapat dikerjakan secara poliklinis dengan menggunakan
mikrokuret.Metode ini juga dapatmenegakkan diagnosa keganasan uterus.
c)

Dilatasi dan Kuretase


Dilakukan dilatasi dan kuretase untuk terapi dan diagnosa perdarahan

uterus.
d) Histeroskopi
Histeroskopi adalah tindakan dengan memasukkan peralatan teleskop kecil
kedalam uterusuntuk melihat keadaan dalam uterus dengan peralatan ini selain
melakukan inspeksi juga dapat dilakukan tindakan pengambilan sediaan biopsi
untuk pemeriksaan histopatologi.

36

Gambar 2.5. Histopatologi Hiperplasia Endometrium

g.

Diagnosis Banding
Hiperplasia mempunyai gejala perdarahan abnormal oleh sebab itu dapat

dipikirkan kemungkinan:5
1) karsinoma endometrium,
2) abortus inkomplit
3) leiomioma
4) polip
h.

Tatalaksana
Terapi atau pengobatan bagi penderita hiperplasia, antara lain sebagai

berikut:6,7
1. Tindakan kuratase selain untuk menegakkan diagnosa sekaligus sebagai
terapi untuk menghentikan perdarahan
2. Selanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan kadar
hormon di dalam tubuh. Namun perlu diketahui kemungkinan efek
samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan
sebagainya.Rata-rata dengan pengobatan hormonal sekitar 3-4 bulan,
gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi.Terapi progestin
sangat efektif dalam mengobati hiperplasia endometrial tanpa atipik,
akan tetapi kurang efektif untuk hiperplasia dengan atipi. Terapi
cyclical progestin (medroxyprogesterone asetat 10-20 mg/hari untuk 14
hari setiap bulan) atau terapi continuous progestin (megestrol asetat 2040 mg/hari) merupakan terapi yang efektif untuk pasien dengan

37

hiperplasia endometrial tanpa atipik. Terapi continuous progestin


dengan megestrol asetat (40 mg/hari) kemungkinan merupakan terapi
yang paling dapat diandalkan untuk pasien dengan hiperplasia atipikal
atau kompleks. Terapi dilanjutkan selama 2-3 bulan dan dilakukan
biopsi

endometrial

3-4

minggu

setelah

terapi

selesai

untuk

mengevaluasi respon pengobatan.


3. Jika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan
perbaikan, biasanya akan diganti dengan obat-obatan lain. Tanda
kesembuhan penyakit hiperplasia endometrium yaitu siklus haid
kembali normal.Jika sudah dinyatakan sembuh, ibu sudah bisa
mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehamilan.Namun
alangkah baiknya jika terlebih dahulu memeriksakan diri pada
dokter.Terutama pemeriksaan bagaimana fungsi endometrium, apakah
salurannya baik, apakah memiliki sel telur dan sebagainya.
4. Histerektomi Metode ini merupakan solusi permanen untuk terapi
perdarahan uterus abnormal.Khusus bagi penderita hiperplasia kategori
atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan satu-satunya
adalah menjalani operasi pengangkatan Rahim dan ini terkait dengan
angka kepuasanpasien dengan terapi ini.untuk wanita yang cukup
memiliki anak dan sudah mencoba terapi konservatif dengan hasil yang
tidakmemuaskan, histerektomi merupakan pilihan yang terbaik.
Penyakit hiperplasia endometrium cukup merupakan momok bagi kaum
perempuan dan kasus seperti ini cukup dibilang kasus yang sering
terjadi, maka dari itu akan lebih baik jika bisa dilakukan pencegahan
yang efektif.
i.

Prognosis
Umumnya lesi pada hiperplasia atipikal akan mengalami regresi dengan

terapi progestin, akan tetapi memiliki tingkat kekambuhan yang lebih tinggi
ketika terapi dihentikan dibandingkan dengan lesi pada hiperplasia tanpa
atipi.
Penelitian terbaru menemukan bahwa pada saat histerektomi 62,5%
pasien dengan hiperplasia endometrium atipikal yang tidak diterapi ternyata

38

juga mengalami karsinoma endometrial pada saat yang bersamaan.


Sedangkan pasien dengan hiperplasia endometrial tanpa atipi yang di
histerektomi hanya 5% diantaranya yang juga memiliki karsinoma
endometrial.8
j.

Pencegahan
Langkah-langkah yang bisa disarankan untuk pencegahan, seperti:8
1. Melakukan pemeriksaan USG dan / atau pemeriksaan rahim secara
rutin, untuk deteksi dini ada kista yang bisa menyebabkan terjadinya
penebalan dinding rahim.
2. Melakukan konsultasi ke dokter jika mengalami gangguan seputar
menstruasi apakah itu haid yang tak teratur, jumlah mestruasi yang
banyak ataupun tak kunjung haid dalam jangka waktu lama.
3. Penggunaan etsrogen pada masa pasca menopause harus disertai dengan
pemberian progestin untuk mencegah karsinoma endometrium.
4. Bila menstruasi tidak terjadi setiap bulan maka harus diberikan terapi
progesteron untuk mencegah pertumbuhan endometrium berlebihan.
Terapi terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral kombinasi.
5. Rubah gaya hidup untuk menurunkan berat badan.

39