Anda di halaman 1dari 2

BAB VIII

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari laporan Standar Pelayanan Minimal (SPM),
didapatkan bahwa cakupan dan pencapaian ASI Eksklusif di wilayah kerja
Puskesmas Salaman 1 periode Januari Juli 2016 belum mencapai target. Hal
tersebut merupakan tanda bahwa perlu dicari apa penyebab masalah dan
bagaimana upaya untuk mencari pemecahan masalah. Setelah dilaksanakan
pengisisan kuesioner dan wawancara pada tanggal 10 Oktober 2016,
didapatkan bahwa ASI Eksklusif di Dusun Brengkel 2 Desa Salaman belum
memenuhi target.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa cakupan ASI eksklusif yang
memenuhi target di Dusun Brengkel 2 Desa Salaman adalah sebanyak
41.67%, masih dibawah target yang ditetapkan oleh Dinkes Magelang 2016
yakni 50%. Setelah dilakukan analisis, didapatkan bahwa penyebab
rendahnya cakupan ASI eksklusif antara lain akibat kesadaran dan perilaku
ibu memberi ASI eksklusif kurang, keluarga belum memahami mengenai
pentingnya ASI eksklusif, serta pengetahuan kader masih kurang tentang ASI
eksklusif dan manajemennya belum ada program khusus dari Puskesmas atau
Posyandu setempat untuk mengadakan pembinaan terhadap ibu-ibu
menyusui. Atas dasar masalah diatas maka dilakukan penentuan alternatif
pemecahan masalah dan yang dicanangkan adalah (1) Memberikan
penyuluhan dan pelatihan kepada ibu hamil, dan ibu menyusui pada usia 0-6
bulan mengenai ASI eksklusif, (2) Memberikan penyuluhan kepada keluarga
ibu hamil dan menyusui mengenai pentingnya ASI eksklusif, (3) Membuat
jadwal rutin kunjungn rumah terhadap bayi yang tidak mendapat ASI
Eksklusif, (4) Diskusi dengan team Promosi Kesehatan mengenai penyuluhan
ASI Eksklusif dan membuat brosur, leaflet dan poster yang akan digunakan
sebagai media edukasi, (5) Pengajuan anggaran dana untuk melakukan
kegiatan penyuluhan atau pelatihan ASI eksklusif dan penyedian buku untuk

68

pencatatan cakupan ASI eksklusif sehingga tercatat bayi yang mendapat ASI
atau tidak.

B. SARAN
Diharapkan masalah yang ada dapat diselesaikan dengan menjalankan
POA yang sudah dirancang, sehingga dapat meningkatkan cakupan dan
pencapaian bayi yang diberi ASI eksklusif. Selain itu harus ditingkatkan juga
kerjasama antara petugas kesehatan di puskesmas seperti bidan desa dengan
kader yang ada, sehingga program yang ada dapat dijalankan untuk mencapai
hasil yang maksimal. Dan untuk masyarakat, terutama keluarga ibu hamil dan
menyusui, juga disarankan untuk berpartisipasi dalam meningkatkan
kesadaran mengenai pentingnya ASI eksklusif dengan cara turut mengikuti
penyuluhan maupun pelatihan tentang bagaimana caranya memberikan ASI
eksklusif yang baik dan benar.

68